mamoru.

Genre : Romance, and Drama

Pair : (main) NamJin, (side) KookJin and SoPe

Rate : M

Warning : BrotherComplex, Little Incest

Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.

part twenty-two : a lonely whale

Kalau Namjoon bisa, mungkin ia akan melampiaskan apa yang dirasakannya sekarang. Hanya saja ia terlalu lelah, semua yang didapatkannya hari ini terlalu menyiksa batinnya. Dihadapannya, Yoongi terus bertanya padanya, ia mengkhawatirkannya, tentu saja. Tetapi Namjoon tak mampu mendengar apa 'pun, begitu juga suara Jimin yang duduk disebelahnya, sesekali memeluknya, dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

"Namjoon hyung..." Dengan suara lirihnya, Jimin kembali memanggil. Kali ini Namjoon mendengarnya, tapi ia tak memberikan respon berarti, hanya satu kedipan mata menandakan bahwa Namjoon masih berpijak di bumi. "Maafkan aku." Jimin mengucapkan maaf, setelah ia menyampaikan semua yang ia ketahui, tentang Sowon, Hyosang, dan tentu saja, Seokjin, Namjoon seolah berhenti bergerak dan nafasnya kian tercekat, melihatnya saja membuat Jimin tak kuasa menahan kesedihannya, ia mengerti apa yang dirasakan hyung-nya walau Namjoon tak berkata apa-apa.

"Seseorang berniat membunuhnya," suara Namjoon terdengar begitu pelan, bagai bisikan penuh penyesalan. "Dan aku tak ada disana untuknya." Kepalanya bergerak ke bawah, menunduk, menatap kosong pada lututnya yang berbalut jeans berwarna kelabu sewarna iris matanya.

Yoongi menatap lurus pada sahabatnya, "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri," ucapnya, diiringi dengan hela nafasnya yang mendayu pelan. "Kau tidak tahu apa-apa tentang semua ini, kalau kau turut berada disana saat itu, mungkin kau juga akan ikut terluka." Membayangkannya saja Yoongi tak mampu, apa yang terjadi pada Seokjin sudah sangat buruk baginya, apa lagi jika Namjoon juga ada disana dan ikut terluka. Yoongi memang jarang menunjukkannya, tapi ia lebih dari sekedar peduli pada teman-temannya. Melihat Namjoon saat ini saja sudah membuatnya sedih dan 'tak terima'.

"Pelakunya masih berkeliaran di luar sana?" Tiada kata yang keluar dari bibir sahabat dan adiknya, namun Namjoon telah mendapatkan jawabannya. Dengan jemari kirinya, Namjoon menjambak sendiri rambutnya seraya menggeram penuh amarah, ia tak mampu menyalurkan dengan tindakan, dan hanya bisa merutuki diri dalam hati.

Jimin merasa, ia telah menambah penderitaan Namjoon dengan menceritakan segalanya. Tapi Namjoon berhak tahu alasan mengapa Seokjin meninggalkannya, ke Paris, "Dari yang ku dengar, Jungkook membawa Seokjin hyung ke Paris tanpa memberi-tahukan alamat lengkapnya pada siapa 'pun adalah langkah awalnya untuk melindungi Seokjin hyung selama investigasi berlangsung." Semua pendapat serta spekulasi yang mereka ketahui dari Soobin, telah Jimin dan Yoongi sampaikan padanya.

"Dimana Hoseok?" Tanya Namjoon seraya mendongak, masih dengan wajah yang sarat akan amarah, dan sekali lagi, ia tak mau melampiaskannya saat sang adik dan sahabat baiknya masih ada bersamanya.

Yoongi menjawabnya, "Mencari Sowon."

"Ke Amerika?" Jimin menggeleng pelan sebagai jawaban, tatapan bingung Namjoon membuatnya membuka suara, "Sowon tidak pernah ke Amerika, selama ini ia berada di Korea, tepatnya Busan." Jimin dan Yoongi sama-sama tahu, Namjoon bukan 'lah orang yang tempramental, ia hampir tidak pernah marah dan jarang menunjukkan emosinya.

