Langit malam sangatlah menenangkan. Lagi Sasuke memandangi langit malam ini, dari jendela kamarnya. Ini malam terkahirnya ia berada disini. Besok dia harus sudah kembali lagi ke jepang.

Tidak jauh dengan yang Sasuke lakukan, Sakurapun memandangi langit malam dari balik jendela kamarnya. Dia tidak berani lagi memandangi langit dibalkon kamarnya semenjak mengetahui keberadaan Sasuke.

Bicara tentang Sasuke, mungkin Sakura memang harus berbicara pada Sasuke. Dia harus segera menyelesaikan permasalahannya. Dan mungkin mendengarkan apa yang ingin Sasuke katakan.

Sakura melirik ayahnya yang tengah terlelap diatas ranjang. Bagaimana caranya berbicara dengan Sasuke tanpa sepengetahuan ayahnya? Mungkin dia harus membicarakan hal ini pada Sasori dan Gaara.

Dengan sedikit tertatih diberusaha berjalan menuju kamar Gaara dan Sasori. Perlahan dia menutup pintu agar ayahnya tidak terbangun.

Tok... Tok..

Ceklek..

Pintu langsung terbuka. Tanpa permisi Sakura langsung masuk dan mendudukan dirinya disamping Sasori.

Gaara yang membukakan pintu untuk Sakura hanya termenung. Apa terjadi sesuatu? Ini sudah malam, dan Sakura mengunjungi mereka.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" angkat Sasori.

"Kau selalu tahu yang ada dipikiranku eh!?" cebik Sakura.

Gaara mendudukan dirinya di hadapan Sasori dan Sakura, menyimak apa yang akan Sakura katakan.

"Sasuke ada disini." ucap Sakura pelan.

Sasori mengangguk. Sedangkan Sakura mengernyit bingung. Lalu dia menatap Gaara, yang dibalas dengan senyuman dan anggukannya. Ah.. Sakura mengerti sekarang.

"Baiklah jika kau sudah mengetahuinya. Aku akan menemuinya." Sasori langsung menatap tajam Sakura. Sedangkan Gaara hanya diam, walau dia sebenarnya tidak setuju.

"Apa yang akan kau katakan padanya? Kau akan menerimanya kembali? Apa kau merasa tersentuh karena dia mengejarmu sampai kesini?" Sasori manaikkan suaranya.

Sakura menggeleng cepat. Dia tahu pasti Sasori tidak akan setuju. Tapi dia harus.

"Aku akan menyelesaikan permasalahanku denganya. Aku janji. A-aku akan membujuknya menandatangani perceraian kami. Jadi bagaimana menurut kalian?"

"Aku akan pergi bersamamu" tegas Sasori. Sakura menggeleng.

"Tidak. Hanya kami berdua. Jadi bisakah kalian mengalihkan perhatian Tou-san? Aku mohon" pinta Sakura. Dia menatap Sasori dan Gaara bergantian dengan tatapan memohon.

Mereka berdua menghela nafas. Sakura memang keras kepala. Jika seperti ini mereka bisa apa.

Sasori dan Gaara mengangguk. Sakura langsung tersenyum sumringah. "Kau membawanya bukan?" tanya Sakura pada Sasori yang dibalas dengan anggukan.

"Baiklah.. Besok aku akan kemari lagi" Sakura beranjak dari sana menuju kamarnya.

Suasana hangat menyelimuti acara sarapan mereka. Sakura, Gaara, Sasori, dan Kizashi. Mereka sesekali bercanda dan terus menjadikan Sakura sebagai bahan pembulian mereka.

Sakura mengembungkan pipinya kesal melihat Sasori dan ayahnya yang terus saja membulinya. Dia mencebik pada Gaara yang terkekeh mendengar gurauan 2 sejoli itu.

Gaara mencoba menahan kekehannya saat Sakura mencebiknya. Namun masih tetap lolos. Sakura mendengus melihat itu. Kizashi dan Sasori yang melihat itu semakin menertawakan dirinya.

Dengan sebal Sakura berdiri dari sana, pergi meninggalkan mereka dengan sedikit tertatih. Mereka bertiga yang melihat Sakura sedang memasuki mode marahpun mengejar Sakura.

Saat ini Sakura sedang menunggu lift dihadapannya terbuka. Sesekali dia melirik lift disebelahnya, siapa tahu itu yang terbuka duluan. Dengan sedikit terengah mereka bertiga tiba, Sakura hanya melirik mereka sekilas lalu mendengus. Dia masih kesal.

