Kesalahan yang dilakukan seseorang itu seperti domino yang tidak akan berhenti.
Ketika kita melakukan kesalahan, maka kita akan cenderung melakukan sesuatu untuk memperbaikinya, namun sayangnya terkadang usaha itu tidak membuahkan hasil yang baik, usaha itu mungkin saja menimbulkan kesalahan lainnya yang tidak kita sadari.
Ya, benar, kesalahan yang tidak kita sadari karena kita cenderung melihat apa yang sempurna di hadapan kita. Manusia adalah makhluk yang egois, dia cenderung menampik ketidaksempurnaan untuk merangkul kesempurnaan yang palsu di hadapannya.
Terlihat sempurna, tanpa tahu bahwa sesuatu yang sempurna membutuhkan pengorbanan untuk mendapatkannya.
Pengorbanan yang tanpa sadar kita lakukan hanya untuk mereguk sebuah kepuasan karena kesempurnaan yang tercipta.
Pengorbanan yang mungkin akan menempatkan pihak lain dalam penderitaan tanpa kita sadari.
Tapi sayangnya siklus ini tidak dapat dihentikan, karena keegoisan manusia memang pasti akan selalu memakan korban. Siklus ini lebih hebat daripada sebuah rantai lingkaran setan yang tidak berhenti, karena manusia melakukan ini tanpa memikirkan resikonya, manusia adalah makhluk egois, mereka cenderung menginginkan kesempurnaan untuk diri mereka sendiri, tanpa memperhatikan siapa yang harus dia injak untuk mendapatkan sebuah hal semu bernama kepuasan.
Siklus ini tidak berhenti, seperti meletakkan bidak domino lainnya di depan bidak yang sebelumnya, seperti mempersiapkan sebuah domino skala sangat besar yang berisi kesalahan di masa lalu.
Kemudian nanti, ketika waktunya tiba seseorang akan mendorong bidak domino itu hingga akhirnya kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan akan bertemu dengan yang lainnya.
Hingga akhirnya kita menyadari seberapa besar kesalahan itu menumpuk dengan segelintir korbannya. Hingga akhirnya kita tahu bahwa kesempurnaan itu hanyalah sesuatu yang semu, hingga akhirnya kita menyadari bahwa keegoisan sesaat itu akan memakan korban.
Ya, sayangnya kita selalu terlambat menyadari ini.
Half-Olympians
.
.
A BTS fanfiction
by
Black Lunalite
.
.
.
.
Warn!
BL, Demigod!AU. The Imity AU © Black Lunalite
Slightly Inspired by: Percy Jackson and The Olympians
.
.
NamJin, with TaeKook and another BTS Members.
.
.
.
Part 21: Attached
Masa penyembuhan setelah babak kedua Titan's Game berlangsung lebih lama daripada biasanya. Pihak akademi sangat menyadari seberapa besar efek babak kedua itu memukul para peserta pertandingan hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membiarkan masa penyembuhan berlangsung sedikit lebih lama daripada biasanya.
Babak kedua Titan's Game kali ini memang diakui jauh lebih sulit dan menyeramkan dibandingkan babak kedua pada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Para peserta akademi yang tidak mengikuti Titan's Game mengakui bahwa mereka sangat beruntung karena tidak mengajukan diri ataupun terpilih.
Akan tetapi dengan melihat seberapa menyeramkannya pertandingan kali ini, semua penghuni akademi pun menyadari bahwa mereka yang berhasil lolos dari babak kedua kemarin merupakan sekumpulan demigod yang patut diperhitungkan dan jelas tidak bisa dianggap remeh.
Mereka berhasil lolos dari ujian yang benar-benar mengancam nyawa dan itu jelas bukan sesuatu yang sepele.
Seokjin berjalan menyusuri koridor untuk pergi ke kelasnya, beristirahat selama seminggu berhasil mengembalikan kondisi Seokjin, akan tetapi Namjoon masih tidak muncul di kelasnya, dia masih beristirahat di kamarnya yang terletak di lantai paling atas dan untungnya mereka yang terluka parah memang diizinkan untuk beristirahat semau mereka sehingga Namjoon tidak terkena detensi karena tidak menghadiri kelas.
Sejak dia dan Namjoon berhasil menjadi keluar dari Mirror Maze dengan kondisi 'paling baik' di antara yang lainnya, seisi akademi mulai sedikit menjaga jarak dengan Seokjin. Kelihatannya mereka memilih untuk tidak berurusan dengan Seokjin karena mereka beranggapan Seokjin tidak selemah kelihatannya.
