Warning: Mungkin pembaca butuh membaca beberapa chapter sebelumnya agar bisa meresapi cerita di chapter ini.

Chapter ini untuk para pembaca Lawless yang masih setia membaca cerita ini dari awal sampai sekarang. I love you, guys.


Chapter 21

Learning the Truth

Senin, 18 April 2011
Hari Pertama Libur Paskah
Kediaman Keluarga Sabaku

Gaara terbangun dengan senyum di bibirnya. Ia membuka mata perlahan-lahan, lalu berguling-guling sebentar sebelum akhirnya turun dari ranjang. Meskipun tidurnya tidak bermimpi semalam, namun ia ingat bahwa ia tertidur dengan perasaan lega luar biasa. Dan rupanya rasa lega itu masih terbawa sampai pagi.

Ia berjalan ke kamar mandi, masih tersenyum, sambil sesekali menguap dan menggaruk dadanya yang telanjang. Setelah mencuci muka, ia menatap pantulannya pada cermin di kamar mandi dan menemukan seorang pemuda berambut merah tersenyum bodoh ke arahnya. Ia cepat-cepat merubah ekspresinya menjadi raut mukanya yang biasa. Namun beberapa detik kemudian ia tersenyum lagi.

Semuanya hanya karena ia kembali teringat dengan pernyataan cinta yang diterimanya kemarin sore oleh seorang gadis yang sangat spesial. Hinata Hyuuga. Bagaimana kau bisa cemberut apabila teringat hal seperti itu?

Pernyataan cinta bukanlah hal yang jarang diterima Gaara. Reputasinya sebagai bad boy di Konoha Gakuen bukannya menjadi penangkal para gadis melainkan membuatnya menjadi magnet para perempuan yang menyukai sedikit tantangan. Ia tidur dengan banyak perempuan, dan sering terbangun dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: "Bolehkah aku menghabiskan liburan nanti di rumahmu?", "Bagaimana kalau kita pergi ke Alaska musim dingin nanti?", dan yang paling membuat Gaara merinding adalah, "Apakah kau mencintaiku?"

Gaara tidak membutuhkan semua itu. Ia tidak butuh perempuan yang ingin dimanja dengan uang ayahnya, naik pesawat pribadi milik ayahnya menuju kepulauan di selatan, atau makan malam di tempat mewah lima kali seminggu. Yang ia inginkan hanyalah menghabiskan waktu di ranjang bersama gadis yang sangat ia sukai sambil menikmati mie instan.

Saat berjalan keluar dari kamar mandi, Gaara menemukan dirinya tak peduli bila ia nyengir tolol seperti cengiran Naruto ketika Sakura berada di dekatnya. Ia meregangkan punggung dan berjalan keluar kamar. Ini adalah hari yang indah. Mungkin ia akan mengunjungi rumah Hinata dan memancing gadis itu agar berenang di rumahnya. Setelah itu mereka mungkin bisa bersantai di tempat tidur sambil menikmati mie instan.

Gaara turun ke lantai bawah dan berjalan menuju dapur. Jam di dinding menunjukkan pukul 10, pantas saja dia kelaparan. Dia tidak mengerti apa yang membuatnya tertidur sangat lama. Tapi jika diingat-ingat lagi, ketika menerima foto dari Elise dua hari lalu, Gaara sama sekali tak bisa tidur. Mungkin tubuhnya membayar utang tidurnya semalam.

Ketika ia melangkah ke dapur, ia secara spontan berhenti ketika melihat orang yang menunggunya di sana.

Elise Northway sedang mengunyah sepotong apel yang telah dikupas dan diletakkan di sebuah piring keramik. Gaara hampir tidak mengenali gadis itu karena rambut panjangnya yang cokelat secara misterius berubah menjadi rambut pirang yang lurus dan pendek. Meskipun dengan rambut yang berbeda, gadis itu, seperti sebelumnya, dan seperti biasa, memang selalu terlihat cantik. Namun tetap saja, Gaara merengut melihatnya.

Gadis itu duduk dengan santai di salah satu kursi tinggi di dekat konter yang membatasi dapur dengan meja makan tempat Gaara biasanya menikmati sarapannya di hari libur seperti ini. Kakinya yang langsing dan panjang tersilang. Ia nampak tertarik melihat sesuatu yang ada di layar iPhone-nya sementara tangan kanannya memegang garpu dengan potongan apel tertancap di ujungnya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Elise yang jelas-jelas sudah menyadari keberadaan Gaara dari tadi berpura-pura kaget seolah-olah baru melihat pemuda itu berdiri di sana. Ia terkesiap dengan gaya berlebihan lalu meletakkan ponselnya di meja.

"Oh, aku tak melihatmu di sana, Gaara. Lihat, jam berapa sekarang?" Ia menunjuk ke arloji di lengan kirinya, "Kupikir seseorang sudah membunuhmu karena kau tak kunjung bangun-bangun. Oh, tunggu dulu." Ia memanyunkan bibirnya dengan gaya imut, sambil pura-pura berpikir, "Itu tidak mungkin. Karena semalam aku bersumpah bahwa aku-lah yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."

Gaara hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Hah?" Elise adalah orang terakhir yang ingin ditemuinya hari ini. Ia pikir Sasori sudah membereskannya semalam. Lalu mengapa sekarang gadis ini malah muncul di dapurnya? Untuk apa ia membayar para penjaga dan pelayan rumahnya kalau tikus seperti ini masih bisa masuk juga? Hanya dengan mendengar suaranya saja sudah membuat Gaara sakit kepala.

Dengan anggun gadis itu loncat turun dari kursinya, lalu mendekati Gaara. "Jangan pura-pura tolol. Mana videonya?"

Gaara mengernyit. "Video apa?"

Sesuatu seperti baru saja meledak di balik mata Elise karena dalam seketika gadis itu melotot dengan wajah seram dan menusuk dada Gaara dengan kukunya yang panjang. "Video-ku yang direkam oleh bajingan itu! Kemarikan!"

Gaara menyingkirkan tangan Elise, lalu menghela napas. "Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Lebih baik kau keluar sekarang, sebelum aku memanggil Sasori kesini untuk mempermalukanmu lagi."

Dengan gerakan yang hampir tak terlihat, Elise mencengkeram rambut Gaara dan menjambaknya kuat-kuat. "COBA SAJA KALAU KAU BERANI!"

Gaara meraung, mencengkeram tangan Elise dan membuat pegangan gadis itu pada rambutnya lepas. Dengan gesit ia kemudian memuntir lengan gadis itu lalu memitingnya.

Elise meronta-ronta berusaha membebaskan diri, namun karena Gaara jauh lebih kuat darinya, usahanya terlihat seperti seekor musang yang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman serigala.

Gaara mendesis di telinga gadis itu dengan nada yang mengancam, "kalau sampai kulihat lagi kau melangkahkan kaki di rumahku..."

Tetapi belum lagi selesai kalimatnya, si gadis yang kini berambut pirang tersebut sudah menyelanya. "Kau belum bertanya padanya, 'kan?"

Gaara tidak menjawab. Ia tetap bergeming, sementara Elise kini sudah berhenti meronta-ronta lalu mendadak tertawa.

"Ya Tuhan! Kau benar-benar belum bertanya padanya! Pantas saja kau masih berani memitingku disini!"

