Officially END!
Akhirnya astaganagaaaa... setelah sekian lama TT
Terima kasih yang udah mau baca ini. Actually, ga nyangka bakal sepanjang ini.
This story is really suck, y'know.
.
.
.
Happy reading!
And, bye bye!
.
.
.
"Demi Tuhan, astaga Park Chanyeol aku melakukan apapun kecuali itu." Gerutu Baekhyun.
"I don't even care…" jawab Chanyeol yang sedang sibuk membaca buku kardiologinya.
"Chan, pikirkan," Baekhyun bergegas duduk di samping Chanyeol, "aku sudah cukup menderita dengan gaun atau apalah itu sebutannya. Kalaupun aku bisa melakukan semuanya dengan celana jeans aku akan melakukannya—kau sendiri—mengapa kau tidak menghalangi orang tua kita memesan gaun panjang? Like, I'm digging my own grave, Chanyeol-ah…" racaunya.
"So?"
"Kau tahu jika gaun itu panjang, 'kan? Bagaimana jika aku tidak memakai heels? Tidak akan terlihat—"
Chanyeol mengalihkan perhatiannya dari buku bergambar jantung dan pembuluh-pembuluh darah itu ke kekasihnya yang sedang berusaha membujuknya. Bahkan sekarang sok bertingkah imut—Baekhyun merasa ini jurus andalannya—dan membuat Chanyeol ingin memukul wajah gadis itu dengan buku tebal dengan jumlah halaman 568 itu.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya.
"Jam… setengah satu siang?"
"Hah," dia berdiri dan meregangkan ototnya sejenak, "waktunya menjemput Taehyung…" ucapnya dengan bersenandung kecil sembari melangkahkan kakinya pergi.
"YA! YA! YA! Bagaimana denganku—YA! PARK CHANYEOL!" teriak Baekhyun yang mengikuti Chanyeol untuk menjemput anak lelakinya.
.
.
.
Sekitar delapan bulan yang lalu Chanyeol melamar Baekhyun untuk yang kedua kalinya di depan semua penonton final pertandingan Taekwondo antar kampus itu. Tepatnya disaat penyerahan medali emas yang Baekhyun dapatkan—walaupun berakhir dengan pergelangan kaki yang terkilir. Tidak ada cincin baru, karena Chanyeol menggunakan cincin yang biasa digunakan Baekhyun. Ha, Baekhyun hanya menitipkan cincinnya pada Chanyeol karena tidak boleh mengenakannya pada saat pertandingan. Disaat Chanyeol berlutut di depannya, reaksi Baekhyun tidak seperti gadis-gadis lainnya yang akan terkejut dan menangis, dia malah menampakkan wajah bosan dan melempar Chanyeol dengan bunga yang diterimanya dari kejuaraan. Setelah itu dia tertawa terbahak-bahak sebelum membangunkan Chanyeol dan memeluknya.
Dan sekitar tiga bulan lalu Baekhyun lulus dari nerakanya dan bekerja sebagai salah satu engineer di perusahaan milik ayah Chanyeol. Terkesan nepotisme, tapi ternyata Baekhyun bisa membuktikan bahwa dirinya berhak dan pantas disana. Pekerjaannya tidak sesibuk yang dia pikirkan, dia masih bisa menyiapkan perlengkapan Chanyeol—yang sekarang menempuh pendidikannya lagi—dan Taehyung jika pagi hari tiba. Walaupun terkadang dia harus lembur, tapi paling tidak, dia masih bisa menyempatkan waktunya untuk mendampingi Taehyung belajar jika pulang dalam jam yang normal.
Sekitar tiga minggu lagi, Baekhyun akan meresmikan hubungannya dengan Chanyeol. Meskipun terkesan tergesa-gesa, tapi itu sudah menjadi pilihannya. Lagipula, jika dipikir-pikir lagi, mereka hanya mengubah status mereka. Toh setiap harinya Baekhyun sudah melakukan apa yang menjadi kewajibannya.
Saat ini mereka dalam perjalanannya untuk menjemput Taehyung pulang sekolah. Chanyeol sedang tidak ada kelas dan Baekhyun sedang libur karena baru saja menyelesaikan sebuah tender yang membuat dia dan timnya bekerja keras selama dua minggu penuh. Ha, Baekhyun anggap liburnya kali ini adalah hadiah, walaupun hanya selama tiga hari saja. Mereka berdua masih saja sama, mendebatkan hal yang tidak penting. Baekhyun masih berusaha membujuk Chanyeol agar memperbolehkan dirinya untuk tidak memakai heels saat pernikahannya nanti. Memang, selama bekerja pun Baekhyun tidak memakai heels atau semacamnya. Dia memakai sneakers, persis seperti saat kuliah sebelumnya. Lagipula pekerjaannya tidak berada di kantor, jadi sangat wajar jika dia mengenakan sneakers seperti itu.
"Menyebalkan." Ucap Baekhyun yang sekarang melipat kedua tangan di bawah dadanya.
"Memang." Jawab Chanyeol singkat.
"YA! Kau ini!"
Chanyeol menghela nafas sembari berkonsentrasi untuk mencari tempat parkir yang kosong. Dia sedikit menggoda Baekhyun, walaupun sebenarnya dia masih berpegang teguh dengan keputusannya untuk tidak mengabulkan permintaan kekasihnya tersebut.
"Aku turun untuk mencari Taehyung. Kau mau ikut aku tidak?"
Baekhyun mengangguk dengan kesal, "Aku ikut karena Taehyung. Bukan karena dirimu."
"Ah… begitukah?" Chanyeol mengerling dan menjetikkan jarinya di dahi Baekhyun, "Berhenti keras kepala. Masih ada hari untuk belajar menggunakan heels—" Baekhyun membuka mulutnya untuk mengelak tapi Chanyeol berhasil memotongnya, "jangan banyak alasan. Masih ada tiga minggu untuk sampai pada hari itu. Berlatihlah di rumah." Ucapnya yang kemudian keluar dari mobil.
Baekhyun sempat melihat seringaian itu—dan dia merasa dia patut untuk murka. Bukan apa-apa, tapi dia tahu Chanyeol menikmati penderitaannya. Apalagi dengan wajahnya yang menyebalkan itu, Baekhyun bersumpah ingin menampar wajah Chanyeol tapi dia juga tahu jika lelaki itu bisa melawannya.
