Title : (Bad) Blood #20 [Masa lalu]
authornim : innochanuw
disc : warn!boyxboy! boyslove! violet-word-and-action? FRIENDSHIP!? FAMILY!? Fantasy!FIGHT! Drama?! Rate-up?! –plis the plot is mine, the characters are belongs to their family and agency. DON'T LIKE DON'T READ~!
Cast : all ikon's members, pair: brothercomplex, double b rasa bobyun/? mau bikin baper friendhship tapi gagal:(
.
.
First of all, jung gak pernah bikin inovasi sendiri atau ide tiba-tiba nongol saat nulis. Justru semakin rame ff jung, semakin cerita di baliknya juga gak kalah besar.
Terimakasih buat kak Liana atas Homo Homini Lupus baik prolog orang tua mereka atau zaman anak-anaknya dan hgks11 atas FF Targetnya (gak tau namanya karena gak sempet interaksi:") Tanpa kalian, aing teh gak tau apa-apa soal vampir, serigala, feelnya, dkk:")
Terimakasih juga ff Gone Not Around (ketahuan banget mantan anak mana) dari kak Astri (tolong notice saya:") yang membangun feel buat segala macam ff. Makasih juga buat ff dengan efek melayang-layang lain yang saking banyaknya lupa judulnya apa aja:" make my mood sekali:"
.
.
"Dimana?"
Pergerakkan hidung besar seorang pemuda berhenti saat mendekati sebuah semak-semak.
Saat itu pula, semak-semak tersebut bergerak.
"Disana."
Pemuda yang berada di belakang pemuda berhidung besar itu segera merengsak maju ke depan untuk memastikan keadaan.
Begini-begini mereka hampir di daerah perbatasan bukan?
"Yunhyeong!"
Merasa namanya dipanggil, pemuda yang dicari-cari tersbut –Yunhyeong segera bangkit dari posisi telentangnya di belakang semak-semak tepat saat sepasang mata besarnya terbelak lalu mengambil ancang-an-
"A-argh!"
Duak!
"Kau gila ya?!" Jiwon segera memanfaatkan kesempatan atas kelengahan seorang Song Yunhyeong dengan mendorong bahunya sampai terjatuh.
"Kau mau lari setelah terlempar beberapa puluh meter? Mau menyusul mereka? Kau harusnya beruntung tulangmu tidak ada yang remuk!"
Yunhyeong tertegun sejenak, baru menyadari dua orang yang membelakangi cahay bulan ini adalah Jiwon dan Hanbin bukan Chanwoo dengan apalah.
"Jiwon," Giginya agak bergemelutuk pelan. "Perlu kau ketahui aku ini bukan-"
"Manusia? Atau rubah? Iya, kau vampir dan witch, aku tau."
"Ji-Jiwon..."
"Ssstt!" Hanbin berdecih pelan saat telapak tangan Jiwon jatuhnya seperti menampar wajahnya saking cepatnya.
'Kan dia tidak tau apa-apa disini.
"Siapa suruh pingsan."
Tak perlu waktu lama untuk mendengar perdebatan tak penting mereka.
Yunhyeong meringis pelan. Sekarang semua orang tau jati dirinya, agak tabu sih karena pemuda Song ini kan tidak mau ada yang tau betapa anehnya dia tetapi ternyata realitanya tidak seperti yang ia bayangkan –dia pikir manusia-manusia yang terpaksa seperti hewan ini tidak akan mengerti. Ia kira semua manusia sama saja –karena yang bukan manusia saja masih tak suka melihatnya apalagi yang manusia.
Apa tiap manusia itu berbeda semua sudut pandanganya?
"Kau seharusnya bersama Jinhwan hyung sekarang."
"Jinhwan hyung langsung memaksaku untuk mengantarkannya kepada Chanwoo," Hanbin menghela napas sejenak. "Kurasa karena perasaannya tidak enak. Tau kan betapa pekanya seekor kucing. Dia ingin menghentikan Chanwoo yang sepertinya siap kapan saja menyerang kedua vampir itu di bawah cahaya bulan."
"Chanwoo sudah sampai sana?"
Jiwon mengangguk polos seakan-akan itu bukanlah perkara besar.
Seketika Yunhyeong mendongakkan kepalanya.
Bulan hampir purnama.
Bulan purnama disaat ada dua vampir dan shapeshifer yang bisa ngamuk kapan saja? Bagaimana dengan mama dan pasukkannya?
Aku harus segera kesana.
"Kau benar-benar harus bersyukur karena tulangmu tidak patah," Yunhyeong menoleh dan mendapati tatapan dingin dari sorot mata Jiwon.
"Kalau kau kesana, bukan hanya tulang remuk saja tetapi ada yang mati."
Yunhyeong tersenyum miris sementara kedua tangannya terkepal erat, mengahancurkan rumput-rumput yang berada di bawah telapak tangannya.
"Lalu apa gunanya aku? Disaat seperti ini kekuataan berlebihanku akan berguna bukan? apa gunanya mama dan ayah terpaksa bersatu kalau bukan untuk menghasilkan senjata sepertiku? Senjata yang bisa saja salah berpihak?"
"Kau ada untuk senjata perdamaian. Mana mungkin kaum vampir mau melawan witch kalau ratu mereka juga witch dan anak raja juga berdarah witch? Witch juga tidak mau menyerang karena ada keturunan mereka di dalam keluarga kerajaan vampir. Kau lahir bukan karena keterpaksaan mama dan ayahmu."
Disaat-saat seperti ini harusnya ada standing applause untuk perkataan bijak dari seorang Kim Jiwon namun Yunhyeong tak yakin akan kebenaran kata-katanya.
Aku saja tidak tau mengapa aku bisa seperti ini. Aku yang anaknya sendiri saja tidak tau.
