By : 21senpai 12

Disclaimer : Saya tidak memiliki apapun dari fict ini

Summary : Dia sudah lelah akan keberadaannya, segala cara telah dia lakukan untuk mendapatkan rasa damai itu. Tapi semuanya gagal, sekarang dia datang membawanya ke dunia baru dan bertemu mereka. Saat itu dia sadar bahwa akhir dari dunia itu adalah akhir darinya, tapi bagaimana dengan mereka?

Warning : AU, OOC, Typo, dan lain – lain, chara death (perhatian tokoh dalam fic ini dapat berubah wataknya seiring dengan kejadian yang dialami tokoh)

Pairing : issei x harem, Naruto x ?

….

.

.

.

.

.

.

.

Jadi dia pemain utamanya…

.

.

.

.

.

.

Mereka semua tediam. Menatap tidak percaya keturunan Sitri itu, seakan muncul kepala kedua di pundak gadis berkacamata itu.

Sona membuang mukanya dengan rona merah diwajahnya.

"Kami menghormatimu Kaichou, tapi…" Momo berdiri dan menepuk kedua pundak Sona. "Apa. Kau. Sudah. Gila?!" Lalu mengguncang Sona dengan setiap kata yang diucapnya.

Tsubasa berdiri dan memisahkan Sona dari Momo yang masih semangat mengguncang tubuh Heiress malang tersebut.

"Maaf Kaichou, tapi aku setuju dengan Momo. Dan lagi Naruto merupakan Nepihilim, bukan iblis. Kita tidak tahu apa Naruto dapat membuat kontrak dengan kita." Saji menatap Sona sebentar lalu beralih ke yang lainnya.

"Sebelum itu…" Suara halus Reya mengalihkan mereka pada gadis itu yang masih dipeluk oleh sang Knight lain Sona. "Apa Kaichou memiliki alasan melakukan hal itu?"

Sona mengangguk. "Ada beberapa."

"Aku pikir kita tidak boleh melakukannya." Mata Ruruko melayang cepat bergantian pada wajah teman – temannya, tanganya meremas roknya dengan gugup. "Aku merasa Sensei tidak berbohong."

"Itulah masalahnya. Kita juga tidak tahu apa dia berkata jujur." Dahi Rias mengkerut, lalu mendesah lelah. Rias adalah iblis lahiran murni. Berbohong dan menipu ada dalam darahnya. Namun, bahkan dengan semua itu ia masih tidak bisa mengetahui apakah Naruto berkata jujur atau tidak. Kemudian masuk sebuah pemikiran ke kepalanya. Apa benar Naruto sudah hidup selama itu? Dengan menggunakan semua waktunya untuk menyempurnakan aktingnya itu? Rias menggelengkan kepalanya, beralih pada Sona dengan wajah pasrah. "Apa yang ingin kau coba Sona?"

Melihat peeragenya juga ingin tahu, Sona membuka mulutnya. "Aku merasa Naruto sangat protektif pada kita, hampir posesif malahan," mengabaikan tatapan yang diberikan sahabatnya, Sona mencoba melanjutkan. Namun tubuhnya membeku, ingatan atas kejadian malam itu muncul di kepalanya, Untuk beberapa saat itu Sona tetunduk diam dengan pundak yang mulai bergetar. Sampai matanya bertemu dengan iris kuning Xenovia, Sona perlahan semakin tenang. Tsubaki menaikan alisnya melihat hal ini. "Xenovia…. Kau melihatnya 'kan?"

Xenovia meringis, tapi mengangkat kepalanya, memandang balik mereka semua. "Aku mengingatnya," matanya bertemu dengan iris ketakutan Sona. Xenovia memberikan senyuman kecil, Sona memalingkan wajahnya. "Aku tidak melihatnya, tapi aku merasakannya. Naruto menganggap kami kepunyaannya. Kita akan menggunakan itu untuk menguji kebenaran kata – kata Naruto."

Rias terlihat berpikir, Tsubaki akhirnya maju. "Itu saja? Tidak terlihat menyakinkan." Tungkas Fuku-Kaichou itu, alis terangkat pada mantan Exorcist itu.

Xenovia mengangkat bahu. "Kau punya ide lain?"

