Eternal love

Summary :

Hidup Minhyun itu sederhana, dia hanya ingin menjadi penyanyi dan bertemu Idolanya tapi hidup sederhananya musnah sejak ia menolong laki-laki berkulit tan namun memiliki suhu tubuh sedingin es. Apalagi ketika ia mengetahui ia tengah mengandung anak dari laki-laki misterius itu. #Vampire #2Hyun JR/Minhyun BaekRen JaeYong Bnior KaiHun Ongniel #NU'EST #Mpreg.

.

.

Achan Van Jeevas

.

.

.

.

.

Chapter 21 : The Children's Wish

.

.

Sang pangeran vampire itu masih memandangi wajah pucat Minhyun yang masih tidak sadarkan diri ketika Aron menepuk bahunya dengan lembut.

"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Bicaralah."

"Tidak disini."

JR memandang tidak mengerti Aron.

"Ini tentang siapa sesungguhnya Minhyun."

Wajah JR mengeras mendengar ucapan Aron namun ia mengangguk mengerti, sebelum keluar dari kamarnya untuk mengikuti Aron, JR lebih dulu mengecup bibir merah Minhyun.

.

.

.

Ren tengah mengeluarkan susu dari kulkas di apartement Minhyun ketika ia merasakan aura yang membuatnya mematung dan dengan gerakan cepat Ren langsung membalikkan badannya dan betapa terkejutnya ia melihat sosok anak kecil yang berdiri didepan pintu dapur. Bukan anak itu yang membuatnya terkejut namun wajah serta aura yang dibawanya.

Dengan gerakan perlahan Ren melangkah mendekati anak kecil tersebut yang memandangnya dengan tatapan berjuta makna.

"Wa-wajahmu…" Ren terduduk didepan si kecil yang memiliki wajah yang mirip dengan orang dari masa lalu yang ia benci hingga ke pembuluh darahnya namun masih tetap memiliki ikatan yang kuat dengannya.

"Ahjusshi tidak bisa mengetahui kehidupan orang dengan sekali lihat yah? Harus menyentuh orang itu dulu?"

Mata Ren melebar mendengar ucapan bocah didepannya. "Ba-bagaimana kau tahu?"

"Karena aku juga memiliki kekuatan yang sama dengan Ahjusshi." Tangan kurus bocah kecil itu menyentuh pipi Ren. "Tapi aku bisa melihat kehidupan orang itu tanpa menyentuhnya, hanya sekali lihat dan aku mengetahui semuanya."

Nafas Ren tercekat ketika dalam sentuhan lembut itu membawanya melihat kehidupan si kecil didepannya, ia seperti ada disana ketika si kecil itu harus keluar dari rahim ibunya dengan paksa, ketika si kecil itu belum siap untuk melihat dunia.

"Monster… monster…" Air mata sudah membanjiri pipi putih Ren ketika bayangan-bayangan itu menghilang dari pikirannya, ia lalu memeluk sosok kecil didepannya. "Ayahmu… dia monster… bajingan itu."

Samuel menggeleng pelan. "Tapi Daddy adalah kakakmu, Uncle."

Ren menggeleng kuat dalam ceruk leher kecil Samuel. "Tidak, Kakakku dia sudah mati puluhan tahun yang lalu. Choi Seungcheol sudah tidak ada di bumi ini. Ia sudah mati, yang ada hanyalah monster bernama SCoups."

.

.

.

JR memejamkan matanya sambil menarik nafas setelah mendengar seluruh ucapan Aron.

"Fox?"

"Nde, Dia keturunan langsung Minah dan Ratu selanjutnya bangsa Fox."

"Tapi sepertinya Minhyun tidak menyadari siapa dirinya sendiri."

Aron mengangkat bahu. "Mungkin ada sesuatu mantra yang menyegel kekuatannya. Dan yang bisa melakukannya hanyalah High Warlock atau High Witch yang memiliki pengalaman beratus-ratus tahun."

JR memandang Aron dengan tenang. "Dan sepertinya kita tahu siapa yang menyegel kekuatan Minhyun."

"Jika bukan High Warlock Kris Wu mungkin High Witch Heechul atau YoonA."