"Apapun yang terjadi aku akan kesana bukan karena aku vampir sekaligus witch tetapi karena yang bertarung adalah orang-orang terpenting dalam hidupku," sahutnya muram. Jiwon dengan perkataannya adalha pertanda bahwa ia sedang serius, otomatis tidak akan bisa dilawan. Lagipula penyelesaian masalah harus dengan perasaan tenang dan kepala dingin, kalau masih seperti tadi, bukannya menolong bisa-bisa dirinya akan terus terlempar dna melihatnya terlempar bisa menyulut keadaan.
Baik Jiwon dan Hanbin mengulas senyum. Setidaknya Yunhyeong tidak keras kepala.
"Donghyuk dan Jinhwan sih bilang jangan sampai kau mendekat," Hanbin yang bersuara. Rantai panjang yang tangan kanannya genggam mulai berputar-putar. "Tapi kau ada hak untuk mendekat. Yang pasti mereka jangan sampai terbunuh bukan? Kalau begitu, kami-"
"-ikut, tentu saja," potong Jiwon mantap.
Yunhyeong terbelak. "Kalian tidak waras ya? Ini pertempuran bukan manusia! Dan keluar dari sini kalian menjadi manusia lagi! Yang bukan manusia disini saja bisa tewas apalagi-"
"Tiga lebih baik dari satu kan?" Jiwon terkekeh. "Lagipula kau lupa apa wujud kami berdua? Anjing dan kelinci, sama sekali tak dapat diandalkan kekuataan hewannya. Memangnya selama ini kami bertahan hidup dengan hanya mengandalkan setengah jiwa hewan kami?"
"Apapun yang terjadi kami ikut," tambah Hanbin tak kalah mantap. "Kalau kau kesana demi kakakmu, kami juga datang demi Jun."
Jiwon mengedipkan sebelah matanya sebelum mengangkat jari jempolnya.
"Ingat saja, kau ini tidak sendirian oke?"
Yunhyeong menatap tak percaya keduanya secara bergantian.
Dimana-mana semua orang akan kabur untuk mencari aman, dengan egoisnya manusia menghindar agar tetap hidup tapi kalian...kenapa mengorbankan diri? Padahal Junhoe jelas hanya memanfaatkan kalian untuk mempertahankan dunianya, aku juga tidak menganggap kalian teman atau sahabatku.
Manusia...benar-benar aneh, terlalu beragam jenisnya.
.
.
.
Kuku panjang Junhoe nyaris menggapai dadanya namun Joongki sudah lebih dahulu menggapai lengannya dan membanting Junhoe keras.
"A-argh!"
Joongki tersenyum remeh. "Sakit?" sepatu kulitnya ia tekan kuat-kuat di atas dada Junhoe. Junhoe kembali mengerang dan memejamkan matanya erat.
Tahan emosimu. Jangan biarkan jiwa vampir sialan itu berkuasa.
"Aku belajar berkelahi secara terhormat di istana."
Duak!
"Aku mengerti cara menggunakan senjata apapun."
Duak!
"Setelah aku keluar, semua benda dapat kujadikan senjata dan banyak praktik berkelahi yang sebenarnya jauh dari kata terhormat."
Junhoe terbatuk keras saat kaki Joongki menendang perutnya.
"Dan kau masih berani menantangku si penguasa jalan untuk berkelahi huh?"
"Aku tidak menantangmu," Junhoe memberanikan diri untuk membuka suara. "Bahkan aku tidak melawan, aku...tidak suka berkelahi."
Apa tadi? Apa seorang Song Joongki salah dengar? Goo Junhoe yang dahulu rela mengambil nyawa siapapun tanpa pandang bulu asalkan tujuannya tercapai itu tak suka berkelahi?
"Oh astaga," Joongki terkekeh pelan sebelum menendang kembali tubuh Junhoe agar ia bergeser sedikit. Tak lupa pula ia bertepuk tangan keras-keras. "Lucu sekali medengarnya tetapi kau ada benarnya juga. Kau tidak bisa dan tidak perlu berkelahi karena kau vampir," pemuda Song tersebut mengulas senyum miring. "Kau tidak memerlukannya karena aman berada di dunia kuasa sahabat ayahmu itu, seorang serigala! Kau tidak memerlukannya karena kau selalu berada di zona amanmu, berlindung di balik kuasa kerajaan yang seharusnya tak pantas kau dapatkan!"
Senyumya ssemakin lebar. "Haruskah kita mulai bertarung layaknya seorang vampir? Dengan cara vampir huh?"
Tetap tahan, Goo Junhoe. meskipun kalian sudah lama tak bertemu, Joongki hyung tidak aka semudah itu membunuh orang.
"Aku uhuk! Tidak tau alasan mengapa kau memukuliku," ujar Junhoe pelan. Ia meringkuk sejenak untuk mengurangi rasa sakit tetapi ujung sepatu Joongki yang tajam seakan-akan mengoyak pinggangnya yang ternyata sengaja diinjak.
"Kau masih bertanya apa alasannya?" Joongki semakin menekan kakinya sebelum ia mendengus kasar. "Hah! Benar apa alasannya ya? apalagi kalau bukan karena aku tidak mau kau naik tahta?! Kau pikir kau cukup pantas huh?"
"Aku tidak tertarik," Pemuda Goo ini tersenyum kecut. "Tanpa menjadi raja saja aku sudah bengis jadi aku sama sekali tak memerlukan posisi raja untuk menjadi bengis."
"Oh~ Rupanya alasan mengapa kau kabur kesini karena penyesalan waktu itu ya?" Joongki tertawa keras sebelum menatap Junhoe nyalang. "Bicara saja pada dinding! Kau piki aku akan percaya?!"
Junhoe hanya terkekeh saat kerah jubahnya ditarik dan posisinya sudah beberapa centi di atas tanah.
"Kau masih mengharapkan posisi itu," ucapnya yang jelas berupa pernyataan. "Kalau begitu kenapa tidak kemba-"
"Kau sendiri kalau tidak berminat mengapa mendekati adikku?!"
