AN : Chapter Baru! Cyaaz bener2 semangat hari ini. Soalnya para Senior yang hebat, luar biasa dan mengagumkan baru aja Update Fic2 Keren mereka... :D
Hmmh... Padahal kemarin Cyaaaz nanya 'Siapa yg ada di atas atap Student Center', tp kbanyakan yg Review malah balik bertanya... -_-'
Ya sudahlah, Cyaaz akan membiarkan jawabannya terbungkus rapat, sampai saat berakhirnya Fic ini... :P
Tapi tetep, Thanks buat kalian yang udah nyempetin diri buat nge-Review... :D
nelshafeena : - Oke, Typo udah diperbaiki. Thanks :D - TA...? Aw... Nell udah kayak Dosen Pembimbing ketiga Cyaaz nich... -_-' Tenang, Cyaaaz juga udah nyambi kerja TA kok... :P - Fic Baru...? Tunggu tgl mainnya ya... :P
pandamwuchan : - Haha, Syapa thu yg ngaku jd pcr panda...? :P - Ew, baguslah kalo ada yg spendapat ama Cyaaz soal mimpi itu. :D
aeni hibiki : - Yay, ada yg spendapat ama Cyaaz... :D - Nih klanjutannya... :)
lezala : - Lol... Akhirnya review tepat waktu ya? :D - Hmm, tidak akan smudah itu Cyaaz menyerahkan hati Cagalli (Evil grin) - Nih, udah Update. Maaf lama, lg prepare yg lain... LD
CloudXLightning : - Cloli-San...! Lama skli dirimu g nge-review Fic Geje ini... T_T Welcome Back...! :D - Ew, Cyaaz selalu Update tiap minggu kok... Kadang malah kecepetan, soalnya penyakit g sabaran Cyaaz sering kumat. T_T - NO...! Penulisan Cyaaz di Fic ini masih Banyaaaaaaaak... Banget kurang dan salahnya... T_T - (Sujud minta Ampun) Maaf999x... Soal POV 1st person itu, Cyaaz bener2 udah g bisa otak-atik lagi. Fic ini udah kelar sejak... Awal januari dan udah terlanjur pake banyak POV 1st person. Nanti di Fic selanjutnya, Cyaaz akan ngurangi pergantian POV... Seenggaknya udah g separah di Fic ini kok... - Thank you udah mampir dan review, Cloli-San... :)
Setsuko Mizuka : - Nggak telat kok... :) - (Sweat-drop) Kenapa semua nama pemeran cowok disebutin? Yuuna...? Oh, No! Si Ungu jelek itu Cyaaz anggap tidak layak untuk masuk di Fic ini. So, I'll just Kick HIM AWAY! :D - Ow, Mizuka sering ngalamin? Sebenernya Cyaaz juga sering... Bahkan mimpinya Stella dan Cagalli itu, sebenernya adl pengalaman nyata . Tapi kalo de javu, Cyaaz nggak pernah ngerasain kayaknya. - Hahaha, Cyaaz juga sering baca lewat HP. Lebih nyaman. :) - Iya2, Fic barunya sebentar lagi (Dalam hitungan hari) akan muncul... Tapi jujur, Cyaaz bener2 gak yakin ama kualitasnya lho...
Selamat Membaca…
Disclaimer : GS dan GSD Bukan Milik Author…
This Is Impossible!
Chapter 21
Athrun's POV
ORB – 25/10/2012
"Baiklah, semuanya. Kumpulkan hasil kerja kalian di meja!" perintah Bu Tallia, seorang dosen Financial Management, yang sekarang berdiri di depan kelas. "Perkuliahan kita hari ini cukup sampai di sini. Sampai jumpa hari selasa."
Aku segera merapikan lembar jawabanku, lalu mengumpulkannya di meja dosen. Kemudian aku membereskan barang-barangku, bersiap untuk meninggalkan kelas.
