Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 21: Something That Will Never Change

Sudah lama Reo tidak menikmati pagi yang sedamai ini.

Setelah mandi dan membersihkan diri, Reo kembali berbaring di tempat tidurnya. Miranda dan Revis belum mengizinkannya keluar dari ruangan itu, walaupun Reo sudah gatal ingin menjelajahi rumah kos tempat mereka tinggal sekarang.

Semua anggota Pandora segera menyetujui syarat yang diajukan Ann dan Aire tadi malam. Tanpa mereka minta pun, mereka akan dengan senang hati melakukannya. Jadi, sejak malam kemarin, persekutuan antara Pandora dan Reinhart resmi terbentuk. Lubang di dinding yang ditinggalkan oleh pisau Ann kini menjadi bukti perjanjian mereka.

Ann dan Aire menepati janji mereka. Mereka mempersilakan Reo dan teman-temannya tinggal di rumah kos mereka yang luas itu. Selain mereka bersembilan, beberapa anggota Reinhart juga tinggal di situ. Ann dan Aire juga tinggal di sana. Mereka bilang mereka lebih senang tinggal di sana daripada di rumah mereka yang sebenarnya. 'Lebih ramai', itu kata mereka.

Reo sedang asyik dengan pikirannya sendiri ketika dia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. "Reo? Boleh aku masuk?"

"Masuk saja!"

Terdengar suara kunci diputar. Sesaat kemudian, pintu terbuka dan Ada melangkah masuk. Dia menarik bangku yang berada di samping tempat tidur Reo dan duduk di atasnya. "Jadi, bagaimana keadaanmu?"

"Jauh lebih baik dari kemarin!" jawab Reo. "Mana yang lain?"

"Kakak, Elliot, Break, Alice, Will dan Ann sedang mendiskusikan beberapa hal di ruang makan. Sharon sedang keluar bersama Aire dan Gil masih mengunci diri di kamarnya. Aku tidak melihat Echo maupun Zwei sejak pagi tadi." jawab Ada.

"Kau tidak ikut rapat strategi?" tanya Reo.

Ada menggeleng dengan tidak bersemangat. "Jujur saja, aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan! Lagipula, kurasa aku tidak akan diizinkan untuk menerjunkan diri di garis depan karena aku satu-satunya yang tidak memiliki chain."

"Bukannya itu agak… rasis?" tanya Reo hati-hati.

"Seluruh anggota Dark Sabrie memiliki chain, ingat? Aku akan habis dalam satu kali serangan!" kata Ada. "Lagipula, aku masih bisa berperan di garis belakang!" tambahnya.

"Maksudmu? Sebentar, biar kutebak! Kau akan menjadi dokter?" terka Reo yang disertai anggukan Ada.

"Revis bilang dia ingin aku menjadi muridnya!" Ada tersenyum senang. "Dia bilang sudah lama dia ingin mempunyai murid, dan aku kandidat yang paling cocok!"

"Ya, baguslah kalau begitu! Kurasa kau akan menjadi dokter yang hebat!" puji Reo.

"Trims, Reo!" balas Ada yang masih tersenyum berseri-seri. "Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang, huh?"

"Aku hanya ingin keluar dari kamar ini, itu saja!" gumam Reo sambil memeluk lututnya. "Tapi Revis maupun Miranda tidak mengizinkanku untuk keluar!"

"Hmmm? Begitu, ya? Oh!" kedua bola mata Ada berkilat sebentar ketika sebuah ide melintas di kepalanya.

"Sekedar informasi saja, Revis dan Miranda sedang tidak ada di sini." katanya sambil lalu sebelum bangkit berdiri.

"Kau pasti lapar, kan?" tanya Ada.

"Erm, Ada? Aku baru saja makan dua jam yang lalu."

Ada melanjutkan perkataanya, sepenuhnya mengabaikan perkataan Reo barusan "Aku akan ke dapur untuk mengambilkanmu sesuatu!"

