Disc:
Naruto: Masashi Kishimoto
High School DxD: Ichiei Ishibumi
.
.
.
Sabtu, 8 Juli 2017
.
.
.
CLOSER
By Kurosaki Kitahara dan Hikasya
.
.
.
Chapter 21. Puncak
.
.
.
"..."
Hening, tubuhnya berdiri dengan tegak dengan kedua kaki yang agak melebar menandakan bahwa ia dalam pose bertarung, raut wajahnya mengeras dengan rambut pirang panjangnya yang bergoyang – sang angin sedang asyik memainkannya, kulit putih bersih berbalut seragam khas ninja membuatnya terlihat tampan dan gagah, tentunya.
Keadaannya mulai berubah saat telapak tangannya yang mulai mengerat dengan sebuah benda tajam bermata tiga dalam genggamannya, tatapannya menajam bersamaan dengan tangannya yang melempar benda tajam itu.
*Swuuuuush!*
Semilir angin berdesir kencang saat sebuah benda tajam bermata tiga itu melaju dengan cepat. Jika diperhatikan lebih teliti, maka akan terlihat sedikit chakra pada benda tajam itu hingga membuatnya melesat dengan sangat cepat.
Terlihat sesosok pria tua dengan kepala bagian kiri yang diperban berdiri tegak di sana, senyum simpul terpapang di wajahnya saat benda tajam bermata tiga itu kini tengah melesat – melaju ke arahnya.
"Heh!"
*Ctraaang!*
Mengeluarkan Kunai dalam sakunya, pria tua itu lalu menangkis Kunai bermata tiga yang melaju cepat itu tanpa bergerak sedikitpun, membuat Kunai bermata tiga itu terpental dan melayang di atasnya.
"Jangan meremehkanku, Minato-kun!"
Pria tua itu tersenyum saat menyadari Kunai yang berada di atasnya kini bersinar – berwarna kuning layaknya sebuah kilat. Dari kilatan kuning itu, muncul seorang pria paruh baya berambut pirang dengan raut wajah yang mengeras serta mata birunya yang menatap tajam pria tua di bawahnya
"Akan kuakhiri sekarang, Danzo!"
Masih berada di udara, telapak tangannya melebar saat sebuah bola Chakra berwarna biru yang terus berputar muncul di sana. Seolah bisa bergerak bebas di udara, tubuhnya melesat cepat ke arah pria tua bernama Danzo itu hendak menghantamkan Bola Chakra itu padanya.
*Blaaarr!*
Ledakan besar terjadi di sana saat Minato menghantamkan Rasengan di tangannya pada pria tua bernama Danzo itu. Tepat setelah ledakan itu selesai, mata birunya kini membulat terkejut saat sosok Danzo yang seharusnya terkena serangan andalannya kini berubah mejadi sebuah batang kayu.
"Sial!"
Mendecih kesal saat telapak tangannya kini menyentuh tanah yang membentuk kawah itu, tubuhnya mulai kembali berdiri dengan pandangan mata yang tak luput dari sekitarnya, genggaman pada Kunai di tangannya pun sedikit dipererat, mencoba bersiaga jika ada serangan mendadak yang mengarah padanya.
"Fuuton : Shinkuuha!"
Agak terkejut saat mendengar sebuah ucapan berupa pernyataan dari belakangnya, membuat Minato menoleh ke belakang – asal suara, mata birunya terbelalak saat puluhan pedang angin kini melesat ke arahnya.
Tidak ingin menerima serangan itu dengan tangan terbuka, Minato mengambil tiga buah Kunai di masing-masing tangannya lalu melemparkannya ke sembarang arah, tak berselang beberapa detik kemudian tubuhnya menghilang dalam kilatan kuning membiarkan puluhan pedang angin itu menghantam tanah yang sebelumnya ia pijak.
'Menarik!'
Batin Danzo bersamaan dengan telapak kakinya yang kembali menyentuh tanah. Ia tetap setia berdiri tegak di sana meski pandangannya mengedar ke berbagai arah, tangannya mengerat saat merasakan sosok yang hadir di belakangnya.
*Ctraaaang!*
Suara dentingan logam terdengar keras di sana saat Danzo membalikkan badannya dan menahan serangan Minato dari belakang dengan Kunai yang berada di genggamannya. Kedua mata mereka bertemu untuk beberapa menit – saling menatap tajam dengan ekspresi wajah yang mengeras.
"Kau terlalu meremehkanku, Minato-kun!"
Danzo mundur beberapa langkah saat kaki Minato mencoba menendang perutnya, matanya sedikit agak membulat saat sebuah Kunai bercabang tiga kini melesat cepat ke arahnya. Tangannya secara reflek langsung melemparkan Kunai di genggamannya ke arah Kunai bercabang tiga itu hingga akhirnya bertabrakan dan menghasilkan suara tajam.
*Ctraaaaang!*
'Sial! Aku hampir lupa jika Kunai itu adalah perantarannya!'
Batin Danzo saat muncul kilatan kuning tepat di atas Kunai bercabang tiga itu, dari kilatan kuning itu muncul Minato yang melesat ke arahnya dengan sangat cepat dengan tangan yang kini menggenggam sebuah kunai.
*Syuuut!*
Danzo menunduk seketika saat Minato mencoba menebas lehernya dengan Kunai digenggamannya. Tak membiarkan kesempatan yang datang padanya pergi begitu saja, Danzo mengarahkan kepalan tangannya pada perut Minato.
*Tap!*
Danzo terkejut saat kepalan tangannya ditangkap dengan mudah oleh Minato, dan lebih dari itu, Minato kini melompat ke atas melewatinya dengan tangannya sebagai penopangnya, hal itu membuat Danzo tak bisa bergerak banyak.
Masih melayang di udara tepat di atas Danzo, Minato lalu mengumpulkan Chakra pada telapak tangannya. Tanpa waktu yang lama, terbentuklah sebuah bola Chakra pada telapak tangannya yang siap ia hantamkan pada Danzo.
"Sekarang giliranku! Rasengan!"
*Blaaarr!*
Debu mengepul di sana saat Minato menghantamkan Rasengan di tangannya ke arah Danzo. Sedikit mencekam dengan debu yang mengepul membuat Minato sulit untuk melihat keadaan Danzo yang sekarang.
"Ti-Tidak mungkin?!"
Debu mulai disapu angin, membuat Minato yang masih berada di sana membelalakkan matanya terkejut saat tak melihat sosok Danzo yang terkena Rasengannya, hal itu membuatnya terkejut pasalnya Danzo tidak akan sempat untuk menggunakan Kawarimi dalam keadaan seperti tadi.
"Tak kusangka aku akan menggunakan Izanagi, kau hebat bisa memojokkanku, Minato-kun!"