Tetapi hanya dari tatapan mata tajamnya saja, mereka berdua diperlihatkan pada amarah Namjoon untuk pertama kalinya. Jimin yang paling lama hidup dengannya saja, tidak pernah melihat hyung-nya se-marah ini. Ada rasa takut yang menjalar di tengkuk Jimin, saat ia menatap langsung mata sang kakak. Begitu juga Yoongi, yang memilih untuk bungkam.

"Mereka," Dengan hampir berbisik, Jimin kembali bicara, "-maksudku, teman Hoseok hyung yang kebetulan pernah bertemu dengan Sowon, mereka melihatnya di rumah sakit Busan. Teman Hoseok hyung yang saat itu sedang menjenguk neneknya bilang, awalnya ia tak yakin, tapi saat mereka berpapasan di lobby, ia sangat mengenalinya, dan menyadari bahwa yang ia lihat memang Sowon." Jelasnya. Selanjutnya, hanya kedua tangan Namjoon yang bergerak perlahan untuk menutup mulutnya.

Detak jarum jam memenuhi ruangan, mereka terselimuti keheningan, hingga Namjoon berkata, "Apa menurut kalian, Sowon ada hubungannya?"

Mereka sama-sama meyakininya. Hoseok, Yoongi, Jimin, dan juga Soobin, yang turun langsung membantu penyelidikan, sama-sama berasumsi bahwa Sowon mungkin terlibat, tapi mereka tak punya bukti. Hanya alur dan jejak petunjuk yang memiliki korelasi yang hampir mengarah pada sahabat sejak kecil mereka itu. "Aku tidak tahu." Yoongi mengambil 'tengah'-nya, ia terlalu lelah untuk berpikir dan menganalisa kelewat jauh, karena hasilnya akan sama saja, ia tidak akan menemukan titik terang. Semuanya hanya berdasarkan pada 'kebetulan'.

Kembali terdiam, Namjoon hanya bergerak untuk bersandar pada sandaran sofa dengan kepalanya yang menengadah, menatap langit-langit apartemennya. Berselang beberapa menit, handphone Yoongi bergetar, sebuah panggilan masuk dari Hoseok membuat jemarinya terasa kelu untuk menekan layar, dan mengangkat panggilan dari kekasihnya, "Yoboseyo, Hoseok-ah?"

"Aku menemukan, Sowon." Diseberang sana memang terdengar bising, namun suara Hoseok cukup jelas didengar oleh mereka bertiga. Namjoon hampir berdiri dari duduknya, "Aku sedang dalam perjalanan kembali ke Seoul, bersamanya." Tidak banyak yang Hoseok sampaikan dalam pembicaraan mereka, karena ia sedang menyetir, dan mungkin Sowon berada disisinya sekarang. Dalam diam Yoongi menatap Namjoon, yang balik menatapnya dengan raut terkejut dan penuh tanya. Sampai akhirnya, mereka memutuskan untuk menanti.

"Sowon akan kemari?" Yoongi mengangguk pelan, menanggapi tanya yang Jimin lontarkan. "Hyung?" Pandangan Jimin beralih pada Namjoon, yang kini memejamkan kedua matanya, nampak sedang memikirkan sesuatu.

"Jimin-ah," panggil Namjoon, seraya membuka kembali kelopak matanya dan menatap sang adik dengan pandangan serius, "tolong tanyakan pada ayah dan ibu, apa 'kah mereka menyimpan kontak pribadi keluarga Sowon, siapa saja kecuali ayahnya.." Jimin tercengang awalnya, tetapi ia segera mengangguk dan mendial nomor sang ibu seraya beranjak dari tempat duduknya. "Terima kasih, Jimin." Bisik Namjoon di balik punggung sang adik yang perlahan menghilang di balik tembok kamarnya.

Sayup-sayup Yoongi dapat mendengar percakapan antara Jimin dengan ibunya, ia tidak tahu apa yang Namjoon rencanakan dan hanya bisa duduk diam seraya menanti Hoseok kembali bersama dengan Sowon.

Berselang beberapa menit, Jimin kembali bergabung dengan kakak angkat dan sahabatnya, ia mendapatkan nomor telepon adik perempuan dari ayah Sowon. "Hyung," Jimin juga tak tahu mengapa Namjoon memintanya, tapi ia memutuskan untuk menyimpan tanya di dalam hati, dan membiarkan Namjoon menyimpan nomor bibi Sowon di handphone miliknya.