Dengan langkah kesal dia mengikuti Chanyeol untuk pergi ke area depan sekolah tersebut. Sudah menjadi sebuah kebiasaan untuk mereka berdua menjemput Taehyung begini. Bahkan beberapa orang tua siswa lainnya sudah menganggap bahwa Chanyeol dan Baekhyun orang tua Taehyung sendiri. Meskipun sedang kesal, Baekhyun tetap seperti anak anjing yang patuh jika bersama Chanyeol. Ia sekarang duduk di samping lelaki itu yang sesekali menunjuk beberapa obyek yang menurutnya bisa dibicarakan. Bahkan sekarang mereka membicarakan salah satu ibu dari—mungkin teman Taehyung—siswa yang datang dengan pakaian super mewahnya. Padahal yang Chanyeol tahu, orang tersebut merupakan salah satu bawahan ayahnya. Jadi serasa konyol saja jika melihat orang itu berpakaian layaknya orang yang sangat amat kaya.
"Hei!" seru seseorang di belakang mereka berdua.
Chanyeol menoleh, "Sehun?" dia tertawa kecil, "Menjemput… Park Jimin?" tanyanya.
"Soon-to-be Oh Jimin, though. Tumben kalian menjemput Taehyung bersama?" ucap Sehun yang sekarang duduk di samping Chanyeol.
"Karena tumben juga kami libur disaat yang bersamaan," Chanyeol melirik ke arah Baekhyun yang mendelik padanya, "jangan hiraukan dia, Oh. Dia sedang sensitif hari ini."
"Sensitif? Mood swings? Ha! Kau mencetak skor terlebih dulu?"
"YA! Kubunuh kau Oh Sehun!" seru Baekhyun yang membuat Chanyeol dan Sehun tertawa terbahak-bahak. Memang, bukan sebuah hal baru jika Baekhyun menjadi korban bully—kejahilan—dari Sehun dan Chanyeol. Dia hanya akan merasa aman jika ada Luhan ataupun Mama Park. Alasannya, karena hanya Luhan yang bisa membuat Sehun bertekuk lutut—he is so whipped, you know—dan Mama Park menjadi satu-satunya orang yang bisa Chanyeol tidak berani membuka mulutnya.
Karena kesal, Baekhyun memutuskan untuk sekadar berjalan-jalan di sekitar sekolah Taehyung. Bukan marah, dia juga bosan jika terus-menerus duduk disana. Hanya untuk melihat-lihat apa isi sekolah Taehyung yang sebenarnya dia bisa menduga bagaimana isi sebuah sekolah dasar. Dia juga mendapati beberapa orang tua siswa juga sudah datang untuk menjemput anak mereka. Baekhyun sadar, sekarang, dia punya tanggung jawab seorang anak bernama Kim Taehyung, yang secepatnya akan diubah dengan marga Park—ayah Chanyeol yang terobsesi dengan ini. Lagipula, Taehyung sekarang sudah benar-benar tidak mau ikut dengan orang tua kandungnya, dengan alasan dia bingung harus ikut dengan siapa. Dan kata Taehyung lagi, jika dia berlibur bersama orang tua kandungnya—dengan lengkap—dia merasa bosan. Apalagi tak jarang orang tua kandungnya terlibat adu mulut bahkan di depan Taehyung sekalipun. Pernah suatu hari, Chanyeol harus menjemput Taehyung di Busan karena anak kecil itu menangis ketika orang tua kandungnya bertengkar. Padahal, disaat itu, orang tua Taehyung berjanji untuk mengajak anak lelakinya itu berlibur.
Dia berhenti di sebuah kelas, dimana Baekhyun melihat Taehyung duduk dengan Jimin disana. Dia memperhatikan anak lelaki itu dari kejauhan. Sesekali dia tersenyum karena melihat ulah jahil Taehyung yang menggoda Jimin—hingga merasa risih. Memang, sifat jahil Chanyeol sudah merembet ke anak lelakinya tersebut. Bagaimana tidak, hampir setiap hari mereka berdua dengan kompak membully Baekhyun dan membuat Baekhyun kesal. Walaupun pada akhirnya, mereka berdua pun juga sukses membuat Baekhyun tertawa lepas karena ulah mereka sendiri.
Mama!
Anak lelaki itu menggerakkan bibirnya dengan kata Mama ketika melihat Baekhyun disana. Bahkan dia terlihat sangat antusias—hingga dia hampir melompat dari kursinya—walaupun Baekhyun mendelik agar Taehyung memperhatikan gurunya yang sedang berbicara di depan. Anak itu hiperaktif, apalagi jika sudah bersama Jimin. Seakan-akan tingkat hiperaktifnya bertambah beberapa kali lipat.
Tak beberapa lama, bel sekolah pun berbunyi. Baekhyun juga mendapati Taehyung yang sudah bersiap untuk berlari pulang—walaupun harus menunggu Jimin yang kesulitan memakai tas ranselnya. Hingga tak lama setelahnya, Baekhyun mendengar dua orang anak berlari dan berteriak ke arahnya.
"MAMA!"
"IMO!"
Baekhyun hanya tertawa kecil dan merentangkan kedua tangannya pada anak-anak kecil tersebut. Taehyung dan Jimin pun segera meraih masing-masing dari tangan Baekhyun. Mereka berdua melompat-lompat—khas anak sekolah dasar.
"Hari ini Imo dan Chanyeol Samchon menjemputku?" tanya Jimin pada Baekhyun.
"Tidak," Baekhyun menggeleng, "Sehun Appa."
"Sehun Appa? Benarkah?"
Taehyung dan Jimin anak yang sama. Attracted pada orang yang bukan orang tua kandung mereka sendiri. Baekhyun sendiri bisa melihat bagaimana sorot mata excited dari Jimin ketika mendengar nama Sehun—karena memang akhir-akhir ini Sehun sibuk dengan pendidikan lanjutnya. Kedua anak itu menceritakan bagaimana harinya pada Baekhyun, meskipun sebenarnya setiap harinya memiliki jalan cerita yang hampir sama, tapi Baekhyun tetap mendengarkannya dengan antusias. Dia menyadari, pada usia seperti Taehyung dan Jimin, anak-anak sangat suka mencari perhatian.
Mereka bertiga berjalan hingga ke tempat dimana Chanyeol dan Sehun duduk—di bawah sebuah pohon di pinggir lapangan bola. Walaupun setelahnya, Taehyung dan Jimin berlari ke arah Ayahnya masing-masing dan meninggalkan Baekhyun berjalan seorang diri.
"Ayo pulang!" seru Taehyung yang sudah menggelayut di pangkuan Chanyeol.
Lelaki itu mengangguk, "Sehun-ah, ayo pulang." Ucapnya pada Sehun.
Mereka bertiga, segera masuk ke dalam mobil. Hari itu Taehyung benar-benar merengek untuk membeli patbingsoo dan mau tak mau Chanyeol pun mengikuti apa kemauan anak kecil tersebut. Sering Baekhyun mengingatkan agar Chanyeol mengurangi porsi memanjakan anak lelakinya itu, tapi Chanyeol bilang dia melakukannya dengan wajar, karena Taehyung masih belum menjadi seorang bratty child.