Tanpa mengindahkan protes Reo, Ada berlalu dan membuka pintu kamar. Sebelum dia menutup pintu kembali, dia menoleh ke belakang dan berbicara dengan nada santai.

"Aku tidak akan mengunci pintunya, jadi bersikaplah seperti anak baik dan jangan keluar! Oke?" Ada mengedipkan sebelah matanya dan menutup pintu, meninggalkan Reo yang kebingungan.

"Dia… kenapa sih?"

.

Rumah kos milik Reinhart lebih tepat disebut asrama daripada rumah kos.

Bangunan itu terdiri dari tiga tingkat, belum termasuk ruang bawah tanah yang terdiri dari dua tingkat dan loteng. Setiap tingkat terdiri dari sekitar sepuluh ruangan dengan fungsi berbeda. Lantai teratas, tempat Reo sekarang berada, diisi oleh kamar-kamar penghuni rumah itu dan sebuah klinik. Setiap kamar cukup untuk menampung dua hingga tiga orang. Selain kamar-kamar dan klinik, tidak ada ruangan lain di lantai itu.

Merasa tidak ada ruangan menarik lagi yang bisa dilihat di lantai itu, Reo memutuskan untuk turun dan menjelajahi lantai dua. Lantai dua terdiri sebuah lorong panjang dan beberapa pintu yang terbuat dari kayu mahoni.

Reo memutuskan untuk mencoba pintu yang berada paling dekat dengannya. Dia memutar kenop pintu yang terbuat dari kuningan dan membuka pintu itu. Dia melangkah masuk dan menahan napasnya ketika dia menyadari ruangan itu adalah sebuah perpustakaan yang cukup luas.

Rak-rak kayu berpelitur yang tingginya mencapai langit-langit diisi oleh buku tentang berbagai macam topik. Salah satu rak penuh berisi berbagai macam seri ensiklopedia, sementara rak lain dijejali oleh buku-buku fiksi yang Reo sukai. Lantai keramik putih ruangan itu dilapisi oleh karpet merah yang terasa lembut di bawah kaki telanjang Reo. Beberapa kursi baca yang tampak nyaman diletakkan di atas karpet bersama bantal-bantal lebar nan empuk bagi mereka yang tidak ingin membaca di kursi.

"Kalau seperti ini, aku dijamin betah!" Reo berdecak kagum. "Aku tidak mengira mafia bisa mempunyai perpustakaan seperti ini.

"Kau kira pekerjaan kami hanya bertempur melawan Clockwork?" tanya seseorang. "Kami juga manusia biasa, Reo!"

Reo baru menyadari kalau dia tidak sendirian di ruangan itu. Ketika dia masuk tadi, dia tidak memperhatikan seorang gadis yang duduk di salah satu kursi di sana, asyik membaca. Baru ketika gadis itu meletakkan bukunya dan bangkit berdiri, Reo menyadari keberadaannya.

"Hai, Ann! Maaf, aku tidak tahu kau ada di sini!" Reo buru-buru meminta maaf.

"Tidak apa-apa!" Ann mengibaskan tangannya. "Orang-orang bilang aku memiliki sosok yang sering tidak diperhatikan oleh orang lain. Mungkin itu sebabnya aku sering dikirim untuk memata-matai. Aku bisa berdiri di belakang seseorang di sebuah ruangan yang sepi tanpa dia mengetahui keberadaanku! Aku juga bisa pergi dari suatu tempat ke tempat yang lain tanpa ada yang mengetahui!" dia menjelaskan dengan sedikit bangga.

"Kurasa itu kemampuan yang berguna!" puji Reo.

"Memang berguna, kecuali kalau kami sedang rapat. Aku harus berteriak beberapa kali agar yang lain memperhatikanku!" Ann sedikit meringis. "Itu sebabnya Aire labih aktif saat rapat daripada aku. Aku lebih memilih memberitahu Aire apa yang ingin kukatakan dan membiarkannya menyampaikannya kepada yang lain daripada harus berteriak!"

"Kurasa aku bisa mengerti itu…" gumam Reo.

