BECAUSE YOU ARE MINE

—BETH CERY—

Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.

KIM JONGIN—OH SEHUN

It's HUNKAI.

Previous

"Semakin aku bisa menyelesaikannya di sini dan di pesawat—semakin baik aku bisa secara total fokus padamu saat kita ada di sana."

"Tentu saja," Jongin meyakinkan, sedikit terkejut oleh begitu cepatnya Sehun mengubah topik pembicaraan.

Jongin tidak keberatan Sehun bekerja. Dia suka melihat Sehun sementara sebagian dirinya yang hebat berpusat di tempat lain.

Sehun memakai kacamata?

.

.

.

BAB 20

Jongin melihat Sehun memakai sepasang lensa mengkilap, lensa yang bergaya. Jari tangannya meluncur cukup cepat di atas keyboard yang sanggup membuat asisten administrasi yang paling pandai menjadi iri. Aneh... memikirkan tangan Sehun yang lebar, maskulin bisa bergerak begitu cekatan dan teliti.

Sehun akan menggunakan tangan itu untuk bercinta dengannya dalam waktu dekat. Jongin tidak bisa mempercayainya. Pria pertama yang bercinta dengannya adalah Oh Sehun.

Sensasi yang hebat dan hangat turun di pinggang terbawah dan organ kewanitaannya. Jonhin meneguk minuman soda dinginnya dan memaksakan dirinya menatap keluar jendela. Begitu banyak pertanyaan berdengung di kepalanya. Saat mereka melewati jalan layang dan beberapa mil menuju ke Indiana, Jongin tidak bisa menahannya lebih lama lagi.

"Sehun, kemana kita pergi?"

Sehun mengerjap dan menatapnya, memberi kesan padanya bahwa Sehun seakan baru saja tersadar dari konsentrasinya. Sehun menatap keluar jendela.

"Ke bandara kecil di mana aku menyimpan pesawatku. Kita hampir sampai di sana" Kata Sehun, mengetik beberapa tombol di komputernya dan menutup monitor.

"Kau punya pesawat?"

"Ya, aku sering berpergian, kadang terburu-buru. Pesawat mutlak dibutuhkan."

Tentu saja, pikir Jongin. Sehun tidak pernah puas menunggu untuk apapun.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu malam ini di Paris," Kata Sehun.

"Apa?"

"Kejutan," katanya, bibir indahnya membentuk senyum kecil.

"Aku tidak terlalu suka kejutan," kata Jongin, tak bisa menjauhkan pandangannya pada mulut Sehun.

"Kau akan menyukai yang satu ini."

Jongin menatap ke mata Sehun dan melihat kilau kegembiraan di sana, bersamaan dengan sesuatu yang lain... bara berwarna hitam dan putih. Jongin merasa pernyataan terus terang Sehun tentang hasratnya tak terbantahkan.

Seperti biasanya.

Beberapa menit kemudian, Jongin menatap keluar jendela, mulutnya terbuka. "Sehun, apa yang kita lakukan?" dia berseru saat Ravi membawa mereka ke landasan.

"Mengemudi masuk ke dalam pesawat."

Mereka masuk ke dalam jet mengkilap yang ada di landasan bandara kecil itu. Jongin merasa seperti Jonah yang tertelan ke dalam perut ikan paus. "Aku tidak tahu kau bisa melakukannya."

Jongin menatap Sehun—kebingungan—saat Sehun tertawa kecil, suara kasar yang menyebabkan kulit di belakang leher dan sepanjang lengan Jonhin meremang dengan waspada. Sehun meraih tangan Jongin diseberang meja dan menariknya duduk disamping Sehun. Sehun meletakkan tangannya di rahang Jongin, mengangkatnya, menyapu bibir Jongin dengan bibirnya, menyelipkan bibir bawahnya pada milik Jongin, menggigitnya. Sehun memasukkan lidahnya ke mulut Jongin dan mengerang, ciuman membujuknya berubah menjadi ciuman yang rakus.

Sehun mengangkat kepala Jongin saat mendengar Ravi membanting pintu. Mobil pun berhenti. Jongin menatap Sehun—hampir pingsan oleh ciumannya yang tak terduga.