"Aku tadi hampir memukul temanku, Ma." Keluh Taehyung yang duduk di samping Baekhyun setelah sampai di kedai patbingsoo.
Baekhyun mendelik, "Jangan! Siapa yang mengajarimu menjadi nakal begitu?"
"Mama." Jawab Taehyung yang mulai menyendok patbingsoo miliknya.
"Aku tidak mengajari itu dan biasanya anak kecil menjawab dengan jujur," Chanyeol mendekat ke arah Taehyung, "satu sendok." Ucapnya sebelum Taehyung menyuap sesendok penuh es kacang merah itu.
"No, no. Mama tidak mengajariku untuk menjadi nakal. I'm kidding, Mommy."
Kedua lelaki itu—Chanyeol dan Taehyung—terkikik sembari menepukkan kedua tangan mereka bersamaan. Baekhyun hanya menggeleng, walaupun sebenarnya dia merasa gemas dengan tingkah mereka berdua. Memang, semenjak Taehyung tinggal dengan mereka, sikap jahil dan cuek Chanyeol benar-benar membentuk pada diri anak kecil itu. Baekhyun tidak protes, karena dia sudah terbiasa. Lagipula, jika Chanyeol tidak di rumah, dia akan berdua dengan Taehyung, yang bisa disebut sebagai mini version dari Park Chanyeol.
"Taehyung-ah." Ucap Chanyeol pada Taehyung yang sedang sibuk mengunyah makanannya.
"Hm?"
"Jika Papa dan Mama menikah nanti, apa menurutmu Mama harus berdandan cantik?"
Baekhyun yang semula memperhatikan televisi di salah satu sudut itu langsung menoleh. Matanya membulat dua kali lipat. Dia tahu apa rencana Chanyeol kali ini. Dengan meminta Taehyung menjadi salah satu partner in crimenya agar Baekhyun menuruti apa kemauan lelaki itu. Tentu, Taehyung memiliki jurus yang lebih sulit untuk dihindari.
"Tentu. Tidak mungkin Mama akan memakai baju seperti ini…" Taehyung menoleh ke arah Baekhyun dan tersenyum hingga matanya menyempit, "Aku benar 'kan, Ma?"
Baekhyun mengangguk dengan terpaksa. Dia masih tersenyum pada Taehyung—karena anak itu masih menghadap ke arahnya—tapi sedetik kemudian, ketika Taehyung sudah kembali ke makanannya, dia melirik ke arah Chanyeol yang tersenyum puas itu.
"Berarti… Mama tidak memakai sepatu seperti sekarang, 'kan?"
Taehyung mengerutkan alisnya sebelum membungkukkan badan untuk melihat sepatu apa yang dipakai Baekhyun saat ini. Dan ketika dia sudah melihat apa yang dikenakan Baekhyun, dia bertanya, "Mama tidak akan memakai sepatu seperti itu, 'kan? Karena aku pikir, Mama akan memakai sepatu seperti Cinderella. Bukan Cinderella, tapi Ariel—"
Chanyeol menyela, "Ariel itu putri duyung, Taehyung."
"OH! Aku pikir selama ini Ariel seorang putri yang berambut panjang itu… bukan?"
"Itu Rapunzel, Sayang." Baekhyun membenarkan.
"Ah… Rapunzel… sudah berganti nama? Ah, lupakan—yang jelas Mama tidak akan memakai sepatu seperti ini, 'kan?"
Gadis itu menghela nafasnya panjang, "Iya, Taehyungie." Dia tersenyum ketika melihat mata anak kecil itu berbinar, "Aku menyayangi kalian berdua." Ucapnya dengan nada penuh sindiran.
"Aku juga! Ah tidak, kami juga!" seru Taehyung yang secara tiba-tiba memeluknya.
.
.
.
"Ini."
Chanyeol menyodorkan sebuah box berwarna putih. Baekhyun mengernyit, "Jangan mengatakan jika ini—"
"Buka sendiri."
Baekhyun mendelik ke arah Chanyeol—yang tersenyum puas—dan kemudian meraih benda tersebut. Dia sudah menduga—dan memang dugaannya benar. Sebuah heels berwarna putih yang mungkin setinggi 10 senti. Dengan helaan nafas dan perasaan kesal, Baekhyun langsung menyerang Chanyeol dengan penutup box tersebut.
"I. DON'T. WANT. TO. MARRY. YOU. STUPID. GIANT." Ucapnya yang diselingi dengan pukulan pada calon suaminya tersebut.
"But you have to marry me, Silly." Goda Chanyeol yang memegang kedua tangan Baekhyun sembari menjulurkan lidahnya sesaat.
"Aku benci dirimu."
"Tapi kau mencintaiku… okay, that's so cheesy—Baek, kau tahu, ibumu awalnya menyarankan yang 12 senti. Aku masih berbaik hati dengan membujuk mereka agar membelikanmu yang ini—"
"Dua senti tidak ada artinya, Bodoh! Aargh! Aku tidak mengerti dengan otakmu ini!"
"Dua senti sangat berpengaruh untuk tinggi badanmu," Chanyeol berdiri dari ranjangnya dan beranjak pergi, "selamat berlatih, Nona Byun!" ucapnya.
Rasanya Baekhyun ingin melemparkan benda yang ada di hadapannya itu ke kepala Chanyeol agar lelaki itu lebih bisa berpikir. Itu bukan sembarang heels biasa, itu stiletto. Untuk memakai heels yang wajar saja Baekhyun merasa kesulitan, apalagi yang berwujud stiletto begitu? Walaupun sebenarnya Baekhyun mengiyakan ucapan Chanyeol yang mengatakan bahwa dua senti berpengaruh pada tinggi badannya, tapi tetap saja stiletto dengan tinggi 10 senti akan terasa sangat berlebihan.
Dia yang mungkin sedang murka itu bergerak keluar kamar dan menyusul Chanyeol yang sedang duduk dengan Taehyung. Senyuman kecut terpampang di wajah Baekhyun, karena Chanyeol, saat ini sudah duduk dengan Taehyung. Dan jika sudah begitu, dia tidak akan bisa membahas masalah kecil itu. Dengan pasrah dia menyusul Chanyeol dan memberikan death glare pada lelaki itu. Balasannya, dia mendapatkan sebuah kedipan dari mata kanan Chanyeol—dan itu membuat Baekhyun ingin mencekiknya jika tidak ada Taehyung disana.
"Bagaimana?" tanya Chanyeol.
"No."
"Wait," Chanyeol menghadapkan arahnya pada Baekhyun, "bukankah aku pernah membelikanmu yang sekitar enam atau delapan senti? Yang tidak pernah kau pakai itu—karena kau lebih memilih memakai sneakers berdebumu."
