137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
Fifty Shades of Cho
Chapter 21
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
(Ada beberapa MARGA yang diganti demi kepentingan cerita)
DLDR
Please enjoy ^^
Disclaimer : Remake Novel karya EL James 'Fifty Shades of Grey'.
P.M : All is Sungmin's POV
Ok. Let's check this out !
.
.
.
JOYER
.
.
.
Bibir yang lembut menyentuh pelipisku, meninggalkan ciuman lembut manis yang membangunkanku, dan bagian dari diriku ingin berbalik dan merespon, tapi aku ingin tetap tidur.
Aku mengerang dan bersembunyi ke bantalku.
"Sungmin, bangun." Suara Kyuhyun yang lembut, membujukku.
"Tidak," keluhku.
"Kita harus berangkat dalam waktu setengah jam untuk makan malam di rumah orangtuaku." Katanya geli.
Aku membuka mata dengan enggan. Di luar telah senja. Sambil membungkuk, Kyuhyun menatapku serius.
"Ayo tukang tidur. Bangunlah." Ia membungkuk dan menciumku lagi. "Aku membawakanmu minum. Aku akan ada di bawah. Jangan kembali tidur, atau kau akan dapat masalah," ia mengancam, tapi nadanya ringan. Dia menciumku sebentar dan keluar, meninggalkanku yang masih mengantuk di ruang yang sejuk dan dingin.
Aku segar tapi tiba-tiba gugup. Ya ampun, aku akan bertemu orangtuanya! Dia belum lama mencambukku dan mengikatku dengan menggunakan pengikat kabel yang aku jual padanya, dan sekarang aku akan bertemu orang tuanya.
Aku memutar bahuku. Rasanya kaku. Tuntutannya untuk pelatih kebugaran pribadi tidak tampak begitu aneh lagi sekarang, pada kenyataannya, wajib jika aku berharap untuk mengimbangi dirinya.
Aku keluar perlahan dari tempat tidur dan melihat bahwa gaunku tergantung di luar lemari pakaian dan braku ada di kursi. Mana celana dalamku? Aku cek di bawah kursi. Tak ada. Lalu aku ingat, dia menjejalkannya masuk di saku celana jinsnya. Aku memerah mengingatnya.
Aku mengerutkan kening. Kenapa dia tidak mengembalikan celana dalamku?
Aku diam-diam masuk ke kamar mandi, bingung karena tidak adanya pakaian dalamku. Sementara pengeringan diri setelah mandi yang nyaman tapi terlalu singkat, aku menyadari dia melakukan ini dengan sengaja.
Dia ingin membuatku malu dan meminta celana dalamku kembali, dan ia akan mengatakan ya atau tidak. Oh lihat saja, aku tidak akan melakukannya. Aku bisa saja ke rumah orang tuanya tanpa itu.
Kembali di kamar tidur, aku mengenakan bra-ku, memakai gaun dan sepatuku. Aku melepas kepang rambutku dan buru-buru menyisir rambutku, aku kemudian melirik minuman yang ia tinggalkan.
Warnanya pink pucat. Apa ini? Cranberry dan air mineral. Hmm ... rasanya lezat dan memuaskan rasa hausku.
Bergegas kembali ke kamar mandi, aku memeriksa diriku di cermin: mata cerah, pipi sedikit memerah, terlihat sedikit puas karena rencana celana dalamku, dan aku menuju lantai bawah.
Kyuhyun berdiri di dekat jendela. Dia berbalik dan tersenyum saat aku masuk. Dia menatapku penuh harap.
"Hai," kataku lembut, membalas senyumannya.
"Hai," katanya. "Bagaimana perasaanmu?" Matanya menyala penuh rasa geli.
"Bagus, terima kasih. Kau?"
"Aku merasa luar biasa baik, Nona Lee." Dia sepertinya begitu menunggu aku mengatakan sesuatu.
Dia melangkah ke arahku seperti macan kumbang sampai dia berdiri di depanku, tatapannya begitu kuat membuat napasku tersengal-sengal.
