.

.

.

- Priview chap

Cupp!

Clap! clap! clap!

"Emhh...Yeolhh, balas ciumanku" ujar Baekhyun disela lumtannya pada bibir bawah Chanyeol. Chanyeol tidak begitu mendengarnya, dia hanya sibuk untuk menetralkan jantungnya saat ini karena... Baekhyun menciumnya!

Plop!

Merasa tidak digubris oleh Chanyeol, Baekhyun melepas ciuman menggairahkannya.

"Cium aku, Chanyeol"

Deg!

Chanyeol menatap namja imut itu tidak percaya.

"Baekhyun, kau... aneh"

.

.

.

Chapter 20 - I Just Wan't You to Stay (part 2)

Rec song : EXO - Universe

Lim Seul Ong ft Joy - Always In My Heart

.

.

.

"A-apa?"

Setelah keheningan beberapa detik berlalu hanya kata itu yang dapat diucapkan Baekhyun.

"Kau aneh..." Chanyeol mengulangi ucapannya,

"Aku hanya ingin kau menciumku, tidak ada maksud lain. Jangan salah paham..."

"Ya, aku tau. Kau bernafsu." ujar Chanyeol sambil terkekeh.

"tidak juga." balas Baekhyun cepat dengan rona menghiasi pipi tirusnya. Chanyeol tersenyum miring.

"aku sedikit merasa aneh padamu... Kau tidak bisa ditebak, terkadang kau mengindar. Tapi kau juga bisa agresif, aku tidak mengerti." Ujar Chanyeol membuat Baekhyun memerah entah kenapa.

"Maksudmu?"

"Kau susah ditebak, Baek. Aku hanya tidak mengerti. Kau bertindak semaumu." Baekhyun terpaku akan apa yang Chanyeol ucapkan barusan. Matanya berkaca -kaca.

"...tetapi aku menyukainya. Ayo lakukan la—"

"Maaf, aku sudah tidak mood." Baekhyun mundur, namun Chanyeol bergerak maju.

"Kau bercanda?" sambungnya membuat Baekhyun mengrenyit.

"Maaf, aku tadi sedang tidak enak badan.. Aku akan kekamar, permisi" Baekhyun menunduk dan memainkan jarinya, berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Chanyeol mengikutinya dari belakang.

"Apa yang kulakukan, astaga. Demi tuhan aku sangat malu." umpatnya dalam pelan hingga tidak terlalu memperhatikan jalan didepannya dan...

Ckitt~

"ahh!"

"Baek!" Chanyeol dengan sigap menangkap Baekhyun yang hampir saja terlepeset kebelakang. Untung saja ada Chanyeol lagi dan lagi. Jika tidak, pasti meraka akan... ah sudahlah pikir Baekhyun malas.

Meski posisi mereka saat ini masih dalam keadaan yang cukup mendebarkan, Chanyeol yang menopang tubuh Baekhyun yang hampir saja kehilangan keseimbangannya dan dalam posisi ini Baekhyun bisa melihat bahwa Chanyeol tidak mengurus dirinya dengan baik. Matanya kembali berkaca saat melihat kantung mata Chanyeol yang terlihat jelas mengganggu pahatan sempurna wajah kekasihnya itu. Rambutnya sedikit memanjang dan wajahnya yang pucat, matanya tersirat kelelahan yang amat sangat. Tapi ia bahkan tidak mengeluhkan bagaimana letihnya ia menjaga Baekhyun selama ini.

Chanyeol tersenyum lembut.

Ia tahu makna dari tatapan Baekhyun walau dia tidak berkata apapun.

"Kenapa kau seperti ini, Yeol?" Tanya Baekhyun dengan tangan kiri refleks menyentuh wajah Chanyeol. "Kau menyiksa dirimu."

Chanyeol tidak menyahut dan hanya menatapnya dalam diam. Ia sungguh merindukan Baekhyun dan Baekhyun pun demikian namun ego adalah satu hal yang pasti menguasai lelaki manis berzodiak taurus itu. Chanyeol tidak menjawab opini Baekhyun tentangnya, ia hanya menyunggingkan senyum yang membuat Baekhyun bergemuruh.