"Sial! Aku tidak mau tahu lagi!" suara Heine yang terdengar frustasi, membuatku menoleh padanya yang duduk di sebelahku. Kulihat ia sekarang meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya, di atas meja.
"Apa benar-benar sesulit itu?" tanyaku heran.
"Orang genius sepertimu, tidak akan mengerti perasaan orang biasa sepertiku," jawab Heine tanpa mengangkat kepalanya.
Aku hanya tertawa kecil setelah mendengar jawaban Heine. "Kau tidak pergi ke mana-mana?" tanyaku.
Heine akhirnya mengangkat kepalanya. "Iya, sebentar lagi aku akan ke kantin," jawabnya lesu.
Aku menepuk pundak kiri Heine dengan tangan kananku. "Sudahlah, hasil kuismu pasti akan bagus."
Heine sontak menyipitkan matanya dan memasang wajah cemberut. "Aku tidak yakin, Ath. Tadi aku hanya menjawab soal-soal itu dengan sebisaku saja."
Aku tersenyum tipis, lalu menjawab, "Hey, ayolah. Kau pasti bisa melewatinya."
"Haha, iya. Terima kasih," Heine menoleh padaku. "Jadi, kau mau apa sambil menunggu kelas berikutnya?"
Aku berpikir sejenak, lalu menjawab, "Aku tidak tahu, yang jelas aku akan menunggu kelas Cagalli selesai dan mengantarnya pulang."
"Oh, mau makan siang denganku?" tanya Heine.
"Um, aku belum lapar. Mungkin aku akan ke perpustakaan saja," jawabku.
"Dasar, kutu buku," kata Heine menyindir.
"Berisik!" jawabku.
"Ya sudah, aku duluan," kata Heine. Ia berdiri, lalu keluar dari kelas.
Sesaat setelah Heine pergi, aku mengambil BB dari tasku untuk menulis pesan pada Cagalli. Sudah seminggu aku menjemputnya ke kampus, dan mengantarnya pulang. Rasanya benar-benar menyenangkan, apalagi sekarang Cagalli sudah tidak bersikap dingin dan marah padaku. Mungkin sebaiknya aku mulai lagi langkahku untuk bisa memenangkan hati sang puteri.
To – Fiery Princess
Hey, Princess? Kelasmu masih belum selesai?
Aku tertawa kecil sejenak, membayangkan bagaimana reaksi Cagalli saat ia membaca pesanku. Beberapa menit kemudian, aku menerima balasan darinya.
From – Fiery Princess
Athrun! Berapa kali aku harus bilang, jangan panggil aku "Princess"!
Iya, masih belum selesai. Mungkin sekitar 1 jam lagi.
Kenapa? Kalau kau mau pulang, pulang saja!
Aku bisa pulang sendiri...
Yup, reaksi Cagalli sesuai dengan dugaanku. Membuatku jadi semakin ingin menggodanya
To – Fiery Princess
Tidak, aku hanya bertanya. Aku akan menunggumu di perpustakaan.
Segera temui aku, kalau sudah selesai…
Aku sudah sangat merindukanmu, Princess…
Beberapa saat kemudian, Cagalli membalas pesanku.
From – Fiery Princess
Gombal!
Terserah kau saja!
Lagi-lagi, aku hanya bisa tertawa setelah membaca pesannya. Gadis lain pasti akan senang jika ada pria yang memanggilnya "Princess" atau mengatakan hal-hal semacam ini untuk mereka, tapi Cagalli justru sebaliknya. Benar-benar gadis yang unik dan menarik.
Setelah aku membaca balasan dari Cagalli, aku memperhatikan tanggal yang tertera di layar hand phone-ku sejenak.
'Sudah tanggal 25 rupanya, cepat sekali.'
Saat aku masih memandangi layar hand phone-ku dengan tatapan sayu. Aku teringat bahwa, sebentar lagi adalah tanggal ulang tahunku. Kemudian aku teringat akan ibuku yang meneleponku kemarin, saat aku akan berangkat untuk menjemput Cagalli.
