Regulus White Dwarf di sini. Ini adalah episode kedua puluh satu. Sementara beberapa orang membicarakan film-film fiksi ilmiah lama, satu orang malah membayangkan apa yang terjadi besok.
Pairing utama: belum diketahui. Specialshipping, Franticshipping, Commonershipping, dan Laverreshipping tersirat pada episode sebelumnya.
Rate, T, untuk sekarang ini, dan lebih karena kalimat ilmiah.
Disclaimer: tokoh-tokoh dalam Pokemon Special bukan punyaku. Mereka adalah punya Hidenori Kusaka. Aku hanya seorangshipperdan astronom amatir yang mencoba untuk menyatukan keduanya. Aku tidak mengambil keuntungan apapun untuk fic ini. Semuanya murni hiburan dan pengetahuan.
Perhatian,Mars!AU, kadang OOC.
...
"Dan itu dia, bagaimana seorang sakti menolak sepuntung rokok sekaligus membuat penjualnya bertobat," kata Silver.
"Hanya kekuatan pikiran?" tanya Crystal.
"Tak dapat dipercaya," kata Gold.
"Ya, seperti itulah yang kutonton di film tadi siang," kata Silver.
Kali ini, ada film yang dikirim dari Bumi ke pangkalan. Ada dua puluh lima film yang dikirim dan semuanya bertema fiksi ilmiah. Yang didapatkan Silver adalah sebuah film lama yang terkenal selama hampir dua abad.
Gold, Crystal, dan Silver sedang berjalan ke ruang makan setelah mereka menonton film itu.
"Aku hanya kagum dengan pengaruhnya. Maksudku, 'Kau mau beli rokok?' 'Kau tak mau menjual rokok padaku,' 'Aku tak mau menjual rokok padamu,' 'Kau ingin pulang dan memikirkan kembali hidupmu,' 'Aku ingin pulang dan memikirkan kembali hidupku.' Hanya percakapan sederhana, seriuskah?" tanya Crystal.
"Ya, hanya itu dan adegannya selesai, dan dilanjutkan dengan adegan memburu agen pembunuh senat," kata Silver.
"Lalu bagaimana dengan film yang kau tonton, Gold?" tanya Crystal.
"Hehehe, bayangkan saja adegan awalnya adalah bercinta di tambang minyak~" kata Gold genit, kemudian telinganya Gold langsung ditarik oleh Crystal.
"Yang serius, Gold! Langsung ke intinya!" seru Crystal. Gold yang merintih kesakitan mencoba lepas dari tarikan Crystal di telinganya.
"Oke, oke, intinya adalah bagaimana cara mencegah asteroid agar tidak menghantam Bumi," kata Gold.
"Seukuran apa memangnya?" tanya Silver.
"Kalos?" tanya Gold.
"Serius? Bukan Lumiose?" tanya Crystal.
"Ya. Di filmnya memang tertunjuk ukurannya besar, seukuran Kalos," kata Gold.
"Ya ampun, bagaimana kita selamat dari asteroid sebesar itu?" tanya Crystal.
"Mereka meledakkan asteroid itu dan membuatnya terbelah menjadi dua," kata Gold.
"Ya, maklum, masa lalu. Mereka belum tahu kalau meledakkan asteroid yang mengarah ke Bumi malah akan memperparah efeknya," kata Crystal.
"Jadi, bagaimana cara yang tepat?" tanya Silver.
"Seperti kau berhenti sebelum kereta lewat di perlintasan kereta. Membuat asteroid dan Bumi tidak berada di tempat dan waktu yang sama," kata Crystal.
"Pengereman?" tanya Gold.
"Atau pengebutan," kata Crystal.
"Hmmm, jadi, apapun itu, yang penting, asteroid itu tidak berpapasan dengan Bumi di tempat dan waktu yang sama," kata Silver.
"Aku setuju denganmu," kata Gold.