Musik romantis mengalun dengan lembut mengisi seluruh ruangan.
Perlahan jari Kyuhyun menyusuri pipiku. "Berdansalah denganku," bisiknya, suaranya serak.
Mengeluarkan remote dari sakunya, dia menambah volume dan tangannya menggenggamku, sorot matanya yang penuh dengan janji dan kerinduan yang membujuk. Dia benar-benar mempesona, dan aku tersihir. Aku menempatkan tanganku padanya.
Dia menyeringai menggoda menatap ke arahku dan menarikku ke dalam pelukannya, tangannya melingkar di pinggangku, dan dia mulai berayun.
Aku meletakkan tanganku yang bebas di bahunya dan tersenyum ke arahnya, terperangkap dengan suasana hatinya yang langsung menulariku, menyenangkan.
Dan dia mulai bergerak. Tak menyangka dia bisa berdansa. Kami berputar-putar, dari dekat jendela ke dapur dan kembali lagi, berputar dan berbalik mengikuti irama musiknya. Dan dia membuatnya begitu mudah untuk aku ikuti.
Kami berdansa mengitari meja makan, menghampiri piano, dan maju mundur di depan dinding kaca, lampu kota Seoul diluar terlihat berkelip, seperti lukisan dinding yang gelap dan menyihir tarian kami, dan aku tak bisa menahan tawa riangku. Dia menyeringai ke arahku saat lagunya akan selesai.
"Tidak ada penyihir yang lebih menyenangkan daripada kau," bisiknya, kemudian menciumku dengan manis. "Nah, itu bisa memberikan beberapa warna pada pipimu, Nona Lee. Terima kasih atas dansanya. Bisakah kita pergi sekarang dan bertemu dengan orang tuaku?"
"Terima kasih kembali, dan ya, aku sudah tak sabar untuk bertemu mereka," jawabku terengah-engah.
"Apa kau sudah memiliki semua yang kau butuhkan?"
"Oh, ya," aku menjawab dengan manis.
"Apa kau yakin?"
Aku mengangguk dengan santai sebisa mungkin di bawah pengawasan intensnya, mengamati dengan geli. Wajahnya berubah menjadi seringai lebar, dan dia menggeleng kepala.
"Baik. Jika memang itu caramu ingin bermain, Nona Lee."
Dia meraih tanganku, mengambil jaketnya yang tergantung di salah satu kursi di bar, dan membawaku melewati serambi menuju lift. Oh, berbagai bentuk wajah Cho Kyuhyun. Apa bisa aku memahami pria yang penuh gairah ini?
Aku mengintip ke arahnya saat di dalam lift. Dia menikmati lelucon pribadinya, ada sisa senyum menggoda di mulutnya yang indah. Aku jadi takut bahwa aku mungkin harus membayar dengan mahal.
Apa yang kupikirkan? Aku akan bertemu dengan orang tuanya, dan aku tak mengenakan pakaian dalam.
Sepertinya di apartemennya tadi relatif aman, sebuah ide yang menyenangkan dan menggoda. Saat ini, aku nyaris keluar tanpa celana dalam! Dia mengintip ke arahku, dan disana, menghidupkan sesuatu diantara kami. Penampilan geli menghilang, ekspresi wajahnya berubah menjadi berawan, matanya gelap ...oh.
Pintu lift membuka di lantai dasar. Kyuhyun menggelengkan kepalanya sedikit seolah-olah untuk mengosongkan pikirannya dan mengisyaratkan untukku keluar sebelum dia dengan cara yang sangat sopan.
Yesung ada dibalik kemudi Audi yang sangat besar.
Kyuhyun membuka pintu belakang untukku, dan aku berusaha masuk dengan anggun, mengingat keadaanku tak memakai pakaian dalam. Aku bersyukur bahwa gaun plum Eunhyuk begitu menempel dan menggantung ke atas lutut.
Kami melaju kearah jalan raya, kami berdua sama-sama diam, tak diragukan lagi karena adanya Yesung di depan. Suasana hati Kyuhyun hampir nyata dan tampaknya berubah, humornya perlahan menghilang saat berangkat. Dia merenung, menatap keluar jendela, dan aku bisa merasakan dia menjauh dariku.
