Ngebosenin, sinetron, karakter utama nya kayak orang bego. bodoh nya dibuat-buatin. Sayakan sudah memberi Warning:

DLDR

(Don't Like Don't Read)

Kenapa? Ya, saya buat fanfic buat orang yang suka. Kalau yang tidak suka silahkan logout, apa susahnya tekan tombol back, daripada nyakitin hari orang lain? Susah yah... Setiap tambah chapter pasti tambah haters, kok serasa salah yang buat fanfic... Kan saya sudah tekenin, jangan mampir sama cerita sampah ini kalau tidak suka.

Apa daya saya yang seorang newbie yang masih punya tiga fic abal bisa melebihi orang yang sudah hebat, saya hanya buat cerita ini untuk yang suka, yang tidak suka harap out!

BANGSAT, ANJING, KAMPRET. Ini pertama kalinya lho dimaki orang sampe segitunya, parahnya lagi tidak saling kenal, orangtua, sahabat, tetangga, nenek, kakek, bibi, paman, sama keponakan pun, tidak pernah 'ngumpat' sampai 'seindah' itu. Oh astaga...

Dan satu lagi, anehnya orang yang katanya 'jijik' sama fanfic ini selalu review di akhir chapter, berarti dia dari chaprer pertama baca, itu menurut logika saya, menurut kalian gimana? Harusnya kalo udah 'gedek' sama fanfic 'sampah' ini, makinya di awal chapter bukan di akhir:)

Terimakasih sama yang sudah baca dan ngikutin dari awal... Jangan lupa baca Author Note dari saya.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Love Is Feeling © RiuDarkBlue

Warning: AU, OOC (cool Naruto), typo sana-sini, asem, garing, maaf jika ide pasaran, alur kecepetan, yang nggak suka harap tekan back. Saya tekankan kembali! Bahwa ini adalah inspirasi saya! Nggak ngejiplak siapapun kecuali karakternya!

"Percakapan."

'Bicara dalam hati.'

Naruto Namikaze x Hinata Hyuuga

DLDR

.

.

.

Pelan.

Awalnya tarikkan Naruto di lengan Shion sangat pelan. Tapi tidak untuk sekarang, tarikkannya terkesan kasar dan menyakitinya.

"Naruto-kun, sakit. Kita mau kemana?"

Naruto diam. Kakinya terus melangkah tanpa menghiraukan Shion yang dari tadi merengek manja, tentu saja itu membuatnya muak. Jika saja rengekkan Shion didengarnya 2 tahun lalu, mungkin Naruto akan senang. Tapi ini sudah lewat 2 tahun dan tentu saja Naruto muak dengan rengekkan Shion.

"Naruto-kun lengan ku sakit."

"Kita mau kemana?"

Tap.

Langkah Naruto berhenti di koridor sepi menuju gudang sekolah.

Nafasnya masih saja memburu, bahkan wajahnya juga memerah menahan marah. Tangan Naruto terkepal. Jika saja Shion seorang pria, ia sudah memukulnya sejak pertama kali pindah sekolah.

Namun, keinginan tak sesuai fakta. Shion wanita, dan ia pria. Jika tidak ingat Naruto lahir dari rahim seorang wanita. Pasti Shion sudah masuk rumah sakit sejak pindah.

Naruto menghela nafas, ia makin muak dengan keadaan ini. Sapphire birunya memandang Shion tajam. "Apa mau mu?"

Shion yang dari tadi mengelus pergelangan tangannya yang memerah, kini memandang Naruto. Ia tersenyum. "Aku... Ingin kita seperti dulu."

"Kita?" Naruto mendecih. "Seperti dulu? Jangan mimpi." Ia mencoba agar tidak meledakkan emosinya pada Shion.

"Aku... Mencintai mu."

"Cih!" Ia mendelik. "Kau sadar apa yang kau bicarakan?!"

Shion meneguk ludahnya sudah payah, ia belum pernah melihat Naruto semarah ini. "Y-ya... Aku mencintai mu. Aku minta ma_"

"Maaf? Kau minta maaf? Kemana saja kau?!"

"..."

Naruto berusaha menahan amarahnya. "Cih! Lalu kau kemanakan Gaara mu itu?!"

Shion menunduk. "Kami pu-putus sejak kita berpisah seminggu. Dia.. Tahu kalau aku mencintai mu."

Naruto berdecak. "Kenapa kau mengusik hubungan ku dengan Hinata?"

"Aku sudah bilang! Aku mencintai mu! Kau hanya milik ku!"

Naruto tertawa. "Milik mu? Kau sudah gila ya? Kau itu punya otak apa tidak?!"

Shion terkejut. Ini pertama kalinya Naruto berkata kasar. "Aku_"

"Cih. Tak tahukah kau? Aku muak pada mu! 2 tahun, 2 tahun aku menderita mati rasa! Dan kau malah senang-senang dengan kehidupan di Amerika?!"

"..."

"Kau pikir mudah hidup tanpa perasaan?! Jika kau mau tahu, aku hidup seperti orang gila! Sekalinya aku merasakan apapun, aku bingung. Aku seperti orang tolol..."

Amethys Shion membulat, ia tidak tahu, bahwa efek kebohongannya berakibat besar bagi Naruto terutama psikologinya.

"Baru satu bulan kemarin, aku sembuh. Dan itu karena Hinata... Aku jadi mengerti tentang perasaan. Semua perasaan aku tahu, termasuk cinta."

Hati Shion sakit, Naruto benar-benar mencintai Hinata. Dan ia menghancurkan cinta Naruto untuk kedua kalinya.

"Dan, kau!" Ia menatap tajam Shion. "Menghancurkan kepercayaannya dengan kesalahpahaman yang kau buat."

"Ma-ma_"

"Jika kau mau tahu, emosi ku masih labil." Naruto menarik nafas, di saat ia mengingat tubuhnya yang selalu bergetar ketika bertemu Shion. "Saat melihat mu untuk pertama kalinya, tubuh ku gemetar."

