© angstgoddess003

.


.

Baekhyun POV

Saat kelas tiga SD, aku berjanji pada ibu dan ayahku, dan mereka membelikanku seekor anak anjing. Kala itu aku bersemangat sekali dan aku menghabiskan sepanjang hari memekik kegirangan dan melompat-lompat, sampai-sampai anak anjingku yang malang ketakutan. Pada malam yang sama, aku makan kue dan es krim, dan aku pergi tidur dengan gembira sambil memeluk anak anjing baruku.

Rasanya itu malam terbaik dalam hidupku.

Sampai tadi malam.

Karena saat Park Chanyeol mengatakan aku cantik, malam kemarin secara efektif berhasil memindahkan kedudukan malam di saat aku mendapat seekor anak anjing.

Dan dia juga mengatakan ingin mencoba. Dia tidak mengucapkan secara spesifik ingin mencoba apa, tapi aku mengerti. Dia ingin mencoba untuk bersamaku seperti yang selama ini kuinginkan.

Dan kemudian dia menciumku. Bukan karena dia merasa kasihan padaku, dan bukan karena aku memaksanya, tapi hanya karena dia ingin melakukannya.

Dia takut, aku tahu itu. Dan aku ingin mengatakan padanya tidak akan ada yang dapat membuatku berpaling darinya. Tapi, kalau aku jujur dengan diriku sendiri, aku juga sedikit takut. Karena semua kegembiraan yang kurasakan membuat anak anjingku yang malang kabur, bahkan aku belum sempat memberinya nama.

Jadi, saat aku mulai menyenandungkan lagu tidur Chanyeol, aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan menakut-nakutinya. Jangan sampai dia menjauh dariku. Walaupun aku ingin memanggilnya pacarku, atau memberikan label lain pada hubungan kami, dan cekikikan dengan Luhan tentang ciuman kami, tapi aku tahu aku harus bersabar. Jadi, aku akan melakukan persis dengan apa yang diucapkannya, dan biarkan semuanya mengalir.

Kami terbangun saat mendengar suara alarm, dan udara terasa benar-benar dingin di luar selimut.

Aku bisa merasakan napas Chanyeol di rambutku. Aku tersenyum di dadanya dan meremas tubuhnya sambil menyiratkan, aku tidak ingin kau menarik tubuhmu. Kalau saja aku tidak kenal baik dengan mimpiku, aku akan berpikir malam kemarin hanyalah sebuah mimpi.

Dan sebelum Chanyeol mengeluarkan erangan paginya yang biasa, dia semakin membenamkan wajahnya di rambutku dan mengecup lembut puncak kepalaku. Kemudian dia mengerang dan menarik tubuhnya. Tapi, aku tidak keberatan. Karena aku sabar, dan biarkan semuanya mengalir.

Karena enggan merasakan dinginnya udara di kamar yang gelap, aku perlahan-lahan berguling dari tempat tidur dan berjalan ke sofa. Butuh waktu yang lebih lama dari biasanya bagi Chanyeol untuk mematikan jam alarm.

Aku berjalan ke kamar mandi selagi Chanyeol mengusap rambutnya. Rambutku terlihat mengerikan. Aku rasa ikal rambutku sekarang sudah berbalik arah. Semuanya kusut dan masih terasa hangat karena napas Chanyeol.

Aku cepat-cepat mengganti pakaian, tidak sabar untuk memulai hari baru.

Setelah menyikat gigi, aku kembali menaikan hoodie dan tersenyum. Saat aku keluar, Chanyeol masih menjalarkan jari-jarinya ke rambut, belum sepenuhnya sadar. Hari ini benar-benar dingin, jadi aku memasang ritsleting jaketku tinggi-tinggi, dan mencoba untuk melakukan semuanya seperti normal.

Aku mengambil tasku dari sofa dan kembali berjalan ke meja samping tempat tidur. Aku mengeluarkan sekantong kue dan meletakkannya di sebelah jam alarm. Aku mengintip ke arah Chanyeol yang masih berbaring di bawah kehangatan selimutnya. Dia berbaring telentang, masih mengusap-usap rambutnya sendiri, tapi matanya sudah terbuka, dan dia menatapku dengan serius.