Gaara melepaskan Elise lalu menjauh dari gadis itu. "Keluarlah, Elise. Aku sudah muak dengan omong kosongmu."

"Kalau kau sudah bertanya padanya, kau pasti akan mengirim Sasori untuk memukul bokong perempuan itu, bukan aku!"

Gaara serta-merta berbalik. Sebelah alisnya terangkat. "Sasori memukul bokongmu?" Dan hampir seketika pemuda itu tertawa. "Apa itu isi video yang dari tadi kau ributkan?" Gaara tertawa lagi, kali ini makin keras, sementara wajah Elise merah padam karena campuran malu dan marah.

"Tanya Sasuke!" Elise membentaknya, secara otomatis membuat tawa Gaara berhenti. "Tanya Ino! Tanya siapapun yang dekat dengan perempuan tolol itu. Kalau aku salah, terserah apapun yang ingin kau lakukan pada video itu, kau mau mengunggahnya di Youtube, Dailymotion, atau apapun, aku akan terima. Tapi kalau kata-kataku terbukti benar, yang aku sangat yakin bahwa aku memang benar, aku mau kau menghapus video keparat itu dan mengirimkan buktinya padaku."

Gaara terdiam cukup lama. Ia menatap kosong ke arah lantai, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Kau tahu kalau aku sedang mempertaruhkan nama baik dan harga diriku di sini, 'kan?" Gadis itu menyodorkan tangannya.

Gaara menghela napas dan menyadari bahwa gadis tersebut benar. Ia pun menggenggam tangan Elise, dan mensahkan perjanjian di antara mereka.


Senin, 18 April 2011
Tokyo Dome City
Dengan Hinata Hyuuga

Tokyo Dome City adalah sebuah komplek hiburan raksasa yang dibangun pada akhir Perang Dunia kedua, di atas bekas kawasan gudang senjata milik tentara kekaisaran Jepang yang dulu dikenal dengan nama Tokyo Koishikawa. Pusat dari komplek yang lebih mirip seperti kota di dalam kota itu adalah Tokyo Dome, stadion paling terkenal di seluruh Jepang tempat semua kompetisi olahraga paling bergengsi se-Jepang selalu diadakan. Di sekitarnya dibangun bermacam-macam tempat hiburan, termasuk taman hiburan, onsen Spa LaQua, bermacam-bermacam butik, restoran, hingga arcade. Namun semua itu tidak lengkap tanpa adanya komplek judi balap kuda nomor satu di Jepang, yakni JRA WINS.

WINS adalah sebuah perusahaan yang bisnis utamanya adalah kuda balap. Mulai dari pengembangbiakan, pelatihan, perawatan, hingga judi balap kuda. WINS menguasai sembilan puluh persen dari bisnis judi balap kuda di seluruh Jepang. Sayangnya, pada akhir tahun sembilan puluhan, ketika dunia sedang dilanda krisis ekonomi, WINS juga tak luput dari krisis tersebut. Pada saat itu saham WINS berada di posisi terbawah di bursa saham Jepang sehingga para pemegang sahamnya berlomba-lomba menjual saham mereka. Hanya ada satu perusahaan, atau lebih tepatnya satu orang yang mempertahankan sahamnya serta membeli saham-saham milik orang lain di WINS. Orang tersebut percaya bahwa dalam kurun waktu sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, judi pacuan kuda akan menjadi salah satu bisnis terkuat yang akan menyokong perekonomian Jepang.

Orang itu adalah Itachi Uchiha.

Dan pemikirannya terbukti benar. Sebab sepuluh tahun kemudian, Itachi Uchiha berhasil membawa WINS kembali ke masa kejayaannya dan menjadi orang nomor satu dalam judi balap kuda.

Atau begitulah yang saat itu dipahami Hinata Hyuuga dari sebuah artikel di internet yang dibacanya.

Gadis itu sedang terjebak macet di distrik Kataoki dalam perjalanannya menuju Tokyo Dome City.

Seperti rencananya di hari minggu sebelumnya, ia ingin sekali mempertemukan keluarganya dengan keluarga Uchiha. Ia ingin melihat ayahnya dan Neji (terutama Neji) meminta maaf pada Itachi Uchiha dan adiknya. Meskipun sudah membenci Sasuke dalam waktu yang sangat lama, namun setelah mengetahui kebenarannya Hinata tak melihat alasan mengapa keluarga Hyuuga dan para Uchiha haru terus bermusuhan.

Karena menurut Hiashi putrinya sudah menjalin hubungan yang baik dengan Itachi Uchiha, maka ia pun mempercayakannya untuk menghubungi pria tersebut. Oleh karena itu, tadi pagi Hinata memberanikan diri mengirimkan pesan singkat untuk bertanya apakah Itachi punya waktu kosong siang itu untuk bertemu dengannya.

Hampir seketika Itachi Uchiha langsung membalas pesan Hinata dan berkata bahwa ia akan sangat senang sekali apabila bisa bertemu dengan Hinata di salah satu restoran di Tokyo Dome City, sebab hari itu ia sedang mennginspeksi kuda-kudanya yang baru saja dipindahkan dari peternakannya di Chiba ke komplek JRA WINS.

Hinata tidak keberatan. Setelah sarapan pagi itu ia langsung berkendara menuju Tokyo Dome City. Sebelum masuk jalan tol yang menghubungkan langsung Distrik Ikebukuro dengan Tokyo Dome City, gadis itu mampir di Mall Omotesando dan membeli sekotak cokelat Godiva sebagai cinderamata.

Beberapa jam kemudian, setelah melalui kemacetan yang cukup panjang, Hinata akhirnya berhasil memarkir mobilnya di Komplek JRA WINS. Dari luar tempat itu tidak terlihat terlalu besar. Gerbangnya berwarna abu-abu dengan tulisan JRA WINS yang besar namun tidak mencolok.

Semua orang sepertinya tahu bahwa JRA WINS tidak butuh halaman depan yang mencolok, karena atraksi yang sebenarnya ada di dalam. Hinata nyaris mau pulang saat melihat pintu depan gedung tersebut yang sangat ramai oleh pengunjung. Sangat ramai. Bahkan lebih ramai dari pengunjung Kuil Tsukimine di tahun baru.

Hinata mengecek ponselnya, berpikir untuk menelepon Itachi dan menyuruh lelaki itu menemuinya di sini. Namun ia mengurungkan niat tersebut karena sangat tidak sopan. Setelah menghela napas panjang, Hinata pun akhirnya turun dari mobil dan membiarkan dirinya bergabung dengan lautan manusia yang tidak sabar untuk mempertaruhkan uang untuk kuda jagoan mereka.

Hinata belum pernah datang ke judi pacuan kuda sebelmnya. Namun sekarang ia mengerti mengapa banyak orang yang bilang bahwa tempat tersebut merupakan salah satu tempat perputaran uang terbesar di Jepang.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling sebelum matanya berhenti pada papan raksasa di atas konter pembelian karcis yang menampilkan jadwal perlombaan. Saat mengamatinya Hinata sadar bahwa mungkin ia datang pada jam yang salah karena lima belas menit lagi salah satu perlombaan utama hari itu akan berlangsung. Ia menghela napas.