Yah, mereka hanya tidak tahu apa yang menimpa Seokjin. Mirror Maze tertutup dari pandangan selain peserta pertandingan sehingga mereka yang menonton hanya melihat Mirror Maze dari luar dan menunggu siapa yang pertama kali muncul dari dalam labirin.
Kemudian kala itu yang muncul dengan kondisi paling baik adalah Namjoon dan Seokjin. Namjoon yang digotong dengan tandu dan Seokjin dibantu berjalan oleh seorang healer. Sedangkan peserta pertandingan lainnya keluar dari labirin dengan kondisi penuh darah dan dalam kondisi kritis. Luka Namjoon dan Seokjin adalah yang paling 'sedikit'.
Seokjin membuka pintu kelasnya dan melirik ke dalam, kelas yang tadinya sedikit ramai itu mendadak menjadi agak sepi saat Seokjin melangkah masuk. Seokjin memutuskan untuk duduk di kursinya yang biasa dan mengeluarkan buku catatannya. Seokjin memutuskan untuk mengisi waktu dengan membaca catatan lamanya daripada mengobrol dengan teman sekelasnya.
"Hei, Seokjin."
Seokjin mendongak dan melihat Sandeul sedang tersenyum tipis padanya. "Sandeul?"
Sandeul menjilat bibirnya kemudian memutar kursi agar dia duduk berhadapan dengan Seokjin, "Kau baik-baik saja?"
Seokjin mengangguk, "Ya, aku baik. Kenapa?"
"Bukankah kalian masih diizinkan untuk beristirahat sampai minggu depan? Ini baru seminggu sejak babak kedua selesai, Seokjin. Apa kau yakin kau baik-baik saja?" tanya Sandeul khawatir.
Seokjin tersenyum dan mengangguk, "Ya, aku baik. Sebenarnya aku tidak terluka, aku hanya shock, kelelahan, dan trauma. Healer memberiku banyak penenang dan juga sesi terapi, aku sudah sehat dalam seminggu." Seokjin menepuk-nepuk tangan Sandeul yang berada di atas meja Seokjin, "Jangan khawatir, aku baik-baik saja."
"Lantas, bagaimana dengan Namjoon? Kau tahu, dari semua peserta yang lolos, hanya kau partner Pejuang Titan yang keluar dalam kondisi selamat, sisanya mengalami luka berat. Mereka bahkan belum muncul di kelas sampai hari ini. Sedangkan untuk para Pejuang Titan, walaupun luka mereka tidak parah, kelihatannya mereka mengalami lebih banyak luka psikis berupa trauma karena mereka juga belum muncul sampai hari ini."
Seokjin mengulum bibirnya, "Ya, untuk kasus itu.. Namjoon menolongku. Kau bisa mengatakan bahwa dia melindungiku, makanya aku bisa keluar dari sana dengan selamat."
Sandeul mendesah pelan, "Oh, Seokjin, ini akan menjadi sulit."
"Apa maksudmu?"
Sandeul menggeleng dengan sedih, "Seokjin ini akan menjadi sulit, pertandingan ini tidak hanya menguji kemampuan fisik dan mental kalian, tapi ini juga menguji perasaan kalian."
Seokjin mengernyitkan dahinya, "Aku masih tidak paham."
Sandeul menarik napas dan menghembuskannya perlahan, "Dengar, aku adalah anak dari Dewa Eros, tugasku adalah mengetahui perasaan apa yang terjadi di sekitarku, tidak peduli apakah aku mencoba peduli atau tidak, aku selalu tahu apa yang terjadi di sekitarku. Saat ini, hampir 90% Pejuang Titan dan partnernya yang tersisa mulai merasa terikat satu sama lain."
"Begini saja, anggaplah kau sebagai partner mereka adalah prajurit dan mereka adalah jenderalmu. Kau akan merasa percaya dan terikat pada jenderalmu karena dia memastikan kau akan tetap hidup. Kemudian kau juga akan memperjuangkan nyawamu agar dia tidak terluka. Ini hubungan timbal-balik dalam perang, kau mulai merasakan suatu perasaan dimana kau akan terikat padanya." Sandeul menggigit bibirnya.
"Ini berbeda dari perasaan sayang atau sejenisnya, ini adalah hubungan natural yang terbentuk saat kau berusaha bertahan hidup. Ketika manusia merasa terancam, mereka akan cenderung bergantung pada sosok yang memberikan segelintir perlindungan dan rasa aman. Dan ini adalah apa yang terjadi pada hubungan Pejuang Titan dan partnernya. Buktinya saat ini para Pejuang Titan yang partnernya terluka parah mengalami trauma. Aku tidak tahu sedalam apa trauma mereka, tapi jelas mereka mengalami serangan shock."
