Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
.
.
Peringatan...!
Sejak awal fic ini sudah di beri rate M, jika terdapat hal aneh-aneh di dalamnya, author sudah memberi peringatan, meskipun hanya sedikit tapi harus ada peringatannya ya XD
.
Don't Like Don't Read
.
~ Stay With A Murderer~
[chapter 20]
.
.
.
Dua bulan berlalu, aku sama sekali tidak mendengar berita apa-apa, bahkan Sasuke dan kak Itachi tidak mengabariku, mereka seperti menghilang begitu saja. Aku jadi khawatir, bagaimana keadaannya sekarang? Sebelumnya, mengingat kembali saat aku membawa bukti itu ke ruangan pak Yahiko, Kak Itachi dan pak Yahiko melihat semua hal yang terjadi di file video itu, mereka sangat terkejut, di dalam video yang kami lihat, Sasuke tidak benar-benar membunuh wanita itu, wanita itu sengaja menyemprotkan sesuatu ke wajah Sasuke untuk membuatnya pingsan, membuat seakan-akan Sasuke menusuknya, padahal, dia sendiri yang menusuk perutnya dengan menggunakan tangan Sasuke yang tengah pingsan, ini kejadian yang konyol, aku rasa wanita itu sudah merencanakan hal ini, wanita itu rela berbuat apapun untuk menyingkirkan Sasuke. Kami mendengar percakapan mereka jika dia hanya mencintai kak Itachi, wanita yang gila, dia bahkan mendekati kakek Madara hanya untuk uang dan kedudukan tertinggi, dia memang pantas untuk di hukum.
Setelah melihat video itu, kak Itachi sangat berterima kasih padaku, dia bisa menyeret wanita itu ke penjara, dia akan segera membebaskan Sasuke. Yaa, aku pikir setelah kejadian di hari itu, aku akan segera bertemu Sasuke, nyatanya, ini sudah dua bulan berlalu dan aku belum bertemu dengan Sasuke, bahkan ponselnya masih tidak bisa ku hubungi.
"Sakura, kau melamun, apa makanan di restoran ini tidak enak?" Tanya Ino padaku. Saat ini kami, aku, Ino, Naruto, dan Sai telah makan malam bersama, akhirnya bisa berkumpul lagi dengan Sai, dia lebih sibuk dari Naruto.
"Ah, tidak kok, makanan di sini enak." Ucapku. Aku terlalu sibuk memikirkan Sasuke.
"Kau akan kerasukan jika melamun terus." Ucap Naruto, dia hanya berbicara konyol.
"Jika aku kerasukan, kau duluan yang akan ku cekik." Ucapku pada Naruto.
"Kau jahat sekali." Ucapnya.
"Uhm, Ino." Panggil Sai.
Aku dan Naruto yang tadinya ribut menjadi diam saat mendengar Sai memanggil Ino. Ada apa ini? aku merasa ada sesuatu yang ingin di katakan Sai, wajahnya pun terlihat serius dan atmosfir di sekitar Sai terasa berbeda.
"Iya?" Jawab Ino.
"Maukah kau menikah denganku?" Ucap Sai, to the point.
Naruto menyemburkan air minumnya, untung saja bukan ke arahku dan ke arah yang lain, aku juga merasa sedikit terkejut, Sai tiba-tiba melamar Ino di hadapan kami, kenapa dia tidak bisa romantis sedikit, setidaknya ucapkanlah saat hanya kalian berdua saja yang bersama, membuatku iri saja.
"He? Me-menikah?" Ucap Ino, wajahnya sudah merona dan dia merasa sedikit gugup. Aku pikir Sai akan ancang-ancang dengan menyatakan perasaannya dan mereka akan pacaran, tapi yang ku pikirkan tidak sesuai, Sai lebih memilih melamar Ino langsung.
"Sai, apa ini tidak dadakan? bahkan kalian belum pacaran." Ucap Naruto.
"Aku ingin pacaran jika sudah menikah, dengan begitu Ino akan tahu jika aku tidak main-main dengannya." Ucap Sai, santai.
Yaah semestinya semua pria harus bersikap seperti Sai, dia pria yang bertanggung jawab. Wajah Ino semakin merona, Sai ini pria yang blak-blakan juga bahkan dia mengatakan hal seperti itu di depan Ino.
"Kau belum menjawabnya Ino." Ucap Sai. Dia masih menunggu jawaban dari Ino. Ino terdiam cukup lama, dia seperti tengah berpikir untuk mengatakan iya atau tidak.
Menikah adalah hal yang cukup rumit, kau harus membina rumah tangga, saling menghormati dan menghargai pasangan. Aku rasa ini adalah hal yang sakral dan merupakan hal yang baru bagi Ino, dia terlihat menimbang-nimbang masa depannya kelak, dia akan bersama Sai selamanya. Aku tersenyum dan memegang bahu Ino, dia menatapku dan merasa ini sulit di percaya, aku mengangguk pelan padanya. Aku rasa ini adalah kesempatannya, kesempatan yang sudah sangat lama di tunggu Ino.
"I-iya, aku mau." Ucap Ino, malu-malu.
Sai tersenyum dan mengambil sesuatu dari saku jasnya, sebuah kotak kecil, di dalamnya ada cincin perak dengan hiasan sebutir berlian biru langit yang di pasangkan di jari manis Ino.
Naruto bersorak dan aku turut senang, hari ini terasa dua kali lipat menyenangkan, Ino dan Sai akan segera menikah. Akhirnya apa yang di ingin Ino dan Sai terwujud.
"Aku pikir kau tidak akan menyatakan perasaanmu Sai." Ucapku.
"Aku menunggu waktu yang tepat. " Ucap Sai, dia percaya diri sekali dan sangat sulit di tebak.
Makan malam kami berakhir, aku sudah tiba di rumah, Naruto yang mengantarku, aku pamit dan berterima kasih padanya. Dia kembali menjadi temanku yang baik. Haa..~ rasanya lelah sekali, aku ingin segera beristirahat, membuka pintu rumahku dan menyalakan saklar lampu.
Kaget!
Apa pria ini tidak pernah bosan membuatku terkejut terus. Dia beranjak dari sofa dan berjalan ke arahku. Rasanya jadi canggung, kami bertemu kembali, aku jadi sedikit malu padanya, tapi aku juga marah padanya yang tidak mengabariku selama ini, menatap wajahnya dan dia terlihat sangat tenang.
"Apa uhm.. apa semuanya sudah selesai?" Tanyaku. Aku jadi gugup.
"Hn." Aku tahu itu kebiasaannya, semacam kata pengganti 'iya'.
"Apa Kau sudah bebas?"
"Hn."
"Apa kakekmu tidak marah lagi."
"Hn."
Perasaanku jadi lega mendengar dia menjawab semua pertanyaanku yang sudah sangat lama ingin aku tanyakan padanya.
"Ba-baiklah, aku mau istirahat dulu." Ucapku. Kenapa jadi seperti ini? Aku berjalan santai melewatinya, tapi sebelum langkahku menjauh darinya, dia menarikku membuatku berbalik dan berhadapan dengannya.