Apa yang dipikirkannya? Aku tak bisa memintanya.
Apa yang bisa aku katakan di depan Yesung?
"Dari mana kau belajar berdansa?" Tanyaku ragu-ragu. Dia kembali menatapku, matanya terbaca di bawah cahaya yang putus-putus dari lampu jalan yang lewat.
"Apa kau benar-benar ingin tahu?" Dia menjawab lirih.
Hatiku merosot, dan sekarang aku tak ingin tahu karena aku sudah bisa menebak. "Ya," bisikku enggan.
"Nyonya Park suka berdansa."
Oh, kecurigaan terburukku terkonfirmasi. Dia sudah mengajarinya dengan baik, dan pikiran itu membuatku tertekan, tak ada apapun yang bisa aku ajarkan padanya. Aku tak punya keahlian khusus.
"Dia pasti guru yang bagus."
"Ya," katanya lembut.
Kulit kepalaku seperti ditusuk-tusuk. Apa dia adalah seseorang yang terbaik baginya? Sebelum dia menjadi begitu tertutup? Atau apa dia yang membawanya keluar dari dirinya sendiri? Dia sangat menyenangkan, suka bercanda.
Aku tersenyum tanpa sadar mengingat aku berada dalam pelukannya saat dia memutar tubuhku di ruang tamu, dan tak diduga dia menyembunyikan celana dalamku, di suatu tempat.
Aku sadar, pada saat ini, bahwa aku membenci Nyonya Park.
Menatap kosong ke luar jendela, aku berusaha mengobati kemarahan yang tak masuk akal dan kecemburuanku.
Pikiranku melintas kembali ke sore hari. Mengingat apa yang bisa aku pahami dari keinginannya, aku pikir dia sudah bertindak lembut denganku. Apa aku mau melakukannya lagi? Aku bahkan tak bisa berpura-pura memberi argumen terhadap hal itu.
Tentu saja aku mau, jika dia bertanya padaku, selama dia tak menyakitiku dan jika itu satu-satunya cara untuk bisa bersama dengannya.
Itulah garis bawahnya. Aku ingin bersama dia.
"Jangan," bisiknya.
Aku mengerutkan kening dan berbalik untuk menatapnya.
"Jangan apa?" Aku tidak menyentuh pikirannya.
"Memikirkan sesuatu yang berlebihan, Sungmin." Mengulurkan tangan, dia menggenggam tanganku, menarik ke bibirnya, dan mencium buku-buku jariku dengan lembut. "Aku mempunyai sore yang indah. Terima kasih."
Dan dia kembali denganku lagi. Aku berkedip ke arahnya dan tersenyum malu-malu. Dia begitu membingungkan. Aku ingin mengajukan pertanyaan yang menggangguku.
"Mengapa kau mengikatku dengan pengikat kabel?"
Dia nyengir."Itu cepat, mudah, dan merupakan pengalaman yang berbeda yang pernah kau rasakan. Aku tahu itu agak brutal, dan aku menyukai itu sebagai alat untuk mengikat." Dia tersenyum lembut padaku. "Sangat efektif menjagamu untuk tak bergerak."
Mukaku memerah dan melirik Yesung dengan gugup, yang tanpa ekspresi, pandangan tetap di jalan.
Apa yang harus aku katakan tentang hal itu? Kyuhyun mengangkat bahu tanpa rasa bersalah.
"Semua itu bagian dari duniaku, Sungmin." Dia meremas tanganku dan melepaskan, menatap keluar jendela lagi.
Memang dunianya, dan aku ingin menjadi bagian dari dunianya, tapi menuruti syarat-sayaratnya? Aku tak tahu. Dia belum membahas perjanjian sialan itu.
Sebelum jam delapan Audi sudah memasuki halaman sebuah mansion bergaya kolonial.
Sangat mempesona, bahkan ada mawar yang mengelilingi pintu. Seperti Lukisan di buku yang sempurna.