"Maafkan Tou-san ya!" pinta Kizashi dengan nada yang dibuat buat.

"Hey, kau tidak boleh durhaka pada ayahmu. Cepat maafkan" ucap Sasori lalu melingkarkan tangannya pada leher Sakura.

"Lepas.. Kau mencekikku tahu!"

Dan saat itu pula lift terbuka. Buru buru Sakura memasuki lift itu dan berusaha langsung menutupnya. Dia akan balas dendam. Namun sayang, Sasori menahannya dengan cepat. "Kau kalah cepat girl" seringai Sasori. Sakura mencebik.

"Akh.." jerit Sakura. Mereka bertiga langsung menatap Sakura.

"Ada apa?" tanya Gaara.

"Dompetku tertinggal" rengek Sakura.

Dengan cepat Sakura menekan tombol lift di lantai selanjutnya dan langsung keluar. "Kembalilah duluan" teriak Sakura saat melihat Sasori akan menyusulnya.

Pintu terbuka. Sasuke melihat restoran dihadapannya untuk mencari tempat kosong. Dia melihat ada tempat kosong dipojok sana. Dengan santai ia menarik kursi tersebut. Namun belum sempat dia mendudukinya, atensinya teralihkan pada dompet disebelah kursinya.

Sasuke tampak tidak peduli. Orang yang meninggalkannya adalah orang yang ceroboh. Pasti orang itu juga akan mencarinya kemari. Diapun mendudukan dirinya dan memanggil pelayan untuk memesan.

Sambil menunggu pesanannya Sasuke melirik kembali dompet disampingnya. Sasuke mengambilnya dan mengamatinya. Remaja kah? Saat melihat desain dari dompet tersebut.

Disisilain, Sakura berjalan dengan cepat menuju tempat tadi dia sarapan. Walau kakinya terasa sakit, namun dia tetap memaksakannya sambil berharap bahwa dompetnya masih ada.

Sakura terbelalak saat ada seseorang yang entah siapa –karena dia melihatnya dari belakang– sedang mengamati dompetnya. Mungkinkah orang itu akan membawanya?

Dengan langkah lebar Sakura segera menghampiri orang tersebut.

"A-Ano.. Maaf itu milik saya" ucap Sakura sedikit gugup.

Sasuke menegang saat mendengar suara itu. Dia tidak menyangka akan dipertemukan dengan Sakura saat ini. Dia tersenyum tipis dan membalikan badannya.

Sedangkan Sakura terpaku melihat siapa orang yang memegang dompetnya itu. Dia memang berencana untuk bertemu dengan Sasuke, namun tidak seperi ini juga.

"Ini. Bisa kita bicara sebentar?" Sasuke menyodorkan dompet itu. Ini adalah kesempatan terakhirnya.

Sakura melirik kesegala arah. Terlalu ramai. Memang tidak ada pilihan lain selain sekarang untuk berbicara dengan Sasuke. Sekarang atau tidak sama sekali.

Sasuke yang melihat tingkah Sakura pun mengerti. "Mau cari tempat lain?" tawar Sasuke.

Sakura mengannguk. "Tapi bisa tunggu sebentar, dan bisa pi-pinjam ponselmu sebentar?" Sakura merasa malu.

Sedangkan Sasuke tersenyum tipis. Namun tidak sampai matanya. Bahkan sekarang Sakura tidak memanggilnya 'Senpai' seperti biasa.

Tak lama setelah itu pesanan makanan Sasuke datang. Dia menawarkannya pada Sakura tapi ditolaknya. Sakura masih fokus dengan sambungannya.

"Gaara.." Sasuke menghentikan gerakannya saat Sakura menyebut nama itu.

"Bisa kau membawakan berkas itu ketempat tadi kita makan? Rahasiakan ini dari Tou-san"

"Ya.. Aku sedang bersamanya. Hanya kebetulan"

Sasuke menajamkan pendengarannya siapa tahu dia dapat mendengar apa yang Gaara bicarakan.

"Ini. Arigatou" Sakura mengembalikan ponsel itu. Sasuke menangguk dan menerimanya.

Beberapa saat kemudian Gaara datang dengan membawa sebuah map. Sasuke memicing saat melihat Gaara ditambah dengan benda yang dibawanya.

"Ini pesanan anda Ojou-sama" canda Gaara pada Sakura.