Shion tersenyum, ia berpikir itu adalah sikap gugup bertemu cinta pertama.

"Tandanya, aku ingin memukul mu, jika saja kau pria aku sudah membuat mu babak belur."

Naruto ingat, Kabuto pernah berkata bahwa tubuhnya akan gemetar dengan hati yang panas jika ia bertemu dengan orang yang membuat ia mati rasa, dan Naruto merasakan itu saat bertemu Shion untuk pertama kalinya.

"Setiap kau datang kehadapan ku, aku selalu berusaha agar bisa mengontrol emosi ku agar tidak meledak saat itu juga."

"Na-Naruto_"

"Jangan panggil nama ku!" Nafas Naruto terengah. "Dan jangan muncul lagi dihadapkan ku maupun Hinata."

Naruto berbalik.

"Ta-tap_"

"Jika kau masih ingin hidup tenang tanpa teror dari ku dan teman ku, menjauhlah. Kecuali jika kau ingin mengalaminya." Setelahnya Naruto melangkah dengan tangan yang mengepal.

Shion menangis.

Selain hatinya yang sakit. Ia juga takut dengan ancaman Naruto.

"Maafkan aku Naruto-kun..."

.

.

"Hinata-chan?" Sakura menyentuh bahu Hinata, sejak keluar kantin sampai sekarang mereka–Sakura, Tenten, dan Ino– membawanya ke taman belakang, Hinata masih saja diam.

"Y-ya Sakura-chan?"

"Hinata-chan tidak apa-apa?"

Bodoh!

Dalam hati, Ino memaki perkataannya sendiri.

Mana ada orang yang baik-baik saja jika dihadapkan dengan kejadian seperti tadi.

Dengan tatapan kosong. Hinata mengangguk. "Tentu.. Ke-kenapa aku harus menangis?"

Tenten yang sudah penasaran akibat kejadian tadi, mencondongkan tubuhnya pada Hinata yang duduk di hadapanya. "Ceritalah... Hinata-chan."

"Na-Naruto-kun dia..."

Sakura mengelus bahu Hinata. "Tenanglah..."

"Di-dia menyebalkan! A-aku membencinya."

"Dia.. Bohong pada ku."

Hinata ingat kesepakatan apa saja yang mereka buat. Jangan menyembunyikan sesuatu, Naruto yang melanggarnya.

Saling terbuka.

Semuanya Naruto langgar.

Ia merasa dibohingi.

"Shi-Shion-san memang mantan kekasihnya. Dan... Naruto-kun hanya mencari orang yang mirip dengan Shion-san, untuk mengobati rasa sepinya."

Air mata Hinata mengalir.

"Ke-kenapa.. Harus aku?"

"Jadi... Karenanya aku membencinya... Pa-padahal... Aku hanya ber-bercanda tentang ia yang kembali dengan Shion-san, tapi Naruto-kun malah kembali dengan Shion-san."

Sakura, Ino, maupun Tenten menghela nafas. Mereka tidak mengerti akar permasalahannya. Tapi di lihat dari cerita Hinata, mereka menyimpulkan bahwa disini Naruto banyak menyembunyikan sesuatu.

Sedangkan dalam sebuah hubungan, kejujuran adalah salah satu faktor yang menentukan kepercayaan.

"Memangnya, Naruto-san tidak pernah bercerita tentang masa lalunya?"

Hinata menggeleng.

"Dia... Hanya mencari orang yang mirip cinta pertamanya."

Dalam hati ketiganya bergumam mengiyakan, Hinata memang banyak kemiripan dengan Shion.

"Apa kalian sudah berakhir?"

Air mata Hinata berhenti mengalir, lavendernya menatap Ino. "Aku... Tidak tahu."

Baik Sakura, Ino, dan Tenten, sama-sama masih bingung, jika mereka simpulkan. Disini pihak yang salah adalah Naruto yang tidak mau terbuka.

Ino menghela nafas. "Apa wanita ular itu tahu, bahwa Hinata-chan pacaran dengan Naruto-san?"

"Y-ya, dia tahu..."

Tangan Tenten terkepal. "Aish! Benar-benar! Dan apa itu?! Kenapa Naruto-san malah membawa Shion-san keluar kantin tadi?!

"Ya! Mereka keterlaluan!" Ino yang pada dasarnya sudah emosi, makin naik darah.

"Aku jadi membenci mereka berdua!"

"Hinata-chan?"

Hinata menoleh, ia menatap Sakura. "Apa Hinata-chan masih mencintai Naruto-san?"

Hinata terdiam sejenak. "Aku... Me-memang masih mencintainya..."

"Jadi, apa yang akan Hinata-chan lakukan?"

"..."

"Bagaimana kalau lupakan Naruto-san?"

.

.

"Apa-apaan Kitsune menyebalkan itu?! Dia malah memilih wanita ular dari pada gadis manis seperti Hinata-san!"

Sasuke menghela nafas, ini bukan pertama kalinya Kiba memaki Naruto saat kejadian di kantin istirahat tadi.

Memang, pada saat kejadian. X5 ada disana. Mereka hampir saja mengeluarkan makan dari mulutnya, saat melihat Naruto menggenggam tangan Shion dan meninggalkan Hinata yang menangis di tengah kantin. Dan itu menjadi tontonan gratis bagi para siswa.

"Mata Naruto sudah katarak."

"Kau benar, Sai!"

"Aku juga agak kesal." Akhirnya Sasuke mengeluarkan uneg-unegnya.

Shikamaru diam. Ia juga kesal dan ingin memukul Naruto. Untuk apa jadi orang jenius jika masih bisa di goda oleh wanita ular seperti Shion.

Astaga...

Ia juga ingin marah. Tapi, seperti ada yang mengganjal di balik sikap Naruto pada Hinata.

"Aku benar-benar gemas dengan hubungan mereka berdua!" Kiba meminum sodanya.

"Akupun sama." Sai menyobek kertas sketsanya, ia gagal menggambar, dari tadi pikirannya penuh dengan Naruto.

Ceklek.

