Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
Catatan : cerita ini hanya fiksi belaka yang di karang-karang author, tidak bermaksud menyinggung apapun, sedikit menggabungkan iblis dan miko, tidak ada unsur buruk apapun dalam membuat cerita ini, hanya sekedar cerita bergender supernatural-humor, berharap ini akan lucu, jika tidak lucu maka author kembali gagal membuat cerita humor.
.
.
! Don't Like Don't Read !
.
~ Gadis Kuil Dan Para Pengikutnya ~
.
- Sequel -
[ Penerus ]
.
.
Sakura Pov.
Membuka mataku, dan wajah ibu yang pertama kali aku lihat, dia terlihat khawatir dan letih, melirik sekitar, sepertinya ini rumah sakit.
"Ibu akan memanggilkan dokter, jadi jangan banyak bergerak dulu." Ucap ibuku, aku hanya mengangguk pelan dan menunggu seorang dokter datang memeriksaku.
Aku tidak sadarkan diri hingga dua hari, kata dokter, keadaanku sudah membaik dan bisa segera pulang, menatap kedua lengan dan kakiku, di sana masih ada bekas lecet dari rantai besi yang sempat menjeratku, saat itu aku memaksakan diri untuk melepaskan rantai itu demi menolong,
Tersentak kaget,
Aku baru mengingat segalanya, memeluk ibuku dan menangis, menangis keras hingga aku puas meluapkan rasa sesak yang ada di dadaku.
Mereka, para iblisku, akhirnya mereka pergi dan kami tidak akan pernah bertemu lagi.
Setelah melewati cek up, ayah dan ibu mengantarku pulang, suasana rumah dan kuil yang begitu tenang, dedaunan berserakan di sekitar halaman dan taman sedikit tidak terurus, aku seperti melihat bayangan Naruto yang sedang tersenyum lebar dan semangat untuk membersihkan halaman yang kotor itu.
"Pelan-pelan masuknya." Ucap ibuku, dia pun menuntunku untuk masuk, kakiku masih terasa lemas, aku jadi harus berjalan pelan. Ayah membukakan pintu dan kembali aku akan melihat bayangan mereka menyambutku saat pulang sekolah, rumah ini terlalu banyak kenangan tentang mereka.
"Ibu akan menginap beberapa hari untuk menemanimu." Ucap ibu.
"Bagaimana keadaanmu, nak?" Ucap ayahku.
Mereka masih terlihat khawatir padaku. "Aku baik-baik saja ayah. Ibu, sebaiknya ibu pulang bersama ayah, aku yakin ibu belum istirahat selama aku di rumah sakit." Ucapku, wajah ibu terlihat letih dan lelah, sejujurnya aku tidak begitu sakit, hanya rasa sedih ini yang jauh lebih besar.
"Tidak apa-apa, ibu akan menjagamu sampai nenek datang, katanya nenek yang akan tinggal bersamamu." Ucap ibu.
Nenek akan datang? Aku masih tidak percaya, apa nenek akan peduli padaku lagi setelah apa yang aku lakukan? Aku membuatnya kecewa, berbohong padanya, hampir menghancurkan kuil utama dan melawan para tetua, aku benar-benar membuat banyak masalah.
"Lagi pula, kau sedang hamil, kau harus menjaga bayimu." Ucap ibu.
Ah, aku lupa akan hal itu, memegang perut dan ucapan Sasuke kembali membuatku teringat, dia ingin aku menjaga anak ini dengan baik.
"Apa ibu tidak marah padaku?" Ucapku dan menatap ibu. "Apa ayah tidak kecewa padaku?" Ucapku lagi dan menatap ayahku. "Aku sudah membuat kalian malu dengan memiliki hubungan terlarang bahkan dengan seorang iblis yang aku panggil, apa kalian masih menganggapku anak?" Ucapku.
Ayah dan ibuku terdiam, mereka saling bertatapan dan kembali menatapku.
"Tidak apa-apa Sakura, kami menyayangimu, ibu tahu kau begitu berat memikul beban sebagai keturunan ini, meskipun ibu bukan keturunan Haruno, ibu rasa ini cukup tidak adil, tapi apapun yang telah terjadi padamu, ibu dan ayah akan tetap mendukungmu, Sakura." Ucap ibu dan ayahku pun mengangguk perlahan.
Mereka tidak menyalahkanku, mereka menyalahkan takdir keturunan ini, jika saja aku tidak hanya di kuil, aku mungkin akan bertemu banyak orang di luar sana dan mungkin akan bertemu pria yang bisa menjadi pasangan hidupku, tapi aku terjerat akan takdir ini, aku hanya terus bersama Sasuke dan lainnya, mereka hanya iblis, tapi selama bersama aku tidak pernah menganggap mereka seperti itu, merekalah adalah keluarga bagiku.
"Yang terpenting adalah kau menjaga kesehatanmu dan bayimu." Ucap ayahku dan membelai lembut puncuk kepalaku.
Aku pikir mereka akan kecewa padaku dan memikirkan aku tidak perlu membesarkan anak ini, tapi ayah dan ibu peduli padaku dan anak ini, mengelus perlahan perutku, tanpa sadar ini sudah membesar, aku sama sekali tidak menyadarinya dan pertumbuhannya pun selayaknya bayi normal.
.
.
Beberapa hari kemudian,
Menjalani hari-hari seperti biasanya, aku tidak bisa tenang jika tidak membersihkan halaman dan melakukan sesuatu, meskipun ibu sedikit menegurku, suasana di kuil dan di rumah terasa begitu tenang dan sunyi, ayahku sedang sibuk bekerja dan beberapa hari ini ibu yang akan menjagaku, nenek belum menemuiku sama sekali, kata ibu, nenek masih ada perlu di kuil utama dan dia akan datang beberapa hari lagi.
Menatap kedua tanganku, para tetua menyegel kekuatan pemanggilku, untuk berjaga-jaga agar aku tidak memanggil iblis lagi, mereka melakukan hal itu.
Menatap langit cerah di siang hari ini, aku sudah mengurus tamannya dengan rapi, selama ini Naruto yang akan mengurusnya, kuil jadi harus di bersihkan lagi, karena itu tugas Kiba dan Sai, sekarang aku harus memasak sendiri, karena Sasuke pun tidak ada.
"Apa kau ingin sesuatu?" Tanya ibuku saat kami sedang bersantai di ruang tengah, ruangan ini kadang akan ramai oleh mereka yang selalu saja ribut, tapi sekarang begitu tenang, aku jadi tidak terbiasa dengan suasana ini.
Menggelengkan kepalaku pelan, duduk dan bersandar sisi pintu, angin berhembus perlahan dan sangat damai, seakan kemarin hanya mimpi buruk di mana aku dan para iblisku menyerang para tetua dan menghancurkan ruangan pengadilan.
"Ibu akan mengatakan pada ayah jika kau harus di antar untuk sering konsultasi pada dokter." Ucap ibuku.
"Apa ini akan tetap normal?" Ucapku, aku ragu, dia anak setengah iblis.
"Mau anak apapun, tetap saja 'kan, dia hanya bayi yang tidak tahu apa-apa, lagi pula kalian menikah secara resmi tapi tak mengundang ibu dan ayah, jika saja kau katakan pada kami, mungkin ibu akan membuatkan acara lebih baik dari pada hanya sederhana saja." Ucap ibu, dia kecewa dengan pernikahan dadakanku.
"Maaf dan Terima kasih, bu." Ucapku, sayangnya Sasuke pun sudah tidak ada, aku akan minta maaf pada anak ini jika dia sudah lahir, dia akan tumbuh tanpa seorang ayah di sisinya, namun di setiap waktunya rasa rindu ini selalu membuatku tersiksa, aku terus memikirkan Sasuke, aku selalu ingin ada dimana kami bisa bertemu kembali, tapi itu sangat mustahil, kami tidak akan bertemu.
"Sudah-sudah, jangan membahas yang sudah lewat, dengar kata ibu, pokoknya kamu harus konsultasi sama dokter, jangan sampai terjadi apa-apa, ini anak pertamamu, jadi ibu harap dia lahir dengan selamat, ibu sudah tidak sabar akan di panggil nenek, bagaimana jika membeli peralatan bayi?" Ucap ibu, dia jadi terlihat bersemangat.
"Aku pikir, aku masih punya peralatan bayi bu, untuk apa beli baru lagi?" Ucapku.
"Tidak perlu memakai yang lama, kita harus membeli yang baru untuk menyambutnya."
"Ibu akan boros."
"Tidak. Lagi pula ayahmu akan setuju, dia harus memakai sesuatu yang baru." Ucap ibu dan tersenyum.
.
.
Mendekati hari kelahiran,
Sekarang nenek yang tinggal bersamaku, awalnya sikapnya dingin padaku, tapi lama kelamaan nenek jadi masa bodoh akan masalahku yang dulu, ibu sudah kembali ke rumahnya, aku pun tidak ingin ibu terus sibuk mengurusku dan tidak mengurus ayah.
"Bagaimana keadaanmu?" Ucap nenekku.
Setiap hari nenek terus mengawasiku dan kandunganku, dia pikir anak dalam kandunganku ini akan memberontak dan bukan seperti anak manusia.
"Aku baik-baik saja, hanya mulai sedikit berat dan pinggangku sering sakit." Ucapku.
Anak ini sangat tenang, aku hanya merasakan sedikit pergerakannya di dalam.
"Nenek tidak menyangka jika dia tetap terlihat normal sebagai setengah iblis."
"Nenek benar, aku pikir dia akan lebih cepat besar dan bulan kelahirannya akan pendek, tapi tetap saja pertumbuhannya seperti bayi manusia normal." Ucapku.
Saat di USG pun aku melihat bentuk tubuhnya yang normal, aku sudah membayangkannya sebagai anak serigala di dalam, heheheh, ini cukup lucu. Aku tidak pernah merasakan hal aneh, semuanya normal-normal saja sebagai ibu yang sedang mengandung.
"Tapi, kau harus tetap waspada, dia memiliki darah setengah iblis, kau tidak akan tahu apa yang terjadi padanya kelak, iblis serigala termasuk iblis yang kuat, bahkan mereka cukup sulit di kontrol." Ucap nenekku.