Sehun bersandar dan meraih tasnya bersamaan saat Ravi mengetuk dan membuka pintu. Jongin mengikuti Sehun keluar dari mobil—merasa linglung, bahagia dan benar-benar bergairah.

Pesawat jet itu tidak seperti apapun yang pernah ia lihat. Mereka naik lift ke lantai dua dan masuk kompartemen yang mewah dengan wet bar, penuh perlengkapan hiburan, beberapa rak, sofa kulit permanen, dan empat kursi bersandaran lebar yang mewah. Gorden mahal menutupi jendela. Jongin tidak pernah menduga sekalipun bahwa dia berada di dalam pesawat.

Jongin mengikuti Sehun ke dalam kompartemen, Sehun menggenggam tangannya.

"Kau ingin sesuatu untuk diminum?" Sehun bertanya sopan.

"Tidak, terima kasih."

Sehun memilih sepasang kursi malas yang saling berhadapan, sebuah meja berada di antaranya.

"Duduk di sana." kata Sehun, mengangguk pada kursi yang tersisa. "Di sana ada kamar tidur, tapi aku lebih suka kau istirahat di sini. Kursinya bisa diluruskan sepenuhnya dan ada selimut dan bantal di laci," Sehun berkata menunjuk pada rak dari kayu mahoni yang berkilat di pusat hiburan.

"Ada kamar tidur?" Jongin bertanya, merasa gelombang rasa malu oleh kata-kata yang baru saja ia ucapkan.

Sehun duduk di kursinya, seketika menarik komputernya dan beberapa file dari tasnya. "Ya," Sehun bergumam, menatap ke arah Jongin. "Tapi aku lebih suka jika kau tidur, sementara aku bisa melihatmu. Kau bebas menggunakan kamar tidur, jika kau ingin. Ada di sana." dia berkata, menunjuk pintu mahoni. "Dan juga kamar mandi, jika kau membutuhkannya."

Jongin berbalik sehingga Sehun tidak menyadari reaksi terkejutnya pada kata-kata Sehun. Jongin kembali beberapa saat kemudian membawa selimut lembut dan bantal yang dia ambil dari laci. Sehun tidak berkata apa-apa, tapi Jongin menyadari pria itu tersenyum kecil sementara dia menatap komputernya.

Jongin duduk dan mempelajari kontrol panel elektronik di lengan kursi panjangnya, berpikir bagaimana cara mengatur sandaran kursinya. Ia akhirnya dapat melakukannya.

"Oh, dan Jongin?" Sehun bertanya, tidak mengalihkan pandangan dari komputernya.

"Ya?" Tanya Jongin, mengangkat tangannya dari tombol kontrol.

"Tolong, lepaskan pakaianmu."

Selama beberapa detik, Jongin hanya bisa terbelalak. Detak jantungnya mulai berdenggung di telinganya. Mungkin Sehun menyadari keterkejutannya, karena Sehun menatapnya, ekspresinya tenang. Berharap.

"Kau bisa memakai selimut saat kau tidur," Kata Sehun.

"Lalu kenapa kau ingin aku melepas bajuku, jika aku akan menutup tubuhku?" sembur Jongin, kebingungan.

"Aku ingin kau siap untukku."

Cairan hangat mengalir ke organ kewanitaannya. Oh Tuhan bantu dia. Jongin pasti sudah jadi orang yang menyimpang secara seksual seperti halnya Sehun, untuk meresponnya secara sepenuhnya hanya oleh beberapa kata.

Dengan perlahan Jongin bangkit dengan lutut gemetar dan mulai melucuti pakaiannya.

.

.

.

Sehun memencet tombol kirim di komputernya, memperbesar detil memo untuk staf seniornya. Untuk kelima puluh kalinya dalam waktu lima menit, tatapannya menelusuri sepanjang garis feminin yang meringkuk di bawah selimut. Meskipun hanya gerakan kecil naik dan turun dari selimutnya mengatakan padanya bahwa Jongin tertidur nyenyak. Sehun dapat menduga dengan tepat bahwa Jongin akhirnya tertidur lelap kira-kira lima jam yang lalu. Sehun menyadari kehadirannya. Jika Sehun kesulitan berkonsentrasi—jika dirinya menderita—Sehun tidak bisa menyalahkan siapapun melainkan dirinya sendiri. Sehun sendiri yang meminta Jongin melepas pakaiannya.