Semua menoleh. Mereka menatap Naruto yang baru saja membuka pintu atap sekolah. Keningnya berkerut, sapphirenya menatap tajam.

"Dari mana?"

Naruto hanya melirik sekilas Kiba. Ia duduk bersandar di tembok. Tangannya menyambar kaleng soda Sasuke.

Pikiran Naruto kacau.

Ia emosi. Hinata menangis lagi karenanya, air mata yang Naruto bilang berharga, kini menangisi ketidakjujurannya.

Mulut sialan!

Dalam hati Naruto terus memaki. Kenapa mulutnya tidak bisa menceritakan masa lalunya pada Hinata? Dan lagi, apa Shion tidak punya otak dan urat malu?! Wanita ular itu benar-benar membuatnya marah!

Trang!

"Shit! Shit! Shit!" Naruto memukul dinding disampingnya.

Ia marah.

Ia kesal.

"Shit!"

"Dobe!"

Sialan! Kenapa semuanya jadi serumit ini?

"Shit!"

"Dobe, hentikan!"

Bugh!

Nafas Naruto terengah, ia menyeka sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Sasuke. Sapphire birunya menatap tangan kanannya yang kini penuh darah akibat memukul tembok. Naruto menyandarkan tubuhnya di tembok.

Shikamaru, Sai, maupun Kiba, menatap Sasuke kagum. Naruto memang akan langsung diam, jika Sasuke sudah angkat suara.

"Kau kenapa?" Sebenarnya, Sasuke juga menyesal telah memukul Naruto. Tapi itu cara terbaik untuk menghentikan pukulan si pirang, jika tidak, mungkin Naruto akan terus melukai dirinya sendiri.

"Aku... Lelah."

Sai, Shikamaru, dan Kiba mendekat. Mereka duduk melingkari Naruto.

"Ceritalah, kita pasti membantu mu."

"Apa masih masalah kemarin?"

Naruto mengangguk.

"Sebenarnya, kau dan Hinata-san kenapa?"

"Kalian tahukan kalau aku baru sembuh?"

Semua mengangguk.

"Kabuto-san pernah bilang pada ku, aku akan merasakan getaran hebat saat melihat orang yang membuat ku mati rasa." Naruto menarik nafas. "Ya, getaran kebencian. Saat aku melihat Shion untuk pertama kalinya, aku merasakan itu... Aku ingin memukulnya, memakinya, dan kalau bisa menghajarnya sampai tak bernyawa."

Shikamaru menghela nafas. "Jadi Hinata-san salah mengartikan getaran itu?"

Naruto mengangguk. "Sepertinya begitu."

"Lalu?" Naruto melirik Sasuke. "Apa yang selalu kau lakukan pada Shion jika kau sedang dengan Hinata-san?"

"Sialnya. Aku malah menghindarinya dengan tubuh gemetar."

"Aish!" Kiba mengacak rambutnya. "Apa kau sudah menjelaskan pada Hinata-san? Dari dulu kau selalu bilang akan menjelaskannya."

"Aku selalu ingin menjelaskannya, aku'kan sudah bilang pada kalian. Tapi Hinata seperti menutup telinganya."

Shikamaru menghela nafas. Sebenarnya ini salah kedunya. Itu menurut pendapatnya.

"Lalu.. Apa yang kau lakukan dengan Shion tadi?" Sai mengernyitkan alis.

"Ya! Apa kau balikkan?!"

Bletak!

"Kiba!"

Si Inu meringis, ia mengusap kepalanya dan menatap keempat sahabatnya. "A-apaan sih?"

"Filter mulut mu."

"Seperti kau yang selalu di filter saja Zombie!"

"Urusai!" Shikamaru mendengus. Ia melirik Naruto. "Lanjutkan, Naruto."

Naruto menarik nafas. "Jika kalian berpikir aku mengatakan cinta, itu salah."

"Lalu?"

"Aku memarahinya."

Mata semua orang mau membulat.

"K-kau..." Telunjuk Kiba yang gemetar menunjuk hidung Naruto. "Tidak menganiayanya, kan?"

Naruto berdecak. "Tidak." Ia mengedikkan bahu. "Tadinya aku ingin membunuhnya."

"Lebih bagus jika langsung kau kubur hidup-hidup."

"Sai!"

Sai hanya menatap polos ketiga sahabatnya yang membentaknya. "Apa?"

"Naruto?" Semua menoleh ke arah Shikamaru. "Menurut ku ini salah kalian berdua."

"Menurut ku juga begitu." Sasuke menyamankan posisi duduknya.

"Aku mengerti, kau tidak mau terlibat masa lalu mu lagi. Tapi, kau harus terbuka pada pasangan mu jika tidak mau menimbulkan salah paham seperti ini. Karena kita tidak pernah tahu kapan mantan mu kembali."

Shikamaru menarik nafas. "Dan ada satu hal yang ku sadari, yang entah kalian sadari atau tidak. Bahwa... Hinata-san mirip dengan Shion."

Sapphire Naruto membulat.

Kiba menjentikkan jarinya. "Ah! Kau benar Shika! Rambut_"

"Mata_" –Sai.

"Semuanya mirip_" –Sasuke.

"Hanya saja beda warna." Shikamaru menatap sapphire Naruto yang kini menampakkan keterkejutan.

Sasuke menatap Naruto. "Kau baru menyadarinya?"

Naruto mengangguk. "Ya. Aku baru tahu... Mungkin ini yang menyebabkan Hinata salah paham pada ku."

"Astaga... Kitsune!"

"Ah, dan lagi_"

"Hinata-san juga salah." Shikamaru mendelik ke arah Sasuke yang memotong ucapannya. Sedangkan yang di tatap hanya menyeringai. "Dia bertahan pada egonya. Ia menunggu mu menjelaskan, tapi kau malah sulit melakukan itu."

Naruto menarik nafas. "Ck!"

"Jadi, kesimpulannya_" Shikamaru menguap. "Kau yang terikat masa lalu, Hinata-san dengan egonya, dan Shion yang tak tahu malu."