"Apa tidak ada ucapan selamat datang untukku?" Ucapnya, dia merasa sedikit kesal dengan sikapku tadi.
"Tidak ada, aku marah padamu yang tidak memberi kabar." Ucapku, memalingkan wajah darinya, aku sedang tidak sudi menatapnya.
"Uhm, aku hanya ingin benar-benar selesai dan bisa menemuimu langsung. Apa tidak boleh seperti itu?" Ucapnya, dia tengah membela diri.
"Apa kau tidak punya ponsel satu pun? Bahkan nomermu yang dulu sudah tidak bisa di hubungi." Aku merasa kesal dengan nomer itu yang hanya menjawab nomer yang sedang anda tuju tidak dapat di hubungi.
"Oh, maaf, saat itu aku kedapatan menggunakan ponsel dan kakek segera membuang ponsel itu." Ucap Sasuke.
"Kakekmu sungguh menyebalkan." Ucapku. Gampang banget membuang ponsel seperti itu, semacam membuang krikil di jalan raya.
Sasuke menarikku lebih dekat dan memelukku erat.
"Aku merindukanmu." Ucapnya.
Malunya, bahkan hanya dengan ucapan seperti itu membuatku sudah deg-degan dan serasa ingin meleleh. Aku membalas pelukkanya, aku menunggu saat ini, dimana kami akan bertemu kembali tanpa harus ada yang terlibat dalam masalah.
"Apa mulai sekarang kita bisa bertemu lagi?" Ucapku.
"Hn, jika kau ingin bertemu, aku akan mendatangimu." Ucapnya.
Aku merasa sangat senang dengan hal ini, aku melepaskan pelukkannya dan menatap Sasuke.
"Apa boleh aku mengajakmu ke pernikahan Ino?" Tanyaku.
"Oh, jadi temanmu itu akan segera menikah, biar ku tebak, apa pria yang berwajah topeng itu?" Ucapnya. Pikiranku tentang dia penyihir itu pasti benar, bahkan tebakannya tepat sekali.
"Sudah ku katakan, namanya itu Sai. Tapi dari mana kau bisa tahu?"
"Hanya menebak saja, aku bisa membaca situasi antara mereka saat liburan dulu." Ucapnya, dia sangat pandai membaca keadaan.
Hening beberapa saat, aku sendiri bingung harus berbicara apa lagi dengan Sasuke.
"Apa kau akan pulang?" Tanyaku, ini sudah sangat malam, apa Sasuke tidak berniat pulang.
"Tidak? aku akan menginap di rumahmu, aku sudah minta ijin pada kakek dan kakak ku." Ucapanya.
Aku segera mengambil langkah mundur dan menjauh dari Sasuke. seorang wanita dan pria hanya berdua di dalam rumah itu tidak baik, lagi pula kami sudah mempunyai status, biasanya mereka akan melakukan hal yang...tidak, tidak, aku tidak mau memikirkan hal itu. Meskipun dulu memang kami tinggal serumah tapi, saat itu kami tidak ada hubungan apa-apa dan bahkan kami selalu berantem dengan masalah sepeleh.
"A-awas saja kalau kau macam-macam padaku, aku akan memukulmu." Ancamku. Meskipun kami sedang pacaran, tapi aku tidak ingin kami melakukan hal aneh, cukup saat dia membuat kissmark, hanya itu, aku tidak ingin dia menjadi di luar kendali dan melakukan yang tidak-tidak, aku tahu dia seorang pria normal dan dia pasti ingin melakukannya, tapi ini belum saatnya.
"Kau takut padaku?" Ucapnya, tatapannya berubah menjadi sebuah seringai. Ini sangat buruk, aku tidak ingin mendekatinya.
"S-Sasuke, aku benar-benar tidak suka hal ini." Ucapku.
Dia segera menutup mulutnya dan menahan tawanya. Ini sungguh menyebalkan, lagi-lagi dia hanya menggodaku.
"Ahk, menyebalkan!" Ucapku, aku merasa sangat kesal di buatnya. Berbalik dan berjalan ke arah tangga. Pergerakanku lagi-lagi terhenti. Sasuke memelukku dari belakang
"Tunggu, ini belum selesai, aku ingin meminta suatu padamu." Ucapnya.
"A-apa?" Ucapku gugup.
"Tenanglah, kita akan baik-baik saja, aku janji." Ucapnya.
Dia harus memegang janjinya, jika tidak, aku sudah menyiapkan tongkat di samping ranjangku, jika dia macam-macam, aku akan langsung memukulnya. Sasuke ingin tidur sekamar, aku sudah selesai mandi dan dia sudah berbaring di kasur, ah rasanya nyaman sudah mandi, aku sudah sangat lelah dan ingin tidur. Aku jadi gugup, ini untuk pertama kalinya ada pria yang tidur seranjang denganku. Memang kami saling mencintai tapi aku tidak bisa menyerahkan diriku begitu saja jika hubungan kami bukan dalam sebuah pernikahan. Melihat ke arah Sasuke yang berbaring membelakangiku, apa dia sudah tidur? Tapi cepat sekali, aku hanya mandi beberapa menit dan dia sudah menghilang.
"Sasuke, apa kau sudah tidur?" tanyaku.
"Belum, aku hanya sedang berpikir." Ucapnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanyaku. Naik ke atas ranjang dan duduk di sana. Dia berbalik dan menatapku. Aku belum berbaring dan duduk di sampingnya.
"Aku ingin ke rumah orang tuamu lagi, apa kau bisa minta ijin pada direkturmu?" Ucapnya.
"Ke rumah orang tuaku? untuk apa?" Tanyaku, untuk apa ke sana? Bukannya dia sudah pernah pergi.
"Hanya ingin mengulang perkenalan saja." Ucapnya.
"Dasar kau ini, padahal kau bisa melakukannya nanti saja." Ucapku.
"Tidak, aku ingin segera bertemu mereka." Ucap Sasuke, dia terlihat serius.
"Baiklah, jika kau ingin bertemu mereka, aku juga ingin memperkenalmu secara resmi." Ucapku, malu-malu.
"Oh iya, satu hal lagi, sebelumnya aku harus membawamu ke kakekku." Ucapnya.
"Aku jadi takut." Ucapku, aku belum mengenal kakek Madara sepenuhnya, terlalu banyak pikiran negatif yang terlintas di kepalaku jika menyangkut kakek Madara.
"Tidak apa-apa, kakekku sebenarnya orang yang baik." Ucap Sasuke, dia berusaha meyakinkanku.
Aku harus percaya pada Sasuke, jika kakek Madara adalah orang yang baik, aku hanya takut bertemu dengannya, aku kan yang selama ini menyembunyikan cucunya, bahkan tanpa sadar pun aku sudah ikut campur dalam masalah keluarganya, bisa saja dia marah besar padaku. menghela napas, aku akan berlindung pada Sasuke saja. Segera berbaring dan menyamankan diriku, aku lelah dan ingin tidur, Sasuke sudah berbalik pada posisinya tadi, dia membelakangiku, aku bisa memandang punggungnya yang lebar, terasa akan sangat nyaman bila aku di dekat punggungnya, tanpa dasar aku semakin dekat dan tepat berada pada punggunggnya. Tubuh Sasuke membuatku merasa nyaman, parfum apa yang di pakainya sampai membuatku tergoda seperti ini.
