Chapter 20
"Uughh…"
Perlahan Rea membuka matanya. Didapati dirinya jatuh tertelungkup di hamparan luas bunga lavender biru dengan beberapa pilar bangunan yang nampak asing baginya. Dengan perlahan, ia berdiri dan melihat sekeliling. "Di manakah aku?", tanyanya sembari melihat sekeliling. Sejauh matanya memandang, tak ada seorang pun di sana, hanya dirinya seorang. Kemudian, dilihatnya dengan seksama bunga lavender biru yang menari, tertiup angin.
"Sylleblossom".
"Huh?" Rea menoleh ke arah belakang dan dia mendapati seorang perempuan berambut pirang menatapnya dengan sedih. "Kau…, dari mana kau-?"
Belum sempat Rea mengakhiri kalimatnya, sosok perempuan tersebut menghilang dari hadapannya. "Huh? Dia menghilang?" Kembali, dia melihat sekelilingnya dengan seksama – kebingungan – sama sekali merasa asing dengan sekelilingnya. Sesaat kemudian, muncul asap berwarna biru di sebelah kanan Rea dan dari balik asap tersebut muncul sebuah cermin. Dilihatnya cermin tersebut, nampak dirinya dengan penampilan yang sama sekali berbeda – berambut pirang yang terkuncir kuda rapi, bermata biru terang.
"Huh? Itu…, diriku kah?" Dilihatnya bayangan dirinya di cermin dengan seksama dan sesaat kemudian cermin tersebut lenyap menjadi asap biru. "Apa yang sedang terjadi di sini?"
"Ini adalah dunia di mana dirimu seharusnya berada".
"Huh?" Sekali lagi, Rea menoleh ke arah belakang – ke arah datangnya suara – dan mendapati sesosok wanita berambut hitam pekat dengan mata tertutup sedang berdiri dihadapannya. "Siapa kau?"
"Messenger".
"Huh? Messenger?"
"Ini bukan saatnya bagimu untuk mengetahui segalanya. Sekarang, saatnya kau kembali ke duniamu saat ini. Selesaikan tugasmu di duniamu sekarang ini hingga kau dapat kembali ke duniamu yang seharusnya".
"Tu-tunggu… Apa maksud-"?
Bersamaan dengan itu, seluruh bunga lavender biru yang ada di taman itu berubah menjadi asap kemudian seluruh tempat itu berubah menjadi hitam kelam – menyisakan Rea seorang di dalam ruang hitam tersebut. Ia pun kemudian terjatuh dan saat itu pula, ia terbangun dari kondisi komanya.
Sekejap, terbukalah mata Rea dan dengan napas tersengal-sengal, dia melihat sekelilingnya dan mendapati dirinya sedang berada di sebuah ruangan – kamar rumah sakit – dengan tangan kiri yang terhubung dengan infus dan alat bantu pernapasan yang terpasang pada dirinya.
"Aah… Seiya! Dia sudah sadar! Cepat, panggilkan dokter!"
Dengan mata yang sayup, Rea menoleh ke arah datangnya suara dan didapatinya sesosok pria berambut hijau berdiri di sisi tempat tidur sebelah kiri sedang berbicara dengan sesosok pria lainnya berambut coklat yang berdiri di dekat pintu.
"Ya.., iya…", ujar Seiya sembari keluar kamar dan bergegas memanggil dokter.
Tak lama kemudian, seorang dokter dan perawat pun datang bersama dengan Saori – Athena, Shiryu, serta Hyoga dan segera memeriksa kondisi Rea yang masih terbaring lemah.
"Bagaimana keadaannya, dok?", tanya Saori – Athena.
"Dia baik-baik saja. Hanya saja, dia perlu waktu lebih banyak untuk beristirahat", jawab sang dokter sembari melingkarkan stetoskop pada lehernya sementara sang perawat mulai melepaskan infus dan alat bantu pernapasan Rea serta menaikkan posisi tempat tidur Rea sejauh 45 derajat.
"Syukurlah kalau begitu".
"Baiklah, saya tinggal dulu", ujar sang dokter kemudian sembari keluar dari kamar tersebut.
Setelah dokter dan perawat tersebut keluar, Saori mendekat ke arah Rea, duduk di sampingnya dan kemudian berkata,"Bagaimana keadaanmu?"
Rea menoleh ke arah Saori dan berkata,"Baik. Terima kasih".
"Apa yang terjadi sebenarnya, bila kami boleh tahu? Kenapa kau bisa terluka sampai seperti itu dan tergeletak di tepi pantai?"
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, siapakah kalian ini?"
Sejenak, Saori tersadar bahwa ia sama sekali belum memperkenalkan dirinya dan yang lainnya kepada Rea sehingga kemudian, dia berkata,"Aku Kidou Saori. Ini Shun, Seiya, Shiryu, dan Hyoga".
"Hyoga?"
"Hhmm…?"
Rea meraih kalung dengan liontin angsa dan salib yang terkalungkan di lehernya dan menunjukkannya ke Hyoga. "Kau mengenali kalung ini?"
Dilihatnya dengan seksama kalung tersebut dan beberapa saat kemudian, Hyoga pun tersadar dan berkata,"Nee-san…?"
"Huh…? Dia…, saudaramu Hyoga?"
"Uuhh- Umm…"
"Iya. Kami bersaudara. Lebih tepatnya, aku adalah saudara angkatnya. Dan namaku Rea".
"Saudara angkat?"
"Rea…?" Seiya terdiam – menyilangkan kedua tangannya di depan dada – sambil berpikir,"Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu…Tapi…, di mana aku pernah mendengar nama itu ya…?"