Seokjin mendengarkan penjelasan Sandeul dalam diam, "Ya, lantas kenapa?"
Sandeul menghela napas pelan, "Seokjin, apa kau melupakan situasi dimana kau berada sekarang? Ini Titan's Game! Bukan medan perang. Jika di medan perang kalian pastinya akan terus berperang di bawah bendera yang sama, tapi ini.. ini permainan, bukan perang. Kalian tidak akan selamanya berperang di bawah bendera yang sama."
Seokjin tertegun, dia mulai mengerti kemana arah pembicaraan Sandeul.
"Pemenang Titan's Game hanya ada satu, dan itu berarti.. kau akan melawan Namjoon di babak final. Dia yang dulunya berjuang bersamamu akan berubah menjadi lawanmu, bisa kau bayangkan bagaimana situasinya?" Sandeul menghela napas pelan, "Kalian melalui babak pertama hingga babak ketiga dengan mempertaruhkan nyawa bersama-sama, tapi nanti pada akhirnya kalian harus melawan satu sama lain. Itu jelas tidak mudah."
Seokjin masih terpaku dengan tatapan kosong, dia mengerjap dengan cepat untuk kembali ke kesadarannya kemudian menatap Sandeul. Dia tersenyum menenangkan pada teman baiknya itu, "Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Aku tahu ini cuma permainan dan aku akan baik-baik saja."
"Seokjin.."
Seokjin melirik ke arah pintu kelasnya, "Kembalilah ke kursimu, Sandeul. Pengajar sudah di sini."
Sandeul melirik ke arah pintu kelas dan mendesah keras. Dia berdiri kemudian mengusap kepala Seokjin, "Ingatlah ucapanku, jangan terlalu terikat pada Namjoon, kau akan sulit mengalahkannya nanti."
Seokjin tersenyum menenangkan, "Aku tahu."
.
.
.
Sisa hari itu berlalu dengan sangat lamban untuk Seokjin, kata-kata Sandeul terus terngiang dalam kepalanya dan bohong jika Seokjin mengatakan dia tidak terganggu karenanya.
Seokjin sangat menyadari bahwa dia akan melawan Namjoon di babak akhir untuk menentukan pemenang pertandingan ini. Sejak awal Seokjin juga sudah bersiap untuk kalah, Seokjin rasa gelar penuh kejayaan seperti gelar 'The Titan' bukanlah gelar yang pantas disandang olehnya.
Tapi masalahnya adalah bagaimana cara Seokjin melawan Namjoon? Namjoon melindunginya dengan terlampau baik di dua babak pertandingan, bisakah nantinya pria itu mengacungkan senjata padanya?
Bisakah Seokjin melakukan hal yang sama? Mengangkat senjatanya untuk melawan Namjoon?
Seokjin menghela napas pelan, dia berhenti berjalan saat sudah tiba di depan lift khusus yang akan membawanya menuju kamar Namjoon. Seokjin memang biasanya menengok kondisi Namjoon sehari sekali, tapi biasanya ketika dia tiba di sana, dia hanya melihat Namjoon melatih pergelangan tangannya dan juga jari-jarinya yang patah karena memukul Cermin Ilusi.
Kondisi Namjoon sudah jauh lebih baik, dia benar-benar memiliki sistem kekebalan tubuh yang bagus, alasan yang membuatnya tidak masuk ke kelas adalah karena Namjoon masih melakukan terapi untuk tangannya.
Seokjin berdiri diam di depan lift dengan pandangan kosong, dia tahu cepat atau lambat dia akan segera melawan Namjoon dalam duel. Walaupun Seokjin sudah berniat untuk membuat Namjoon menang, Seokjin tidak yakin dia bisa benar-benar melawan pria itu sekarang.
Bisa dibilang Seokjin sudah berhutang nyawanya kepada Namjoon.
"Seokjin? Kau mau ke kamar Namjoon?"
Seokjin menoleh ke arah asal suara dan melihat Hoseok sedang memandangnya dengan senyum ramah seperti biasa. Seokjin mendadak gugup, dia mengusap telapak tangannya dengan canggung ke celananya kemudian menggeleng ragu. "Tidak juga, k-kau mau ke kamarnya?"
Hoseok mengerutkan dahinya, "Kurasa aku mau mendengarkan ceritamu dulu."
Seokjin mengerjap, "Maaf?"
Hoseok tertawa ceria, "Aku bisa membaca ekspresimu dengan sangat jelas, Seokjin. Bagaimana kalau kita pergi dan mengobrol sebentar?"