Namjoon berdiam diri setelahnya, hingga menit berganti jam, ini bukan kali pertama ia menolak untuk makan. Namjoon menatap keluar jendela, benaknya terus merutuki dirinya sendiri yang hanya bisa menunggu dan ditinggalkan tanpa kepastian. Jin Hyosang masih diluar sana, dan ia tak tahu pasti dimana Seokjin-nya berada. Namjoon menyesali dirinya yang bukan siapa-siapa, dan tidak punya apa-apa.

Sekali lagi, ia menyesali dirinya yang hanya bisa menunggu dan menanti. Seandainya Namjoon adalah orang berpengaruh, atau berkuasa dan memiliki banyak uang, mungkin semuanya akan terasa mudah bagau hanya menjentikkan jari. "Hh.." Namjoon segera menggeleng, menghentikan alur dari pikiran sempitnya yang datang diantara kekalutan yang ia rasakan.

Walau bukan siapa-siapa, dan tidak punya apa-apa, Namjoon bertekad akan membawa Seokjin kembali kepelukannya, dan melindunginya dari orang-orang yang berniat menyakiti kekasihnya, dengan caranya sendiri. Bagaimana 'pun caranya.

"Hyung, makan 'lah sedikit, Yoongi hyung sudah memesankan satu porsi jajjangmyeon untukmu." Namjoon menggeleng, dan ia dapat mendengar helaan nafas Jimin di balik punggungnya.

Sungguh, ia sama sekali tidak bisa menelan apa-apa saat ini, ia tak bisa berbuat banyak dan mendadak, benaknya terus memikirkan segala hal buruk yang akan terjadi nanti dan membuatnya semakin jauh dengan Seokjin. "Aku akan memakannya nanti." Walau begitu, ia tidak mau menyia-nyiakan kebaikan hati yang sahabat dan adiknya tawarkan.

Jimin menyerah, dan sejak awal Yoongi sama sekali tidak ingin mengganggunya. Mereka semua kembali hanyut dalam keheningan, hingga suara bel ditekan, menandakan bahwa ada seseorang yang menanti di balik pintu apartemen, untuk bertemu dengan Namjoon.

mamoru.

Jemari Seokjin membelai lembut sampul dari buku tua di pangkuannya, sesekali ia tersenyum, namun senyumnya tak menandakan bahwa ia bahagia. "Ada kisah yang kau simpan di balik buku itu?" Seokjin mendongak, menatap ayahnya yang menghampirinya dengan dua buah cangkir teh camomile di kedua tangannya, satu untuknya dan satu lagi untuk sang putra. "Demammu masih belum turun?" Seokjin kembali menunduk, menatap buku di pangkuannya seraya menerima cangkir porselain yang ayahnya sodorkan untuknya.

"Aku membeli buku ini di Seoul," setelah menyesap satu teguk teh yang terasa sedikit hambar itu, Seokjin berkata, "sebuah toko buku tua dekat kampusku menjual buku-buku langka." Dari satu sesapan pelan, ia hampir tak mampu ia merasakan apa-apa, Seokjin tahu bahwa ayahnya membuat sendiri teh camomile yang ada ditangannya, walau cita rasanya hampir sama dengan air biasa saat menyesapnya, kehangatan dari ketulusan seorang ayah dapat Seokjin rasakan dari secangkir teh dalam genggamannya.

Sang ayah menatap cangkir tehnya, "Ah, tidak ada rasanya." Gerutunya pada teh buatannya sendiri, dan Seokjin dibuat tergelak karenanya. Paris, balkon, kebun anggur dan sore hari bersama sang ayah, ditemani afternoon tea hambar serta tawa yang mereka bagi mampu mengobati luka hati Seokjin yang masih terbuka lebar. Orang bilang, mereka bukan 'lah sepasang ayah dan anak yang serasi, karena sang ayah yang terlalu sibuk pada bisnisnya, ia juga tak pernah terlihat bangga pada kesuksesan anak kandungnya sebagai seorang penyanyi, sedangkan Seokjin yang terlihat tertutup, dan enggan membahas kehidupan pribadinya. Ia juga tak memiliki minat pada bisnis sang ayah dan memilih jalannya sendiri untuk berkarya.