Tiba-tiba, aku merasa panik. Jangan-jangan dia menarik semua ucapannya semalam. Dalam cahaya yang lebih terang dia akhirnya sadar ternyata aku tidak cantik sama sekali. Dan sebelum aku sempat mendapat serangan jantung, dia mengangkat tangannya dari rambut dan membuat gestur untuk menyuruhku mendekat.

Dengan ragu, aku berjalan semakin dekat ke tempat tidur sambil bertanya-tanya apa maunya. Tapi, dia masih belum menurunkan tangannya, jadi aku menekukkan lututku dan naik ke tempat tidur, dan duduk di sampingnya. Telapak tanganku berada di tempat tidur.

Akhirnya dia duduk, tatapannya tidak pernah beralih dari mataku, dan menjulurkan tangannya untuk menarik turun hoodie-ku dan membebaskan rambutku yang ikal kusut. Setelah hoodie-ku turun, perlahan-lahan dia memindahkan tangannya ke pipiku, seperti tadi malam, dan mengusapnya dengan lembut.

Dia masih menatap mataku dengan serius selama beberapa saat sebelum bersandar ke wajahku. Sejenak, aku berpikir dia akan kembali menciumku, dan napasku langsung berhenti saat menatap matanya yang gelap, dan mataku langsung terpejam, secara insting sedikit membuka bibirku.

Tapi, dia malah bersandar di pipiku, dan mengecupnya lembut dengan bibir dan hidungnya. Dia tidak menjauh dan masih mengusap sebelah pipiku dengan ibu jarinya, aku masih bisa merasakan hangat napasnya menyapu wajahku.

Dia kembali mengecup pipiku dengan lembut sebelum akhirnya menjalarkan ujung hidungnya di pipiku, ke rahangku, ke rambutku yang kusut, sampai akhirnya hidungnya mencapai puncak telingaku.

Dia mengecup telingaku, dan aku bisa mendengar bibirnya terbuka saat dia mulai bicara, "Aku benci hoodie."

Dia menarik napas dalam-dalam di rambut dan telingaku, dan kemudian menjatuhkan tubuhnya kembali ke tempat tidur, lalu menjalarkan jari-jarinya ke rambut sambil memejamkan mata.

Aku langsung menghela napas. Aku bahkan tidak sadar sedang menahannya dan bergegas turun dari tempat tidur dengan wajah merah padam.

Aku berjalan keluar melewati pintu kaca menuju udara pagi Desember yang dingin, dan membiarkan dinginnya menyejukkan pipiku yang panas saat menuruni jenjang tanaman sambil tersenyum bodoh.

Aku mengintai halaman belakang rumahku, lalu diam-diam masuk ke dapur, dan menutup pintu di belakangku dengan bunyi 'klik' pelan. Aku kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mandi pagi. Aku meringis saat melihat bayangan rambutku di cermin, tapi sebuah senyuman kecil tetap tidak mau hilang dari bibirku. Wajahku masih sedikit memerah karena kecupannya di pipiku.

Aku mandi di bawah siraman air hangat dan akhirnya melepaskan pekikkan gembira yang sudah kutahan selama tujuh jam. Aku merasa sedikit bodoh karena terlalu gembira, tapi aku tidak bisa menahannya.

Seperti biasa, aku memasak untuk Luhan dan Bibi Irene, dan kami duduk di ruang makan sambil dipaksa Luhan untuk membahas segala dekorasi liburan. Dia bahkan punya diagram yang menampilkan lampu, daftar karangan bunga, dan dengan lihai mengatur area yang paling efisien untuk menggantung dekorasi tanpa merusak cat dinding. Ini konyol.

Aku keceplosan menjulukinya Nazi Natal. Dan sebagai hukuman, aku bertanggung jawab untuk merapikan semua kabel lampu yang kusut. Dan kabelnya sedikit mengingatkanku pada rambutku pagi itu.

Di tengah hari, Luhan menelepon Kris, dia meminta tolong untuk mengangkut pohon Natal raksasa dari toko ke rumah kami dengan mobil Jeep-nya.

Dan karena itu, aku membuat enam kantong Frosted Pecan Patience malam ini. Aku tidak keberatan, aku senang membuatkan Kris sekantong kue setiap hari. Aku masih merasa tidak enak dengan insiden beberapa waktu yang lalu. Dan Luhan menjadikan kueku sebagai senjata rahasia untuk mendapatkan segalanya. Ini membuatku terkekeh.