Pada akhirnya, mereka bertiga sampai ke ruang makan. Sudah ada beberapa orang di sana, sedang makan kentang rebus sambil bercerita tentang film yang mereka tonton. Akhirnya Gold, Silver, dan Crystal duduk di kursinya dan menunggu Diamond mengirimkan kentangnya.
"Eh, Crystal, bagaimana dengan ceritamu? Hanya tinggal kau yang belum bercerita," kata Gold. Silver mengangguk.
"Benar juga. Aku dapat film yang tidak biasa darbagian bahasanya. Ya, tapi intinya ceritanya tentang pesawat makhluk asing yang mendarat darurat karena terhantam hujan meteor dan jatuh di perkotaan. Terjadi semacam kesalahpahaman yang membuat manusia di sekitarnya melawan alien itu. Padahal mereka berniat ingin membantu," kata Crystal.
"Lalu?" tanya Silver.
"Kehidupan kita dapat disimpulkan sebagai kehidupan yang masih primitif di tingkah galaksi. Banyak kematian yang tidak perlu dan keadaan ilkim yang diubah menjadi lebih buruk. Karena itulah Bumi bukan planet yang bisa dikunjungi kehidupan asing sebebasnya," kata Crystal.
"Ya, jadi merasa rendah jadinya. Manusia memang masih rendah kalau dibandingkan dengan makhluk hidup lain, kalau ada, di galaksi ini," kata Silver.
"Dan akhirnya makanannya tiba~" seru Gold, melihat Diamond membawa makanannya.
"Bicara soal makanan, aku menonton film di mana seorang manusia harus bertahan hidup, hidup sendiri di planet Mars dengan kemampuan botaninya," kata Diamond.
"Sepertinya kau mendapatkan film yang tepat," kata Gold.
"Dan sepertinya itu bisa memberikanmu ide untuk resep baru," kata Crystal.
"Ya, yang dia buat di film itu masih sama dengan yang kubuat, Crystal. Aku butuh film tentang memasak," kata Diamond.
"Dasar Diamond," kata Gold, kemudian Diamond, Gold, dan Crystal terkekeh sementara Silver tersenyum.
"Aku ke dapur lagi dulu. Aku mau menyiapkan makanan untuk kru lain," kata Diamond.
"Baiklah, Diamond," kata Gold, kemudian Diamond pergi dari posisi trio Johto ini berada. Sementara itu, Yellow memilih untuk mendekat dengan Red. Bukan tanpa alasan. Badannya menggigil dan wajahnya terlihat ketakutan.
"Bagaimana kalau batunya ada virusnya? Bagaimana kalau batunya ada bakterinya? Bagaimana kalau batunya ada kutunya? Bagaimana kalau—" Red menyentuhkan jari telunjuk kanannya pada bibir Yellow yang tidak dapat berhenti bicara itu.
"Yellow, tidak ada yang perlu kau takutkan. Batunya sudah diteliti dan tidak ada hal seperti itu di dalam batunya. Itu juga hanya film," kata Red.
"Uh, tapi sebenarnya menurut artikel yang kubaca, film ini mendapatkan respon positif dari pengamatan kebijakan ruang angkasa terkait dengan ancaman kontak dengan makhluk luar Bumi," kata Green.
"Greeny bodoh! Kau tidak melihat Yellow sedang ketakutan? Mengapa kau malah membuatnya tambah takut?" tanya Blue, marah dengan Green yang terlalu membicarakan fakta.
"Eh, maaf, Yellow. Aku tidak bermaksud begitu," kata Green.
"Tidak apa-apa, lagipula dengan menceritakan hal itu, aku jadi tidak terlalu takut lagi karena sudah kubagikan kepada kalian semua," kata Yellow.
"Ya, kalau perlu, kau juga perlu pelukan dari teman-temanmu untuk menenangkanmu," kata Red.
"Kau duluan, Red," kata Blue.
"Eh? Apa?" tanya Red, sedikit merona pipinya.