"Ya, ibunya menemukanku terkulai lemah di dekat rumahnya, di Siberia Selatan. Dan karena aku tidak mempunyai sanak-saudara maupun keluarga, ibunya mengangkatku sebagai anaknya".
"Aaa… Naruhodo nee…"
"Iya, seperti itu lah", timpal Hyoga – membenarkan pernyataan Rea.
"Lalu…, bagaimana ceritanya kau bisa terluka seperti itu? Mungkinkah…, kau adalah seorang Saint?"
"More or less. Aku sempat tinggal di Sanctuary selama beberapa saat".
"Chotto matte kudasai…"
Seisi ruangan tersebut, menoleh ke arah Seiya.
"Rea…, kamu…, adalah pengkhianat Sanctuary bersama dengan Sagittarius Aiolos…, benarkah?"
"Hmph… Rupanya cerita tersebut tetap disebarkan kepada pendatang baru, eh…?"
Kembali, seisi ruangan menoleh ke arah Rea – menunggu jawaban pasti darinya.
"Iya. Aku lah yang mereka maksud".
Mereka berlima – tak terkecuali – saling berpandangan satu sama lain.
"Ada banyak hal yang terjadi di Sanctuary kala itu. Sekarang, bukanlah saat yang tepat bagiku untuk menjelaskan semuanya."
"Apa maksudmu? Bagaimana kau bisa berkata demikian?"
Rea menatap mereka berlima secara bergantian, menghela napas dan berkata,"Aku tidak memiliki kuasa untuk menjelaskannya saat ini. Lebih baik, kalian memahaminya sendiri melalui peristiwa yang akan kalian alami sehingga tidak akan terjadi kesalahpahaman lagi". Kemudian, ditatapnya Saori lekat-lekat. "Tindakan dan keputusanmulah yang akan menentukan segalanya".
"Huh? Maksudmu?"
"Kau akan mengetahuinya tak lama lagi, Kidou Saori. Siapakah dirimu sebenarnya dan tugasmu di dunia ini".
Hening menggantung di seisi ruang tersebut. Tak satu pun dari mereka berusaha untuk bertanya lebih lanjut kepada Rea, apa yang sebenarnya dia maksud, sementara berusaha mencerna apa yang sedang terjadi sebenarnya.
"Luka ini, aku dapatkan karena aku memberanikan diri untuk kembali ke Sanctuary. Aku terlalu fokus dengan keadaan sekitarku sehingga aku tidak dapat mengantisipasi salah seorang dari mereka hadir secara tiba-tiba di tengah pertarunganku dan memanfaatkan keadaan sekitarnya untuk melukaiku".
"Uumm…, jadi…, belati itu-"
"Belati yang tertancap pada kakiku adalah milikku. Pengkhianat Sanctuary yang sesungguhnya lah yang menancapkannya pada kakiku."
"Pengkhianat yang sesungguhnya?"
"Kalian akan mengetahui siapa dia nanti. Bukan diriku maupun Aiolos yang mengkhianati Sanctuary dan Athena. Dia…, dia yang memiliki sisi gelap-lah yang telah membuat segalanya berubah menjadi lebih buruk dari era sebelumnya".
"Ehh… Aku tidak mengerti maksudmu", sahut Seiya.
"Perlahan kau akan memahaminya".
"Omong-omong, kau…, adalah seorang Saint bukan…? Kenapa kau harus menggunakan belati untuk menghadapi musuh?", tanya Shiryu.
"Tidak semua musuh dapat kau lawan dengan menggunakan cosmo".
"Huh? Bagaimana bisa?"
"Kalian akan mengetahuinya nanti sendiri". Rea melihat keadaan sekitarnya dan kemudian berkata,"Bisakah kalian mengembalikan belatiku?"
"Akan kami kembalikan. Kami sudah terlanjur memberikan belati tersebut kepada polisi untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Akan memerlukan waktu untuk memintanya kembali", ujar Saori.
"Baiklah. Dan tolong, hentikan penyelidikan tersebut. Karena peristiwa ini tidak ada sangkut pautnya dengan manusia awam".
"Baik. Akan segera aku hentikan penyelidikannya. Kalau begitu, kami permisi terlebih dahulu. Dokter mengatakan bahwa kau juga memerlukan istirahat yang cukup", kata Saori sembari beranjak dari tempat duduknya, memberi isyarat kepada keempat Saint yang ada untuk meninggalkan ruang tersebut.
"Terima kasih".
"Kami tinggal dulu, nee-san".
Saori beserta keempat Saint tersebut meninggalkan ruangan, meninggalkan Rea seorang diri.
"Hhaahh…"
Rea menghela napas panjang, kemudian menatap ke arah jendela. Nampak, matahari mulai tenggelam di ufuk barat dan sinar bulan yang temaram mulai menggantikan kehadiran sang raja hari. Sejenak, ingatan akan mimpi yang ia alami terbesit kembali di benaknya.
"Itu…, terasa bukan mimpi. Siapakah mereka? Dan tempat apakah itu? Mengapa aku merasa sangat asing dan familier dengan tempat itu di saat yang bersamaan?"
Ditatapnya kalung berliontin angsa dan salib yang ada di tangannya.
"Sejujurnya, entah mengapa, aku merasa aku sama sekali tidak memiliki koneksi dengan dunia ini."
Diingatnya kembali sosok perempuan berambut pirang yang muncul dalam mimpinya. Sosok yang menatap sedih ke arahnya. Kemudian, tanpa ia sadari, ingatannya terfokus pada kalung yang dikenakan oleh perempuan tersebut, kalung dengan liontin bulan sabit.
"Luna?"