"Kenapa kau mengingat benda laknat itu disaat aku tidak ingin membahasnya—" Baekhyun bergumam pada dirinya sendiri sebelum berkata, "Kau menyuruhku untuk memakai itu?"
"Sebagai awalan, Nona Byun—"
Secara tiba-tiba, Taehyung, yang sedari tadi sibuk mengerjakan tugas rumahnya itu berlari entah kemana dan membuat kedua orang lainnya terkejut—walaupun dengan mata yang mengikuti kemana langkah anak kecil itu pergi. Sejenak Baekhyun melirik ke arah Chanyeol yang hanya menggerakan pundaknya dan menandakan bahwa dia juga tidak mengerti dengan maksud Taehyung itu. Hingga tak beberapa lama, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka.
"TADAAAA! Ini kan yang dimaksud Papa?"
Speechless. Itu yang Baekhyun rasakan ketika melihat Taehyung membawa sebuah kotak berwarna hitam dan meletakkannya di pangkuan Chanyeol. Tentu saja, dia mengenali betul bagaimana bentuk dari kotak tersebut. Jika melihat wajah Taehyung yang polos itu membuat Baekhyun tidak bisa meluapkan kemarahannya. Apalagi dengan gummy smilenya yang terpasang disana—membuat Baekhyun ingin meremas wajah itu karena gemas.
"Whoa! Pintar sekali, Taehyungie!"
That cooing sound is pissing me off. Batin Baekhyun.
Chanyeol hanya bisa tersenyum dengan wajah yang sok tidak berdosa pada Baekhyun yang terpojok karena kalah. Dia tidak mungkin memaki-maki Chanyeol di depan Taehyung—meskipun dia benar-benar ingin melakukannya. Wajah lelaki yang di hadapannya itu bak seorang anak kecil yang tidak sengaja memecahkan piring dan meminta maaf pada ibunya—itu membuat Baekhyun muak, sungguh.
Dia menghela nafasnya penuh kekalahan, "I love you. You two."
"We love you too, Mama!" seru seseorang yang memang benar-benar tidak berdosa pada kejadian itu.
.
.
.
"Nah." Baekhyun menumpukkan kakinya pada kaki Chanyeol, "Kau membuat kakiku sakit semua." Ujarnya dengan wajah kesal.
"Salahku? Benar-benar salahku?" ucap Chanyeol.
"Kau yang membuat mengenakan sepatu itu—kau sama saja dengan Eomma. Lagipula sneakers lebih nyaman! Sneaker all the way—"
Chanyeol menghela nafas sembari mulai memijat kaki Baekhyun, "Kau akan terbiasa nanti."
"Tapi ini sangat sakit, Chanyeol-ssi. Itu menyiksa. Lagipula aku tidak mengerti mengapa diciptakan sepatu berbentuk aneh seperti itu."
"Tujuannya… untuk membantu… orang yang tinggi sepertimu."
Baekhyun mendelik. Dia tahu bagimana ucapan sarkas itu keluar dari mulut Chanyeol. Dengan sedikit geraman dia memutar badannya dan menindih Chanyeol hingga kemudian memukulnya berkali-kali. Lelaki itu hanya berteriak sembari melindungi dirinya sendiri—walaupun selebihnya bisa dikatakan tertawa terbahak-bahak. Tapi tunggu, ucapan Chanyeol ada benarnya. Baekhyun dan Chanyeol punya beda tinggi yang sangat jauh. Bisa dibiilang, jika Baekhyun berdiri di depan lelaki tersebut, maka badannya tidak akan terlihat jika arah pandangan berasal dari belakang Chanyeol. Maka dari itu, jika mereka sedang melakukan cuddling session—ini sangat cringey astaga—maka akan terlihat seperti ayah dan anak gadisnya yang masih sekolah dasar.
"Sepertinya aku harus mengingatkan diriku sendiri mengapa aku mau menikah denganmu. Tuhan, apakah masih ada waktu untuk membatalkannya—YA!" ucapan Baekhyun terpotong karena Chanyeol yang sekarang bergantian menindihnya.
"Jika Tuhan berkata iya, kau akan menyesal seumur hidup karena tidak menikah denganku," Baekhyun mendelik dan memperlihatkan ekspresi mengejeknya, "jangan begitu, aku bisa lepas kontrol sekarang."
"Akan kubunuh kau."
"Jangan. Taehyung masih belum punya adik perempuan."
Baekhyun memutar kedua bola matanya, "Astaga. Semoga Tuhan segera mengakhiri cobaan ini."
Chanyeol tertawa kecil dan menatap Baekhyun dengan posisi yang masih sama, "Apa yang kau inginkan setelah menikah nanti?"
Gadis iitu sudah mengerti jika Chanyeol sudah mengakhiri sesi bercandanya dan mulai membicarakan hal-hal yang serius. Akhir-akhir ini lelaki itu selalu begitu. Sering bericara serius pada sesuatu—dan Baekhyun menyukai hal ini. Karena Chanyeol selalu menatapnya dengan hangat—walaupun pada akhirnya mereka tetap mengumpat satu sama lain.
"Hmm… tidak ada? Chanyeol-ah," gadis itu menguncir poni Chanyeol menjadi bentuk buah apel—dan menjambaknya hingga Chanyeol mengaduh, "bukan bermaksud untuk tidak menginginkan apa-apa tapi aku sudah cukup menikmati kehidupan yang tidak normal ini—okay, maaf."
Lelaki itu tertawa kecil ketika melihat Baekhyun yang sedang menggigit bibir bawahnya, "By the way, aku suka rambutmu sekarang. Sudah sepanjang punggung dan—jangan pernah memotongnya lagi atau kubunuh kau—aku sudah bisa membayangkan bagaimana kau nanti."
"Astaga aku bersumpah kau berhasil membuat bulu kudukku berdiri—" Baekhyun merengek, "besok kita harus pergi mengecek gereja dan bajunya? Pagi-pagi sekali?"
"Lebih cepat lebih baik. Sepulang mengantarkan Taehyung berangkat sekolah dan mungkin akan selesai tepat di waktu anak kecil itu pulang. Bukankah ide yang bagus?"
Gadis itu mengangguk, "Ayo tidur kalau begitu. Aku tidak ingin bangun terlalu siang dan Taehyung tidak sempat sarapan seperti tempo hari—"
"Itu salahmu! Salah siapa kau memakai pakaian seperti itu!"
"YA!" Baekhyun mendorong Chanyeol hingga hampir terjatuh dari ranjang mereka, "Kau saja yang tidak bisa mengontrol hormonmu sendiri! Padahal seingatku kau pernah mengatakan kau bisa terkena impoten jika melihatku dulu—"
Chanyeol melirik dan mendecakkan lidahnya, "Kau ingin aku benar-benar terkena penyakit itu? Sungguh-sungguh?"