Lama tertegun dalam lamunannya Baekhyun segera tersadar dan menarik tangannya pada wajah Chanyeol dan segera menarik dirinya dari rengkuhan hangat itu.

Namja manis itu mengalihkan perhatiannya kesegala arah agar tidak jatuh kepada pandangan Chanyeol. Chanyeol tetap mempertahankan senyumnya.

"Kenapa kau tidak menjawabku? Kau bahkan lebih membingungkan."

"Satu hal yang perlu kau tahu, Baek. Aku tersiksa karena rasa cintaku yang terlalu besar serta rasa takut kehilanganmu lengkap dengan penyesalan atas perilaku burukku dimasa lalu saat aku memperlakukanmu. Jika kau tidak kembali maka kau akan membunuhku secara perlahan, dengan semua rasa sakit dan cemas ini."

Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dan menaruhnya pada dadanya. "Rasa itu selalu hidup disini. Kau yang menanam semuanya dan sekarang kau menuai kebaikan itu karena aku telah mencintaimu."

Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan . Dua obsidian bening bertemu menggetarkan perasaan aneh didada masing masing. Tatapan intens saling menelanjangi seolah mengintimidasi satu sama lain agar dapat mendorong jauh hingga mereka jatuh tersimpuh. Mengemis untuk cinta yang masih sama namun semua telah berubah.

Saling mengabaikan adalah hal yang menyakitkan namun harus diterima dengan memahami kenyataan pahit hingga menolak sugesti buruk yang merusak instuisi mereka. Chanyeol dan Baekhyun sangat sakit namun mereka tidak dapat mengobati luka itu. Perihal kembali bukanlah hal yang mudah karena apapun yang tepah rusak saat kembali diperbaiki maka semuanya tetap tidak akan sama lagi.

"Sesuatu menghalangi kita. Bahkan saat kau meninggalkanku pergi kealam sana, aku merasa bahwa ruhku tidak lagi menapak dibumi tapi ia pergi mencarimu." Chanyeol berujar sambil mendekat hingga Baekhyun merasa punggungnya menyentuh sesuatu dan ia terhimpit diantaranya dan tubuh besar Chanyeol.

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Chanyeol ah. " Ujar Baekhyun kemudian mendapatkan tatapan sendu dari Chanyeol.

"Apa kau tahu? Saat kau pergi aku selalu tenggelam dalam pikiranku tentangmu dan aku mengitari alam semesta untuk mencarimu. Tapi kau tak ada. "

Baekhyun tetap diam dengan kedua bola mata berair. Dia bahkan tidak menyangka Chanyeol bisa seperti ini terlebih padanya. Si siswa miskin yang tidak punya apa apa bahkan sekarang tidak mempunyai rumah. Baekhyun bingung harus bereaksi seperti apa ataukah ia harus meminta maaf atau harus mengabaikan. Ia hanya tidak mau menyakiti hati orang lain karena menginkari janjinya dengan orang tersebut untuk menjauhi Chanyeol.

"Aku hanya merasa bahwa kau menganggapku fatishmu." Chanyeol tertegun beberapa saat.

"Bagaimana kau bisa berpikiran begitu? Aku tidak pernah mencintai orang sedalam ini kecuali pada diriku sendiri bahkan jika aku hanya mempermainkanmu maka yang kulakukan adalah ber—"

"Tapi berselingkuh? Apa kau melupakan itu? "

"Aku tidak berniat serius, hanya ingin membuatmu cemburu saja seperti halnya kau pergi bersama Luhan dan mengabaikan perasaanku. "

"Dia memaksaku, Chanyeol. Berbeda denganmu yang, ah entahlah. " Baekhyun merasa ia sangat lelah untuk berdebat. Ia pikir disini Chanyeol lah yang salah bukan dirinya dan Chanyeol juga masih menyalahkan Baekhyun atas kejadian lalu ia berada dikendaraan pribadi bersama Luhan untuk pergi kesekolah bersama. Sama sama ber-ego tinggi.