Rias menghela nafas, sukses menghentikan Tsubaki membalas perkataan Xenovia, yang berkemungkinan akan menyebabkan perdebatan lain. "Baiklah. Ayo kita coba idemu itu Sona. Apa kalian masih bisa melanjutkan?" Tanya Rias.

"Jika mengabaikan terguncang secara emosi dan mental? Ya, tentu saja." Jawab gadis berambut putih itu dengan tangan disilangkan, Xenovia tertawa.

"Bagus!" Rias menepuk tangannya. Senyuman ceria terpasang di bibir gadis itu. "Aku ingin memuaskan rasa penasaranku hari ini juga. Jika perlu aku akan meliburkan sekolah untuk hari ini."

"Kau bisa melakukannya!?"

Mereka semua mengabaikan teriakan Saji. Rias beralih pada peerage satu – satunya diruangan itu. "Koneko, cari dan bawa Naruto-sensei ke sini. Aku akan berbicara pada kepala sekolah." Koneko mengangguk dan sudah keluar ruangan. Sebelum membuka pintu Rias berhenti dan menoleh, memperhatikan Sona yang masih ditenangkan Xenovia dan Tsubaki.

Kepalanya tertenduk, sebelum akhirnya keluar.

.

.

Scene Change.

.

.

Tidak sampai satu jam setelah perbincangannya dengan Sekiryuutei, mereka sudah bisa menentukan secara akurat dimana Sacred Gear itu berada. Meski dengan cara begitu si merah itu memberikan bantuan, tapi Vali tidak mengeluh. Sekarang ini dia memerlukan semua bantuan yang bisa di dapatnya. Lefay sangat bergantung padanya saat ini.

Pemikiran keturunan Lucifer itu terhenti.

Baru kali ini ada orang yang benar – benar bergantung padanya. Biasanya mereka selalu bergantung padanya agar mendapat jalan mudah untuk tujuannya, namun kali ini, meski masih ada waktu, seakan – akan setiap detiknya yang terbuang, membuatnya merasa semakin dekat dengan kegagalan.

Tap

Vali menoleh, menatap wajah Kuroka. Terdapat ekspresi melankolis yang jarang di wajah kucing penggoda itu.

"Kita tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi nya, " Kuroka memberikan seringan nakal khasnya pada wajah terkejut Vali. Tangannya meremas perlahan pundak lelaki itu. "Tapi kita bisa memperbaikinya, satu langkah pasti perlahan."

"Cie, yang lagi kasmaran." Dan tentu saja, suasana itu hancur oleh Yokai monyet tertentu yang datang dibelakangnya. Kuroka melepas perlahan tangannya, mendelik mengerikan pada sang tersangka itu. Bikou mengangkat tangannya, menunjuk di belakang mereka.

Dari sana muncul seorang laki – laki berjaket hijau dengan kerah berbulu, mengenakan celana jeans berwarna biru. Posturnya malas, tapi sudah jelas siap jika ada serangan. Di sampingnya, tanpa aba – aba muncul seorang laki – laki berambut coklat mengenakan topeng spiral. Belum sempat mereka membuka mulut, laki – laki itu membuka topengnya dan menunjukan kalau itu adalah….. Isse.

Kuroka, Vali, dan Bikou berkedip. Laki – laki berjaket hijau itu mengerang. "Ugh, ini akan merepotkan."

"Kita semua sudah berkumpul. Ayo berangkat." Isse sudah berbalik dan mulai berjalan. Pria berjaket hijau itu mendesah dan berbalik menghadap mereka.

"Yo, aku Lubbock. Dan aku tidak senang bertemu dengan kalian." Ucapnya dengan senyuman malas di wajahnya. Kepala Lubbock terangkat, lalu berbalik menatap Isse yang berhenti setelah mendengar ucapannya. Tidak memperhatikan pada mereka, namun pada seseorang yang berjalan mendekati mereka.

"Wah, kalian sepertinya ingin pergi berpetualang…" Ucap sosok itu yang dari nada suaranya terdengar seperti seorang wanita. Wanita itu terus mendekat, sampai lampu jalan menyinari wajah tersenyum wanita itu pada mereka. "… Boleh aku ikut?"

