Summary : " Ia akan menyangka bahwa aku menyakitimu. Ia akan marah padaku, ia akan lari dariku...ia akan membenciku! Heh...ibu macam apa aku yang dibenci oleh putra kesayangannya sendiri!"" Dasar ibu brengsek! Jawab pertanyaanku bu? Kenapa ibu tak pernah puas menyakiti kami?"

Disclaimer : Masashi Kishimoto


The Shinobi Gank

Chapter 20 : Our Destiny

" THAILAND!" Pekik Naruto bahagia, saat kakinya pertama kali menginjak negeri gajah putih itu. Dibelakangnya berdiri manis Hinata yang sedang tersenyum lebar melihat kelakuan tunangannya itu yang sedang membentangkan kedua tangannya sesaat setelah mereka keluar Bandara International Phuket. Hinata dengan antusias menghampiri Naruto dan mengamit lengan pria berambut kuning cerah itu.

" Hinata-chan! Kita punya waktu banyak disini! Kau mau kemana? Pattaya mungkin?" Tanya Pria berambut kuning itu tak kalah antusias. Hinata kembali tersenyum, entah kenapa rasanya ia begitu nyaman berada disamping calon suaminya ini. Wajahnya pun juga tak akan langsung merah padam jika harus berhadapan dengan Naruto sekarang.

" Hm...Naruto-kun, tak lebih baik kita kehotel dan menaruh barang-barang?" Tanya Hinata sambil melirik beberapa bawaan mereka dari Jepang yang sangat banyak seperti orang mau pindah rumah.

Pria yang hari ini berbalut busana santai dengan celana pendek itu hanya memberikan senyuman lebar khas miliknya kearah Hinata dan segera menggandeng mesra jemari mungil Hinata.

" Aku lupa kalau bawaan kita seperti orang mau pindah! Kau benar! Ayo kita ke hotel!" Pekiknya heboh. Hinata sendiri hanya bisa meringis malu seraya bersembunyi dibalik punggung Naruto saat melihat tatapan aneh dari orang-orang disekitarnya. Untung saja Naruto masih berbicara bahasa Jepang...setidaknya tak ada yang tahu apa yang dihebohkan pria humoris ini.

Dengan segera Naruto menarik Hinata, oh tidak ralat yang benar adalah menyeret Hinata keluar dari bandara menuju hotel dengan cengiran lebar tentunya.

00000000000000000

Tubuh Sakura terasa beku manakala menatap sosok yang sedang duduk diruang tengah flatnya. Sejenak ia melupakan dengan pikiran-pikiran yang menggelutinya tadi-tadi. Sungguh tak pernah ia menyangka akan kehadiran tamu tak terduga seperti ini.

Tangannya sendiri masih sibuk membersihkan bekas muntahan tamunya ini. Maklum tamunya ini mabuk, dan wajarlah jika ia muntah. Hanya saja tempatnya saja yang tidak tepat. Pasalnya tepat saat Sakura membukakan pintu untuk tamunya itu, sang tamu langsung menyerobot masuk lalu kehilangan keseimbangannya. Dengan susah payah Sakura memapah tamunya itu dan saat itulah sang tamu malah muntah di karpet ruang tengah miliknya.

Sakura kembali menatap tubuh Mikoto yang tak lain dan tak bukan adalah sosok tamunya itu dengan tatapan heran. Apa yang membawa wanita cantik ini kerumahnya? Bahkan setahunya, tak ada seorang Uchiha pun terkecuali kekasihnya yang mengetahui dengan jelas letak kediamannya ini. Tapi jika mengingat siapakah Mikoto yang sebenarnya rasanya tak aneh jika wanita ini mengetahui letak kediaman Sakura.

Dengan cekatan ia menggulung karpetnya itu dan membawanya kearah dapur. Sepertinya ia harus bekerja ekstra besok membersihkan karpet itu besok. Karena meskipun sudah dibersihkan dengan lap, tetap saja ia harus mencuci karpet itu karena siapa yang akan tahan dengan bau muntah orang yang mabuk.

" Sa..kura.." Suara parau Mikoto terdengar dan jelas membuat wanita berambut bubble gum yang sedang sibuk mengangkat karpet menoleh dan menatap Mikoto yang sedang duduk dikursi dengan mata terpejam.