"Aku tidak bermaksud lain, Baek. Sungguh." Baekhyun ingin melangkahkan kakinya kembali namun segera ia urungkan karena Chanyeol yang mengerang. Ia kembali berbalik dan segera mendapatkan serbuan sebuah pelukan posesif.

"Aku mencintaimu, Baekhyun. Sungguh. Aku akan ikut bersamamu saat kau memilih menghadap tuhan dan memulai kehidupan baru disurga. Tanpamu aku tak bisa, aku rapuh." Dan seketika itu pertahanan Park Chanyeol runtuh. Ia menangis tersedu sedu dihadapan Baekhyun.

Baekhyun merasa seperti ribuan jarum menusuk hatinya saat melihat apa yang ada dihadapan matanya. Ia tidak tahu harus bagaimana namun beberapa detik kemudian ia ikut menangis bersama. Ia memeluk Chanyeol tak kalah erat dan menenggelamkan wajahnya pada dada hangat Chanyeol. Mereka berpelukan dalam hening malam diiringi tangis sendu hingga pagi menyapa mereka enggan melepaskan pelukan dan berbagi kehangatan pelukan yang lama masing masing sangat mereka rindukan. Mengabaikan ego Byun Baekhyun, mengenyampingkan harga diri Park Chanyeol yang menangis sesegukan untuk yang pertama kalinya seumur hidupnya dan itu semua karena Byun Baekhyun. Orang yang dahulu sangat ia benci namun sangat ia inginkan sekarang.

.

"Apa kau berkenan jika aku membuatkanmu surat izin sekolah hingga kau benar benar pulih?" Pagi diiringi dengan rintihan Baekhyun yang mengeluh lehernya sakit dan Park Chanyeol yang menawarinya sebuah pertolongan.

"Tidak perlu, terima kasih."

Mendengar jawaban Baekhyun yang dingin membuat Chanyeol yang sedang memunggunginya merubah posisi menjadi menghadapnya hingga akhirnya kedua mata mereka bertemu.

"Aku akan sehat dalam waktu dekat."

"kau terlalu tergesa." ujar Chanyeol kemudian dengan cepat Baekhyun menyahut dengan jutek lalu memunggungi Chanyeol.

"Aku anggap itu sebagai sebuah pujian." lalu ia kembali melanjutkan jalannya menuju kamar ngomong ngomong mereka dari dapur—tepatnya Baekhyun dan Chanyeol terus saja mengikutinya, dan Baekhyun merasa risih akan itu.

Hingga pada akhirnya mereka sampai pada depan pintu ruangan yang Baekhyun tuju. setelah membuka pintu kamarnya, Baekhyun berbalik menghadap Chanyeol dan dengan wajah sendunya Baekhyun berujar

"Yang Semalam itu hanya kesalahan... kumohon kau mengerti"

"Yang mana? Aku lupa"

Jawaban bodoh Chanyeol membuat Baekhyun mendongak. Tatapan bodoh Chanyeol justru membuat Baekhyun bersemu dalam diam.

"Yang itu..."

"Maksudmu saat kau menciumku dan menangis bersama lu berakhir diranjang yang sana dalam posisi saling berpelukan?"

Blush

"N-ne"

"Tidak apa. Kau ulangi untuk yang kedua kali juga tidak apa -apa" ujar Chanyeol bodoh membuat mata Baekhyun melebar dengan lucunya.

"Jadi mau dimulai dari mana?" Smirk Chanyeol nyatanya berhasil membuat detak jantungnya meningkat dengan sangat cepatnya.

Selamat Park, kau berhasil membuat Byun Baekhyun memerah padam. Haha namja ini memang benar - benar.

"A-aku...mpfffth yeol..."

Plop plop plop

Clap!