Publik hampir tak pernah melihat mereka dalam satu momen berharga, kecuali saat Seokjin menikah dengan Namjoon, dulu. Rumor tidak sepenuhnya benar, ayah Seokjin mengirimkan sepaket bunga besar untuknya saat ia memenangkan penghargaan musik untuk pertama kalinya, disertai sepucuk surat berisi ucapan selamat, dan Seokjin juga beberapa kali mendampingi ayahnya saat meeting, atau makan malam keluarga dengan kolega mereka.

Sesungguhnya, mereka adalah ayah dan anak yang mesra, hanya saja terlalu canggung untuk menunjukkannya. Mereka berdua merasa bangga dengan pencapaian masing-masing. Terlihat dari quality time yang mereka bagi saat ini, Seokjin sadar betul bahwa ayahnya sangat memperhatikan dan menyayanginya, terlebih saat ia tahu bahwa sang ayah telah bicara empat mata pada lelaki yang dinikahinya untuk menjamin kebahagiaan putranya, walau akhirnya berakhir duka.

"Surat Cinta dari Sang Maestro?" Seokjin mengangguk pelan, buku bersampul biru yang dibelikan Namjoon untuknya begitu banyak menyimpan kesan berharga, ia tak tega meninggalkannya berdebu di Seoul dengan barang-barangnya yang sudah tak terpakai, "Apa pria dengan segala lantunan cinta, namun tak berakhir dengan siapa-siapa seperti Beethoven ada di dalamnya?" Lelucon gelap sang ayah membuat Seokjin menahan tawa, kemudian ia membuka lembar yang telah ditandai dengan satu bunga Sakura kering.

"Tentu," Jawabnya, "Surat cinta dari Beethoven adalah favoritku." Seokjin menyodorkan lembar dari halaman yang ia buka lebar-lebar untuk ayahnya lihat, dan sang ayah membacanya dalam hati, menyerapi tiap baris dari penggalan surat cinta yang Beethoven tulis untuk kekasihnya di masa lalu.

"Be calm; for only by calmly considering our lives can we achieve our purpose to live together — be calm — love me — Today — yesterday — what tearful longing for you — for you — you — my life — my all — all good wishes to you — Oh, do continue to love me — never misjudge your lover's most faithful heart.

every yours

every mine

ever ours"

"Every yours, every mine, every ours." Lantun Seokjin disertai senyum indahnya, sang ayah terpana karenanya, ini kali pertama ia melihat senyum sang putra begitu lepas dan sarat akan kebahagiaan. Pria paruh baya yang masih duduk termangu itu tahu, mengapa putranya terlihat sangat menyukai penggalan dalam surat cinta yang ditulis sendiri oleh seorang Maestro seperti Beethoven ini.

Seokjin pernah merasakan cinta, ia mencintai dan juga dicintai, oleh Kim Namjoon. Raga Seokjin memang disini, tapi ia menitipkan hatinya pada Namjoon sepenuhnya, dan nampaknya, ia juga tak berniat untuk mengambilnya kembali dan memberikannya pada orang lain kelak.

"Seokjin," panggil sang ayah, bersamaan dengan Seokjin yang menutup bukunya kembali, "apa kau bahagia?" Mungkin kebanyakan orang akan bilang, bahwa seorang ayah akan selalu melihat putrinya yang telah dewasa, sama dengan ia melihat sang putri di masa lalu. Dan hal itu benar adanya, tidak berlaku hanya pada seorang putri, karena ia memandang putranya yang duduk bersama dengannya kini, sama dengan saat ia melihat Seokjin yant baru bisa berjalan, belajar membaca, dan meminta kado natal darinya dengan tatapan lugu seorang anak berusia enam tahun. Seketika rasa haru memenuhi benaknya.

Setelah istrinya-ibu Seokjin meninggalkan mereka, ia menyadari bahwa satu-satunya yang tersisa baginya hanya sang putra. Tanpa sadar, ia telah mematahkan angan banyak orang bahwa, hubungan ayah dengan putranya akan semakin canggung saat mereka tumbuh menjadi dewasa. Ia ingin menjadi ayah yang dapat diandalkan oleh putranya, dan selalu menjadi tempat untuk Seokjin bersandar, hingga putranya yang berharga menemukan cinta sejatinya sendiri, dan membangun kebahagiaannya bersama orang yang dipilihnya.