Menoleh ke belakang, raut wajah Minato menjadi mengeras saat sosok Danzo tiba-tiba sudah ada di belakangnya entah darimana, mata birunya menajam saat Danzo mulai membuka perban pada tangan kanannya.
'Deg!'
Kembali, Minato terpaksa untuk terkejut saat tangan kanan Danzo mulai terbuka sempurna, memperlihatkan beberapa mata Sharingan yang menempel pada lengan kanannya yang terlihat sedikit agak menjijikkan.
Minato sekarang mengerti, jadi itulah kenapa Danzo selalu menutupi tangan kanannya dengan perban, ternyata di balik perban itu menyembunyikan sebuah lengan yang tertanam beberapa mata Sharingan.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan Sharingan sebanyak itu?"
"Itu bukan urusanmu!"
Minato kembali bersiap siaga saat Danzo kini mulai berlari ke arahnya. Mencoba melompat tinggi ke atas saat Danzo gagal menebas lehernya, Danzo kembali melesat ke arah Minato dengan Kunai yang sudah ia alirkan Chakra.
"Kau tidak akan bisa lolos, Minato-kun!"
'Sial! Aku tak bisa bergerak bebas di udara!"
Waktu seakan bergerak lambat, Minato perlahan menaruh tangan kirinya ke belakang, mengambil Kunai dan melemparkannya ke bawah tanpa sepengetahuan Danzo yang kini sudah tepat berada di depannya.
*Sriiiing!*
Danzo kembali mendecih kesal saat Kunai-nya hampir saja mengenai leher Minato sebelum Minato benar-benar menghilang dengan Hiraishin – jutsu andalannya. Danzo menoleh ke bawah saat merasakan kehadiran Minato yang secara tiba-tiba.
Memusatkan Chakra miliknya pada telapak tangannya, mulai terbentuklah sebuah bola chakra yang kini berada di telapak tangan kanan Minato, tangan kirinya mencoba mencabut Kunai miliknya yang menancap di tanah dan melemparkannya ke arah Danzo yang masih berada di udara.
*Swuuuush!*
*Jleb!*
Danzo tersenyum simpul saat kunai bermata tiga milik Minato menancap di kakinya. Dan lebih dari itu, Danzo menyeringai saat muncul kilatan kuning tepat berada di belakangnya, menampilkan sosok Minato dengan Rasengan yang siap dihantamkan padanya.
"Rasengan!"
Dan, Danzo dipaksa untuk terpental jauh saat Minato menghantamkan Bola Chakra itu ke punggungnya dan dilepaskan begitu saja, begitupun Minato yang mulai mendarat sempurna di tanah.
"Jangan sombong dulu, Minato-kun!"
"A-Apa?!"
Kembali dikejutkan dengan suara Danzo, Minato menolehkan kepalanya ke belakang. Wajahnya kembali mengeras saat melihat sosok Danzo yang dalam keadaan baik-baik saja tanpa ada sedikitpun luka lecet yang berarti.
Ini aneh, sungguh aneh bagi ninja jenius seperti Minato. Ia sudah mengira bahwa Danzo akan kalah saat terhantam Rasengan miliknya tadi, walaupun ia selamat, setidaknya ia dipenuhi dengan luka karena Minato menghantamkan Rasengannya pada titik tertentu.
Tapi apa ini? Danzo yang kembali muncul di belakangnya dengan tanpa luka sedikitpun? Semua ini membuatnya berpikir dengan agak keras.
Sekilas Minato menatap salah satu mata Sharingan yang tertanam pada lengan Danzo. Mata itu perlahan menutup dengan bola mata yang seolah tak lagi mendapatkan cahaya seolah mata itu sehabis menggunakan jutsu yang berbahaya.
Apa yang itu tadi? Itu pasti ada hubungannya dengan Danzo! Dan sesaat setelah mengamati lebih dalam, akhirnya Minato mendapatkan sebuah petunjuk.
"Sudah memahaminya, huh? Sudah kuduga kau itu jenius!"
Ucap Danzo dengan nada sinis. Ia mengangkat tangannya memperlihatkan semua mata Sharingan yang tertanam dengan tidak rapi di sana, hal itu membuat Minato sedikit agak jijik.
"Ya, aku baru saja memahaminya!"
"Kau menggunakan jutsu aneh yang membuat keadaan dimana kau tidak bisa mati, dengan resiko mata Sharingan milikmu menjadi buta, benar, bukan?"
Ucap Minato dengan posisi bersiaga, Danzo yang mendengar penjelasan dari Minato hanya bisa tertawa pelan khas pria tua – tak menyangka Minato bisa mengambil kesimpulan dengan cepat hanya dengan memandang tangannya saja, walau tak semuanya benar.
"Kau tidak sepenuhnya benar Minato-kun, tapi aku cukup terkesan dengan kecerdasanmu!"
Minato kembali mengambil posisi siaga saat kini Danzo melesat ke arahnya dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya Minato secara reflek menunduk saat Danzo mencoba menusukkan Kunai ke arah kepalanya.
Namun belum sempat untuk menyerang balik, wajah Minato mengeras saat salah lutut Danzo mengenai perutnya dengan kuat hingga memaksanya untuk sedikit memuntahkan liur dari mulutnya. Namun diam-diam Minato menyentuh pinggul belakang Danzo mencoba memberi penanda padanya.
"Sekarang! Aku akan mengakhirimu!"
Memutar posisi Kunainya menjadi terbalik, Danzo lalu menghunuskan kunainya ke punggung Minato yang kini masih menunduk akibat hantaman lututnya yang tepat mengenai perut Minato.
"Tidak semudah itu, Danzo!"
Ekspresi Danzo mengeras saat Minato kembali menghilang dengan kilatan kuning saat hampir Kunainya menyentuh punggung Minato. Hal itu membuatnya sedikit agak kesal dipermainkan oleh Minato.
*Sriiing!*
Selang beberapa detik setelah Minato menghilang, Danzo kembali dikagetkan saat muncul kilatan kuning di belakangnya – menampilkan sosok Minato yang muncul tepat di belakangnya.
*Jleebb!*
Belum sempat untuk menoleh ke belakang, Danzo mengerang kesakitan saat Minato menghunuskan kunai di genggamannya dengan tepat di punggung kiri Danzo lalu menendang kuat pria tua itu dengan kunai yang masih menancap di sana.
*Braaak!*
Danzo jatuh tersungkur dan terseret di tanah dalam jarak beberapa meter, luka di punggungnya pun terus mengeluarkan darah yang tidak bisa dibilang sedikit, serta tubuh yang hampir dipenuhi dengan luka lecet akibat terseret di tanah.