Shikamaru benar. Ini salahnya dan Hinata, jangan lupakan wanita ular yang tak tahu malu.

"Lalu..." Sai menggantungkan ucapannya. Ia menatap sapphire Naruto. "Apa yang akan kau lakukan?"

Naruto memejamkan matanya. "Entahlah, aku agak kecewa dengan Hinata yang tidak memercayai ku."

"Harusnya kau juga berjuang, Naruto."

"Tapi Sai, laki-laki juga bisa sakit hati."

Sasuke, Sai, Kiba, dan Shikamaru membenarkan perkataan Naruto.

"Kitsune, apa kau akan melepaskan Hinata-san?"

"Diamlah... Kiba. Biarkan aku mendinginkan kepala ku."

.

.

.

.

Hinata berjalan dengan kepala tertunduk di koridor. Ini jam istirahat dan koridor menjadi tempat lalu-lalang penghuni Konoha Gakuen. Banyak pasang mata yang menatapnya kasihan, ada juga yang mencibir.

Ya. Semenjak pertengkarnnya dengan Naruto di kantin kemarin. Hinata terus menjadi pusat perhatian. Bahkan ada yang terang-terangan mengejeknya. Dan hal itu selalu di balas oleh sahabatnya, tapi tidak kali ini, Hinata pergi sendiri ke perpustakaan. Ia menolak didampingi.

'Bagaimana kalau lupakan Naruto-san?'

Perkataan Sakura tempo hari terus menghantuinya. Jujur saja, Hinata kecewa pada Naruto yang menuruti perkataannya untuk kembali pada Shion. Ia jadi meragukan cinta Naruto.

Naruto terlalu banyak mengecewakannnya. Pemuda itu melanggar kesepakatan yang ia buat sendiri.

Naruto melarangnya untuk selingkuh, tapi ia sendiri hanya menjadikan Hinata pelampiasannya.

Dada Hinata sesak.

Tap.

Hinata berhenti.

Ia melihat sepasang sepatu yang familiar dimatanya. Sepatu hitam orange yang pernah ia injak hingga pincang.

Hinata mendongak. Ia perlahan menelusuri tubuh Naruto. Tepatnya tangan kanannya yang kini diperban. Hinata kembali mendongak, kini ia menatap sudut bibir Naruto yang membiru. Dan yang terakhir, Hinata menatap sapphire yang dulu menatapnya hangat kini menatapnya dingin. Bahkan tatapan ini lebih mengerikan daripada saat mereka bertemu.

'Naruto-kun kenapa?'

Bungkam.

Keduanya tak ada yang bersuara. Hanya pandangan kosong dan dinginlah yang terlihat.

Drrrttt... Drrrttt...

Naruto merogoh saku celananya.

Kiba Inu Calling.

"Kitsune? Kau dimana? Katanya mau latihan vokal?"

"Iya. Tunggu_" Naruto berjalan melewati Hinata. "Aku kesana."

"Kau dimana, hah?"

"Is! Teme! Sabarlah aku datang!"

"Naruto, Kiba merindukan mu!" Itu suara Sai.

"Aku juga merindukan mu Hinata."

"Apa?!"

"Tidak."

Klik.

Sambungan telepon terputus.

Naruto menghela nafas, ia ingin memeluk Hinata. Tapi ia terlanjur kecewa pada Hinata yang tidak percaya padanya. Padahal hatinya hanya untuk Hinata seorang. Tapi gadis itu meragukannya, ia lelah mengejar Hinata untuk menjelaskan kebenaran.

Bukankah seorang pria juga memiliki batasan perjuangan terhadap cintanya?

.

.

.

.

"Ohayou minna." Kakashi menyapa seluruh muridnya.

"Ohayou mo Sensei."

Onyx Kakashi menelusuri seluruh isi kelas. Ia menghela nafas, melihat Naruto hanya menatap datar papan tulis. "Sensei tahu kalian bosan belajar di kelas."

"Ah.. Itu benar Sensei!"

"Kita akan belajar kemana Sensei? Apa study tour?"

Kakashi menghela nafas. "Tebakkan mu berlebihan, Kiba."

"Lalu? Lalu? Kita kemana Sensei?"

Kakashi tersenyum melihat keantusiasan muridnya. "Kita akan..."

"Kemana Sensei?"

"Membersihkan perpustakaan."

Hening.

"Yah... Aku kecewa." Lee melipat tangannya di meja dan menenggelamkan wajahnya disana.

Kiba mencibir. "Ada belajar di luar, malah ke perpustakaan."

"Ini sih kita di suruh bersih-bersih."

"Ya! Daripada mengeluh, lebih baik kalian ikut Sensei." Kakashi melengos keluar kelas, diikuti wajah muridnya yang merana.

.

.

"Nah, apa alasan Sensei menyuruh kami bersih-bersih?" Ino menatap Kakashi kemudian beralih pada kukunya yang baru saja di salon.

Kakashi menghela nafas. "Begini, Sensei lihat, akhir-akhir ini kalian kurang kompak, siapa tahu dengan ini kekompakkan kalian akan tumbuh kembali. Dan lagi petugas perpustakaannya sedang cuti satu minggu yang lalu. Jadi bisa kalian lihat, kan keadaannya?"

Memang perpustakaan luas ini terlihat kotor dan berdebu.

Naruto mendecih. Bertemu Kakashi selalu memperburuk mood-nya saja. "Cih!" Ia hanya menatap Kakashi bosan.

"Ayo bekerja minna!"

"Hai Sensei!"

...

Hinata menyeka keringat didahinya. Ia telah membersihkan buku-buku di rak bawah, kini tinggal rak atas yang harus ia bersihkan.

Kakinya berjinjit mengambil buku yang akan dibersihkannya dari debu. Hinata ingat, Naruto pernah mengambilkan kamus terjemahan untuknya. Itu membuatnya tersenyum kecut.

"Tinggi..." Hinata mengeluh.

Seperti mimpi, ada sepasang tangan yang mengambilkan bukunya.