" Ambilkan aku air.." Tanpa keluhan dan bantahan sedikitpun Sakura mengiyakan apa yang diperintahkan Mikoto barusan. Rasanya hal ini sangat bertolak belakang dengan sifat aslinya yang paling tidak suka disuruh-suruh. Sakura sendiri tak tahu pasti kenapa ia menuruti apa yang diperintahkan Mikoto saat ini dan yang pasti adalah kini langkahnya pun bergerak menuju dapur dengan dua tujuan, yaitu untuk menaruh karpet dan mengambilkan air untuk Mikoto.

" Ini minum anda.." Mikoto perlahan membuka matanya saat merasakan kehadiran Sakura didekatnya. Ia tersenyum pahit saat melihat segelas teh hangat terhidang di meja. Perlahan ia meraih gelas itu, Sakura menyadari kalau tangan Mikoto bergetar. Takut jika gelas itu jatuh dan tumpah, Sakura berinisiatif membantu Mikoto meminum teh yang telah dibuatnya.

Kembali diluar dugaan, Mikoto sama sekali tak menolak bantuan Sakura. Bahkan ia melepaskan tangannya dan membiarkan Sakura meminumkan teh itu kemulutnya.

Rasa hangat langsung terasa di perutnya manakala beberapa teguk teh telah masuk kekerongkongannya. Mikoto tersenyum kecil saat lidahnya merasakan rasa tawar pada teh buatan Sakura.

" Teh tawar..." Gumam Mikoto dengan suara paraunya. Sakura tertawa canggung. Ia tak membuka mulutnya untuk sekedar menjawab peryataan Mikoto bahwa teh yang dibuatnya tawar bukan manis. Memori otak wanita bermata emerald ini menduga bahwa yang selanjutnya keluar dari bibir Mikoto adalah sindiran atau hinaan. Kenapa ia bisa menduga seperti itu adalah karena Sakura berfikir mungkin Mikoto tak pernah minum teh tawar murahan seperti ini.

" Kau masih ingat dengan...seleraku ya? Teh manis kan bisa buat Tante gemuk..." Seketika mata Sakura terbelalak lebar mendengar perkataan Mikoto. Sangat jelas dugaannya salah besar.

Flashback.

" Tante...ini teh untuk Tante!" Seru Sakura kecil sambil memberikan gelas mainan ke sosok Mikoto yang kala itu sangat cantik dengan rambut hitam panjangnya yang bergelombang.

" Arigatou Sakura-chan...!" Ujar Mikoto sambil pura-pura meminum teh dari gelas kosong yang diberikan Sakura tadi.

" Hm enak!" Sakura tersenyum puas dan mengambil mangkuk dan sendok mainan didepannya dan membuat gerakan seperti orang mengaduk sesuatu.

Mereka sekarang sedang berada diruang kerja Mikoto yang luas di Hachi Corporation. Dan Mikoto sendiri sedang menemani Sakura pesta minum teh dengan mainan masak-masakannya. Tak lengkap rasanya jika pesta minum teh tanpa duduk di atas kain kotak-kotak, maka jadilah sekarang mereka berdua duduk di atas kain kotak-kotak yang sengaja digelar Sakura. Tak lupa bocah perempuan yang nampak imut dengan baju terusan model balon warna kuning itu meletakan beberapa boneka kesayangannya untuk ikut dalam pesta minum teh mini buatannya.

Mikoto tersenyum saat melihat wajah serius milik Sakura kecil yang sedang mengaduk-ngaduk sesuatu didalam mangkuk mainannya. Sakura bilang kalau ia sedang membuat kue.

Sejenak Mikoto teringat dengan sosok putra kecilnya yang juga sebaya dengan Sakura. Jujur ia sangat merindukan putra kecilnya yang berada di London itu. Ia sendiri tak habis pikir dengan suaminya yang menempatkan kedua putranya itu bersama mertuanya di London sedangkan ia dan suaminya disini.

Jadi wajar jika ia sangat menyayangi Sakura sama seperti ia menyayangi kedua putranya. Apalagi ditambah dengan ia tak memiliki seorang putri.

" Ya ampun!" Pekikan Sakura yang disertai dengan tepukan tangan mungil Sakura dijidatnya sendiri membuat Mikoto tersadar dari lamunannya dan menatap wajah terkejut Sakura yang lucu itu.

" Ada apa Sakura-chan?"

" Sakura lupa menaruh gula di teh, Tante salon!" Mikoto langsung tertawa mendengar penuturan bocah imut berusia empat tahun itu. Ia langsung mengelus kepala Sakura sayang.