"Sakura?" Sasuke menyadarinya, aku pikir dia sudah tidur, tapi aku tidak ingin menjauh, aku ingin berada di sisinya lebih dekat seperti ini.
"Apa aku mengganggu?" Tanyaku Hati-hati, aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman.
"Tidak." Ucapnya.
Sasuke berbalik menghadapku dan tatapan kami bertemu, dia mencium keningku dan mendekapku. Aku rasa tidak akan bangun jika tidur di dekatnya. Menutup mataku dan berharap aku tidak telat besok paginya.
"Sakura." Uhm? Sasuke kembali memanggilku. Kenapa dia tidak tidur?
Mataku terasa berat dan aku sangat ngantuk, membuka mataku perlahan dan terkejut dengan Sasuke yang sudah menindihku. Dia menatapku seperti menginginkan sesuatu.
"Sasuke? A-ada apa?" Ucapku, Aku merasa Sasuke sedikit aneh, aku benar-benar tidak ingin melakukannya sekarang.
"Aku tidak bisa menahannya Sakura." Ucap Sasuke.
Tanpa aba-aba lagi, dia menciumku, menciumku dengan cukup kasar, aku bisa merasakan dia menggigit bibirku dan mencoba memasukkan lidahnya. Ya ampun Sasuke, ini tidak benar, berusaha mendorongnya tapi tenagaku tidak kuat, seakan-akan tubuhku melemah, ada apa ini? Sasuke menjadi liar. Aku sudah kehabisan napas dan berusaha memberontak, Sasuke melepaskanku, akhirnya aku bisa bernapas.
"Sasuke, hentikan~" Ucapku, napasku tidak karuan, aku sudah tidak kuat jika dia menyerangku lagi.
Tidak ada ucapan darinya, dia kembali menciumku dan tanpa sadar bagian bawah kami sudah sama-sama polos, di mana Sasuke membuang celana dalamku, astaga! Aku sudah semakin takut dan panik, ciuman itu semakin memanas dan aku merasakan ada sesuatu aneh yang terjadi di bawahku, Sasuke mencoba memasukkan sesuatu, tunggu! Apa yang Sasuke mau masukan! Ciumannya terlepas dan membuatku bisa bernapas lagi.
"Sasuke, jangan! Hentikan ini! aku tidak mau, ahk!" Pekikku. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi, rasanya sedikit pusing dan membuatku tidak bisa berpikir jernih lagi, Sasuke menggoyangkan tubuhnya di atas ku. Ini tidak benar, ini sungguh salah, aku pikir dia akan tetap bertahan.
"Shassukkee, berhen ahhk berhenti...~" Suara aneh lagi. Kenapa suara itu tidak bisa berhenti keluar!
"Se-sedikit lagi Sakura~" Suaranya terdengar seksi. Tubuhnya semakin merapat pada tubuhku dan bagian di bawah sana terasa lebih cepat lagi. Sasuke mengangkat wajah dan kembali dia menciumku dengan penuh napsu. Rasanya akan ada sesuatu yang meledak di bawah sana.
"Sassukeeh.. ahk, aku.. aku.."
Plak-plak-plak
Rasanya ada yang menampar-nampar pipiku, aku segera membuka mataku dan yang ku lihat adalah wajah Sasuke yang terlihat cemas.
"Akhirnya kau bangun." Ucapnya. Aku melihatnya menghela napas tadi.
Ah? Apa? Aku tertidur, aku segera bangun dan menjauh dari Sasuke. melihat keadaanku yang baik-baik saja dan bahkan Sasuke melihatku dengan wajah kebingungan. Ja-jadi yang semalam, aku segera bernapas lega, semalam hanya mimpi. Syukurlah, eh? Kenapa aku bermimpi seperti itu? Melihat jam di dinding, ini sudah pagi, aku tertidur dengan nyenyak. Aku harus berterima kasih pada Sasuke yang sudah membangunkanku dari mimpi buruk. Apa itu termasuk mimpi buruk. Iya, itu sangat buruk bagiku.
"Ada apa? Apa kau belum sadar? Kemarilah, biar pipimu ku tampar lagi" Ucapnya, kenapa dia jadi terkesan jahat seperti itu, seenaknya ingin menamparku lagi.
"Ti-tidak usah! Aku sudah sadar.." Ucapku, bahkan sudah menjadi pacar pun dia masih kasar.
"Tadi kau mengigau dan terlihat gelisah, makanya aku memaksamu bangun." Ucap Sasuke, aku melihat ke arahnya, wajahnya merona, kenapa wajah Sasuke merona?
"Me-mengigau, hahaha, mana mungkin aku jarang seperti itu saat tidur." Ucapku. Demi apa! Apa yang sudah ku ucapkan tanpa sadar. Ja-jangan-jangan.
"Kau mimpi apa sampai seperti itu?" Ucap Sasuke, dia seperti sedang menahan tawanya.
"Bu-bukan urusanmu." Ucapku kesal, mana mungkin aku mengatakan jika aku memimpikan hal yang tidak senonoh dengan Sasuke, melakukan ini dan itu hingga membuatku merinding sendiri.
"Apa kau tidak mau tahu apa yang kau ucapkan saat tidur?" ucap Sasuke, dia membuatku penasaran. Aku rasa sebentar lagi tawanya akan meledak.
"Memangnya apa yang ku ucapkan?" Ucapku, aku merasa tidak enak sekarang.
"Kau uhm, apa kau sudah siap mendengarnya?" Ucapnya. Dia semakin menahan tawanya.
"Ka-katakan saja." Ucapku, dia terlalu banyak basa-basi.
"Baiklah, Kau, kau mendesah sambil meneriaki namaku." Ucapnya. Sasuke segera menutup mulut untuk menahan tawanya, wajahku sudah sangat merona, mimpi itu sungguh menyebalkan, bahkan aku sampai mengigaukannya. Pantas saja wajah Sasuke merona.
"A-aku tidak tahu apa-apa. Itu juga bukan keinginanku, sungguh." Ucapku, malu, malu banget, rasanya mau melompat ke jurang saja, Sasuke pasti berpikir aku gadis yang tidak-tidak, bahkan mengigau sevulgar itu.
Sasuke masih tertawa dan membuatku kesal, aku memukul bahunya agar berhenti menertawakan hal konyol itu. Pukulanku berakhir saat Sasuke memeluk erat.
"Aku sudah janji padamu dan aku masih bisa mengendalikan diri." Ucap Sasuke. Aku jadi semakin malu. Di mimpi dia terlihat sangat liar.
"Ahk, sudah! Jangan di bahas lagi!"
"Ha, dasar pacarku mesum." Ejeknya.