Satu alis Isse terangkat. Sedangkan Lubbock meloncat ke belakang, memasang posisi bertarung – tidak, bertahan pada wanita itu. Tangannya mengkilat, memperlihatkan benang tak kasat mata disana sesaat pada tim Vali.

"Charlotte.." Gumam Lubbock, jelas mengenal wanita itu. Di depan mereka yang sudah siap menyerang, wanita itu tetap tenang, tidak memberikan maksud apapun pada mereka. Namun, tetap saja alarm bahaya berbunyi nyaring di kepala Vali.

Wanita itu berdiri tegak, lalu hormat dua jari dengan seringai diwajahnya. "Charlotte D. Stensel, mantan kapten Divisi enam pasukan Valkyre siap melayanimu!"

"Apa tujuanmu?" Mereka semua tersentak menatap inang dari Kaisar Naga Merah. Isse berbalik dan menatap wanita itu, seperti biasa wajahnya tidak menunjukan apapun. Tidak terganggu dengan informasi itu.

Charlote mendesah, memutar bahunya. "Yah, perjalanan kalian itu bukanlah perjalanan yang mudah. Dan sebagai sesama petualang aku ingin ikut dan sedikit membantu tentu sa – "

"Apa tujuanmu?" Potong Isse sekali lagi, nada suaranya tidak berubah, tapi mereka bisa merasakan ketajaman yang ada disana.

Mereka berdua saling beradu pandang, sebuah komunikasi yang tidak dapat diketahui Vali tengah terjadi di depannya. Untuk sesaat senyuman Charlotte terjatuh, namun kembali dalam saat itu juga. Seringaian wanita itu mengarah pada mereka. Vali mungkin tidak melihatnya, tapi Jari Lubbock berkedut, Pengangan Bikou pada tongkatnya mengerat, dan ototnya sendiri menengang.

"Seppiroth Graal." Charlotte masih tidak melepas pandangannya pada tim Kaisar Naga putih tersebut. "Aku ingin Sacred Gear itu."

Mereka semua menyipitkan matanya mendengar hal itu. Kecuali Isse yang memandang Charlotte dengan ekspresi yang alien di wajahnya.

"Kami tidak akan memberikannya." Kuroka mendesis. Bahkan tidak memakai aksen yang biasa dipakainya. Menandakan kalau wanita itu benar – benar serius dengan perkatannya. Nyoi – Bo menurun sedikit, tepat menunjuk pada wanita itu.

Charlotte tertawa kecil. "TIdak, tidak. Aku tidak menginginkannya sekarang, melihat bagaimana kalian sangat membutuhkannya. Aku akan mengambilnya setelah kalian selesai menggunakannya, bagaimana?"

Iris pupil Kuroka menjadi vertikal, geraman keluar dari tenggorokannya, siap menerjang wanita berambut pirang itu. Vali bergerak cepat menahan Nekoshou itu. Ia lalu beralih pada Charlotte. "Baiklah." Melihat tatapan yang diberikan teman – temannya, Vali menjawab. "Lefay tidak punya banyak waktu."

Untuk beberapa lama Kuroka mempertahankan posisinya menatap Vali, sampai akhirnya dia mengangguk dan menurut. Namun tidak menghentikannya mendelik tajam pada wanita berambut pirang itu.

"Ayo pergi." Ucap Isse, dengan Lubbock yang mengerang mengikutinya.

"Oh! Oh! Biar aku membantu!" Ucap Charlotte lalu menghenjentikkan jarinya. Seketika saja muncul lingkaran sihir dengan lambang mitologi nordik berwarna biru pucat di bawah mereka. Hal ini membuktikan pengakuan perempuan itu.

Belum sempat bereaksi apapun mengetahui hal itu, cahaya terang menelan mereka.

Dan setelah cahaya itu meredup, mereka semua telah hilang dari tempat itu.

.

Scene Change.

.

Seorang perempuan tengah duduk di singgasanannya dengan seorang laki – laki berlutut diam di depannya. Ruangan megah dengan pilar – pilar besar itu benar – benar sunyi, senyap dari semua suara.