Mengelus perutku perlahan, aku ingin kau tumbuh menjadi anak normal tanpa adanya masalah meskipun dalam tubuhmu ada darah iblis. Aku selalu mengulang ucapanku itu, seakan seperti sebuah mantra untuknya, aku yakin, dia akan menjadi anak yang baik dan bisa hidup bersama manusia di sekitarnya.
.
.
.
.
.
.
5 tahun kemudian.
Pertengahan musim semi, langit cerah, pohon Sakura yang berada di halaman kuil sudah mekar dan bunga-bunganya banyak berserakan di sekitar halaman, pepohonan yang berdaun lebat dan membuat sekitar area kuil jadi lebih sejuk dan rindang, bunga-bunga yang bermekaran di taman yang berhadapan langsung dengan ruang tengah membuatnya jadi lebih indah, aku sedang menikmati cuaca yang cerah ini dan beristirahat sejenak setelah menjemur semua pakaian yang ada.
"Cuacanya begitu indah hari ini." Ucap nenekku dan sesekali meminum teh hijaunya dan di dampingi dengan kue mocci.
"Uhm, sudah pertengahan musim semi, halaman kuil jadi penuh bunga Sakura, aku jadi harus repot membersihkannya lagi." Ucapku dan berbaring di lantai yang berbahan kayu ini, lantainya jadi terasa dingin, menatap ke arah taman, di sana aku bisa melihat anak kecil yang sudah berumur 4 tahun, selama ini pertumbuhannya normal, dia begitu cepat belajar apapun di usianya, sekarang dia sibuk mengamati bunga-bunga yang mekar di sana.
"Sarada, makan kuemu." Ucap nenekku, dia memanggil anak kecil itu.
Namanya Haruno Sarada, dia tetap menyandang marga Haruno agar statusnya sebagai miko kuil Konoha lebih jelas. Para warga jadi mengetahui jika dia generasi berikutnya, sayangnya kabar tentang suamiku tidak begitu di ketahui mereka, aku hanya akan membuat cerita bohong jika pernikahan kami tidak begitu di publikasikan dan suamiku mengalami kecelakaan.
"Iya, nenek." Ucapnya dan suaranya terdengar begitu cempreng.
Gadis kecil itu berjalan ke arah ruangan ini, menyimpan dengan rapi sendalnya dan berlari masuk, duduk dengan sopan dan tenang di samping nenekku, dia begitu patuh.
"Apa yang ibu lakukan?" Tanyanya dan melihat ke arahku.
"Pinggang ibu sakit setelah menjemur pakaian." Ucapku.
"Apa mau aku pijit?" Tawarnya, manis sekali.
"Tidak perlu." Ucapku dan segera bangun dari tempatku berbaring.
Tanpa terasa anak yang aku kandung dulu sekarang sudah sebesar ini, nenek mengatakan akan mengasuh dan mengajarinya sebagai penerus miko berikutnya, aku hanya akan mengurus kuil dan rumah, ini sudah menjadi kesepakatan kami, nenek hanya ingin mengontrol anakku, tapi hingga sekarang dia masih terlihat normal dan tidak ada tanda-tanda aneh darinya.
Dia sangat mirip dengan Sasuke, rambut hitam pendeknya dan mata onyx itu, dia jadi mengingatkanku pada sosok Sasuke, aku merasa seperti Sasuke tetap berada di sekitar kami, dia sedikit menolongku dari rasa hampaku ini.
"Kue buatan nenek memang enak." Ucapnya dan terlihat senang.
"Benarkah? Nenek akan membuatkannya lagi untukmu, apa kau ingin rasa yang lain?" Ucap nenekku, mereka jadi begitu akrab.
Nenek menerima kehadirannya, hanya itu saja membuatku sangat senang dan bersyukur. Bagaimana dengan kedua orang tua?
Terdengar suara klakson mobil dari depan tangga kuil, berjalan keluar dan melihat ayah dan ibuku datang, mereka membawa boneka dan beberapa hadiah, mereka sangat memanjakan Sarada.
"Kakek, nenek," Ucapnya ceria dan menghampiri kedua orang tuaku.
"Kami membawakanmu hadiah." Ucap ayahku.
"Wah, Sarada sudah sangat besar yaa." Ucap ibuku.
Ini membuatku sangat tersentuh, orang-orang di sekitarku tidak membuatnya kehilangan kasih sayang sedikit pun, Sarada tetap mendapat kedudukan spesial di hati mereka.
.
.
Di malam hari, setelah kegiatan makan malam telah selesai, aku membacakan sebuah dongeng untuk Sarada sebelum dia tidur.
"Ibu." Panggilnya.
"Hmm? Ada apa?"
"Apa dulu ibu seperti aku juga? Harus tinggal di kuil?" Tanyanya, aku rasa dia mulai penasaran pada kehidupannya.
"Tentu saja, apa nenek tidak menceritakan padamu?" Tanyaku.
Dia menggelengkan kepalanya pelan, apa saja yang nenek ajarkan untuknya? Apa nenek tidak menceritakan tentang leluhur kami hingga membuat anak gadis akan tetap berada di kuil?
"Nenek hanya mengajakku bermain." Ucapnya dan tersenyum.
Sepertinya nenek juga ingin dia menikmati masa kecilnya.
"Ibu akan menceritakan segalanya saat kau sudah bersekolah."
"Sekolah?"
"Iya, kau akan bertemu teman-teman baru dan guru yang mengajarimu."
"Apa mereka akan seperti teman-temanku yang berada di halaman belakang kuil?"
"Tidak Sarada, mereka teman-teman manusiamu." Jelasku.
Sejak kecil Sarada sudah melihat roh-roh dan hantu yang berkeliaran di sekitar kuil dan hutan di belakang, aku tidak melarangnya jika dia ingin berinteraksi dengan mereka, dulunya aku pun seperti itu, hanya nenek saja yang mengawasiku dan menegurku agar tidak terlalu bermain bersama mereka.
"Jadi aku akan keluar kuil? Kata nenek aku tidak boleh keluar."
"Tidak sayang, kau boleh keluar, tapi jangan terlalu jauh, ibu juga dulunya bersekolah." Ucapku.
"Aku jadi tidak sabar." Ucapnya, bersemangat.
"Nah, sekarang kita tidur." Ucapku.
Sarada mulai menyamankan dirinya dan menutup matanya, mengecup keningnya dan mengucapkan selamat tidur pada gadis kecilku.
.
.
.
.
Teman-temanku masih sering berkunjung, mereka menatap Sarada dan terlihat sedikit takjub akan wajah anak kecil ini.
"Selamat siang, namaku Haruno Sarada." Ucap Sarada, ramah, dia benar-benar seperti anak yang sangat terdidik.
Sekarang Sarada sudah memasuki sekolah TK, dia harus belajar seperti anak yang lainnya, kepintarannya begitu mendapat pujian oleh gurunya, katanya Sarada sudah pandai membaca dan berhitung di usianya, aku rasa ini turunan dari ayahnya, dia jadi anak jenius.
"Dia benar-benar sopan dan terlihat pandai." Ucap Ino.
"Dia sangat mirip ayahnya." Ucap Temari.
"Selamat siang juga, kami teman-teman ibumu." Ucap Tenten.
"Aku pikir kalian tidak akan datang lagi mengunjungiku." Ucapku.
Ini sudah bertahun-tahun lamanya dan mereka masih tetap saja mengunjungiku. Setelah selesai kuliah, Ino memilih untuk membangun sebuah toko bunga dan berjualan, Temari bekerja di sebuah perusahaan, sedang Tenten, dia memilih bekerja di sebuah rumah sakit, mereka menjadi sukses dengan tujuan mereka masing-masing.
Aku jadi harus berbohong pada mereka lagi tentang Sasuke, sama seperti saat para warga menanyakan ayah Sarada, aku akan mengatakan jika dia mengalami kecelakaan, sedangkan hewan peliharaanku, aku hanya berbohong jika mereka kembali ke hutan dan tidak pernah kembali lagi.
Sarada jadi penasaran akan ucapanku tentang hewan peliharaan, haa..~ aku harus menjelaskan padanya lagi nanti, tapi tanpa teman-temanku, mereka tidak boleh tahu jika mereka bukan hewan biasa.
.
.
Setelah melewati masa Tk, kini Sarada akan masuk sekolah dasar, ke jenjang lebih tinggi, dia mendapat nilai terbaik saat ujian masuk dan menjadi murid yang memberi sambutan sebagai murid ajaran tahun baru, aku senang dan cukup bangga akan prestasi anakku.
Tidak hanya saat TK, di sekolah dasar pun dia di sanjung atas kepintarannya, tapi ada sesuatu yang membuatnya di jauhi oleh teman-temannya, salah seorang guru, mungkin dia berasal dari luar Konoha dan tidak tahu apa-apa tentang keturunan Haruno di kota Konoha, dia memintaku datang ke sekolah dan menegur akan sikap aneh Sarada saat di sekolah.
Untung saja kepala sekolah di sekolah itu menjelaskan pada guru Sarada, jika di kota ini keturunan Haruno di anggap wajar saja jika ada sedikit hal aneh atau tidak biasa di lakukannya, tapi tetap saja, itu di anggap perilaku yang tidak masuk akal.
"Sarada, jika kau sedang berada di sekolah, berusaha lah untuk tidak berinteraksi dengan makhluk yang ada di sana, orang-orang lain mungkin akan menganggapmu aneh dan ibu tidak ingin terjadi hal itu padamu, kau mengerti?" Ucapku, aku ingin dia tetap terlihat normal. Dulunya aku juga seperti itu, banyak yang takut padaku gara-gara bisa melihat hantu.
"Baik, bu." Ucapnya, dia memahami ucapanku.
Berikutnya, aku tidak pernah di panggil lagi dan Sarada benar-benar menjaga sikapnya saat di sekolah.
Ending Sakura pov.
.
.
.
.
.
.
Normal Pov.
Gadis berambut hitam pendek ini sudah siap untuk bergegas pergi, tahun ini dia akan menduduki bangku kelas 4 di sekolah dasar.