Hanya 3 lumatan saja, dan Chanyeol segera melepaskannya. Namun hal itu berhasil membuat Baekhyun sport jantung dan kesal akan perlakuan namja tinggi itu—senang tiada tara sebenarnya- juga berhasil membuat Jung Ajuhmma yang lewat disana menjadi salah tingkah entah kenapa, Chanyeol yang melihat Jung Ajuhmma disamping sana membuatnya menoleh masih dengan posisi mendebarkan dan sebelah tangannya yang masih menempel di pipi Baekhyun dan sebelahnya memegang gagang pintu. Keduanya menoleh secara bersamaan dengan ekspresi berbeda. Jika Chanyeol terlihat santai, berbeda dengan Baekhyun yang terlihat malu bukan main.

"Ah, maafkan ajuhmma. Ajuhmma tidak sengaja melihatnya"

"Tidak apa ajuhmma." balas Chanyeol santai membuat Baekhyun ingin sekali rasanya menjitak kepala orang yang tidak tahu malu itu.

"Ahh.. haha iya baiklah. Kalau begitu ajuhmma akan kedapur. "

- Kitchen

"Tuan Baekhyun? Itu tuan Baekhyun kan? Bukannya dia..."

"Ada apa dengan Baekhyun, ajuhmma?" Suara itu seketika membuat Jung ajuhmma terkejut dan hampir saja menjatuhkan apronnya. Disana ada Hyomin dengan sebuah apel ditangannya dengan bersandar pada sisi counter dapur. Jung ajuhmma terlihat kebingungan ingin menjawab apa hingga akhirnya ia memilih pamit dan pergi menuju taman untuk kembali berargumentasi dengan dirinya sendiri akan apa yang baru saja ia lihat .

"Tidak mungkin Chanyeollie mencium mayat, kan? bahkan tadi ia bergerak." Jung ajuhmma bingung harus bagaimana ia tidak mau ada lagi pertengkaran dirumah ini yang menyangkut ketidaksukaan Victoria akan Baekhyun.

"Apa harus menyembunyikan tuan Baekhyun?" Disisi lain ia tidak ingin Baekhyun disakiti karena nasib anak itu begitu malang namun juga ia lebih tidak ingin melihat anak majikannya menjadi pria yang depresi seperti halnya kemarin.

Dilemma menghinggapinya. Hingga Jung ajuhmma tenggelam dalam pikirannya yang berencana untuk menyembunyikan Baekhyun agar tidak diketahui sang nyonya besar karena Victoria bisa saja membunuh orang tersebut jika dia tidak menyukainya dan sifat tersebutlah yang menurun pada sang anak lelaki, Park Chanyeol. Hanya Hyomin yang tidak seperti mereka. Dia cenderung hanya memperhatikan dan tidak terlalu mau ikut campur, tidak keras kepala, tidak juga suka berkomentar tentang kondisi keluarganya dan hanya berbicara seadanya kecuali pada Chanyeol dan Jung ajuhmma.

.

.

.

Baekhyun yang meninggalkan Chanyeol menuju kamarnya dan menguncinya membuat Chanyeol berpikir kritis untuk melakukan berbagai cara untuk membuat Baekhyun tidak lagi menghindarinya. Andai Chanyeol mengerti bahwa saat ini yang Baekhyun butuhkan bukanlah kasih sayang, pujian, rayuan dan kata penenang lainnya. Yang ia butuhkan hanyalah ketenangan untuk dirinya sendiri. Karena jika dirinya telah tenang pasti ia akan kembali dalam mood baik artinya ia tidak akan mengabaikan Chanyeol.

Namun tak lama kemudian kenop terputar dan pintu terbuka membuat Baekhyun mematung. Lalu sedetik kemudian Chanyeol tersenyum miring. Senyuman tampan namun memiliki arti tersirat.

Toh bagaimanapun Baekhyun melarangnya untuk masuk, ia akan tetap masuk.

Bagaimana tidak? Ia punya kunci serapnya karena ini adalah rumahnya dan tentu saja semua yang ada disana berada dalam kendalinya

Chanyeol tertawa geli.

"Bee"

Panggil Chanyeol dengan suara beratnya. Panggilan itu.

Deg.