Saat Kris akhirnya datang membawa pohon, aku berdiri di sudut ruangan, sambil tersenyum dan mengucapkan halo. Dia meletakkan pohon di enam lokasi berbeda sebelum Luhan akhirnya puas.

Pukul tiga sore, rumah kami sudah seperti Kutub Utara namun dalam versi norak, dan aku bersumpah tidak akan pernah lagi menyentuh lampu Natal, aku hampir gila melihat kabelnya.

Saat aku akhirnya mendapat kesempatan untuk bersantai, aku menghabiskan sisa hariku dengan memikirkan Chanyeol dan semua ucapannya semalam. Dan aku bahkan tidak harus meminta Luhan untuk menata rambutku lagi. Dia memaksaku untuk duduk di kursi rias, di kamarnya, lalu berceloteh tentang berapa banyak ikal yang sedang trend untuk musim Natal. Aku pikir dia berusaha untuk mengkoordinasikanku dengan dekorasi Natal.

.


.

Chanyeol POV

Setelah Baekhyun pergi, aku kembali berbaring di tempat tidur sambil berpikir... dan menunggu sampai ereksi pagiku mereda. Ini akan menjadi masalah untuk kami. Aku tidak pernah harus berurusan seperti ini sebelumnya. Dan sekarang aku menarik tubuhku darinya untuk alasan yang berbeda.

Semuanya terasa begitu baru dan membingungkan, dan aku tidak tahu ke mana semua ini akan berjalan, aku juga begitu ketakutan akan menghancurkan segalanya. Aku perlu seseorang untuk menceritakan semua ini. Dan aku tidak bisa melakukannya dengan gadisku. Jadi, aku harus pergi ke satu-satunya bajingan yang tahu tentang situasi kami. Rasanya aku seperti menjilat ludah sendiri, karena aku selalu mengatakan padanya hubunganku dan Baekhyun tidak seperti itu. Dan sekarang, nyatanya memang seperti itu.

Cemas dengan percakapan yang akan kuhadapi, aku beranjak keluar dari tempat tidur sambil bermalas-malasan lalu mandi, kemudian berpakaian sebelum memasang jaket kulitku. Kris sudah pergi untuk mengambilkan pohon Natal baru Luhan, dan Paman Bogum sedang berada di rumah sakit. Aku mengunci rumah dan bergegas ke rumah Sehun.

Aku tidak meneleponnya terlebih dahulu, karena dia biasanya tidak peduli. Aku pikir kalau Luhan meminta Kris untuk menjemput pohonnya hari ini, berarti dia sedang sibuk mendekorasi rumah, jadi Sehun sedang berada di rumah, dan sedang mati kebosanan.

Saat aku sampai di halaman rumahnya, aku duduk-duduk sebentar di mobil sampai keberanianku terkumpul.

Dan seolah-olah penderitaanku belum cukup, ternyata Jessica yang muncul untuk membukakan pintu. Dia berdiri mengenakan celana jeans ketat dan sweater-nya, lalu menatapku rendah seperti aku seonggok kotoran.

"Chanyeol," dia menyeringai sambil menyipitkan mata.

Aku menyeringai melihatnya, karena dia luar biasa menyebalkan dan mudah dibuat marah.

Dia berbalik cepat, rambut panjangnya memukul kusen pintu. "Sehun! Pacarmu datang!" teriaknya, lalu berbalik menyeringai ke arahku sebelum masuk kembali ke dalam rumah.

Aku hanya memutar mataku, karena dia selalu seperti itu. Aku bisa mendengarnya bertengkar dengan Sehun di ruangan lain, dan aku bersandar di kusen pintu sambil mengorek-ngorek kuku. Mereka bertengkar seperti kucing dan anjing.

Aku bisa mendengar suara pekikan dan bantingan pintu sebelum akhirnya Sehun muncul di ambang pintu, sambil memutar matanya. Sebelah alisku terangkat melihatnya saat aku masuk.