"Diam!" Teriakku.
Setelah kejadian menyebalkan pagi ini, aku berusaha melupakan mimpi buruk dan tidak senonoh itu, Sasuke sudah pulang dan aku sudah berada di kantorku. Haa..~ ini sungguh memalukan. Aku tidak ingin tidur seranjang dengan Sasuke lagi. Aku akan menjadi malu lagi.
.
.
.
.
.
Hari ini pekerjaanku berakhir, sudah sore hari dan Sasuke menjemputku, dia ingin aku menemui kakeknya. Aku harus tenang, Sasuke menggenggam tanganku hingga kami masuk ke ruangan kakek Madara, aku bisa melihatnya tersenyum lebar saat aku tiba.
"Selamat datang kembali Sakura. Akhirnya, aku sudah menunggu hal ini, Sasuke sudah menceritakan semuanya." Ucapnya.
Wajahnya terlihat santai, tapi tetap saja, aku tidak bisa membaca apa yang tengah di pikirkannya, para Uchiha ini benar-benar pandai menyembunyikan apapun. Aku jadi semakin takut, aku menggenggam erat tangan Sasuke, aku sangat takut. Melirik ke arah Sasuke dan dia tersenyum, aku tahu dia sedang berusaha menenangkanku.
"Aku sangat tertarik padamu Sakura, kau gadis yang tangguh, bahkan berani menyembunyikan cucuku, hahahah, tapi aku merasa senang, kau memang cocok untuk menjadi bagian dari Uchiha." Ucapnya.
Heee? Ucapan macam apa itu, aku merasa ini sudah menjurus ke dalam keluarga Sasuke yang sangat resmi, padahal aku hanya masih sebatas pacarnya.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf untuk semua hal itu." Ucapku, aku ingin minta maaf secara langsung pada kakek Madara.
"Sudahlah, aku tahu niatmu baik, kau hanya ingin menolong cucuku. Aku sangat berterima kasih padamu, jika saja kau tidak menyembunyikan Sasuke, mungkin saat ini aku sudah membuat kesalahan." Ucap kakek Madara, ahh, aku tahu, meskipun kakek Madara sangat marah saat itu, tapi jauh di lubuk hatinya, dia masih sangat menyayangi cucunya ini. Aku bisa melihat mobil mainan koleksi Sasuke yang masih tertata rapi di ruangan kakek Madara, aku pikir dia tidak rela melelangnya.
Kami berbincang cukup lama sambil minum teh di taman rumah Sasuke, suasana yang sejuk dan teh yang enak, sesekali kakek Madara akan berbincang tentang pekerjaan dan aku harus menjawabnya santai, aku tidak ingin dapat masalah dari pak Yahiko yang merasa aku sebagai pegawai yang tidak setia.
Ngeteh bersama berakhir, Sasuke mengantarku pulang. Aku jadi merasa punya kakek sendiri saat berbicara dengan kakek Madara. Mobil Sasuke sudah terparkir di depan rumahku. Aku turun dan Sasuke ikut turun, sepertinya dia ingin mampir, tiba-tiba terdengar beberapa orang berlari ke arahku, sedikit terkejut dengan para tetanggaku yang tidak bisa sabaran dan malah sibuk bertanya macam-macam pada Sasuke.
"Kan sudah aku bilang, Sakura pasti bersama pria X" Ucap Ibu penggosip (1)
"Padahal yang namanya Naruto itu juga tampan loh." Ucap Ibu penggosip (2)
"Tapi Sakura lebih serasi dengannya." Ucap Ibu penggosip (3)
"Hehehe, maaf, aku ingin masuk ke dalam." Ucapku. aku tidak bisa berlama-lama mendengar mereka bergosip.
"Baiklah, maaf mengganggumu, tetap selalu bersama yaaa, kami tunggu undangan." Ucap mereka.
Uhk, apa-apaan mereka, kenapa datang di saat yang tidak tepat. Aku berjalan masuk dan berusaha mendorong Sasuke agar cepat masuk juga, mereka akan bertanya macam-macam jika kita terlalu lama di luar.
"Pria X ? siapa pria X?" Tanya Sasuke.
"An-anu, itu mereka menandaimu sebagai pria X, saat itu mereka tidak tahu namamu, hahaha aku tidak tahu kenapa mereka mengatakan hal itu." Ucapku.
"Oh." Jawabnya singkat.
"Mau makan malam bersama?" Tawarku.
"Hn, sekalian apa boleh-"
"- Tidak! kau harus pulang setelah makan malam."
"Aku tidak akan macam-macam."
"Pokoknya kau harus pulang."
"Bukannya, kau sendiri yang berpikiran macam-macam." Ucapnya.
Wajahku langsung memerah, menyebalkan, apa dia pikir senang memimpikan hal itu, rasanya sungguh malu dan membuatku merasa konyol.
"Jika saja mimpi bisa ku setel dengan keinginanku sendiri, aku tidak akan memimpikan hal itu." Ucapku. Aku sedang berusaha membela diri.
"Oh, dan bagaimana jika kita sudah menikah, apa kau tidak menginginkannya?" Ucap Sasuke.
Blussh..~
"Te-tentu saja mau! Mana mungkin kita punya anak kalau tidak melakukannya! Bodoh!" Ucapku, malu, ini sungguh percakapan yang konyol.
Sasuke menutup mulutnya, aku bisa melihat dia tertawa bahagia karena berhasil menggodaku untuk kesekian kalinya, tapi ini satu-satunya cara terbaik, aku tidak ingin tidur dengannya lagi dan mengigau hal aneh. Meskipun dia menjagaku dan tidak berbuat macam-macam, tapi tetap saja dia seorang pria. Aku merasa sedikit lelah dan mandi dulu sebelum membuat makan malam.
Kami berada di dapur dan Sasuke membantu menyiapkan makan malam, dia bahkan sedikit jahil memelukku dari belakang, ini sungguh mengganggu meskipun menyenangkan, aku harus menyelesaikan masakan ini secepatnya.
Kami makan bersama dan berbicara ringan, aku bahkan menceritakan isi file video itu, dia merasa sangat malu, hahahaha, sungguh jarang mendapatkan wajah malu Sasuke, apalagi saat kak Itachi mau menarik handuknya, itu membuatku tertawa, dan hal yang membuatku sangat senang, wajah Sasuke yang terlihat sangat ceria saat dia masih kecil.
"Mau kah kau berwajah seperti itu lagi?" Ucapku, aku ingin melihatnya seperti anak umur 5 tahun itu, wajah cerianya yang terang.
"Berwajah seperti apa?" Tanyanya.
"Tersenyum ceria." Ucapku.
"Tidak, itu memalukan." Ucapnya dan memalingkan wajahnya.
"Apa? Hanya tersenyum ceria kan, tapi aku lebih suka kalau kau bisa ceria seperti saat masih kecil."
"Itu sudah sangat lama dan saat itu aku masih kecil, aku tidak bisa seperti itu lagi." Ucapnya.