Sakura terkikik geli, dan mengambilnya. "Arigatou" . " Tolong buatkan alibi untukku pada Tou-san"

Gaara mengangguk. Lalu mengalihkan atensinya pada Sasuke. Mereka saling menatap tidak suka. Sakura mendengus melihat itu.

"Kalian bisa membuat orang salah paham dengan tatapan kalian" tegur Sakura

Gaara dan Sasuke saling membuang muka. Lalu Gaara merogoh saku dan memberikan ponselnya pada Sakura. " Hubungi aku jika terjadi sesuatu" dan setelahnya Gaara beranjak pergi.

"Pergi sekarang?" tawar Sasuke. Sakura bergumam mengiyakan.

Ruangan yang serba gelap, tidak membuat penghuninya beranjak sedikitpun dari tempatnya. Mebuki menatap langit langit kamarnya kosong. Sepi.

Suaminya pergi beberapa hari lalu, dirinya bahkan tidak mengetahui kemana suaminya itu pergi. Sakura, anaknya bahkan tidak pernah menghubunginya sama sekali. Apakah Sakura membencinya?

Hotaru. Entah apa yang dikatakan suaminya pada Hotaru, semenjak suaminya mendatangi Hotaru, Hotarupun tidak pernah menghubunginya.

Sekarang Mebuki merasa benar benar sendiri. Apa salahnya jika saat itu dia menawarkan Hotaru tempat tinggal. Semua permasalahan ini, apa semuanya adalah salahnya?

'Apa yang akan kau lakukan jika kau berada diposisi Sakura sekarang?' ucapan Kizashi tengiang kembali dalam benaknya. Apa? Apa yang akan Mebuki lakukan?

Ternya benar. Semua ini salahnya. Sakura pergi karena salahnya. Sakura membencinya karena dirinya sendiri. Tapi dia juga menyayangi Hotaru. Mana mungkin dia tega mengusir anak itu.

Mebuki terisak mengingat masalah ini. Dia terus saja menyalahkan dirinya. Dan terus mengucapkan kata 'maaf'.

Ceklek..

Lampu kamar Mebuki menyala. Mebuki menyipitkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk pada matanya.

"Mebuki.. Kau kenapa? apa yang terjadi?" tanya orang itu khawatir melihat keadaan Mebuki sekarang.

"Mikoto.." suaranya pelan.

Mikoto langsung memeluk Mebuki saat Mebuki kembali menangis. Mikoto mencoba menenagkan Mebuki yang terus saja berucap 'Ini salahku'. Walau Mikoto tidak mengetahui apapub tapi mendengar gumaman Mebuki membuatnya ingin menangis juga.

Lama menangis. Mebuki sekarang sudah lebih tenang. Walau masih sedikit sesenggukan. Mikoto memberikan segelas teh hangat pada Mebuki.

"Apa yang terjadi? Ceritalah.. Aku siap mendengarkan. Ngomong ngomong dimana Kizashi?"

Sedari awal Mikoto kemari dirinya tidak melihat Kizashi. Dan awalnya dia ingin mengajak Mebuki untuk pergi. Namun saat dia datang, malah dia melihat keadaan Mebuki yang menyedihkan.

Mebuki menatap Mikoto. Dia meringis dalam hati, apa dia harus menceritakan semuanya pada Mikoto. Apalagi ini perihal kelakuan Sasuke. Mikoto pasti akan kecewa pada anak bungsunya itu.

Mikoto yang merasa ditatap oleh Mebuki, mengernyit heran. "Ada apa?" Mebuki menggeleng.

"Kau tenang saja, aku tidak akan menceritakannya pada siapapun. Jadi ceritalah." pinta Mikoto.

"Kau tau? Ini permasalahan antara Sasuke dan Sakura"

Mikoto tersedak minumannya saat mendengar penuturan Mebuki. Apa yang terjadi? Padahal beberapa hari lalu dia menghubungi Sasuke, mereka seperti baik baik saja.

" Apa yang kau bicarakan. Kenapa ada sangkut pautnya dengan anak anak kita?"

"Itu benar adanya Mikoto. Kau mungkin belum mengetahuinya. Tapi saat ini aku tidak tahu harus berbuat apa. Ini semua salahku" lirih Mebuki.

"Baiklah.. Ceritakanlah"

Mebuki menghembuskan nafasnya berat diapun mulai menceritakan kejadian pada hari itu. Dimana mereka mendapatkan kiriman video.