"Jangan lupa bekalmu, Sarada." Ucap Sakura, wanita ini sudah mengurus anaknya dengan baik dan kini Sarada sudah bisa membaur dengan sekitarnya.
"Iya, bu." Ucap Sarada, berlari ke dapur dan mengambil bekal yang sudah di buatkan ibunya.
"Aku pergi, bu." Ucap Sarada. Berlari ke arah ruang santai. "Aku pergi, nek." Ucapnya pada nenek Chiyo, sebelum berangkat ke sekolah.
"Uhmm, hati-hati di jalan." Ucap nenek Chiyo.
"Iya." Ucapnya, semangat, gadis ini benar-benar terlihat ceria, berjalan keluar dan menuruni tangga, tatapan cerianya berubah menjadi tenang, dia begitu tenang saat di luar, berbeda saat masih berada di area rumahnya.
"Selamat pagi, Sarada." Ucap Chou-chou, gadis yang agak gemuk dan berkulit sawo gelap ini adalah teman Sarada, mereka sudah berteman sejak di kelas 1 sekolah dasar, Chocho senang bersama Sarada karena dia sangat pandai dan Chocho mendapat teman yang bisa membantunya belajar.
"Selamat pagi, Chocho." Ucap Sarada.
"Katanya hari ini ada ulangan matematika." Ucap Chocho dan berwajah lesu.
"Apa kau tidak belajar?"
"Aku hanya lupa, aku tertidur lebih cepat."
"Dasar, aku tidak bisa membantumu, kau harus bisa membuat nilai ulanganmu lebih baik."
"Baiklah, ajari saja saat aku remedial nanti." Ucap Chocho dan terkekeh.
"Apa? Kau mau remedial? Setidaknya berusahalah mendapat nilai standar."
"Baik-baik, kau sudah seperti guru saja."
"Aku hanya ingin kau tidak mendapat nilai jelek."
Sarada benar-benar menjaga sikapnya, dia tidak ingin mendengar ejekan dari murid lain tentang keanehannya yang bisa melihat hantu, Chocho sendiri tidak peduli akan kelebihan Sarada itu, dia hanya ingin berteman dengan Sarada.
Saat kelas sedang berlangsung.
"Baik, sekarang, Sarada, tolong kerjakan soal di atas." Ucap seorang guru pada Sarada.
Sarada mulai naik dan mengerjakan sebuah soal matematika. Beberapa anak mulai berbisik dan Sarada tetap tidak peduli.
"Apa dia mendapat jawaban dari hantu-hantunya."
"Jangan berbicara seperti itu, nanti hantunya akan datang padamu, hihihih."
"Dia bohong soal kepintarannya, dia itu meminta tolong pada teman hantunya."
Semua ucapan itu akan sering di dengarnya, semakin banyak yang mengucapkan buruk tentangnya, semakin Sarada akan tidak peduli dan terus memasang wajah temboknya saat di sekolah, ibunya sudah berpesan jika dia anak spesial, berbeda dengan anak lainnya, maka dari itu Sarada benar-benar ingin mendengar ucapan ibunya untuk tetap menjaga sikap dan terlihat normal saat di sekolah.
"Sudahlah jangan mendengar ucapan mereka, biarkan saja mereka akan di ganggu hantu." Ucap Chocho dan tertawa.
Hanya Chocho yang bisa menjadi penyemangat Sarada saat di sekolah.
.
.
.
.
Liburan musim panas, Sarada hanya berbaring terlentang di ruang tengah, seluruh pintunya terbuka, meskipun begitu udaranya tetap saja panas, kipas angin bergerak membuat udara di ruangan itu sedikit sejuk, sebuah buku tepat berada di atas wajah Sarada.
"Panas." Gumamnya.
"Kau tidak ada pekerjaan dari sekolah?" Ucap Sakura, berjalan masuk ke ruangan itu dan melihat Sarada.
"Sudah aku kerjakan, bu." Ucap Sarada, tanpa pengubah posisinya.
"Apa tidak pergi bermain dengan Chocho?" Ucap Sakura, dia sudah tahu hanya ada satu orang yang mau berteman dengan Sarada.
"Terlalu panas, Chocho akan datang ke sini." Ucap Sarada.
"Kau membaca buku itu lagi? Ibu sudah katakan, itu buku yang berat untukmu, jangan di baca sekarang." Ucap Sakura dan duduk tidak jauh dari Sarada.
Sarada bangun dan mengambil buku yang menutupi wajahnya, menutup buku itu dan menatap sampulnya.
"Apa semua buku itu milik ayah?" Tanya Sarada.
Sakura menaruh sebuah lemari buku pada ruang tengah, tepat disisi dinding berdekatan dengan lemari tv, isinya adalah buku-buku yang sudah di baca Sasuke dan ada yang belum sempat di bacanya.
"Ayahmu suka sekali membaca." Ucap Sakura, mengambil beberapa pakaian kering dan di lipatnya.
"Jadi ayah itu sangat pintar yaa?"
"Mungkin saja." Ucap Sakura, sejujurnya Sasuke belajar karena ingin mengetahui segala sesuatu tentang kehidupan manusia dan manusia itu sendiri.
"Ibu, sekarang aku sudah sekolah dan kelas 5, kapan ibu akan menceritakan tentang leluhur kita? Nenek saja tidak ingin cerita dan mengatakan biar ibu yang akan cerita, sekarang nenek malah sibuk di kuil dan menata barang-barang pusaka itu." Ucap Sarada, Sakura belum menceritakan tentang leluhurnya.
"Ibu hanya pikir kau belum bisa memahaminya sekarang."
"Benarkah? Kalau begitu. Kekkai!" Ucap Sarada, dia membentuk sebuah kekkai kecil berbentuk kubus.
Sakura sangat terkejut, bagaimana bisa anak umur 10 tahun ini sudah bisa membuat kekkai?
"Apa nenek yang mengajarimu?" Tanya Sakura, masih terkejut.
"Iya, nenek mengajariku dan aku langsung bisa melakukannya." Ucap Sarada dan tersenyum, nenek Chiyo mulai mengajarinya saat tahun lalu.
"Wah, kau benar-benar anak jenius, ibu saja baru akan melakukannya saat sekolah SMA dulu, dan itu sangat sulit." Sakura mengingat jika dia belajar kekkai demi mengendalikan para iblisnya.
"Jadi, apa ibu sudah akan cerita padaku?"
Sakura tersenyum lalu menceritakan tentang kuil Konoha di masa lalu, miko yang memiliki peran penting dan hanya anak gadis yang akan tinggal di kuil, Sarada mendengar segalanya dan memahaminya, berikutnya wajah gadis itu terlihat sedih.
"Ibu, apa ini tidak adil?" Ucap Sarada.
"Hmm? Tidak adil?"
"Kenapa hanya keturunan kita saja?"
"Mungkin karena keturunan kita ini cukup spesial." Ucap Sakura.
Sarada terdiam, Sakura menghentikan kegiatannya dan merangkul gadis kecilnya itu.
"Anggap saja ini seperti sebuah keberuntungan, kita mendapat keberuntungan dari para leluhur kita, asal kau tahu saja, seluruh warga Konoha sangat menghormati kita dan leluhur kita, mereka menaruh harapan besar pada keturunan kita, jadi jangan bersedih seperti itu." Ucap Sakura, sedikit memberi penjelasan pada anaknya itu, dia menyadari jika hampir keturunan Haruno akan merasakan hal itu.
"Iya bu, aku hanya tidak menyangka jika akan menjaga kota sebesar ini, padahal ada angkatan militer dan pihak berwajib." Ucapnya, di jaman modern semua akan terdengar mustahil.
"Tapi mereka tidak bisa melawan iblis jahat."
Sarada tertawa. "Ibu benar" Ucapnya.
"Sarada." Panggil Chocho dari arah pintu depan.
"Lewat di samping." Teriak Sarada saat mendengar suara Chocho.
Chocho berjalan ke samping setelah mendengar suara Sarada, membawa sebuah kantong plastik berisi es krim.
"Selamat siang bibi Sakura." Sapa ramah Chocho saat melihat Sakura.
"Selamat siang Chocho, kalian bermain lah." Ucap Sakura, berjalan masuk dan membawa pakaian yang telah di lipatnya.
"Aku membawakanmu es krim." Ucap Chocho dan berjalan masuk.
"Wah, terima kasih, udaranya semakin panas saja." Ucap Sarada, mengambil es krim yang di berikan Chocho, keduanya duduk di teras samping dan memakan es krimnya.
"Bantu aku mengerjakan PR yaa."
"Iya-iya, apa karena kau mentraktirku es krim?"
"Tidak, bukan karena es krimnya."
"Baiklah."
"Ibumu terlihat begitu muda."
"Uhm, aku rasa ibuku memang sangat muda."
"Ayahmu? Aku penasaran bagaimana wajah ayahmu."
"Ibu bahkan tidak punya fotonya, aku saja tidak tahu bagaimana ayahku itu, ibu hanya menceritakan jika ayah tipe pria yang cuek, malas melakukan apapun, hanya membaca buku sepanjang hari, tapi dia sangat tampan dan pandai memasak."
"Wah, ayahmu terdengar hebat."
"Uhm, aku rasa ayahku itu orang yang hebat." Ucap Sarada dan menatap langit, dia masih sangat penasaran akan sosok ayahnya, Sakura selalu mengatakan jika dia mirip ayahnya, maka dari itu setiap harinya, Sarada akan bercermin dan membayangkan dirinya dalam wujud laki-laki, mungkin akan terlihat seperti ayahnya.
.
.
.
.
.
Memasuki sekolah menengah pertama.
Lagi, Sarada akan menjadi murid dengan nilai terbaik dan kembali membawa sambutan perwakilan murid.
"Senang bertemu kembali." Ucap Chocho.
"Aku malas melihatmu terus-menerus." Ucap Sarada dan sengaja memasang wajah bosannya.
"Jangan begitu, tahun ini pun mohon bantuannya." Ucap Chocho dan merangkul Sarada.
Sarada tetap diam, berjalan di koridor bersama Chocho, sekolah ini cukup memiliki banyak 'penghuni', Sarada menatap sekitar dan beberapa hantu bergentayangan di koridor.