Baekhyun tertawa sok polos dan kemudian mengecup bibir Chanyeol sekilas, "Jangan. Aku tidak ada hiburan jika tidak ada dia. Sekarang diam dan tidur sebelum aku menendangnya."
Chanyeol sempat bergumam sebelum melingkarkan lengan besarnya pada Baekhyun yang sudah menguap. Sesekali dia mengenduskan hidungnya pada rambut Baekhyun yang beraroma buah kiwi—yang akhir-akhir ini benar-benar membuatnya addicted. Dia menarik badan gadis itu dengan lengannya agar lebih dekat. Dia tidak segera memejamkan matanya, karena melihat Baekhyun yang berusaha tidur benar-benar menyenangkan—Baekhyun selalu mengecapkan bibirnya dan mengenduskan hidungnya. Kebiasaan-kebiasaan kecil itu selalu sukses membuat Chanyeol gemas. Karena Baekhyun yang tertidur 180 derajat berbeda dengan Baekhyun yang beringas jika siang hari tiba.
"Tidur sekarang atau aku akan ku potong lehermu." Ancam Baekhyun dengan mata yang tertutup.
"Aw~ so feisty." Goda Chanyeol.
"Chan—"
"Kau harus melakukannya ketika kita sedang itu. Hoah…"
"Park Chanyeol."
"Dan kau bisa melakukan apapun yang kau mau—"
Baekhyun membuka matanya dan mendelik ke arah Chanyeol yang masih pada keadaan dreaming statenya dengan ekspresi layaknya berkata are-you-fuckin-serious-you-asshole dan sukses membuat Chanyeol tenang dan memeluknya lebih erat.
"Okay, tidur."
Suasana menjadi hening karena Chanyeol sudah terdiam sekarang—dan Baekhyun yang sudah bersiap untuk tidur. Namun itu hanya sesaat karena Chanyeol membuka suaranya lagi, "Apa menurutmu aku akan menjadi seorang suami yang takut dengan istrinya?"
Dengan mata yang masih terpejam, Baekhyun menghela nafasnya dan membalikkan badan sehingga punggungnya menghadap ke arah Chanyeol. Dia berharap Chanyeol tidak akan meneruskan pertanyaannya dan pergi tidur. Tapi sayangnya dugaannya keliru.
"Baek, apa sebaiknya kita tidak memelihara anjing untuk teman Taehyung? Aku ingin memberikannya nama Beethoven."
Baekhyun hanya terdiam walaupun sebenarnya mendengar ucapan Chanyeol dan melanjutkan usaha tidurnya yang terus-menerus gagal karena pertanyaan bodoh Chanyeol.
"Jika kau tidak mau kita beri Taehyung adik perempuan. Tunggu, aku berpikir untuk memberikan nama Mongryong untuk—"
Baekhyun menoleh dengan alis mengerut, "Apa kau benar-benar serius memberikan nama Mongryong untuk anak perempuan kita nanti? Astaga Chanyeol—"
"Bukan, maksudku jika kau tidak suka nama Beethoven untuk anjingnya—tapi tunggu, kau ingin anak perempuan juga?"
Baekhyun merasa ingin mengakhiri hidup Chanyeol disaat itu juga tapi dia mengingat lagi jika seminggu lagi adalah pernikahannya—dan dia menunda rencana itu hingga mereka benar-benar menikah agar dia bisa menjadi seorang janda yang mendapatka harta suaminya yang meninggal; oke, ini benar-benar drama.
"Terserah kau saja." Ucap Baekhyun dengan nada yang kalah sebelum memejamkan matanya lagi.
"Aku akan memberikan nama Park Jiwon jika lahir anak perempuan nanti."
Baekhyun terdiam sejenak sebelum bergumam, "Hmm… aku suka nama itu."
Chanyeol tersenyum kecil sebelum mengenduskan hidungnya lagi ke rambut Baekhyun dan memejamkan matanya. Hidupnya benar-benar hampir lengkap. Hampir.
.
.
.
"Mama dan Papa akan menjemputmu nanti." Ucap Baekhyun yang berjongkok sembari membetulkan kerah seragam Taehyung.
"Iya, Ma."
Baekhyun tersenyum, "Kiss me?" pintanya.
Taehyung menggeleng, "Aku sudah besar, Ma."
Sedikit kecewa, tapi Baekhyun hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut anak lelakinya itu. Dia merasa wajar—apalagi ketika saat itu dia melihat Jungkook baru saja datang sang ayah. Dia mengangguk sebelum akhirnya berdiri dan berbalik untuk kembali ke dalam mobilnya. Tapi, sayangnya, Taehyung memanggil namanya lagi.
"Ma?"
Dia berbalik, "Hm?"
"Sorry," Baekhyun menyejajarkan dirinya dengan Taehyung, "Hug me?"
Baekhyun memeluknya, "Kenapa Taehyung tiba-tiba begini?"
"Karena aku tahu jika aku akan menjadi Oppa atau Hyung sebentar lagi. Jadi… Mama pasti akan memperhatikan adik dan aku harus mandiri—"
Baekhyun terkekeh, "Aigoo… Tidak, Taehyungie. Mama dan Papa akan tetap sama," dia melepaskan pelukannya, "Semangat sekolahnya, Park Taehyung."
Taehyung yang semula menundukkan kepalanya itu mendongak dan tersenyum dengan lebarnya, "Aku suka nama Park!" serunya sebelum mencium pipi Baekhyun dan berlari sembari melambaikan tangannya.
Baekhyun kembali ke mobilnya setelah itu—dan mendapati Chanyeol sedang sibuk bermain Vainglory di ponselnya. Dia bersumpah ingin memukul kepala Chanyeol karena dengan tidak pedulinya lelaki itu membiarkan dirinya berjalan dengan sepatu keparat itu. Chanyeol menggodanya. Baekhyun tahu itu.
"Sudah?" Baekhyun mengangguk, "Aku memang jahat, aku tahu. Aku senang melihat kau menderita begini—ayo berangkat!" serunya untuk mengalihkan perhatian Baekhyun—yang hampir meledak itu.
Mereka akan pergi ke tempat Sooyeon, yang merancang pakaian mereka—sekarang sudah benar-benar jadi dan Baekhyun ingin mencobanya. Kemarin, orang tua Baekhyun dan Chanyeol—lebih tepatnya ibu mereka—membuat Sooyeon mungkin hampir mati kebingungan dengan semua permintaan mereka yang makin lama makin tidak masuk akal karena menginginkan ini itu. Dan sekarang, mereka berdua memutuskan untuk kesana sendiri. Iya, menghindari adanya permintaan aneh lagi.