Junhoe sama sekali tak merasa takut. Ia memang tidak sekuat Joongki –ya benar, Junhoe ahli dalam perkelahian tanpa atau adanya senjata tetapi pengalaman di medan sesungguhnya tak sebanyak Joongki tetapi itu tidak cukup membuatnya takut.
Joongki akhirnya menyerah menjadi calon raja karena kelemahannya adalah keluarga dan kekasih manusianya itu jelas Junhoe tidak takut padanya.
Tak pernah ada yang membuatnya takut, itulah penyebab mengapa dirinya yang sesungguhnya lemah ini terlihat sangat kuat dan tak ada celahnya, membuatnya seperti di atas angin dan selalu berlagak sombong.
Karena tidak ada yang tahu bahwa Junhoe takut kepada hal yang tidak terpikirkan oleh siapapun.
Di hari dimana ia memutuskan untuk bekerja sama dengan Chanwoo, di hari itu pula Junhoe menemukan ketakutannya dan tertampar kuat-kuat oleh kenyataan tersebut.
"Jadi alasanmu menyerang sebenarnya bukan karena 'sialan kau merebut posisi yang sudah kupersiapkan seumur hidup!' atau 'aku akan mempermudah jalan adikku untuk menjadi raja' tetapi karena 'kau pasti menang karena lawanmu ternyata jatuh cinta padamu' begitu? Karena alasan tidak profesional yaitu hubungan darah? Ya ampun," Junhoe mendesis keras dan saat itulah lehernya terasa tercekik.
"Benar kata bawahan ayahku, kau sama sekali tak pantas menjadi raja karena rasa manusiawimu itu. kalau kau mau menang seharusnya kau singkirkan aku dan adikmu itu bukannya mengasuhnya," bahunya terangkat tanpa penuh beban sebelum ia menggigit kuat-kuat bibir bawahnya –menahan rasa panas di tenggorokkannya. "Aku juga tidak tau kalau dia itu adikmu, hakku untuk mendekati siapa saja dong? Ah...atau kau sebenarnya mundur lebih dahulu karena tau kekuataan adikmu itu lebih kuat padahal ia sama sekali tak berusaha?"
Joongki diam dan Junhoe mendengus keras.
"Diam berarti ya."
Bugh!
Seketika pipi kanannya terasa kebas begitu bogem mentah tersebut mengarah ke arah pipinya.
Junhoe tertawa puas di dalam hati saat bibir Joongki mendekati daun telinganya.
"Jangan bawa-bawa Song Yunhyeong kesini!" desisnya penuh ancaman. "Dia tidak tau apapun!"
"Kau masih ambisius dengan posisi raja tetapi tidak kuasa membunuh adikmu karena alasan sedarah," Junhoe tertawa sinis. "Tetapi justru berubah sok menjadi kakak yang jahat demi membuatnya menjadi lebih kuat bukan? padahal kau tidak yakin dia mampu memimpin kerajaan sekalipun berubah menjadi kuat karena selamanya kau berpikir dia akan tetap lemah dan memang begitu kenyataannya."
"Lalu untuk apa kau mengajarinya kalau dia tidak akan pernah kau biarkan naik tahta huh?"
Joongki lengah dan Junhoe menggunakannya untuk melepaskan diri.
Yah meskipun caranya sama sekali tidak jantan.
"Shh! Sialan!"
Junhoe tertawa mengejek saat melihat darah mengucur dari kedua lengan Joongki yang sempat ia cakar.
"Goo Junhoe! Song Joongki! Karena ini masih daerah teritorialku, aku tidak akan segan-segan memanggil seluruh pasukan serigala kemari jika kalian masih membuat keributan!"
Tetapi seketika iris matanya menggelap.
Sama seperti Junhoe, Chanwoo tidak suka memakai cara kekerasaan. Jika serigala sampai turun tangan maka di dunia manusia akan terciptalah perang dunia yang baru. Belum lagi urusan dengan mama Song yang beruntungnya belum muncul juga.
Junhoe tidak takut dengan ancaman tersebut –bagaimanapun Chanwoo tidak sepenuhnya berpihak padanya, dia berpihak dimana tak ada pertumpahan darah disana– jadi jelas alasan iris matanya berubah warna bukan karena itu.
Tetapi karena bau tubuh Yunhyeong semakin mendekat.
Junhoe tidak bodoh untuk tidak membayangkan apa kejadian selanjutnya jika Yunhyeong sampai terlebih dahulu tanpa ada salah satu dari mereka terluka.
Dengan pengendalian emosi Joongki yang memburuk akibat hidup di luar istana, tidak menutup kemungkinan Yunhyeong akan terluka.
Jika dirinya yang terluka, Joongki dan mamanya akan semakin mudah untuk membawanya kembali dan menjauhkan mereka berdua. Mereka bisa saja lupa satu sama lain jika sudah berada di dunia manusia.
Atau justru sebaliknya, Joongki akan terluka dan Yunhyeong akan berpihak padanya. Belum lagi nanti mamanya. Lalu ayahnya yang bisa berpihak kepada Joongki dan memutuskan untuk tidak membiarkan keduanya bertemu.
Ending keduanya adalah sama; mereka tidak akan bertemu. Separuh dirinya menginginkan hal tersebut terjadi demi keselamatan Yunhyeong sementara separuh dirinya yang lain menolak mentah-mentah –tetap kekeuh untuk tak bertarung atau bertarung tetapi tak ada yang terluka dan masih memiliki Yunhyeong disisinya (hal yang tidak mungkin terjadi tanpa pertumpahan darah disini).
Memikirkannya saja sudah sakit.
Jadi satu-satunya cara hanya tinggal ini.