Sebersit ide tiba-tiba muncul di benaknya. Dia belum pernah ke WINS sebelumnya, dan mumpung sudah di sini, mengapa ia tidak menonton perlombaannya saja? Ia tidak perlu bertaruh, hanya menonton saja. Mungkin sambil menonton perlombaan nanti dia bisa menemukan Itachi Uchiha. Dia pemilik tempat ini, dan ia sedang ada di sini untuk melakukan inspeksi. Tidak mungkin dia melewatkan perlombaan seramai ini, 'kan?

Dengan semangat baru Hinata pun berbaris di loket untuk membeli karcisnya. Beberapa menit kemudian ia akhirnya mendapatkan sebuah karcis yang terletak di bangku teratas di tribun pinggir. Bukan tempat duduk yang paling bagus, namun apa yang bisa ia harapkan dari pembelian karcis di detik-detik terakhir?

Setelah menunjukkan karcisnya, penjaga di lorong yang membawa ke arena pacuan kuda membiarkan Hinata lewat. Sebelumnya ia bertanya pada kedua penjaga tersebut apakah mereka melihat Itachi Uchiha. Namun dengan sebelah alis terangkat dan pandangan penuh kritik ke arah Hinata, salah satu dari mereka menjawab tidak tahu.

"Dan apa yang kau inginkan dari kakakku, Hyuuga?"

Hinata terlonjak mendengar suara yang sangat familiar tersebut hingga ia hampir menjatuhkan semua bawaannya. Ia serta merta berbalik dan menemukan Sasuke Uchiha berdiri di sana, dengan kacamata hitam, kaos abu-abu dan jins, serta terlihat sangat mengintimidasi. Hinata terdiam selama beberapa detik di sana dengan mulut terbuka. Tentu saja Sasuke Uchiha sering datang ke tempat ini! Tempat ini bisa dikatakan milik dia juga!

Menyadari karena dengan berdiri di situ ia menghalangi jalan orang, Hinata pun berbalik dan memutuskan untuk berjalan cepat agar meninggalkan Sasuke dan membiarkan pertanyaan lelaki itu tak terjawab. Hinata di sini untuk bertemu dengan Itachi, bukan dengan adiknya. Ia memang ingin berbaikan dengan para Uchiha. Namun tidak berduaan saja dengan Sasuke seperti itu. Ia perlu ayahnya dan Itachi agar tidak terjadi momen canggung.

Ketika ia sampai di tribun, selama sesaat Hinata lupa bahwa ada setan dalam wujud seorang pemuda baru saja menegurnya. Ia mengabaikan setan tersebut dan membiarkan dirinya terpukau oleh kemegahan arena pacuan kuda JRA WINS.

Arena pacuan kuda tersebut sangat luas! Treknya berbentuk oval, hampir mirip seperti trek lari di sekolahnya. Hanya saja bukannya terbuat dari karet khusus, trek tersebut terbuat dari grevel yang sudah disesuaikan untuk dilintasi oleh sepatu-sepatu kuda dengan kecepatan tinggi. Di tengah-tengah trek tersebut terhampar lapangan rumput pendek yang menurut Hinata terbuat dari rumput sintetis. Di sisi sebelah kiri trek Hinata bisa melihat barisan delapan pintu tempat kuda-kuda turunan juara menunggu aba-aba bersama para penunggang mereka.

"Jangan pura-pura menghindariku, Hyuuga." Hinata terlonjak lagi ketika mendadak mendengar suara Sasuke lagi di belakangnya.

Hinata berbalik dan sambil berusaha membuat wajahnya terlihat jengkel ia menjawab, "apa?"

"Apa yang kau lakukan disini, mencari kakakku?" Hinata menelan ludah karena tidak bisa melihat mata di balik lensa yang gelap tersebut dan tidak bisa menebak ekspresinya karena bibir lelaki tersebut membentuk satu garis tipis.

"Bukan urusanmu." Hinata lalu sekali lagi meninggalkan lelaki itu untuk mencari bangkunya. Kemudian Hinata tiba-tiba berhenti saat menyadari bahwa jika Sasuke berada di sini untuk menonton, kemungkinan besar ia pasti akan menonton bersama kakaknya, atau setidaknya duduk di kotak khusus tempat para pejudi yang lebih kaya bermain. Pemuda itu pasti tahu kakaknya di mana, dan meskipun Hinata merahasiakan tujuannya menemui Itachi, namun pasti nanti saat ia bertemu Itachi, adik sialannya itu pasti ada di sana. Hinata pun menghela napas dan berbalik lagi untuk menghadapi Sasuke yang rupanya masih berdiri di sana. "Baiklah, maafkan aku. Aku mencari kakakmu karena disuruh ayahku."

Kerutan di antara alis lelaki itu semakin dalam. "Untuk apa?"

Berpura-pura tidak mendengar pertanyaan lelaki itu, Hinata malah bertanya, "Apa kau tahu dimana dia?"

Sasuke menggeleng. "Untuk apa Hiashi Hyuuga mencari kakakku?"

Hinata meringis mendengar nada benci yang sangat kental di suara Sasuke saat menyebutkan nama ayahnya. Ia menduga lelaki ini pasti mengetahui peristiwa bertahun-tahun yang lalu tersebut. Dan mendadak seperti baru melihat sebuah puzzle yang selesai dirangkai, Hinata pun tercengang.

Meskipun di sekitarnya arena pacuan kuda WINS sedang riuh oleh penonton, namun Hinata menemukan dirinya tak bisa mendengar apapun. Saat itu yang bisa ia lihat hanyalah Sasuke, dan kebencian lelaki itu padanya. Semua yang pernah dilakukan lelaki itu padanya melintas kembali di benaknya seperti sebuah film pendek.

Lelaki yang selalu membuatnya menangis sejak SMP sampai sekarang itu adalah orang yang sama dengan bocah yang dulu diusir ayahnya dari peternakan yang sudah menjadi rumahnya karena kesalahan yang tak pernah dilakukannya.

Demi Tuhan, dia masih lima tahun waktu itu, dan kakaknya hanyalah seorang buruh kasar peternakan yang bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan SMA. Tentu saja dia membenci Hinata dan keluarganya seperti itu!

Bibir bawah Hinata bergetar dan ia memejamkan mata. Ia menemukan dirinya berusaha mengingat-ingat kembali semua yang pernah Sasuke lakukan padanya. Kemana semua perasaan benci yang selama ini ia simpan itu? Ia menggertakkan gigi. Kenapa? Kenapa hanya dengan membayangkan seorang bocah kecil yatim piatu yang tak tahu apa-apa itu diusir dari rumahnya membuat Hinata ingin menangis dan memeluk lelaki di hadapannya itu?

Ia menggeleng-geleng, lalu berbisik, "Ini tidak adil..."

Sasuke mengernyit dan memandanginya dengan bingung. "Kau ngomong apa sih?"

Di belakang mereka suara dari interkom mengumumkan bahwa sebentar lagi perlombaan akan dimulai. Para penonton pun berteriak-teriak untuk mendukung kuda jagoan mereka.

Hinata meremas tiket di tangannya. Mendadak ia tidak ingin lagi menonton pacuan kuda. Ia pun berjalan cepat ke lorong menuju pintu keluar, meninggalkan Sasuke tanpa penjelasan.

