Tittle : LOTTO (MEANIE FANFICTION)

Author: Hani Hwang

Casts: Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Genre: Romance, Yaoi

Disclaimer: Plot ceritanya punya author, Wonwoo juga punya author

Rated: M

DONT LIKE DONT READ!

.

.

.

.

.

.

Setelah hari itu, hari-hari berlalu seperti biasanya. Wonwoo dan Zuho harmonis seperti sedia kala. Mencipta keluarga yang bahagia bagi anak mereka, Wonho. Dan, sepertinya yang akan segera lahir dalam beberapa bulan. Sepulang dari rumah sakit waktu itu, Wonwoo langsung disuruh Zuho untuk melakukan test urine dengan testpack. Mereka hanya melakukannya sekali, dan agak mencengangkan kalau langsung jadi, itu sebabnya Zuho butuh meyakinkan diri. Mereka bahkan melakukan test sampai dua kali. Dan hasilnya sama, positif. Seperti kata dokter itu. Setelahnya, Zuho menadi sepuluh kali lipat lebih perhatian pada Wonwoo. Ia menjaga dan memanjakannya dengan berlebihan. Wonwoo sudah berkata kalau ia baik-baik saja dan tak perlu begitu, tapi Zuho tak dapat dihentikan. Meskipun ini anak kedua mereka, namun Zuho tahu, kalau itu benih pertamanya yang kelak akan menerusakan garisnya. Tapi bukan berarti ia jadi berhenti menyayangi Wonho. Baginya, Wonho juga sama berharganya dengan anaknya. Ia mengasuh dan membesarkan Wonho dari kecil, bagaimana mungkin ia bisa berhenti mengasihinya begitu saja. Intinya, keluarga mereka jadi semakin lengkap.

Setiap hari, Zuho selalu mengontrol asupan gizi yang Wonwoo konsumsi. Wonwoo mendadak kalau ia bersuamikan seorang dokter, bukan pengusaha. Namun ia mencoba mengerti, Zuho pasti teramat bahagia. Dan Wonwoo juga begitu, meski jauh didalam lubuk hatinya, ia masih merindukan orang lain. Namun tak dapat dipungkiri, Zuho sangatlah berarti baginya.

"Wonu-ya~ sudah diminum susunya?" Tanya Zuho disuatu pagi yang cerah pada hari minggu. Memeluknya dari belakang, dan mengusap lembut perutnya yang masih rata.

"Sudah. Astaga, kau jadi lebih bawel dari mertuaku ya!" Kelakar Wonwoo.

"Mertuamu? maksudmu ibuku?" Zuho menejentik ujung hidung Wonwoo.

Saat mereka sibuk berpelukan, ada satu sosok lagi yang ingin diperhatikan. "Eomma, Appa~ Wonho mau minum susu~"

Dan seketika Wonwoo beralih menyeduh susu. Zuho menggeleng pelan, kemudian menggendong Wonho dan membawanya duduk disofa ruang keluarga. Menyalakan tv, dan menonton acara kartun yang tayang dipagi hari.

"Wonho sayang Appa tidak?" Tanya Zuho, menghadapkan Wonho kearahnya, dan masih membiarkan bocah itu bergelayut manja dibahunya.

"Sayang. . . Wonho sayang sekali pada Appa~" Dan diakhiri dengan sebuah kecupan menggemaskan dipipi kanan Zuho. Dengan cepat tangan Zuho mengusap rambut hitam Wonho.

"Benarkah? Sebesar apa?"

Wonho mengangguk. Kemudian turun dari pangkuan Ayahnya. Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Lalu sambil berkedip lucu berkata, "Sebesar ini~" Dan Wonwoo gemas bukan main.

Sampai kemudian, kalimat Wonho selanjutnya menghentika percakapan mereka, "Lho, hidung Appa berdarah, Appa sakit?" Ia terlihat cemas.

Zuho tersentak, meraba hidungnya dan dilihatnya darah menempel dijari-jarinya. Dengan cepat ia meraih tissue, lalu mengelap hidungnya yang mimisan. Ini bukan hal aneh baginya.