.

.

.

Baekho memandang bingung pada kekasihnya yang tengah memeluk bocah kecil ketika ia memasuki dapur karena merasakan aura kekasihnya yang tampak kelabu dan penuh dengan kesedihan.

"Ada apa ini?"

Namun pertanyaan Baekho tidak ada yang menggubris karena dua sosok itu masih berpelukan dengan erat.

"Muel boleh memanggil Ahjusshi dengan panggilan Uncle?"

Ren melepaskan pelukannya pada tubuh kurus bocah berusia tiga tahun itu, tangannya masih menyentuh pipi Samuel. "Tentu saja boleh. Kau adalah keponakanku."

"Terimakasih Uncle Ren."

Ren tersenyum manis mendengarnya. "Aku dulu tidak akan suka orang memanggilku dengan sebutan Ahjusshi, Paman atau Uncle karena itu membuatku tampak tua tapi tidak sekarang. Tidak untukmu."

"Ren, ada apa ini? Dan siapa dia?"

Ren mendongak dan melihat kekasihnya memandangnya bingung. "Baekho-ya, perkenalkan dia Samuel, keponakanku."

"Keponakan?" Baekho mengangkat alisnya bingung namun langsung mengerti ketika ia melihat wajah Samuel. "SCoups."

Ren kembali mengelus pipi Samuel dengan lembut. "Besok ikutlah dengan kami. Kita harus memberitahu Ibumu. Aron-hyung ia pasti akan bahagia mengetahui putranya masih hidup."

"Aku takut Mommy tidak menyukaiku."

Baekho menghela nafas, ia bergerak mendekati bocah kecil itu. "Ibumu itu, tiga tahun terakhir ini sering mengeluh sakit pada perutnya dan ternyata kaulah penyebabnya. Ia juga bilang bahwa ia sering memimpikan anak kecil yang memiliki wajah yang mirip dengan bajingan itu."

"Baekho bahasamu, dia masih kecil." Kecam Ren pada kekasihnya.

Samuel menundukan wajahnya. "Aku juga sering memimpikan Mommy, bahkan aku pernah bertemu dengan Mommy tapi aku tidak berani mengatakan yang sesungguhnya. Dan apakah Daddy memang seburuk itu?"

"Beberapa saat yang lalu Ibumu pernah bercerita padaku bahwa ia bertemu dengan sosok yang bernama Samuel dan dulu sekali ia pernah mengatakan padaku bahwa jika ia memiliki anak laki-laki ia akan menamainya dengan nama Samuel. Dan tentang Ayahmu… banyak sekali kesalahan yang ia lakukan hingga membuat ribuan makhluk supernatural menderita namun ia masih mengingat ucapan Aron dan menamaimu dengan nama yang diinginkan Ibumu."

Samuel mengusap air mata yang sudah menetes dipipinya dengan kaos lengan panjangnya. "Aku ingin sekali memeluk Mommy."

Apa yang bisa Ren lakukan selain memeluk bocah didepannya, bocah yang adalah keponakannya. "Aku melihat kehidupanmu dan kau sudah tersakiti karena Ayahmu sendiri, kau harusnya membencinya bukan mencintainya."

"Tapi ia adalah Ayahku, Uncle. Tidak sepantasnya seorang anak membenci orangtuanya sendiri. Uncle juga tidak seharusnya membenci kakak Uncle sendiri."

.

.

.

"Apa kita harus menghilangkan segel itu agar Minhyun mengetahui siapa jati dirinya sendiri?"

JR menggeleng. "Biarkan ia tetap menjadi Minhyun yang seperti ini. Cepat atau lambat ia akan menjadi penerus bangsa Fox, ia akan tetap mengetahuinya."

"Tapi setidaknya ia harus mengetahui siapa dirinya."

JR mengangguk mendengar ucapan Aron, ia lalu berdiri dari kursinya. "Aku akan ke kamar."

Aron tersenyum. "Pergilah, jaga dia."

.

.

.

"Muel-Hyung?"

Samuel, Rend an Baekho langsung membalikan badan mereka dan melihat dua bocah kecil memandang ketiganya dengan bingung.