Uhk, dasar, padahal jika dia tersenyum setiap harinya, aah.. itu bisa menjadi pemicu jantungku tiap melihatnya. Hehehehe, dia sungguh manis saat tersenyum.
Makan malam berakhir dan Sasuke membantuku membersihkan dapur. Setelahnya dia sudah berdiri depan pintu rumahku tapi belum membukanya, dia berhenti sejenak dan berbalik menatapku.
"Ada apa?" Tanyaku.
Sasuke berjalan ke arahku dan memelukku, aku rasa dia selalu saja memelukku.
"Hee, jangan tiba-tiba, membuatku kaget saja." Ucapku, dia ini benar-benar tidak bosan membuat hal secara tiba-tiba.
"Rasanya aku akan mati jika tidak bertemu denganmu satu hari saja." Ucapnya. Sejak kapan Sasuke lebay seperti ini, ucapan dan wajahnya tidak sesuai.
"Bi-bicara apa, dasar bodoh, aku bukan napasmu yang kalau nggak ketemu bisa mati." Ucapku.
"Ahk, kau seperti napasku Sakura." Ucapnya, dia malah merespon ucapanku.
"Dasar gombal." Ucapku dan membalas pelukkannya.
Aku rasa Sasuke benar-benar lucu, dia seperti seorang remaja yang sedang jatuh hati.
"Apa aku pertama bagimu?" Tanyaku. Aku masih penasaran dengan Sasuke, apa dia pernah pacaran sebelumnya atau memiliki wanita lain di hidupnya selain aku?
"Hn, kau yang pertama untukku, aku tidak pernah memiliki pacar sebelumnya." Ucapnya.
"Bohong!" Ucapku dan melepaskan pelukkan kami. "Tu-tunggu, jadi selama ini kau tidak pernah pacaran sekali pun?" Tanyaku. Pria macam apa dia, bahkan tidak pernah pacaran, aku pikir latar belakang keluarganya dan bahkan wajahnya yang iya sih, dia tampan. Pasti banyak wanita yang mengantri untuknya.
"Hn." Dia hanya bergumam, tapi itu seperti sebuah jawaban jika 'iya dia tidak pernah pacaran sekali pun'.
"Cinta pertamamu?" Tanyaku lagi, aku sangat penasaran
"Kau." Uhk, malah jawab seperti itu, membuatku jadi malu saja.
"Saat sekolahan?"
"Tidak."
"Kuliahan?"
"Tidak juga."
"Saat sedang bekerja? Salah satu pegawaimu? Teman kerjamu? Teman bisnis? rekan bisnis?" Tanyaku, pasti ada satu wanita lain sebelum aku.
"Tidak, menurutku hanya merepotkan saja, aku menolak mereka semua." Ucapnya Santai. Pasti para wanita itu berpikir Sasuke berkelainan, makanya menolak wanita.
Aku jadi iri padanya, dia bertahan dari semua wanita itu selama ini, sedangkan aku, beberapa kali terjerat dalam hubungan yang selalu cepat berakhir. Apa aku sangat beruntung? Sasuke tidak pernah bersama wanita lain, aku kembali memeluknya erat. Aku satu-satunya milik Sasuke.
"Aku sangat mencintaimu Sasuke." Ucapku.
"Hn, aku juga. Jangan lupa, besok malam untuk berkemas, aku sudah siapkan tiket untuk ke Suna, kau harus segera minta ijin." Ucapnya.
"A-apa!" aku melepaskan pelukkan kami, "Besok? Kenapa harus tiba-tiba seperti ini?" Ucapku.
"Aku hanya tidak sabar bertemu mereka, maksudku orang tuamu." Ucap Sasuke.
"Tapi-tapi, ini sangat dadakan." Ucapku, mereka orang tuaku, kenapa Sasuke yang repot ingin bertemu mereka.
Cup...~
Dia mencium bibirku begitu saja dan bergegas pulang.
Tidaaaaakkkkk...! ngomong apa besok di pak Yahiko, bisa kena marah kalau tiba-tiba minta ijin dadakan seperti ini, dasar Sasuke, suka seenaknya saja...!
.
.
.
.
.
Normal Pov.
Madara menelpon Yahiko untuk sekedar memberi kabar baik, mungkin terdengar aneh untuk Yahiko tapi terdengar sangat membahagiakan bagi Madara, kakek tua ini seperti anak muda saja yang merasa bahagia dengan mengucapkan hal yang akan membuat Yahiko jengkel.
"Halo, tuan Madara, lama anda tidak menghubungiku apa semua baik-baik saja?" Ucap Yahiko, saat ini dia tengah berbicara dengan Madara lewat ponsel.
"Ah, semua baik-baik saja. Apa Sakura sedang bekerja?" Ucap Madara.
"Tentu hari ini dia sedang bekerja." Ucap Yahiko. Mengintip sedikit lewat jendela ruangannya.
"Baguslah, hahaha, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Sakura sebentar lagi akan menjadi bagian dari Uchiha, hahahaha itu terdengar sangat bagus kan?" Ucap Madara, Nada bicaranya terdengar sangat bahagia.
"Ha? Apa? Sakura, apa benar?" Ucap Yahiko tidak percaya.
"Tentu saja. ahk, baiklah, aku sedang ada meeting, dah, tolong jaga Sakura yaa, dia aset berharga Uchiha." Ucap Madara.
Ponselnya terputus, Yahiko terlihat marah besar, dia sama sekali tahu kabar tentang Sakura yang akan pindah perusahaan secara tiba-tiba, bahkan Sakura terlihat santai di meja kerjanya. Padahal sudah berapakali Yahiko meminta Sakura untuk jaga diri, tua Madara itu sangat keras kepala akan keinginannya.
"Sakura ke ruanganku." Ucap Yahiko. Memanggil Sakura.
Sakura berjalan cepat ke arah ruangan Yahiko, dia tidak menyadari jika direkturnya sedang marah.
"Apa-apaan ini Sakura! apa kau mau tiba-tiba keluar dari perusahaan ini?" Ucap Yahiko, nada suaranya meninggi, membuat Sakura terkejut dan sangat takut dengan direkturnya saat ini, dia bahkan tidak mengerti apa yang tengah di bicarakan direkturnya itu.
"Ma-makasudnya pak? Siapa yang akan keluar?" Tanya Sakura hati-hati, sejujurnya dia sudah sangat takut, baru kali Yahiko marah besar padanya.
"Kau bahkan tidak bisa berkata jujur tentang masalah ini, apa gajimu kurang? Apa kau tidak suka pekerjaanmu? Atau apa kau ingin kenaikan jabatan? Katakan jika kau merasa tidak senang bekerja di sini." Ucap Yahiko, dia masih dalam mode marah.
Uhh, Pak Yahiko marah besar, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, apa dia sedang PMS sampai segitu marahnya, aku sendiri bingung, untuk apa juga keluar dari perusahaan ini, gara-gara pak Yahiko marah aku jadi tidak berani minta ijin padanya. Ini salahmu Sasuke, dadakan seperti ini dan ucapkan selamat tinggal pada tiketmu, aku rasa pak Yahiko tidak akan mengijinkanku pergi.