" Sayang...Tante ga suka teh manis kok! Tante akan langsung hilang selera kalau minum manis. Tante lebih suka teh tawar!" Ucap Mikoto sambil tertawa. Sakura langsung memasang tampang aneh.

" Kenapa Tante ga suka teh manis? Tante marah ya gara-gara Sakura lupa taruh gula..." Sakura kecil menunduk sedih sambil mengerucutkan bibirnya. Mikoto kembali tertawa dan langsung menepuk-nepuk perutnya yang langsing.

" Coba Sakura bayangkan kalau perut Tante ini buncit! Dan pipi Tante juga menggembung seperti pipi Sakura dan badan Tante lebih besar dari sekarang..." Mikoto menggerakan tubuhnya, mencoba mendeskripsikan kondisi tubuhnya jika gemuk. Sakura langsung membulatkan matanya lebar.

" Tante pasti jelek." Jawab Sakura singkat dan dengan ekspresi wajah yang tentu saja polos. Mikoto tak bisa menahan tawanya dan kembali mengelus kepala Sakura.

" Hahaha...benar sekali...Teh manis kan bisa buat Tante gemuk!"

End Flashback.

Kini memori otak Sakura telah selesai memutar potongan klise masa lalunya dengan Mikoto. Diingatnya wajah ceria Mikoto kala ia masih kecil dan dikala Tante kesayangannya itu memberitahukannya bahwa teh manis bisa membuat gemuk. Dan sekarang kalimat itu kembali diucapkan Mikoto hanya saja dalam ekspresi, situasi, dan kondisi yang berbeda.

Sakura sendiri seperti tak sadar menyajikan teh tawar pada Mikoto. Padahal ia selalu menyuguhkan teh manis pada setiap tamunya. Dan lagi hampir semua teman-temannya bahkan Sasuke sekalipun menyukai teh manis sehingga ia terbiasa menyuguhkan teh manis. Tapi entah kenapa untuk Mikoto kali ini ia suguhkan teh tawar. Bukan karena gula didapurnya habis, persedian gula masih tersedia banyak karena baru beberapa hari yang lalu ia membelinya.

Apa ia masih terbiasa dengan kebiasaan Mikoto? Bahkan ia sendiri tak merasa heran melihat Mikoto memakai sepatu hak tinggi dengan tinggi hak mencapai 14cm tadi karena memang dari dulu Mikoto sering menggunakan hak sepatu setinggi itu.

" Arigatou..." Ucap Mikoto pelan sambil meletakan gelas tehnya dimeja. Tak lupa ia tersenyum kearah Sakura. Senyum itu jelas membuat Sakura tertohok. Senyum itu buka seringai yang Sakura pernah lihat-lihat setelah pertemuannya kembali dengan Mikoto. Melainkan senyum malaikat Tante Salon kesayangannya. Senyuman tulus yang sering ia lihat dulu.

Ingin rasanya Sakura memeluk tubuh Mikoto saat ini juga. Hatinya berkata bahwa sosok Mikoto telah kembali dan ia sangat merindukannya. Tapi kekuatan logika yang menguasai dirinya saat ini berkata untuk tetap waspada. Mikoto sedang dalam keadaan mabuk. Orang yang sedang mabuk tak akan sadar dengan apa yang dilakukannya. Lagipula kini Mikoto telah membencinya.

Tapi saat teringat kembali senyum yang barusan ditunjukan Mikoto seolah meruntuhkan semua barikade kewaspadaannya. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah bahwa sosok malaikat Mikoto tak hilang, hanya saja terkubur dalam sosok kelam bertangan dingin yang ia lihat terakhir ini.

Lama Sakura berkutat dengan pikirannya. Terdengar suara erangan tertahan Mikoto.

" Akh...kepalaku..." Keluh Mikoto seraya memegang keningnya.

" Anda baik-baik saja...?" Tanya Sakura khawatir. Mikoto kembali tersenyum seolah ingin meredam kekhawatiran Sakura. Dan tentu itu semakin meyakinkan Sakura bahwa sosok dihadapannya ini adalah Mikoto yang sebenarnya. Meski kini Mikoto sedang dalam kondisi mabuk.

Setitik keringat mengalir dipelipis Mikoto. Juga ia dapat melihat kerutankerutan dikening Mikoto. Sakura melihat itu ditambah dengan keluhan Mikoto yang kembali terdengar. Ia tak mungkin pula membiarkan Mikoto dalam kondisi tersiksa seperti ini. Lagipula ia tak pernah menangani orang yang mabuk.