Jantung Baekhyun berdetak cepat, tak butuh waktu lama Chanyeol segera menghampiri Baekhyun dengan cepat.

"Apa maksudm—mmphhh" ucapan Baekhyun terputus akibat Chanyeol yang tiba- tiba membungkam bibirnya dengan bibir tebal Chanyeol yang menggairahkan. Merasa terbuai Baekhyun membalasnya. Cukup lama mereka melakukannya hingga akhirnya Chanyeol memutuskan pautan panas itu karena tidak ingin Baekhyun kehabisan oksigen.

"Apa kau mencoba bermain denganku?" keadaan tiba - tiba menjadi hening.

"A-aku..." Baekhyun kembali gagu untuk yang kesekian kalinya.

"Kembalilah..."

Menatap kearah mata redup Chanyeol lama. Ada kekosongan disana.

"Aku hanya membutuhkanmu, kau saja agar tetap bersamaku, Baekhyun-ah. Kumohon jangan tinggalkan aku sendiri."

"Tapi, Chan—" tiba -tiba ucapan Baekhyun terputus karena Chanyeol yang tiba -tiba menjauh dengan wajah yang memerah, ia membuang wajahnya dari Baekhyun. Menatap kebawah jendela.

"Aku hanya menginginkanmu, apa kau tidak mengerti, Hah?!"

"Tidak!"

"Apa susahnya bilang Iya, dan turuti keinginanku? Aku akan memberikan apapun yang kau mau"

"Itu semua tidak semudah perkataanmu, tuan muda Park yang terhormat." Lihatlah Baekhyun yang melawannya membuat emosi Chanyeol tersulut.

Brakk!

"Baek, kau..." Chanyeol mendekat dengan wajah memerahnya, dan pisau ditangannya. Baekhyun membola.

"Chanyeol! apa yang akan kau lakukan?!"

"Hngg... Kau pikir?" Chanyeol ber-smirk. Lebar. Baekhyun mundur dengan perlahan. Senyum penuh makna lain yang akhir akhir ini sering ia tunjukkan.

"Chanyeol-ah, jangan..."

"Wae?"

"Kumohon..."

"Hmm... Aku tidak bisa memilikimu karena kau tidak ingin kembali kepadaku, kalau begitu untuk apa kau hidup? Dan aku juga... untuk apa?"

"Apa maksudmu?"

"Mari saling membunuh"

Deg!

Sringg

"Aku berikan kau pisau, dua peluang untukmu. Sedangkan aku hanya satu yaitu belati ini." Chanyeol memberikan dua bilah pisau kepada Baekhyun, sedangkan dirinya hanya memegang sebilah benda kecil yang disebut belati. Ia tidak menyangka Chanyeol berubah menjadi seorang ambisius yang gila dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kembali apa yang ia mau. Bahkan ia tidak pernah berani untuk memikirkan tentang keburukan Chanyeol hingga akhirnya Chanyeol sendiri yang merubah pandangan Baekhyun akan dirinya.

Chanyeol tersenyum miring menatap Baekhyun, namja manis itu mundur beberapa langkah-kembali.

"Chanyeol...hikss. Kau gila"

"Apa katamu?"

"Hikss... Eomma"

Chanyeol memuncak. "Aku bisa saja menyetubuhimu, tapi untung saja aku tidak melakukannya. Jadi berterimakasihlah padaku. "

"Kau gila, Chanyeol. Aku benci dirimu yang seperti ini. Kau kembali seperti dulu, kau tidak berubah! " Chanyeol merasa emosinya sudah melampaui batas maksimal hingga ia kalap dan

"WAAA, BYUN BAEKHYUN!"

Cleb...

Tusukan belati pada bahu diiringi Chanyeol yang meraum seperti binatang buas. Park Chanyeol menggila.

"Ahh... Chanyeol-ah, kau..."

Brughh!

"..."