"Dia tidak senang aku berpacaran dengan Luhan," jelasnya sambil membawaku masuk dan menyusuri lorong. Dia menatapku lewat bahunya dan kembali memutar mata. "Tapi, dia sepertinya hanya menyalahkanku," suaranya terdengar semakin keras saat kami berjalan melewati pintu kamar Jessica, dan aku mendengar, "Brengsek kau," dari sisi lain.

Aku terkekeh dan menggeleng. Senang sekali rasanya Papi B. tidak pernah mengadopsi seorang gadis remaja.

Sehun membawaku ke kamarnya yang berantakan. Aku melangkahi semua pakaian dan kertas yang berserakan di lantai, dan dia menutup pintu di belakangnya. Aku melihat sekeliling kamar yang sama sekali tidak berubah semenjak terakhir kali aku ke sini, dan melintasi kamar menuju kursi di meja belajarnya. Benar-benar jorok.

"Kau benar-benar jorok," gumamku sambil menggelengkan kepala. Aku tidak pernah menyaring pendapatku pada Sehun.

Dia menyeringai dan mengangkat bahu, lalu duduk di pinggir tempat tidur dan mengambil gitar, kemudian memetiknya dengan malas.

"Tidak juga. Kamarku berkarakter," ucapnya sambil mengerutkan bibir dan melihat sekeliling tumpukan sampah.

Aku memutar mata. Aku penasaran apa Luhan pernah melihat kamarnya.

"Jadi, untuk apa aku mendapat kunjungan kehormatan darimu?" tanyanya bingung selagi jarinya memetik senar gitar.

Aku menghela napas dalam-dalam, dan menjangkau bola bisbol di mejanya lalu melempar-lemparkannya. "Ini tentang Baekhyun," jawabku.

Sehun menatapku sambil mengerutkan alis. "Kau terlihat lebih baik. Kau tidur lebih lama sejak dia kembali?" tanyanya, masih memetik gitar.

Aku mengangguk pelan, masih melemparkan bola bisbol dan takut dengan apa yang akan kuucapkan. "Tapi, sekarang semuanya lebih," gumamku tanpa melihatnya.

Suara petikan gitarnya berhenti dan aku sedikit meringis, lalu melihatnya yang sedang menatapku bingung.

"Lebih apanya?" tanyanya sambil menggendang-gendangkan jarinya di badan gitar.

Aku memutar mata dan meletakkan bola bisbol. Aku harus mengejanya untuk Si Brengsek ini.

"Hubunganku dengan Baekhyun sekarang lebih," ucapku sambil mengangkat alis. Pemahaman melintas di wajahnya dan kemudian dia menyeringai melihatku, membuatku gugup. "Aku butuh kau untuk menyalurkan nurani ketidak-brengsekkanmu dalam percakapan ini," ucapku lagi sambil menyipitkan mata.

Dia terkekeh sebelum memasang wajah serius dan mengangguk padaku. Aku bersandar kembali ke kursi dan mengusap tanganku di wajah, sambil bertanya-tanya kenapa aku memutuskan untuk bicara dengan Sehun.

"Jadi," dia mulai bicara sambil melanjutkan memetik gitar. "Seberapa lebih, tepatnya?" tanyanya dengan nada sugestif, dan menaikan alisnya.

Aku langsung mengerti maksudnya, dan aku harus menghentikan omong kosong itu sampai di sini.

"Aku tidak menidurinya," ucapku jujur.

Sehun mengerutkan alisnya dan mengangguk.

"Oke," jawabnya perlahan. "Jadi? Apa dia pacarmu sekarang?"

Aku meringis mendengar ucapannya, karena aku benar-benar tidak tahu hubungan kami disebut apa.

"Kami tidak memberi label hubungan kami," ucapku sambil mengerutkan kening. "Aku pikir kami menerima kenyataan kalau memang ada sesuatu yang..." ucapanku terpotong, berjuang mencari cara untuk menjelaskannya, "...lebih," ucapku yakin sambil mengangkat bahu.

Sehun masih menatapku bingung. "Jadi, kau tidak menidurinya, dan dia bukan pacarmu?" tanyanya perlahan, seakan-akan sedang mencoba untuk menyelesaikan persoalan Matematika, dan tidak menemukan jawabannya.

Aku mengangguk. Ucapannya benar.

Dia mengangguk bersamaku sejenak, lalu mengerutkan bibirnya. "Kalau begitu, di mana letak lebihnya?"