Hinata penasaran, ia menengok. Naruto disana. Pemuda itu mengambil buku yang akan Hinata bersihkan.

Naruto. Pemuda yang baru dibangunkan dari tidurnya secara paksa oleh Kakashi, hanya melanjutkan kegiatannya mengambil buku di rak atas yang tak bisa di gapai Hinata.

Ya, Naruto memang baru bangun tidur. Memang dari tadi ia tidak berniat membersihkan perpustakaan. Ia lebih memilih tidur di tembok pojok. Dengan kepala yang bersandar di rak buku, tangan terlipat di depan dada, dan kaki yang berselonjor.

Tapi sialnya! Kakashi yang sedang berkeliling melihatnya dan membangunkannya dengan tidak elit. Dengan gerutuan di setiap langkahnya, Naruto mengelilingi perpustakaan. Sampai sapphirenya melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya.

Hinata. Kekas_ ah! Tidak, Naruto tidak tahu status mereka apa sekarang. Kekasih atau mantan.

Hubungannya... Menggantung.

Gadis itu sedang mengambil buku di rak tinggi. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik. Naruto ingat, ia pernah membantu Hinata dan berakhir menyembunyikan ikat rambut gadis itu. Sampai disinilah ia sekarang, menurunkan buku-buku dan Hinata membersihkannya dengan kemoceng.

Tangan Hinata bergetar, seharusnya ia menggunakan kemocengnya untuk menyingkirkan debu di buku. Bukannya memegangnya hingga tangannya berkeringat!

Naruto melewati Hinata. Aroma citrus memenuhi indra penciumannya. Hinata sadar, Naruto mengambil kemoceng yang lain.

'Kenapa Naruto-kun membantu ku? Harusnya ia membantu Shion-san?' Hinata menggeleng. Ia mendekat ke arah Naruto dan mengambil satu buku untuk dibersihkan.

Canggung.

Bahkan mereka terlihat seperti orang asing. Hinata yang terus menunduk, dan Naruto yang menatap datar.

Naruto berdiri, ia memasang kembali buku yang sudah dibersihkan di rak. Hinata yang menyadarinya, langsung memberikan satu buku agar memudahkan.

...

"Shika!"

"Hm..." Dengan tangan menopang dagunya karena mengantuk, Shikamaru bergumam tidak jelas.

"Itu! Itu! Itu!" Telunjuk Kiba menunjuk-nunjuk sesuatu yang tak jauh dari tempat mereka membersihkan kaca.

"Hm..."

"Astaga! Shika lihat!" Kiba memegang kepala Shikamaru dan mengarahkannya tepat empat puluh lima derajat.

Mata Shikamaru membulat. "Itu Naruto dan Hinata-san."

"Ya! Apa kata ku juga."

"Mereka akur?"

Kiba melap kaca disampingnya, tapi matanya tak lepas dari Naruto dan Hinata yang kini menyusun buku. "Auranya beda, dingin dan_"

"_mencengkam."

Kiba mengangguk. "Ah... Kasihan mereka berdua."

"Ego memang membutakan."

...

Tangan Hinata saling meremas. Mereka telah selesai membersihkan buku. Ia melihat Naruto yang menepuk-nepuk tangannya untuk membersihkan debu.

Mulut Hinata terbuka, rasanya bergetar. Ia rindu suara Naruto. Ia rindu senyum tipisnya. Ia rindu Naruto yang merajuk karena lapar. Ia rindu hari-harinya dengan Naruto.

Apa ini salahnya?

Apa ia salah?

Jika saja Naruto bisa menjelaskannya waktu itu mungkin semuanya tidak akan begini.

Jika saja Naruto tidak kembali pada Shion, mungkin sekarang mereka tengah membersihkan perpustakaan dengan senyuman. Atau Naruto akan mengajaknya bolos, secara pemuda itu tidak suka hal seperti ini.

Atau...

Naruto sudah bahagia dengan Shion? Hanya saja karena takut Hinata sakit hati, pemuda itu menyembunyikannya?

Tanpa sadar Hinata tersenyum kecut.

"A..."

Naruto yang tadinya sibuk dengan debu ditangannya kini menatap Hinata.

"A..."

"..."

"A..." Air mata Hinata menetes.

Bukan! Bukan arigatou!

"..."

"A-a..."

'Kumohon, aishiteru. Hinata.'

"..."

"A-aku pergi." Tangan Hinata bergetar, ia berbalik. Lagi, rasa sakit menjalari hatinya. Lihat! Naruto tidak mengejarnya lagi!

"Shit!"

"Apakah? Kau sudah melupakan ku, Hinata?"

.

.

.

.

Seminggu, sudah seminggu Naruto dan Hinata saling mendiamkan. Entahlah tak ada yang mau menjelaskan diantara mereka. Ego benar-benar membutakan.

Mereka berdua mengabaikan rasa rindu dan sebuah penjelasan dari salah satu pihak.

"Hinata-chan? Sasori-senpai mencari mu."

Hinata mendongak, ia menatap Ino. "Sa...sori-senpai?"

Ino mengangguk. "Ya, dia di luar."

"Baiklah, arigatou Ino-chan..."

Ino tersenyum. "Iya... E-eh! Hinata-chan?!"

Hinata berbalik, dan Ino menarik tangannya lalu berbisik di telinga Hinata. "Awas, Naruto-san cemburu."

Hinata tertawa. "Ti-tidak mungkin. Jaa..."

"Jaa ne..."

...

"Hai Hinata..." Sasori melambaikan tangannya.

Hinata tersenyum. "Hallo Sen_" Kening Hinata berkerut. "Ke-kenapa menyapa dengan gaya Barat? Bukankah kita hidup di Jepang?"

Sasori mengedikkan bahunya. "Hanya ingin." Ia kembali menatap Hinata. "Sudah susun jadwal untuk club bulan depan? Inikan sudah akhir bulan."

"Sudah." Kepala indigonya mengangguk.

"Bagus." Sasori mengusap kepala Hinata. "Kau memang adik ku yang terbaik.