Chanyeol berjalan pelan mendekati cermin dan menatap pantulan dirinya dan Baekhyun yang tergeletak tak berdaya sambil meringis dengan simbahan darah segar. Belati belum dicabut dari sana. Dari tubuhnya. Baekhyun merasa tubuhnya serasa terbakar.

tik tik tik

Jarum jam seolah menyadarkan Chanyeol atas apa yang ia lakukan barusan. Ia mencoba membunuh Baekhyun. Ia jahat.

Chanyeol terdiam tak percaya. Ia menatap tangannya yang berlumuran darah, lalu menatap kembali dirinya dihadapan cermin besar dihadapannya. Juga tubuh tak berdaya Baekhyun disana.

Ia segera mendekati Baekhyun dan mencabut belati itu dari sana, dari bahunya. Baekhyun mengerang keras membuat Chanyeol menatapnya panik. Lalu mencoba memangku Baekhyun ke pahanya, namun Baekhyun sempat saja mendorongnya meski hanya pelan dan itu membuat Chanyeol terhenti dengan spontan. Itu berarti penolakan, benar?

"Baekhyun ah..."

"Channie..." Baekhyun berusaha merangkai kata demi katanya walau dengan susah payah. wajahnya memucat, matanya memerah. ia menatap Chanyeol dengan mata yang berkaca - kaca. seolah tidak percaya akan perbuatan yang Chanyeol lakukan padanya.

"Baek, maafkan aku... a-aku..."

"...k-kau ja-jahat...hhh" ujar Baekhyun sambil mengambil nafasnya dengan susah payah. karena yang Chanyeol tusukkan itu bukan main - main, itu adalah pisau belati kuno yang berkarat. Dan itu mengenai bahu kanannya. Biasanya luka dibahu lebih fatal dan lebih lama untuk sembuh karena tulang merupakan organ yang secara langsung mengalami masalah. Sama halnya pada tulang kering maka lukanya akan lama sembuh berbekas hitam dan tidak akan menghilang.

Chanyeol segera memangkunya. Ia tidak sadar bahwa ia melakukan hal itu. Dia benar -benar tidak menyadarinya. Air mata Chanyeol menetes deras saat melihat Baekhyun-nya yang tidak berdaya didalam pangkuannya.

"Baek, maafkan aku. Aku bodoh. Aku bodoh, Baekhyun. Aku tidak menyadarinya. Jangan tingggalkan aku."

"aku tidak akan meninggalkanmu, Chanyeol. Hanya saja kau bodoh." Baekhyun mencoba mecoba tetap tersenyum meski terlihat sangat susah akibat nyeri pada seluruh sendinya akibat tusukan yang cukup dalam itu. Begitupun ia masih menyempatkan meninju Chanyeol, Chanyeol menggenggam tangan dingin itu. Sebelah tangan kirinya meraih saku dan mengambil ponselnya lalu menelpon untuk mendapatkan pertolongan. Chanyeol akui ia lamban dan untuk itu ia mengutuk dirinya sendiri yang bodoh ini. Setelah selesai berbicara dengan tergesa pada pihak rumah sakit ia melempar ponselnya keatas ranjang lalu menjawab ucapan sebelum ia berbicara dengan pihak rumah sakit.

"Ya. Kau benar. aku bodoh, Baek. aku memang bodoh, maafkan aku sayang."

"Kenapa kita jadi seperti ini, hm?" Baekhyun menyeka air mata Chanyeol dan menyentuh pipinya, menghapus air mata Chanyeol namun air mata Chanyeol justru semakin mengalir dengan derasnya dan terjatuh dipipi Baekhyun, ia mengalir begitu saja terus menerus bagai rintik hujan.

"Semua akan baik baik saja. Tapi kau telah merusaknya, Chan."

Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol kuat saat ia merasa seluruh persendiannya nyeri luar biasa. Chanyeol merasa seperti ia dipukul oleh balok balok besar dan jarum jarum menusuk hatinya. Bagai tamparan keras membuatanya mutlak terdiam beku.

"ahh, Chanhh. sakitt"

"Baek-ah?"

"Bahuku nyeri dan ngilu, ini menyiksa!"