Satu-satunya jalan adalah mengirimkan pesan singkat pada kekasihnya dan memberitahukan keberadaan Mikoto dikediamannya ini.

00000000000000000000

Musik khas diskotik mulai masuk ke pendengaran Sasuke saat tubuhnya perlahan mulai memasuki sebuah diskotik ternama di Tokyo. Ditajamkan kembali penglihatannya hanya untuk sekedar memastikan keberadaan orang yang dicarinya. Tempat ini adalah tempat ketiga yang dikunjungi Sasuke hanya untuk mencari sosok ibunya itu.

Lama ia mencari, tapi yang dilihatnya hanya lautan manusia yang sedang melantai dan berdansa diiringi musik yang dipasang seorang DJ. Tak ada tabda-tanda keberadaan ibunya disana. Tapi ia belum menyerah, Sasuke masih terus mengedarkan pandangan matanya, sampai seorang wanita menabrak tubuhnya.

" Tampan, kalau jalan pakai mata dong!" Terlihat seorang wanita muda berambut pirang panjang berpakaian minim kurang bahan sedang berdiri menghalangi Sasuke. Wanita inilah yang menabrak Sasuke.

Pria berambut raven itu menyeringai. Ia telah terbiasa dengan trik murahan seperti ini. Seorang wanita dengan sengaja menabraknya hanya untuk sekedar menarik perhatiannya.

" Oh...sorry sweatheart." Ucap Sasuke enteng. Ia segera beranjak dari hadapan wanita itu. Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan wanita malam ini.

Tapi usaha Sasuke untuk menghindar dari wanita ini sepertinya sia-sia karena detik berikutnya wanita itu dengan nakal menarik lengan Sasuke. Wanita itu tersenyum nakal manakala melihat reaksi Sasuke yang tak bergeming saat lengannya ia sentuh.

Jemarinya yang telah terbiasa bermain-main itu mulai menyusuri dada bidang Sasuke yang memang hanya terbalut kaus berwarna abu-abu kerah rendah itu. Sasuke terdiam.

" Hanya maaf tampan? Aku tak butuh itu..." Ucap wanita itu. Sasuke menyeringai. Ia tak mungkin memperlakukan wanita kasar sekalipun wanita itu adalah wanita malam.

Saat bibirnya akan terbuka menjawab ucapan si wanita. Tiba-tiba saja ponselnya yang ia taruh disaku celananya bergetar. Dengan sedikit terburu-buru, Sasuke meraih ponselnya dan seketika ia mengangkat sebelah alisnya heran saat melihat layar ponsel touch screennya itu.

Sender : Sakura

Sas, maaf mengganggumu tapi Tante Mikoto ada dirumahku sekarang

Ia mabuk...kuharap kau segera kesini.

Hampir saja Sasuke terjengkal kaget andaisaja ia tidak melihat dimana sekarang ia berada. Tante Mikoto itu berarti adalah ibunya dan untuk apa ibunya kerumah kekasihnya. Ada yang tidak beres, kata itulah yang terpikir dalam otak Sasuke saat ini.

" Tampan ada masalah?" Suara wanita itu menggema ditelinga Sasuke. Sasuke kembali menyeringai dan menggenggam pergelangan tangan wanita itu untuk menjauh dari dadanya.

" Istriku, baru saja mengirim pesan padaku. Dan dia berpesan padaku untuk tidak terjebak dengan rayuan murahan seorang wanita bar. Jadi selamat tinggal sweatheart!" Ucap Sasuke mulus dan segera meninggalkan wanita yang menurutnya penganggu itu. Wanita itu sendiri hanya bisa mengumpati kepergian Sasuke.

00000000000000000000

Mata lavender Hinata dengan setia mengamati rentetan keyring yang ada disebuah etalase toko souvenir yang ada disalah satu distrik di kota Pattaya. Tepat setelah mereka sampai disebuah hotel di kota Pattaya ini, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati sore hari pertama mereka di Thailand dengan berbelanja disalah satu pusat keramaian di Pattaya. Dan ditempat ini pulalah mereka melepaskan hasrat belanja mereka, tanpa beristirahat terlebih dahulu.