Beralih ke Minato. Pria tampan keturunan Namikaze itu masih berdiri tegak di sana tanpa ada niat sedikitpun untuk mendekati Danzo yang terbaring tak berdaya – jauh di depannya, matanya masih mengamati apa yang akan dilakukan Danzo nantinya.
"Sudah kuduga!"
Minato tersenyum simpul saat tubuh Danzo yang terbaring tak berdaya tiba-tiba hilang – lenyap begitu saja tanpa jejak sedikitpun, hal itu membuatnya langsung memutar tubuhnya ke belakang dengan posisi siaga saat tiba-tiba ia merasakan sesuatu di belakangnya.
"Katon :Goukakyou no Jutsu!"
Meski Minato tahu bahwa Danzo akan kembali hidup dengan jutsu misteriusnya, tetap saja Minato kembali terkejut saat kini Bola api yang berukuran besar melesat ke arahnya dengan cepat.
*Swuuuush!*
'Sial! Apa penanda pada tubuhnya sudah hilang begitu saja?!'
Batin Minato dengan raut wajah yang mengeras. Ia tak menyangka penanda yang ia berikan di pinggul belakang Danzo hilang begitu saja, hal itu membuatnya terpaksa melompat ke samping menghindari bola api yang hampir saja mengenai dirinya.
"Sekarang giliranku! Minato-kun!"
Kaget sekaligus terkejut? Mungkin itulah yang dirasakan Minato saat ini ketika Danzo tiba-tiba muncul di depannya dengan kunai yang siap menebas dirinya kapan saja. Dengan cepat, Minato langsung mengeluarkan kunai bermata tiga miliknya dan menangkis serangan fatal Danzo.
*Ctraaaang!*
Suara dentuman logam berdengung keras di sana saat kedua kunai berbeda bentuk itu beradu, Kunai di genggaman Minato terlepas saat Danzo mendorongnya dan melakukan serangan berupa tendangan pada Minato.
Terpental akibat tendangan keras Danzo, pria tampan berambut pirang itu melakukan manuver berupa salto ke belakang dan mendarat ke tanah dengan sempurna. Mencoba berdiri, Minato lalu menatap tajam sosok Danzo yang kini tengah merapal Handseal.
"Katon : Hosenka no Jutsu!"
Selesai merapal Handsealnya, Danzo meniupkan angin dari mulutnya hingga mengeluarkan bola-bola api kecil yang melesat cepat ke arah Minato. Begitupun juga dengan Minato yang kini berlari ke arah Danzo dan menghadapi semua bola-bola api kecil yang melesat cepat ke arahnya.
"Kage Bunshin no Jutsu!"
Merapal Handseal yang simpel, muncul beberapa bunshin di kedua sisi Minato yang juga ikut berlari ke arah Danzo. Mencoba menyunggingkan senyum, Minato beserta semua bunshinnya melemparkan kunai ke arah bola-bola api itu.
Beralih kepada Danzo, pria tua itu kembali tersenyum simpul saat Minato beserta semua bunshinnya dengan nekat menghadang jutsu api miliknya hanya dengan mengandalkan kunai bermata tiga.
*Sriiing! Sriiing!*
Dan ya! Mungkin terlihat mustahil bagi semua orang untuk menghindari bola-bola api kecil yang lumayan banyak itu, namun nyatanya kini Minato perlahan melewati semuanya hanya dengan mengandalkan kunai-kunai yang dilemparkan bunshinnya dan jutsu andalannya – Hiraishin no Jutsu.
"Sudah kuduga dia akan melewatinya dengan mudah!"
Melihat Minato yang terus menghilang dengan kilatan kuning membuat Danzo mencoba berpikir keras bagaimana caranya mengalahkan si kilat kuning yang terkenal akan kecepatannya itu.
"Jangan lengah, Danzo!"
Danzo menghindar ke samping saat Minato mencoba menghunuskan kunai di genggamannya. Tak hanya diam saja, Danzo mencoba menyerang balik dengan menghantamkan kepalan tangannya ke arah Minato.
Sial bagi Danzo, Minato menghindari pukulan tangannya dengan menunduk dan menyerang balik dengan mencoba menendang kaki Danzo hingga membuatnya kehilangan keseimbangannya dan jatuh ke tanah.
*Bruuuk!*
*Pooft!*
"Cih! Dia menggunakan Kawarimi!"
Decih Minato saat tubuh Danzo yang terjatuh tergantikan dengan sebuah balok kayu yang tak berguna. Kembali mengambil posisi siaga, Minato mengedarkan pandangannya mencoba mencari keberadaaan Danzo.
"Di atas!"
Ucapan monolognya seakan memerintahkan Minato untuk menoleh ke atas. Dan benar saja! Kini di udara tepat di atas Minato terlihat sosok Danzo yang tengah merapal Handseal.
"Fuuton: Shinkuugyoku!"
Puluhan peluru angin kini melesat cepat ke arah Minato hendak mencoba melukainya, hal itupun tak bisa dibiarkan begitu saja oleh Minato. Mencoba menekan tenaganya pada tumpuan kakinya, Minato lalu melompat ke belakang menghindari puluhan peluru angin itu.
*Tap!*
Mendarat dengan sempurna di tanah, Danzo kembali melesat ke arah Minato dengan seringai di wajahnya.
*Buuugh!*
Adu pukulan antara Danzo dan Minato pun terjadi. Kepalan tangan Danzo yang awalnya hendak diarahkan ke arah kepala Minato terpaksa berhenti saat Minato menangkapnya dan berbalik menyerang Danzo dengan mencoba menusuk perut Danzo dengan kunai di tangannya.
*Tap!*
Sial bagi Minato. Serangannya gagal saat Danzo menangkap pergelangan tangannya dan memutarnya secara paksa hingga membuat Minato sedikit meringis, Danzo lalu melepaskan kepalan tangannya yang ditangkap oleh Minato dan memukul wajah Minato dengan kuat.
*Duuuaaagg!*
Menatap sinis Minato yang kini terpental akibat pukulannya, Danzo kembali merapalkan Handseal dan kembali menyerang Minato yang belum sempat untuk jatuh tersungkur di tanah.
"Katon : Gokakyou no Jutsu!"
Selesai merapal Handsealnya, muncul Bola Api yang besar dari tiupan mulut Danzo. Bola api itu melesat cepat ke arah Minato yang kini tengah terjatuh tersungkur di tanah akibat pukulan Danzo yang sebelumnya.
*Sriiing!*
"Ba-Bagaimana bisa?!"
Terkejut untuk sesaat, Danzo membulatkan matanya saat muncul kilatan kuning tepat berada di depannya, dari kilatan kuning itu muncul sosok Minato yang kini siap menyerangnya dengan Rasengan yang dialiri Chakra angin di tangan kanannya.