- Flashback…
ORB – 24/10/2012
Aku baru saja selesai mandi dan sekarang sedang duduk di ujung tempat tidurku. Aku yang belum sempat mengenakan pakaian apa pun, selain boxer berwarna hitam, mengeringkan rambut navy blue-ku menggunakan selembar handuk berwarna hijau muda.
"Tuan muda?" suara seseorang yang berasal dari balik pintu kamarku, seketika itu juga menarik perhatianku.
"Ya, sebentar," jawabku, sambil berdiri dan melangkah menuju pintu kamar.
Aku membuka pintu kamarku dan mendapati seorang pelayanku berdiri di sana. "Ada apa?"
"Tuan muda, ada telepon dari Nyonya besar," jawab pelayanku, sambil menyerahkan gagang telepon rumah padaku.
"Oh, ya. Terima kasih," jawabku sambil menerima telepon itu, kemudian aku menutup pintu kamarku.
"Halo?"
"Halo, Athrun?" terdengar suara ibuku.
"Iya Bu, ini aku," jawabku sambil duduk kembali, di ujung tempat tidurku.
"Athrun, bagaimana keadaanmu? Kau sehat? Apa kau makan dengan teratur?" tanya ibuku berturut-turut.
Aku tersenyum tipis setelah mendengar pertanyaan ibuku. "Aku baik-baik saja Bu, aku makan dengan teratur," aku menarik nafas. "Ibu dan ayah sendiri? Bagaimana keadaan kalian?"
"Kami di sini juga sehat-sehat saja. Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Kuliahku berjalan lancar, Bu. Jangan khawatir," aku membaringkan tubuhku ke ranjang. "Bagaimana dengan urusan bisnis ayah di sana? Kapan kalian akan pulang?"
Aku mendengar ibuku menghela nafas panjang. "Sebenarnya, ibu menelepon karena ingin memberi tahumu bahwa kami belum bisa pulang minggu ini."
Aku merasa sedikit kecewa dan kesal setelah mendengar perkataan ibuku, tapi hanya kata, "Oh," yang keluar dari mulutku.
"Maafkan kami, urusan di Jerman kali ini sepertinya membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang kami perkirakan," ujar ibuku.
Aku hanya bisa tersenyum tipis, senyuman yang aku paksakan. "Tidak masalah, ibu. Kalian selesaikan saja urusan bisnis kalian di sana. Ini demi kesuksesan ZAFT 'kan?"
"Ibu benar-benar minta maaf, Athrun," suara ibuku terdengar sedikit lirih. "Tapi ayah dan ibu sudah menemukan hadiah ulang tahun yang cocok untukmu. Kami sudah mengirimkannya dan mungkin akan tiba di sana dalam waktu beberapa hari."
"Oya? Terima kasih, Ibu," jawabku.
"Baiklah kalau begitu, ibu harus pergi menyusul ayahmu di ruang meeting. Kau jaga dirimu ya, Athrun."
"Iya Bu, ibu dan ayah juga harus menjaga kesehatan kalian. Semoga semuanya berjalan dengan lancar," jawabku, lalu aku memutus sambungan telepon.
'Seharusnya aku sudah bisa menebaknya.'
- End of Flashback…
Setelah melamun untuk beberapa menit, aku bangkit dari kursiku. Segera aku berjalan menuju perpustakaan, berharap bisa menemukan beberapa buku yang menarik untuk dibaca selagi menunggu Cagalli. Saat aku melangkah memasuki perpustakaan kampus, mataku menangkap ada sosok yang familiar sedang duduk di salah satu meja di tengah perpustakaan.
=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=
Meyrin's POV
Pak Rau kejam sekali, memberi tugas sesulit ini pada murid semester satu. Aku sama sekali tidak mengerti dengan materi yang beliau berikan. Seandainya ada seseorang yang bisa membantuku di saat-saat seperti ini…
"Meyrin?" tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku.