Sehun duduk dan menatap, terhipnotis saat Jongin melepaskan satu demi satu pakaiannya, sementara mulutnya mengering dan detak jantungnya mulai berdenyut di sepanjang batang ereksinya.

Setiap kali Sehun mengingat tatapan menunduk dan pipi merah muda Jongin, rambut panjangnya—rambut yang mengagumkan yang berdesir di pinggang rampingnya—payudara telanjangnya yang padat dan lezat, puting yang penuh, kaki yang bisa membuat para pria meratap begitu lama, bentuknya indah dan gemulai—dan yang paling tak tertahankan dari itu semua—adalah rambut keemasan yang terlihat lembut berwarna merah berada diantara kedua kakinya, jumlahnya cukup jarang sehingga Sehun bisa melihat dengan jelas labia yang ranum dan belahannya, darah mulai memompa dengan panas ke ereksinya. Karena Sehun memikirkan tentang hal itu terus-menerus, dia mengalami ereksi selama lebih dari lima jam terakhir.

Akan sangat menyiksa jika sampai ia tidak menyentuh Jongin malam ini, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadikan pengalaman ini seistimewa mungkin untuk Jongin. Siksaan yang lebih buruk adalah ketika dapat menyentuhnya namun tidak bisa mendapatkannya. Sehun melepas kacamatanya dan berdiri.

Ini akan menjadi siksaan yang lezat. Dan Sehun sudah terbiasa menderita.

Sehun membungkuk disamping kursi Jongin. Jongin terbaring miring, menghadap Sehun, wajahnya tenang dan manis dalam tidurnya.

Bibir Jongin berwarna lebih gelap dari biasanya yang berwarna merah muda. Ereksinya menggeliat dari balik celana boxernya.

Apakah mungkin Jongin bisa bergairah saat tertidur?

Sehun memegang selimut di pundak Jongin dan dengan lembut serta perlahan menurunkan selimut sampai kelututnya, keindahan menggiurkan sepenuhnya terpampang di depannya. Sehun tersenyum sendiri saat dia melihat puting Jongin, ternyata, meruncing dan keras.

Perjalanan erotis macam apa yang dialami seorang yang polos seperti Jongin dalam tidurnya? Tatapan Sehun berkedip dan tertuju pada paha Jongin yang langsing, rambut pirang strawberry diantara paha mulusnya. Cairan apakah yang berkilau di lipatan celahnya? Tentu saja itu hanya khayalan Sehun… pikiran mengada-ada setelah beberapa jam tersiksa oleh gairah.

Sehun melebarkan tangannya di sekitar permukaan lembut dari perut ramping Jongin. Jongin bilang dia kelebihan berat badan saat kecil, tapi Sehun tidak melihat bukti akan hal itu. Kehilangan berat badan pada masa anak-anak pasti menyelamatkannya dari stretch mark.

Kulitnya terlihat mulus. Jongin bergeser pelan dalam tidurnya, wajahnya mengencang sebentar, sebelum ia mendesah dan tenggelam kembali dalam tidurnya. Tangan Sehun turun di sepanjang kulit hangatnya, kulit satinnya. Sehun menyentuh, meluncurkan tangannya pada rambut suteranya, meraba diantara bibir kewanitaan yang telah menghantuinya malam demi malam.

Sehun mendengus dalam kepuasan. Ini tidak seperti yang dia bayangkan. Cairan kewanitaannya melapisi jari Sehun. Sehun bergerak, mencari klitorisnya, menggoda Jongin dengan ujung jarinya, memanggil Jongin untuknya dari alam mimpinya. Sehun meletakkan tangannya sesaat di luar vagina Jongin, gairah menikam ereksinya. Vagina itu hangat, basah dan celah yang sempurna.

Tatapannya mengarah ke wajah Jongin saat Jongin membuka matanya.

TBC

geserㅋㅋㅋ