Entah mengapa saat bertemu dengan Namjoon, ia merasa yakin, bahwa pria yang ia nikahkan dengan putranya akan mampu menggantikan posisinya untuk melindungi dan menjadi sandaran saat Seokjin membutuhkan. Namjoon akan menggantikan sosoknya sebagai keluarga bagi Seokjin, saat akhirnya ia telah renta, dan pergi menyusul mendiang ibunya.

"Sedikit," Seokjin menjawab dengan jujur, saat ini kesedihannya lebih mendominasi perasaannya, dibandingkan dengan rasa bahagia yang ia rasakan, "berkat ayah aku merasakannya, sedikit." Bagaimana sang ayah bisa membuat kebahagiaan putranya, yang semula hanya 'sedikit', menjadi lebih 'banyak' dan 'penuh'?

Sekali kesalahan yang telah diperbuat sudah cukup, dan sebagai seorang ayah yang pernah gagal, ingin memperbaiki semuanya. Ia pernah memaksa Seokjin untuk berpisah dengan Jungkook, yang merupakan cinta pertama putranya, dan sialnya mereka berdua dipertemukan dalam waktu dan posisi yang salah. Ia yang semula mengharapkan yang terbaik untuk sang putra, berbalik mengukirkan luka serta penderitaan bagi Seokjin dan keluarganya. Dan sudah dua kali ia melihat putranya 'hancur', karena dirinya.

Sang ayah ingin membuka suara, menanggapi jawaban putranya, tapi suara ketukan pintu dan panggilan dari istrinya menghentikan niatnya, "Yeobo, mereka menunggu."

"Ayah akan kembali ke Seoul malam ini?" Seokjin bertanya, ia harap ayah dan ibunya akan berkunjung lebih lama. Tapi sayangnya, mereka harus segera kembali dan melanjutkan semua pekerjaan yang mereka tunda khusus untuk hari ini.

Pria paruh baya itu mengangguk pelan, kemudian menyahut, "5 menit lagi." Dan tidak ada suara lagi setelahnya, ia meyakini bahwa istrinya menyetujui permintaannya untuk bersama dengan sang putra lebih lama, dan menantinya di ruangan berbeda. "Hm, ada yang kau inginkan dariku sebelum aku pergi?"

"Aku.." Seokjin menginginkannya, tapi ia tak tahu bagaimana harus menyampaikannya.

"Pijat punggungku dulu kalau kau mau meminta sesuatu." Gelak tawa tak terelakan diantara mereka, 5 menit terasa singkat dan sang ayah meminta waktu lebih lama, sudah lama Seokjin tidak memijatnya dan meminta sesuatu darinya.

mamoru.

Jimin menawarkan untuk membuka pintu, tapi Namjoon berniat untuk melakukannya sendiri. Dan betapa terkejutnya ia, saat seorang pria yang tak pernah ia sangka kedatangannya, berdiri di hadapannya dan menatap wajahnya seraya menyunggingkan senyum ramah.

Namjoon terpana, terkejut dan tak mampu berkata apa-apa. Sampai suara Jimin terdengar, tepat dibelakangnya, "Tuan Kim?"

"Hallo, bagaimana kabar kalian?" Masih berdiri di ambang pintu, ayah Seokjin menyapa. Namjoon masih berdiri terpaku, sampai Jimin menepuk bahunya dan membuatnya kembali tersadar. Tanpa bicara sepatah kata, Namjoon menggeser tubuhnya dan membungkuk sopan, mempersilahkan mantan ayah mertuanya untuk masuk. "Oh, kalian sedang makan? Kebetulan, aku membawakan pie apel untuk pencuci mulut."

"Siapa?" Yoongi muncul dengan tangan bebalut handuk, dan ia hampir menjatuhkan handuk kecil ditangannya saat melihat pria paruh baya yang berdiri tak jauh darinya. "Oh.. selamat malam" Kemudian ia membungkuk sopan, dan kembali berdiri tegak dengan gerakannya yang sedikit gugup, reaksinya hampir sama dengan kedua sahabatnya.