Meskipun lobi di luar tribun tidak seramai tadi, namun Hinata mengalami kesulitan berjalan karena terus-terusan ditubruk orang-orang yang ingin cepat-cepat masuk ke tribun untuk menonton. Ia sudah hampir mencapai pintu keluar ketika sebuah tangan yang besar mendadak mencengkeram lengannya dan menariknya hingga membuatnya berhenti. Pemilik tangan tersebut dengan kasar membuatnya berbalik agar menghadapnya.

Dan Hinata pun berteriak. "Lepaskan aku! Lepaskan aku!" katanya berkali-kali sambil memukuli tubuh Sasuke.

Karena tidak ingin menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka, atau yang paling parah, membuatnya dirinya diamuk massa, Sasuke pun melepas Hinata dan membiarkan perempuan itu berlari ke pintu keluar sebelum mengejarnya lagi.

Ketika sampai di luar, Hinata berhenti lalu menoleh ke belakang. Ia berjengit saat melihat Sasuke masih mengikutinya. "Kenapa kau mengikutiku?" bentaknya.

Sasuke yang tidak suka mendengar nada suara Hinata pun balas membentak, "Kenapa kau tiba-tiba lari?"

Hinata mengernyit, "Kenapa kau mengejarku?" tantangnya.

Sasuke menghembuskan napas kesal, lalu mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangannya. "Mari kita lihat situasinya." Ia berkacak pinggang, "Kau datang ke sini, ke pacuan kuda-ku, mencari kakak-ku, dan ketika kutanya kenapa, kau tiba-tiba lari. Bagaimana kalau ternyata apapun yang kau bawa di tanganmu itu ternyata adalah bom atau semacamnya? Mungkin kau sudah muak dan mau mengakhiri ini semua. Dan apa yang kulakukan? Tentu saja aku mengejarmu!"

"Kau gila," gumam Hinata.

"Kau yang gila! Bukan aku yang tadi berteriak-teriak di dalam sana dan berniat membuat orang-orang salah paham!" Sasuke membuka kacamata hitamnya.

Napas Hinata tercekat. Dan ia langsung menunduk.

Sepanjang ingatannya, Hinata tak pernah melihat Sasuke memandangnya dengan pandangan selain pandangan benci, sinis, atau apapun yang dekat dengan arti kejahatan. Seperti yang dikatakan peribahasa kalau mata adalah jendela hati manusia. Hinata tidak siap ketika ia melihat kedua mata Sasuke tadi dan untuk pertama kali melihat...kekhawatiran. Dia...khawatir?

Hinata memberanikan diri untuk mendongak dan melihat sekali lagi. Namun lelaki itu sudah membuang muka.

"Maaf. Aku kaget tadi," gumam Hinata.

"Jadi kenapa kau mencari kakakku?" Sasuke mengenakan kacamatanya lagi saat melihat Hinata.

Hinata pun akhirnya menyerah dan mengutarakan tujuannya ke Sasuke. Lelaki itu mendengus lalu berkata, "Sekarang baru Hiashi Hyuuga mau minta maaf? Setelah kakakku sudah punya semua ini?" Ia merentangkan tangannya menunjuk sekelilingnya, "Dulu bahkan dia tidak berpikir dua kali saat mengusir kami!"

Hinata meringis mendengar nada suara Sasuke. Ia terus-terusan mengingatkan dirinya bahwa yang dikatakan lelaki itu tidak salah, dan ia memang punya hak untuk marah. Ia menghembuskan napas frustasi. "Kau masih kecil Sasuke saat itu, ayahku punya banyak pertimbangan..."

Sasuke langsung memotongnya. "Benar sekali! Aku masih kecil! Dan iblis itu tega mengusir anak kecil dari peternakannya!"

"Kau tidak mengerti!" Hinata tidak mau kalah dan juga menaikkan suaranya. "Keluarga Hyuuga adalah keluarga yang rumit. Ada yang namanya politik keluarga dan..."

"Persetan dengan semua itu! Katakan padaku sekarang kalau yang ayahmu lakukan itu benar! Bilang sekarang!"

Hinata berusaha menahan diri dengan menggigit bibirnya sangat keras hingga berdarah. Ia menggenggam kotak cokelat di tangannya begitu kencang hingga ia yakin sebentar lagi kotak tersebut pasti akan hancur beserta cokelat-cokelat di dalamnya. Ia menunduk saat berbisik, "Tidak, itu tidak benar." Ketika ia mendongak lagi, suaranya kembali meninggi. "Sekarang kau katakan padaku! Apa yang kau lakukan padaku selama bertahun-tahun itu benar?" Matanya dipenuhi kebencian.

Sasuke terdiam. Ia menunduk malu, lalu menggeleng.

Hinata menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Ini tidak adil..." Suaranya lalu pecah saat berkata, "Sangat tidak adil..."

Sasuke menatap Hinata yang wajahnya memerah karena campuran marah dan air mata.

"Tidak ada yang adil di dunia ini," gumam Sasuke.

"Oh, tidak usah mencoba menasihatiku!" Hinata berbalik lalu duduk di anak tangga teratas. Kotak cokelatnya ia buang di sampingnya. Ia membunyikan wajahnya di kedua tangannya.

Sasuke tidak duduk di sebelahnya, namun ia tetap mendengar saat Hinata berkata, "Aku benci sekali padamu, Sasuke. Aku sangat membencimu. Kau membuat hidupku seperti neraka selama bertahun-tahun. Tapi kenapa sekarang aku tidak bisa lagi membencimu? Ini sangat tidak adil."

Mendadak Sasuke pun diserang perasaan bersalah. Ia duduk di samping Hinata. Tidak terlalu dekat, namun juga tidak terlalu jauh. Cukup dekat supaya ia bisa menyentuh bahu gadis itu dengan takut-takut. Ketika Hinata tidak meledak marah, Sasuke pun menepuk-nepuk bahunya dengan lembut. "Aku...tahu bahwa kau tidak tahu."

Hinata mendongak untuk melihat Sasuke, matanya sekilas memandang tangan Sasuke di bahunya, sebelum kembali memandang lelaki itu. "Kau baru tahu sekarang setelah semua kekejamanmu itu?" kata Hinata dengan suara serak.

Sasuke langsung menarik tangannya. Wajahnya memerah selama sedetik sebelum kembali mengeras. "Ya, dan aku juga tahu siapa yang seharusnya kuhajar sampai mati."

Hinata menelan ludah. Dia tahu siapa yang dibicarakan Sasuke.

"Aku mencarinya kemarin ke asramanya. Tapi mereka sedang libur. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana." Hinata mungkin harus mempertimbangkan lagi rencananya untuk mempertemukan Sasuke dan Neji. Bisa-bisa terjadi pertumpahan darah.

Di belakang mereka suara di interkom menghitung mundur waktu sepuluh detik sampai kuda-kuda siap berlari dari garis start mereka.

Sasuke melepas kacamatanya lalu menaruhnya asal-asalan di sampingnya. Ia melipat lengannya kemudian memandang suatu titik di kejauhan.

"M-maafkan aku."

Sasuke menoleh ke arah Hinata. Ia berdiri lebih tegak dan memandang gadis itu dengan bingung. "Apa?" tanyanya dengan nada setengah tak percaya. Selama ini di dalam dirinya, Sasuke selalu memandang semua Hyuuga sebagai musuh. Mereka adalah orang jahat, begitulah katanya pada dirinya setiap hari. Mereka tidak punya belas kasihan, maka aku pun tak boleh memberi mereka belas kasihan. Ia mengatakan semua itu pada dirinya setiap hari. Ia memelihara rasa dendamnya. Ia sudah terbiasa dengan kebencian pada Hyuuga tersebut. Lalu ketika suatu hari tiba-tiba satu dari mereka tiba-tiba meminta maaf padanya...bagaimana ia harus bereaksi?