Seokjin menggeleng pelan kemudian dia tertegun saat melihat buku-buku terkait demigod di tangan Hoseok. "Kenapa kau membaca buku tentang demigod?"
Hoseok menunduk menatap buku-buku di tangannya, "Oh, aku sedang berusaha mencari tahu apakah aku termasuk demigod atau bukan."
Dahi Seokjin berkerut, "Apa maksudmu?"
Hoseok menghela napas pelan, "Aku pernah mengatakan bahwa jika Namjoon tidak membantuku, maka aku tidak akan ada di sini, bukan? Itu karena aku memang bukan demigod seutuhnya. Namjoon yang membuatku bisa masuk ke dalam akademi ini."
Seokjin tertegun, dia benar-benar tidak bisa menangkap maksud Hoseok. Apa maksudnya? Bagaimana mungkin Hoseok bukanlah demigod yang sebenarnya?
Apa maksudnya ini?
Hoseok meraih pergelangan tangan Seokjin dan menggenggamnya, "Informasi ini tidak bisa kuceritakan dalam situasi seperti ini." Hoseok menarik tangan Seokjin menyusuri koridor menuju Olympians Park, dia menarik Seokjin untuk duduk di salah satu gazebo kosong yang ada di sana.
Hoseok meletakkan buku-buku yang dibawanya ke atas meja kemudian tersenyum pada Seokjin yang masih berdiri kaku seraya bersandar di salah satu pilar gazebo. "Aku akan menceritakan sesuatu padamu, aku.. bukan demigod seperti kalian. Aku lahir dari rahim seorang wanita biasa, kedua orangtuaku manusia, bukan demigod."
Seokjin membelalakkan matanya, "Lantas kenapa kau.."
Hoseok tersenyum tipis, "Kenapa aku bisa berada di sini? Itulah yang akan kuceritakan padamu. Waktu itu usiaku baru dua tahun, aku sakit keras. Dokter bilang penyakitku terlalu parah untuk ukuran bayi sepertiku, semua orang sudah menyerah kala itu. Kemudian, Dewi Persephone yang kebetulan sedang berada di bumi menemuiku, dan menolongku." Hoseok memperhatikan wajah Seokjin yang masih memasang ekspresi terkejut, "Dia meminumkan darahnya padaku, dia bilang darah seorang dewi sepertinya akan menyelamatkan nyawaku, dan itu memang benar, aku selamat, dengan separuh jiwa Persephone di dalam diriku. Persephone sangat setia pada Hades, sehingga dia tidak tega memiliki anak bersama manusia lain. Aku adalah satu-satunya 'anak' Dewi Persephone."
Seokjin menarik napas, dia terdiam sementara otaknya berusaha mencerna cerita yang baru saja diucapkan oleh Hoseok. "Hal itu.. bisa dilakukan?"
Hoseok mengangkat bahunya, "Aku juga tidak tahu, awalnya aku sudah sangat gembira dengan hidup baruku bersama dengan darah Persephone di dalam tubuhku. Kemudian ayahku mengetahui kabar terkait akademi ini dan dia memintaku untuk masuk ke sini. Kedua orangtuaku ingin aku lebih mengenal Persephone yang bisa dibilang ibuku juga. Kemudian, aku datang ke sini, dan pelindung akademi ini melemparkan tubuhku ketika aku mencoba untuk masuk."
"Awalnya kukira itu karena aku memang bukan demigod seutuhnya, maka aku memutuskan untuk pergi dari akademi dan mengatakan itu pada kedua orangtuaku. Kemudian aku bertemu Namjoon, dia bertanya siapa diriku dan apa yang aku lakukan di depan akademi, kemudian Namjoon membantuku masuk ke dalam akademi ini sehingga akhirnya aku berada di sini."
Seokjin mengerutkan dahinya, "Bagaimana caranya Namjoon membawamu masuk ke dalam sini?"
"Ketika aku mengatakan padanya bahwa aku adalah 'anak angkat' Dewi Persephone, dia mengatakan padaku bahwa tidak heran aku begitu mempesona di matanya, itu karena aku adalah anak dari seseorang yang membuat ayahnya jatuh cinta." Hoseok tersenyum pada Seokjin, "Dia menawarkan bantuannya dengan membawaku masuk ke dalam akademi ini, sebagai seseorang yang dia lindungi."
Seokjin semakin tidak sabar, dia nyaris saja memukul meja karena frustasi. "Ya, tapi bagaimana caranya?"