"Itu sudah jelas, bukan? Aku memasang penanda pada kepalan tanganmu saat kau mencoba menghajarku tadi, sekarang giliranku!"
'Sial! Aku lupa itu!' batin Danzo dengan raut wajah yang mengeras.
*Tap!*
"Fuuton : Rasengan!"
Terkejut adalah perasaan yang kini dirasakan oleh Danzo saat Minato menangkap lengan kanannya dan menekannya ke dadanya. Dan tepat setelah itu, ia mengerang kesakitan saat Rasengan Minato menghantam lengannya hingga menembus perutnya dengan kuat seolah mencabik-cabik dirinya, tubuhnya pun terpental saat Rasengan itu terlepas dari tangan Minato dan menyeret dirinya.
*Blaaaar!*
Ledakan terjadi di sana saat Rasengan yang dialiri Chakra angin milik Minato meledak dan mencabik-cabik tubuh Danzo di dalamnya. Kembali mengambil posisi siaga saat ledakan beserta debu yang mengepul itu sirna dengan kawah yang lumayan dalam, Minato kembali dikejutkan saat merasakan sosok Danzo di belakangnya.
"Sialan kau Minato!"
Berbalik ke arah Danzo yang kini menatapnya tajam, ekspresi wajah Minato mengeras saat mendapati lengan kanan Danzo yang awalnya dipenuhi dengan mata Sharingan itu menjadi terluka parah dengan sebagian besar mata Sharingan yang hancur karena Rasengan yang menghantamnya.
"Akan kubalas apa yang telah kau lakukan padaku!"
*Deg!*
Jantung Minato serasa berdegup lebih kencang saat Danzo kini membuka perban yang menutupi mata kirinya, menampilkan sebuah mata Sharingan yang amat berbahaya yang konon memiliki sebuah Genjutsu yang bahkan tanpa disadari oleh korbannya sendiri.
'Gawat! Aku tak menyangka dia memiliki Sharingan itu!'
Batin Minato yang kini mulai bingung saat Danzo berhasil membuka semua perban yang menutupi mata kirinya. Pandangan matanya kini mengarah ke tanah saat Danzo menatapnya dengan tajam.
'Sial! Ini tidak seperti yang kukira! Aku tak boleh menatap matanya!'
"Kau lengah, Minato!"
"A-Apa?!"
*Duaaakk!*
Minato terpental jauh ke belakang saat Danzo tiba-tiba muncul di depannya dengan kaki yang menendang kuat perut Minato, sedikit mengerang kesakitan saat tubuhnya jatuh tersungkur di tanah. Minato mulai bangkit berdiri mengabaikan rasa sakit pada perutnya yang saat ini masih terasa.
"Sial! Dia semakin cepat!"
Decih Minato yang kini telah bangkit berdiri. Sekilas ia melihat Danzo yang menyeringai dan melesat ke arahnya, hal itu membuatnya berjongkok dan memasang tanda pada tanah di pijakannya lalu melompat menghindari serangan Danzo.
"Mokuton : Mokusatsu Shibari no Jutsu!"
'Shimatta!'
Merapal Handseal dengan cepat, muncul akar-akar kayu dari tanah tepat di antara Danzo, akar-akar kayu itu melesat cepat ke arah Minato yang masih di udara, akar kayu itu mengikat dan menghentikan pergerakan Minato sehingga ia kini tidak bisa bergerak bebas.
"Aku tahu kalau kau tidak bisa bergerak bebas, karena satu-satunya kunai yang kau gunakan untuk berpindah tempat kini berada di tanganmu, bukan?"
'Cih! Tak kusangka dia tahu hal itu!'
Batin Minato sambil mendecih kesal. Sedikit mengerang kesakitan saat akar kayu itu melilit tubuhnya dengan kuat terutama pada tangan kanannya yang kini tengah menggenggam kunainya dengan erat.
"Sekarang! Mokuton : Mokuryuu no Jutsu!"
Kembali merapal Handseal, muncul akar kayu yang sangat besar di depan Danzo dan membentuk sebuah naga yang terbuat dari kayu, naga kayu itu melesat cepat ke arah Minato yang kini tersenyum simpul.
'Sudah kuduga, dia terlalu mudah untuk dikelabui!'
Di luar dugaan Danzo, sosok Minato yang awalnya terlilit akar kayu itu kini menghilang dalam kilatan kuning. Matanya membulat sempurna saat hal itu terjadi begitu saja. Pasalnya, bagaimana bisa Minato menghilang dengan menggunakan Hiraishin sedangkan satu-satunya kunai sebagai alat untuk berpindah tempat hanya ada di tangan Minato sendiri?
*Sriiing!*
"Kau terkejut, kan? Danzo!"
Danzo kembali dikejutkan saat Minato kini tiba-tiba muncul di belakangnya dengan kunai yang sudah menempel di lehernya, hal itu membuatnya berpikir keras bagaimana bisa Minato tiba di belakangnya tanpa perantara?
"Kau bingung? Sebaiknya kau lihat saja ke bawah."
Menuruti perintah Minato, Danzo terkejut saat melihat sebuah penanda hiraishin yang menempel di tanah tepat di antara pijakan kakinya, hal itu membuat ekspresinya mengeras.
"Ba-Bagaimana bisa?!"
"Saat aku berjongkok tadi, aku diam-diam memasang penanda di sini, kau tidak menyadarinya, bukan?"
"Sialan!"
*Jraaash!*
Leher Danzo mulai mengeluarkan darah agak banyak saat Kunai yang Minato genggam terasa seperti mengiris lehernya. Danzo lalu jatuh terbaring di tanah sambil memegang lehernya yang berdarah ketika Minato mendorong tubuhnya ke depan, sekilas matanya melirik ke arah Minato yang kini tengah memusatkan Chakranya pada telapak tangannya.
"Si... Sialan..."
"Sekarang tiba saatnya untukmu Shimura Danzo!"
*Swuuush!*
*Blaaaaaarrr!*
.
.
.
Sementara itu, Sasuke dan Naruto bertarung habis-habisan dengan kelompok ANBU NE. Mereka berdua mengeluarkan semua jurus ninja masing-masing untuk melumpuhkan para ANBU NE satu persatu.
"OODAMA RASENGAN!" seru Naruto yang masih dalam keadaan mode Kyuubi, melepaskan jurus ninjanya berupa putaran bola bercahaya biru.
Dengan menggunakan lengan cakra Kyuubi, Oodama Rasengan dihantamkan ke arah beberapa ANBU NE yang menyerangnya. Lantas serangan Naruto mengenai para musuhnya. Para musuhnya pun tewas dalam sekejap mata.
Kemudian perhatian Naruto tertuju pada Riser yang kini datang ke arahnya.
"Sekarang akulah yang akan menghadapimu, Riser!" tunjuk Naruto dengan wajah yang sangat lantang.