Perempuan itu mengangkat matanya, menatap pintu ganda besar yang ada di depannya, dengan tenang memandang pintu itu dari singgasanannya. Sampai akhirnya ketenangan ruangan itu berakhir dengan dentuman keras kedua pintu itu di dobrak dari luar.

"OPHIS!"

Perempuan itu tidak berkedip.

"Jika kau kira kau bisa memanggilku begitu saja seperti peliharaanmu lainnya.." Pria itu menggeram, aura mengerikan keluar dari dalam tubuhnya. Membuat ruangan megah itu bergetar dan mengeluarkan suara retakan. "Maka kau salah besar." Geramnya.

Seakan tidak merasakan aura menyesakan itu Ophis menunjuk pria itu dan muncul lingkaran sihir kecil yang mengeluarkan selembar foto di depan pria itu. Menangkap foto itu, pria itu memandang bingung foto itu, kemarahannya terlupakan sesaat, alisnya saling bertautan.

"Oph – "

"Lakukan. Dan, jangan kuatir."

Ucapannya simpel, datar, dan mutlak. Rahang pria itu mengeras, matanya mendelik, namun akhirnya berbalik.

"Ayo."

Dengan menggertakkan giginya, pria itu pergi besama lelaki yang ikut datang bersamanya tadi.

Ophis tidak menoleh. Lingkaran sihir yang sama mengeluarkan foto lain di depan laki – laki yang masih tertunduk di depannya.

"Akan kulakukan."

Tanpa kata lain, laki – laki itu mengambil foto itu lalu berdiri dan menghilang dari sana. Meninggalkan Ophis di ruangan megah itu sendirian.

Disaat dia sendirian itu ada sesuatu yang berubah. Senyuman yang sangat 'salah' muncul di bibir Ophis. Senyuman yang menggoda, berbahaya, dan membuat merinding yang melihatnya.

Rejoice! For Your Queen is here!

Ophis menyilangkan kakinya, seringaiannya semakin lebar. Seruan itu tidak nyaring, malah seperti bisikan. Seperti angin sepoi yang bertiup di belakang telingamu. Dirasakan tapi di abaikan.

"Sepertinya aku harus menunda rencanaku…" Ophis menatap jendela besar yang ada disampingnnya, bersenandung kecil pada sebuah lagu yang hanya bisa di dengarnya.

"TIdak masalah, aku sudah pernah menunggu lebih lama…."

Ophis terkikik.

"Jadi.."

….

….

….

….

"Sudah yang ke berapa sekarang..?"

.

Scene Change.

.

Lokasi: Kuoh Akademi

Waktu: Tidak Diketahui.

Mereka semua berjalan.

Koridor disekitar mereka terasa aneh dan tanpa akhir. Langkah kaki mereka menggema tidak hanya di koridor itu, tapi juga di pikiran mereka.

Diluar sana begitu terang dan hangat, membuat kegelapan di dalam sana seakan bergerak, iri terhadap cahaya itu.

Setelah seakan sudah sangat lama, mereka akhirnya kembali tiba di ruang Osis. Pintu ganda itu seakan seperti sebuah segel yang mencegah yang di dalamnya keluar. Sona dan Rias bertukar pandang sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

'Ini dia…'

Pintu itu terbuka dan Naruto sudah ada di dalamnya, duduk menunggu mereka dengan seteko teh hangat di depannya. Naruto mengangkat kepalanya, dan menatap mereka.

Tanpa mereka sadari, mereka sudah ada di dalam, suara pintu ditutup di belakang mereka yang membuat mereka sadar akan hal itu. Terkejut tapi tidak teralihkan, mereka mulai duduk di tempat sebelumnya. Masih terdiam, dan memilih untuk memperhatikan pemuda itu lebih seksama.

Entah mengapa, Sona merasa kalau Naruto tahu apa yang mereka rencanakan.

Wajah itu mulai Familiar.

"Sebelum kalian membuat keputusan yang akan kalian sesalkan, kenapa kalian tidak dengarkan dulu cerita Sensei sampai selesai?"

Itu dia. Mereka juga tidak terkejut akan hal itu.

Mereka tidak menjawab, dan Naruto memulai ceritanya.