"Nona miko, selamat datang di sekolah ini." Ucap salah hantu. Mereka begitu ramah pada Sarada, dan gadis ini tetap menjaga sikap dan tidak peduli, menganggap hantu-hantu tidak ada.
"Katanya di sekolah ini ada roti yang enak dan terbatas, kita harus cepat ke kantin saat jam istirahat."
"Haa..~ lagi-lagi kau pikir makanan saja." Ucap Sarada.
.
.
Saat di sekolah, Sarada akan belajar seperti biasa dan saat di rumah, dia akan bermeditasi di dalam kuil bersama nenek Chiyo, Sarada sudah mengenakan pakaian mikonya dan tugasnya pun sudah bisa di mulai, tapi hantu-hantu jahat tidak begitu banyak muncul.
Nenek Chiyo menatap cicitnya itu, dia semakin mirip Sasuke, sikapnya begitu tenang, semua kemampuan miko sudah di pelajarinya dengan cepat dan dia sangat pandai mengontrol kekuatannya, Chiyo tidak begitu kecewa akan anak setengah iblis ini.
"Sarada." Panggil nenek Chiyo.
"Ada apa, nek?"
"Apa kau merasakan ada yang aneh pada dirimu akhir-akhir ini?"
"Hal aneh? Tidak ada." Ucap Sarada.
"Apa ada sesuatu yang muncul?"
"Muncul? Apa maksud nenek hantu jahat atau iblis?"
"Bukan seperti itu, tapi ini dari dirimu."
"Aku tidak mengerti, nek."
"Mungkin sekarang seharusnya ibumu mengatakan segalanya. Panggil ibumu kemari."
"Baik, nek." Ucap Sarada, berdiri dan berjalan keluar.
Setelahnya,
Sakura mulai duduk di sebelah Sarada, dia masih tidak tahu kenapa di panggil ke dalam kuil.
"Ada apa, nek?" Ucap Sakura.
"Katakan segalanya pada Sarada, siapa ayahnya dan siapa dia sebenarnya." Ucap nenek Chiyo.
Sedikit terkejut, Sakura terlihat ragu untuk menceritakan segalanya, dia hanya tidak ingin jika Sarada nantinya akan terpukul mendengar kebenaran tentang dirinya.
"Tidak apa-apa, bu, aku akan mendengar semuanya." Ucap Sarada, berusaha membuat ibunya tenang.
"Pertama-tama, ibu akan meminta maaf padamu, dulunya, saat ibu masih seorang miko, ibu tidak begitu pandai berkelahi, maka dari itu ibu membaca catatan miko terdahulu dan mendapatkan sebuah mantera untuk memanggil iblis, ibu dulunya cukup bodoh dan terlalu memikirkan memiliki iblis yang sesuai, ibu sampai memanggil empat iblis."
"Ibumu dulu sangat cerboh." Ucap nenek Chiyo.
"A-aku tidak ceroboh!" Ucap Sakura, malu.
Sarada hanya tertawa pelan melihat pembelaan ibunya.
"Lalu, apa yang terjadi dengan iblis ibu?" Ucap Sarada, dia masih penasaran.
Sakura mulai menceritakan tentang hewan peliharaannya yang sebenarnya adalah para iblis miliknya, awalnya mereka selalu saja bertengkar, Sakura jadi harus belajar membuat kekkai dan petir untuk mengontrol mereka, semua iblis akhirnya patuh pada Sakura, dari keempat iblis itu, hanya seorang iblis yang memiliki perasaan lebih pada Sakura.
"Dia adalah ayahmu, dia iblis serigala, Sasuke." Ucap Sakura, menatap ke arah Sarada, berharap anaknya itu tidak kecewa akan dirinya yang sebenarnya. "Dalam dirimu ada mengalir darah seorang iblis, maka dari itu nenek buyut terus mengawasi dan mengajarimu jika saja kekuatan iblismu muncul." Jelas Sakura.
"Ayahku seorang iblis, jadi cerita ibu tentang ayah meninggal karena kecelakaan itu bohong?"
Sakura mengangguk perlahan. "Kau boleh marah pada ibu." Ucap Sakura, semua adalah kesalahannya dan ibu salah Sarada.
"Apa hanya aku anak yang seperti ini?"
"Tidak, masih ada seorang lagi yang memiliki darah setengah iblis, mungkin kita bisa mengunjunginya di lain waktu." Ucap Sakura.
"Uhm, begitu yaa." Sarada menjadi tenang, raut wajahnya terlihat datar, Sakura kesulitan menebak isi pikiran anaknya itu, dia benar-benar mirip Sasuke.
"Nah, Sarada, jika terjadi sesuatu yang aneh padamu, segera katakan pada nenek." Ucap nenek Chiyo.
"Baik, nek." Ucap Sarada.
.
.
Setelah ibunya menceritakan segalanya Sarada terus memikirkan akan dirinya sendiri, dia anak setengah iblis, sejujurnya selama ini dia belum pernah bertemu iblis, dia hanya pernah bertemu hantu jahat. Sarada jadi sering memperhatikan ibunya, kadang ibunya sering terlihat sedih, mungkin saat itu ketika ibunya merindukan ayahnya, Sarada semakin penasaran akan sosok iblis seperti apa.
"Sarada." Tegur Chocho, akhir-akhir ini Sarada sering melamun.
"Ah, maaf, aku tidak mendengarnya, coba ceritakan ulang." Ucap Sarada.
"Tidak apa-apa, mungkin saat kau sedang fokus saja, apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Uhm, tidak, tidak ada." Ucap Sarada dan berusaha tersenyum.
"Jika kau ada masalah, kau harus langsung katakan padaku yaa, janji."
"Iya, janji, siapa lagi yang bisa menjadi tempatku bercerita, jika bukan kau." Ucap Sarada.
"Aku kan teman yang baik."
"Hahahaha, dasar."
.
.
Toko bunga Yamanaka
"Menurut bibi Ino, bagaimana ayahku?" Tanya Sarada. Sarada mendatangi toko bunga Ino, Sarada masih ingat jika dia adalah teman ibunya dulu, tokonya pun mudah di temukan.
"Ayahmu? Dia jauh lebih tua dari kami, tapi dia sangat tampan loh. Ada apa kau menanyakan tentang ayahmu?"
"Aku hanya penasaran saja, sejak lahir ayah sudah tidak ada, aku jadi tidak pernah melihat wajahnya, bahkan ibu tidak memiliki fotonya." Ucap Sarada.
"Ayahmu itu seperti tipe yang cuek, tapi sangat peduli, dia pandai memasak dan juga sangat pintar, aku yakin karena hal itu ibumu jadi jatuh cinta padanya."
"Begitu yaa, ibu juga hanya menjelaskan hal itu, apa dia benar-benar mirip denganku?"
"Tentu, kalian sangat mirip, tapi jangan pernah bersedih tentang ayahmu, sekarang kau harus menjadi penyemangat untuk ibumu, kau mengerti?"
"Mengerti!" Tegas Sarada.
"Jika Sarada mirip ayahnya, artinya ayahmu punya rambut hitam dan warna mata yang sama denganmu." Ucap Chocho, dia menemani Sarada ke toko ini.
"Kau benar sekali, nah sekarang, tolong berikan buket bunga ini untuk ibumu dan sampaikan salamku untuknya." Ucap Ino pada Sarada. "Dan kau, temannya Sarada, sepertinya hanya kau yang memahami keadaan Sarada, tolong tetap berteman dengannya yaa." Lanjut Ino dan menunjuk Chocho.
"Kami akan terus berteman hingga memiliki pasangan, jadi tenang saja bibi." Ucap Chocho.
"A-apa maksudmu Chocho!" Ucap Sarada, bahkan wajahnya merona.
Ino hanya tersenyum melihat mereka, Ino jadi mengingat saat masih sekolah dulu, hanya dia, Tenten, dan Temari yang mengerti akan keadaan Sakura sebagai keturunan miko, mereka pun tidak peduli akan hal itu dan tetap berteman dengan Sakura.
"Terima kasih bibi Ino, sampai jumpa lagi." Ucap Sarada dan pamit pada Ino sambil membawa bunga untuk ibunya.
"Datang lagi." Ucap Ino dan melambaikan tangannya.
Setelah kedua anak itu keluar, seorang pria berjalan masuk dan cukup membuat Ino terkejut.
"Tolong bunganya yang ini dan ini." Ucap pria berkulit putih pucat itu, menunjuk bunga yang di inginkannya, pria itu menatap ke arah si pemilik toko yang tidak juga bergerak. "Maaf, nona, apa aku bisa membeli bunga di sini?" Tegur pria itu.
"Ah, ma-maaf, bunga yang mana?" Ucap Ino, segera membuyarkan lamunannya, pria yang sedang membeli bunga ini sangat mirip dengan seseorang pernah di temuinya dulu.
"Bunga yang berwana kuning dan putih di sana." Ucap pria itu.
"Apa untuk pacar?" Ucap Ino, sekedar memastikan sebelum di rangkainya dalam bentuk buket.
"Ah, bukan, hanya untuk seorang teman." Ucap pria itu.
Ino mulai menata bunga itu, membungkusnya dengan kain tissu berwarna ungu lembut dan pita berwarna senada, kembali di bungkus dengan plastik bening agar bertahan lama.
"Silahkan bunganya." Ucap Ino, memberikan bunga itu dan terus menatap wajah pria itu.
"Dan tolong bunga mawar yang di sana, bisa di bungkus juga?" Ucap pria itu, dia ingin membeli lagi.
"Tentu." Ucap Ino, dia pun kembali mengerjakan bunga itu.
Ino sedang menjumlah harganya dan pria itu membayarnya.
"Terima kasih." Ucap pria itu dan senyumnya terlihat manis.
"Mereka sungguh mirip." Batin Ino.
Belum sempat keluar, pria itu berbalik dan menatap Ino. "Apa anda punya pacar?" Tanya pria itu.
"Pa-pacar? A-aku tidak punya." Ucap Ino gugup.
"Begitu yaa, ini, sebenarnya tidak begitu pantas, tapi maukah menerima bunga ini." Ucap pria itu dan memberikan buket bunga mawar yang terakhir di belinya.