"Apa kau siap untuk ini?" Tanya Kyuhyun saat Yesung berhenti di depan pintu depan yang mengesankan.
Aku mengangguk, dan dia menggenggam tanganku yang lain meremas meyakinkan. "Pertama kali untukku juga," bisiknya, lalu tersenyum jahil. "Taruhan saat ini kau ingin mengenakan pakaian dalammu," dia menggoda.
Mukaku memerah. Aku sudah lupa celana dalamku yang hilang. Untungnya, Yesung sudah keluar dari mobil dan membuka pintu untukku sehingga dia tak bisa mendengar komunikasi kami. Aku cemberut pada Kyuhyun yang menyeringai lebar saat aku berbalik dan keluar dari mobil.
Cho Heechul ada di ambang pintu menunggu kami. Dia tampak sangat anggun dengan gaun sutra biru pucat, di belakangnya aku menduga itu adalah ayah Kyuhyun, tinggi dan tampan.
"Sungmin, kau sudah bertemu dengan ibuku, Cho Heechul. Ini ayahku, Cho Hangeng."
"Tuan Cho Hangeng, menyenangkan sekali bertemu denganmu." Aku tersenyum dan menjabat tangannya.
"Aku juga senang bertemu denganmu, Sungmin."
"Sungmin, sangat menyenangkan bertemu denganmu lagi." Heechul melingkarkan lengannya dengan pelukan hangat. "Masuklah, Sayang."
"Apa dia sudah disini?" Aku mendengar suara jeritan dari dalam rumah. Aku melirik gugup pada Kyuhyun.
"Itu Taemin, adikku," katanya sepertinya agak gusar, tapi tidak.
Seperti ada rasa sayang yang terpendam dalam ucapannya, suaranya bertambah lembut dan matanya berkerut saat dia menyebutkan namanya.
Dan dia datang dari dalam. Dia seumuran denganku.
"Sungmin! Aku sudah mendengar banyak tentangmu." Dia memelukku keras.
Ya ampun. Aku tak bisa untuk tidak tersenyum melihat antusiasmenya yang menggebu. Dia menyeretku ke ruang depan yang luas. Semua lantainya terbuat dari kayu berwarna gelap dan tangga dilapisi karpet antik menuju lantai dua.
"Dia belum pernah mengajak gadis kerumah sebelumnya," kata Taemin, matanya gelap bersinar penuh kegembiraan.
Aku melihat sekilas Kyuhyun memutar matanya, dan aku mengangkat sebelah alis padanya. Dia menyempitkan matanya ke arahku.
"Taemin, tenanglah," Heechul menegurnya dengan lembut.
"Halo, Sayang," katanya sambil mencium kedua pipi Kyuhyun. Dia tersenyum ke arahnya dengan hangat, kemudian bersalaman dengan ayahnya.
Kami semua masuk ke ruang tamu. Taemin belum melepaskan tanganku. Eunhyuk dan Donghae saling berpelukan di sofa, memegang gelas wine. Eunhyuk langsung berdiri memelukku, dan Taemin akhirnya melepaskan tanganku.
"Hai, Minnie!" Dia tampak berseri-seri. "Kyuhyun." Dia mengangguk singkat padanya.
"Eunhyuk." Kyuhyun juga bersikap sama formalnya.
Aku mengerutkan kening di antara mereka. Donghae juga langsung memelukku dengan hangat. Ada apa ini, pekan memeluk Sungmin? Pertunjukan kasih sayang yang memukau. Aku hanya tak terbiasa. Kyuhyun berdiri di sisiku, melingkarkan lengannya di pinggangku, dia membentangkan jemarinya dan menarikku mendekat. Semua orang menatap kami.
Ini membuatku sangat gugup.
"Minum?" Sepertinya Ayah Kyuhyun berusaha mengembalikan rasa terkejutnya. "Prosecco?"
"Boleh," Kyuhyun dan aku berkata secara bersamaan.
Oh ... ini sangat aneh. Taemin mengatupkan tangannya.