Ann tersenyum samar. "Dilihat dari reaksimu ketika kau masuk tadi, rupanya kau suka membaca juga, ya?" tanyanya kepada Reo.

"Ya, aku suka sekali membaca!" jawab Reo bersemangat. "Sayangnya, Pandora tidak mempunyai terlalu banyak buku. Satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan buku adalah dengan mencurinya, yang kuhindari sebisa mungkin."

"Kalau begitu, datanglah ke sini kapanpun kau mau! Sekadar informasi saja, ini ruangan favoritku di sini!" Ann menggerakkan tangannya untuk menunjuk seluruh isi ruangan. "Kalau tidak ada kegiatan lain, aku pasti akan pergi ke sini! Kalau kau mampir kesini, mungkin kita bisa mendiskusikan beberapa subjek menarik, eh?" tanyanya sambil mengedipkan matanya.

"Kedengarannya menarik." kata Reo sambil tersenyum kecil.

"Oh ya! Bukannya kau harus beristirahat di kamarmu?" tanya Ann heran. Dia baru ingat kalau Reo seharusnya tidak berjalan-jalan seperti itu.

"Eh? Erm…" Reo juga baru ingat kalau kaburnya dia dari kamarnya seharusnya tidak diketahui orang lain.

"Erm, mungkin sebaiknya aku kembali ke kamar…" kata Reo salah tingkah karena ketahuan.

Yang membuat Reo heran, Ann malah tertawa geli. "Sudahlah, tak apa-apa kalau kau kabur dari ruanganmu! Kau pasti bosan setengah mati di sana!"

"Tapi, bagaimana kalau Revis atau Miranda mengetahuinya?"

"Mereka sedang pergi, jadi tidak masalah! Lagipula, kau bukanlah yang pertama kali kabur dari perawatan mereka. Pernah suatu hari Aire terluka begitu parah hingga dia tidak boleh keluar dari kamarnya selama seminggu penuh! Kau harus lihat wajah Revis keesokan harinya ketika dia akan memeriksa Aire dan mendapati kamarnya kosong!" kata Ann disela-sela tawanya.

"Apa Revis tidak marah ketika dia mendapati kalau Aire kabur dari kamarnya?" tanya Reo.

"Bukan marah lagi, murka!" jawab Ann. "Dia bersumpah kalau Aire sekali lagi kabur dari perawatannya dia akan menguncinya di ruang bawah tanah dan menelan kuncinya!"

"Seram juga, ya?" komentar Reo, yang mulai berkeringat dingin ketika membayangkan dirinya dikurung di ruang bawah tanah kembali.

"Yep, tapi itu tidak cukup untuk membuat Aire jera! Dia kabur lagi beberapa hari kemudian!" Ann menambahkan.

"Sepertinya kehidupan di sini menyenangkan, ya?" kata Reo.

"Memang menyenangkan, kalau kau tidak menghitung pertempurannya." ekspresi Ann berubah menjadi suram. "Kadang-kadang aku berharap aku dan Aire tidak dilahirkan sebagai mafia…"

"Bukannya kau bisa keluar dari Reinhart?" tanya Reo. "Memang, kau dan Aire adalah putri pemimpin Reinhart terdahulu, tetapi itu tidak berarti kalian harus menjadi anggota Reinhart, kan? Maksudku, tidak bermaksud menyinggung atau apa, kurasa kalian terlalu muda untuk menjadi mafia, apalagi pemimpinnya!"

"Dan aku rasa kau terlalu muda untuk menjaga rahasia Pandora!" balas Ann. Dia menggelengkan kepalanya, "Jujur saja, ketika Oz menjelaskan apa tujuan kalian kemarin malam dan apa sebenarnya kotak Pandora itu, aku merasa seperti berada di dalam mimpi. Ini seperti cerita di buku fiksi saja!"

"Memang seperi cerita fiksi, sih…" Reo mengakui.