"Aku tidak mau menjadi pihak yang harus menyadarkanmu terus bahwa kau harus menghentikan tindakkan brothercompleks-mu itu. kalau mau naik tahta, naik saja seperti dia mau saja. Tidak usah memikirkan sihirnya akan terkunci dan ingatannya tentang pernah belajar sihir hilang akibat menolak menjadi calon raja karena memang seharusnya sihir itu tetap terkunci," Seiringan dengan puluhan kata keluar dari bibirnya, kukunya semakin lama semakin memanjang.
"Tapi kalau mau bertarung, baiklah. Kau pikir yang mendekati duluan itu siapa?" Bibirnya mengulas senyum kembali. "Adikmu, kau pikir aku mau-mau saja dekat dengannya yang jenisnya tidak jelas begitu?"
'-ya, aku tidak mau dekat-dekat dengannya karena aku tidak mau dia terluka'
"-kalau aku mau memenangkan hati para dewan, bukan dengan cara seperti itu. Bodoh namanya."
Baunya semakin menguat sialan.
"O-oh? Ada angin apa akhirnya kau berubah pikiran heh?" Joongki mulai mengabaikan luka di lengannya yang perlahan-lahan tertutup itu. Lehernya ia gerakkan ke kanan-kiri sampai menimbulkan bunyi. Bahu dan lengannya juga sempat ia putar untuk sekedar pemanasan kecil.
"Apa itu karena-"
Deg!
Junhoe tidak bisa menutupi ekspresi muramnya saat melihat wajah Joongki perlahan memucat.
"Kau bisa merasakannya kan? Aku memang malas menyadarkanmu untuk tidak menganggap Yunhyeong seperti anak berumur 5 tahun tetapi aku tidak malas untuk tidak menjelaskannya fakta sebenarnya kepadamu."
Joongki mendongakkan kepalanya, menatap horror ke arah Junhoe yang sudah terlebih dahulu menatapnya.
"Aku naksir pada adikmu tetapi vampir tidak pernah bisa dipercayai bukan? Kau tidak akan tahu kapan rasa haus tersebut menggerogoti dirimu dan tidak tau bisa menahan sampai kapan...," Ia tersenyum miris. "Semua orang tidak mau masalah dulu terjadi lagi dan aku tidak mau juga menghisap darah orang yang kukasih sampai mati lagi jadi..."
"...Bisakah aku memohon padamu untuk membunuhku saja? Karena kalau hanya sekedar salah satu dari kita terluka parah, aku akan tetap bisa melihat Yunhyeong dan tetap akan dijauhkan darinya. Bisakah?"
Buak!
Sebuah bogem mentah melayang di wajah kiri Junhoe, membuatnya kembali terpental jatuh ke pohon yang sebelumnya sudah ia hantam tersebut. Junhoe yang tidak siap akan serangan tiba-tiba tersebut hanya bisa melempar tatapan bengis ke arah Joongki, pelaku utamanya.
"Kau bilang tadi apa? Menyuruhku membunuhmu bukan? baik! Akan kulakukan dengan senang hati!"
Junhoe meludah ke samping. Mulutnya sudah terlalu penuh darah. Pukulan atau tendangan Joongki tidak seberapa tetapi titik sasarannya selalu tepat; ulu hati, jantung, perut, semuanya sama-sama menimbulkan batuk darah.
Tubuhnya menggelinjang sebentar sebelum posisi telentangnya berubah menjadi tengkurap dan suara geraman sudah berada di ujung lidahnya.
Sialan, kalau begini terus caranya...aku akan...
.
.
.
"JANGANN!"
Duk!
"Hyung!" Hanbin yang pertama kali bergerak dengan cara menahan punggung Yunhyeong yang tadi berteriak secara tiba-tiba dan jatuh terduduk.
"Kau kenapa? Gwaechana?"
"Ada apa? Apa kau baru saja berpikir yang buruk?"
"Ha-harus..." Airmatanya mengalir deras namun tak ada sedikit keinginan untuk menghapusnya.
"..itu sedang terjadi...Joongki hyung dan Junhoe..."
Bagaimana dirinya tidak terserang shock begitu melihat suatu kilasan balik? Apalagi ini menyangkut...menyangkut...
"Apa apa?"
Yunhyeong memejamkan kedua matanya.
Kalau sampai ada kilasan seperti itu...mungkin itu dari Joongki hyung karena kami masih bisa berkomunikasi secara telepati sebab hubungan darah tetapi membaca pikiran Junhoe...apa mungkin aku dan dia...
"Aku sudah mengatakan bunuh saja aku! Dengan menyulut emosi seperti ini, tidak akan ada yang mati cepat!"
Suara kekehan mulai terdengar.
"Oh kau mulai tersulut emosi? Ah~Aku jadi ingin melihat emosimu kembali, membabi buta seperti dulu eh? Bukankah mempermainkan emosi terlebih dahulu lebih baik? Akan lebih mengasikkan..."
Junhoe menggeram pelan begitu bibir Joongki sudah berada di daun telinganya.
"...Apa-apaan kalau langsung Forced Blood Bond huh? Pertarungan sesama pejantan vampir, kita sama-sama menghisap darah tetapi insting membunuhmu tidak ada."
"Hiks!"
"Yunhyeong hyung! Waegaereyo?!"
"Junhoe...Junhoe..." Pemuda Song ini menahan nafasnya. "...akan mati."
.
.
.
Tiap kali Junhoe maju, Joongki akan dengan mudah menjatuhkan dirinya.
Kalau ada senjata tidak akan begini jadinya.
Ia memang tidak pandai bertarung secara fisik. Dahulu saat berniat mengajarkan Yunhyeong cara bertarung menggunakan pedang, alih-alih menggunakan pedangnya dia lebih memilih bertahan dengan kakinya.
Kalau melihat bagaimana besarnya intensitas Joongki berusaha menolerkan luka baru di tubuhnya, tidak heran kalau Yunhyeong bisa saja tidak tau bagaimana cara memegang pistol atau pedang dan dengan idiotnya menyerang dengan tangan kosong.