"U-untukku?" Ucap Ino, sedikit tidak percaya, pria itu memberikan bunga mawar itu padanya.
"Iya, entah mengapa seperti kita pernah bertemu, tapi mungin hanya perasaanku saja." Ucap pria itu dan tersenyum.
"Uhm, aku rasa kita seperti pernah bertemu." Ucap Ino dan menahan dirinya agar tidak terharu.
Pria berkulit pucat itu tersenyum manis di depan Ino dan memperkenalkan dirinya, sejak lama pria itu mulai memperhatikan toko bunga yang berdiri di sisi jalan itu, dia sedikit tertarik pada si pemiliknya.
.
.
.
.
Saat itu.
"Apa yang kalian lakukan! Aku tidak ada masalah denganmu!" Ucap Chocho kesal, beberapa murid perempuan mengganggunya, menganggap Chocho anak yang tidak pantas dan hanya merusak pemandangan, mereka sengaja membawa tas milik Chocho dan membuangnya di samping bangunan sekolah, melempar buku-bukunya dan mengejek gadis itu.
"Kau seharusnya pindah sekolah, gemuk."
"Aku tidak gemuk!" Marah Chocho, dia pun mengamuk dan membalas murid-murid itu, sayangnya dia kalah jumlah dan membuat Chocho kewalahan.
Chocho sampai berlutut, ada luka cakar dan bekas pukulan di wajahnya.
"Dengarkan kata-kata kami." Ucap mereka, setelah memberi peringatan pada Chocho.
Gadis itu memungut barang-barang dan menyimpannya kembali dalam tas, pakaian seragamnya sampai robek di tarik oleh para murid itu. sejujurnya Chocho tidak begitu peduli pada ancaman mereka, tapi dia tidak ingin perlakukan seperti ini terus-menerus.
Esoknya.
Sarada menatap bangku kosong di sebelahnya, saat pergi pun Chocho tidak bersamanya, Chocho tidak hadir hari ini tanpa keterangan. Beberapa murid menatap bangku Chocho dan tertawa pelan, Sarada masih tidak mengerti, apa yang telah terjadi saat dia tidak bersama Chocho.
.
.
Kediaman Akemichi
"Anak itu entah kenapa tidak mau pergi sekolah." Ucap ayah Chocho, bingung saat menanyakan pada Chocho alasannya tidak bersekolah.
Sarada baru pertama kali mengunjungi rumah Chocho, ayahnya pun sangat ramah dan mengantar Sarada hingga ke kamar Chocho, membuka kamar itu dan di dalamnya penuh dengan makanan snack, coklat dan berbagai jenis minuman manis.
"Chocho, ayah sudah katakan padamu untuk berhenti memakan makanan seperti ini! Beratmu akan bertambah, nak!" Tegur Chouji Akemichi.
"Ayah sendiri selalu sembunyi-sembunyi saat makan keripik kentang, takut ketahuan ibu dan di marahi." Sindir Chocho.
"Dasar. Temanmu berkunjung." Ucap Chouji, berusaha menjaga sikap.
Chocho melihat ke arah pintu dan Sarada berjalan masuk. "Silahkan nikmati waktu kalian berdua." Ucap Chouji dan berjalan turun dari lantai dua kamar anaknya.
"Kenapa tidak ke sekolah?" Tanya Sarada, menyingkirkan beberapa bungkusan bekas snack dan duduk sana.
"Aku malas." Ucap Chocho, sibuk menonton tv yang ada di kamarnya dan mulutnya tidak bisa berhenti untuk memakan cemilannya.
"Jika kau ada masalah kau harus katakan padaku."
"Tidak ada masalah, aku hanya malas." Ucap Chocho.
Sarada memperhatikan Chocho dan melihat sejenak ada beberapa plester di bagian tangan dan di pipinya.
"Aku akan lebih marah jika mencari tahu sendiri." Ucap Sarada.
Chocho berhenti memakan cemilannya dan terdiam.
"Sarada."
"Hn?"
"Apa ada hal yang namanya pantas atau tidak pantas?"
"Apa maksudmu?"
"Aku harap bisa menjadi sepertimu, aku bisa menyuruh para hantu mengganggu mereka." Ucap Chocho dan terseyum.
"Mereka?"
"Ah, bukan apa-apa."
"Katakan saja Chocho."
"Tidak Sarada, aku sangat menyayangimu, jika kau terlibat dalam masalah lagi kau akan kesulitan, sudah cukup dengan isu-isu aneh murid-murid lain tentang keluargamu yang katanya kena kutukan, itu benar- benar aneh, mana ada orang yang tinggal di kuil terkena kutukan, nanti saat tahun baru, kau harus membuat tulisan di sebuah papan, bagi yang mengejek keluargamu itu kena kutukan, jangan pernah berdoa dan menginjak kuil." Ucap Chocho.
Sarada tertawa, detik berikutnya dia terdiam dan memikirkan ucapan Chocho. "Aku sudah tidak peduli akan ucapan mereka, aku punya banyak orang yang selalu berada di pihakku." Ucap Sarada, menatap ke arah Chocho, "Tapi aku tidak ingin sahabatku sendiri seperti ini, jadi tolong biarkan aku membantumu, setidaknya aku bisa menyuruh para hantu yang berdiam diri di sana mengganggu mereka." Tambah Sarada.
"Jadi benar, bisa menyuruh mereka?" Ucap Chocho, merangkak ke arah Sarada dengan wajah penasaran.
"Sebenarnya itu melanggar peraturan, miko tidak boleh menggunakan hantu untuk menjahili." Ucap Sarada.
"Aku pikir bisa."
"Tapi jika ibu dan nenekku tidak tahu, aku bisa melakukannya, ini rahasia antara kita saja, janji?"
"Janji!" Ucap Chocho.
.
.
Di sekolah,
Seperti yang di katakan Sarada, dia benar-benar menyuruh para hantu mengganggu murid-murid yang sudah membuat Chocho tidak masuk sekolah, mereka benar-benar kapok sampai tidak berani masuk sekolah, Chocho merasa sedikit lega bisa membalas mereka tanpa Sarada harus campur tangan, meskipun secara tidak langsung, namun hal ini di ketahui oleh guru mereka setelah mengunjungi murid yang tidak ingin masuk sekolah hingga seminggu.
Saat ini,
Sarada duduk tenang dan menundukkan wajahnya, Sakura berada di sampingnya, di hadapannya seorang wali-kelas Sarada yang merupakan warga Konoha, dia tahu betul akan keturunan Haruno yang selalu di ceritakan turun temurun.
"Jadi, bapak harap kau tidak menggunakan kekuatanmu untuk mengganggu teman-temanmu lagi, mereka akan terus tidak ingin bersekolah dan nilai mereka akan anjlok, bahkan lebih parah, mereka tidak akan pernah lulus." Ucap Konohamaru, wali-kelas Sarada.
"Aku benar-benar minta maaf, saat ini Sarada masih dalam usianya yang belum bisa mengontrol kekuatannya, aku harap berikutnya tidak akan terjadi lagi." Ucap Sakura, dia tidak menyangka jika Sarada malah berbuat usil menggunakan hantu-hantu itu.
"Aku mengerti, saat di usia yang sedang memasuki remaja, anak-anak kesulitan dalam mengontrol emosi mereka."
"Sarada, dengarkan kata gurumu." Tegur Sakura pada anaknya.
"Baik, bu. Maaf, pak, aku tidak akan melakukannya lagi." Ucap Sarada.
Setelah guru Sarada pulang.
Sakura masih menasehati Sarada, dia benar-benar bingung akan sikap anaknya, dia sudah pandai mengontrol kekuatannya, meredam emosinya, kepintarannya bahkan membuatnya benar-benar bisa memikirkan segalanya sebelum bertindak.
"Berapa kali ibu selalu mengatakan padamu, kau harus bersikap normal, apa itu susah?" Ucap Sakura.
"Aku sudah bersikap normal, bu."
"Normal apanya! Kau menggunakan hantu-hantu itu? Dengar Sarada, kelebihan kita bukan untuk membuat hal semacam itu, tapi melindungi orang-orang di sini."
"Apa gunanya melindungi mereka jika mereka mengatakan kuil ini terkutuk! Bahkan seluruh keluarga Haruno itu di kutuk!" Nada suara Sarada meninggi.
"Kenapa masih mendengar ucapan mereka!"
"Aku benar-benar kesal, bu, selama ini aku terus menahan diri untuk tetap menjaga sikap, tapi aku kesulitan, bu."
"Hanya beberapa orang saja yang memikirkan hal itu, yang lain masih sangat menghormati kita."
"Ibu, apa ibu tahu, mereka bahkan mempertanyakan aku sebagai penerus miko, dari mana aku? Bahkan ayah tidak pernah dilihat sekali pun."
Sakura terdiam, sejak awal semua adalah kesalahannya.
"Sejujurnya, jauh di lubuk hatiku, aku tidak ingin menjadi miko, aku tidak ingin meneruskan hal yang sudah di lakukan leluhur kita, jika dewasa nanti, aku ingin belajar sejauh mungkin." Ucap Sarada.
Akhirnya sikap yang terus di jaga membuatnya lelah, Sarada tidak ingin seperti ibunya, bahkan dengan ucapan yang terdengar hebat harus menjaga kedamaian kota Konoha ini, bahkan tidak semua orang mengetahui siapa miko itu sendiri.
"Jika saja kau tidak ada, kota ini akan hancur, Sarada." Ucap Sakura, dia pun lelah, lelah memberi berbagai nasehat kepada anak dengan pemikiran yang lebih luas ini.
"Ibu, itu hanya cerita di jaman kuno, itu tidak akan terjadi, ayo kita keluar dari sini dan lakukan banyak hal di luar sana." Ucap Sarada.
"Kau tidak mengerti, nak."
"Aku mengerti bu, sangat mengerti, mereka hanya membohongi kita jika kota akan hancur, memangnya kita siapa bu? Kita juga manusia yang hanya mendapat sedikit kelebihan."
Plaakkk!
Sakura tersadar apa yang di lakukannya, dia menampar Sarada.