Aku menghela napas dalam-dalam dan kembali mengusap kedua tanganku di wajah.

"Ya, kami saling menyukai lebih dari sekadar teman," aku mulai bicara, dan kemudian aku berpikir, kami tidak pernah hanya sebatas teman. "Jadi, kami hanya akan membiarkan semuanya mengalir," ucapku sambil mengangkat bahu, memutuskan ucapanku semalam benar-benar pas.

Petikan gitar Sehun terdengar semakin lambat dan dia menaikan sebelah alisnya. "Dan apa artinya ini?" tanyanya, jelas tidak paham.

Aku semakin gusar dan kembali mengambil bola bisbol dan melempar-lemparnya dengan santai.

"Artinya kami akan melakukan apapun yang terasa benar," jelasku sambil mengerutkan alis. "Kalau ciuman terasa benar, kami akan melakukannya," ucapku yakin dengan sebuah anggukan. "Kalau pergi berkencan terasa benar, kami juga akan melakukannya," ucapku lagi sambil mengangkat bahu, aku tidak punya penjelasan lain yang lebih baik, karena aku begitu tersesat. "Dan kalau memanggilnya pacarku terasa benar... aku akan memanggilnya pacarku."

Sehun benar-benar berhenti memetik gitar dan meringis sambil menggelengkan kepala. "Kenapa semua ini terdengar begitu membingungkan?"

Aku memaksakan tawaku. "Karena memang begitu kenyataannya," ucapku sambil menggelengkan kepala.

Sehun masih terlihat bingung, sebelah alisnya terangkat. Aku menghela napas jengkel.

"Kami saling membutuhkan untuk bisa tidur. Dan kalau aku mengacaukan semua ini dan dia tidak ingin lagi punya hubungan apa-apa denganku, kami berdua akan kacau... dan lelah. Dan yang lebih parah lagi..." Aku duduk tegak di kursi dan meletakkan bola bisbol dengan keras. "Kalau ada yang sampai tahu dengan apa yang kami lakukan, mereka akan memisahkan kami, Sehun," ucapku serius.

Dia terlihat kaget mendengar nada suaraku. Tapi, itu benar. Itu skenario terburuk dalam situasi ini.

"Dan saat mereka memisahkan kami, kami berdua akan kehilangan lebih dari sekadar tidur. Jadi," ucapku sambil bersandar ke kursi perlahan. "Kami tidak bisa berkencan seperti orang normal. Karena kami tidak..." setelah jeda beberapa saat, "Normal," jelasku. Kemudian aku kembali terdiam sebelum bicara, "Dan karena pacarmu akan mengebiriku."

Aku harap komentar terakhirku akan meringankan suasana, tapi Sehun masih menganga.

Aku memutar mataku, dan kembali melempar-lembarkan bola bisbol, menunggunya untuk memproses semua ini. Perasaanku sedikit lebih baik. Setidaknya, aku bisa mengucapkan omong kosong ini keras-keras dengan seseorang. Sekalipun, seseorang itu hanya menganga.

Tiba-tiba, aku mendengar suara petikan gitar, jadi aku kembali melihat Sehun. Dia mengerutkan bibirnya dan mengangguk paham, dan aku menghela napas. Aku bersyukur setidaknya dia tidak melontarkan komentar brengsek pada situasi ini.

Aku memutuskan untuk kembali bicara. "Dan yang paling penting, aku benar-benar tersesat. Aku tidak punya petunjuk bagaimana cara memperlakukannya lagi," ucapku sambil mendesah.

Dia tetap diam, membiarkanku untuk mengeluarkan semuanya, dan ini lebih baik daripada apa yang kuharapkan.

"Kami akan keluar minggu ini," ucapku padanya, mengacu pada pura-pura-tidak-berkencan kami.

Dia menaikan sebelah alisnya padaku yang menyiratkan, terlalu berisiko?

"Incheon," jelasku. Dia mengangguk. "Ini pura-pura-tidak-berkencan," gumamku sambil mengangkat bahu.

Aku suka dengan istilah ini.