Tetapi hanya dengan tangan kosong saja, Yunhyeong nyaris meremukkan seluruh tulang Junhoe sendiri.
Junhoe memejamkan matanya kuat-kuat, berusaha membangun konsentrasinya yang selalu terpecah.
Dia tidak terima sudah berdarah-darah seperti ini sementara Joongki masih berdiri dengan gagahnya tetapi kalau sampai ada bau darah baru disini...
...Mungkin Junhoe akan kehilangan akal sehatnya.
"Hanya ini yang bisa kau lakukan, huh? Bahkan aku tidak berdarah sama sekali."
Perutnya sudah diinjak kembali tetapi Junhoe masih tetap meringkuk.
Fokus. Fokus.
"Aku heran apa benar kalau adikku itu mengejar-ejar orang lemah sepertimu. Apa yang bisa membuatnya terpikat? Yunhyeong jelas bukan tipe orang mudah kagum."
Duak!
Perutnya kembali ditendang. Junhoe hanya bisa mendesis pelan.
"Sudah menyerah eh? Kalau kau mati sekarang tidak akan Forced Blood Bond! Hah! Kalau kalian berdua disandingkan bersama, kau benar-benar pengecut! Harusnya kau sadar bahwa kau tidak pantas untuk Yunhyeong dan begitu juga sebaliknya!"
Joongki tersenyum sinis. Tinggal satu langkah lagi dan Junhoe pasti akan sukses dibawanya ke neraka.
"Apa yang membuatmu, anak perdana menteri yang penghianat merasa pantas bersanding dengan calon pemimpin, Song Yunhyeong setelah kau memilih untuk kabur dari kenyataan bahwa Seojung mati tak berguna hanya untukmu yang haus darah!"
"A-ARGHHH!"
Junhoe mendongakkan kepalanya.
Tubuhnya menggelinjang hebat.
Dan sepasang manik matanya kembali menggelap.
"Sejeong-ah..." Gadis bermata indah tersebut memejamkan matanya saat tangan hangat Junhoe mengusap airmata di pipinya.
Junhoe kalah telak. Junhoe tidak tau bahwa calon pasangan Sejeong ini dari kerajaan sebelah.
Tapi mau dikata apa lagi, Sejeong tidak mau bersama pemuda dari kerajan sebelah itu meskipun batin keduanya sudah terikat. Junhoe dan Seojeong sendiri sudah melakukan Blood Bond begitu mengetahui fakta bahwa Sejeong sudah 'diikatkan', otomatis mereka sudah terikat secara jiwa.
Junhoe kehabisan darah. Salahnya juga nekat dan ditambah lagi sudah sejak lama dirinya tak mengkonsumsi darah karena orang tuanya mengajarkan untuk tidak bergantung kepada benda terkutuk tersebut, apalagi sekarang satu-satunya darah yang bisa memperkuat diri, menyembuhkan, dan membuat dirinya awet muda hanyalah darah Seojung –efek samping dari Blood Bond.
Jika ia nekat meminum darah manusia lain, sama saja bunuh diri. Meminum darah hewan juga hanya akan memperlambat waktu kematiannya tetapi lama kelamaan tubuhnya akan melemah sebelum akhrinya lenyap seperti debu.
"Seojeong-ah...a-aku..."
Seojung mengangguk mengerti. Dibukalah kancing kemeja teratasnya, menampilkan kulit leher mulusnya dan tulang selangka yang sangat menggoda batin.
Seojeong adalah darah perempuan pertama yang ia cicipi rasanya dan satu-satunya yang terenak jadi...
"A-ahh! Ju-junhoe-yaa~"
...Junhoe tidak dapat menahan rasa haus yang mencabik-cabik tenggorokkannya. Tidak bisa menahan hasrat vampirnya yang ingin terus merasakan darah tersebut, lagi dan lagi menghisap darah sang gadis.
Darah seorang gadis memang selalu menjadi yang terlezat untuk vampir pria.
Junhoe lupa bahwa seluruh jenis manusia manapun akan mati jika kehabisan darah.
Entah sejak kapan jiwa vampirnya sudah menguasai penuh tubuhnya.
"Song Joongki," Junhoe membuka matanya lebar, membuat Joongki yang sudah berada di atas angin terbelak melihat wana irisnya.
Lebih merah dari darah.
Lebih kental dari warna milik keturunan raja sekalipun.
Dan sarat haus akan darah serta peperangan.
"Sudah kubilang sebuah kesalahan memancing amarahku," Tubuhnya perlahan-lahan ia tegakkan, menghiraukan bunyi-bunyi tulang patah yang kembali menyatu ataupun tulang-tulang remuk yang kembali padat. Asap keluar dari luka-luka di tubuhnya, seketika lenyap. Pakaian kebangsaannya yang sudah terkoyak disana-sini kembali seperti semula; bahkan jauh lebih bersih dan berkilau.
Bibirnya yang memucat akibat kehabisan banyak darah menjadi merah menggoda.
Surai hijau kehitam-hitamnya perlahan berubah penuh menjadi silver.
Tak lupa pula dengan seringai lebar terpasang di bibirnya.
Saat ini Goo Junhoe bak seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawa siapapun yang menghalangi jalannya.
"Apa kau tau..." Sebelah kakinya yang bebas tertahan bebeapa senti di atas kepala Junhoe saat pemuda tersebut berucap lirih.
"...Bahwa aku dan Yunhyeong sudah terikat satu sama lain?"
Nafas Joongki tiba-tiba berubah menjadi memburu, matanya menyorotkan kemarahan sekaligus kebencian.
"Justru karena aku tau maka dari itu aku akan membunuhmu! Aku tidak mau Yunhyeong berakhir mengenaskan seperti Seo-AGH!"
Hanya dengan salah satu tangannya yang terangkat, pohon-pohon tua yang ribun tercabut dari akarnya dan melayang-layang di udara. Sebelum sempat Joongki menyelesaikan ucapannya, salah satu pohon tergersang sekaligus tertajam di antara pohon-pohon melayang lainnya menusuk tubuh Joongki –sengaja tidak mengenai organ pentingnya.