"Maaf, ibu tidak bermaksud." Ucap Sakura, dia pun terlihat panik.
Sarada terlihat menghela napas, kesal. "Cukup ibu, aku ingin tinggal bersama kakek dan nenek saja." Ucap Sarada, berlari ke dalam kamarnya.
"Apa? Tidak, jangan lakukan itu, Sarada, ini benar-benar terjadi, saat ibu juga meninggalkan kuil, hal itu benar-benar terjadi, banyak rumah warga yang hancur." Ucap Sakura, masih memohon pada anaknya agar tidak melakukan apa yang di inginkannya.
"Aku akan tetap melakukannya." Ucap Sarada.
"Jangan Sarada! Ibu mohon padamu." Ucap Sakura, memohon pada Sarada.
"Apa yang sedang terjadi?" Ucap nenek Chiyo, dia baru saja kembali dari kuil.
"Aku akan tinggal bersama nenek dan kakek." Ucap Sarada.
"Seorang penerus miko tidak boleh meninggalkan kuil." Ucap nenek Chiyo
"Di jaman modern hal semacam itu tidak akan terjadi, nek."
"Oh, pemikiran anak modern yaa. Jika kau bisa melawan nenek, nenek akan membiarkanmu pergi, terserah kemana pun, bahkan itu keluar dari kota Konoha." Ucap nenek Chiyo.
"Nenek, apa yang nenek katakan?" Ucap Sakura, nenek Chiyo menantang Sarada.
"Aku tidak ingin menyakiti nenek buyut." Ucap Sarada.
"Benarkah? Apa kau yakin bisa menyentuh nenek?" Ucap nenek Chiyo.
Sarada merasa di remehkan, dia menerima tantangan nenek buyutnya itu, di halaman kuil, bahkan Sarada sudah bersiap, hanya sampai dia bisa menyentuh neneknya, tidak perlu ada saling memukul. Sakura terlihat takut, dia sudah tahu bagaimana neneknya itu.
"Sarada, kau tidak perlu melakukan ini, minta maaf pada nenek dan tetaplah di kuil."
"Tidak, bu, aku tidak ingin menarik kata-kataku." Ucap Sarada.
"Ayah dan anak sama saja, kalian benar-benar sama-sama keras kepala." Ucap nenek Chiyo.
Mendengar hal itu, Sarada menjadi kesal, dia kesal karena selama ini tidak pernah melihat sosok ayahnya dan selalu saja di samakan.
Kekkai!
Sarada mulai bergerak dengan kekkainya, menahan pergerakan neneknya dan bergerak ke arahnya, sayangnya setiap kekkai yang di buatnya di hancurkan begitu saja. Sakura terlihat khawatir, berharap mereka berdua tidak berlebihan.
Mau sampai kapan pun Sarada tidak pernah berhasil bergerak sedikit pun ke arah neneknya. Memikirkan cara lain, menggunakan kekkai sebanyak-banyaknya, bahkan jika energinya terkuras.
"Masih belum cukup untuk bisa kau mengalahkan nenek." Ucap Chiyo dan terlihat santai melawan cicitnya itu.
"Nenek, sudahlah. Sarada berhenti." Ucap Sakura.
"Tidak bu, aku yakin aku bisa mengalahkan nenek." Ucap Sarada dengan segala tekatnya.
Beberapa menit berlalu, Sarada terlihat kesal, apapun yang di lakukan neneknya jauh lebih lincah, meskipun umurnya sangat-sangat tua, tapi dia terlihat santai untuk bergerak.
"Ada apa? Menyerah? Nenek cukup bangga akan kekuatanmu Sarada, setidaknya masih tidak jauh lebih hebat dari ibumu." Ucap Chiyo.
"Apa maksud nenek? Aku jauh lebih kuat dari ibu."
"Ibumu bahkan bisa memanggil empat iblis dan mengontrol mereka semua, tidak ada miko yang sanggup memanggil iblis sebanyak itu dan lagi, salah satu iblisnya adalah iblis lagenda, butuh kekuatan besar untuk memanggilny-."
"-Sekarang!" Teriak Sarada, dia tidak mendengar segala ucapan neneknya, gadis itu sibuk bergerak mendekati neneknya, hampir menyentuh neneknya, sayangnya Chiyo membuat kekkai di hadapannya dan wajah Sarada terbentur kekkai itu.
Bughht!
"Sarada!" Panik Sakura, segera berlari ke arah anaknya dan membantu Sarada berdiri, yang tadi itu adalah benturan yang cukup keras. "Kau baik-baik saja?" Ucap Sakura, khawatir.
"Aku tetap ingin keluar dan tidak ingin di kuil!" Ucap Sarada, dia semakin kesal.
"Sarada tenanglah." Ucap Sakura.
"Ibu yang tidak mengerti keadaanku."
"Sarada, jaga sikapmu sebagai seorang miko."
"Aku tidak mau menjadi miko, bu."
"Kalau begitu marahlah jika kau mau." Ucap nenek Chiyo, menurutnya yang tadi itu cukup cepat, seorang manusia normal tidak mungkin secepat itu.
Buuffff..!
Tiba-tiba kepulan asap menutupi tubuh Sarada, setelah asap itu menghilang, Sakura benar-benar terkejut, seekor anak serigala di hadapannya.
"Apa yang terjadi padaku!" Panik Sarada, melihat kaki dan tangannya berubah.
"Sudah waktunya ternyata." Ucap nenek Chiyo.
"Nenek, ada apa ini? Sarada berubah menjadi serigala?"
"Tenang saja, ini hal normal karena dia adalah iblis serigala walaupun hanya setengah."
"Ibu, bagaimana aku bisa berubah? Bagaimana ini?" Ucap Sarada, dia bahkan terlihat panik.
"Tenanglah Sarada, kau akan kembali seperti semula, sekarang tenang dan pusatkan pikiran untuk berubah." Ucap Sakura, dia berusaha membimbing anaknya dengan baik.
Sarada menenangkan diri dan terfokus untuk mengubah wujudnya, dia sudah berlatih untuk memusatkan energinya, Sarada jauh lebih pandai untuk mengontrol kekuatannya.
Bufff..!
Sarada kembali seperti semula, dia sampai memeluk ibunya, rasa takut jika dia tidak berubah menjadi manusia kembali jauh lebih besar, memikirkan bagaimana nasibnya jika terus menjadi seekor serigala.
"Apa ini akan terus terjadi padaku?"
"Ibu bukan seorang iblis, jadi ibu tidak tahu, mungkin kita akan bertemu seseorang untuk memberimu sedikit penjelasan." Ucap Sakura.
"Sekarang apa masih mau melawan nenek? Kau akan keluar dari kuil ini dan tiba-tiba berubah menjadi seekor serigala di luar sana, apa kau tidak memikirkan apa tanggapan orang saat melihat wujudmu?" ucap nenek Chiyo, saat ini cukup tepat, kekuatan iblis Sarada sudah mulai muncul, hal ini bisa menjadi satu-satunya alasan agar Sarada mengubur pikirannya itu untuk pergi jauh dan tetap berada di kuil.
Sarada menundukkan wajahnya.
"Nenek pikir dengan kemampuanmu yang lebih baik akan membuatmu siap menjadi seorang miko, tapi sikapmu belum cukup, akhir-akhir ini para miko mulai membangkang akan takdirnya, nenek saja menjalankan generasi miko hingga dua kali, tapi tak pernah ada niat untuk keluar dari kuil, karena nenek percaya apapun yang nenek lakukan, apapun yang nenek pertahankan untuk demi melindungi kota ini tidak akan sia-sia, karena ada begitu banyak nyawa yang nenek bisa lindungi di sini."
"Nenek, maafkan Sarada, nenek tahu kan, dia hanya masih belum berpikiran matang tentang segala tindakannya." Ucap Sakura, berusaha melindungi Sarada.
"Jangan memanjakannya Sakura, kau sendiri sudah cukup membuat masalah dulunya."
"Maaf."
Sarada menatap ibunya, memikirkan jika masalah yang di buat ibunya dulu mungkin jauh lebih parah darinya
"Sekarang, didik anakmu lebih baik lagi, untuk sementara waktu, nenek akan tetap berada di kuil utama, aku rasa Sarada sudah siap menjadi seorang miko, tapi sikapnya harus perlu di ubah."
"Baik, nek."
Hingga neneknya masuk ke dalam rumah, Sarada tidak mengucapkan apapun, dia masih terdiam dengan segala pikiran di kepalanya yang campur aduk tentang dirinya sendiri.
.
.
.
Seperti yang di katakan Sakura, dia membawa anaknya menemui Neji di kuil Taki, Sakura baru bertemu kembali dengan Hinata, dia jauh lebih dewasa sekarang, sikapnya begitu tenang dan mengingatkan Sakura pada Hinata yang pernah muncul saat Naruto dalam masalah. Kabar lainnya, ayah Neji sudah meninggal, dia sudah berusaha bertahan di usianya tidak memungkinkan lagi untuk manusia biasa.
"Akhirnya kau datang juga, iblismu sudah pernah mengatakan padaku, dulu." Ucap Neji.
"Sasuke?" Ucap Sakura, dia tidak tahu jika Neji dan Sasuke pernah berbicara bersama.
Sarada menatap ke arah orang yang katanya juga adalah setengah iblis, pria itu pun mengatakan jika dulu pernah berbicara dengan ayahnya.
"Sasuke datang ke kuil Taki sendirian, dia hanya meminta padaku, hanya berjaga-jaga jika benar kalian akan memiliki anak, sekarang aku tahu apa yang diucapkan saat itu akan terjadi dan dia adalah anak itu?"
Sakura mengangguk.
"Bagaimana perasaanmu? Apa kau mulai merasakan ada kekuatan aneh di dalam dirimu?" Ucap Neji pada Sarada.
"A-aku tidak tahu, hanya saja aku tiba-tiba berubah menjadi serigala."
"Itu tanda awal kau akan menjadi iblis, sebagai setengah iblis, tetap saja kita ini adalah iblis, berada di dunia manusia cukup sulit, kau bisa menjadi iblis jahat jika tanpa ada yang mengendalikanmu, tapi kau seorang miko, kau adalah iblisnya dan kau sendiri yang akan mengontrol kekuatanmu itu." Jelas Neji.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Ucap Sarada.