Pintu ruangan terbuka dan Konan berjalan masuk, dia merasa sedikit aneh dengan atmosfer ruangan pria yang telah menjadi suaminya itu. sebelumnya mereka sudah menikah sebulan yang lalu, pesta yang sederhana tapi perayaannya penuh hikma. Saat itu Sakura berusaha mencari Itachi atau pun Sasuke saat di pesta, mereka pasti di undang, Itachi merupakan tim kerja sama Yahiko, tapi dia sama sekali tidak menemukan mereka.
"Ada apa?" Tanya Konan pada Sakura.
"Aku tidak tahu, pak Yahiko tiba-tiba marah padaku." Ucap Sakura, dia bisa merasa sedikit aman jika ada Konan.
"Ada apa Yahiko? Kenapa kau memarahinya?" Tanya Konan dan berjalan menghampiri Yahiko.
"Aku tidak tahu apa yang di lakukan tuan Madara sampai Sakura harus pindah perusahaan, kau sendiri tahu, orang pintar dan rajin itu banyak, tapi bagaimana dengan kejujuran? Akan akan sulit menemukannya." Jelas Yahiko.
"Tenanglah dulu, jika mau marah-marah seperti ini, bahkan tanpa di bujuk tuan Madara pun, pegawaimu akan kabur saking takutnya." Ucap Konan. Sakura mendengar jika Konan tengah meredam amarah direkturnya.
"Baiklah. Sakura." Ucap Yahiko pada akhirnya, dia sudah menenangkan dirinya.
"I-iya?" Jawab Sakura, dia masih takut-takut.
"Apa kau benar-benar akan pindah perusahaan?" Tanya Yahiko, tatapannya terlihat serius.
"Ah? Apa pak Yahiko tidak salah dengar atau mungkin semacam salah paham?" Ucap Sakura. Dia merasa tidak pernah mengajukan untuk pemindahan perusahaan.
"Tuan Madara tadi menelponku dan mengatakan sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari Uchiha, apa benar seperti itu? dia pasti sudah menawarkanmu sebuah perusahaan untuk di kelolah." Ucap Yahiko, dia mengambil kesimpulan begitu saja tanpa mendengar ucapan Sakura.
"A-anuu, Pak Yahiko salah paham, Maksud kakek Madara, dia uhm.. dia ingin segera menjodohkanku dengan cucunya, Uchiha Sasuke." Ucap Sakura malu-malu, dia jadi harus mengucapkan hal pribadinya.
Sakura bisa melihat Konan yang langsung memukul bahu Yahiko dan seperti memarahinya agar mendengar orang baik-baik dulu.
"Hoo, seperti itu, aku pikir kau akan pindah perusahaan." Ucap Yahiko.
"Pindah perusahaan pun tidak apa-apa Sakura, aku yakin pasti kau sangat ingin bekerja bersama Sasuke kan?" Ucap Konan.
"Sayan- eh Konan, tapi Sakura, pegawai terbaik kita." Ucap Yahiko. Dia hampir keceplosan memanggil 'sayang' pada Konan, dia betul-betul ingin perofesional di kantornya.
Sakura hanya terdiam dan mendengar pembicaraan mereka, seperti yang di katakan Konan, Sakura juga ingin seperti Konan yang bisa bekerja bersama pasangannya, Sakura juga merasa ingin satu kantor dengan Sasuke.
"Kau pikirkan saja, bagaimana jika aku di posisi Sakura? apa kau rela membiarkanku bekerja di perusahaan lain?" Ucap Konan.
"Tentu Tidak, untuk apa kau bekerja dengan perusahaan lain kalau aku masih bisa membuatmu bekerja padaku." Ucap Yahiko.
Sakura melihat sisi lain dari seorang Yahiko yang tegas dan disiplin, dia sangat luluh pada Konan.
"Itulah sebabnya, lama kelamaan Sakura juga pasti ingin bekerja bersama pasangannya." Ucap Konan.
"Hee, ti-tidak apa-apa kok, aku tidak keberatan meskipun beda kantor." Ucap Sakura, dia masih bisa menemuai Sasuke meskipun beda kantor.
"Tidak Sakura, kau harus mengikutinya, kalian harus berkerja sama membangun perusahaan kalian. Aku yakin Sasuke pasti akan senang bisa bersamamu dalam satu kantor." Jelas Konan,
Rasanya aku ingin berlari dan memeluk Konan yang sangat memahami keadaanku ini, pak Yahiko hanya terdiam, dia tidak bisa berbicara apapun setelah Konan mengutarakan pendapatnya, ini benar-benar pemandangan langkah.
Sakura harus tenang dan harus lebih bijak dalam memilih, sejujurnya dia benar-benar tidak keberatan jika tetap bekerja pada perusahaan Yahiko, tidak ada bedanya juga, dia berpikir jika pekerjaannya akan sama meskipun pindah tempat, jadi tidak ada masalah baginya dengan perusahaan manapun.
"Akan aku pikirkan nanti." Ucap Sakura. Dia belum memikirkannya dulu dan memastikan dia harus bekerja di mana.
"Aku berharap kau tetap di sini." Ucap Pak Yahiko dan langsung mendapat pukulan keras di bahunya, Konan merasa tidak senang dengan ucapannya, Konan lebih mendukung Sakura yang bekerja bersama Sasuke.
"Jangan ucapkan lagi." Ucap Konan.
"Aku hanya berpendapat." Ucap Yahiko.
Sakura menahan tawanya, ini sungguh lucu, Yahiko kalah dari Konan.
"Uhm, sebelumnya, ada yang ingin aku sampaikan pak." Ucap Sakura, dia berharap mendapat ijin.
"Apa?"
"Aku mau minta ijin 2 hari untuk kembali ke kota kelahiranku, apa boleh aku mendapat ijin?" Tanya Sakura.
"Ti- aduh!" Konan langsung menyikut Yahiko agar tidak berbicara.
"Boleh." Ucap Konan.
"Ahk! Sejak kapan kau mengambil keputusan? Aku direktur di sini!" Protes Yahiko.
"Ah? Apa? Tunggu saja, kau tidak akan dapat apa-apa di rumah." Ancam Konan.
"Ba-baiklah, Sakura kau boleh pergi." Ucap Yahiko.
Sakura merasa sangat senang dia mendapat ijin, pamit keluar dan bergegas kembali ke mejanya.
Ending Normal POV.
.
.
.
.
.
Penerbangan malam, membuatku mengantuk dan memilih tidur selama penerbangan. Aku tahu, Sasuke mengawasiku selama aku tidur dan genggaman tangannya tidak lepas dari tanganku. Jadi mengingat kembali saat liburan kantor, Sasuke sampai marah besar gara-gara aku meniduri bahunya, Sekarang? Dia membiarkanku bersandar pada bahunya. Ini sungguh lucu. Sebelumnya aku sudah menghubungi orang tuaku jika aku akan pulang dan mengajak seseorang.