"Kau orang yang begitu kuhormati dan kakak dari Yunhyeong. Aku tidak menyangka kau akan berubah seperti ini dan memperlakukan Yunhyeong dengan buruk. Jika ingin memberikanya pelajaran tidak seperti ini caranya, hyung," Junhoe menundukkan dalam kepalanya. Perlahan-lahan pohon-pohon di sekitarnya turun mengikuti pergerakkan tangan sang pengendalli.
"Dia memang akan menjadi lebih kuat. Dia tidak akan membencimu tapi selama ini dia hormat karena takut dibunuh olehmu. Sudah lama adikmu ingin kabur tetapi saat sampai disini, satu-satunya yang ia pikirkan adalah kembali bersamamu. Maka dari itu, sadar hyung dan aku tidak akan membunuhmu. Kita bisa menyelesaikan masalah secara baik-baik sebelum pertarungan Forced Blood Bond dengan cara jan-"
"Cih," Junhoe mendongakkan kepala, tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
"Kau pikir aku akan berubah pikiran? Kalau mau membunuhku, bunuh saja! Aku mau melihat sampai sejauh mana kemampuanmu sampai bisa merasa pantas bersama adikku! Kalau kau mati dengan damai, dengan cara baik-baik itu berarti kau merasa bahwa yang salah disini aku bukan kau yang sudah membunuh seorang gadis hanya demi hasrat vampirmu! Berarti kau berpikir bahwa tidak salah mencintai adikku! Aku disini untuk menghancurkan pemikiranmu!"
Justru karena aku takut masalah Seojung bisa menimpa Yunhyeong, aku merasa tidak pantas maka dari itu bunuh saja aku.
Junhoe menghela nafas sebelum menoleh ke sebelah kanan. Chanwoo dan pasukkannya sudah siap sedia disana tetapi ia justru mengangguk.
Donghyuk yang bergetar melihat pertarungan keduanya buru-buru menarik ujung pakaian Chanwoo.
"Ju-junhoe...apa dia..."
"Kita harus menjauh dan membiarkan keduanya menyelesaikan masalah," Chanwoo mengangguk mantap setelah mengerti isyarat dari pemuda Goo ini. "Kita harus pergi dari sini selama jiwa vampir belum menguasai penuh dirinya dan...membawa Yunhyeong kemari."
.
.
.
"Jika hyung tidak sadar juga, lebih baik hyung mati saja."
.
.
.
'tess...tess...'
Goo Junhoe! Junhoe! Astaga tolong jawab aku!
Kakak! Kakak! Hentikkan!
"Kau benar-benar mau melanjutkan perjalanan?" tanya Hanbin khawatir. Keringat dingin bercampur airmata sudah bercampur menjadi satu, membasahi hampir seluruh wajah dan lehernya.
Yunhyeong menggelengkan kepalanya sekuat mungkin. Kedua matanya masih terpejam.
Ayo kuatkan insting, Song. Kau pasti bisa. Bukankah dulu kau handal si-ah!
Deg!
Belum sempat melepaskan ranting tajam yang bersemayam di dadanya, Junhoe sudah kembali dengan serangan utamanya.
Tidak hanya pepohonan yang di bawah kendalinya tetapi beberapa senjata perang, bebatuan tajam, dan berbagai bentuk benda tumpul menjadi satu di bawah kuasanya.
Joongki tidak pernah tau bahwa Junhoe memiliki kemampuan telekinesis. Dulu, ia sangat mempercayai Junhoe untuk menjaga Yunhyeong jika nanti kenaikkan dirinya sebagai raja selanjutnya menimbulkan konfliks yang akan mengincar seluruh anggota kerajaan yan lain karena keahliannya dalam bermain pedang, belum pernah sebelumnya ia menguji kemampuan Junhoe secara pribadi.
Dan seingatnya penguasa telekinesis di dalam kaum vampir nyaris tak ada karena telekinesis adalah salah satu kekuataan tertua yang pernah ada. Memerlukan konsentrasi penuh kalau tidak mau dikenalikan oleh kemampuan tersebut. Apalagi jika harus mengendalikan materi-materi padat, banyak pengguna telekinesis justru tewas mengenaskan karena senjatanya mengenai diri sendiri atau perdarahan otak –terlalu menekan otaknya untuk berpikir.
Joongki mundur secara teratur. Mengangkat, melempar, apalagi menghancurkan tubuhnya lebih mudah ketimbang mengangkat seluruh materi di sekitarnya untuk dilemparkan kembali. Joongki tidak tau rencana Junhoe tapi ia tidak bodoh untuk tetap diam di tempat. Saat ini gravitasi di sekitarnya sudah tak karuan, tidak aneh jika nanti tubuhnya ikut terseret dan malah berakhir hancur terhimpit bebatuan.
Sempat tubuhnya bergetar karenanya tetapi itu tidak menyulutkan keinginannya.
'Ini semua demi adikku.'
Di pihak Junhoe sendiri, ia berusaha mati-matian untuk tidak menghancurkan otaknya sendiri.
Terakhir kali dia hidup 'layak' di dalam istana adalah 5 tahun yang lalu, saat usianya 11 tahun dan tak pernah ia diajari untuk melatih kemampuannya. Dia belum pernah menggunakan telekinesis –apalagi sampai level setinggi ini, bahkan sebelumnya ia tidak tau dianugerahkan kemampuan ini.
'Pantas saja vampir setingkatku begitu mengandalkan diriku'
Ayahnya adalah petinggi di dalam vampir tingkat dua alias seorang perdana menteri, Ibunya adalah anak dari seorang pemimpin pasukkan ternama sementara Junhoe sendiri tidak seperti kedua orang tuanya –ia tak sepandai ayahnya tetapi taktik perang agak sedikit dipahaminya, ibunya adalah pribadi yang hangat (jangan tanyakan Junhoe orang yang hangat atau tidak).