Senyum terkembang dibibir Hinata kala melihat sebuah keyring berbentuk gajah putih yang sangat lucu. Di sekitar tubuh gajah itu terdapat beberapa butir berlian imitasi yang berkilauan. Sangat cantik.

Sejenak ia teringat dengan sosok sahabat baiknya. Siapa lagi kalau bukan Sakura. Ia berfikir pasti sahabat pinknya itu sangat senang dihadiahi keyring ini olehnya.

" Sakura-chan pasti suka..."

" Hinata-chan...kau sedang lihat apa?" Naruto yang sedari tadi sedang melihat-lihat pakaian di dalam toko tiba-tiba saja muncul dan tentu saja mengejutkan Hinata yang sedang melihat keyring pilihannya itu.

" Huwaaa...lucu! Kubelikan untukmu ya!" Seru Naruto sambil menunjuk keyring gajah yang ada di tangan mungil Hinata.

" Jangan!" Tolak Hinata. Naruto langsung mengerutkan keningnya heran. Hinata tersenyum dan matanya kembali memandang keyring itu.

" Kenapa? Aku masih punya uang kok.." Ucap Naruto sambil merogoh saku celana pendeknya dan mengeluarkan dompetnya. Hinata terkikik geli melihat reaksi Naruto kala itu.

" Bukan begitu...aku mau membelikan ini untuk Sakura-chan sebagai oleh-oleh pertamanya!" Jawab Hinata sembari tersenyum. Naruto langsung menghilangkan ekspresi bingungnya dan merangkul bahu mungil Hinata.

" Benar juga untuk Sakura-chan cocok kok! Meskipun terlewat feminim untuk Sakura yang kelewat macho!" Komentar Naruto seraya tertawa.

" Ah tapi yang ini lebih cocok!" Seru Naruto sambil meraih sebuah keyring lain dari tempat pajangannya.

Hinata kembali terkikik melihat keyring pilihan tunangannya itu. Sebuah keyring berbentuk boneka perempuan berambut pink, memakai sebuah kaus terusan berwarna kuning dan sebuah kaus kaki panjang warna-warni hingga lutut. Yang membuat keyring itu lucu adalah ekspresi boneka itu. Ekspresi boneka itu yang terlihat cemberut.

" Cocok kan?" Naruto meminta persetujuan. Hinata mengangguk setuju.

" Hm cocok! Dan yang ini untuk Sasuke-kun!" Kali ini Hinata meraih keyring lain dan Naruto langsung tertawa melihat keyring pilihan Hinata itu. Keyring berbentuk boneka laki-laki berambut hitam mencuat. Boneka itu mengenakan kemeja berwarna putih dan celana panjang warna cokelat. Sangat lucu, dan berbeda dengan ekspresi keyring untuk Sakura yang cemberut, keyring untuk Sasuke memiliki ekspresi seperti menyeringai sambil menggigit setangkai bunga mawar dengan giginya.

" Huwaaa! Yang ini mirip sekali dengan Teme dan ini mirip Sakura-chan yang galak!" Seru Naruto girang. Hinata ikut tertawa senang.

" Kekekeke Sakura-chan..." Ujar Naruto menirukan suara Sasuke seraya menggerakan boneka keyring Sasuke ke arah boneka keyring Sakura yang dipegang Hinata. Seperti sedang mengajak Hinata bermain peran dengan tokoh utama Sasuke dan Sakura lewat boneka keyring itu.

" Huwaaaa! Sasuke-kun menjauhlah dariku...hm!" Hinata menirukan gaya jual mahal Sakura saat didekati Sasuke sambil menggerakan boneka keyring Sakura menjauh dari boneka keyring Sasuke. Naruto tertawa senang melihat ekspresi Hinata yang sedang menirukan Sakura.

Mata sapphire blue miliknya dengan seksama melihat deretan-deretan keyring yang terpajang dan mengambil keyring lain yang menurutnya bagus.

" Hey...kalian berdua jangan bertengkar! Harus selalu akur...benar kan Akamaru..." Ujar Naruto menirukan suara Kiba, sahabatnya sambil mendekatkan keyring lain yang baru saja dipilihnya kearah boneka keyring Sakura dan Sasuke. Hinata sama sekali tak bisa menahan tawanya kala melihat keyring lain yang baru saja dipilih Naruto.

Sebuah keyring boneka laki-laki yang sedang berjongkok dan mengelus kepala seekor anjing. Boneka itu menunjukan ekspresi bahagianya terbukti dengan cengiran lebar terpahat diwajah boneka itu.