"Maafkan ayahku..." Hinata menjilat bibir, lalu dengan terbata-bata melanjutkan, "Maafkan Neji. Maafkan keluargaku. Maafkan aku." Ia menghela napas sedih. "Aku bahkan tidak ingat apapun soal kejadian itu. Aku tidak pernah tahu kalau...kalau kita..." Hinata tidak bisa melanjutkan, karena kalimatnya tertahan tangisannya.

Sasuke menghembuskan napas frustasi saat melihat gadis itu kembali menangis. Ia kembali menatap undakan di hadapannya, dan menunggu Hinata selesai tanpa menawarkan kalimat penghiburan.

Ketika tangisan Hinata berubah menjadi isakan dan ia mengelap air matanya dengan lengan kemejanya, barulah Sasuke berbicara, "Aku...sebenarnya juga tidak terlalu ingat." Hinata menoleh ke arahnya, "Yang kuingat hanyalah...kau terluka dan Neji yang berkata bahwa dia dan kau...sangat membenciku." Dan Hinata pun menangis lagi. "Bisakah kau berhenti menangis sebentar saja?" tanya tak sabar.

Hinata mengangguk-angguk lalu kembali mengelap matanya dengan lengan kemejanya.

Sasuke menghela napas. "Kurasa...kurasa aku sudah terbiasa membenci kalian, semua tindakan itu terasa...natural."

Hinata mengerti maksud lelaki itu. Ketika kau membenci seseorang terlalu lama, sadar atau tidak sadar pikiranmu pasti akan selalu memberitahumu untuk menyakiti orang yang kau benci tersebut. Dan meskipun kalimat Sasuke itu terdengar tak berperasaan, namun entah mengapa Hinata menemukan dirinya mengangguk setuju.

"Namun bukan berarti aku benar."

Hinata terbelalak tidak percaya mendengarnya. Lelaki itu mungkin terlalu egois untuk meminta maaf. Namun kalimat tersebut mungkin adalah kalimat yang paling dekat dengan permintaan maaf di dalam kamus Sasuke Uchiha.

"Dasar bajingan sombong," gumam Hinata dengan serak. Sontak Sasuke melihat ke arahnya, siap melontarkan balasan yang lebih kasar. Namun ketika melihat Hinata tersenyum ke arahnya, senyuman yang menunjukkan gigi-gigi putihnya, Sasuke pun menahan lidahnya dan ikut tersenyum. Sedikit.

"Dasar cengeng."

Hinata berhenti tersenyum, lalu memukul lengan Sasuke dengan kotak cokelat.

"Kau tahu, mungkin separuhnya memang salahmu juga. Kau gampang sekali menangis dan membuat semuanya begitu mudah. Kau tak pernah membalas." Ia mengangkat kedua bahunya.

"Lain kali kotak cokelat ini kuganti dengan pisau."

Sasuke tertawa mendengarnya.

"Well, well..." Seseorang bertepuk tangan dari belakang mereka. Sasuke dan Hinata menengok ke belakang dan menemukan Itachi Uchiha berjalan dari lobi menuju ke arah mereka sambil bertepuk tangan. Ia mengenakan kemeja putih dengan setelan hitam tanpa dasi. Wajahnya sumringah. "Pemandangan yang sudah lama tak kulihat. Dan kupikir tak akan pernah kulihat lagi."

Wajah pemuda pemudi tersebut memerah dan secara bersamaan mereka berusaha menjelaskan. Namun Itachi mengabaikan mereka. Ia mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya, lalu berlutut di antara Sasuke dan Hinata. "Kenapa kau menangis, Nona?" tanyanya lembut sambil menghapus air mata Hinata.

Hinata mengeluarkan campuran suara antara tawa dan tangis, lalu langsung memeluk Itachi Uchiha. "Maafkan aku," bisiknya di bahu pria itu.

Sasuke mengawasi saat wajah kakaknya yang kaget berubah melembut. Sepuluh tahun memang sudah berlalu, namun kentara sekali bahwa di dalam hatinya Itachi Uchiha masih menyimpan tempat yang spesial untuk Hinata Hyuuga. Perlahan-lahan Itachi mengangkat tangannya dan membalas pelukan Hinata.

Ketika mereka berpisah, Itachi dengan menggebu-gebu berseru, "Ini harus dirayakan!" katanya lalu mendadak memeluk Hinata dan Sasuke secara bersamaan, membuat kedua remaja tersebut terlibat dalam group hug tercanggung dalam hidup mereka..

Hinata menelan ludah. Wajah dan tubuhnya menempel pada Sasuke dan Itachi. Ia bingung harus meletakkan tangannya dimana, jadi ia hanya mematung di sana saat Itachi mempererat pelukan mereka.

"Aku senang sekali kalian akhirnya mengobrol lagi!"

Hinata mendongak ke atas dan menemukan Sasuke juga sedang menunduk menatapnya. Hinata tersenyum ketika melihat Sasuke yang memutar mata karena tindakan kakaknya. Pemuda itu juga tersenyum ketika melihat Hinata melakukan hal yang sama.

Mereka mungkin masih sama-sama membenci satu sama lain. Tapi saat itu dalam hati, mereka sama-sama setuju bahwa Itachi Uchiha adalah orang yang sangat sensitif dan senang mendramatisasi semua hal. Mungkin satu persamaan tersebut bisa menjadi awal bagi mereka untuk berkompromi.


Senin, 18 April 2011
12:21 P.M.
Dengan Shikamaru Nara

Shikamaru menutup buku di tangannya saat ia melihat mobil hitam yang besar tersebut parkir beberapa meter dari tempatnya duduk.

Hari itu adalah hari pertama liburan paskah dan Shikamaru berniat mengajak seorang gadis berambut pirang makan siang di sebuah restoran meksiko yang selama beberapa minggu ini selalu ia lewati namun tak pernah ia masuki. Karena sedang libur sekolah, gadis berambut pirang tersebut mendedikasikan seluruh waktunya di toko bunga miliknya. Dari hasil pengamatannya selama ini, toko tersebut memiliki cukup pegawai yang membuat gadis itu sebenarnya tidak perlu bekerja di sana. Kehadiran gadis itu di hari-hari yang tidak menentu membuat Shikamaru menebak bahwa bunga pasti adalah hobi si gadis. Hobi yang sangat disukainya.

Sebenarnya, mengajak seorang gadis makan siang bukanlah hal yang sulit. Kau hanya tinggal menelepon atau mengirimnya SMS atau mendatangi rumahnya dan mengutarakan tujuanmu. Kalau dia bersedia kalian bisa langsung pergi, kalau tidak, ya kau tinggal membuat janji di waktu yang tepat.

Sayangnya bagi Shikamaru Nara tidak semudah itu.

Ia menghabiskan banyak waktunya di kafe di depan toko bunga Yamanaka, berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyeberang jalan dan menghampiri gadis itu. Membeli satu tangkai atau satu buket bunga kemudian mengajaknya mengobrol. Namun Shikamaru selalu menemukan dirinya kembali duduk di kursinya dan menatap gadis itu lebih lama.