"Ah, dimana Sensei tadi….. Oh, iya. Sensei lahir pada 10 Oktober sebagai anak pertama dari Yondaime Hokage Konohagakure No Sato Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki. Hokage merupakan panggilan sebagai pemimpin dari sebuah desa di kampung halaman Sensei." Naruto berhenti, melihat para muridnya masih memperhatikan lalu melanjutkan. "Yah, sebagai anak dari seorang pemimpin desa, Sensei memang diharapkan sesuatu. Tapi, tidak, cerita ini dimulai saat adik perempuan Sensei lahir, tepat 10 oktober juga." Naruto tidak berkedip dan seluruh ruangan itu berubah menjadi tengah hutan. Momo meloncat dari tempat duduknya dan menengok keatas.

Teror, mereka semua membeku karena terror pada apa yang di depan mereka. Bulunya merah, cakar – cakar yang dapat membelah orang hanya sekali tebas, pupil vertical yang dipenuhi kebencian dan kemarahan seakan menatap langsung ke jiwa mereka. Yang terakhir ekornya, Sembilan ekor melambai – lambai seakan hidup di belakangnnya.

Seekor Rubah.

Rubah berekor Sembilan.

"K-kyuubi…"

Naruto mengangguk dan tidak berjengit saat Kyuubi mengeluarkan auman yang sangat nyaring yang membuat Sona dan yang lainnya menutup telingannya. Naruto memasang wajah bersalah dan sosok Kyuubi itu menghilang dan digantikan kembali dengan ruangan Osis Kuoh. "Maafkan Sensei."

"Itu….. terasa begitu nyata." Ucap Rias, keringat dingin mengucur di wajahnya. Momo kembali duduk ditempatnya dengan gemetaran. Mereka berkedip, dan sudah ada secangkir teh hangat ditangan mereka. Menggumamkan terima kasih, mereka meminum teh itu. Perlahan mereka semua mulai merasa baikkan.

"Lalu… apa yang terjadi?" Tanya Tsubaki, dengan teh yang masih ditangannya.

Sona mengangguk, ingin tahu bagaimana orang – orang dari dunia asal Naruto menagatasi mahkluk itu. Bahkan dengan 1 batalion pasukan elit iblis pun, Sona ragu dapat menghentikan Kyuubi seukuran itu.

Naruto melanjutkan. "Seluruh desa melawan mahkluk itu tentu saja. Tapi sayangnnya, Kyuubi tidak dapat dibunuh, karena mereka merupakan mahkluk yang terbuat dari energy murni."

Mereka? Itu berarti ada lebih satu mahkluk seperti itu di dunia Naruto. Wajah mereka semua dengan cepat memucat memikirkan hal itu.

Naruto membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar, matanya menerawang jauh, tersesat pada masa lalu. Naruto menggelengkan kepalanya perlahan. "Satu – satunya cara adalah menyegelnya. Jadi Yondaime Hokage pun mengorbankan dirinya untuk menyegel mahkluk itu."

"Tapi pada apa? Kau tidak bisa menyegel mahkluk sekuat itu pada benda mati…" Ucapan Tsubaki semakin perlahan disana. Mata Sona menyipit mulai membuat koneksi dari penjelasan Naruto tadi.

"Cerita ini berawal saat kelahiran adik perempuan sensei…"

"Jadi itulah alasan Sensei membuat kontrak…" Bisik Sona. Rias memandang bingung Heiress Sitri itu sebelum mulutnya terbuka karna syok. Mulai mengerti maksud sahabatnya.

Naruto hanya tersenyum.

Naruto tertawa kecil, mengabaikan wajah simpati dan pengertian yang diberikan muridnya. "Semuanya berjalan baik – baik saja, bahkan dengan semua itu. Sampai, sampai pada saat itu…" Untuk pertama kalinya Narato mengalihkan wajahnya saat berbicara pada mereka, saat ia kembali menatap mereka, hanya senyuman yang familiar yang mereka temui. "Kalian tahu, saat itu ada sebuah ramalan yang mengatakan kalau salah satu dari kami akan menjadi penyelamat, dan yang satunya akan menjadi penghancur. Sebagai kakaknya, Sensei tidak bisa membiarkannya menjadi penghancur, tidak setelah semua yang dimilikinya direnggut bahkan sebelum dia mengerti apapun. Jadi Sensei memaksakannya mengambil jalan penyelamat. Dan disinilah masalah utamannya. Bagimana kau bisa menjadi penyelamat, jika apa yang ingin kau selamatkan tidak ingin diselamatkan?"