"Menarik juga," Riser tersenyum arogan."Ayo, kita mulai sekarang! Tapi, tidak di sini. Kita bertarung di tempat lain."
"Tidak masalah."
Naruto menyanggupi permintaan Riser dan kemudian pergi mengikuti Riser ke sisi hutan yang lain untuk bertarung.
.
.
.
Selanjutnya, pertarungan dilanjutkan oleh Sasuke.
Terjadilah ledakan yang sangat besar ketika Sasuke menggunakan jurus apinya sehingga membakar beberapa ninja jahat itu.
DHUAAAAR!
Puluhan ninja jahat terbakar hebat dalam ledakan itu. Yang masih tersisa, tetap maju dan melawan Sasuke.
Masing-masing menggunakan jurus ninja secara bersama-sama, beberapa ANBU NE mengambil posisi tertentu saat menginjak tanah. Sasuke siap siaga.
'Apa yang akan mereka lakukan?' batin Sasuke yang terus mengaktifkan sharingannya.
WHUUUSH!
Tiba-tiba, dari arah langit, sekawanan gagak terbang dan melesat ke arah kelompok ANBU NE yang tersisa. Kemudian gagak-gagak hitam itu menyerang para ANBU NE itu sampai berubah menjadi api hitam yang membakar tubuh mereka sampai menjadi abu. Api hitam yang merupakan jurus milik Itachi yang bernama...
'Amaterasu,' batin Sasuke yang terkejut lalu melihat ke arah orang yang berdiri di puncak pohon.
Ditelusuri lebih dekat, tampak laki-laki berambut hitam yang sedang berpose dengan kerennya. Senyuman simpul terukir di wajahnya.
'Itachi-aniki.'
Sasuke terpaku lalu menunjukkan senyumnya.
BRUK! BRUK! BRUK! BRUK! BRUK! BRUK!
Mendadak juga, semua ANBU NE jatuh ke tanah dengan ekspresi yang sangat syok. Karena mereka sudah tewas seketika setelah terkena sihir pembunuh yang digunakan oleh seseorang yang datang bersama beberapa orang. Seseorang itu adalah gadis berambut merah yang diketahui adalah Erza.
Erza, duduk di atas sapu terbang miliknya sendiri, masih melayang-layang di udara. Merasa lega karena sudah menolong Naruto dan Sasuke. Killua, Natsu, dan beberapa orang lainnya, merasa senang karena sudah mengalahkan kelompok penjahat bertopeng itu. Sisanya diselesaikan oleh Naruto dan beberapa orang lainnya.
TAP!
Mendarat di tanah dengan mulus, Itachi datang mendekati Sasuke. Sasuke terdiam dan menunggu kedatangan kakaknya itu.
"Kau tidak apa-apa, Sasuke?"
"Ya...," Sasuke mengangguk."Terima kasih karena Aniki sudah menolongku."
"Hn. Itu sudah menjadi tugasku untuk melindungimu."
"Aniki, maaf karena aku selalu menyalahkan Aniki atas kematian ayah dan ibu. Aku sudah tahu kalau Aniki tidak bersalah. Yang salah itu adalah Danzo."
Sasuke menundukkan kepalanya untuk meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya di masa lalu. Itachi memahami itu, tersenyum dan memegang puncak rambut Sasuke.
"Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkanmu. Tidak usah dibahas lagi ya."
"Sekali lagi terima kasih, Aniki."
"Iya."
Itachi mengangguk dan Sasuke tersenyum. Dua kakak-adik sudah kembali akur seperti dulu.
Menyaksikan pemandangan dari atas sana, Lucy dan lainnya menangis terharu, sambil duduk di atas sapu terbang masing-masing kecuali Natsu yang dibawa terbang oleh Happy.
"Sungguh akhir yang bahagia...," ucap Lucy yang menangis sambil tersenyum.
"Hei, belum saatnya akhir yang bahagia!" timpal Natsu yang berapi-api."Kita cari dalang yang menyebabkan malam tiba-tiba datang di siang seperti ini!"
"Oh iya, benar juga," Gray mengangguk dan melipat tangan di dadanya.
"Aku merasakan energinya berasal dari dekat sini. Ini adalah energi dari penyihir yang memiliki kekuatan kegelapan," Erza memunculkan tombaknya di tangan kanannya secara gaib."Aku yang akan melawannya. Kalian tunggu saja di sini."
"Eh? Erza!" Lucy hendak mengejar Erza.
"Tetap di sana, Lucy!" Erza berteriak keras sambil terjun bebas ke bawah sana, menemui penyihir kegelapan yang sedang menunggunya.
Yang lainnya, hanya terpaku menyaksikan pergi. Lucy bergumam pelan dengan ekspresi cemas.
"Semoga kau baik-baik saja, Erza."
.
.
.
Di tempat lain saat ini.
"..."
Sedikit menghela nafas, jari jemari yang kini tengah mengait sebuah kunai tajam mulai mengerat, iris mata Blue-Saphire yang indah itu kini mulai menajam, rambut pirangnya yang bergaya Spike mulai mengalun dimainkan sang angin, tubuhnya yang tegap seakan memberitahu bahwa ia siap untuk bertempur. Tubuhnya tidak dalam mode Kyuubi lagi.
Dan tepat agak jauh di depan remaja berambut pirang tadi, kini tengah berdiri tegak seorang laki-laki yang seorang iblis keturunan Phenex, berambut yang sama pirang dengan remaja tadi, senyum remeh terpapang di wajah arogan si laki-laki yang memang merupakan seorang iblis keturunan Phenex.
"Akan kuhabisi kau, Riser!"
Suaranya yang tajam seakan memberikan tekanan lebih pada pria pirang yang kini berdiri jauh di depannya itu, genggaman pada kunainya kembali mengerat, tatapannya tetap tertuju pada pria itu seolah tak ada hal lain yang membuatnya tertarik untuk dilihat.
"Begitukah?"
Pria yang dipanggil Riser itu hanya tersenyum simpul, menatap remeh sosok remaja di depannya yang kini siap untuk bertarung dengannya, mulai merenggangkan jari-jari tangannya sebagai persiapan untuk memulai pertarungan yang akan dimulai saat ini.
"Tapi tetap saja..."
"Kau akan kukalahkan!"
Tepat setelah menyelesaikan ucapannya yang terakhir, Riser melesat ke arah Naruto, tangannya yang mengacung kedepan dengan dibalut api yang membara telah siap ia hadiahkan pada Naruto yang kini tetap berdiri jauh di depannya.
"Heh..."