Minggu-minggu sebelumnya Shikamaru tak pernah membawa buku dan yang ia lakukan saat duduk di situ hanyalah mengamati setiap gerakan Ino Yamanaka seperti seekor elang. Namun belakangan ini ia menyadari bahwa dirinya terlihat seperti seorang penguntit. Maka ia pun mulai membawa buku agar ia tidak terlihat terlalu mencurigakan.

Saat itu pukul dua belas lewat. Beberapa menit lagi Ino Yamanaka harusnya keluar toko dan bersama dua orang pegawai perempuannya berjalan ke kedai ramen favoritnya. Shikamaru berniat mencegatnya sebelum dia keluar toko dan mengutarakan tujuannya hari itu. Namun bukannya berdiri dan menyeberang ke toko tersebut, Shikamaru malah duduk di sana, memelototi sebaris kalimat tak bermakna di bukunya seperti orang tolol. Dalam hati ia terus-terusan membuat skenario tentang yang akan dikatakan Ino saat berbicara dengannya. Apakah ia akan menganggapnya aneh? Atau mungkin dia akan menganggapnya penguntit karena tiba-tiba muncul di situ?

Tetapi ketika mobil hitam yang besar tersebut berhenti tak jauh dari hadapannya, pikiran Shikamaru buyar dan dia langsung menurunkan bukunya.

Ia mungkin akan tetap bergelut dengan pemikiran bodohnya seandainya ia tidak mengenali pemilik mobil tersebut.

Gaara Sabaku.

Shikamaru menyipitkan mata saat pemuda berambut merah itu turun dari mobil. Meskipun saat itu musim semi, namun matahari siang itu bersinar tanpa ampun, membuat sebagian besar orang yang beraktivitas di luar rumah mengenakan kacamata hitam mereka. Termasuk Shikamaru dan Gaara. Ia melihat saat lelaki itu menyeberang jalan, lalu menghampiri Ino yang kebetulan sedang merangkai pesanan sebuah buket untuk seorang pemuda di meja panjang di depan tokonya. Ia berdiri di sana menunggu Ino menyelesaikan urusannya. Kedua tangannya terlipat dan ia terlihat tidak sabar.

Bagi Shikamaru, Gaara Sabaku bukanlah ancaman seperti Sasuke Uchiha. Ia tahu betul bagaimana hubungan Gaara dan Ino. Mereka hanyalah teman yang memiliki beberapa kelas bersama-sama dan terkadang makan siang di meja yang sama. Shikamaru juga tahu siapa saja gadis yang dekat dengan Gaara, atau mencoba untuk dekat dengannya. Mungkin dia terdengar seperti penguntit sungguhan. Namun itulah yang ia dapat dengan selalu bersembunyi dari pengelihatan orang lain dan mengamati orang-orang dari belakang.

Shikamaru tidak sadar saat ia mengeluarkan uang dan meletakkannya di bawah gelas es teh di hadapannya. Ia lalu meninggalkan kafe tersebut dan menyeberang jalan menuju toko bunga Yamanaka. Pada dasarnya Shikamaru bukanlah orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Namun apabila hal tersebut menyangkut Ino Yamanaka, ia membuat pengecualian. Ia sebenarnya sadar bahwa dengan menguping pembicaraan Gaara dan Ino (yang sepenuhnya bermotif rasa ingin tahu), level penguntit-nya baru saja naik satu tingkat. Namun Shikamaru tahu bahwa ia terkadang menemukan dirinya melakukan hal-hal di luar akal sehat apabila Ino Yamanaka terlibat di dalamnya.

Setelah si pemuda menerima buket bunganya dan membayar, Ino langsung berbalik ke arah Gaara sambil berkacak pinggang.

"Well, well, tumben kau repot-kesini? Biasanya kau hanya tinggal mengangkat telepon seperti seorang pelanggan VIP." Dan Ino bahkan tidak sadar bahwa Shikamaru sedang berdiri di sana berpura-pura memilih di antara bunga yang berwarna putih dan kuning. Mungkin Shikamaru memang seorang penguntit yang berbakat.

"Aku perlu bicara denganmu." Gaara melihat ke sekelilingnya. Matanya bahkan tidak berhenti di Shikamaru, menandakan bahwa lelaki itu tidak mengenalinya. "Tapi bukan di sini."

Ino menaikkan sebelah alis. "Setelah aku melayani orang itu," ia menunjuk ke arah Shikamaru, "mungkin kau bisa bercerita."

"Tidak, tidak. Aku harus bicara sekarang."

"Baiklah ada apa?" Sekarang Ino yang berkacak pinggang.

Dari ekor matanya, Shikamaru melihat Gaara melepas kacamatanya, lalu menunduk ke bawah. Ekspresinya sangat serius seolah-olah ia sedang mengingat sebuah rumus yang sangat sulit dari buku matematika-nya.

"Aku bertambah tua di sini, Gaara." Ino mengetuk-ngetukkan kakinya tidak sabar.

Gaara memberinya pandangan jengkel. "Kau dekat dengan Hinata, 'kan?"

Entah mengapa sebaris senyum jahil muncul di bibir Ino. Ia mengangguk perlahan. "Lumayan. Memangnya kenapa?"

"Aku mau kau jujur padaku."

Senyum tersebut menghilang saat Ino nampaknya sadar betapa seriusnya Gaara. Lelaki itu menatapnya lurus-lurus. Bibirnya menipis.

"Apa aku pernah berbohong padamu?" tantang Ino.

"Kau tahu tentang Hinata dan Sasuke?"

Bahkan kalau saat itu Shikamaru masih duduk di seberang jalan, ia pasti tetap bisa melihat ekspresi wajah Ino yang berubah seratus delapan puluh derajat. Ia berusaha menyembunyikannya sambil tersenyum, namun Gaara sudah terlanjur melihat kegelisahan gadis itu. Ia memang seperti buku yang terbuka.

"Mereka saling membenci. Kau juga tahu itu, 'kan?" katanya sambil berpura-pura kelopak bunga matahari di hadapannya.

"Ino..." Gaara mengingatkan dengan nada mengancam.

"Apa? A-aku tidak tahu apa-apa! Kenapa kau tidak tanya Sasuke saja?"

"Aku tadi ke rumah Sasuke. Sepertinya dia lupa kalau hari ini dia harus bertemu denganku. Kau adalah orang yang dekat dengan Sasuke dan Hinata," Shikamaru memutar mata mendengarnya, "jadi aku kesini."

"Aku tidak tahu apa-apa, Gaara. Dengar, sekarang aku mau makan siang. Mungkin kau mau ikut denganku? Kita bisa membicarakannya sambil makan..." Shikamaru mengumpat di dalam hati. Di situ ia mencoba mengajak Ino makan siang, dan lihat sekarang siapa yang tiba-tiba diajak gadis itu?!

Namun Gaara langsung memotongnya. "Tidak. Aku mau kau jawab sekarang."

Gaara kini sudah berpindah ke sebelah Ino. Mereka berdiri sangat dekat.

"Ini bukan urusanku..." Shikamaru hampir tidak mendengar ketika Ino menambahkan dengan berbisik, "...ini bukan ceritaku. Ini cerita mereka." Seandainya Shikamaru saat itu melihat bahwa bibir bawah Ino bergetar dan air mata sudah muncul di pelupuk matanya, mungkin dia akan langsung mengajak Gaara berkelahi di sana.