"Kau yang berkata untuk memeluk seseorang yang ketakutan untuk membuatnya tenang. Sekarang, peluk Yellow," kata Blue. Pipinya Red dan Yellow langsung merona seketika.
"Eh, maksudku bukan hanya aku saja, tapi kita semua," kata Red, berusaha berkilah dari sebuah kenyataan yang membuat pipinya memerah lebih jelas.
"Sepertinya Yellow juga mau," kata Blue. Pipinya Yellow juga memerah lebih jelas karena godaan dari Blue. Green hanya bisa menepuk keningnya sendiri karena tingkah temannya yang satu ini.
"Dasar, gadis sialan," kata Green. Blue hanya terkekeh.
"Teehee, cocok kan?" tanya Blue. Green hanya bisa menepuk keningnya, melihat nasib dua temannya yang menahan malu. Kemudian, Red memulai pembicaraannya lagi.
"Teman-teman, mau tahu film apa yang kutonton?" tanya Red. Teman-temannya mengangguk.
"Benar juga. Kau saja yang belum bercerita kepada kami tentang film yang kau tonton," kata Blue.
"Baiklah. Film ini mengisahkan kisah hubungan cinta jarak jauh terjauh yang pernah ada," kata Red.
"Tentunya hal itu bisa jadi kenyataan di zaman ini," kata Green.
"Tepat sekali, karena tokoh yang sedang jatuh cinta itu adalah seorang perempuan Bumi dan laki-laki yang lahir di Mars," kata Red.
"Lahir di Mars? Berarti dia anak Mars?" tanya Green.
"Dan dia lebih tinggi, lebih lemah, dan jantungnya tidak mampu beradaptasi dengan keadaan di Bumi," kata Red.
"Apa film ini yang membuat kita tidak dapat menikmati masa indah sepasang kekasih~?" tanya Blue, mencubit pipi Green.
"Blue, hentikan!" seru Green, memegang tangannya Blue untuk menghentikannya dari mencubit pipinya.
"Blue, sebenarnya ada risiko kalau seorang perempuan manusia melahirkan di daerah dengan gravitasi lemah. Jantungnya bisa melemah langsung setelah kelahiran dan bisa jadi ..." kata Red, kemudian terdiam sejenak. Blue, Green, dan Yellow heran dengan diamnya pemimpin mereka.
"Mengapa kau diam, Red? Ada yang mengganjalmu?" tanya Blue. Akhirnya Red bicara lagi.
"Jika jantungnya melemah di Mars setelah kelahiran, bayinya akan kehilangan ibunya, selamanya," kata Red dengan wajah seram. Blue yang awalnya penasaran, berubah menjadi ketakutan. Yellow akhirnya makin mendekati Red. Green, normal saja, meskipun wajahnya nampak bertambah serius.
"Kematian?" tanya Blue. Red mengangguk.
"Oke, masuk akal kalau melahirkan di Mars itu berbahaya. Namun bagaimana dengan melakukan hal itu di Mars?" tanya Blue, sambil mengedipkan satu matanya ke Green.
"Hei, sekali dorong, aku bisa terpental ke atap ruanganmu, kau tahu? Ditambah lagi, organ itu butuh gravitasi yang cukup untuk berfungsi sempurna," kata Green.
"Huuu, berarti tidak ada acara panas di Mars?" tanya Blue, lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja. Green jadi teringat sesuatu.
"Red, bukankah daerah bersantai itu akan dibuka pada sol 50?" tanya Green. Red mengangguk.
"Mungkin selama tidak terjadi hubungan intim, tidak apa-apa untuk memakai bikinimu di ruangan bersantai, tapi kau masih harus menunggu sampai 34 sol lagi," kata Red kepada Blue.
"Ya ampun, padahal hanya berbeda setengah jam, tapi mengapa lama sekali?" tanya Blue, masih lemas. Kemudian, Blue menyala lagi karena satu pertanyaan.
"Bagaimana dengan—"
"Blue, kita akan bicarakan ini nanti. Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan. Dan jangan sampai Gold mendengarkan apa yang kau ucapkan. Pangkalan ini bisa kacau," kata Green.