Masih sambil terisak, Mebuki menyelesaikan ceritanya. Mikoto yang mendengar itu berubah menjadi datar. Dia tidak mengetahui ini. Dia tidak mengetahui sebrengsek apa anak bungsunya itu. Dia tidak mengetahui jika Sakura semenderita itu. Dan lagi dia kecewa pada Mebuki.

Menghela nafas kasar, Mikoto masih menatap kecewa pada Mebuki. "Kau tahu? Walaupun kau sangat menyayangi Hotaru, tapi menurutku ini sudah keterlaluan. Apakah benar jika Sakura terlahir dari rahimmu? Dan lagi aku meminta maaf atas kelakuan Sasuke. Aku permisi pulang sekarang" Mikoto benar bemar sudah tidak bisa mengontrol emosinya sekarang.

Diapun merogoh tasnya dan segera menghubungi Sasuke. "PULANG KAU SEKARANG. TANPA BANTAHAN" tegas Mikoto. Bisa bisanya Sasuke pergi dan membohongi dirinya.

Saat ini Sakura dan Sasuke sedang berada restoran, mereka memesan ruangan VIP untuk privasi mereka. Bukan mereka tidak merasa kenyang, namun hanya untuk kenyamanan.

"Senpai.. Kita akhiri semua ini" Sakura membuka suaranya setelah mereka terdiam cukup lama, lalu menyerahkan map yang tadi dibawanya.

Sasuke menatap sekilas map itu. Tanpa perlu dibuka, dia juga tahu bahwa adalah surat perceraian mereka. Sasuke menatap sendu Sakura yang seperti menghindari tatapannya.

"Tidak bisakah kita membatalkan ini? Tidak bisakah kita memulainya dari awal lagi... Sakura" ucap Sasuke memelas.

Sakura meremas tanganya sendiri. Dia tidak boleh goyah. Ini akan berakhir sama, menyakitkan. Ya, jika dia menerima tawaran Sasuke itu berarti dia akan terus tersakiti. Sakura terus meyakinkan dirinya.

"Tidak bisakah kau melepaskan ku Senpai? Biarkan aku bahagia. Kita mulai dari awal. Dimana tidak pernah terjadi hubungan apapun antara kita..

Saat kau terbebas denganku, kau bebas kembali menemuinya. Kau tidak perlu merasa tersiksa saat harus bertemu dengan ku lagi. Aku akan pergi saat ini sudah selesai. Kau bisa bersanding dengannya seperti yang kau inginkan selama ini.

Tidak perlu ada kita diantara kau dan aku lagi. Kita akhiri sampai disini. Aku mohon. Biarkan aku melangkah. Bebaskan aku." sudah. Sakura merasa telah mengeluarkan apa yang ingin dia katakan.

Sasuke menunduk. Semua perkataan Sakura membuat hatinya terasa ngilu. Apa sesakit itu. Apa jika dirinya membebaskan Sakura, Sakura akan bahagia?

Dirinya terlalu egois sekarang. Itu memang benar.Sasuke adalah orang brengsek yang pernah ada. Beraninya dia berhadapan langsung dengan Sakura tanpa malu. Memintanya untuk kembali padanya.

Sasuke tersenyum miris. Mungkin memang ini adalah akhirnya. Ini salahnya dan dia yang harus menanggungnya.

Dengan berat hati Sasuke membuka map itu. Sudah terdapar tandatangan Sakura disana, bahkan ada bolpoin pula. Sakura memang benar benar telah menyiapkannya. Sudah tidak ada jalan untu kembali kemasa masa itu.

Baru saja Sasuke akan menandatanganinya Ponselnya beretar.

"Ya Kaa-san"

"PULANG KAU SEKARANG. TANPA BANTAHAN"

Sasuke membeku mendengar ucapan ibunya yang seperti sedang menahan amarah. Apa yang terjadi? Sasuke menatap Sakura yang seperti kebingungan.

"Kaa-san menghubungiku."

Sakura mengangguk mengerti. Lalu dia menunjuk dengan dagunya ke arah berkas yang belum ditandatangani. Sasuke yang mengerti isyarat Sakura pun melanjutkan kegiatannya.

Dengan berat hati dia menadatangani surat perceraian yang selalu ia hindari. Ia memberikan kembali pada Sakura. Sakura membungkuk dan pamit, lalu pergi dari sana. Hanya perlu menunggu persidangan mereka.