Membuka mataku lebar-lebar. Loh? ini kamarku di rumah orang tuaku, sejak kapan aku tertidur di kamarku dan sejak kapan kami sudah tiba. melirik ke arah jam, ini sudah jam 9 pagi, aku telat bangun, biasanya buru-buru untuk kerja, tapi aku tertidur cukup lama, bahkan tidak ada yang membangunkanku. Beranjak dari kasur dan berjalan malas keluar, kamarku akan melawati ruangan tengah sebelum menemukan dapur, saat melewati ruang tengah, aku melihat Sasuke dan ayah tengah berbicara, saat mereka melihatku, pembicaraan mereka berakhir, apa yang mereka bicarakan? Aku jadi penasaran, berjalan ke arah Sasuke dan duduk di sebelahnya.
"Dasar kau ini, jika saja Sasuke tidak berbaik hati mengangkatmu, kau akan di tinggal di dalam mobil." Ucap ayahku.
"Aku tidak sadar, rasanya ngantuk sekali." Ucapku, aku tahu saat itu aku tertidur cukup nyenyak, Sasuke memaksaku bangun dan kami berjalan keluar bandara, aku sangat mengantuk dan setelah di jemput ayah di bandara, aku tidak ingat apa-apa lagi, mungkin seperti yang di katakan ayahku, Sasuke mengangkatku hingga ke kamar. Akhirnya aku mengingat semuanya.
"jangan bikin malu keluarga Haruno, kau satu-satunya milik kami." Ucap ayahku, aku sendiri tidak mengerti apa yang di ucapkan ayah, aku hanya tertidur kok, tidak sedang melakukan kejahatan.
"Tidak apa-apa ayah, aku akan selalu melakukan yang terbaik untuk Sakura." Ucap Sasuke.
"Bagus, itu adalah calon menantu yang kami bisa banggakan." Ucap ayahku.
Ha! Apa? Tunggu! Sejak kapan Sasuke memanggil ayahku seperti itu, dan kenapa ada calon menantu segala.
"Ayah? Apa maksudnya ini? aku tidak mengerti." Ucapku.
"Jelas saja, dia sudah menyentuhmu, tandanya dia harus bertanggung jawab menjadi menantu di keluarga Haruno." Ucap ayahku. Sikap posesifnya sebagai seorang ayah tidak pernah hilang, dia akan marah besar jika seorang pria berani menyentuhku, bahkan saat masih sekolah dasar dia mengawasiku agar aku tidak pernah bersentuhan dengan pria mana pun hingga membuatku muak, teman laki-laki ku menjauh, mereka takut dengan ayahku yang suka marah-marah pada mereka, jika bukan ibu yang memarahi ayah, aku tidak akan mendapat teman laki-laki dan hanya bersama teman perempuan.
"Dia hanya mengangkatku!" Protesku.
"Tetap saja! dia menyentuhmu! Ayah tidak mau ambil resiko, kalian harus cepat putuskan tanggal pernikahan." Ucap ayahku.
Pernikahaaan...!
Ayahku pergi begitu saja, aku bisa melihat ibu yang tertawa di balik pintu ruang tengah dan tiba-tiba kabur. Apa ini tidak terburu-buru? Mereka ingin aku segera menikah, aku belum sukses dan mencapai apapun.
"Ada apa? Kau terlihat tidak senang." Ucap Sasuke.
"Bu-bukan seperti itu, apa ini tidak terlalu buru-buru?" Ucapku. aku masih perlu waktu, aku tidak ingin kejadian yang sudah-sudah terulang lagi.
"Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi, aku bisa mengundur tanggal pernikahan, selama itu kau bisa memikirkannya matang-matang." Ucap Sasuke. Dia seperti sudah membaca pikiranku dengan baik, Sasuke memahamiku.
"Aku sungguh mencintamu Sasuke." Ucapku dan memeluknya, dia sangat mengerti keadaanku.
Uhuk'
Ayah! Aku segera menjauh dan melirik ke arah pintu, ayah tidak pergi dari pintu dan malah mengintip. Huaah..! aku kepergok bermesraan dengan Sasuke, berharap dia tidak memutuskan pernikahannya besok. Ayahku itu termasuk orang yang keras kepala juga, apa lagi kalau menyangkut anaknya.
"Baiklah, jika kau ingin memikirkannya dulu, tapi tidak ada yang namanya batal, kalian tetap harus menikah." Ucap ayahku dan pergi lagi, aku harap dia benar-benar pergi dan tidak mengintip.
Aku tersenyum malu, apa yang mereka bicarakan sampai berujung pada pernikahan, tapi tidak apa-apa sih, aku senang, ayah dan ibu merestui kami.
.
.
.
.
Hari ini pernikahan Ino dan Sai, aku dan Sasuke pergi bersama, untuk pertama kalinya aku pergi bareng Sasuke, aku jadi tidak canggung untuk memperkenalkan Sasuke pada teman-temanku, dia sudah bebas dan tidak memiliki masalah apapun, Ino terlihat cantik dengan gaun putihnya dan Sai dengan jas putihnya juga. Aku berharap akan mengenakan gaun yang cantik saat hari itu, Ayah sudah memastikan antara tiga bulan lagi atau empat bulan lagi kami harus menikah, kakek Madara juga sudah tidak sabar aku menjadi anggota keluarganya, ini aneh, pernikahanku, tapi kakek Madara dan ayah yang sibuk. Aku menyapa Naruto dan dia mulai terbiasa dengan Sasuke, akhirnya mereka tidak bertengkar lagi.
.
.
.
.
.
Sebulan berlalu, aku harus membereskan meja kerjaku, Ino merasa sedikit tidak rela jika aku harus segera pindah kantor, tapi Sasuke membutuhkanku, dia ingin aku menjadi sekertarisnya, aku merasa pernah mengingat ucapan Sasuke yang seperti itu, dan akhirnya ucapannya terwujud, pak Yahiko, meskipun antara rela dan tidak rela, dia harus melepaskan pegawai yang terbaik menurutnya, setidaknya dia sudah menemukan pegawai yang baik, pintar, jujur dan lebih sabar dariku, orangnya juga sangat cantik dengan rambut darkbluenya yang panjang, aku harap dia bisa akrab dengan Ino dan yang lainnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Nona Sakura, segera keruanganku."
Sudah berselang beberapa bulan aku bekerja di perusahaan baru. Direktur baru memanggilku. Aku berjalan cepat ke arah ruangannya dan mengetuk beberapa kali, dia segera mengijinkanku masuk.
"Ada apa pak?" Ucapku, meskipun dia adalah tunanganku, dia tetap atasanku, aku harus bisa bersikap formal dan sopan padanya, jika berada di kantor.
"Menurutmu, undangan yang ini atau yang ini." Ucapnya. Dia memperlihatkan beberapa contoh undangan.