"Dan jawaban untuk pertanyaan pertamamu tadi adalah ya! Setiap anggota Reinhart bisa melakukannya, keluar dari Reinhart maksudku! Aku dan Aire bisa saja keluar dari Reinhart, dengan syarat kami tidak membocorkan informasi apapun mengenai Reinhart kepada orang lain. Kalau kami melanggarnya…" Ann membuat tiruan sebuah pistol dengan jari-jarinya dan meletakkan ujung jari telunjuknya di pelipis kanannya, "kau tahu apa yang terjadi!"

"Kalau begitu, kenapa kalian tidak keluar saja?" tanya Reo. "Rasanya tugas untuk memimpin Reinhart terlalu berat untuk kalian!"

"Karena itu tanggung jawab mereka, Reo!" seseorang merangkul Reo dari belakang. "Mereka memiliki tanggung jawab juga, seperti kita! Kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan, pada akhirnya, menghancurkan kedua Kotak Pandora, sementara Ann dan Aire memiliki tanggung jawab untuk memimpin Reinhart!"

"Ada?" tanya Reo heran ketika dia melihat orang yang merangkulnya itu.

"Halo, Reo! Ternyata kau bisa mengerti isyaratku, ya?" kata Ada sambil mengedipkan matanya dengan nakal.

"Jadi, kau yang membiarkannya keluar dari ruangan, Ada?" tanya Ann yang dijawab oleh anggukan dan seringai jahil Ada.

"Yup! Habis, dia kelihatan bosan terkurung di sana!"

"Aku tidak menyalahkanmu, kok! Omong-omong, apa yang dikatakan Ada tentang tanggung jawab itu benar!" kata Ann. "Sebagai putri ayah kami, sudah merupakan tanggung jawab kami untuk memimpin Reinhart. Sebenarnya ayah maupun ibuku tidak memaksaku maupun Aire untuk menjadi anggota maupun pemimpin Reinhart. Tetapi, sudah tradisi kalau pemimpin Reinhart harus memiliki darah Reinhart, walaupun hanya setetes. Kami tidak punya saudara, dan tidak baik apabila kita merusak tradisi, kan? Jadi, aku dan Aire memutuskan untuk mengambil posisi ini!"

"Jadi, kau menjadi pemimpin Reinhart karena itu merupakan tanggung jawabmu sebagai seseorang yang memiliki darah Reinhart?" tany Reo hati-hati.

Ann mengangguk pelan, "Karena tanggung jawab, ya! Tapi aku dan Aire pernah bersumpah, apabila kami berhasil mengalahkan Clockwork dan membalaskan dendam keluarga serta teman-teman kami, kami akan meletakkan pistol kami dan melepaskan jabatan kami! Aku tidak akan membunuh lagi!"

"Sepertinya itu sesuatu yang layak untuk diperjuangkan!" komentar Ada. "Omong omong, Ann, apa rapat strategi sudah selesai? Apa hasilnya?"

"Kami baru selesai sekitar lima belas menit lalu." jawab Ann. "Kami belum menemukan titik terang. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah menyegel Kotak Pandora secepatnya!"

"Aku dan Gil masih belum memutuskan siapa yang akan melakukan penyegelan." kata Reo. "Aku rasa kami akan membicarakannya nanti, kalau Gil sudah mau keluar dari kamarnya."

"Apa aku perlu menuruh Will untuk menyeretnya keluar lagi?" Ann menawarkan.

Ada menggeleng pelan, "Biarkan saja! Dia perlu waktu untuk menenangkan diri!"

"Baiklah kalau begitu." kata Ann. Dia kembali duduk dan mengambil kembali buku yang tadi diletakkannya di kursi. "Omong-omong, apa yang akan kalian lakukan sekarang? Kurasa Revis dan Miranda tidak akan kembali dalam waktu dekat."

"Kalau kau tidak keberatan Ann, aku ingin menunjukkan ruangan "itu" kepada Reo!" kata Ada. Ann mengangguk kecil.

"Baiklah! Demi keselamatanmu, aku harap kau mengingat apa saja yang ada di sana!"