"Kalian bahkan mengatakan hal yang sama. Aku yang akan mengambilkan minum untuk mereka." Dia segera berlari keluar ruangan.
Mukaku bertambah merah, dan melihat Eunhyuk duduk dengan Donghae, tiba-tiba aku berpikir bahwa alasan satu-satunya Kyuhyun mengajakku karena Eunhyuk ada di sini.
"Makan malam hampir siap," kata Heechul saat mengikuti Taemin keluar dari ruang tamu.
Kyuhyun mengerutkan kening saat dia menatap ke arahku.
"Duduklah," dia memerintah sambil menunjuk sofa mewah, dan aku mengikuti apa yang dikatakannya, dengan hati-hati menyilangkan kakiku. Dia duduk di sampingku tapi tak menyentuhku.
"Kami baru saja membicarakan tentang liburan, Sungmin," kata Hangeng ramah. "Donghae sudah memutuskan untuk ikut dengan Eunhyuk dan keluarganya ke Jeju selama seminggu."
Aku melirik Eunhyuk, dan dia menyeringai, matanya cerah dan melebar. Dia senang.
"Apa kau juga akan mengambil liburan setelah menyelesaikan pendidikan sarjanamu?" Tanya Hangeng.
"Aku berpikir akan pergi ke Ilsan selama beberapa hari," jawabku.
Kyuhyun tercengang, berkedip beberapa kali, ekspresinya tak terbaca. Oh sial. Aku belum menceritakan ini padanya.
"Ilsan?" Bisik Kyuhyun.
"Ibuku tinggal di sana, dan sudah lama aku belum melihatnya."
"Kapan kau akan pergi kesana?" Suaranya pelan.
"Besok malam."
Taemin melenggang kembali ke ruang tamu dan memberi kami gelas sampanye yang diisi dengan Prosecco warna merah muda.
"Untuk kesehatan kalian!" Hangeng mengangkat gelasnya. Kata-kata yang pantas dari suami seorang dokter, membuatku tersenyum.
"Berapa lama?" Tanya Kyuhyun, nada suaranya pura-pura lembut.
Ya ampun ... dia benar-benar marah.
"Aku belum tahu. Tergantung bagaimana hasil wawancaraku besok."
Dia mengatupkan rahangnya, dan Eunhyuk melihat dan wajahnya sangat mengganggu. Dia tersenyum manis dibuat-buat.
"Sungmin berhak untuk liburan," katanya tajam tertuju pada Kyuhyun. Mengapa dia begitu memusuhinya? Apa masalahnya?
"Kau punya panggilan wawancara?" Tanya Hangeng.
"Ya, untuk magang di dua penerbit, besok."
"Aku berharap yang terbaik untuk keberuntunganmu."
"Makan malam sudah siap di atas meja," Heechul mengumumkan.
Kami semua berdiri. Eunhyuk dan Donghae mengikuti Hangeng dan Taemin keluar dari ruangan. Aku bersiap mengikuti, tapi Kyuhyun mencengkeram sikuku, menahanku.
"Kapan kau bilang bahwa kau akan pergi?" Tanyanya mendesak. Nada suaranya lembut, tapi dia menutupi kemarahannya.
"Aku bukan meninggalkanmu, aku akan menemui ibuku, dan aku hanya berpikir tentang hal itu."
"Bagaimana dengan perjanjian kita?"
"Kita belum memiliki suatu perjanjian."
Dia menyempitkan matanya, kemudian dia seperti diingatkan sendiri. Melepaskan tanganku, dia memegang sikuku dan membawaku keluar dari ruang tamu.
"Pembicaraan ini belum berakhir," bisiknya mengancam saat kami memasuki ruang makan.
Aku memelototi dia.
Kami mengambil tempat duduk yang disediakan untuk kami. Hangeng di ujung meja, sementara aku duduk di sebelah kanannya, dan Kyuhyun duduk di sampingku. Hangeng meraih botol dan membuka anggur merah dan menawarkan Eunhyuk. Taemin mengambil tempat duduknya di samping Kyuhyun, dan meraih tangannya, meremas erat-erat. Kyuhyun tersenyum hangat padanya.