Mereka berdua dengan kompak menyanyikan lagu-lagu yang terputar. Terkadang Chanyeol masih merasa terkejut dengan suara Baekhyun yang bagus. Iya, mungkin dia lupa jika calon istrinya itu dulunya seorang penyanyi di sebuah café dan seorang vocal trainer untuk para trainee di sebuah agensi artis. Ah, jika diingat-ingat lagi, pertemuan mereka benar-benar buruk dan Baekhyun pun masih seorang gadis bergaya Harajuku. Sekarang mungkin Baekhyun lebih wanita daripada sebelumnya, tapi Chanyeol bersumpah Baekhyun jauh lebih kejam daripada sebelumnya—meskipun gadis itu tidak akan memukulnya hingga patah tulang seperti dulu. Tentang kebiasaan Baekhyun berkelahi, sempat membuat orang tua Chanyeol shock. Apalagi dengan korban sebanyak itu tentu saja membuat mereka bertanya apakah anak lelaki mereka satu-satunya itu benar-benar akan menikahi Baekhyun—tapi semua keraguan itu luntur jika Baekhyun memasang topeng polos dan tidak berdosanya. Gadis itu benar-benar jenius jika sudah berakting sebagai korban. Ah, korban. Korban patah hidung Baekhyun yang terakhir benar-benar tidak terduga. Kim Jongin. Hanya karena Kyungsoo tiba-tiba datang ke rumah mereka dan menangis sembari menceritakan jika Jongin selama beberapa hari membentaknya. Sontak, hal itu membuat Baekhyun emosi dan menyuruh Jongin ke rumahnya di saat itu juga. Belum masuk ke dalam rumah, Baekhyun sudah memberikan bogem mentahnya dan sukses membuat Jongin dilarikan ke rumah sakit karena patah tulang hidung. Dan walaupun masalah tersebuat hanyalah kesalah pahaman; karena Jongin terlalu stress dengan pekerjaannya dan Kyungsoo yang merengek ini itu. Hah, terkadang Baekhyun juga tidak mengerti mengapa mereka berdua tidak benar-benar mau saling mendengarkan keluhan masing-masing.
"Sampai…" gumam Chanyeol sembari menepikan mobilnya.
"Jangan menertawakanku lagi jika aku memakai gaun itu." Ucap Baekhyun sembari melepas sabuk pengamannya.
"Aku tidak berjanji. Tapi diusahakan."
"YA!"
"Ssh! Kemarahanmu akan membuatku tertawa."
Baekhyun tidak mengerti betapa tidak idealnya mereka. Suka berteriak satu sama lain, mengumpat, tsundere, dan bahkan tidak pernah akur. Walaupun jika dipikir-pikir lagi, justru itu yang membuat Baekhyun tidak bisa berpisah dari Chanyeol. Karena jika mereka terpisah, maka dia akan merindukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah mulai merembet pada Taehyung tersebut. Iya, karena beberapa hari lalu Baekhyun bersumpah mendengar Taehyung bergumam dengan kata brengsek ketika salah menuliskan huruf di bukunya. Walaupun akhirnya Taehyung menyadari kesalahannya dan meminta maaf pada Baekhyun setelahnya.
"Baekhyunnie!" seru Sooyeon yang sedang ada disana.
"Jangan menertawakan aku, aku mohon." Ucapnya sembari memeluk Sooyeon sesaat.
Perempuan yang ada di hadapannya itu menggeleng, "No, aku tidak akan melakukannya karena kau benar-benar cantik, Baek. Kau harus mengingatkan lelaki itu sejujurnya," mereka berdua mengerling pada orang yang berdiri di belakang Baekhyun—Chanyeol maksudnya, "karena dia selalu gengsi untuk mengatakan kau cantik. You know, Tsundere." Bisik Sooyeon sebelum terkikik bersama Baekhyun.
.
.
.
Akhirnya semuanya tiba. Dan sekarang Baekhyun bersumpah ingin menghapus benda-benda yang menempel pada wajahnya. Meskipun Minseok mengatakan jika Baekhyun tidak benar-benar buruk—Baekhyun mengakui itu—tapi dia sangat merasa risih dengan make up dan segala macam asesoris yang menempel disana. Serasa dia ingin pulang ke rumah dan tidur di atas ranjang sembari menikmati SpongeBob Squarepants beserta Bikini Bottomnya. Apalagi riuh di ruangan itu—dia sendiri tidak mengerti mengapa orang-orang heboh disaat dia benar-benar santai dan tidak gugup. Sebenarnya dia gugup, hanya saja… tsundere, kalian tahu itu.
"Pakai sepatumu dan kita bersiap." Ucap Minseok yang lagi-lagi merapikan baju Baekhyun.
Ini yang membuat Baekhyun gugup. Bagaimana jika dia terjatuh dan kemudian berguling-guling dan kemudian baru berhenti ketika di depan Chanyeol dan kemudian Chanyeol membatalkan pernikahannya dan—oke, lupakan saja. Dia mencoba berdiri. Memang, sepuluh senti membuat Baekhyun merasa berdiri di gedung dengan lantai yang paling tinggi—dan itu membuatnya benci. Selama dia memakai sepatu yang dua senti lebih rendah saja dia tidak bisa melakukannya dengan baik, apalagi yang ini, dengan baju yang sangat merepotkan—ah, sungguh dia ingin segera mengakhiri semuanya.
"Aku tidak bisa…" gumam Baekhyun.
"Hm? Apa, Baek?" tanya Minseok.
Baekhyun menunjuk ke arah kakinya, "Aku tidak bisa berjalan dengan ini."
"Are you fuddlin' serious? Baek, try that. Berjalanlah kemari."
"YA! Aku pasti bisa kalau hanya berjalan empat atau lima langkah saja—tapi nanti. Astaga, bunuh aku, Tuhan—"
Kyungsoo menyela, "Jangan berlebihan, Baek."
Baekhyun memutar kedua bola matanya sebelum mencoba berjalan. Dia benar-benar tidak bisa menyeimbangkan badannya, benar-benar tidak bisa. Hingga pada langkah ke empat, pergelangan kakinya tidak mendarat dengan sempurna dan sukses membuatnya mengutuk semua orang yang ada disana. Hingga mungkin membuat wedding organizer mereka takjub dengan tingkah laku calon mempelai wanitanya. Baekhyun sudah yakin ini akan terjadi dan dia tidak bisa jika mengenakan sepatu itu. Hingga ketika semua orang sedang lengah, dia menjalankan rencana yang sudah dia susun sebelumnya.