"Percayalah, Ann! Aku mengingatnya sejelas siang!"kata Ada untuk meyakinkan Ann. "Ayo, Reo!"

Dia mengamit tangan Reo dan menariknya, memaksa anak laki-laki itu untuk mengikutinya sementara mereka berlari-lari kecil menyusuri lorong.

.

Ruangan yang Ada maksud berada sekitar lima meter dari perpustakaan.

"Kita sampai!" kata Ada dengan sedikit terengah-engah, walaupun jarak yang harus mereka tempuh untuk mencapai ruangan itu sangatlah pendek.

Pintu ruangan itu memiliki model yang sama dengan pintu-pintu lainnya di lantai itu. Reo baru saja akan memutar kenop pintu itu ketika Ada mencengkram lengannya.

"Ada? Kenapa?" tanya Reo bingung.

"Lihat kenopnya!" perintah Ada.

Reo menuruti perintah Ada dan mengamati kenop pintu itu. Butuh waktu beberapa detik bagi Reo untuk menyadari perbedaan antara kenop pintu itu dan kenop-kenop pintu lain.

"Tembaga?" tanya Reo heran. "Padahal kenop pintu yang lain terbuat dari kuningan!"

"Tepat sekali!" kata Ada. "Dan kau tahu kalau tembaga paling bagus untuk menghantarkan apa, kan?"

"Listrik?"

"Seratus untukmu! Kenop itu tersambung dengan sebuah sumber listrik yang lumayan besar, tetapi jangan tanya aku dimana sumber listrik itu! Aire bilang listrik yang mengalir di kenop itu cukup untuk membuat beruang pingsan!"

Reo menatap kenop pintu itu dengan ngeri. "Kalau begitu, bagaimana kita bisa masuk?"

"Mudah saja!" kata Ada santai. "Kau lihat lekukan kira-kira satu jengkal di atas kenop? Nah, kita hanya tinggal menariknya!"

Dengan mengerahkan tenaga, Ada berhasil membuka pintu itu dengan cara menariknya. Pintu itu membuka ke arah luar, menampakkan ruangan bercat putih yang tampak kosong. Reo baru saja hendak melangkah masuk ketika Ada sekali lagi menghentikannya.

"Kenapa lagi, Ada?" tanya Reo yang agak kesal karena dihentikan terus menerus.

"'Jangan buru-buru masuk ke ruangan ini kalau kau tidak mau celaka!' itu kata Will." Ada mengutip. "Kalau kau mau tahu alasannya, lihat ke bawah kemudian lihat ke atas!" lanjutnya dengan sabar.

Dengan agak tidak sabar, Reo menunduk dan mendapati sebuah benang yang amat sangat tipis telah direntangkan di antara kedua sisi pintu. Benang itu dipasang setinggi pinggang Reo. Kemudian Reo mendongak dan mendapati kalau sebuah guillotine telah dipasang di atas pintu. Reo yakin kalau dia memutuskan benang itu, guillotine itu akan melesat turun dan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.

"Sharon kehilangan beberapa helai rambutnya oleh benda itu kemarin ketika kami melihat-lihat ruangan ini!" kata Ada. "Apa kubilang? Kau harus sabar kalau kau mau masuk ke ruangan ini!"

Reo menelan ludah ketika melihat guillotine yang tampak tajam itu, "Kenapa ketat sekali, sih? Sekarang, apa yang harus kulakukan?"

"Merunduk dan merangkaklah di bawah benang itu!" perintah Ada. Kali ini, Reo menurutinya tanpa protes.

"Kenapa dipasang setinggi pinggang, sih?" gerutu Reo setelah dia berhasil merangkak dengan selamat dan sampai diruangan itu dengan aman. "Kenapa tidak dipasang setinggi lutut saja? Kita bisa melangkahinya dengan mudah!"

"Itu masalahnya, terlalu mudah! Trik itu sudah terlalu sering dipakai!" jawab Ada yang menyusulnya beberapa detik kemudian. "Lagipula, orang-orang yang sudah berpengalaman sudah pasti akan menebak kalau ruangan ini dipasangi perangkap dan akan melangkah tinggi-tinggi ketika masuk. Tidak akan ada yang mengira kalau benang itu dipasang setinggi pinggang!"