"Tentu... Sasori-senpai juga yang terbaik. Tapi_"

"Tapi?"

"Setelah Neji-nii..."

"Kau ini." Mereka tertawa.

"Minggir!"

Hening.

"Minggir!"

Hinata menunduk, ia kenal suara ini. Ini suara Naruto. Hinata merasakan tarikkan di pergelangan tangannya. Ya, tarikkan yang diberikan Sasori untuknya. Karena mereka berdiri di pintu kelas. Posisi mereka memang menghalangi jalan.

"Hinata... Bagaimana ini? Naruto pasti salah paham. Dan hubungan mu semakin rumit."

Hinata mendongak, ia tersenyum. "Tak apa Senpai."

"Aku akan menjelaskannya."

"Ja-jangan!" Hinata menahan pergelangan tangan Sasori. "Terimakasih Senpai, ta-tapi tidak usah repot-repot."

"Kau... Yakin?"

Hinata mengangguk. "Tentu sa-saja."

Sasori menghela nafas. "Baiklah..." Ia mengalah, percuma, Hinata memang keras kepala. "Jangan menangis lagi, ya?"

"Tentu!"

"Jaa..."

"J-jaa nee..."

Jujur saja, Hinata takut... Sangat takut...

"Hinata-chan? Ayo ke kantin!" Tenten merangkul bahunya.

"Ayo! Ayo! Aku sudah lapar!" Sakura juga merangkul bahunya.

Hinata mengangguk. "A-ayo..."

"Ne, kau kuat Hinata-chan... Jangan menangis lagi." Itu bisikkan Sakura.

"Sakura benar! Hinata-chan don't cry!"

Hinata tertawa, padahal hatinya luka. Ini pertama kalinya ia mendengar Tenten bicara bahasa Inggris. "Oke, i will not cry again."

"Tunggu! Kenapa kalian meninggalkan ku?!"

"Ayo lari! Pig mengejar kita!"

...

"Bukan begitu Kiba! Kau membuat hidungnya tambah besar." Sai mengambil pensil di tangan Kiba.

Si Inu mendengus. "Aku'kan masih belajar, seharusnya kau tidak terlalu keras pada ku."

Sai diam, ia malah memperbaiki gambar Kiba yang nampak sangat jelek. Ia mau-mau saja mengajari Kiba menggambar, namun ternyata gambar Kiba sangat buruk dibandingkan dengan milik anak TK.

Brak!

"Astaga!"

Kiba tertawa, gambar Sai sekarang ada coretan panjang dari hidung sampai ujung kertas. "Makan tuh! Zombie!"

Shikamaru yang kaget terbangun dari tidurnya. Begitupun dengan Sasuke yang hampir menjatuhkan ponselnya dari tangan akibat gebrakan meja Naruto.

Si pirang duduk. Ia memejamkan matanya, Naruto berusaha menetralkan emosinya. Ia marah, sangat marah.

Kenapa Hinata mudah sekali melupakannya?

Tadi saja ia pulang dari toilet, Hinata malah tertawa dengan Sasori, mana Sasori mengusap rambutnya.

"Shit!"

Bisa saja tadi ia menarik Hinata dan memukul Sasori. Tapi... Entah kenapa ia malah lelah, sakit hati, dan kecewa.

"Sstt... Shika?"

Shikamaru menoleh ke arah Kiba.

"Naruto.. Kenapa?"

"Mungkin karena Hinata-san bertemu dengan Sasori. Hahh... Entah kenapa mereka malah memperumit hubungannya."

"Dobe?"

Naruto masih diam, ia masih memejamkan matanya.

"Ayo main basket."

"Ayo Naruto." Shikamaru juga buka suara.

Sai mengguncang bahunya. "Ayo Naruto, kau Kaptennya."

Si pirang beranjak. Ia melangkah ke luar kelas. Di ikuti Shikamaru, Sasuke, dan Sai.

Kiba sendiri masih bengong. "Hey! Naruto masih cedera!" Ia menyusul sahabatnya.

...

Sasuke mendengus, ia yang mengajak Naruto. Malah ditinggalkan. "Shika?"

"Hm..."

"Menurut mu, jika kau ada di posisi Hinata-san, kau akan melakukan apa?"

Shikamaru memasukkan tangan kanannya ke saku celana. "Pasti aku juga akan melalukan hal yang sama. Aku mengerti, wanita itu mahkluk egois. Mereka selalu ingin diperjuangkan... Pastinya Hinata-san sudah salah paham duluan. Naruto memang sangat menghindari masa lalunya..."

Shikamaru menarik nafas. "Tapi bukan berarti aku juga menyalahkan Naruto, aku mengerti keadaan Naruto. Pasti dia kecewa pada Hinata-san, ia pasti lelah mengejar-ngejar Hinata-san untuk menjelaskan kebenarannya. Belum lagi respon yang selalu didapatnya adalah jawaban untuk kembali pada mantannya. Naruto yang pada dasarnya labil emosi, ia menurutinya dengan mudah. Jika aku juga baru bangun dati alexithymia, aku juga akan melakukan hal yang sama."

Sasuke menghela nafas. "Aku juga akan sakit hati, jika kekasih ku berpelukan dengan mantan kekasihnya yang mirip dengan ku... Tapi aku juga mengerti posisi Naruto, posisi mereka berdua serba salah dan_"

"Egois."

Sasuke mendelik, Sai baru saja memotong ucapannya. Sedangkan Sai sendiri hanya tersenyum aneh.

"Masa lalu yang tidak dijelaskan, akan membuat kesalahpahaman."

Semua mengangguk menyetujui perkataan Shikamaru.

"Kasihan Naruto..." Kiba menundukkan kepalanya.

"Shika?" Shikamaru menoleh ke arah Sasuke dengan kening berkerut. Pasalnya Sasuke sudah dua kali memanggilnya. "Bagaimana jika Naruto dan Hinata-san_"

"Kau gila Sasuke!" Shikamaru melotot mendengar bisikkan Sasuke.