"Waktu terus berlalu, dan Sensei tidak menyadari hal ini, sampai akhirnya terlambat. Tanpa tahu perang besar yang diramalkan itu akhirnya datang." Tidak ada kesedihan disana, nada suarannya sama seperti orang yang tengah menjelaskan sesuatu. Sona menggigit bibirnya untuk tidak memotong cerita itu. "Di saat – saat itu Sensei akhirnya mengingat kenapa Sensei membuat kontrak."

"Akan kuhancurkan dunia ini jika itu melangsungkan kebahagiaannya."

Sebuah bisikan merasuki pikiran Sona. Bisikan lembut itu kuat dan kokoh, sangat yakin pada apa yang dikatakannya.

Naruto menghela nafas pelan. "Ruruko, apa yang terjadi jika iblis terbunuh?"

Gadis dengan twintail itu berkedip dan sedikit tersentak, tidak menyangka akan pertanyaan itu sama sekali. "Umm, mereka akan langsung musnah menuju ketiadaan…?" Jawabnnya sedikit tidak yakin.

"Nimura-san benar. Memangnya kenapa Sensei?" Tanya Rias.

"Karena Sensei gagal." Jawab Naruto membuat mereka terkejut. "Satu – satunya cara untuk memberikan kebahagian yang Sensei ingin berikan, Sensei harus mati. Tapi Sensei juga tidak mau ia bersedih atas kematian Sensei." Naruto menyeringai. "Jadi Sensei mencoba berhubungan dengan kekosongan( ketiadaan) dan berhasil." Pernyataan itu membuat mereka syok dan terkejut. "Kalian pasti membayangkannya, euporia kekuatan yang membuat 'awal' dan 'akhir' berteriak murka dan iri ada di genggaman tanganmu." Naruto tertawa kecil dan mengangkat tangannya, menggerakan dan memainkan sesuatu yang tidak terlihat mereka ditangannya.

Naruto menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. "Benar – benar arogan. Untuk berpikir Sensei dapat memiliki kekuatan itu. Ketiadaan, seperti namanya, apapun yang ada di dalamnya menjadi 'tidak ada', mau itu mahkluk hidup, benda, konsep, bahkan ide. Dan untuk sesaat itu keberadaan dari Naruto Uzumaki menjadi tidak ada. Sensei berpikir di saat – saat terakhir ini mungkin hukuman yang pas….. Namun…" Naruto membenarkan posisi duduknya, wajahnya menunjukan ekspresi yang mereka definisikan sebagai bahagia. "Dia datang."

"Adik Sensei?" Tanya Reya, sedikit bingung dan terlalu mengikuti ceritanya.

Naruto menggelengkan kepalanya."Hope(Harapan)!" Naruto tertawa lepas, mengabaikan pandangan yang diberikan muridnya." Menyelamatkan Sensei bahkan disaat Sensei sendiri tidak ingin diselamatkan!" Naruto berhenti tertawa, namun senyumannya masih lebar. "Sayangnnya, kondisi Sensei sangat buruk, bahkan Sensei sendiri belum bisa di definisikan ada. Dan Sensei pun harus mencari identitas Sensei untuk menjadi Sensei yang sekarang ini."

Terjadi kesunyian yang agak lama setelah penjelasan Naruto tadi. Mereka semua semakin bimbang, tidak mengetahui apa reaksi mereka pada cerita laki – laki berambut perak di depannya itu.

"Jadi…. Apa Sensei sudah menemukannya?" Tanya Rias setelah beberapa lama. Naruto hanya mengangguk sekali, senyuman di wajahnya tidak pernah luntur. "Lalu apa yang Sensei lakukan disini?"

Rias menatap Naruto langsung dimata, tidak berjengit saat Sapphire tanpa jiwa itu menatap balik kearahnya.

"Kebahagiaan kalian."

"Kebahagian kami…?" Bisik Koneko perlahan.