"Selamat malam." Ayah Seokjin tersenyum tipis, kemudian bertanya, "Boleh aku duduk disini?" Tunjuknya pada kursi kerja Namjoon yang tepat berada di sebelahnya, kemudian menyerahkan sekotak pie apel pada mantan menantunya, "Harusnya pie ini kuserahkan tadi pagi, tapi karena banyak urusan, aku baru bisa berkunjung sekarang. Semoga pie ini masih bagus." Ucapnya seraya duduk perlahan di kursi, saat ketiga pria di hadapannya masih tak memberinya tanggapan.

"Terima kasih." Namjoon menatap sekotak pie di tangannya, kemudian pandangannya beralih pada sang mantan ayah mertua. Dengan suara yang hampir tercekat, ia melontarkan tanya, "Mengapa anda bisa kemari?"

"Aku bertanya pada adikmu." Ucap ayah Seokjin seraya menoleh pada Jimin, yang terkejut karena ucapannya.

"Aku?"

Kali ini pandangan ayah Seokjin beralih pada Namjoon, "Iya, dulu sekali saat kau mengganti isi dari kontrak itu." Ia ingat saat pengacara Park mengabarkan kalau Kim Namjoon, kakak dari Park Jimin menunjuk dirinya sendiri untuk menggantikan sang adik. "Aku masih menyimpan alamatmu." Lanjutnya, ia memang membutuhkan data pribadi Namjoon, kalau-kalau mantan menantunya itu tidak memenuhi janjinya.

Namjoon terdiam, ia berkedip sekali, dua kali, sampai pria paruh baya dihadapannya kembali bertanya, "Apa kau baik-baik saja? Kau tidak sakit 'kan, 'nak Namjoon?" Namjoon masih belum bisa menelaah apa yang terjadi kini, ia hanya menggaruk tengkuk belakangnya, menjaga sikapnya seformal mungkin dan menahan buncahan emosi yang terus ia pendam selama ini, karena ayah dari orang yang dicintainya kini tepat berada di hadapannya.

"Tidak, aku-" Kata-kata yang hendak Namjoon ucapkan tertahan oleh kegugupan yang ia rasakan, "aku tidak sakit." Suaranya terdengar semakin pelan, ia tak bisa berhenti memikirkan alasan dibalik datangnya pria yang sama sekali tak ia sangka kehadiranny, di apartemen pribadi miliknya sendiri.

"Wajahmu pucat, apa kau makan dengan benar?" Layaknya seorang ayah baginya, Namjoon dibuat terpana oleh tanya yang baru saja disampaikan oleh ayah Seokjin.

Namjoon mengangguk sebagai jawaban.

Yoongi yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka, berinisiatif untuk segera pergi, saat ia sadar bahwa, Namjoon tak memiliki sesuatu untuk disuguhkan pada tamunya, "A-aku akan ke minimarket, permisi."

"Hyung, aku ikut." Jimin mengekorinya, setelah mendapat senyum dan anggukan pelan dari pria paruh baya yang bertamu di apartemen Namjoon, mereka berdua segera melangkah keluar dan pergi mencari sesuatu untuk dihidangkan, sekalian memberikan ruang pada Namjoon dan ayah Seokjin.

"Aku tak bisa berlama-lama disini." Bisik sang mantan ayah mertua, membuat Namjoon menatap dalam padanya, karena begitu banyak yang ia ingin tanyakan dan sampaikan, namun tak satu 'pun kata yang sanggup ia keluarkan dari bibirnya sendiri.

Hingga akhirnya, satu tanya yang sejak tadi bersarang dalam benarnya, berhasil keluar dari bibirnya yang mulai bergetar, "Apa tujuan anda sebenarnya?"

"Menanyakan kabar, dan memastikan kalau kau baik-baik saja." Jawab ayah Seokjin, seraya berdiri dari duduknya, layaknya bersiap untuk segera pergi.

Namjoon ingin menahannya lebih lama, ia yang semula termangu dengan lidahnya yang kelu, memaksakan diri untuk bertanya, "Bagaimana dengan... Seokjin hyung?"

