~The Story of Music~
Disclaimer: Vocaloid is Crypton's. Story isn't mine too at all.
Summary: 'Nada-nada yang dilantunkan dalam sebuah lagu memiliki arti banyak cerita. / bad at summary, open request based on song.'
Details and warning: gaje, AU, abal, OOC, aneh, Typo(s). All the stories are music ff. Request open. I'll here the request if it's song request :3 it's all based by song. So, request the song if you want! All genre! Romance, friendship, it's all accepted! J-Pop or western song. Country song or everything! And K-Pop is allowed to... I think... ah, and if it's a romance song, please request the pairing to, or I'll make my own pairing! Sometimes drabble...
Author's note: another request by Blooming Edelweiss. Set, Edelweiss kayaknya seneng banget bikin gue bingung. Song requested: A Teacher and Student's Love Game. Pairing: Piko x OC. Woy! Nama OC lu susah banget woy! Dx #dibuang lice aja gak tau cara bacanya ._. Chyryntz Mizune. Karena kalo saya panggil Chyryntz susah ngetiknya sampe bisa 5 kali typo, boleh saya panggil Mizu, ya! Lice stress kalo nemu typo terus. Hope you like, all! Especially Edelweiss! Sorry late. Bahasanya nyampur antara bahasa baku dan bahasa gaul(?) lho. Jadi ancur banget!
Chapter XXI: Teacher and Student's Love Game
Based on A Teacher and Student's Love Game by Hiyama Kiyoteru & Kaai Yuki.
"Huwaaahhh..." Chyryntz Mizune, gadis SD (dadakan) menghela napas panjang. Rambut merah gelap (yang suka dikira hitam) dan bergelombang yang di kucir twin tail melambai-lambai di terpa angin dari luar jendela kelas. Ia meletakkan kepalanya di atas meja, lelah dan juga kesal. "Uh..." keluhnya. "Si guru sial itu ngapain, sih? Ini salahnya! Aku tak mau menghabiskan sepenuh hariku di kelas dengan guru sial itu!" katanya setengah berteriak sambil menemdang-nendang kaki meja. "Guru sial!"
"Chyryntz Mizune."
"Glek!" Mizune tersentak. Ini suara orang yang paling ingin ia hindari. "Pak Pi-Piko!"
Piko Utatane, sang guru berbadan pendek itu menghela napas. Ia mengatur letak kacamatanya. "Sudah kubilang jika tak ada orang lain, jangan panggil aku dengan sebutan 'Pak Piko'." Katanya. "Kau merasa sudah bisa, hah?" tanyanya.
Mizune terdiam. Sebenarnya ia tak mengerti pelajaran dari Piko, tapi ia harus pura-pura mengerti, supaya bebas dari kelas tambahan ini.
Piko mendekati Mizune. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga muridnya yang nakal itu. "Chyryntz Mizune... cobalah sekali-sekali jujur. Jangan bersikap kelihatannya kau lebih bisa daripada yang sesungguhnya." Bisik Piko pelan. Wajah Mizune memerah. Napas sang guru begitu dekat dan mengenai tengkuknya, membuatnya merinding. Piko hanya tersenyum.
"Nah!" kata Piko. "Cepat belajar lagi."
Mizune makin pingsan di mejanya. "Ah, sial. Kenapa aku doang yang belajar, sih?" keluhnya.
"Soalnya..." kata Piko pelan sambil ngobrak-abrik tasnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas. "Aku paling takut dengan nilai tesmu tau!"
Jreng!
Kertas yang di pegang Piko adalah kumpulan kertas lembar jawaban ulangan yang nilainya do re mi fa sol (baca: nilainya satu sampe lima doang) dengan tulisan CHYRYNTZ MIZUNE di kolom nama.
"Uwa!" Mizune shock sendiri. Nilai ujiannya memang tak pernah bagus. Nilai tertingginya, satu kali, hanya 6.
"Aku hanya mengkhawatirkan nilaimu, tau! Hanya kau yang nilainya bisa segini! Teman-temanmu saja nilai paling kecilnya tujuh!" teriak Piko sambil menyodorkan kertas ujian itu. Mizune hanya bisa diam. "Jadi pelajaran tambahan ini hanya khusus untukmu, Mizune! Karena kau begitu bodoh!"
"Tukang bohong!" teriak Mizune sambil melempar tinjunya ke arah sang guru. Piko sempat menghindar. "Aku tidak bodoh! Hanya saja kau yang mempersulit soal khusus untukku, kan?"
"Siapa yang mau mempersulitnya, murid sialan?" tanya Piko tak kalah kesal.
"Pasti kau mempersulitnya supaya bisa dekat-dekat aku dengan alasan memberi pelajaran tambahan untukku, kan?"
"Idih! Ge-er aja! Kau kira aku pedo yang mau sama bocah loli kayak kamu?"
"Itu benar, kan?"
Oke, ini pertengkaran yang tiada habisnya. Ini sebenarnya hanyalah sebuah love game antara dua insan ini. Sang guru dan sang murid. Love game antara keduanya. Benar-benar terlihat Tsundere...
"Oke! Sekarang ayo kita belajar!" paksa Piko yang telah kelelahan bertengkar dengan Mizune. "Beri aku jawaban yang serius! Tiga tambah empat hasilnya berapa?"
"Sembilan!" jawab Mizune ngeyel.
"Bukan itu bego!" jerit Piko kesal. "Kau tidak serius, ya?"
"Tiga kali tiga (sa-zan) sama dengan...?"
'Eh? Apa dia bilang Southern All Stars (Sazan Ooru Sutaazu)?' tanya Mizune kebingungan di hatinya. "Bintang!"
"Salah! Dasar bodoh!"
"Puh." Mizune mencibir. Kesal sekali rasanya. Mizune buru-buru mengejarkan soal yang diberikan Piko.
"Hei, Mizune... andai kau mendapat satu saja nilai sempurna, aku akan mendekorasi kelas seindah mungkin dan menyambutmu seperti di pesta." Ucap Piko. "Tapi itu tak mungkin, ya?" lanjutnya sambil tertawa.
"Mizune..." kata sang guru. "Ayo, katakanlah di telingaku. Janjimu. Janji untuk belajar. Dan ciumlah bibirku. Cium untuk memberiku kebahagiaan dan untuk segel janji itu."
Mizune terdiam. Wajahnya bersemu merah. Begitu juga Piko.
"Ah, bodo amat ah! Buruan! Cepat hapalkan tabel perkalian ini!" paksa Piko menyodorkan tabel perkalian. Mizune speechless tak bisa menghapalkannya.
"Ayo tes lagi!" paksa Piko. "Dua kali tiga (ni-san) jadinya...?"
'Eh...? Kakak (niisan)? Bagian privat kakak?' Mizune tambah bingung. "Berbulu!" jawab Mizune kelewat ngeyel.
Piko sweat drop seketika. "Ganti soal! Satu kali lima (in-go) jadinya...?"
'Apel (ringo)? Wah! Enak!' pikir Mizune dalam hati. "Apel? Aku mau!"
Lagi-lagi Piko sweat drop. "Woy Mizune! Kuping apa otak lu yang ngeyel gini dari tadi? Bukan ringo! Tapi in-go!"
"Ahaha." Mizune tertawa. "Iya deh... aku memang salah. Tapi, terima kasih atas pelajaran dan permainan hari ini, Piko Utatane!" ucap Mizune sambil mencium sang guru.
Inilah permainan cinta antara sang guru dan sang murid!
-Fin-