"Di mana oppa bertemu dengan Sungmin?" Tanya Taemin padanya.
"Dia mewawancaraiku untuk majalah mahasiswa."
"Dan Eunhyuk yang mengedit," aku menambahkan, berharap bisa mengalihkan pembicaraan tentang diriku.
Taemin beralih pada Eunhyuk, duduk berlawanan bersebelahan dengan Donghae, dan mereka mulai berbicara tentang majalah mahasiswa.
"Kau mau anggur, Sungmin?" Tanya Hangeng.
"Tentu." Aku tersenyum padanya. Hangeng berdiri untuk mengisi gelas yang kosong.
Aku mengintip ke arah Kyuhyun, dan dia menoleh padaku, kepalanya miring ke satu sisi.
"Apa?" Tanya dia.
"Tolong jangan marah padaku," bisikku.
"Aku tidak marah padamu."
Aku menatapnya. Dia mendesah.
"Ya, aku marah padamu." Dia menutup matanya sebentar.
"Apakah marah hingga telapak tanganmu berkedut?" Kataku gugup.
"Kalian bisik-bisik tentang apa?" Eunhyuk menyela.
Mukaku memerah.
"Hanya tentang perjalananku ke Ilsan," kataku dengan manis, berharap untuk meredakan permusuhan diantara mereka berdua.
Eunhyuk tersenyum, bersinar jahat di matanya.
"Bagaimana Siwon saat kau pergi ke bar dengan dia pada hari Jumat?"
Sialan, Eunhyuk. Aku melebarkan mata padanya. Apa yang dia lakukan? Dia membalas dengan melebarkan matanya ke arahku, dan aku menyadari dia berusaha membuat Kyuhyun cemburu. Betapa sedikit yang dia tahu. Aku pikir aku bisa lolos dengan masalah ini.
"Dia baik-baik saja," bisikku.
Kyuhyun membungkuk.
"Telapak tanganku berkedut marah," bisiknya. "Terutama sekarang." Nada suaranya tenang dan mematikan.
Oh tidak. Aku menggeliat.
Heechul muncul kembali membawa dua piring, diikuti dengan seorang wanita muda membawa nampan berisi piring.
Di luar ruang makan suara telepon rumah berbunyi.
"Permisi," Hangeng berdiri lagi dan keluar.
Tidak beberapa lama Hangeng kembali.
"Telepon untukmu, Sayang. Dari rumah sakit," Dia berkata pada Heechul.
"Silakan dimulai saja." Heechul tersenyum saat dia memberiku piring dan keluar ruangan.
Kami pun memulai acara makan malam.
Beberapa saat kemudian Heechul kembali, alisnya berkerut. Hangeng memiringkan kepalanya ke satu sisi ... seperti Kyuhyun.
"Semuanya baik-baik saja?"
"Kasus campak lagi," keluh Heechul.
"Oh tidak."
"Ya, anak-anak. Kasus keempat bulan ini. Jika saja orang-orang mau memberi vaksinasi anak-anak mereka." Dia menggeleng sedih, dan kemudian tersenyum. "Aku sangat senang anak-anak kita tak pernah mengalami itu. Mereka tak pernah mengalami sakit apa-apa yang lebih buruk dari pada cacar air, syukurlah. Yang terburuk Donghae," katanya sambil duduk, tersenyum sabar pada anaknya. Donghae mengernyit saat mengunyah dan menggeliat tak nyaman.
Taemin tertawa geli, dan Kyuhyun memutar matanya.
Hidangan pembukanya sangat lezat, dan aku berkonsentrasi pada makanan sementara Doghae, Hangeng, dan Kyuhyun bicara tentang bisbol. Kyuhyun tampaknya santai dan tenang berbicara dengan keluarganya.