"Appa sakit?" Wonho kembali bertanya. Ia menatap Zuho dengan wajah khawatirnya.

"Tidak. . . Appa tak apa-apa-" Zuho merasa kepalanya mulai berkunang-kunang dan pandangannya menggelap. Tubuhnya serasa lemas. "Appa. . ."

BRUK!

Zuho jatuh tersungkur dengan darah yang masih menetes dihidungnya. Mata bulat Wonho terbelalak, dengan histeris ia teriak.

"APPPA!

Drap drap drap.

Wonwoo muncul dengan terengah setelah lari dari dapur. Begitu mendengar teriakan Wonho, ia langsung mengeceknya. Pasti ada yang tak beres, karena tak biasanya Wonho begitu.

"Wonho-ya, ada apa?" Wonwoo mengusap kepala Wonho, masih belum menyadari Apa yang terjadi.

"Eomma, Appa jatuh!" Jari telunjuk mungil itu terarah pada Zuho yang tak sadarkan diri dilantai.

"Baek Zuho!"

.

.

.

.

Wonwoo berdiri lemas menatap kaca ruangan yang terdapat dipintu. Menarik napas panjang saat melihat Zuho masih belum juga sadarkan diri. Tadi ia langsung menelpon ambulan dan Jungkook. Sementara ia kerumah sakit, Wonho dititipkannya pada Jungkook. Wonwoo mendudukan dirinya dilorong rumah sakit. Menatap putus asa dinding putih didepannya. Entah mengapa ia merasa seolah nasib mempermainkannya. Baru kemarin ia dan Zuho merasakan bahagia yang seutuhnya, sekarang Wonwoo merasa itu sudah dirampas darinya. Wonwoo kembali menarik napas, dalam hati merapalkan doa sebisanya.

Ceklek.

Pintu ruangan terbuka, dan dokter keluar dengan ekspresi yang tak dapat diprediksi. "Saudara Jeon Wonwoo?"

"Ya, saya, Dokter!" Wonwoo langsung bangkit menghampiri.

Dokter mendudukan dirinya dikursi yang tadi diduduki Wonwoo, sementara Wonwoo kembali duduk disebelahnya. "Bagaimana dokter, Zuho tak apa, kan?" Tanya Wonwoo cemas, meremat ujung sweaternya dengan gelisah.

"Leukimia yang diderita Tuan Baek Zuho sudah memasuki stadium akhir. Dan hal ini bisa terjadi, karena beliau terlambat cuci darah. Sepertinya beliau melanggar jadwalnya sekali, sehingga ia tak sadarkan diri begini. Untuk saat ini, dia masih tak sadarkan diri. Kita hanya bisa berdoa. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik." Dokter itu menepuk pelan bahu Wonwoo, kemudian bangkit berdiri dan pergi.

Wonwoo mematung. Tunggu, apa kata dokter tadi?

Stadium akhir?

Telat cuci darah?

Berdoa?

'Semoga Tuhan memberikan yang terbaik.'

Kalimat itu mengiang ditelinga Wonwoo. Bukankah biasanya dokter berkata begitu pada keluarga pasien yang sekarat?

Jadi, maksudnya Zuho sekarat?

Berbagai tanda tanya menumpuk dibenak Wonwoo. Tapi tak ada satupun yang keluar. Tubuhnya tegang dan kaku. Fikirannya kosong. Hanya satu hal yang disadarinya,

Ia tak sanggup kalau harus kehilangan Zuho. Karena Wonwoo tahu betul, kehilangan itu benar-benar menyakitkan.

.

.

.

.

"Tuan Kim, benar anda tak apa-apa?"

"Yak! aku benar-benar bosan disini! cepat bawa aku pulang!" Mingyu mendelik, pada Junhui.

"Ya, ya, ya dokter bilang kau sudah boleh pulang sih, tapi katanya lebih baik untuk menginap beberapa hari lagi, Gastritis soalnya ." Sahut Junhui.

"Cerewetnya, aku ini bos mu, turuti saja kalimatku!" Ketus Mingyu.