"Apa kau bisa mengendalikan energi mikomu?"
"Tentu, aku sudah bisa melakukannya."
"Ah itu bagus, ini hanya teknik sederhana, di saat kau berubah tanpa sadar, pusatkan saja kekuatanmu untuk berubah kembali, sebenarnya ini akan sedikit sulit, dan juga kau harus menahan emosi yang berlebihan, ketika kau lepas kendali, darah iblis akan lebih menguasimu dan itu akan mengubah siapa dirimu sebenarnya. Selama bertahun-tahun aku terus berlatih agar kekuatan iblis tidak menguasiku, aku ingin tetap menjadi manusia dan sekarang aku bisa mengendalikan kekuatanku itu."
Sarada mendengar segalanya.
"Aku akan mengajarimu, ini sebagai permintaan dari ayahmu." Ucap Neji.
"Benarkah?" Ucap Sarada, tidak percaya jika Neji akan mengajarinya.
"Maaf jika merepotkanmu, Neji." Ucap Sakura.
"Tidak apa-apa, ini sebagai balasanku pada iblis serigala."
.
.
Neji mendapat ijin dari Hinata, sementara waktu dia akan mengajari Sarada untuk memanfaatkan kekuatan iblisnya, di samping itu nenek Chiyo kurang setuju jika Sarada menggunakan kekuatan iblis itu, dia ingin Sarada tetap menggunakan kekuatan mikonya.
"Aku yakin dia akan menjadi miko terkuat nenek." Ucap Sakura.
"Tetap saja, itu adalah kekuatan iblis."
"Aku pikir nenek akan menyayangi saat dia hadir di tengah-tengah kita."
"Itu adalah masalah yang berbeda, aku menyayanginya karena dia adalah cicitku satu-satunya, meskipun benar dia setengah iblis, tetap saja dia adalah keturunan kita." Ucap nenek Chiyo.
"Jadi, apa nenek masih mempermasalahkan jika dia menggunakan kekuatan iblis? Neji datang untuk membantunya mengendalikan diri saja."
"Terserahlah apa yang ingin kau lakukan pada anakmu itu, nenek hanya akan mengawasinya."
Sementara itu, Neji memberi sedikit instruksi pada Sarada.
"Kenapa kau ingin mengajariku?" Ucap Sarada, sedikit penasaran akan alasan Neji.
"Kau harus tahu, ayahmu itu iblis serigala yang dimana kedudukannya cukup tertinggi di dunianya, iblis elit yang sangat sulit untuk mendengar siapapun, mereka merasa merekalah yang lebih kuat dari seluruh iblis yang ada."
"Aku baru saja mendengar hal lain dari ayahku, beberapa orang yang kenal ayahku selalu menyanjungnya." Ucap Sarada, sedikit berbeda, Neji lebih mengatakan tentang sisi buruk ayahnya.
"Aku hanya mengucapkan apa yang aku lihat darinya, nah sekarang, kekuatan iblismu akan menjadi senjata untukmu." Neji memperlihatkan sebuah pedang panjang miliknya. "Dulunya aku tidak begitu mengetahui untuk menggunakan kekuatanku ini, ayahku berusaha membuatku untuk bisa mengendalikannya. Dia memberiku sebuah pedang, salah satu pusaka milik miko, pedang ini kuat, tapi tidak akan begitu kuat jika tidak di gunakan dengan baik, aku menyalurkan seluruh kekuatanku di dalam pedang ini, bahkan iblis terkuat sekali pun bisa aku tebas." Jelas Neji.
Setelah menjelaskan segalanya, Sarada akan menggunakan kekuatannya, berpusat pada kekuatan di tangan dan kecepatan, jika Sarada berhasil, bahkan batu raksasa pun bisa di hancurkannya dengan sekali pukul dan kecepatannya bisa melebihi manusia biasa.
Hal yang di ajarkan Neji tidak sia-sia, Sarada cepat sekali untuk melakukan apa yang di ajarkannya, dia benar-benar miko jenius dan memiliki kekuatan besar.
"Berhenti mengganggu iblis jahat!"
Bught!
Iblis dalam wujud monster aneh itu hancur berkeping-keping, ini adalah hasil dari latihannya selama sebulan.
"Ibu lihat itu, ibu!" Ucap Sarada girang, dia akhirnya melawan iblis jahat dan juga memperlihatkan kekuatannya, Sakura hanya mengawasi anak semata wayangnya itu, setiap dia melawan seorang iblis.
.
.
.
.
.
Kuil Utama.
"Jadi, bagaimana kabar anak itu?" Ucap Biwako.
"Dia benar-benar jadi miko terkuat dan sangat pandai menggunakan kekuatan iblisnya tanpa mengubah wujudnya." Ucap Chiyo, meskipun awalnya kecewa, dia salut akan cicitnya itu, Sarada adalah miko yang paling jenius.
"Aku senang mendengarnya, bagaimana dia bisa mengontrol kekuatannya itu?"
"Seorang pendamping miko dari kuil Taki, Neji Hyuuga yang setengah iblis, dia datang ke kuil Konoha hanya untuk melatih Sarada."
"Neji Hyuuga yaa, nama yang benar-benar membuatku teringat akan hal dulu, dia menjadi satu-satunya setengah iblis yang mengubah pemikiran para tetua di jaman dulu. Awalnya para tetua menganggap setengah iblis itu adalah musuh dan hal yang tidak boleh ada di dunia manusia, tapi Neji dan ayahnya berusaha membuat pemikiran itu berubah."
"Kau benar, dan sekarang dia membuat Sarada percaya diri akan dirinya meskipun dia juga setengah iblis."
.
.
.
Konoha.
"Hati-hati, jangan dekat dengannya, dia itu terkena kutukan." Ucap seorang anak laki-laki pada teman-temannya saat Sarada akan melewatinya bersama Chocho.
Gadis itu berhenti dan menatap tajam pada anak laki-laki yang masih saja meledeknya.
"Dengarkan aku, aku adalah miko terhormat dan terkuat di kuil Konoha, kau hanya ranting kecil yang bahkan mudah aku patahkan, tapi dari pada hal itu aku akan lebih senang mengutukmu." Ucap Sarada.
Anak laki-laki itu merinding sendiri dan takut melihat Sarada, mereka memilih pergi dari pada mencari masalah.
"Sekarang menggunakan kata-kata tajam dari pada menggunakan hantu yaa?" Ucap Chocho.
"Ibuku akan menegurku lagi jika seenaknya menggunakan roh yang sedang bergentayangan."
"Maaf, aku tidak bermaksudmu membuatmu melakukan itu, tapi menggunakan kata-kata juga bagus, kutuk saja mereka jadi snack kripik kentang."
"Hahaha, itu ide bagus jika aku punya kekuatan mengutuk." Ucap Sarada.
Setelah kegiatan sekolahnya berakhir. Sarada harus membersihkan gudang bagian belakang tempat menyimpan buku-buku, disana begitu banyak mantera, Sakura tidak pernah menggunakan tempat itu lagi semenjak Sarada ada, dia jadi terus mengurus Sarada dan memilih untuk menutup gudang itu.
"Ada banyak catatan miko dengan menggunakan bahasa yang sulit aku mengerti." Ucap Sarada, sesekali membersihkan buku itu, sesekali membukanya dan melihat apa yang tertulis.
"Buku itu sudah sangat lama sekali, bahkan sebelum nenek buyut lahir."
"Jadi ini buku bersejarah?"
"Mungkin saja. Ibu akan mengambil karton lagi, buku-buku ini sudah harus di simpan saja dan gudangnya bisa berguna untuk menyimpan hal lain." Ucap Sakura, berjalan keluar dan mencari karton-karton kosong.
Saat membuka sebuah karton, di dalamnya berisikan pakaian milik iblisnya dulu.
"Aku sampai lupa dengan barang-barang ini, sebaiknya di simpan di gudang juga." Ucap Sakura.
Sementara itu Sarada masih membersihkan buku-buku itu dari debu, salah satu buku membuatnya sedikit penasaran, membawanya dan menyimpannya di dalam kamarnya, dia akan membacanya nanti.
"Apa sudah selesai?" Ucap Sakura dan tidak menemukan Sarada di sana. "Sarada?" Panggilnya.
"Tunggu, bu, aku habis dari toilet." Ucap Sarada dan baru kembali.
"Cepatlah, ini harus selesai sebelum kita makan malam."
"Iya, bu."
.
.
Malam harinya, saat Sarada sedang sibuk dengan buku pelajarannya, dia mengingat akan buku yang di bawanya dari gudang, hanya buku itu yang bisa di bacanya dengan mudah.
"Apa benar dengan mantera ini bisa memanggil iblis? Para miko jaman dulu menggunakan iblis untuk membantu mereka melawan iblis jahat, kenapa harus menggunakan iblis? Bukannya iblis akan jahat? Tapi kata paman Neji, iblis tidak akan jahat jika mereka punya majikan, seorang miko bisa membuat mereka bertahan di dunia manusia tanpa menjadi iblis jahat, jadi apa semacam pelayan? Ibu dulunya punya empat iblis, aku sangat penasaran, bagaimana iblis yang di panggil itu? Ibu sampai jatuh cinta pada ayah. Apa mereka berbeda dengan iblis jahat yang berwajah aneh dan seram?"
Sarada membolak-balikkan buku itu, menatapnya dan dia tidak tahan dengan rasa penasarannya, mengambil sebuah spidol dan menggambar sebuah lingkaran mantera dilantai kamarnya.
"Aku akan mencobanya, apa aku juga bisa memanggil seorang iblis?"
Sarada benar-benar melakukannya, gambar lingkaran mantera itu telah selesai, melukai sedikit jarinya dan meneteskan darahnya di atas gambar itu, dia pun mulai membacakan sebuah mantera dan hal aneh terjadi, ini untuk pertama kalinya dia melihat sebuah cahaya keluar dari gambar yang ada di lantai itu, tak lama kemudian, sesuatu muncul dari sana, seekor iblis serigala. Sarada menjauhkan dirinya dan menatap tidak percaya, dia benar-benar memanggil iblis, tapi wujudnya seperti serigala biasa, hanya saja lebih besar.