Deg…
Alangkah terkejutnya aku, saat aku mengangkat wajahku untuk melihat siapa yang memanggilku. Di hadapanku sudah berdiri seorang Athrun Zala, tersenyum lebar ke arahku.
'Kyaaa…! Apa ini mimpi?'
'Kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku…'
"Hey, sedang apa kau di sini, Mey?" tanya Athrun-San sambil menarik kursi di hadapanku dan duduk.
Aku tersentak mendengar suara Athrun-San, seketika itu juga wajahku memanas. "Eh, um, Ha-halo, Athrun-San."
Athrun-San tertawa kecil setelah mendengar responku, membuatku semakin malu dan menundukkan wajahku.
'Meyrin Hawke, kau memang bodoh!'
"Kau sedang apa di sini?" tanya Athrun-San, lagi.
Aku mengangkat sedikit wajahku, untuk memandang sosok Athrun-San yang sangat tampan. "Um, aku sedang, sedang mengerjakan tugas kuliahku, Athrun-San."
Athrun-San kembali menampilkan senyuman indahnya. "Kau jurusan Finance 'kan?"
Aku yang sempat terpesona oleh senyuman Athrun-San, tiba-tiba tersentak dan langsung mengangguk kecil.
"Kebetulan sekali, aku sedang tidak ada kerjaan sekarang. Mau kubantu?" tanya Athrun-San.
Aku kembali tersentak kaget, menatap Athrun-San tidak percaya. Eh? Apa aku tidak salah dengar? Apa Athrun-San tadi bilang kalau ia ingin membantuku menyelesaikan tugasku? Oh, Pak Rau, aku tarik lagi ucapanku tadi. Aku benar-benar berhutang padamu.
"Bagaimana?" suara Athrun-San, menyadarkanku.
Aku blushing, lalu menjawab "A-apa tidak merepotkan?" dengan gugup.
"Tentu saja tidak. Ayo, kubantu," jawab Athrun-San.
Aku mengangguk kecil, lalu memperlihatkan tugas yang diberikan Pak Rau kepada Athrun-San. Aku memperhatikan wajah Athrun-San ketika ia sedang mengamati tugasku. Wajah yang benar-benar tampan, pantas saja Athrun-San punya banyak penggemar. Seandainya saja, aku bisa bersama dengan Athrun-San...
Pemikiranku barusan, membuatku mengingat akan sesuatu yang membuat nafasku sesak seketika itu juga. Athrun-San berpacaran dengan Cagalli-San 'kan? Aku tidak boleh berharap terlalu banyak.
- Flashback…
ORB – 17/10/2012
Aku berlari secepat mungkin dari kantin menuju gedung rektorat, untuk menyelesaikan beberapa masalah administrasi. Aku berjanji untuk menemui Luna lagi di kantin dan makan siang bersamanya setelah menyelesaikan urusanku. Namun langkahku terhenti di tengah jalan, saat aku melewati area olahraga. Mataku menangkap sosok beberapa mahasiswa yang sedang bermain basket, dan salah satunya adalah Athrun-San.
'Athrun-San pemain basket?'
Aku memandang gerak-gerik Athrun-San, yang sekarang sedang mendribel bola basket di tengah lapangan dengan lincah. Tubuh Athrun-San yang kekar dan berhiaskan beberapa tetes keringat, benar-benar membuatku meleleh seketika. Aku benar-benar tidak bisa memalingkan pandanganku darinya.
'He's Hot…'
"Ok, istirahat sebentar!" teriak seorang pria, dari sudut lapangan.
Aku masih terus memandangi Athrun-San. Sekarang ia sedang meminum air mineral yang ia keluarkan dari tasnya bersama Yzak-San dan Dearka-San. Lalu Athrun-San mengusap keningnya dengan handuk putih untuk menghilangkan keringatnya. Athrun-San memang benar-benar atletis.