Sehun tertawa keras dan menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan 'pura-pura-tidak-berkencan' dengan geli. Dia mulai memetik lagu pada gitarnya lalu mengerutkan kening, berkonsentrasi. "Kalau kau mau melakukannya besok, aku bisa mengalihkan perhatian Luhan," gumamnya.

Aku mengerutkan bibir dan mengangguk. Ini terlalu cepat, tapi aku akan mengambil kesempatan. Aku tahu bagaimana kebiasaan Luhan yang selalu menghabiskan hari libur dengan berbelanja di kota. Lebih baik untuk tidak mengadu nasib.

Setelah itu, aku mengajak Sehun makan siang di luar dan membawanya menjauh dari Jessica untuk sementara waktu.

Bajingan yang malang.

Aku bahkan sampai mengemis-ngemis padanya untuk tidak membuatku muntah saat dia menceritakan rincian tentang kegiatan seksnya dengan Luhan. Dia hanya mencibir dan mengangguk. Kami tidak lagi berbicara tentang Baekhyun. Aku cukup bertekad untuk menjalankan semua ini dengan normal. Atau senormal yang aku bisa.

Sehun ikut pulang ke rumahku, karena dia ingin menemui Luhan di rumahnya. Aku menghabiskan soreku dengan Papi B. dan mencoba untuk menebus dua belas hari perilaku bodohku yang kulampiaskan padanya. Dia terlihat penasaran dengan suasana hatiku yang seperti roller coaster.

Aku merenung sejenak betapa aku sangat menghargai wali kami. Dan aku tidak bodoh. Aku tahu Bibi Irene dan Paman Bogum punya empat 'bisnis' keluar kota pada akhir pekan yang sama. Pasti ada sesuatu di antara mereka. Tapi, aku tidak pernah bertanya. Itu bukan urusanku. Aku rasa mereka tidak banyak membicarakan masalah 'bisnis' saat bersama.

.


.

Gadisku datang pukul sepuluh malam, tepat waktu, dan saat aku membukakan pintu, aku melihatnya masih berusaha untuk terlihat cantik untukku. Rambut ikal berkilaunya tertiup angin dingin saat dia beringsut melewatiku memasuki kamar, dia melirikku sambil tersenyum.

Biasanya dia akan langsung membongkar makanan di tempat tidur setelah masuk. Tapi, malam ini dia berdiri di depanku setelah aku menutup pintu.

Dia sedikit menarik-narik ujung lengan bajunya, dan terlihat gugup saat menatap mataku. Aku langsung bisa menebak maksud perilaku anehnya, dan berjalan mendekatinya. Matanya melesat ke bibirku. Aku menyeringai dalam hati. Dia terkadang sangat transparan.

Aku berjalan mendekat sampai tubuhku menyentuh tubuhnya, dan menyelipkan tanganku di bawah rambut ikalnya yang mengkilap, dan di lehernya. Aku memiringkan kepalanya dan melihat matanya terpejam saat aku membungkuk dan meletakkan bibirku di bibirnya. Saat aku menghisap bibir bawahnya, aku tiba-tiba memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak terlalu polos, aku harus melakukannya sebelum kami naik ke tempat tidur dan ereksiku menekan tubuhnya. Jadi, lidahku melesat keluar dan menjilati bibirnya, yang langsung terbuka.

Gadisku menjilati lidahku dan membawa tangannya naik ke rambutku sambil mendesah, aku semakin menarik wajahnya mendekat, mendorong lidahku semakin dalam ke mulutnya dan menikmati semua ini.

Aku ingin merasakan tubuhnya lebih dekat, jadi aku meletakkan sebelah lenganku di pinggangnya dan menariknya ke tubuhku. Tangannya yang mengepal di rambutku juga menarikku semakin dekat, dan dia semakin memiringkan kepalanya agar lidahnya bisa terjun semakin dalam di mulutku. Dan aku sangat bersyukur kami tidak melakukan ini di tempat tidur.

Kemudian, dia mulai menggosokkan tubuhnya di ereksiku yang sudah mengeras, dan aku mengerang di dalam mulutnya. Dengan enggan, aku menjauh dari bibirnya sambil terengah-engah dan membelai ikal rambutnya.

Dia berdiri diam sejenak, sedikit terengah-engah, dan menjilati bibirnya, sebelum dia membuka matanya dan tersenyum padaku. Aku kembali tersenyum dan mengangkat bahuku, yang menyiratkan, aku tidak keberatan menambahkan ini dalam rutinitas kita.