Otakku bekerja keras. Sialan Eunhyuk, permainan apa yang dia mainkan? Apa Kyuhyun akan menghukumku? Aku gemetar memikirkan itu. Aku belum menandatangani kontrak. Mungkin aku tidak akan. Mungkin aku akan tinggal di Ilsan di mana dia tak bisa menghubungiku.
"Bagaimana dengan kepindahanmu ke apartemen yang baru, Sayang?" Tanya Heechul sopan.
Aku bersyukur atas pertanyaannya, mengalihkan perhatianku dari pikiran sumbangku, dan aku menceritakan tentang kepindahan kami.
Eunhyuk dan Taemin bersemangat membahas tentang Paris.
"Apa kau pernah ke Paris, Sungmin?" Taemin bertanya polos.
"Belum, tapi aku ingin sekali pergi kesana." Aku tahu aku satu-satunya di meja ini yang tak pernah meninggalkan daratan Korea Selatan.
"Kami berbulan madu di Paris." Heechul tersenyum pada Hangeng yang menyeringai ke arahnya.
Hampir memalukan untuk menyaksikan mereka.
Mereka jelas terlihat benar-benar saling mencintai, dan sesaat aku ingin tahu rasanya menjadi dewasa dengan kedua orang tua yang baik ada di sana.
"Kota yang indah," Taemin setuju. "Terlepas dari penduduk kota Paris. Kyuhyun oppa, kau harus mengajak Sungmin ke Paris," Taemin menyatakan dengan tegas.
"Aku pikir Sungmin lebih suka London," kata Kyuhyun pelan.
Oh ... dia mengingatnya. Dia menempatkan tangannya di lututku, jarinya mengelus bergerak keatas pahaku. Seluruh tubuhku mengencang dan merespon. Tidak ... jangan di sini, jangan sekarang.
Mukaku memerah dan bergeser, mencoba menarik diri darinya. Tangannya mencengkeram di atas pahaku, menenangkanku. Aku meraih anggur, dalam keadaan putus asa.
Dan sialnya, aku tersedak anggurku.
"Sungmin, apa kau baik-baik saja?" Tanya Kyuhyun sopan, tangannya diangkat dari pahaku.
Humor terdengar kembali dalam nada suaranya. Oh syukurlah. Ketika Aku mengangguk, dia menepuk punggungku dengan lembut, dan tangannya berhenti saat dia tahu aku sudah pulih.
Percakapan mengalir dengan bebas di antara keluarga Cho, hangat dan peduli, lembut menggoda satu sama lain.
Kyuhyun mengintip ke arahku dan mengangkat tangannya untuk menarik daguku. "Jangan menggigit bibirmu," bisiknya parau. "Aku ingin melakukan itu."
Heechul dan Taemin membersihkan gelas makanan penutup kami dan masuk ke dapur, sementara Hangeng, Eunhyuk, dan Donghae membahas manfaat dari panel surya. Kyuhyun pura-pura tertarik dengan percakapan mereka, meletakkan tangannya sekali lagi di lututku, dan jarinya meraba naik keatas pahaku.
Napasku tersentak, dan aku menekan kedua pahaku bersama-sama supaya bisa menghentikannya. Aku bisa melihat dia menyeringai.
"Apa kau mau jika aku mengajakmu berkeliling sekitar rumah?" dia bertanya padaku secara terbuka.
Aku tahu, aku disuruh mengatakan ya, tapi aku tak percaya padanya. Sebelum aku bisa menjawab, rupanya dia langsung berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Aku menggenggam tangannya, dan aku merasa semua otot mengepal jauh di dalam perutku, bereaksi terhadap tatapannya yang gelap dan lapar.
"Permisi," kataku kepada Hangeng dan mengikuti Kyuhyun keluar dari ruang makan.
Dia memimpinku melewati lorong dan masuk ke dapur di mana Taemin dan Heechul yang sedang memasukkan peralatan makan kemesin cuci piring.
"Aku akan menunjukkan Sungmin halaman belakang," kata Kyuhyun polos kepada ibunya.
Heechul melambaikan tangannya tanda keluar pada kita dengan senyum saat Taemin kembali ke ruang makan.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