"Apa? Apa yang kalian bicarakan?"

Tanpa mempedulikan ekspresi heran Sai dan Kiba yang kepo. Shikamaru masih mempertahankan pelototannya pada Sasuke.

"Jika tahu apa yang kau maksud, Naruto pasti akan marah."

"Aku ha_"

"Apa kau tidak dengar, Naruto pernah bil_"

"HEY! JADI TIDAK?!"

Glek.

Semua meneguk ludah, melihat Naruto berdiri di pintu lapangan basket in-door.

"Ya! Jadi! Tunggu kami!" Kiba teriak. "Marah pada siapa, siapa yang dimarahi!" Ia mendengus, dengan tangan yang menarik Sai.

.

.

.

.

To Be Continued

A/N

Nggak jadi ending:'v.. Maaf, chapter depan deh asli ^^v... Pendek? Lama? Saya tahu_– sebenarnya ini tuh panjang banget, saya potong... Nanggung kalo nggak di potong:(

Sad ending? Or happy? Ayo di obral!;)) si Teme bisikkin apaan?:(, kok saya nggak enak hati past Sasuke bisik-bisik tetangga sama Shikamaru:(

Makasih udah di tunggu... Sekarang, siapa yang bikin kalian kesel? Hinata? Shion? Naruto? Atau saya:(?, siapa yang kemarin salah paham sama Sasori?;)

Maaf banyak typo, ini mah asli ketik langsung publish:(.. Update pertama di tengah malam 22.08

Kalau di pikir-pikir pengen deh punya sahabat kaya X5... Bertengkarnya kok lama banget? Nggak tahu_–.. Bakal akur apa nggak? Tanya aja sama yang jalanin:'v

Makasih sama yang udah nunggu, review, follow, sama silent reader... Oh ya, boleh minta permintaan... Ayo review, semakin kalian review aku semakin semangat dan tersenyum:)

Saatnya balas review:

Rico273: makasih perhatiannya;)) makasih makasih pokoknya;))... Makasih dah nunggu...

didiksaputra: hehehe iya mungkin labil;)... Makasih do'anya:))

The Devil Boy07: cerita nya udah kayak sinetron, karakter utama nya kayak orang bego. bodoh nya dibuat-buatin/ makasih hinaannya:)

anirahani: wah... Haters sekali ini;)

aoi doi: HOAM, ntah knapa chapter ni agak ngebosanin bacanya/ silahkan log out:)

Bluesky Lavender: menegangkan paling enak ya TBC:)... Iya jadi nggak peka..

antiy3629: salah pahamnya emang fatal:( haters Shion... Makasih sayang NaruHina, happy ending? Tanya aja sama Naruto Hinata: (

firdaus minato: iya diusahain nggak akan dihirauin:(

gummy-chan: bukan haters tapi pengen jambak:').. Iya saya nggak akan tanggapin kok:).. Makasih, ini malah lama up-nya

anyikhsanihunter: iya akhirnya up juga;), hehe benci Shion... Iya saya harap mereka akur dan Hinata tahu penyakitnya Naruto.

Nico Andrian: iya akhirnya up juga;).. Iya mereka keras kepala:( do'ain aja semoga mereka akur dan happy ending..

rahmarina27: hehe, semoga aja nggak sad ending:'), iya saya usahain nggak dengerin haters:).. Makasih udah sayang saya..

rdita432: aminnn semoga happy ending:).. Oke! Semangat, iya biarlah haters berkata apa aja:')

Dewi729: iya saya usahain nggak dengerin haters:),, oke semangat! Makasih dah nunggu..

shafir: hehe, haters Shion jadi dia salah:).. Iya saya usahain nggak dengerin haters.. Oke semangat! Aminn semoga happy ending;)

Kurogane Hizashi: hehehe:)

magicstaar: makasih:))

Agam Ashley: maafkan aku menyiksa mu:(

Queencans: makasih udah log in:).. Aku pada mu juga..

Ari-Gates: iya di rumah aku aja:'v, saya tahu atuh, kan liat:).. Iya NHL ajalah,, iya mau tamat nih;(, amin semoga banyak kejutan,, makasih dah nunggu

OHimePanda: makasih;), saya terharu:'), memang benar bikin cerita itu nggak mudah, sekalinya bikin dikatain sampah.. Memang menyakitkan.. Sekali lagi makasih kakak:).. Pendapat orang emang beda-beda, makasih buat bilang cerita saya bagus;)

OHimePanda: gampar aja Shionnya:').. Nggak tahu Hinata maunya apa;(.. Iya semoga aja dia nggak nyesel

Dark Rael Grandia: sambet aja Shionnya:').. Iya akhirnya up juga:) ini malah pendek.. Makasih dijadiin favorit..

fifiyyya: sekarang saya up:).. Iya saya lagi sakit:( aminnn semoga cepet sembuh

nursinih: sekarang saya up, biarlah Naruto pingsan:'v

pengagumlavender26: iya saya ambil positifnya aja dan berusaha nggak ngedengerin yang mereka omongin:), ini malah lama up-nya.. Iya nggak tahu Hinata sama Naruto malah kaya gini:(.. Do'ain aja supaya saya bisa nyelesain konflik nya dan semoga happy ending;) saya suka review yang panjang kok:)) semangat!

Resign evil: jejak?

knisa7221: ini udah;) tapi lama..

Deandra: sama-sama, makasih juga udah baca sana review:).. Iya hubungannya makin runyam:(, Naruto deketi Shion buat marahin dia:'v, iya kok malah nggak menjuangin ya? Nyatanya Naruto nggak bikin Hinata cemburu.. Nyatanya sekarang nggak ending:') kapan-kapan ada lagi NaruHina yang manis:) oke semangat!

Bill Arr: mantan nyebelin:(.. Hinata sama Naruto juga gemesin;( maaflah..

Aerogel: hehehe mungkin emang gitu;).. Ngakak:'v saya bacanya..

Uzumakiboruto10: do'ain aja happy ending:) makasih pujiannya:'v do'ain aja saya kasih sequel..