Beberapa menit kemudian, mereka kembali memulai latihannya. Seketika itu juga, aku mendengar ada beberapa orang gadis dari sisi lain lapangan, yang berteriak memberikan dukungan pada Athrun-San dan yang teman-temannya.
Aku sebenarnya juga ingin memberi semangat pada Athrun-San, tapi entah kenapa tidak bisa. Mungkin karena aku terlalu malu untuk melakukannya?
'Oh, iya. Aku berikan saja itu pada Athrun-San.'
Aku membuka tasku, lalu mengeluarkan bungkusan berwarna merah dari dalamnya. Bungkusan itu berisi cokelat, yang tadinya aku bawa untuk dimakan bersama Luna di kantin. Tapi sekarang aku merubah rencanaku, akan kuberikan cokelat ini, sebagai bentuk dukunganku pada Athrun-San.
Aku menunggu selama beberapa menit di tempatku. Hingga Athrun-San dan teman-temannya kembali ke lapangan, untuk melanjutkan latihan mereka.
Setelah sempat memeriksa keadaan di sekitarku, aku berjalan menuju sudut lapangan, di mana ransel Athrun-San berada. Sesekali aku menoleh ke sekitar untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihatku. Setelah aku memastikan bahwa keadaannya aman, aku meletakkan cokelatku di samping tas ransel Athrun-San.
'Tetaplah bersemangat, Athrun-San.'
Aku memandang ke arah Athrun-San sejenak, sekedar untuk memandangi sosoknya yang sudah kembali bermain basket dengan lincahnya. Lalu aku segera berlari menjauhi ransel Athrun-San sebelum ada yang melihatku. Berlari ke gedung rektorat, untuk menyelesaikan urusanku.
- End of Flashback…
"Jadi, apa kau sudah mengerti caranya?" tanya Athrun-San setelah ia memberikan penjelasan padaku mengenai cara menyelesaikan tugasku.
"Eh, iya," jawabku sambil mengangguk.
Athrun-San tersenyum lagi padaku. "Syukurlah kalau begitu," ia bersandar pada sandaran kursinya.
"Ano…"
"Hmm?" Athrun-San menaikkan alisnya.
"Um, Te-terima kasih, sudah mengajariku, Athrun-San," ujarku.
"Haha, tidak masalah. Wajar 'kan, kalau senior membantu juniornya mengerjakan tugas," jawab Athrun-San.
'Senior dan junior ya?'
Aku tertunduk lesu setelah mendengar perkataan dari Athrun-San.
"Drrrrt, drrrrt."
Aku meraih ponselku, yang baru saja bergetar di tasku.
From - Luna
Hey, Mey? Kau di mana? Ayo pulang?
Aku semakin lesu setelah membaca pesan dari Luna. Kenapa harus sekarang?
"Ada apa, Mey?" tanya Athrun-San.
"Uh, Aku, aku harus menemui Luna sekarang," jawabku pelan.
"Oh, begitu," Athrun-San duduk tegap. "Sampaikan salamku untuknya."
Aku hanya mengangguk kecil, tidak rela kalau harus pergi sekarang. Tapi aku tetap membereskan barang-barangku yang masih ada di meja dan memasukkannya ke dalam tasku.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu, Athrun-San," pamitku sembari berdiri dan tersenyum pada Athrun-San.
"Hmm, sampai jumpa lagi, Mey," jawab Athrun-San sambil mengangguk.
Aku melambaikan tanganku sejenak, lalu segera beranjak pergi walaupun dengan berat hati.
=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=
Cagalli's POV
Aku berjalan menuju perpustakaan untuk menemui Athrun. Kelasku selesai lebih lama dari yang seharusnya, gara-gara sesi perdebatan yang tidak ada habisnya. Salahkan saja Kira dan Ahmed, yang saling adu pendapat sampai lupa waktu.