Kedua orang tuanya bahkan sesepuhnya tidak ada yang pandai berkelahi secara fisik, satu-satunya kemampuan menurun yang dimiliki mereka hanyalah ingatan fotografis, dapat menghancurkan benda yang disentuhnya menjadi debu, dan dapat mengetahui isi bacaan sesuatu hanya dengan menyentuhnya.
Tetapi tidak menutup kemungkinan juga akan ada anak emas di dalam tingkat dua. Junhoe tidak percaya dengan keajaiban atau hal tidak logis lainnya jadi saat mengetahui dirinya dinobatkan menjadi calon raja selanjutnya hanya karena ramalan anak emas tersebut, tak semudah itu dia akan percaya.
Melakukan telekinesis untuk pertama kalinya langsung dalam jumlah besar adalah sebuah kebodohan tetapi ini lebih baik ketimbang kekurangan darah.
Apa kau pernah melihatnya selama ini meminum darah? Tidak bukan? Itu adalah salah satu alasan mengapa dia tidak boleh banyak kehilangan darah.
Sederhana saja, semenjak keluar dari istana karena meninggalnya Seojung tersebut ia takut untuk meminum darah dan berusaha berbaur dengan manusia jenis lain yang bisa menghentikkannya jika ia kehilangan kendali –serigala.
Tangis Yunhyeong semakin terdengar.
Melihat kilasan, telepati, merasakan yang seharusnya tak bisa ia rasakan.
17 tahun ia hidup, belum pernah ia merasa sesakit ini.
Ia tidak mau mendengar apapun lagi tetapi ia takut jika ia mengabaikan semua kilasan ini, salah satu dari kedua orang yang ia sayangi akan mati.
"Jadi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa saat Donghyuk ngamuk tidak diberitau-Eh? Yunhyeongie?" Buru-buru Yunhyeong mengusap air mata yang membasahi wajahnya.
Dia tidak mau terlihat lemah. Tidak sama sekali.
"Yunhyeong..." Jiwon yang sudah beberapa langkah di depannya langsung menghampiri pemuda manis tersebut dan duduk di hadapannya.
Kepalanya terangkat untuk mengusap pelan kepala yang lebih tua. "Semuanya akan baik-baik saja. Percaya pada-"
"Apa yang bisa diharapkan..." Isakkannya semakin kencang. "Kalian berdua sudah menjadi manusia, mamaku entah kemana dan tidak tau dia berada di pihak siapa, ayah...ayah...mereka berdua akan mati..."
'Junhoe...Junhoe...jawablah kumohon'
.
.
.
Hidungnya mulai terasa nyeri.
Ternyata berperang menggunakan otak lebih sulit daripada menggunakan badan, haha.
Bukannya tak ada apa-apa tetapi suara Yunhyeong yang memanggilnya sudah memenuhi seisi kepalanya.
Ia berkedip sebentar dan seluruh senjata yang sudah dia persiapkan justru terarah padanya.
Sialan.
Kehilangan fokus sedikit saja, dia yang akan mati.
'Yunhyeong, diamlah sebentar'
Netranya kembali terpejam kuat sementara kedua tangannya terentangkan ke depan –mengarahkan senjatanya ke arah Joongki.
Joongki sendiri sudah tersenyum di tempatnya.
Mau sekuat apapun, pengguna telekinesis akan tetap berakhir mati karena kerusakan otak.
Ah, kekuatan sebesar itu memiliki banyak kelemahan.
Kaki kanannya mundur ke depan lalu sebelah kaki lainnya maju beberap langkah ke depan.
Kedua tangannya menyesuaikan dengan posisi kuda-kudanya.
"Aku sudah siap," tangan kanannya memberi aba-aba. Kepalanya sedikit dimiringkan. "Sudah beres urusan dengan senjata makan tuanmu itu?"
"Yunhyeong tidak akan suka ini," Junhoe masih belum menyerah untuk memberikan tawaran.
Kening pemuda Song ini berkerut. "Sejak kapan Yunhyeong suka denganku? Dengan seluruh rencanaku?" Seringainya muncul di permukaan.
"Dia hanya anak beruntung yang terlahir sebagai school-crush-first-sight, memiliki wajah ayah sampai tak tega dibunuh, genius, bertubuh lemah, tak kenal takut karena tak pernah menghadapi dunia, memiliki sihir. Dia hanya anak yang menang di kandang."
Junhoe tidak habis pikir lagi.
"Itu kesempatan terakhirmu," Persiapannya sudah selesai. Sekarang benda-benda melayang di sekitarnya sudah menghadap ke arah Joongki dengan mantap.
"Maju."
.
.
.
Di keheningan yang menyelimuti mereka, tiba-tiba terdengar suara aungan yang membuat bulu kuduk siapapun merinding.
Hanbin mendesis. "Itu Chanwoo. Biasanya ia begitu jika keadaan sudah terdesak tetapi semuanya sudah selamat."
"Mungkin maksudnya dia sudah mengevakuasi semua kawanannya, beserta Donghyuk dan Jinhwan untuk menjauh," sahut Jiwon menjelaskan lebih detail.
Hanbin mengangguk lemah. "Aku benar-benar membenci telinga anjingku tetapi sedih rasanya aku tidak bisa merasakan apapun saat ini."
"Kalian seharusnya bersyukur tidak bisa merasakan apapun."
Hanbin dan Jiwon sama-sama sudah berhenti berlari untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Yunhyeong secara bersamaan menoleh ke belakang.
Jiwon menghela nafas berat.
Ia tidak bisa berlama-lama melihat orang menangis.
Hanbin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maafkan aku. A-aku tidak bermaksud-"
"Setidaknya salah satu dari kita berdua tidak perlu bertengkar untuk memilih siapa yang kali ini akan menggendong Hanbin yang pingsan karena perubahan tekanan."