"Kau, anak manusia, beraninya memanggilku." Ucap serigala itu dan menatap tidak senang pada anak gadis itu, Sarada tidak takut, hanya saja dia masih tidak bisa percaya.
"Apa kau benar iblis?" Ucap Sarada, memastikan.
"Jika benar aku iblis, kau mau apa?" Ucap iblis serigala itu, dia tidak senang jika di panggil seperti ini dan lagi majikannya adalah seorang gadis yang masih sangat muda. Menatapnya dan sesuatu membuat iblis serigala ini merasa aneh, dia mencium bau berbeda dari anak manusia di hadapannya dan lagi bau yang familiar.
Sraak!
Pintu kamar Sarada terbuka, Sarada terkejut ibunya datang dan melihatnya memanggil iblis.
"I-ibu? Ma-maaf, aku tidak bermaksud melakukannya." Ucap Sarada panik, dia sampai ketakutan jika ibunya marah besar.
Namun sesuatu hal aneh yang terjadi, ibunya tidak sedang marah, tapi tatapan itu terlihat sedih dan air mata menuruni pipi ibunya.
"Ibu, maaf, aku benar-benar tidak sengaja, aku akan mencoba mengembalikan iblis ini kedunianya." Ucap Sarada, dia kembali membaca buku kuno itu dan berusaha mencari cara untuk mengembalikan iblis serigala itu.
"Tunggu, jangan lakukan Sarada." Ucap Sakura, masih tidak percaya akan hal ini, segera mencegat Sarada untuk tidak mengembalikan iblis itu, iblis yang sangat dikenalnya, bahkan saat itu dia merasakan jika dia ada di sini, maka dari itu Sakura berlari ke arah kamar Sarada untuk memastikan jika perasaan ini benar, dia menyadari kehadirannya.
Buffff..!
Serigala itu mengubah wujud menjadi manusia dan Sarada bisa melihat itu, seorang pria dengan hakama dan jubah hitamnya, rambut hitam dan mata onyxnya.
"Sakura." Ucap iblis itu.
Sarada sampai kebingungan, ibunya menangis dan iblis itu mengetahui nama ibunya, detik berikutnya yang di lihatnya adalah ibunya berlari dan memeluk pria-iblis serigala itu, ibunya sampai menangis dan memeluknya erat.
"Kau kembali?" Ucap Sakura.
"Seseorang memanggilku kesini." Ucap Sasuke.
Keduanya melepaskan pelukan mereka dan sama-sama menatap ke arah Sarada.
"Ibu? Siapa dia?" Ucap Sarada, bingung.
Sasuke kembali menatap ke arah Sakura dan sebuah anggukan pelan darinya, sebuah senyum di wajah pria ini, dia mencium bau yang sama darinya, ternyata gadis manusia itu adalah anaknya.
"Namanya Sarada." Ucap Sakura pada Sasuke.
"Nama yang indah. Maaf atas ucapanku yang sebelumnya." Ucap Sasuke.
"Dia adalah ayahmu, Sarada." Ucap Sakura.
Sarada sangat terkejut, dia tidak menyangka jika iblis yang di panggilnya adalah ayahnya sendiri, gadis itu berdiri dan berlari memeluk Sasuke, dia merindukan sosok ayah yang tak pernah di lihatnya.
.
.
.
.
Sarada Pov.
Hari ini aku melihat ayahku, aku tidak tahu jika aku memanggil ayahku sendiri, dia adalah iblis serigala yang begitu tampan, pantas saja ibu jatuh cinta padanya, dia sangat pintar, dari kalangan elit, dan juga pandai memasak, kelebihannya adalah bisa menyembuhkan, dan ibu baru saja menyadari hal itu, dia tidak tahu jika selama ini, luka-luka di tubuhnya di sembuhkan oleh ayah, aku rasa ibuku dulunya miko yang ceroboh seperti kata nenek buyut.
Saat itu aku mengintip di ruangan tengah, nenek buyut seperti sedang menceramahi dan memarahi ayah, ibu sampai bingung ingin menghentikan nenek buyut. Nenek dan kakek terlihat senang melihat ayah kembali, mereka menyambutnya seperti ayah baru saja pulang dari perjalanan jauhnya.
Aku rasa kehidupanku menjadi lengkap saat ayah kembali, namun sekarang.
"Meskipun aku iblis yang kau panggil dan kau adalah majikanku, tidak mungkin kau akan menyuruh ayahmu melawan iblis jahat, dimana sopan santunmu sebagai seorang anak." Ucapnya, cara bicaranya benar-benar terdengar menyebalkan, bagaimana ibu bisa tahan dengan pria seperti ini? "Karena aku tahu, anakku adalah seorang miko yang kuat, ibumu sudah menceritakan pada ayah." Ucapnya.
Tapi di setiap ucapannya membuatku senang, dia selalu menganggumiku sebagai anaknya dan senang akan diriku yang mudah mengendalikan kekuatan iblis ini, semuanya berkat paman Neji dan lagi itu adalah permintaan ayah, dia yang meminta paman Neji untuk mengajariku. Aku jadi mengingat ucapan paman Neji, dia juga benar, ayah pria yang terlalu elit dan cara bicaranya seperti merendahkan siapapun.
Aku mendengar ibuku dan ayah bercerita tentang iblis lainnya, iblis ibu ada empat, artinya ada lagi tiga iblis lainnya, kata ayah mereka hanya pernah bertemu beberapa kali, setelahnya tidak pernah lagi, karena punya area dan wilayah masing-masing.
Wajah ibu jadi sering berseri-seri, dia tidak terlihat sedih lagi semenjak ayah datang, dan sekarang akulah yang menjadi majikan bagi ayahku sendiri, hehehe ini terdengar lucu.
.
.
"Ibu." Ucapku.
"Ada apa Sarada?"
"Apa ayah berbicara seperti itu pada ibu juga? Dia benar-benar pria arogan yaa." Bisik Sarada pada ibunya, saat memanggil Sasuke dia seperti tidak senang.
Sakura mengingat masa lalunya saat memanggil Sasuke, hanya ada senyum di wajah Sakura.
"Dia memang seperti itu, tapi hatinya baik kok."
"Apa karena sekarang ibu mencintainya?" Ucap Sarada dan menatap malas pada ibunya itu. "Ibu suka dengan pria yang tampan yaa?"
Blussh~
"Bu-bukan seperti itu, pokoknya ayahmu pria yang baik." Gugup Sakura.
"Yaa, aku senang mendengarnya, aku senang melihat ibuku tidak bersedih lagi."
"Apa-apaan sih, cepat sana, kau akan terlambat." Ucap Sakura menegur anaknya. "Jangan lupa bekalmu." Tambah Sakura.
"Iya, aku pergi ibu." Ucap Sarada, berjalan ke arah ruangan tengah, sedikit ragu, dia hanya mematung dan menatap Sasuke yang sedang bersantai.
"Kau tidak pamit pada ayah?" Ucap Sasuke, dia bisa melihat rasa canggung gadis itu padanya.
Sarada tersenyum dan berlari ke arah Sasuke, memeluk ayahnya dan pamit padanya. "Aku pergi, ayah." Ucapnya dan berjalan keluar rumah.
.
.
TAMAT
.
.
akhirnya..~ bisa kelarin sequelnya, *terharu T-T
di chapter ini menjadi pelengkap dan hadiah untuk perpisahan, fic "Gadis kuil dan para pengikutnya" ada rasa sedih, terharu dan manis di dalamnya, *mungkin cuma author yng rasakan XD) Bagaimana dengan reader? author menceritakan sedikit kisah sarada yang tidak jauh beda dengan Sakura saat menjadi miko, semoga terhibur dengan alur tambahan yang singkat ini.
Sejak awal fic ini berpusat pada Sakura, karakter lainnya hanya tambahan agar alur fic ini lebih berkembang. jadi untuk cerita iblis lainnya author udah stop sejak final chapter, peran mereka telah Selesai, jika di bahas lagi akan semakin panjang dan author akan berpikir keras lagi untuk alur yang ditambah, mungkin akan ada banyak pertanyaannya yang muncul seputar karakter lainnya.
Bagaimana kabar Hinata dan Naruto? Author udah anggap kisah mereka selesai saat chapter "Iblis rubah" dan tidak akan di singgung lagi di sini.
Bagaimana Hanare dan Itachi? Yah mereka begitu-begitu saja, sebenarnya mereka memang punya perasaan khusus masing-masing, sempat di singgung dan reader sendiri lah yang tebak-tebak saja Xd, Itachi tetap tidak akan mengingat tentang Sasuke, sama hal yang terjadi pada Naruto yang lupa pada Hinata, ini memang akan terjadi jika mereka terlahir kembali dan lupa segalanya yang pernah mereka lalui,
bagaimana Ino? Author memunculkan karekter yang mirip Sai, tapi dia bukan Sai, Sai sendiri tetap menjadi iblis kucing dan berada di dunianya.
Bagaimana dengan Kiba dan Naruto? Mereka menjalani kehidupannya seperti biasanya di dunia mereka.
Sedangkan Gaara, dia tetap menjadi iblis pendamping tetua Bansai.
siapa lagi yang perlu author bahas?
sepertinya itu saja.
dan sekarang Sasuke menjadi iblis pendamping untuk anaknya sendiri, hehehe.
.
Sekali lagi author mengucapkan terima kasih yang banyak atas dukungan para reader yang betah menunggu fic ini hingga benar-benar selesai, author pun lega membuat kalian tidak kena php lagi dalam menyelesaikan fic ini, karena author tahu bagaimana rasanya menunggu fic favorit yang tak kunjung update dan seperti hilang di telan bumi authornya. *sakit cuy, menunggu dengan rasa penasaran*
lebih dan kurangnya, author akan semakin belajar membuat fic yang lebih bagus lagi, apakah itu dari segi alur dan penulisan yang lebih baik lagi.
.
terakhir, terima kasih atas review yang sebelumnya. *hiks* *membungkuk dalam-dalam*
.
[ Sasuke Fans ]