'Menyebalkan!'
Saat aku memasuki perpustakaan, aku mengedarkan pandanganku untuk mencari sosok Athrun. akhirnya aku menemukannya sedang tertidur di mejanya. Aku berjalan menghampiri Athrun, kulihat ekspresi wajahnya saat tidur, wajahnya yang tampan menjadi semakin mempesona.
'Apa? Mempesona?'
Aku blushing seketika itu juga. Sejak kapan aku terpesona oleh wajah Athrun? Apa sejak saat aku mulai terbiasa dengan Athrun yang menjemputku berangkat ke kampus dan mengantarku pulang? Apa sejak saat ia mengumumkan bahwa aku ini pacarnya? Apa sejak kami kembali dari PLANT? Atau…?
Aku segera menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menghentikan pemikiran panjangku yang tidak ada habisnya. Kemudian aku menatap lagi ke Athrun dan mengangkat tanganku, mengarahkannya ke wajah Athrun, bermaksud untuk membangunkannya.
Sesaat sebelum tanganku menyentuh pipi Athrun, aku berhenti. Bukankah tidak sopan jika aku menyentuh wajah orang lain seenaknya? Lalu aku bermaksud untuk mengarahkan tanganku ke bahu Athrun, tapi baru saja aku akan menarik tanganku, Athrun menahannya dengan menggenggam pergelangan tanganku, membuatku tersentak kaget.
"A-Athrun?" panggilku yang terkejut karena tenyata Athrun tidak tertidur.
Athrun tertawa kecil, lalu ia membuka matanya dan duduk tegap menghadapku. "Kau lama sekali, Princess…" sambil tetap menggenggam tanganku.
Aku berusaha bersikap sewajar mungkin. "Maaf, tadi ada sesi debat di kelas, yang berujung pada perang argumen."
Athrun tersenyum lembut, lalu ia menatap ke arah tanganku dan mengusap-usap punggung tanganku dengan jarinya yang terasa lembut dan hangat.
Aku blushing karena merasakan sentuhan jari Athrun di kulitku. "He-hey, Athrun. lepaskan tanganku!"
Aku berusaha menarik tanganku, tapi Athrun malah menggenggamnya semakin erat. "Tidak bisa. Ini adalah 'hukuman' karena kau membuatku menunggu terlalu lama," kemudian Athrun tiba-tiba saja menarik dan mencium punggung tanganku.
Wajahku menjadi semakin memanas, aku tidak tahu harus berbuat apa. "A-Athrun!" aku menarik paksa tanganku hingga terbebas darinya dan membalikkan badanku. Menyembunyikan wajahku, yang saat ini pasti sudah merah padam.
Aku mendengar Athrun tertawa kecil di belakangku. Lalu ia berdiri dan menggenggam tanganku lagi. "Ayo, kuantar kau pulang sekarang," ujarnya yang sekarang sudah berdiri di sampingku.
Aku menoleh pada Athrun. "Eh? um…"
Sekarang Athrun memandangku dengan tatapan yang dipenuhi dengan tanda tanya. "Ada apa?"
"Um, kau ada kelas setelah ini? Aku lapar, bagaimana kalau kita makan sebelum pulang?" ajakku. Yah, aku memang lapar, lagipula aku ingin mengajaknya makan bersama sesekali. mengingat bahwa aku banyak berhutang padanya.
Athrun hanya terdiam, aku mulai berpikir bahwa ia akan menolak ajakanku, tapi beberapa saat kemudian ia mengangguk dan tersenyum lebar padaku. "Kau mau makan di mana?" tanya Athrun.
Aku tersenyum dan menjawab, "Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi," Lalu aku menarik tangan Atrhun dan keluar dari perpustakaan bersamanya.
=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=
T – B – C
AN : Himbauan bagi para Readers... Jangan tiru apa yang dilakukan Athrun! Karena itu akan berakibat Fatal... :P