Menampakkan senyum simpulnya, jari-jemari Naruto yang awalnya menggenggam erat kunai tajam itu kini mulai melemas dan membuat kunai itu jatuh dan menancap ke tanah. Tepat setelah itu, ia mengambil kunainya yang satu lagi dari sakunya dan melemparkannya ke arah Riser.
'Syuuuut!'
Riser tersenyum remeh, ia terus berlari membiarkan Kunai itu melaju ke arahnya, dan tepat saat kunai itu berada di depannya, ia menahannya dengan tangan yang dibalut api membara itu hingga membuat kunai itu terpental ke atas.
"Kau pikir kau bisa menyerangku dengan pisau itu, HAH!"
"Tentu tidak, bodoh!"
Terkejut? Mungkin itulah yang kini dirasakan Riser, tepat setelah Naruto mengatakan ucapannya yang terakhir, sosoknya langsung menghilang sangat cepat hingga terlihat seperti kilatan kuning, hal itupun membuat Riser mengambil posisi siaga, khawatir jika ada serangan kejutan yang menimpanya.
"Katon : Gokakyou no Jutsu!"
Dan benar saja. Mendongakkan kepalanya ke atas, iblis yang merupakan anak ketiga dari keluarga Phenex itu hanya menatap remeh bola api besar yang kini tengah melesat ke arahnya, hingga akhirnya senyum remehnya hilang seiring dengan api yang kini membakarnya.
Beralih ke Naruto, kakinya mulai menapak ke tanah tepat setelah memberikan serangan yang berarti pada Riser, menatap datar sosok Riser yang kini tengah dilalap api.
"Kau bodoh jika kau melawanku dengan api!"
Sedikit terkejut, Naruto kembali mengambil posisi saat kini, sosok Riser yang tengah berjalan keluar dari kobaran api hasil dari bola api milik Naruto tadi, senyum remeh kembali terlihat di wajah arogan sang Iblis keturunan Phenex itu.
Naruto kembali menjatuhkan satu kunai di bawahnya. Namun saat ia belum sempat untuk mengambil kunai dari sakunya, ia melompat ke belakang menghindari Riser yang kini menyerangnya dengan tangan yang dibalut api.
Riser kembali melesat ke arah Naruto, mencoba kembali melayangkan beberapa serangan ke arah Naruto dengan pukulan apinya, berharap bisa memberi sedikit luka pada Naruto. Sedangkan Naruto hanya bisa terus menghindari serangan Riser walau terkadang sesekali ia menahan serangan Riser dengan kunainya.
"Jangan hanya menghindar saja!"
Mulai muak dengan Naruto yang terus menghindari serangannya, kini Riser berdiri tegak menatap Naruto yang berdiri agak jauh darinya, berkonsentrasi pada tangannya yang mulai muncul bola api besar tepat di atas telapak tangannya.
"Cih, dia main api lagi."
Mendecih kesal, Naruto kembali mengambil sebuah kunai dari sakunya dan langsung melemparkannya ke atas saat Riser yang kini tengah melemparkan bola api itu. Dan tepat sedetik sebelum bola api itu benar-benar mengenai Naruto, sosoknya langsung menghilang dalam kilatan kuning.
"Lambat!"
Merasa sedikit terkejut saat mendengar suara seseorang yang seharusnya terkena serangan bola apinya, Riser langsung menoleh ke atas tepat ke arah asal suara, tatapan matanya menajam saat kini Naruto tengah berada di udara dengan tangan yang tengah menggenggam erat sebuah kunai.
Dengan sedikit Chakra yang ia alirkan pada kunai yang ada di genggamannya, Naruto langsung melemparkan kunai itu ke arah Riser. Kunai itu melesat ke arah Riser dengan cepat mengingat Chakra yang dialirkan Naruto pada kunai itu membuat kecepatannya sedikit bertambah.
"Heh?!"
Riser tersenyum remeh, iblis keturunan Phenex itu tetap berdiri di sana tanpa niatan untuk menghindari kunai Naruto yang kini melesat ke arahnya sedikitpun. Hal itupun membuat Naruto menyunggingkan senyum.
'Dasar bodoh, sifatnya yang suka meremehkan bisa dengan mudah kumanfaatkan!'
Batin Naruto tersenyum simpul saat kini matanya tertuju pada Riser yang tak bergerak sekalipun menunggu kedatangan kunainya yang melesat ke arahnya siap untuk melukainya. Dan tepat beberapa centimeter kunai di saat kunai itu hampir mengenai Riser, Naruto langsung menghilang dengan sekejap dalam kilatan kuning.
"Kau meremehkanku, Phenex!"
Terkejut? Itulah yang kini dirasakan oleh Riser saat Naruto kini muncul di depannya secara tiba-tiba. Secara, Naruto langsung menancapkan kunai di genggamannya ke perut Riser dan menendang iblis keturunan Phenex itu dengan kuat hingga membuatnya terpental ke belakang.
*Duaagg!*
Tak sampai di situ saja, Naruto kembali menghilang dengan kilatan kuning dan kembali muncul di depan Riser yang kini masih terpental akibat tendangannya barusan. Mengambil kunai di sakunya, Naruto langsung menebaskan kunainya ke arah leher Riser, namun sayangnya Riser menahannya dengan lengan kanannya hingga membuatnya merelakan lengan kanannya yang kini telah terpisah dari tubuhnya. Tak berhasil, Naruto mengakhirinya dengan kembali menendang Riser hingga mundur ke belakang.
"Lemah sekali!"
Alis Naruto terangkat sebelah saat tangan kanan Riser yang awalnya telah terpisah kini kembali beregenerasi, sedangkan tangannya yang putus kini menghilang menjadi kobaran api.
'Dia beregenerasi? Menarik.'
Batin Naruto menatap Riser yang kini telah kembali pulih, pemuda pirang itu melompat ke atas saat Riser dengan cepatnya memberikan sebuah serangan kepadanya berupa pukulan yang dialiri api.
Tidak sampai di situ saja, Riser kembali melesat ke arah Naruto, terus memberikan serangan yang berarti kepada Naruto, namun tetap saja Naruto menghindarinya walaupun sesekali ia menahannya dengan kunai yang berada di genggamannya.
"Kisama! Jangan hanya menghindar saja!"
Ucap kesal Riser yang mulai muak dengan Naruto yang terus menghindari serangannya, hingga akhirnya Riser melesat cepat ke arah Naruto lalu memukulnya dari atas, serangan itupun berhasil dan membuat Naruto terpental dan menghantam tanah dengan kuatnya.
*Braaakk!*
Naruto menghantam tanah dengan kuat, matanya terpejam mencoba menahan sedikit rasa sakit menjalar di punggungnya yang menjadi korban dari hantaman tadi, matanya kembali terbuka, sedikit terkejut saat matanya menatap Riser yang siap melemparkannya sebuah bola api yang besar.