"Namjoon mengatakan dia jatuh cinta pada pandangan pertama kepadaku, dia menawarkan perlindungannya, dan dia.." Hoseok terlihat sedikit tidak nyaman, terlebih lagi dengan pandangan tajam dari Seokjin. "Dia menciumku saat kami melewati pelindung buatan Zeus, dan cara itu berhasil, aku berhasil masuk walaupun aku bukanlah demigod yang sempurna. Perlindungan Namjoon melindungiku selama di akademi dan aku berhasil hidup di akademi ini."
Seokjin tidak mengatakan apapun, dia hanya terdiam dengan pandangan kosong saat Hoseok mengatakan bahwa Namjoon menciumnya. Seokjin menggigit sudut bibirnya, dia tidak bisa mengerti kenapa hal tersebut terasa sangat mengganggunya.
Namjoon adalah partnernya dalam pertandingan. Tidak lebih. Seharusnya Seokjin sadar akan hal itu.
Ya, seharusnya.
Seokjin menggeleng pelan kemudian berdiri, "Kurasa aku harus pergi."
"Kau akan menemui Namjoon?"
"Tidak," sentak Seokjin agak terlalu cepat. Dia berdehem untuk menormalkan situasi dan menggeleng pelan, "Aku.. aku mau kembali ke kamarku saja, healer bilang aku masih butuh banyak istirahat."
"Oh, baiklah. Selamat beristirahat, Seokjin."
Seokjin mengangguk pelan dan melangkah dengan langkah agak lesu.
"Seokjin,"
Seokjin menghentikan langkahnya saat mendengar Hoseok memanggilnya, dia menoleh ke arah Hoseok dan melihat pemuda itu tersenyum padanya.
"Jangan khawatir, yang ada di antara aku dan Namjoon bukanlah sebuah hubungan asmara. Aku pernah mengatakan ini padamu tapi kurasa aku perlu mengatakannya lagi. Aku dan Namjoon.. bukan dua individu yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan romantis." Hoseok tersenyum, "Nah, sekarang pergilah beristirahat, tidur siang akan bagus untukmu."
Seokjin tidak mengatakan apapun, dia hanya diam dan berjalan meninggalkan gazebo tempatnya dan Hoseok duduk tadi. Seokjin berjalan dengan kepala tertunduk, perasaannya masih terasa tidak karuan hingga Seokjin benar-benar tidak yakin bagaimana caranya dia akan menghadapi sisa hari dengan mood yang begitu buruk.
Mungkin sebaiknya besok Seokjin tidak masuk ke kelas dengan alasan istirahat.
Seokjin mengangguk pelan menyetujui usulannya sendiri kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar asramanya. Ketika Seokjin baru saja melewati pintu depan gedung asrama, dia melihat Namjoon sedang berdiri seraya bersandar di pilar.
Seokjin ingin melarikan diri, tapi dia tidak tahu kenapa dia merasa seperti itu. Seokjin menarik napas dalam kemudian dia berjalan menghampiri Namjoon.
"Kau sedang apa?" tanya Seokjin.
Namjoon sedikit menunduk untuk menatap Seokjin, "Menunggu seseorang."
Seokjin menggigit bagian dalam bibir bawahnya, "Hoseok? Dia ada di Olympians Park."
"Bukan, aku menunggumu."
Seokjin tertegun, "Aku? Kenapa?"
"Kau tidak naik ke kamarku hari ini, kupikir sesuatu terjadi padamu, tapi aku juga tidak menemukanmu di kamar. Aku juga mencari di bagian Creature's Heaven karena kupikir kau sedang merawat burung hantu peliharaanmu tapi kau juga tidak ada di sana, makanya aku menunggumu di sini." jelas Namjoon santai.
"Namjoon apa kau mencintai Hoseok?" ujar Seokjin tiba-tiba dan setelahnya dia langsung mengatupkan bibirnya seraya menggigitnya agak kuat. Seokjin tidak tahu apa yang merasuki kepalanya hingga bisa mengatakan sesuatu semacam itu.
Namjoon terdiam cukup lama hingga kemudian dia akhirnya membuka suara. "Ya," Seokjin sudah siap untuk berjalan meninggalkan Namjoon namun suara Namjoon yang kembali terdengar membuatnya terhenti, "…tapi itu dulu."
To Be Continued
.
.
.
Karena cuma ff ini yang udah selesai diketik sampe tamat, aku jadinya update ini dulu. hehehe
Ff yang ini udah selesai diketik, jadinya tinggal diedit aja. Hahaha
Ff yang lainnya nanti yak, soalnya udah mau lebaran gaes, diriku mulai sibuk ngurusin lebaran :')
.
.
Oke, sampai ketemu lagi nanti kalo aku update. Hehehe