"Siapa dua ahjusshi ini, Hyung?" tanya Seonho dengan bingung sedangkan Woojin sudah bersembunyi dibalik tubuhnya.

"Kemarilah Seonho, Woojinie. Dua ahjusshi ini temannya Ahjusshi tampan."

Mata Seonho langsung berbinar mendengar kata ahjusshi tampan. "Temannya Ahjusshi Tampan?"

Samuel mengangguk.

Seonho menarik tangan Woojin dengan lembut untuk mendekati dua sosok yang baru ia lihat itu. "Annyeong Ahjusshi, Seonho imnida. Dan ini Woojinie."

Woojin membungkuk dengan malu-malu. "Woojinie imnida."

Tanpa banyak kata Ren langsung menyentuh pipi kedua bocah didepannya dan matanya kembali melebar melihat kilas kehidupan dua bocah didepannya. "Daniel… Minhyun…"

Ren menatap keponakannya. "Kau tahu siapa Ayah dari Seonho dan Woojin?"

Samuel tidak menjawab apapun, ia hanya menundukan kepalanya, tentu saja ia tahu siapa Ayah dari kedua adiknya. Ia sudah melihat kilas kehidupan Daniel dan Minhyun namun ia bertingkah seakan tidak tahu karena ia tidak mau membuat kedua sosok yang sudah ia anggap Ibunya itu sedih dan ia juga tidak mau membuat kedua adiknya sedih.

Lagipula Daniel tidak tahu bahwa ia memiliki kekuatan bisa melihat kehidupan orang dalam sekali lihat karena Samuel tidak pernah mengatakannya pada Daniel namun nampaknya sosok manis itu mengathui bahwa Samuel memiliki sesuatu yang besar namun tidak pernah mengatakannya padanya dan Danielpun tidak mau membuat putra angkatnya itu tidak nyaman dengannya dengan bertanya, Daniel yakin bahwa putra angkatnya itu suatu hari akan berkata yang sejujurnya padanya dan terbuka dengannya.

"Mwo? Apa yang Ahjusshi ini katakan Muel-hyung? Ayah kita?" Seonho memandang bingung Samuel.

"Ren, kau harusnya tidak berbicara seperti itu didepan keduanya." Baekho menasehati kekasihnya.

"Kita tidak memiliki Ayah, Ahjusshi. Tapi kita memiliki Mommy dan Eomma dan itu sudah cukup untuk kita berdua." ujar Woojin sambil tersenyum polos pada sosok cantik didepannya.

.

.

.

JR hampir terkena serangan jantung ketika ia tidak melihat tubuh Minhyun diatas kasurnya namun ia langsung melihat pintu balkon yang terbuka lebar hingga angin malam dengan mudah masuk. Dengan pelan JR berjalan menuju balkon kamarnya.

"Indah, bukan?" ucap Minhyun dengan suara yang pelan ketika ia merasakan ada sosok lain di belakangnya.

"Hm?" JR memandang wajah sosok cantik itu yang sudah tidak sepucat tadi.

"Pemandangan kota Seoul." Jelas Minhyun.

"Tidak seindah kau."

Minhyun merasakan pipinya memerah mendengar ucapan sosok tampan dibelakangnya.

"Disini dingin. Kau harus beristirahat."

Minhyun mengangguk mengerti dan langsung masuk kekamar JR diikuti sosok tampan pemilik kamar.

Minhyun memandang pergelangan tangannya yang beberapa saat lalu mendapat gigitan SCoups namun bekas itu sudah menghilang.

Sejak kecil Minhyun memang memiliki kekebalan tubuh yang baik, ia tidak pernah memiliki luka ditubuhnya, bekas luka itu biasanya langsung menghilang dari tubuhnya namun hanya satu yang masih menempel pada tubuhnya dan itu adalah bekas luka satu-satunya yang ada pada tubuhnya, bekas luka ketika ia melahirkan Seonho.

"Terimakasih sudah menyelamatkanku."

JR berjongkok didepan Minhyun, dengan lembut ia menyentuh pipi chuby itu. "Itu adalah kewajibanku untuk melindungimu, melindungi kalian."