Ketika keluar ruangan tersebut, Baekhyun segera bergegas menuju ke arah ayahnya. Ayah Baekhyun sempat mengerutkan alis ketika melihat anaknya yang berlari kecil itu. Tentu ada yang aneh—karena Baekhyun bisa berlari, tapi lelaki itu berusaha tidak peduli dan memilih untuk mengamit lengan anak perempuannya untuk berjalan ke dalam altar. Ketika mereka berjalan di dalam, Baekhyun melihat Chanyeol yang tersenyum dengan bodohnya. Dia bersumpah ingin tertawa karena Chanyeol benar-benar terlihat tolol saat itu. Walaupun dia juga mengakui jika Chanyeol terlihat sangat tampan. Dan pada akhirnya Baekhyun sampai di samping Chanyeol yang wajahnya sudah berubah. Karena Chanyeol sudah curiga.
Lelaki itu berbisik, "Kau sependek… ini?" tanyanya terus terang.
Baekhyun terkikik sembari mengangkat gaunnya sedikit sembari mengedipkan sebelah matanya, "TADAAA! Ada insolenya, tenang saja—"
Memang, karena baju yang ia kenakan panjang membuat Baekhyun—dengan liciknya—mengenakan sebuah sneakers berwarna putih miliknya. Sneakers itu benar-benar masih baru, jadi mungkin masih layak untuk dipakai… Tapi untuk pernikahan… Chanyeol membelalakkan matanya dan kemudian menghela nafas penuh kekalahan. Dia tidak mengerti jika wanita yang ada di sampingnya itu sangat cerdik, bahkan sukses membuatnya kecolongan disaat-saat hectic begini. Chanyeol sendiri juga tidak mengerti bagaimana cara Baekhyun menyelundupkan sepatu itu. Yang mungkin mulai sekarang sudah dikutuk oleh Chanyeol.
"Sudah siap?" ucap pendeta yang ada di hadapan mereka—karena mereka berdua masih berkutat dengan sepatu terkutuk tersebut.
Semuanya berjalan lancar. Bahkan Chanyeol dan Baekhyun tidak terlihat gugup sama sekali—meskipun mereka berdua sebenarnya mengeluarkan keringat dingin. Dan sekarang, nampaknya, status Baekhyun benar-benar berubah. Lelaki yang menghadap sekarang menghadap ke arahnya itu tersenyum sebelum akhirnya bergerak mendekat untuk menciumnya. Semuanya berteriak dengan riuh, Baekhyun bisa mendengar semuanya—apalagi suara Taehyung yang melengking itu. Chanyeol sempat bergumam jika 'Dasar kau pecundang' pada Baekhyun sebelum menciumnya. Walaupun Baekhyun terkikik ketika mendengar Chanyeol yang berkata seperti itu.
Sebenarnya Baekhyun gengsi bukan main ketika bertemu dengan teman-teman kuliahnya. Hey, si gadis preman yang dibilang akan kesulitan mendapatkan jodohnya itu malah menikah terlebih dulu. Bahkan, Baekhyun menemukan Daehyun berdiri di antara tamu-tamunya—dan Baekhyun bersumpah ingin meminta maaf pada lelaki tersebut. Baekhyun sempat menggoda Daehyun yang tidak datang sendirian, walaupun dia tidak sempat bertanya siapa nama gadis tersebut. Dia sempat melirik penuh kemenangan pada Kyungri, yang datang dan menjabat tangan Chanyeol dengan wajah terpaksa. Walaupun dia tidak mengerti mengapa Kyungri sangat terobsesi dengan Chanyeol—mungkin karena uangnya—karena bagi Baekhyun, Chanyeol tidak sehebat itu. Baekhyun tsundere, harus diingat lagi.
Lelaki bertubuh tinggi itu kemudian berlari ke arah seseorang. Iya, seorang anak kecil yang memakai jas serupa; Taehyung. Yang kemudian mendarat di gendongannya. Baekhyun yang semula menggelayut di pelukan kedua ibunya itu menyusul Chanyeol. Taehyung terlihat benar-benar senang, ekspresinya menujukkan itu. Dia mungkin merasa punya orang tua baru; karena nama belakangnya berubah menjadi Park tepat dua hari sebelum pernikahan kedua orang tuanya. Meskipun Chanyeol dan Baekhyun tidak tahu-menahu—dan hanya menanda tangani sebuah surat persetujuan beserta teman-temannya—karena orang tua Chanyeol lah yang mengurus semuanya. Mereka bilang hadiah untuk pernikahan—yang sama sekali mereka tidak mengerti apa maksudnya.
"Mama."
"Hm?"
"Jongin Samchon mengatakan sesuatu padaku."
Baekhyun mencium pipi anak kecil itu sebentar sebelum berkata, "Apa?"
"Kata Jongin Samchon Papa dan Mama akan membuatkan adik perempuan untukku malam ini. Apakah benar?"
Kim Jongin. Keparat memang.
"Ah… benarkah?" tanya Baekhyun yang dijawab dengan anggukan polos Taehyung.
"Taehyung ingin adik baru?" goda Chanyeol.
"Hm… boleh? Aku terkadang merasa kesepian di rumah…" keluh anak kecil itu.
"Baiklah, tapi Taehyung hari ini menginap di rumah Jimin dulu. Bagaimana?"
"EH? Mengapa begitu? Aku tidak boleh ikut Mama dan Papa?"
"No. Kami akan melakukan misi rahasia dulu malam ini."
"Begitukah? Baiklah!" Taehyung memberontak sebelum turun dan berlari ke arah Jimin yang sedang duduk di pangkuan Luhan.
Baekhyun mendengar tawa dari Sehun dan Luhan disana. Dan dia melirik ke arah Chanyeol yang terkekeh. Benar saja, Taehyung baru mengatakan bahwa kedua orang tuanya akan melakukan misi rahasia untuk mendapatkan adik perempuan pada Jimin—yang sedang bersama orang tuanya juga. Jadi sangat wajar jika Sehun dan Luhan tertawa terbahak-bahak begitu. Dan ketika dia melirik Chanyeol? Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya layaknya menginginkan sesuatu.
Hah. Baekhyun mulai menyadari ketidak normalan suaminya benar-benar melampaui batas wajar.
.
.
.
"Literally, aku lelah." Ucap Baekhyun yang merebahkan dirinya.
"Aku juga… tapi paling tidak dengan Taehyung menginap di rumah Jimin kita bisa tidur tenang."
"Kau benar," Baekhyun mengerling ke arah Chanyeol, "tatapan macam apa itu?" tanyanya pada sorot mata suaminya yang berbinar.
"Hey, jangan terlalu keras dengan suamimu—astaga, aku merasa geli dengan panggilan itu!" seru Chanyeol.