Direktur macam apa dia, bahkan dia sangat jarang memberiku pekerjaan, dia malah menyuruhku bersantai atau beristirahat atau menemaninya di ruangannya, dia merasa lebih bersemangat jika aku menemaninya, rasanya aku ingin kembali ke kantor lama meskipun banyak pekerjaan dan merepotkan, aku rindu kesibukanku. Aku pikir jika pindah perusahaan pekerjaanku akan tetap sama saja, lain hal dengannya perusahaan Sasuke, dia menyelesaikan pekerjaanku sebagian. Dia tidak ingin melihatku terlihat capek saat di kantor.
"Apa bisa kau tanya itu nanti saja atau di rumah! Aku mau sibuk bekerja!" Ucapku, kesal, dia sangat menyebalkan. Sasuke memilih tinggal di rumahku, lagi, dia bahkan repot-repot merenovasi beberapa ruangan dan rumahku terasa lebih nyaman, dia lebih senang tinggal di rumahku dari pada harus tinggal di kediamannya, kak Itachi dan kakek Madara sering berkunjung, aku bahkan memperkenalkan nenek Chiyo pada mereka.
"Kau terlalu tegang, santailah sedikit, sini, mau ku pijit bahumu di pangkuanku." Ucapnya sambil menepuk-nepuk kedua pahanya.
"Ahk, Tidak akan! Aku akan memecatmu jadi direktur." Ucapku dan berjalan keluar ruangannya, dia hanya membuatku kesal dengan tingkahnya seperti anak kecil saja.
"Sakura! Sakura! kau ini, bahkan membantah direkturmu." Ucap Sasuke yang tidak terima kelakukanku.
Aku tidak peduli dengan panggilannya, aku ingin kembali ke meja kerjaku, aku tidak bisa berhenti tersenyum melihat tingkah konyol Sasuke yang sedikit manis.
Kali ini aku tidak tinggal dengan seorang pembunuh, tapi dengan seseorang yang sangat ku cintai, tu-tunggu dulu, dia tidak membunuh kok, dia hanya di fitnah, ahk, aku lupa akan hal itu.
.
.
.
.
.
.
Normal POV.
"Kau datang mengunjungiku?" Ucap wanita itu, dia terlihat senang saat anak pertama dari Fugaku ini mendatanginya.
"Aku hanya ingin memintamu untuk tanda tangan." Ucap Itachi, dia terlihat malas meladeni wanita ini.
Saat Itachi sudah mendapatkan kebenaran tentang kasus adiknya, dan di saat bersamaan wanita ini kembali ke rumah, namun hanya berselang beberapa hari dia kembali, wanita milik Madara itu di bawa paksa polisi. Madara marah besar, meskipun wanita itu memohon ampun namun Madara tidak ingin melihatnya lagi seumur hidupnya. Dia bahkan menarik apapun yang di berikan pada wanita itu, Madara merasa sudah di bodohi dan membuat keluarganya hancur dengan sikap egoisnya, dia hanya mementingkan wanita itu dan melupakan cucu kesayangannya. Madara melepaskan Sasuke dan meminta maaf pada cucunya itu, dia tahu jika Sasuke sangat benci padanya sekarang, Madara berusaha membangun kembali ikatan di antara dia dan Sasuke.
"Tanda tangan? Untuk apa?" Ucap wanita itu, dia terlihat seperti orang yang tidak waras. Hanya sebuah senyum yang terus terpampang di wajahnya.
"Tanda tangan saja." Ucap Itachi.
"Kau akan membebaskanku?"
"Mungkin saja."
"Baiklah, demimu aku rela melakukan apapun." wanita itu menandatangi selembar kertas,
Surat perceraian.
Selesai, Itachi pergi meninggalkan wanita itu, dia bahkan teriak saat para polwan membawanya kembali ke sel tahanannya.
"Itachi! Kembali! aku pikir kau akan membawaku keluar! Itachi! Aku mohon padamu, aku sangat mencintaimu! Apa kau lupa semua kenang kita. Itachiiii...!"
Itachi merasa tidak mendengarkan apapun, wanita itu benar-benar gila, dia adalah wanita yang Itachi tinggalkan, dulu sebelum Itachi mengetahui jika wanita itu mengkhianatinya dengan memilih menikah dengan kakeknya.
.
.
TAMAT
.
.
Pidato santai dari author, di baca yaa kalau masih ada yang mengganjal di perut(?) author jelasin sedikit di sini deh.
Akhirnya... ide untuk memikirkan fic berakhir. Special thanks for all reader, pokoknya semuanya, yang silent reader, yang rajin tinggalkan review, yang rajin sampe PM author, yang rajin gemes-gemes sendiri, yang rajin sendirian tiap malming, (author merasa juga), setiap review reader bikin author semangat untuk lanjut tiap chapter, tiap chapter dan berakhir dengan tamat, maaf kalau tamatnya kaya gimana gitu, tapi author sudah memikirkan jauh hari jika tamatnya akan seperti ini, sequel? Ahk terima kasih, author tidak akan membuatnya, ceritanya memang sudah berakhir sampai di sini. Sejujurnya author sangat kaku membuat LEMON, YA AMPUUNN..! AAKHIRNYA ADA LEMON..! tapi nggak kecut kan, author hanya jadikan sampingan saja, biar menghibur dikit, siapa tuh ngotot pengen Lemon, ini author udah kasih, tidak perlu terlalu HOT, itu sih nggak penting, yang penting dari isi fic ini bisa di pahami, makanya author kasih rate M (untuk jaga2) hehehehe. Author juga harus belajar banyak lagi, fic author masih belum ada apa-apanya, masih banyak typo, kurang memahami dan menggunakan bahasa-bahasa yang tinggi dan mendetail. Masih sulit menggunakan kata-kata yang rumit dan sebagainya, semoga author bisa membuat fic yang bagus lagi.
Dari semua chapter, ini chapter yang paling panjang, nggak bisa bikin chapter selanjutnya lagi. XD sejujurnya author adalah tipe orang yang cepat lupa, pikun akut, maaf jika chapter ini terkesan terburu-buru, author hanya takut jika idenya terlupakan, hahahah.
Kalau ada tanya wanita pengganti Sakura, itu namanya Hinata, katanya di adakan, jadi author kasih nyelip di akhir-akhir, hahahahaha, maafkan author.
Kalau ada tanya kisah lanjutnya, tentang sasu-saku, sudah author pastikan berujung pada pernikahan, mereka akan menikah, pasti menikah! karena author sudah pikirkan, alurnya mereka harus menikah! *kizashi mode on* :D :D
Oh iya, author tidak buat scene pernikahan Konan dan Yahiko yaa, tapi sudah ada yang di jelaskan kalau mereka sudah menikah.
Sudah? Apa masih ada yang mengganjal? Kalau masih ada yang mengganjal silahkan PM atau Inbox, nanti author jawab jika sedang update fic.
Sebagai promosi, author sedang membuat fic yang berjudul 'Mafia' berpikir jika fic itu rumit, sebenarnya tidak juga, seperti sudah ciri khas author dalam membuat fic, santai dan mengalir begitu saja, hehehe, di baca yoo, yaa kalau suka, kalau nggak sudah nggak usah di baca.
Salam manis, Sasuke fans. ^_^