"Kau ingin mengambil kebahagian kami!?" Seru Saji, berdiri dan mendelik kearah Naruto. Posisinya siaga untuk bertahan.

Naruto menggeleng. "Tidak. Sensei ingin menjamin kebahagian kalian."

Belum sempat mereka menananyakan maksud dari perkataan itu, muncul lingkaran sihir merah khas dari Klan Gremory dari samping Rias.

"Buchou!" Kiba Yuuto muncul dan berteriak kearah Rajanya, wajahnya khawatir dan sedikit panic.

"Ada apa Yuuto?" Rias langsung berdiri mengetahui nada gawat yang digunakan Knightnya. Wajahnya serius, iris biru-hijaunya sempat menilik Naruto sebelum focus sepenuhnya pada pemuda pirang itu.

Pandangan Yuuto menyebar ke seluruh ruangan, berhenti pada Xenovia beberapa saat sebelum akhirnya kembali pada Rias. Pemilik Sworth Birth itu menggelengkan kepalanya.

"Isse melarikan diri Buchou!"

"Apa?! Kapan!?" Tuntut Rias, wajahnya dingin dan sangar. Yuuto berjengit.

"Kemarin." Jawabnya. "Dua jam setelah Rating Game." Sambungnya. "Kami sudah mencoba mencari dan menghubungi Buchou tapi kami tidak pernah berhasil."

Rias menaikan alisnya. Matanya dingin. "Koneko!" Perintah Rias, dan kedua Peeragenya itu berdiri mengikuti di belakangnya. Sebelum bisa membuat lingkaran sihir, Naruto berdiri. Dan entah bagaimana ruangan itu seakan menyempit.

"Maaf Rias. Tapi Sensei tidak bisa membiarkan kau menemui Isse. Tidak saat ini setidaknnya." Ucap Naruto pelan. Aura Rias meninggi, lantai disekitarnya hancur hanya karena itu saja. Iris biru hijaunya menatap Naruto dengan dingin dan murka yang siap meledak keluar. Sona beserta Peeragenya mulai berdiri untuk membatu Rias.

"Sensei.." Suaranya tenang dan kalem, berbanding terbalik dengan aura yang dikeluarkannya. "Jika kau berpikir akan melarangku untuk menemui Isse sekarang, maka akan kukembalikan kau ke ketiadaan – "

"Kenapa kau ingin menemukan Isse, Rias?" Tanya Naruto memotong ucapan Rias.

Rias mengkerutkan alisnya, kepalanya berpikir apa alasan Naruto menanyakan hal itu. "Bukankah sudah jelas? Dia adalah Peerageku –"

"Peeragemu?" Lagi Naruto memotong Rias, pemuda itu berjalan menuju jendela dan memandang iri kehangatan yang ada di luar sana. "Bukankah Isse sendiri yang memberikan dirinya padamu?"

Bahu Rias berkedut, di sudut matanya Sona menundukan kepalanya. "Dia sedang terluka dan aku tidak ingin dia semakin melukai dirinya sendiri."

Naruto bergumam. "Jadi begitu…" Pemuda itu akhirnya menatap Rias. "Tapi tetap tidak boleh."

"Kenapa!?" Tuntut Rias. Tangannya menghitam, kekuatan dari Klan Bael siap menunjukan taringnya. Dan Rias kecewa karena Naruto tidak berkedip sekalipun.

"Itu bukan tempatku untuk memberitahumu Rias Gremory."

Mereka semua tersentak, Power Of Destruction ditangan Rias langsung menghilang. Menggigil saat nama Rias diucapkan oleh Naruto.

Pemuda itu tersenyum.

"Jangan khawatri, aku yang akan mencarinya. Lagi pula aku adalah kakaknya."

Sebelum menghilang dari sana, tidak ada ledakan energy atau kilatan cahaya. Naruto menghilang seakan dia tidak pernah ada di ruangan itu.

Meninggalkan Sona dan Rias bersama Peeragenya dengan pikiran yang kacau.

Tidak mengetahui kalau Naruto tidak menyangkal atas tuduhan mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung.

Yo. Ane kembali….

Sudah dua bulan huh?