" Itu mirip Kiba-kun!" Seru Hinata.

" Ini akan kuberikan untuk Kiba!" Naruto tersenyum lebar sambil membayangkan wajah sahabatnya Kiba. Dan setelah itu kembali memfokuskan matanya kederetan-deretan keyring itu lagi dan ia berhasil menemukan sebuah keyring lucu lagi.

" Hahaha...yang ini mirip Temari-neechan, Hinata-chan!"

" Dan yang itu mirip Shika-kun!" Seru Hinata sambil menunjuk sebuah keyring mirip Shikamaru tepat disebelah keyring yang Naruto bilang mirip Temari.

" Benar, mirip sekali dengan Shika...!" Ujar Naruto sambil melihat keyring pilihan Hinata untuk Shikamaru. Masih sebuah keyring boneka laki-laki yang sedang tertidur. Rambut bonekanya panjang dikuncir. Ekspresi boneka itu terlihat sangat malas. Tubuh boneka itu sendiri dibalut sebuah piyama biru bergambar rusa.

" Bayangkan wajah marah Temari-neechan, pasti mirip dengan keyring itu!" Seru Naruto sambil menunjuk keyring yang ia pilih untuk Temari. Sebuah keyring berbentuk boneka perempuan berambut pirang. Warna wajahnya merah padam karena marah dan ada empat gambar siku di keningnya, tangannya juga berkacak pinggang. Boneka ini mengenakan kaus warna kuning dan jaket warna biru sama seperti milik Temari.

" Boneka Temari-neechan marah karena boneka Shika-kun tidak bangun-bangun!" Seru Hinata. Naruto kembali tertawa mendengarnya.

" Kita belikan sebagai oleh-oleh untuk mereka!" Naruto langsung mengambil semua boneka keyring dari tangan Hinata dan menaruhnya dikeranjang belanjaan.

" Naruto-kun...kita belum pilihkan untuk Sai!" Seru Hinata. Naruto langsung menepuk jidatnya, kenapa ia bisa lupa dengan sahabatnya yang satu itu.

" Dan pilihkan juga untuk Ino-chan!"

" Baiklah ayo kita cari! Cari yang mirip ya Hinata-chan!" Seru Naruto semangat dan keduanya kembali berkutat dengan deretan-deretan keyring di etalase toko itu.

" Ini terlihat seperti Tante Mikoto, Naruto-kun..." Hinata menunjuk sebuah keyring berbentuk boneka perempuan berambut hitam yang sedang mengenakan gaun terusan berwarna hitam dan sepatu hak tinggi warna merah. Naruto langsung menaikan sebelah alisnya.

" Kita kan sedang mencari yang mirip Sai dan Ino-chan, tapi kenapa malah ketemu yang mirip Tante Mikoto?" Tanya Naruto heran. Hinata menaikan bahunya pertanda tak tahu dan meletakan jari telunjuknya dibibirnya sendiri seolah sedang berfikir.

" Mungkin Tante Mikoto sedang merindukan kita Naruto-kun..." Tebak Hinata polos.

" Che...Hinata-chan mana mungkin mamanya Teme merindukan kita! Tapi, siapa tahu memang benar Tante Mikoto merindukan kita...sudah lama juga kita tak bertemu dengannya! Kekeke..." Tebak Naruto tak kalah polos dengan tunangannya. Hinata tersenyum geli dan langsung menaruh boneka keyring mirip Mikoto ke keranjang.

" Kita belikan ya Naruto-kun! Siapa tahu Tante Mikoto senang!" Hinata tersenyum polos. Naruto hanya manggut-manggut lalu menunjukan cengiran jahilnya.

" Kita jadikan saja ini sogokan buat Tante Mikoto supaya dia mau menyetujui hubungan Teme dan Sakura-chan! Kau setuju kan Hinata-chan?" Naruto langsung meminta persetujuan dari Hinata tentang ide bodohnya. Dan Hinata langsung menyetujui ide bodoh Naruto itu.

" Benar! Siapa tahu usaha kita berhasil membuat Tante Mikoto setuju!" Dan ia malah menyemangati ide bodoh Naruto.

" Huwaaa! Kita memang cerdas Hinata-chan! Ayo cari lagi!" Naruto dengan semangatnya kembali berkutat dengan deretan-deretan keyring dihadapannya, diikuti Hinata pula tentunya. Dan mulailah terdengar serua-seruan heboh yang mengundang banyak orang untuk memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh pria berambut kuning cerah itu dan wanita berambut indigo dikepang kelabang disampingnya.