"Aku salut dengan siapapun yang merancang ruangan ini!" kata Reo, "Omong-omong, apa sih yang dijaga di sini hingga pengamanannya saja sampai seketat itu?"

"Coba kau lihat ke depan!" saran Ada. Sekali lagi, Reo menuruti saran Ada dan dia segera mengerti kenapa ruangan itu diamankan dengan sangat ketat.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kecil yang dipaku ke lantai. Selain meja itu, tidak ada benda yang lain di ruangan itu. Tidak ada yang istimewa dari meja itu, tetapi yang istimewa justru benda yang diletakkan di atas meja itu.

"Kotak Pandora?" tanya Reo heran. Ada mengangguk.

"Sekarang aku mengerti kenapa pengamanan di ruangan ini sangat ketat." gumam Reo. "Tetapi, kenapa disembunyikan di sini? Kenapa bukan di ruang bawah tanah seperti dulu?"

"Kami sepakat untuk tidak menyembunyikannya di ruang bawah tanah karena itu adalah tempat pertama yang akan Dark Sabrie selidiki kalau mereka berhasil menyusup ke sini." Ada menjelaskan.

"Lagipula, ini adalah ruangan yang paling aman di sini!" timpal seseorang. Reo kembali menyadari kalau dirinya dan Ada, sekali lagi, tidak sendirian di ruangan.

Dari balik meja, tidak terlihat dari tempat Reo dan Ada berada, seseorang muncul. Rambut keperakan pendeknya tampak berantakan sementara kedua mata kelabunya kini terlihat sedikit merah. Gadis itu menunjuk ke arah salah satu ubin beberapa langkah di kanan Ada, "Omong-omong, jangan melangkah di atas sana! Aku nyaris mati tertusuk ketika aku mau duduk di sana!"

"Oh, halo Zwei!" sapa Ada ketika dia melihat gadis itu muncul. "Pantas saja aku tidak menemukanmu di mana-mana sejak pagi, rupanya kau ada di sini!"

"Kau mencari-cariku?" Zwei mengangkat sebelah alisnya. "Well, maaf karena telah membuatmu mencari! Aku hanya ingin mencari tempat yang tenang!"

"Tidap apa-apa, kok!" kata Ada santai.

"Apa yang terjadi selama aku berada di sini?" tanya Zwei tanpa emosi.

"Tidak banyak. Oz, Elliot, Alice, Will dan Ann melakukan rapat strategi pagi tadi dan aku membiarkan Reo keluar dari kamarnya sekitar setengah jam yang lalu." jawab yang ditanya.

"Pantas saja dia ada di sini…" gumam Zwei. "Mumpung kau ada di sini, mungkin aku harus mengembalikan sesuatu."

"Mengembalikan apa?" tanya Reo.

Zwei berjalan mendekati mereka berdua. Dia menyodorkan tangan kanannya yang tampak sedang memegang sesuatu kepada Reo.

"Ini! Echo menemukannya ketika kau diculik oleh Dark Sabrie. Sedikit rusak sih, tapi aku rasa masih bisa diperbaiki! Lagipula, sebenarnya kau tidak minus, kan?" kata Zwei.

Dia membuka kepalan telapak tangannya, menampakkan objek yang sedang dibicarakannya. Di sana, di atas telapak tangan Zwei, kacamata Reo berada.

"Kacamataku!" pekik Reo girang ketika dia melihat kacamata kesayangannya. Dia menyambar benda itu dari tangan Zwei dan segera memakainya. Kedua lensa kacamata itu sudah retak karena terjatuh, tetapi Reo tidak memedulikannya. Dia bisa memperbaikinya nanti.

"Terima kasih, Zwei!"

"Jangan berterima kasih kepadaku! Echo yang menemukan kacamatamu, bukan aku!"