"Iya atau tidak?" Gaara menarik napas dalam-dalam. Ia nampak tidak percaya dengan apa yang ia sendiri ucapkan, "Apakah Sasuke bertaruh dengan Hinata supaya dia membuatku...membuatku...jatuh cinta" ia mengucapkan kata cinta dengan nada jijik,"...padanya?"

Ino menggeleng-geleng.

"Jawab!" Ino sudah menangis sekarang, dan ia berusaha mendorong Gaara menjauh dan ingin kabur ke dalam tokonya. Namun Gaara dengan kasar mencengkeram lengannya, membuatnya tetap di tempatnya. Ia mengguncang-guncang tubuh Ino seperti boneka marionette, sementara gadis itu terus menangis. "Jangan nangis! Jawab!"

Saat itulah Shikamaru bertindak.

Gaara tidak siap ketika seseorang tiba-tiba mencengkeram lengannya, menariknya menjauh dari Ino, lalu memukul lengannya hingga membuatnya melepaskan cengkeramannya pada Ino.

"Dia butuh tangan itu untuk merangkai bunganya. Kuharap kau tidak berniat merusaknya."

Gaara yang sedang berada di tengah-tengah amarahnya tidak butuh saran bijak dari orang yang sok tahu. Ia sudah siap mengamuk ketika Ino dengan bingung bertanya, "Shikamaru? Apa yang kau lakukan di sini?"

Saat itu Gaara baru sadar bahwa orang yang sok tahu itu adalah Shikamaru Nara. Orang yang pernah membela Ino di kelas ketika Elise mengejeknya. Matanya berpindah-pindah dari Ino ke Shikamaru. Kemudian dia mengerti.

"Aku tidak berniat melukainya. Aku hanya mau dia jawab jujur. Bisakah kau menjauh sebentar? Urusan kami belum selesai." Gaara pun berbalik dan kembali menyudutkan Ino. "Sekarang, Ino. Iya atau tidak?"

"Dia sudah bilang dia tidak tahu."

Gaara tiba-tiba membentaknya, "Kau tidak tahu apa-apa, jadi tutup mulutmu!"

"Aku tahu lebih banyak darimu, Sabaku. Jauh lebih banyak."

Mereka bertiga mulai memancing perhatian para pejalan kaki. Pria yang berkelahi di tokonya hanya akan menakuti para pelanggan. Setelah mengelap air matanya, Ino pun menenangkan kedua lelaki tersebut dan menyuruh mereka ke dalam, ke ruangan yang ia gunakan sebagai kantor.

Setelah berada di dalam ruangan ber-AC tersebut, Ino menyuruh salah satu pegawainya membawakan dua kaleng cola dingin.

"Apa maksudmu kau tahu lebih banyak?" tanya Gaara sinis.

"Itu artinya kau sesekali harus belajar menutup mulutmu dan mulai memperhatikan dan mendengarkan apa yang ada di sekitarmu. Seperti yang selalu kulakukan."

Ino harus menahan Gaara yang hampir menerkam Shikamaru. "Berhentilah memprovokasinya, Shikamaru!"

"Maaf. Tapi dia yang mulai duluan dengan...lenganmu." Kata terakhir ia ucapkan dengan berbisik. Ia tahu betapa menjengkelkannya dirinya sekarang. Mendadak ikut campur urusan orang lain.

Setelah melemparkan pandangan sebal ke arah Ino, Gaara kembali duduk di kursinya. Untuk berjaga-jaga, Ino berdiri agar ia bisa langsung menahan Gaara kalau lelaki itu kehilangan kontrol lagi.

Pegawai Ino datang membawa dua kaleng cola. Ino memberikan satu-satu kepada dua lelaki yang mendadak jadi tamu di tokonya tersebut. Gaara tidak meminum cola-nya. Ia mengulangi pertanyaannya pada Ino. Kali ini ia bertanya dengan lebih tenang, karena ia tahu ia pasti menakuti Ino dengan wajahnya.

"Aku..." Ino mengamati ujung-ujung sepatu kets-nya, "...itu bukan hak-ku untuk menjawabnya."

Pelipis Gaara berkedut. "Lalu bagaimana dengan kau, Mr. Sok-tahu?"

Shikamaru meneguk cola-nya, lalu menyeringai. "Mengapa kau tidak bercerita pada Yamanaka dulu kenapa kau bisa berasumsi seperti itu soal Hyuuga dan Uchiha?"

Gaara menghela napas, lalu bercerita pada Ino soal Elise Northway yang datang ke rumahnya, menggodanya, lalu bagaimana ia mencari-cari Sasuke. Gaara sengaja tidak bercerita soal pertengkarannya dengan Hinata di bawah hujan. Itu akan menjadi rahasia yang ia dan Hinata bawa sampai mati. Namun ia bercerita soal Elise Northway yang seperti orang gila datang ke rumahnya tadi pagi.

"Aku perlu tahu yang sebenarnya. Kenapa aku selalu jadi yang terakhir tahu?"

Ino mendekati Gaara, lalu duduk di lengan kursinya. Ia menangkup wajah pemuda itu di tangannya lalu menghela napas. "Kau harus bertanya pada Hinata langsung."

Gaara melepaskan tangan Ino darinya. "Sudah."

Dari ekspresinya serta dari fakta bahwa dia hari itu ada di sana, Ino tahu apa jawaban Hinata. Dan tidak perlu seorang jenius untuk menebak bagaimana perasaan Gaara kepada Hinata. Informasi tersebut tidak akan membuat Gaara sibuk seperti ini apabila Hinata tidak berarti apa-apa bagi pemuda itu.

Ino menggigit bibir. Ia selalu benci pada tokoh di drama TV atau telenovela yang mengetahui semua kebenaran tapi tidak punya cukup keberanian untuk memberitahu yang sebenarnya. Ia biasanya melemparkan sesuatu ke arah TV karena kesal. Namun sekarang ia lah yang berada dalam posisi tokoh tersebut. Dan sekarang ia tahu betapa beratnya menjadi orang yang paling tahu.

Ia tahu kebenarannya. Ia juga tahu alasan dibaliknya. Seandainya saja ia bisa menceritakan semuanya ke Gaara tanpa membuat lelaki itu mengamuk, ia pasti akan langsung melakukannya. Tapi ia tahu, kalau ia yang bercerita, Gaara tidak akan pernah mengerti. Harus Hinata atau Sasuke atau mereka berdua yang menjelaskannya pada Gaara.

"Aku tidak akan marah, Ino. Jawab saja." Gaara memejamkan matanya lalu menarik napas dalam. Ekspresi terluka di wajahnya yang sedang mengantisipasi kebenaran saja sudah cukup membuat Ino kembali menangis. Ino tidak akan sanggup memandang Gaara ketika lelaki itu tahu yang sebenarnya.

"Aku tidak tahu, Gaara..." kata Ino dengan nada seperti orang tua yang berusaha menjelaskan kepada anak mereka tentang kematian kucing peliharaan mereka.

"Jawab saja!" Gaara kembali membentak Ino, membuat gadis itu berdiri dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya. Shikamaru berdiri lalu membimbing Ino ke sofa.