Maaf untuk itu. Saat itu merupakan masa – masa yang sulit. Tapi jangan khawatir, update fic ini akan terlambat, tapi bukan berarti berhenti.

Meh,

Jadi itu chapter 21.

Ane merencanakan chapter selanjutnya akan full action. Selain itu, chapter ini tidak menjelaskan terlalu banyak, hanya menyiapkan beberapa bagian teka – teki yang sebentar lagi akan disatukan.

Sudah sekian lama, dan hanya segitu yang bisa kukatakan? Hah, ya sudahlah.

Saatnya Review.

Nemureru Ryu: Makasih, perjuanganmu benar – benar yang membuat ane terus melanjutkan fic ini.

Laffayete: Entah ane harus bersyukur atau tidak ente review gitu…

Seneal: Di bagian Isse huh? TIdak mengejutkan… Dan ini sudah lanjut..

RyoRamantara617: Ryok, ane rasa, ane gak pernah bilang rubah merah deh. Itu sudah pasti, dan tuh otak lu ada dibawah sepatu kuda lu. Dan ane 100% orang bumi.

Bayu: *Nyeringai. Sudah hampir menemukan jawabannya huh?

Ajidarkangel: Chapter itu menceritakan tindakan pertama Isse setelah mendapat memori dari waktu sebelumnya. Hanya menceritakan interaksi antara kedua naga surgawi itu saja.

Guest: Makasih…

Ysoman3: Masih belum ya? Hah, agak susah untuk memberikan setiap karakternya bagian untuk berkembang, tapi juga tidak membiarkannya menjadi bercabang. Makasih sudah menunjuknya, untuk berikutnya akan ane perbaiki lagi.

Ane rasa itu saja.

Oh? Ini satu lagi.

Extra; Interlude,

Saat gadis itu membuka matanya, hanya kegelapan yang menyapanya. Kegelapan itu terasa sangat familiar, tapi juga terasa begitu jauh. Untuk sesaat ia berpikir kalau dirinya sedang bermimpi, tapi bagaimana tubuhnya merasakan kegelapan disekelilingnya membuatnya sedikit takut.

Beberapa waktu ia berjalan tak tentu arah. Sebelum ia menautkan kedua tangannya di depan dada, lalu berdoa.

Setitik cahaya muncul di depannya. Terasa sangat jauh dan juga familiar. Cahaya itu perlahan, seakan berbisik memanggilnya.

Langkah ragu itu perlahan pasti mengejar cahaya itu. Merasa hampir sampai, gadis itu mulai berlari dan meloncat ke dalam cahaya itu.

Menutup matanya karena silau, gadis itu membukanya dan melihat altar gereja di depannya.

Belasan bangku panjang masih bersusun rapi, tapi sebagian hancur seakan ada sesuatu yang menimpanya.

Jendela indah di dinding seakan bersinar karena cahaya dari luar. Namun juga membuatnya tidak dapat melihat keluar.

Gadis itu berhenti, menatap sosok bertudung hitam tengah berlutut di depannya. Kepala ditundukan, tangan ditautkan, khidmat dalam doa.

Merasa tidak sopan mengganggunya. Gadis itu menutup matanya, menautkan tangannya dan ikut berdoa.

"Aku sudah menunggumu Hamba Tuhan."

Terkejut, mata gadis itu tersentak terbuka. Sosok itu perlahan berdiri dan berbalik.

Sepasang mata yang sama.

Rambut yang sama.

Wajah yang juga sama.

Dan pakaian yang sama, yang hanya berbeda warna.

Iris hijau terang itu memandang syok iris hijau kelam dipenuhi dosa.

"Siapa kau….?" Nada gadis itu berubah bingung. "… Siapa aku?"

"Kau adalah kau Asia Argento…" Sosok itu menggelengkan kepalanya, berjalan mendekatinya. "Tapi aku…"

Gadis itu tersenyum. TIdak seperti senyuman Isse-san yang selalu membuatnya nyaman, tidak juga seperti senyuman Rias-san yang percaya padanya, ataupun senyuman Akeno-san yang menggoda. Senyuman itu….

Seperti kebalikan dari senyumannya.

.

"Adalah bagian dari dirimu."