Junhui menggendik. "Baiklah, baiklah. Aku akan memberesi administrasinya dulu dan kemudian mengemasi barang-barangmu. Lalu kita pulang."

.

.

.

.

Wonwoo terduduk pasrah dengan kepala menunduk dalam-dalam nyaris menyentuh bahunya. Ia merapatkan tangannya, dan kemudian mulai berdoa.

"Tuhan, aku datang lagi. Maaf karena selalu datang disaat susah. Tuhan, berikanlah Baek Zuho umur yang sedikit lebih panjang. . . aku ingin membahagiakannya disaat terakhir. Aku tahu kau begitu menyayanginya hingga memanggilnya begitu cepat, tapi Tuhan, kabulkanlah doaku. Baek Zuho begitu berharga bagi banyak orang. Akan ada banyak orang yang menangisinya. Perkenankanlah ia lebih lama menetap didunia. . . agar aku dapat bersiap untuk kehilangannya. Aku mencintainya Tuhan, meski tak sebesar rasa cintaku padamu, Tuhanku."

Wonwoo mengakhiri doanya dengan linangan air mata ia berjalan gontai meninggalkan tempat ibadah itu dan kembali masuk kedalam rumah sakit. Pandangannya menunduk, ia serasa tak sanggup mengangkat kepalanya. Sementara orang-orang berlalu lalang disekelilingnya tanpa ia pedulikan.

Wonwoo terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit itu.

Tanpa disadarinya, ia berpapasan dengan Kim Mingyu dan Junhui.

Mungkin, karena Wonwoo menunduk dan menyembunyikan wajahnya, Mingyu juga tak menyadarinya. Mereka berlalu begitu saja seperti orang asing yang tak pernah saling mengenal. Padahal sebelumnya mereka sama-sama merindu dan ingin bertemu. Namun, tidak untuk waktu ini.

.

.

.

.

Wonwoo tertidur sambil merebahkan kepalanya ditepi ranjang Zuho. Semalam suntuk ia terjaga dan menunggui Zuho. Dan menjelang fajar, ia baru tertidur. Jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. Ketika itulah, jari jemari Zuho yang ada dalam genggaman Wonwoo bergerak. Dan secara perlahan Zuho membuka kedua kelopak matanya.

"Wonu-ya." Lirih Zuho dengan suara berbisik yang serak.

Wonwoo terjaga, karena memang tidurnya tak pulas. Ia mengusap matanya. Dan menyadari Zuho yang siuman. "Zuho-ya, syukurlah akhirnya kau siuman. Aku benar-benar khawatir. Bagaimana bisa kau melewatkan cuci darahmu?" Wonwoo langsung bertanya panjang lebar. Pertanyaan yang sejak tadi ingin ditanyakannya.

"Maafkan aku." Pendek Zuho.

"Tak apa, sekarang kau sudah siuman, seharusnya semuanya akan jadi baik-baik saja." Wonwoo tersenyum, mengusap tangan Zuho yang ada dalam genggamannya.

Zuho tersenyum dipaksakan. "Wonu-ya, terima kasih." Wonwoo mengernyit.

"erima kasih sudah mem-balas. . . perasaan-ku. . . dan me-menerima. . ku. . . aku me-mencintaimu, Jeon Wonwoo."

"Zuho-ya, jangan banyak bicara, kau belum pulih." Wonwoo mulai khawatir.

Zuho menggeleng. Matanya mulai berair. "Tadi,. . aku bermimpi. . . aku berada diatas awan dan melayang jauh. . . dalam mimpiku, aku mendengar doamu yang putus asa. . . maaf karena membuatmu khawatir. Tapi Wonu-ya, aku lelah. . ." Zuho merasakan pandangannya kembali meredup dan napasnya mulai tersenggal.

"Istirahatlah, Zuho-ya-"

"Maaf, aku pergi duluan, Wonu-ya. . . jaga anakku untukku, aku me-nyayangimu dan Wonho. . . terima kasih. .. " Dan sebuah hembusan napas disertai suara berisik dari monitor pendeteksi detak jantung. Garis yang tadinya bergelombang tajam, kini berubah menjadi garis-garis lurus.