"Kalau begitu, sampaikan terima kasihku kepada Echo, ya?" kata Reo sambil tersenyum lebar. Zwei mengangguk pelan.

"Uh, Reo?" Ada menepuk pundak Reo dengan perlahan. Dia melirik Zwei, yang tampak sedang tidak ingin diganggu. "Kurasa kita harus segera pergi!"

"Eh?" Reo melirik ke arah Zwei dan segera mengerti alasan ketergesaan Ada. "Kalau begitu, ayo! Terima kasih karena telah mengembalikan kacamataku, Zwei!"

Zwei tidak membalas perkataan Reo dan hanya menyaksikan dalam diam ketika Reo dan Ada cepat-cepat merangkak keluar dari ruangan itu. Ketika Reo hendak menutup pintu, barulah dia memanggilnya.

"Reo?"

Pintu sudah setengah tertutup ketika Reo berhasil menghentikannya. Dia kembali membuka pintu itu dan berkata, "Ya, Zwei?"

Zwei tersenyum kecil, "Sekedar informasi saja, tetapi Echo sangat mengkhawatirkanmu ketika kau hilang! Kurasa kau perlu tahu itu!"

.

Elliot menyipitkan kedua matanya ketika dia berusaha membaca berlembar-lembar skor musik yang berada di hadapannya. Skor-skor ini berbeda dengan skor yang biasanya dibacanya sehingga dia harus berkonsentrasi penuh.

"Ini C, kemudian D minor, kemudian…" gumamnya sementara dia mencoba memainkan not-not yang tertulis di sana.

Sayangnya, konsentrasinya terpecah oleh suara-suara dari balik pintu.

"Kau yakin tidak ada jebakan apapun di ruangan ini?"

"Aku yakin seyakin-yakinnya! Ayolah, jangan jadi pengecut seperti itu!"

"Halo? Aku hampir saja terpotong menjadi dua tadi!"

"Salah sendiri kau terburu-buru tadi! Seharusnya kau lebih berhati-hati!"

"Sekarang aku sudah berhati-hati dan kau malah mengataiku pengecut!"

Elliot mengerutkan keningnya ketika dia mendengar percakapan, atau pertengkaran, itu. Dengan kesal, dia berteriak, "Kalau kalian berdua mau masuk, masuklah! Kalau tidak, jangan ganggu aku! Jangan bertengkar di depan pintu seperti anak kecil!"

Kedua suara itu langsung terdiam begitu mereka mendengar teriakan Elliot. Dengan malu-malu, mereka membuka pintu dan melangkah masuk.

"Halo, Elliot!" sapa Ada. "Aku membawa teman!"

"Aku tahu!" Elliot memutar kedua bola matanya. "Suara kalian tadi bisa membangunkan orang mati! Dan, demi Tuhan! Reo! Apa sih yang kau pakai di wajahmu itu?"

"Eh?" Reo menyentuh kacamatanya, "Kacamataku tentu saja! Memangnya kenapa?"

"Jujur saja, aku kagum kau bisa melihat melalui benda itu! Kusarankan kau melepas benda itu kalau kau tidak mau kelihatan seperti orang aneh! Omong-omong, kenapa kau ada di sini? Bukannya kau harus istirahat di kamar?"

"Aku… kabur?" kata Reo ragu-ragu.

"Sebenarnya, aku yang memberinya kesempatan untuk kabur!" kata Ada mengakui.

Elliot menghela nafas ketika dia mendengar pengakuan kedua sahabatnya. "Oke! Jadi, apa yang akan kalian lakukan? Berdiri diam di sana seperti orang idiot?"

"Hey! Aku kan hanya mengajak Reo jalan-jalan!" protes Ada.

"Omong-omong, ini ruangan apa, ya?" tanya Reo ketika dia mengamati ruangan tempat mereka bertiga berada.

"Bukannya sudah jelas? Ini ruang musik!" jawab Elliot.