Baenah231: aaaa.. Makasih:))... Amin semoga happy ending..

Nico984: kalo gitu makasih buat luangin waktunya baca fic saya;) oke semangat!

Guest: ini udah;)

mawarjingga: ini nggak jadi tamat:').. Dan pendek lagi..

V-Ryo: iya Hinatanya belum sadar:(.. Naggung TBC itu menyenangkan.. Oke semangat! Saya usahain saya nggak bakal kalah;)

hime-chan: serem banget makinya:').. Ini saya malah lama up

nursinih: iya saya usahain nggak denger haters:) makasih.. Do'ain aja happy ending;).. Sok buang Shion ke laut biar di makan hiu:'v oke ganbatte!

Key: :'v hati-hati chapter ini sampai lumutan;), saya janji ini nggak akan di discontinue.. Nggak jadi ending:'v maaf.. Semangat!

Hamuraji-chan: iya mungkin hanya orang yang begitu;) sepertinya nggak sampai jenjang nikah deh, makasih;))

Guest :Cerita begok/ thank you for your opinion:)

AtagoChan: iya makin rumit:(.. Saya masih sekolah:).. Bener kok tebakan sama cara nulisnya:'v

karina selin: Hinatanya disini kan OOC:), dan Hinata udah salah paham duluan.. Iya kalo Naruto emang gitu.. Makasih perhatiannya:) saya suka orang yang perhatian.. Hehehe, alurnya maaf nggak suka ya? Maafkan saya emang gini alurnya:)

hana chan: ini malah lama up-nya:(.. Shion enaknya dicintai:).. Iya bolehlah, Naruto sakit Hinata yang nungguin.. Semangat! Salam juga

armyney: komen apa aja boleh:)

Ninik Rahman: ngaku haters Shion:'), sok atuh apain aja Shionnya saya nggak tega:'v, malah nggak jadi endingnya.. Makasih udah setia nunggu, iya bikin lagi nanti di'ain supaya seru

Ninik Rahman: makasih dijadiin favorit:').. Saya usahain hirauin haters

Daracan' Hyuuga: nggak tahu kenapa malah putus:'(.. Shion:').. Do'ain aja semoga saya bisa nyatuin mereka.. Aminnn.. Padahal saya suka review yang memakan banyak tempat.

Inuzuka Rina: Shion:'(.. Yu do'a bersama

Ayam: iya update:').. Ini malah kependekan:')

V-chan: jangan kutuk Shion:').. Nggak jadi ending.. Do'ain aja supaya happy ending.. Makasih dah nunggu, makasih do'anya

Hiruma Enma 01: malah nggak jadi endinh:').. Oke semangat! Iya sesuatu:)

Guest: BANGSAT, ANJING, KAMPRET/ thank you:))

NHaf21: oke semangat! Iya saya hirauin:').. Iya malah nggak jadi tamat:).. Oke yo fic lain

alvkwan: nggak ngejanjiin bisa update nya kapan^^v.. Ah masa iya keingetan fic ini melulu:).. Jitak aja Naruto nya:) maaf deh udah bikin nangis, jangan keroyok Shion:')... Oke semangat!

ayaa: jangan bunuh Shion:'v

Guest: ini udah;)

Shikadai Nara: saya cewek:) nggak papa kok.. Jangan terlalu bonyok kasihan dia:'), lagi sakit ya? Semoga cepat sembuh.. Iya mau ending tapi nggak jadi:').. Makasih.. Iya bener seharusnya mereka nggak baca...

Tari: makasih:) do'ain aja semoga endingnya bahagia..

cecep713: iya antepin aja:').. Makasih dah nunggu

AisyHimeku: makasih..:).. Hinata emang nggak mau denger penjelasan Naruto..

WinNH37: apa Shion sengeselin itu?:').. Iya semangat, saya usahain nggak denger mereka

April Uchiha: ini saya dah lanjut:).. Maaf sampai nangis.. Oke semangat!

mawar hitam: iya di bilang jelek;).. Makasih... Oke semangat!

Night: sama-sama, makasih juga udah baca sama review:)).. Nunggu update-an emang gemesin:) oke semangat!

Hamura-kun: kenapa di hapus? Nggak akan kok:)

161200- chan: disini Naruto jenius kok:'v.. Aminnn semoga happy ending..

Sunny Chou: apapun dari Sasori untuk Hinata:'v

heira: pastinya:)

ahdancamael: ini udah;).. Ku mohon jangan lelah menunggu ku

Hina-Hime XD: makasih... Makasih udah nunggu, makasih buat kesetiaannya:').. Naruto, Hinata, Shion jadi yang salah ya? Makasih udah langsung baca

NaraSa: disini Hinata emang polos:').. Makasih dah nunggu, semoga chapter yang ini nggak sampai karatan:'v

cyara-chan: iya saya usahain nggak mikirin kok:).. Makasih dukungannya:)

NaraSa: iya update, emang rada ganggu komen yang kaya gitu:'), saya usahain nggak ditanggepin.. Aminnn semoga nggak gantung

guest58946324: aminnn semoga nggak sad ending:')

ryu chan: ini dilanjut:). Makasih kesetiaannya..

megahinata: nggak tahu Naruto kenapa:( Hinata malah makin sedih: (

luciyfer: jangan benci Shion:')

Ime Putry: iya Naruto pergi:')

hana-chan123: ini dilanjutin:)).. Maaf sampai mau nangis;) makasih.. Ceritanya emang bakal saya selesein

pratiwipasaribu: iya chapter depannya lagi ending:').. Makasih juga udah baca sama review, aminn semoga happy ending.. Usahain diabayin.. Fighting!

NameNNY: sekaramg di up:)

Vinsensia: iya ini juga:)

hana chan: iya lama:(.. Makasih udah nunggu:)

Sampai jumpa di chapter depan... 👋

Mind to RnR?

Arigatou minna-san.

~Peluk cium RiuDarkBlue~

.

.

.

27 September 2017