Sejenak semuanya membeku. Wonwoo terhenyak ditempatnya. Waktu serasa berhenti baginya.

Zu-Zuho meninggalkanku?

Hanya itu yang terbersit dalam fikirannya. Dan membuatnya teriak histeris. "DOKTER! DOKTER!"

.

.

Tempat itu selalu sepi dan tenang seperti biasanya. Udara sejuk bertiup semilir dan menerbangkan dedaunan yang kecoklatan. Udara mulai dingin untuk musim gugur. Lahan yang menghamparluas berumput itu, adalah tempat peritirahatan terakhir orang-orang. Dan didepan sebuah gundukan tanah yang masih baru, dua orang pemuda terdiam. Yang satu berlutut sambil menaburkan kelopak bunga sedang yang satunya berdiri dibelakang sambil menggendong seorang anak laki-laki tampan yang tak mengerti apa yang terjadi.

Pemakaman itu dilaksanakan siang ini. Baek Zuho sudah benar-benar pergi. Meski Dokter berusaha sekuat tenaga mengembalikannya, namun Tuhan bukanlah seseorang yang dapat dicegah. Dan isak tangis menjadi musik pengiring upacara itu. Ibunya Zuho bahkan sampai pingsan berulang kali karena masih tak terima kenyataan. Ia menyesal tak menunggui anaknya didetik-detik terakhir. Ada terlalu banyak penyesalan yang disadari hari itu. Tapi itu semua tak mengubah apapun.

Wonwoo masih setia berlutut didepan makam suaminya.

"Hyung, aku menunggumu dimobil bersama Wonho." Jungkook berbalik dan pergi sambil menggendong keponakannya. Meninggalkan Wonwoo yang masih disana. Wonwoo menaburkan kelopak terakhir, kemudian tersenyum tipis diantara tangisnya.

"Kau lelah, Zuho-ya? maafkan aku karena tak bisa meringankan bebanmu. Dan maaf karena begitu tak peka untuk menyadari penderitaanmu. .. dan maaf juga karena baru mencintaimu sekarang, ada terlalu banyak kata maaf yang harus kuucapkan. Itu semua karena keegoisanku. Tapi Zuho-ya, beristirahatlah dengan tenang. Aku akan berhenti menangisimu setelah ini. Jalani harimu disurga. Aku akan tetap mencintaimu, Baek Zuho. Terima kasih untuk semuanya." Wonwoo mengusap batu nisan itu, lalu bangkit. Menyusut air matanya.

Dan kemudian berbalik, dengan gontai melangkah pulang.

.

.

.

.

*Dua Tahun Kemudian*

Jungkook memutar ponselnya perlahan, lalu memasukkannya kedalam saku. Masih menatap pria didepannya dengan pandangan sinis dan ekspresi ketus.

"Kau bilang ingin bicara, cepatlah. Aku sibuk." Ucap Jungkook, menyeruput lattenya.

Taehyung menarik senyum tipisnya. Ia baru keluar dari penjara beberapa waktu lalu. Wajahnya lesu dan pakaiannya lusuh. Ia berbanding terbalik dengan Kim Taehyung yang dulu.

"Aku. .. hah. . . kau sudah menolakku sembilan kali. Kalau hari ini kau menolakku lagi, ini akan genap yang kesepuluh." Taehyung menarik napas.

"Kalau begitu, kita genapkan saja." Jungkook bangkit, meraih tas kerjanya dan kemudian hendak melangkah pergi. Tapi Taehyung mencekal tangannya. Untungnya, mereka berada disebuah kafe yang sepi, sehingga itu tidak akan membuat keributan. Jungkook menepis.

"Aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Fikiranku selalu berpusat padamu, tujuh tahun aku hampir gila dipenjara. Aku berdoa setiap hari setidaknya kau datang menengok meski cuma semenit, tapi bahkan kau tidak menitip salam." Ucap Taehyung, dalam suaranya yang berat.

"Lalu, apa peduliku?" Sinis Jungkook.