Air mata langsung membanjiri pipi Minhyun, ia mengerti dengan ucapan sosok tampan didepannya. "Hiks, Maafkan aku tidak memberitahumu sejak dulu."

JR menggeleng, ia merasakan jantungnya sesak melihat sosok manis didepannya mengeluarkan air mata dan itu karenanya. "Aniya, jangan meminta maaf. Ini salahku, aku yang bodoh tidak menyadarinya sejak dulu. Maafkan aku Minhyunie ini semua salahku. Kau terluka terlalu banyak karena aku."

"Hiks.. Hiks.." Minhyun memeluk sosok didepannya dengan erat dan langsung dibalas oleh JR.

"Sst, jangan menangis lagi. Tolong jangan menangis, Permaisuriku."

Minhyun membenamkan wajahnya pada dada bidang JR, ia mencoba untuk menghentikan air matanya. "Jjuya…"

Mata JR melebar mendengar panggilan itu, hanya satu orang yang memanggilnya dengan sebutan itu dan itu adalah Minah.

"Kau memanggilku apa?"

"Jjuya." Minhyun mengulang kata tersebut. "Ketika kau memanggilku dengan Permaisuri entah kenapa Jjuya tiba-tiba muncul dalam pikiranku. Kau tidak suka?"

JR tersenyum tampan, ia mencium dahi Minhyun dengan lembut. "Aniya, aku suka. Aku sangat menyukainya, terus panggil aku begitu."

"Jjuya Jjuya Jjuya Jjuya."

JR tertawa lebar dengan tingkah manis pasangan jiwanya, dengan gemas ia mencubit kedua pipi Minhyun.

"Aww, sakit Jjuya. Kenapa kau mencubitku?"

"Itu karena kau terlalu manis."

Minhyun memajukan bibirnya. "Jika aku manis kau harusnya menciumku bukan mencubitku."

Sang pangeran tampan itu mengeluarkan senyum iblisnya mendengar ucapan Minhyun. "Jadi kau ingin aku cium?"

Wajah Minhyun kembali memerah setelah ia sadar apa yang ia ucapkan. "A-aniya, bukan itu maksudku."

"Hm? Bukan itu?" JR mendekatkan wajahnya pada Minhyun.

"Jangan dekat-dekat Jjuya?"

"Wae? Bukankah kau yang meminta? Kau manis jadi aku harus menciummu."

Wajah Minhyun semakin memerah ketika sosok tampan itu mendekatkan wajahnya padanya, Minhyun tentu tidak bisa mengelak karena ia sendiripun menginginkan ciuman dari bibir JR.

"Jju-nghhh." Minhyun tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika bibir dingin namun menghangatkan seluruh jiwa dan raganya itu meraup bibir merahnya dengan rakus.

"Nghhh..Jju-mmhhh."

JR dengan rakus mengulum bibir Minhyun, ia merindukan rasa manis yang selalu ia rasakan ketika mencium bibir menggoda Minhyun. Bukan hanya bibir tapi seluruh tubuh Minhyun itu manis dan sudah menjadi candu untuknya.

"Nggghhhhh…." Minhyun mengalungkan tangannya dileher JR ketika sosok tampan itu dengan lihat memasukan lidahnya dan mengajak lidah Minhyun menari bersama.

.

.

.

Ting Tong

Ren langsung berdiri untuk membuka pintu apartement Minhyun, itu Jaehyun karena beberapa saat yang lalu Jaehyun memberinya pesan bahwa ia akan datang untuk membawa bocah bernama Seonho.

"Makannya pelan-pelan Seonho-ya." Ucap Samuel sambil membersihkan sudut bibir Seonho yang terdapat nasi, saat ini mereka bertiga tengah makan malam ditambah Baekho yang hanya memandang ketiga bocah didepannya dengan datar.

Seonho hanya tersenyum lebar. "Habis Seonho lapar Muel-hyung."

"Iyah tapi pelan-pelan, masih banyak makanan kok."

Seonho mengangguk ala kadarnya dan kembali focus pada makanannya.

"Woojinie kenapa?" tanya Samuel pada adiknya yang paling kecil ketika si bungsu tidak bersuara.