"YAH!" Hanbin bergerak maju untuk memukul kepala Yunhyeong yang sudah kembali eria dengan senyum jahilnya tetapi Jiwon menahannya.
"Apa perlu aku menggendongmu, Song? Jalanmu lambat sekali dan...tidak stabil."
Senyum yang berusaha ia buat semanis mungkin akhirnya pudar.
Entah sudah berapa kali ia nyaris tertinggal dan terantuk batu atau akar pohon besar.
Senyum miris kembali diukirnya. "Kelihatan jelas ya? Maaf, aku tidak mau atmosfirnya seperti ini."
Tapi mau tidak mau aku harus tetap bersikap biasa saja.
'...Kau mendengarkan seluruh intruksiku, Song Yunhyeong?'
"Ya ay-ah Your Highness."
Terdengar helaan nafas di ujung telepati mereka.
'Setelah ini semua selesai, segera kembali ke rumah. Ajak serta kakakmu dan pacarnya juga. Ayah akan meluruskan semuanya dan memikirkan ulang permintaan pertama kalimu itu jadi berhentilah memanggil ayah dengan sebutan 'Raja Song' atau 'Yang mulia''
"Ayah."
"Hm?"
Yunhyeong mengangkat kedua tangannya ke atas, menimbulkan kerutan di dahi kedua pemuda Kim dihadapannya.
"Ada a-"
"Gendong," Senyum manis kembali ia sajikan. "Dengan itu kalian tidak perlu khawatir lagi aku akan terluka bukan?"
"Ah bukan apa-apa, yah."
"Hanya saja senang rasanya bisa memanggilmu dengan sebutan ayah lagi. Rasanya seperempat bebanku hilang."
"Aku harap semuanya kembali seperti semula. Tidak apa-apa jika namaku tidak ada di dalam data keluarga, tidak apa-apa jika Eunji masih tak terlihat, tiak apa-apa jika aku harus hidup sendiri lagi seperti dulu. Aku hanya mau hidupku kembali, aku hanya ingin itu tetapi kenapa rasanya sulit sekali untuk mendapatkannya? Masalah ini...seperti tak ada ujungnya saja. Apa benar setelah ini aku bisa hidup normal lagi?"
Helaan nafas kembali terdengar.
Jiwon sudah membungkuk di depan Yunhyeong, bersiap-siap.
'Ayah...tidak bisa menjanjikannya. Tapi ini semua akan berakhir'
'Ibu sudah kembali ke rumah. Kalau kau mau berbicara dengan ibu, bilang saja'
"Gomawoyo!"
Jiwon dan Hanbin sama-sama meringis.
Yunhyeong ternyata jauh lebih ringan daripaada ekspetasinya.
Hanbin sendiri merasa janggal dan sakit di sisi lain melihat keriangan Yunhyeong.
Tidak apa jika setidaknya Yunhyeong tidak terus-menerus menangis.
"Ayah"
'Ya?'
"Aku senang memiliki ayah sepertimu. Kau tau? Aku sangat menyayangi kalian semua"
'Ayah juga. Ayah juga menc-'
"Jalan ya?"
Yunhyeong mengangguk seraya menutup mulutnya sendiri.
Dia menangis.
"Jangan katakan sekarang. Aku tidak mau salah paham dan kehilangan fokus, yah. Nanti saja ya saat pulang? Senang rasanya aku punya rumah sekarang."
"Ayah...aku akan mengikuti petunjuk ayah. Aku pergi sekarang."
Yunhyeong memejamkan matanya .
Di detik kemudian, dia menghilang.
.
-hah
.
Forced Blood Bond : semacam mengingkat darah secara terpaksa. intinya sih jenis kelamin yang sama saling meminum darah gitu tapi secara terpaksa (karena ini semacam duel antara hidup dan mati, biasanya yang maksa minum darah dia itu golongan lebih tinggi karena otomatis lawannya dia yang terpaksa minum darahnya itu golongan lebih rendah endingnya bakalan mati karena darah mereka bercampur -yang lebih rendah gakuat sama yang lebih tinggi posisinya). misalnya A itu bangsawan, B itu biasa aja. mereka duel gitu lah, yang mau melakuin kaya beginian sopasti yang ngerasa levelnya lebih tinggi karena bakalan menang. prosesnya cuma perlu si B minum darah si A sampe ngerasa cukup banyak terus giliran A yang minum darah B (gausah banyak karena cuma nyegel kalo mereka baru aja forced/harus gantian. ini kan duel yakali gantian) dalam hitungan gak sampe sejam, B pasti mati/?
Blood Bond : ikatan darah. muehe. ini mah kalo yang udah serius aja chingu kek mau ke jenjang pernikahan/? kalo dalam hidupnya serigala, namanya imprint gitu. gimana jelasinnya ya? ;; buat yang udah baca dari awal, inget bagian Yunhyeong diselamatin Jun di hutan? dia di gigit kan? itu baru gigitan pertama, makanya hari hari selanjutnya Yunhyeong kek deg-deg-an, muja jun gitu karena reaksi pertama ya gitu/? nah yang kejadian Seojeong-Junhoe itu Seojeong-nya itu udah di blood bond tahap dua alias kek udah mulai Seojeong selain nganggep Junhoe kaya penyelamatnya, Junhoe udah mulai bisa mempengaruhi Seojeong (makanya Seojeong mau mau aja mati karena darahnya habis diminum Junhoe) padahal mah sebelumnya Seojeong udah blood bond sama orang lain tapi baru tahap satu (jadi agak kalah, frekuensi blood bond mereka juga rendah)
sebenarnya mau jelasin lagi tapi next chap aja ya karena ini bakalan blood bond semua;; aing gak terlalu paham juga;; dan ini mau bikin chap selanjutnya dengan cepat:" karena munculin iya-iya sekarang gak bakalan sempet:"