Taehyung menyeringai. "Kau peduli, Jungkook. Kau bahkan tak bisa berpaling pada orang lain."

Jungkook berdecih, "Kau terlalu percaya diri. Sebaiknya kau bercermin."

"Kau adalah cerminku." Taehyung berdiri, dan membuat mereka bertatapan. Dan Jungkook menangis. Menyeka air matanya dengan telapak tangannya.

"Lihat dirimu, Kim Taehyung. Kau benar-benar membuatku muak!" Sembur Jungkook. Beberapa pegawai kafe itu melirik mereka, tapi kemudian hanya pura-pura sibuk sendiri. Tak ingin mengganggu.

Taehyung mendesah. Kemudian melepas tangannya. "Maafkan aku." Taehyung berbalik, dan berjalan dengan langkah gontai.

Sepersekian detik Jungkook bertahan membiarkan Taehyung keluar kafe dan menghilang dari pandangannya. Namun detik berikutnya, ia berlari mengejarnya.

"Kim Taehyung!"

Taehyung berbalik, dan mendapati Jungkook berlari kearah. Dia tersenyum, membuka tangannya. Dan waktu menemukan mereka berpelukan. Dibawah bunga sakura yang bermekaran.

.

.

.

.

Wonwoo bergegas turun dari mobilnya. Dan kemudian berjalan sambil menggendong seorang anak kecil berumur enam belas bulan. Lalu berlari menuju gerbang sekolah dasar yang terbuka lebar. Untuk kesekian kalinya, ia terlambat menjemput Wonho. Hari ini hari pertama bocah lucu itu disekolah dasar, usianya genap satu tahun. Dan dihari pertamanya sekolah, ibunya telat menjemputnya. Kebiasaan terlambat Wonwoo berlanjut dan bertambah parah setelah ia sendiri. Bagaimanapun juga, ia harus bekerja sambil mengurus dua anak yang hyper. Untungnya, mertuanya-ibunya Zuho- bersedia menjaga cucunya ketika Wonwoo bekerja. Wonho dan Adiknya, Baek Howon akan dititipkan dirumah neneknya, dan sore sepulang kerja, Wonwoo akan menjemputnya.

Wonwoo menjadi panik ketika mendapati gerbang sekolah sudah sepi dan dia tak mendapati Wonho disana. Dengan Terngah-engah ia bertanya pada satpam disitu,

"Ahjussi, kau melihat anakku tidak?"

"Anakmu? siapa namanya?" Pria tua itu mengerutkan kening.

"Baek Wonho, kelas satu. Wajahnya tampan dan rambutnya hitam. Dia pakai tas berwarna merah gambar iron man dan sepatu hitam dengan kepala pororo." Wonwoo mencoba menjelaskan sedetail mungkin ditengah kekalutannya.

"Oh, aku ingat tadi Ayahnya datang menjemputnya." Ucap pria itu, tersenyum cerah.

"Heh?! Ayahnya sudah meninggal!" Wonwoo histeris. Dan seketika satpam itu melotot.

"Ta-tapi, tadi ada pria berumur tiga puluhan yang mengaku sebagai Ayahnya."

"A-ahjusii! bagaimana kalau anakku diculik?!" Wonwoo sudah hampir menangis, satpam itu jadi makin panik. Dengan cepat ia menoleh kekanan dan kekiri, berharap menemukan pria yang tadi dilihatnya.

"Oh! Itu dia!" Pria itu menunuk keseberang jalan.

Dengan cepat Wonwoo berlari kearah sana.

"Baek Wonho!"

Wonho menoleh, bersama seorang pria yang menggenggamnya. "Eomma!"

Dan Wonwoo mematung, melihat pria yang bersamanya. Dengan cepat ia merampas Wonho dari genggaman pria itu. Membuat pria itu menarik napas.

"Aku tak menyakitinya, Wonwoo-ssi." Ucap Mingyu, tersenyum canggung.

Wonwoo mengabaikannya, "Wonho-ya, Eomma bilang jangan pergi dengan orang asing!"

DEG!