"Ia baik-baik saja." Entah mengapa Namjoon merasa begitu lega, ada beban yang terangkat perlahan dari bahunya ketika mendengar bahwa Seokjin baik-baik saja. "Namjoon, aku harus pergi. Jaga dirimu." Namjoon sangat ingin bertanya lebih banyak mengenai Seokjin-nya, namun melihat tatapan sayu mantan ayah mertua, serta senyum sedih yang terpatri di wajahnya yang kian menua, membuat Namjoon sadar, bahwa ia tak akan mendapatkan apa-apa. "Maaf, Namjoon." Ucapan maaf yang keluar dari bibir pria paruh baya di hadapannya, membuat Namjoon kian menyadari akan dalamnya jurang pemisah anatara dirinya dengan Seokjin.

"Ayah yang buruk sepertiku, sudah tak bisa berbuat banyak." Ucapnya, dan Namjoon tak mengatakan sepatah kata 'pun padanya, sampai ia pergi meninggalkan mantan menantunya sendirian di sana.

Dalam kesendiriannya, Namjoon memejamkan mata, ia lelah namun tak ingin menyerah, "Jin hyung..." gumamnya diantara nafas yang mendayu pelan. Kemudian ia mengingat kotak berisi pie apel yang ayah Seokjin berikan. Namjoon meletakannya di atas meja dapurnya, dan belum membukanya.

Sambil melangkah dengan lunglai ke arah dapurnya, Namjoon memikirkan betapa ia sangat merindukan sosok Seokjin disisinya, melihat dapurnya sendiri membuatnya membayangkan, betapa menyenangkan jika Seokjin bersamanya, memasak makan malam untuk mereka berdua disini.

Perlahan, Namjoon membuka pita berwarna biru yang membungkus kotak yang warnanya mengingatkan Namjoon pada sweater pink yang sering Seokjin kenakan. Tercium aroma cinnamon saat kotak itu terbuka, lima buah pie berukuran kecil, dengan pinggirannya yang sedikit hancur, namun masih menarik untuk dilihat seolah menyapanya. Sekali menatapnya, Namjoon tahu siapa yang membuatnya.

'Umumnya pie hanya akan bertahan dua hari, tapi menyimpannya di dalam kulkas selama satu jam sebelum dipanggang akan membuatnya lebih tahan lama.' Namjoon ingat, Seokjin pernah mengatakan demikian saat mereka membuat pie apel bersama. Pie yang kini ada ditangannya, adalah buatan Seokjin.

Tanpa sadar setetes air keluar dari pelupuk mata kiri Namjoon, dan tetesan itu membasahi permukaan sebuah kertas putih, yang ditulis dengan tinta biru.

'Pour ton bonheur'

Yang berarti, untuk kebahagiaanmu...

mamoru.

Seokjin menggunakan kaus yang ia kenakan, untuk menggantikan keranjang buah dan mengumpulkan buah anggur yang ia petik sendiri disana. Sambil mengunyah anggur yang telah ia kupas kulitnya yang berwarna merah ruby, ia berbicara lewat telepon dengan Jungkook yang sedang pergi berbelanja, 'Tidak ada yang kau perlukan lagi?'

"Aku hanya membutuhkan saffron, itu saja." Jawabnya sambil kembali memilih buah anggur, sebelum para pemetik memanennya esok hari untuk memeras buah masam dan manis itu menjadi wine.

Jungkook terdengar kewalahan, ia baru saja bilang kalau dirinya terjebak diantara keramaian saat hendak mencari toko yang menjual rempah di pasar pagi yang ia kunjungi, 'Ok, tunggu aku, disini lebih banyak toko yang menjual saus dari pada rempah.'

"Kau tidak perlu memaksakan diri, Jungkook-ah." Tawa Seokjin terdengar riang, awalnya ia hanya menyuruh Jungkook untuk membeli telur, tetap ia sudah bosan karena menu sarapan mereka selalu sama selama mereka berdua tinggal disini, untuk itu Seokjin menyuruhnya untuk mencari rempah sebagai bumbu pelengkap untuk menu makan malam mereka.

Jungkook tak menjawab, ia nampak sedang menawar dengan bahasa Prancis seadanya, kemudian kembali bicara pada Seokjin setelah akhirnya ia mendapatkan roti bagel dengan harga yang murah, 'Sayang sekali kau tidak bersamaku sekarang, banyak sekali roti dan keju berukuran besar.'