Elliot benar, ruangan tempat mereka berada memang ruang musik. Dinding ruangan itu dilapisi oleh busa tebal berwarna krem untuk meredam gema sementara selembar karpet berwarna biru tua dihamparkan menutupi lantai. Satu set drum diletakkan di sudut ruangan sementara beberapa jenis gitar disandarkan di dinding di sebelahnya. Beberapa kotak saksofon dan biola, Reo melihat kotak biola Elliot berada di antara mereka, disusun dengan rapi di sudut yang lain. Sebuah rak yang penuh berisi buku skor berada di samping kotak-kotak itu. Dan di tengah ruangan, berdiri dengan megah, terdapat sebuah…

Reo melepaskan kacamatanya dan menggosok kedua matanya berulang kali. "Matakukah yang salah atau itu memang sebuah grand piano?"

"Memang! Gila, kan? Aku juga kaget ketika melihatnya pertama kali. Aku tidak berani membayangkan berapa harganya!" Elliot menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mafia juga senang bermain musik rupanya!"

"Dan, apa yang sedang kau lakukan dengan piano itu?"

"Mencoba memainkannya, tentu saja!"jawab Elliot yang sedang duduk di kursi piano itu dengan santai sebelum kembali menekan tuts-tuts piano.

"Kau mencoba memainkannya?"tanya Reo dengan nada terperanjat.

"Yup! Dari dulu aku ingin mencoba memainkannya piano!" Elliot mengetuk-ngetukkan jarinya di atas kertas-kertas di depannya. "Masalahnya, aku tidak terlalu bisa membaca skor-skor ini! Bisa bantu aku?"

"Baiklah kalau kau memintanya." Reo menghela nafas dan melangkah ke arah Elliot.

"Aku duduk di sini saja!" kata Ada. Gadis itu mendudukkan dirinya di sebuah kursi empuk yang berada di sana. Menopang dagunya dengan tangan kanannya, dia memperhatikan kedua sahabatnya berdiskusi. Suara dentingan piano kadang meningkahi diskusi mereka.

"Ini kunci E, bukan G! Kunci biola dan piano itu berbeda!"

"Itu yang membuatku bingung!"

"Baiklah, aku bermain dengan tangan kiri, kau bermain dengan tangan kanan. Bagaimana?"

"Setuju!"

Ada memejamkan matanya ketika nada-nada yang dimainkan Reo dan Elliot memenuhi ruangan itu. Walaupun permainan mereka sedikit kacau di sana dan di sini karena mereka baru pertama kali memainkan instrumen itu, Ada tetap bisa menangkap keindahan musik itu.

"Apa judulnya?" tanya Ada tanpa membuka kedua matanya.

"Huh?" Elliot dan Reo menghentikan permainan mereka dan menatap Ada.

"Potongan yang baru saja kalian mainkan, apa judulnya?" tanya Ada lagi.

"Hm, sebentar!" kata Elliot. Dia melirik skor-skor yang berada di depannya untuk mencari judulnya, "Statice! Ya, judulnya Statice!"

Ada mengangguk dan berkata, "Oke! Kalau begitu, teruskan!"

"Memangnya kau apa? Guru kami?" kata Eliot sebal. Bagaimanapun juga, dia dan Reo tetap melanjutkan permainan mereka.

"Statice, ya?" gumam Ada, "Nama yang bagus!"

Dia membuka kedua matanya dan berbisik, "Aku harap suasana damai ini bisa berlangsung selamanya..."

End of Arc 4

TBC

A/N:

Aoife: *Yandere mode* Giiiillll! Reeeoooo! Sini, dooooong!

Ada: *sweatdrop* Gomennasai, minna-sama! Aoife keluar sisi yanderenya karena chapter 74!

Elliot: Untung aku udah mati jadi gak kena troll lagi sama Mochizuki-sama!

Ada: Question of the chapter: Siapa di antara kedua orang yang sedang Aoife kajar sekarang yang akan menyegel Kotak Pandora?

Elliot: Silahkan jawab di kotak review beserta kritik dan saran dri anda!

Ada & Elliot: See you in the next arc! And, Happy Holiday!