"Berarti, kau mau melakukannya denganku?" tanya Blue dengan wajah manisnya. Green hanya bisa menepuk keningnya lagi.
"Maksudku bukan begitu, gadis sialan," kata Green. Sementara Green dan Blue saling mendebat, Red dan Yellow masih heran dengan mereka berdua.
"Red-san, mereka membicarakan apa?" tanya Yellow.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin tentang kapan mereka menikah," kata Red. Green dan Blue langsung bereaksi atas ucapan Red.
"Kami belum ingin menikah!" seru Green dan Blue bersamaan. Red hanya memasang wajah canggungnya.
"Pembicaraan ini semakin kacau saja," kata Green.
"Lalu, mengapa kau bisa berpikir kalau kami akan menikah, Red?" tanya Blue.
"Ya, hanya tebakanku saja," kata Red.
"Benarkah? Seharusnya kau dan Yellow mendahului kami kalau urusan menikah," kaya Blue yang menggoda Red dan Yellow.
"EEEHHHH?" Red dan Yellow langsung merona pipinya, lagi dan lagi.
"Teehee, cocok kan?" tanya Blue. Green, lagi-lagi, menepuk keningnya lagi.
Sementara itu, tiga laki-laki dari Hoenn yang terdiri dari Ruby, Emerald, dan Wally berada di sisi lain ruang makan. Mereka makan sambil bercerita tentang film mereka.
"Apa yang kau dapat?" tanya Emerald.
"Hanya pertarungan manusia melawan alien di ruang angkasa. Bedanya, kita memakai remaja," kata Wally.
"Remaja melawan sekumpulan alien?" tanya Ruby.
"Bukan hanya sekumpulan biasa, tapi seluruh populasi planet," kata Wally.
"Lalu?" tanya Emerald.
"Aliennya memiliki cara berpikir seperti semut. Mereka hanya bekerja kalau ada perintah dari ratunya. Tidak ada ratu, mereka mati. Seperti itulah," kata Wally.
"Semut? Aku jadi ingat asam formiat," kata Emerald.
"Asam formiat?" tanya Ruby.
"Asam semut, yang membuat kulit bengkak pada saat kita digigit semut," kata Emerald.
"Oh, itu asam formiat? Aku paham sekarang," kata Ruby.
"Ada kata mutiara yang muncul di awal filmnya. 'Ketika aku memahami musuhku cukup baik untuk mengalahkannya, maka pada saat itu, aku juga mencintainya.' Ada yang paham maksudnya?" tanya Wally.
"Aku tidak paham," kata Ruby. Emerald masih berusaha berpikir keras untuk menemukan arti dari kata mutiara itu.
"Mungkin lain kali, kau perlu memberikanku film itu," kata Emerald.
"Baiklah, Emerald," kata Wally. Kemudian dia menoleh ke Ruby.
"Ruby, apa filmmu?" tanya Wally.
"Perang galaksi. Senjatanya sangat besar dan berbahaya. Salah satunya bisa menghancurkan lima planet dari jarak sangat jauh," kata Ruby.
"Lima planet dihancurkan sekali tembak? Berapa banyak energi yang harus dihasilkan untuk menghancurkan lima planet dalam satu tembakan?" tanya Emerald.
"Senjata ini menyedot energi dari bintang sampai habis tak tersisa," kata Ruby.
"Energi bintang sangat besar. Masuk akal jika senjatanya bisa menghancurkan lima planet," kata Wally.
"Film abad ke-21 benar-benar menggelora kalau membicarakan tentang fiksi ilmiah," kata Ruby.
"Sebenarnya ada satu buah film yang membangkitkan kembali masa kejayaan film fiksi ilmiah, dan film itu baru saja kutonton," kata Emerald.
"Benarkah? Film tentang apa itu?" tanya Wally.