"Woojinie bingung Muel-hyung."

"Kenapa bingung?"

"Sejak seminggu yang lalu Mommy jadi tidak pernah makan malam dengan kita."

Seonho mengangguk setuju dengan ucapan Woojin. "Nde, Niel Mommy tidak pernah makan malam dengan kita lagi."

"Kan Daniel-hyung kerja Woojinie, Seonho. Jadi maklum Daniel-Hyung jarang makan malam dengan kita lagi." Ujar Samuel dengan tenang. "Daniel-hyung kerja juga kan buat beli mainan dan makanan untuk Woojinie juga."

Baekho memandang Samuel dengan penuh selidik. Bocah ini tampaknya tahu apa pekerjaan Daniel.

"Eomma juga tumben malam ini belum pulang. Ahjusshi tahu tidak Eomma dimana?" tanya Seonho pada Baekho.

"Eomma mu, dia ada di–" Sebelum Baekho menyelesaikan ucapannya Ren sudah lebih dulu datang bersama Jaehyun.

"Eomma Seonho sedang ada di rumahnya JR Ahjusshi, Seonho mau kesana?"

"Dirumah Ahjusshi tampan? Mau mau, Seonho mau kesana." Seonho langsung turun dari meja makan dan memeluk kaki Ren. "Tapi kenapa Eomma ada disana?"

Ketiga orang dewasa yang ada disana saling melirik satu sama lain, mereka mencari alasana yang cukup pas untuk bocah kecil didepan mereka. Mana mungkin mereka bilang bahwa Ayah Samuel menggigit Ibu Seonho dan Ayah Seonho murkan bukan main, bisa-bisa mereka hanya membuat ketiganya menangis minus Samuel, Ren tidak yakin bocah itu bisa menangis.

"Kenapa Seonho tidak ikut saja dengan Ahjusshi nanti juga Seonho tahu kok. Disana juga ada Appa nya Seonho." Ujar Jaehyun dengan senyum tampannya, ia mendapatkan pesan dari kekasihnya bahwa Seonho adalah putra JR yang berarti bocah itu adalah keponakannya.

"Appa?"

"Appa nya Seonho-hyung?" Woojin memandang bingung ketiga pria dewasa disekelilingnya sedangkan Samuel hanya diam saja karena ia sudah tahu siapa Ayah dari Seonho ketika ia melihat kehidupan Minhyun.

"Seonho akan bertemu Appa?"

Jaehyun mengangguk.

"Seonho punya Appa, Ahjusshi?"

Jaehyun kembali mengangguk dan mengacak rambut Seonho. "Iyah, jagoan. Ayo ikut Ahjusshi, kita akan bertemu dengan Appanya Seonho."

Ren dan Baekho memandang tidak mengerti Jaehyun dan meminta penjelasan adik dari JR itu dengan tatapan mereka.

Seonho adalah putra JR-hyung. Ucap Jaehyun dalam hati namun Baekho dan Ren langsung melebarkan mata mereka karena terkejut.

"Bagaimana kalau Muel dan Woojinie juga ikut?" saran Ren sambil memandang kedua bocah lain didepannya, ia juga ingin mempertemukan Aron dan Samuel dan menceritakan bahwa Samuel adala putra Aron.

Woojin mengangguk dengan antusias namun Samuel menggelengkan kepalanya. "Aniya Woojinie, lebih baik Seonho saja yang kesana. Lagipula kalau kita semua kesana bagaimana dengan Daniel-hyung. Daniel-hyung akan sedih kalau dia pulang dan kita tidak ada."

Woojin langsung mengangguk mengerti.

Ketiga orang dewasa yang ada disana dibuat kagum dengan sikap dewasa bocah itu, persis seperti Ibunya, Kwak Aron.

"Kita akan main kerumah Ahjusshi tampan besok saja kalau Daniel-hyung sudah pulang, Ahjusshi."

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

28 October 2017

.

.

.

Semoga kalian suka sama chapter ini, next chapter mungkin achan update bulan! thnx for review/komen n follow/favorite serta votenya.

.

.

.

Thank You

Bye Bye Bye

L.O.V.E Ya