"Jangan manja, Sabaku. Kau tahu yang sebenarnya." Shikamaru tidak membentak, namun cara lelaki itu berbicara mengingatkan Gaara pada ayahnya. Tegas namun terkendali. "Northway tidak akan menantangmu dua kali, Uchiha tidak akan begitu sulit ditemui, dan Yamanaka tidak akan menangis seperti ini kalau itu tidak benar. Berhentilah jadi cowok cengeng, dan mulailah belajar menerima kenyataan!"

Shikamaru bisa merasakan kuku-kuku Ino yang tajam tiba-tiba membenam di lengannya. Dia pasti baru saja mengatakan sesuatu yang bodoh, meskipun benar. Tapi bukan salahnya kalau ia muak dengan semua drama picisan ini. Ia muak menjadi satu-satunya orang yang bisa membaca implikasi. Ia juga bosan dengan kombinasi sifat temperamental Gaara dan sikap pemuda itu yang tidak bisa menerima kenyataan. Dia terlihat seperti binatang liar yang mau dikurung di kebun binatang.

"Ino?"

"Kenapa kau tidak diam saja, Shikamaru?" gumam Ino.

"Ino?"

Ino menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak menatap Gaara. Dengan wajah merah, mata sembap, dan hidung berair, gadis itu berusaha menatap si rambut merah lurus-lurus. Dalam hati ia mengutuk Sasuke dan Hinata karena membuatnya berada di posisi ini.

Ia tahu bagaimana perasaan Hinata pada Gaara. Dan meskipun Gaara tidak memberitahunya, namun Ino bisa melihat bahwa Gaara juga merasakan hal yang sama pada gadis itu. Ino juga tahu bagaimana di masa lalu hubungan Gaara dan Sakura. Mungkin Ino adalah satu-satunya teman Gaara yang sangat berharap lelaki itu menemukan gadis baik yang tak hanya ingin bermain-main dengannya.

Ino menemukan dirinya tak sanggup melihat Gaara ketika ia akhirnya berkata, "Ya, Gaara. Itu benar."

Tangisnya pecah karena untuk kedua kalinya Ino menyaksikan temannya yang berambut merah itu patah hati.


Author's Note: Halo, Lawlish! (Ini nama yang saya ciptakan untuk para pembaca Lawless). Senang bisa kembali lagi di FFN setelah kehilangan inspirasi selama berbulan-bulan.

Tapi bohong.

Hahahaha.

Sebenarnya saya sedang mengerjakan project baru yang ber-genre Fantasy/Romance. Mungkin tidak adil untuk Lawless, tapi otak saya memang ga pernah adil bahkan sama diri saya sendiri, huhu. Baiklah, yang penting sekarang saya sudah ada di sini, dan dengan mood Lawless sekarang saya harap saya akan segera bisa menyelesaikan cerita ini.

Tidak terasa 4 tahun sudah lewat sejak pertama kali ide Lawless muncul di pikiran saya. Sebentar lagi kita akan masuk ke adegan yang PALING PERTAMA kali terpikirkan oleh author untuk menciptakan Lawless. Iya, saya kalo nulis cerita yang pertama kali kepikiran bukan awalnya, tapi endingnya...Entah harus senang atau sedih.

Anyway, waktu nulis ini pertama kali saya umur 17 tahun. Sekarang saya umur 21 tahun. Saya sangat sadar kalo bukan hanya saya yang bertambah tua, tapi para pembaca saya juga bertambah tua. Mungkin generasi (ceilah bahasa lo tiff) pertama yang baca Lawless udah pada dewasa dan karena cerita ini progressnya sangat lama, banyak yang tidak membacanya lagi. Terkadang kalo memikirkannya seperti itu saya suka sedih :"

Namun jika di luar sana masih ada Lawlish yang tetap setia membaca dari awal sampai sekarang dan terus mengikuti perkembangan Gaara, Hinata, Sasuke, Ino, dan teman-teman mereka, saya sangat berterima kasih pada kalian dan saya sangat mencintai kalian. Karena hanya dukungan kalianlah yang membuat saya masih tetap menulis sampai saat ini. Terima kasih sudah menemani perjalanan saya dalam membangun dan mengembangkan para karakter di Lawless!

Saya sangat tersanjung dengan jumlah review Lawless yang sudah lebih dari 2k. Ini jauh melebihi ekspektasi saya ketika saya pertama kali menulis cerita ini. Dulu kayaknya kalo dapet 100 review aja udah sujud syukur alhamdulillah WOW WOW banged deh. Sekarang saking banyaknya reviewnya author ampe ga tau lagi mesti bereaksi kayak apa. Saking senengnya sampe semua saraf2 ini malfungsi (duh lebay deh lo tiff). Saya mungkin belum bisa membalas semua review tersebut. Namun karena cerita ini sudah hampir sampai ujungnya, mungkin saya akan mendedikasikan waktu untuk membalas satu2 pesannnya setelah cerita ini tamat. Dan untuk para Lawlish yang tidak log in, saya mungkin akan menulis balasannya di twitter atau blog saya.

Oke sekarang ke cerita. Sebelumnya saya minta maaf karena membuat Hinata dan Ino terkesan sangat cengeng di sini. Saya harap para Lawlish bisa memahami maksud saya disini.

Oh, Sasuke dan Hinata...akhirnya... meskipun masih saling benci, untungnya sudah bisa saling berkompromi. Lagian siapa sih yang bisa melupakan sakit hati setelah dibully sekian lama? Hanya Nabi Muhammad SAW yang mungkin bisa sepemaaf itu. Hinata kita adalah manusia biasa, dia bukan Santa, Dewi, atau Tuhan. Sama seperti Sasuke. Dia cuman manusia biasa, yang mungkin kurang kasih sayang orang tua, dan mengalami sedikit salah paham waktu kecil. Saya harap pembaca bisa memahami itu.

Dan akhirnya Gaara tahu tentang taruhannya...jeng jeng jeng...

Kalo mau tau gimana reaksi Gaara soal taruhan itu...tetap pantengin terus Lawless ya teman-teman! *peluk cium*

Lalu saya masih mempertimbangkan SasuIno dan ShikaIno. Mungkin harus bikin polling lagi karena polling yang waktu itu saya lupa hasilnya (ga ngerti juga sama sistem polling FFN). Anw, saya udah kepikiran akhirnya gimana, tapi apabila teman-teman yang ingin memberi saran atau ide monggo dituangkan aja di kotak review yah *wink*

Okedeh, mungkin segitu dulu saja. Saya harap para Lawlish sekalian menikmati cerita ini seperti saya menikmati menulisnya. Saya harus baca ulang Lawless dari awal loh supaya bisa nulis chapter ini, huhuhu. Semoga kalian juga membaca dari awal dulu sebelum baca yang ini, karena tar feelnya ga dapet lagi kalo ga baca dari awal :")

Akhir kata, terima kasih banyak bagi para Lawlish yang dengan setia mereview, memfavourite, dan memfollow cerita ini (apalagi Lawlish yang melakukan tiga2nya, WOW!). Saya akan sangaaat senang apabila kalian tetap tidak bosan membaca dan memberi masukan atas cerita ini.

Lagipula, review kalian lah yang membuat cerita ini tetap hidup *cium basah*

Sampai jumpa di chapter depan, teman-teman!

xoxo

shiorinsan