"Oke, jadi ceritanya, ada astronot yang ingin memperbaiki teleskop ruang angkasa, akan tetapi puing-puing dari satelit yang ditembak rudal malah membuat efek berantai yang membuat seluruh satelit di Bumi berubah menjadi peluru pembunuh. Komunikasi mati, pesawat ulang aliknya hancur, perjalanan jauh ke stasiun ruang angkasa, kemudian terjebak di kapsul yang bahan bakarnya mati, kemudian berhasil menipu pendorong pendaratan agar bekerja sebagai pendorong biasa menuju stasiun ruang angkasa yang lain, dan akhirnya hanya satu yang selamat, kembali ke permukaan Bumi. Film itu membawa kejayaan bagi film fiksi ilmiah," kata Emerald.
"Wah, padahal idenya sederhana, tapi hasilnya luar biasa," kata Wally.
"Sampah antariksa memang menjadi masalah pelik ketika menabrak satelit yang masih hidup. Tabrakan satelit yang dua-duanya masih hidup saja bisa saja terjadi," kata Emerald.
"Karena itulah setiap obyek yang meninggalkan Bumi harus diketahui posisinya," kata Ruby.
"Dan lebih susah sekarang karena Bumi bisa dikatakan memiliki lapisan bernama Satellitosphere, bola satelit. Jarak antarsatelit sangat dekat sehingga kemungkinan tabrakan lebih besar," kata Emerald.
"Makanya, langit malam di Bumi sudah tidak murni lagi. Terlalu banyak kedipan yang bukan dari bintang, tapi dari satelit," kata Wally.
"Ditambah dengan polusi cahaya yang parah. Sekarang, hanya daerah yang memang khusus untuk pengamatan astronom profesional yang cukup gelap malamnya. Masyarakat awam tidak mendapatkan kesempatan sama sekali," kata Emerald.
"Karena itulah ada pencanangan Hari Langit Malam Sedunia yang baru. Yang lama hanya satu jam, dianggap tidak cukup untuk menggelapkan langit lagi," kata Ruby.
"Mungkin enam jam itu cukup," kata Wally.
"Selama apapun itu, yang penting, langit malam harus kembali lagi hadir ke Bumi. Kalau tidak, anak cucu kita tidak akan bisa melihat keindahan langit malam dari halaman belakang rumah mereka sendiri," kata Emerald. Ruby dan Wally mengangguk setuju. Kemudian, Wally heran dengan satu hal.
"Ruby, Emerald, ada satu hal yang kuherankan dari semua ini," kata Wally.
"Apa itu, Wally?" tanya Ruby.
"Kita membicarakan film yang kita tonton, kiriman dari Bumi. Yang ingin kutanyakan adalah ..." kata Wally, kemudian terdiam.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Wally?" tanya Emerald. Wally menghirup napasnya dalam-dalam dan menjawab pertanyaan Emerald.
"Di mana Sapphire?" tanya Wally. Ruby dan Emerald juga baru tersadar dengan ketidakmunculan Sapphire.
...
Sementara itu, Sapphire melihat banyak foto tentang pasangan kekasih yang memberikan hadiah pada saat salah satunya merayakan ulang tahun. Saking banyaknya, Sapphire bingung akan memakai ide yang mana.
"Ah, sial, aku bingung harus memakai ide apa untuknya," kata Sapphire. Setelah itu, dia terbaring di kasurnya sambil berteriak.
"BAGAIMANA CARANYA MEMBERIKAN HADIAH KEPADAMU, RUBYYYY!?" seru Sapphire, berteriak seakan seluruh Mars bisa mendengarkannya.
...
Bersambung.
Film yang dipakai untuk referensi kali ini adalah Star Wars Episode II: Attack of the Clones, Armageddon, Attraction, The Martian, Life, The Space Between Us, Ender's Game, Star Wars Episode VI: The Force Awakens, dan Gravity. Semuanya adalah hak cipta dari pembuatnya masing-masing.
Kritik dan saran diapresiasi.
RWD, keluar.