Sasuke menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki. Menghela napas berat. Berakhir. Semuanya sudah berakhir. Ini salahnya. Bisakah waktu kembali?

Sasukepun pergi dari tempat itu. Waktunya kembali ke jepang. Satu jam lagi keberangkatannya. Dan lagi dia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Kenapa ibunya berbicara dengan nada seperti itu.

Bukannya Sakura tidak ingin kembali pada Sasuke. Dalam lubuk hatinya dia sangat senang saat Sasuke memintanya kembali. Namun, dia tidak mau tersakiti lagi. Cukup sudah semuanya dulu. Cintanya, Obsesinya,menyiksa dirinya sendiri.

"Dari mana kau Sakura?" tanya Kizashi saat Sakura tiba di kamar hotelnya.

"Jalan jalan sebentar Tou-san" jawab Sakura disertai senyumannya.

Kizashi hanya ber'oh'ria. Tak lama setelah itu Sasori dan Gaara menghampiri Sakura dan Kizashi yang sedang serius menonton TV.

"Serius sekali" tegur Sasori saat keberadaanya tidak dianggap oleh ayah dan anak itu.

Hening. Mereka berdia masih bergeming, tidak mempedulikan Sasori. Gaara yang melihat itu mencoba menahan tawanya. Sasori mendengus melihat semua itu. Diapun mendudukan dirinya disamoing Sakura dan membisikan sesuatu yang membuat Sakura langsung menoleh.

Sasuke sampai di jepang. Hari sudah cukup sore disini. Diapun memberhentikan taxi dan langsung melesat menuju mansion Uchiha.

Sesampainya didepan mansion keluarganya itu, Sasuke langsung masuk dan mencari keberadaan ibunya.

Diruang keluarga Uchiha, sudah berkumpul ayah dan ibunya dan tidak lupa pula Itachi dan istrinya yang sedang hamil besar. Sasuke mengernyit bingung, ada apa ini? Apa mereka menyambut kepulangannya? Tidak. Lihatlah aura mencekam disini.

Sasuke melangkahkan kakinya. "Kaa-san" panggil Sasuke.

Mikoto bankgkit dari duduknya menghampiri Sasuke.

PLAKK..

Mikoto menampar keras anaknya itu. Dia benar benar kecewa dengan kelakuan Sasuke. Dia bahkan sudah tidak punya muka untuk bertemu dengan Sakura sekarang.

Sasuke terbelalak. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa ibunya tiba tiba menamparnya? Belum pernah sekalipun Mikoto menamparnya, tetapi sekarang.

"Kaa-san.. Ada apa?" Sasuke berusaha bertanya lembut.

Semua orang yang berada diruangan itu menatap kecewa pada Sasuke. Fugaku bahkan lebih dari itu.

PLAKK

Lagi. Mikoto menampar kembali Sasuke. Sasuke benar benar bingung sekarang. Apa masalahnya? Dia bahkan ditampar dua kali oleh ibunya sendiri.

"Ada yang bisa menjelaskan padaku?" tanya Sasuke datar.

"Itulah yang ingin kami tanyakan padamu. Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Sakura" ucap Itachi buka suara.

Ah, sudah jelas semuanya. Huft.. Sasuke benar benar lelah. Tadi dia bahkan baru menandatangani perceraiannya dengan Sakura. Sekarang, dia harus mengalami kejadian sama saat dimansion Haruno.

"Aku akan bercerai dengan Sakura. Aku rasa kalian sudah mengetahui intinya bukan?"

Mikoto terisak mendengar itu. Dia sangat menyayangi Sakura seperti anaknya sendiri. Namun, anakya sendirilah yanv menghancurkan Sakura.

"Pergi. Jangan pernah kau menginjakan kakimu kemari tanpa Sakura." usir Mikoto.

Sasuke terbelalak mendengar itu. Ibunya mengusirnya? Inikah yang dirasakan Hotaru saat diusir oleh Kizashi?

"Kaa-san.." lirih Sasuke.

Dia menatap keluarganya. Baiklah inilah resikonya. "Baiklah.. Arigatou" Sasuke membungkuk lalu pergi dari sana.

Setelah Sasuke hilang dari pandangan Mikoto, dia langsung terjatuh pingsan. Semua orang disana dibuat panik karenanya.

Tbc

Holla maaf yah suka telat. Aku swlarnag jadwalin aja min 1 minggu 2x kali up.. Lagi mumet sama masalah hidup haha..

Semoga suka..