"Kalau begitu, bawakan semua untukku." Canda Seokjin, ia berhenti memetik dan memakan anggurnya karena kausnya telah penuh, dan memilih untuk berjalan-jalan saja di sekitar kebun.

Jungkook tampak tertawa, 'Imbalannya?'

"Aku akan membuatkan cream brulle untuk dessert saat makan malam nanti." Mudah bagi Seokjin untuk membuat adiknya menurut, hanya dengan menawarkan makanan penutup kesukaannya, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.

'Ok, hyung.' Dengan sigap, Jungkook menjawab. Dan sebelum menutup sambungan teleponnya, ia berkata, 'Je t'aime.' Walau keramaian menyamarkan suara Jungkook, namun Seokjin masih bisa mendengarnya, dan ia tersenyum lembut dibuatnya.

"Na do saranghae." Balas Seokjin, sebelum sambungan telepon terputus, dan helaan nafas lembut mengalun dari bibir ranumnya.

Seokjin menengadah, menatap langit musim panas yang begitu biru, dan awan tipis berarak diatas kepalanya. Sebuah gumpalan putih di langit yang membentuk sosok ikan paus mengingatkannya pada kisah 'Paus yang kesepian', dalam hati ia berharap agar ia bisa menitipkan salam untuk seseorang di belahan Bumi lainnya pada awan yang bergerak sendiri itu.

"Kim Seokjin." Saat ia berniat kembali ke rumah, seseorang memanggilnya, suara seorang pria dewasa yang mungkin seusianya.

"Uh, ya? Siapa?" Seokjin menoleh, menatap sosok asing yang tadinya berdiri di belakangnya, ia yang semula terkejut, kian terperangah saat orang asing itu membuka topi dan maskernya. Seorang pria yang ia yakini adalah orang Korea, dan pria itu nampak mengenalnya karena ia tahu namanya. Seokjin merasa kalau ia pernah bertemu dengannya di suatu tempat, tapi ia tak mampu mengingatnya.

to be continued

[A/N]

Maaf telat :" saya memang lagi sibuk banget cari nafkah buat modal nikah(?). Chapter ini aja saya ketiknya ngebut, di dalam KRL juga jadi... Dan saat ngetik bagian ayah Seokjin, saya membayangkan diri sendiri saat saya memandang anak saya nanti...

Saya mengucapkan terima kasih banyak pada kalian yang telah mengapresiasi author underrated seperti saya :" terharu banget, sumpah~ Mungkin juga beberapa chapter lagi fanficion ini akan selesai~

massive thanks to :

loveiscurl

Lalernya NamJin *mewek* Yeay~ dipuji sunbae uwu Tah Namjoon udah tahu, dia icemosi bruh~ tapi ditutupin soalnya ada Lil Mew Mew sama Dimminie jadi emoh marah-marah hehehe Sunbae beneran ga bisa baca angst with sad end? Yaah sayang sekali... :"( terus kalo menurut sunbae, apa karakter Namjoon disini lumayan bikin geregetan? Ngeselin kah? Perjuangan TaeKook akan aku deskripsiin nanti, karena aku punya ending sendiri buat mereka, terima kasih banyak atas masukannya yang membangun sekali, sunbaenim jjang!! Saya udah inbox ya~ *wink* call me uwu

AngAng13

Semua tentang Sowon perlahan saya bongkar hehehe Joon punya caranya sendiri buat 'membalas' semua perbuatan Sowon. Jk juga udah mulai berhasil tuh buat dapetin Jin lagi, tapi tidak semudah itu buat mereka bahagia hahahah *ikut ketawa jahat* Borahae banget sama kamu, saya selalu seneng baca review dari kamu, kaya ada kupu-kupu di dalem perut uwu

Re.rest07

Terima kasih sudah membaca! I purple you uwu

Orion'sky

Jangaannnn~ tenggelam saja di hati saya, niscaya saya akan selalu berusaha membuatmu bahagia owo hahaha tenang, ini happy ending kok, eh ga tau juga ding

pjsdheashells

selamat meluncur ke wattpad~ sampai bertemu disana uwu

masgojexganteng

yeeeesss!! kookjin enthusiast bertemu xD okeh siap! segera mengetik ff kookjin, bdsm, angst, mcd, psycopath kook, and sugar baby jin muahahahahaha