Dia akhirnya berbalik saat wajahnya memerah dan mulai membongkar makanan di tempat tidur. Aku sudah bertekad untuk menemukan jalan tengah di antara rutinitas baru dan lama kami.

Aku menjatuhkan tubuhku di tempat tidur dan mulai melakukan hal yang biasa kulakukan saat dia berjalan ke sofa. Aku mulai melahap makanan yang dibawanya sambil sesekali bergumam. Aku melihatnya bermain dengan iPod. Aku sudah memutuskan untuk memberi gadisku iPod sebagai kado Natal.

"Apa yang akan kau lakukan besok?" tanyaku sambil mengunyah, mengingat jendela kesempatan yang diberikan Sehun.

Dia melirikku dan tersenyum.

"Kalau Nazi Natal tidak menahanku, mungkin aku tidak akan melakukan apa-apa," ucapnya pelan, dia menggelengkan kepalanya dan membuat rambut ikal mengkilapnya berloncatan ke mana-mana.

Keningku berkerut sambil bertanya-tanya siapa yang dibicarakannya, sebelum aku menyadari itu pasti Luhan. Julukannya benar-benar cocok.

"Kenapa?" tanyanya sambil menatapku melalui bulu matanya.

Ini lagi?

Aku menelan makanan. "Aku rasa kita bisa pergi ke Incheon besok," gumamku sambil menyendok makanan.

Dia tersenyum lebar dan mengangguk, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke iPod. Aku terus melanjutkan makan, dalam hati aku memutar mata karena dia masih mencoba merayuku, padahal jelas-jelas aku sudah terpikat.

"Bagaimana caranya kita akan bertemu?" gumamnya.

Aku mendongak dari makananku dan dia menatapku sambil menggigit bibirnya. Aku tidak yakin apa ini juga salah satu caranya merayu, atau memang hanya... Baekhyun.

Aku mengerutkan kening, memproses pertanyaannya. "Aku akan parkir di ujung jalan, kita bertemu di sana?" ucapku tidak yakin, dan sedikit meringis saat memikirkan aku harus bersembunyi-sembunyi, seolah-olah apa yang kami lakukan adalah tindakan memalukan. Padahal kenyataannya tidak begitu.

Dia mengangguk dan kembali melihat iPod, masih menggigit bibirnya.

Dan kemudian aku merasa seperti sampah karena tidak punya nyali untuk mengajaknya keluar seperti pria normal. Tapi, aku belum siap kalau semua orang tahu. Dan aku harus menunggu sampai semua ini terasa benar. Jadi, aku membiarkan diriku merasa seperti sampah sampai makananku habis.

Kami mengobrol ringan setelah itu selagi aku membuat sketsa rambut mengkilap gadisku lagi dan dia mendengarkan iPod. Dia sedikit menceritakan padaku tentang Seoul, tapi dia sama sekali tidak membahas tentang persidangan dan Kyuhyun. Aku mencoba untuk menceritakan apa yang dilewatkannya selagi dia tidak di sini, tapi itu sama sekali tidak banyak.

Pada pukul sebelas, aku sudah kembali lelah. Jadi, aku menutup buku sketsaku untuk menunjukkan aku siap tidur. Dia melepas earphone dan berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.

Setelah kami berdua selesai melakukan rutinitas malam kami, kami naik ke tempat tidur dan aku mematikan lampu. Seperti tadi malam, aku mengumpulkan rambut ikalnya di atas kepalanya dan membenamkan wajahku di sana sambil tersenyum.

Aku mengecup lembut puncak kepalanya, dan merasa puas dengan ciuman fantastis kami di ambang pintu tadi. Sepertinya, dia tidak keberatan. Dia membenamkan wajahnya di dadaku dan mulai membelai lembut rambutku sebelum akhirnya menyenandungkan lagu pengantar tidurku.

Aku menghela napas dalam ikal rambutnya dan jatuh tertidur, sedikit tidak sabaran menunggu pura-pura-tidak-berkencan besok.

I was the match and you were the rock

Maybe we started this fire

-Things We Lost in The Fire, Bastille

.


.

tbc