"Sekarang! Menyerahlah kau!"
"..."
"Terlalu dini bagiku untuk menyerah!"
Ucap Naruto optimis, masih dalam keadaan telentang sehabis menghantam tanah dengan kuat, Naruto lalu merapalkan Handseal secara cepat, kemudian ia lalu meniup angin dari tiupan mulutnya tepat setelah ia mengucapkan nama Jutsunya.
"Katon : Gokakyou no Jutsu!"
Muncul bola api yang besar dari tiupan mulut Naruto dan melesat ke arah Riser yang kini terbang di udara dengan sayap apinya, begitu pula dengan Riser yang melemparkan bola api yang besar di atas telapak tangannya ke arah Naruto.
*Blaaarr!*
Kedua serangan itupun berakhir dengan kedua bola api yang bertabrakan satu sama lain hingga menghasilkan ledakan yang amat besar dan membuat asap tebal dan menghalangi pengamatan mereka berdua.
Tak disia-siakan oleh Naruto, remaja berambut pirang itu langsung bangkit dan mengambil kunai yang menancap di tanah tepat di sebelahnya, berdiri tegak menatapi asap tebal hasil dari ledakan tadi, sedikit mengalirkan Chakra angin pada kunai di genggamannya, Naruto langsung melemparkannya hingga menembus asap tebal itu.
Beralih ke Riser, iblis Phenex itu masih terbang di udara sembari bersiap siaga jika ada serangan mendadak nantinya, tatapan matanya terus memperhatikan sekitar, hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah kunai yang kini melesat ke arahnya.
"Jangan harap kau bisa menjebakku dengan lubang yang sama, Naruto!"
Ujarnya dengan nada yang meninggi, kunai itu langsung terhempas ke arah yang sebaliknya saat Riser menahannya dengan api miliknya. Tak sampai di situ, Riser melesat ke arah Naruto yang diduganya berada di balik asap tebal itu, ia kembali menampilkan seringainya saat ia siap untuk menghajar Naruto dengan tinju apinya.
*Swuuusshh!*
Dan benar saja, di sana terlihat Naruto yang tengah berdiri tegak dengan jari-jemari tangan kanannya yang menggenggam erat sebuah kunai. Riser terus melesat ke arah Naruto, ia memajukan tinju apinya saat Naruto melempar kunainya, hal itupun membuat kunai itu terhempas ke bawah dan menancap di tanah.
"Naruto, Owari da!"
Dan tepat setelah mengatakan bahwa pertarungan ini berakhir, Riser langsung menghantamkan tinju apinya pada Naruto yang masih berdiri tegak tanpa ekspresi. Debu pun membubung di sana, menutupi keadaan Naruto dan Riser yang berada di balik debu yang menebal itu.
"I-Ini..."
Debu masih mengepul di sana, suara yang agak terpatah terdengar di balik debu yang menutupi keduanya.
"I-Ini?!"
Hingga akhirnya debu yang mengepul itu tersapu oleh angin, mendapati Riser yang kini terkejut dengan tangan yang tengah memukul sebatang kayu hingga kayu itu terbakar karenanya, iris mata Dark-Blue miliknya mulai menajam saat menyadari bahwa dirinya kini tengah dipermainkan oleh Naruto.
"Cih, jangan hanya bersembunyi, Pengecut!"
"..."
Diluar dugaan, muncul kilatan kuning di dekat kunai yang awalnya Riser tahan dengan tinju api tadi, menampilkan sosok seorang remaja pirang dengan bola chakra yang berputar di atas telapak tangannya, tatapan matanya yang biru mulai menajam saat tubuhnya melesat cepat ke arah Riser yang kini membelakanginya dengan tatapan mata yang masih mengamati sekitarnya.
"Rasengan!"
Belum sempat untuk menoleh ke belakang mencoba melihat ke arah asal suara, tubuh Riser terdorong kedepan dengan punggung yang menghantam bola chakra yang kini mencabik-cabik punggungnya, raut wajahnya menggambarkan kesakitan saat tubuhnya terpental terbawa bola chakra itu.
*Blaarr!*
Bola chakra itu meledak dan terus mencabik-cabik tubuh Riser di dalamnya. Jauh di sana, sang pemilik bola chakra yakni Naruto hanya berdiri tegak menatap datar sosok Riser yang tengah menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Selesaikah?"
Ledakan itu memadam, membiarkan debu-debu yang mengepul menutupi apa yang ada di baliknya, Naruto kembali mengambil posisi, bersiap siaga jika nanti Riser kembali menyerangnya secara mendadak.
"Kisama..."
Suara geraman itu terdengar jelas di rongga telinga Naruto, suara geraman yang membuat orang takut mendengarnya, suara itu masih kembali terdengar di telinga Naruto seperti desir angin.
"Kisama!"
Naruto mengulas senyum saat Riser muncul di balik debu-debu yang mengepul itu, melesat ke arahnya dengan tinju api miliknya, tubuhnya yang agak berantakan kini mulai kembali beregenerasi namun agak lambat.
'Sudah kuduga ia akan beregenerasi, tapi tunggu, kecepatan regenerasinya melambat?'
Batin Naruto saat melihat Riser yang masih beregenerasi, meninggalkan kunai yang kini dijatuhkannya secara diam-diam, pemuda pirang yang seorang ninja itu melompat ke atas saat tinju api Riser mencoba mencapai kepalanya.
"Kena kau!"
Riser menyeringai kejam, melihat pergerakan Naruto yang terbatas mengingat ia tak bisa bergerak bebas di udara, Riser lalu melesat ke arah Naruto dengan sayap apinya berniat kembali menghajar si pirang itu dengan tinju apinya, namun...
"Heh..."
Pemuda berambut pirang itu mengulas senyum miring, Naruto secara tiba-tiba menghilang dalam kilatan kuning saat ia benar-benar hampir mengenai tinju api Riser, hal itu sontak membuat Riser terkejut, pasalnya bagaimana bisa ia bisa menghilang secara tiba-tiba dengan Timing seperti itu?
*Sriing!*
Di luar dugaan, Naruto kini muncul tepat di samping kunai yang awalnya ia jatuhkan sebelum ia menghindari serangan Riser tadi, matanya menajam saat Riser kini tengah membelakanginya dari atas. Hal itu tidak disia-siakan Naruto, mengambil kunainya yang jatuh di tanah, ia langsung melesat cepat ke arah Riser.
"Dimana kau Bangsat-"
*Craaassh~!*
Iris mata Dark-Blue itu membulat sempurna saat perutnya kini menembus sebilah pisau khas ninja, menoleh ke belakang, wajahnya mengeras saat kini matanya bertatapan langsung dengan Naruto yang kini menyeringai padanya.
"Aku tahu kalau ini tidak akan melukaimu."