"Bertahanlah, Baek. Ambulance akan segera datang dan aku akan selalu berada sisampingmu. "

Baekhyun menggenggam erat jemari Chanyeol.

"aku mencintaimu, paboya. Jangan tinggalkan aku... hikss"

"Dan kau merusak segalanya, Chan. Kau merusaknya..." Itu adalah kalimat terakhir Baekhyun setelah kemudian tidak sadarkan diri dengan mengendurnya genggaman Baekhyun padanya. Chanyeol terdiam. Ia menepuk pipi Baekhyun pelan. Mata indah itu kini tertutup rapat, bibir ranumnya terkatup.

"Baek, jangan bercanda."

Namun tidak ada jawaban seterusnya. "Aku lebih mencintaimu, Baek. Sangat. Dan lagi lagi kau benar, aku merusak semuanya. Apapun yang berdekatan denganku pasti akan hancur. Aku tisak tahu kenapa, kumohon maafkanlah aku." Ternyata rasa cinta yang sangat dalam, rasa takut kehilangan, serta terlalu sikap kejam membuatnya menjadi gelap mata dan semuanya terjadi begitu cepat. Sekarang Chanyeol hanya bisa menyesalinya lagi dan lagi.

"Kau merusak semua nya, Chan. " Kalimat terakhir Baekhyun mengiang dikepala Chanyeol. Chanyeol menarik Baekhyun kedalam pelukannya tak peduli bajunya yang terkena darah Baekhyun. Ia meraung.

Kelak kau akan merasa sendiri betapa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang benar benar kau cintai terlebih kau melihatnya pergi didepan matamu sendiri.

Chanyeol teringat kalimat itu, kalimat yang pernah ia baca disebuah postingan instagram. Ternyata itu benar dan yang lebih menyakitkan ialah fakta bahwa Chanyeol sendiri yang menyebabkan hidup Baekhyun sensara.

"Ahh, Byun Baekhyun! Bangunlah! Ahh, Baek. Maafkan aku, aku bodoh ,ahh!" Chanyeol berteriak teriak seperti orang kesetanan. Ia terlihat menyedihkan.

"Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya, Baek. Aku akan mati juga, Baek."

Tidak ada respon apapun dari Baekhyun. Matanya terpejam erat dengan sisa air mata disudut matanya.

"Maafkan aku, bee. Maafkan aku. Seharusnya ini tidak terjadi."

"Aku melukaimu...lagi."

.

.

.

To Be Continued

A/N : halo semuanya saya baru bisa menyelesaikan chapter ini setelah pikiran saya plong maafkan saya karena menghilang begitu lama tapi hal yang pasti adalah fict ini tidak akan digantung, artinya pasti sampai end tapi saya bisa ga bisa janji untuk bakal selalu fast update tapi saya janji akan menyuguhkan semaksimal mungkin untuk kalian. Bagaimana chapter ini? Perasaannya terombang ambing(?) yaa wkwk jujur saja saya ga sanggup nulis yang menyesekkan kayak gini maunya tuh ChanBaek manis manis karna emang menis tapi ya sesuai genrenya ff ini hurt&comfort TT

Rasanya jadi pengen nulis ff yang fluff deh sekali kali wkwk

Oh iya sebenarnya chapter ini sudah saya post semalam dan yang udah liat juga lumayan banyak tapi saya hapus karna saya baca ulang ada lumayan banyak typos yang ganggu, karna saya nulisnya buru buru dan ga sempet ngecek ulang dan pas mau upload lagi jam 9 malam jaringan saya susah dan internet sama sekali ngga tersambung. Dan juga karna saya sudah kembali aktif nulis lagi saya juga ada publish fict baru cast nya chanbaek dong dan chapter ff lainnya juga udh bbrp saya lanjut seperti dirty blood, odd love story dan nantinya semua ff saya juga akan saya lanjut secara berurutan

Tungguin chapter selanjutnya dan jangan lupa riview ya biar fast updatenya dan semangat ngetiknya atuh wkwk

Sekian, salam

Love and peace