Mingyu merasakan jantungnya berdenyut. Orang asing? ya, Wonwoo sudah sering menyebutnya begitu sih. Tapi tetap saja menyakitkan.

"Ya, Eomma. Alaseo." Sahut Wonho, cemberut.

"Jaa, kita pulang." Wonwoo kemudian menggandeng Wonho dan menyeberang. Sementara Howon anteng dalam dekapannya. Tanpa diduga, Mingyu mengikutinya.

Wonwoo mendudukan Wonho dan Howon dikursi sebelah kemudi. Ada kursi khusus yang dipasang untuk bayi disana. Setelah memastikan mereka memakai sabuk pengaman, Wonwoo menutup pintu dan bermaksud untuk segera duduk dikursi kemudi. Namun begitu ia berbalik, Mingyu tepat didepan wajahnya.

Wonwoo dengan kikuk mengabaikannya dan berjalan hendak kemobil, Mingyu menahan tangannya. "Wonwoo-ya, kau masih belum memberikan jawaban yang pasti atas lamaranku."

"Kau ditolak." Pendek Wonwoo tanpa menoleh. "Bisa lepas tanganmu?"

"A-apa? kenapa? setelah kau mengacuhkanku berbulan-bulan dan membuatku menunggu, kau berkata begitu?" Mingyu berharap ia salah dengar.

"Aku tak bisa menerimamu, Mingyu. Aku tak bisa menerima siapapun lagi. Aku hanya akan fokus mengasuh anak-anakku." Sahut Wonwoo, dengan suara yang dalam dan tenang. Namun sebenarnya, ia menahan tangis dengan jantung bertalu-talu.

"Karena kau masih merasa bersalah pada Zuho? itu bukan salahmu!"

"Itu salahku, Mingyu! Kalau saja aku menyadari penyakitnya lebih awal, setidaknya dia mash dapat melihat Howon lahir kedunia!" Sembur Wonwoo, dengan air mata yang berhamburan. Wonwoo menangkup wajahnya.

"Jeon Wonwoo." Mingyu meraih kedua tangan Wonwoo. "Tatap aku." Dan membuat kontak mata diantara mereka.

Wonwoo menatapnya dengan mata memerah.

"Kau mencintaiku, kan? aku tahu kau begitu."

Wonwoo hanya terisak.

"Aku hanya ingin membahagiakanmu. Aku tahu aku terlalu banyak dosa padamu dan Zuho. Biarkan aku menebusnya. Aku juga ingin mangasuh anakku bersamamu." Mingyu melirik Wonho.

Wonwoo menggeleng.

"Tidak bisa, Mingyu. Wonho bukan anakmu."

"Bohong! aku tahu kau hanya membuat alasan!"

"Aku trauma!" Teriak Wonwoo akhirnya.

Mingyu tercengang mendengarnya.

"Kau dan Zuho sama saja! kalian membuatku mengalami masa-masa sulit dan membingungkan. Membuat hidupku seperti roller coaster yang tak henti berputar dan membuatku mual!" Wonwoo dengan kasar menepis Mingyu.

Mingyu kembali menarik tangan Wonwoo, membuat Wonwoo hilang keseimbangan dan jatuh kedalam pelukannya.

"Maafkan aku." Mingyu terisak.

Hening, keduanya berselimut tangis. Sementara Wonho didalam mobil sibuk mengajak bermain adiknya.

"Biarkan aku menyembuhkan traumamu. Aku mencintaimu, Jeon Wonwoo. Berhenti membuatku menunggu dan berhenti membuat dirimu sendiri merana." Mingyu mengusap punggung Wonwoo. Lalu melepas pelukan mereka.

Wonwoo terdiam cukup lama. Sampai setelah menit berlalu, Wonwoo mengangguk. Dan Mingyu tahu, itu cukup untuk semua pertanyaannya.

.

.

.

.

THE END

Note: Maaf, aku lagi buru-buru. Maaf untuk ending yang tidak memuaskan. Dan maaf karena aku cuma sempet ngetik ini selama dua-tiga jam. Ini ngedadak, soalnya pengen cepet kelar. Bye.