Tidak sampai di situ, merasa belum puas hanya dengan menancapkan sebuah kunai pada lawannya, Naruto lalu menyatukan kedua kepalan tangannya, dengan sekuat tenaga, Naruto hantamkan kedua kepalan tangannya ke kepala Riser hingga membuatnya terpental ke samping untuk jarak beberapa meter.
*Braak!*
Riser menghantam tanah dengan kuat, tubuhnya terseret di tanah dengan jarak beberapa meter, tubuhnya dipenuhi dengan luka lecet hasil dari gesekan tubuhnya dengan tanah, namun meskipun begitu, Riser hanya menampilkan sederetan gigi putihnya yang kini bergesekan secara kasar.
"Ugh... Sudah Cukup!"
Riser mulai bangkit, ekspresinya tertutupi dengan rambut pirangnya, luka-luka lecetnya pun kini mulai kembali beregenerasi, mencabut kunai yang menancapnya dari belakang lalu membuangnya sembarang arah, kedua tangannya terkepal erat, menghasilkan tinju yang dibalut api yang membara seiring dengan sayap apinya yang kini berkobar.
*Tap!*
Kembali mengambil posisi saat telapak kakinya mendarat sempurna di tanah, Naruto lalu merapalkan Handseal saat Riser kini melaju cepat ke arahnya, namun belum sempat untuk menyelesaikan Handseal, Naruto terpental kuat ke belakang saat tinju api milik Riser tepat mengenainya.
Terseret beberapa meter di tanah, membuat Naruto sedikit meringis, luka-luka lecet menghiasi tubuhnya berkat gesekan dengan tanah yang kasar, matanya menajam menatap Riser yang kini siap melemparkannya dengan dua bola api yang besar di kedua tangannya.
"Sebaiknya kau mati saja, Naruto!"
Mengatakannya keras dengan nada yang tinggi, Riser lalu melempar kedua bola api itu ke arah Naruto secara bergantian, sementara Naruto hanya tersenyum simpul saat kedua bola api itu kini melaju ke arahnya, tangan kanannya mencoba melempar sebuah kunai dari sakunya ke arah kedua bola api itu mencoba menembusnya, sementara ia melompat ke belakang atas menghindari kedua bola api milik Riser.
"Kena kau!"
Riser menyeringai kejam, seperti yang sudah ia duga, Naruto tidak akan pernah menghadapi serangan apinya secara langsung, Naruto lebih memilih menghindari serangannya daripada menahannya.
Melihat Naruto yang tak bisa bergerak bebas di udara membuat Riser kembali membuat bola api besar di kedua tangannya, melemparkannya ke arah Naruto diikuti dengannya yang juga melesat ke arah Naruto mencoba memberikan serangan beruntun pada si pirang itu.
"Dasar bodoh..."
*Sriiing!*
Tak menyadari sosok Naruto yang menghilang akibat bola api miliknya sendiri yang menghalangi penglihatannya, membuat Riser tak sadar bahwa kini Naruto tengah berada di tanah tepat berada di belakang bawahnya dimana kunai Naruto berhasil menembus bola api milik Riser.
"Iblis bodoh macam apa yang terus masuk ke dalam lubang yang sama?"
Mendengar ucapan yang sedikit mengandung ejekan membuat Riser menoleh ke belakang, matanya kembali membulat saat Naruto kini melaju ke arahnya sambil melemparkan beberapa kunai yang mengapit di sela-sela jarinya, hal itu membuat Riser sedikit meringis saat beberapa kunai itu menembus punggungnya.
*Craaasss!*
"Ba-bagaimana bisa?"
"Kau bodoh, karena itulah kau lemah."
Setelah berhasil menggapai tubuh Riser, pemuda berambut pirang itu menarik kedua lengan Riser ke belakang secara paksa hingga sedikit terdengar bunyi gemeletuk ngilu, kemudian Naruto melemparkan tubuh Riser ke bawah membuat si iblis Phenex itu meringis kesakitan saat tubuhnya menghantam tanah dengan kuatnya.
*Boofft!*
Melakukan Handseal sederhana, muncul tiga bunshin di belakang Naruto. Masih berada di udara, ketiga bunshin itu langsung membuat bola Chakra saat Naruto memberikan telapak tangannya ke arah mereka bertiga.
"Sekarang bersiaplah, Riser!"
Ucap Naruto dengan nada yang meninggi, ketiga bunshinnya menghilang sesaat setelah bola Chakra di telapak tangannya berubah menjadi sebuah Shuriken berwarna putih yang terus berputar, suara putarannya pun terdengar jelas di telinga membuat siapa saja merinding membayangkan bagaimana hasilnya jika serangan itu mengenai sesuatu.
"Ugh..."
Masih meringis kesakitan, Riser lalu membuka matanya, wajah arogannya berubah menjadi terkejut saat matanya beradu dengan iris mata Blue-Saphire yang menatapnya tajam, terlebih pada sebuah Shuriken besar berwarna putih di telapak tangan Naruto yang terus berputar dengan suara yang nyaring.
"Sekarang saatnya-"
"-Rasenshuriken!"
"Tidak akan kubiarkan!"
Dengan sekuat tenaga, Naruto langsung melemparkan Rasenshuriken itu ke arah Riser yang masih terbaring terlentang di tanah, tak ingin mati muda, Riser pun lalu membuat bola api yang besar di kedua telapak tangannya lalu ia hempaskan ke arah Rasenshuriken milik Naruto berharap bisa menghentikan serangan si lawan.
"Percuma saja!"
Di luar dugaan, Riser membulatkan matanya terkejut menatap bola apinya terbelah menjadi dua bagian saat bertabrakan dengan Rasenshuriken milik Naruto, ia hanya menatap pasrah Rasenshuriken milik Naruto yang kini melesat cepat ke arahnya dengan suara yang nyaring memasuki rongga telinga.
*Blaaaaaaarrrr!*
"..."
Pada akhirnya, sang ketua kelompok jahat musnah dari dunia ini. Serangan Naruto meledakkan tubuhnya tanpa menyisakan apapun lagi.
Kini kesunyian di tengah kegelapan, yang menemani Naruto. Naruto berlutut di tanah dan tersenyum. Kedua bahunya naik-turun. Tercetak keletihan yang melekat di wajahnya kini.
"Selesai juga... Aaaah... Aku capek..."
Katanya sambil menghelakan napas panjangnya.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Hai, saya balik lagi dan menghadirkan chapter 21 ini.
Terima kasih buat Kurosaki Kitahara yang sudah mau membantu adegan battle Minato vs danzo dan Naruto vs Riser.
Maaf merepotkanmu.
Dan terima kasih banyak yang sudah mereview fic ini.
Sabtu, 8 Juli 2017