"Kau pikir aku tidak—YA! APA-APAAN INI!" teriak Baekhyun ketika Chanyeol mendarat tepat di atasnya.
Tatapan Chanyeol yang semula tepat di mata Baekhyun bergerak ke telapak tangannya yang melebar—raksasa—itu. Secara tiba-tiba dia meletakkan telapak tangan itu di wajah Baekhyun sebelum berkata, "Wajahmu sangat kecil," kemudian dia menggerakkan tangannya ke dada Baekhyun, "yang ini juga."
"YA! Ku bunuh kau! Ku bunuh kau, Park Chanyeol!" teriak Baekhyun yang dibalas dengan tawa lepas dari lelaki itu.
"Bercanda, Baek. Ini—" dia menunjuk dada Baekhyun, "sudah cukup untukku." Ucapnya sebelum tertawa terbahak-bahak.
"Kau berat, Park. Pergi dari badanku—"
"No."
"Astaga—EH, sebentar. Sekarang jam sebelas malam bukan?"
Mereka berdua membelalakkan matanya secara serempak sebelum menghambur yang juga secara bersamaan.
.
.
.
"YAAAA!" teriak Baekhyun yang menggema di seluruh ruangan.
Mereka di ruang tengah. Dengan badan yang melekat satu sama lain dan kaki yang mengikat satu sama lain. Tangan Chanyeol dengan posesifnya mengakuisisi pinggang Baekhyun yang sekarang bergerak agresif itu. Chanyeol hanya diam sembari memperhatikan Baekhyun yang mungkin sudah kehabisan nafas. Dia memeluk wanita itu lebih erat sebelum membenamkan wajahnya di lekukan leher Baekhyun sembari bergumam sesuatu yang tidak jelas. Dia membiarkan Baekhyun senang kali ini. Tapi mau bagaimana lagi, mau tak mau Baekhyun memang patut senang.
"I've told ya, Park Chanyeol. I've told ya."
"Iya…" gumam Chanyeol lirih.
Baekhyun bergerak untuk mengambil benda yang ada di meja sebelum duduk di pangkuan Chanyeol lagi, "Disappointed that much, huh?"
"Tentu!" Chanyeol menegakkan badannya, "Aku berharap paling tidak jika Manchester United tidak berada di papan atas, maka Arsenal bisa mengalahkan si Biru! Ternyata? Astaga… untuk apa aku melihat pertandingan ini tadi—"
"Aigoo… It's okay, actually. Masih ada musim depan." Goda Baekhyun.
"YA!" Chanyeol berteriak disaat Baekhyun mematikan televisi mereka, "Kau benar-benar senang, huh?"
"Tentu! Poor you, Loser!" seru Baekhyun yang berlari ke dalam kamar mereka.
"YA! Park Baekhyun!" teriak Chanyeol yang kemudian menyusulnya.
Dan Chanyeol bersumpah akan menghabiskan Baekhyun malam itu juga.
.
.
.
END.
"MAMAAAAA!"
Baekhyun dan Chanyeol tergagap ketika mendengar teriakan tersebut. Mereka segera terbangun. Seketika Chanyeol berlari mengunci kamar mereka yang semalam tidak dikunci—karena rumah dalam keadaan kosong. Disisi lain Baekhyun segera memungut semua pakaiannya yang tercecer di lantai dan cepat-cepat memakainya. Tak lupa dia menggertak Chanyeol agar melakukan hal yang sama.
"MAMA!"
Taehyung yang datang diantarkan oleh Sehun itu menggedor kamar mereka berdua. Mereka mungkin lupa jika Taehyung tahu dan ingat dengan password rumah sehingga bisa masuk begini. Dengan panik, dan tergesa-gesa, Baekhyun dan Chanyeol keluar dari kamar dan kemudian menyambut Taehyung yang sudah berdiri di depan pintu. Tak lupa mereka secara kompak mendelik ke arah Sehun dan Luhan yang terkikik di ruang tengah.
"Aktivitas berat?" goda Sehun.
"Jangan mengatakan hal-hal seperti itu di depan anak-anak." Ancam Chanyeol yang duduk dengan Taehyung yang ada di pangkuannya.
Luhan menyela, "Dia benar-benar ribut untuk mengajak kami pulang ke rumah. Mungkin sudah merindukan kalian atau bagaimana."
"Astaga, Taehyung." Ucap Baekhyun yang kemudian meraih Taehyung agar duduk bersamanya.
"Lagipula ini sudah jam sebelas siang dan kalian masih saja tidur. Baru tidur pagi? Hm?"
"Sehun, kau ini. Sudah kubilang untuk tidak—"
"Mama, adik perempuanku? Bagaimana?"
Tawa Sehun dan Luhan seketika meledak—dan mengagetkan Jimin yang duduk di antara mereka. Pertanyaan Taehyung itu pun sukses membuat Chanyeol dan Baekhyun terdiam. Karena mereka benar-benar bingung harus menjawab dengan kalimat yang bagaimana. Tentu saja, Taehyung masih belum benar-benar mengerti tentang definisi membuat adik dan berapa lama prosesnya. Disaat mereka masih berpikir harus menjawab apa, Taehyung membuka mulutnya lagi sembari menunjuk leher bagian bawah Baekhyun.
"Mama, ini kenapa? Apa ini sakit?" tanya Taehyung yang sekarang menekan bekas kemerahan di leher Baekhyun itu.
Jimin menyela, "Itu—itu baru saja digigit serangga! Beberapa hari yang lalu Eomma juga punya di tempat yang sama! Astaga!"
Okay, sekarang wajah Sehun dan Luhan yang benar-benar memerah. Apalagi tawa Baekhyun dan Chanyeol yang juga meledak setelah Jimin dengan polosnya membuka aktivitas berat Eomma dan calon suaminya itu.
"Impas, Sehunnie." Goda Baekhyun.
Sehun mendelik ke arah Baekhyun sebelum bergumam 'Astaga, serangga? Yang benar saja Noona kau—' dan dibalas dengan tatapan maaf dari Luhan yang duduk di sampingnya.
Sebenernya, orang yang udah nikah ga bakal berubah namanya. Misalkan dari Byun jadi Park ataupun Do jadi Kim dan semacamnya. But this is imagination jadi gapapalah ya.
Sekian dari saya. Kalo ada kurangnya mah ya maafin :")))
Masalah ada sequel dan semacamnya bakal dipertimbangin sesuai permintaan. Kalo dikit mah ya engga wkwk kalo banyak... ya dipikir-pikir lagi. Maafin kalo ada kurang-kurangnya sama cerita ini. Maklum yang bikin kadang idenya juga stuck.
p.s.: I'm not really good in ending. So, sorry kalo ngecewain. TT
BYE BYE!
Salam, DerpMyungsoo.
N.