" Hinata-chan! Lihat rambut bonekanya mirip Sai!"

" Yang ini malah mirip ayahku, Naruto-kun! Hehehe!"

" Che...kenapa aku malah menemukan boneka yang mirip Itachi-nii, kakaknya Teme?"

" Lihat, ini mirip Ino-chan!"

" Hinata-chan ini mirip denganmu! Coba lihat!"

" Mana? Iya mirip denganku! Aku cari yang mirip Naruto-kun ya?"

" Oke! Lihat ini seperti kakakmu Hinata!"

" Benar! Mirip Neji-nii!" Terus begitu, sampai keranjang mereka penuh dengan keyring dan Hinata sendiri sudah melupakan keyring gajah yang dipilihnya pertama kali tadi.

" Lihat-lihat ini mirip mantan kekasihku, Hinata-chan! Kekeke!"

" ..."

" Hinata-chan"

"..."

" Hinata-chan jangan marah..." Acara belanja mereka ditutup dengan ngambeknya Hinata dan repotnya Naruto membujuk dan membawa belanjaan mereka yang banyaknya seperti bawaan orang pindah rumah.

00000000000000000000

Sakura baru saja kembali dari kamar mandi dan membawakan semangkuk air hangat kearah ruang tengah untuk Mikoto. Dengan cekatan Sakura mengambil saputangan bersih dari lemarinya kemudian mencelupkan sapu tangan itu kedalam mangkuk berisi air hangat yang tadi dibawanya.

Mata Mikoto yang awalnya terpejam langsung terbuka perlahan saat tiba-tiba merasakan sentuhan lembut serta hangat dipipinya. Dilihatnya, Sakura dengan hati-hati membasuh wajahnya dengan sapu tangan.

" Ini bisa membuat Tante lebih baik..." Ujar Sakura lembut dan terus membasuh keseluruhan wajah dan leher Mikoto dengan perlahan. Mikoto tak menolak itu semua, ia justru menikmatinya. Wajahnya yang semula lengket, jadi terasa lebih segar.

" Kau memberitahu putraku tentang keberadaanku disini?" Tanya Mikoto tiba-tiba dan sontak langsung menghentikan aktifitas Sakura yang sedang memeras sapu tangan. Ditatapnya kedua iris mata Mikoto yang sewarna langit malam itu dengan mata melebar. Mikoto tak bergeming saat melihat ekspresi keterkejutan yang ditunjukan Sakura padanya. Matanya malah semakin terlihat sayu kala itu.

" Ak...ak..aku..." Jawab Sakura gugup. Entah kenapa lidah terasa kelu dan tak bisa menjawab pertanyaan Mikoto. Seolah dirinya sedang berad dalam posisi kuncing yang ketahuan mencuri ikan dan tertangkap basah.

" Putraku pasti marah!" Ucap Mikoto sambil terkekeh. Dialihkan pandangannya dari Sakura, dan mulai menatap kearah jendela.

" Sasuke takkan marah karena-.."

" Ia pasti marah!" Potong Mikoto cepat. Sakura hanya bisa terdiam dan terus memandangi Mikoto. Padahal ia sudah berusaha untuk tidak mengetik pesan tepat didepan Mikoto. Tapi tetap saja wanita paruh baya ini mengetahui apa yang dilakukannya dibelakang.

" Ia akan menyangka bahwa aku menyakitimu. Ia akan marah padaku, ia akan lari dariku...ia akan membenciku! Heh...ibu macam apa aku yang dibenci oleh putra kesayangannya sendiri!" Ujar Mikoto panjang, raut kesedihan tersirat jelas dikedua mata kelam Mikoto, dan Sakura melihat itu.

" Anda tak menyakitiku...jadi Sasuke takkan marah pada anda..." Sakura menenangkan. Padahal dalam hatinya ia sungguh tak merasa tenang. Perasaan bersalah menyusup dalam relung hatinya. Kesedihan Tante kesayangannya ini dikarenakan Sasuke membencinya, dan Sasuke membencinya karena Mikoto tak menyetujui hubungan mereka, dan itu semua akan berbuntut pada dirinya yang membuat Mikoto sedih.

" Pukul aku!" Desis Mikoto pelan membuat Sakura heran.

" Kenapa anda bicara seperti itu?"

" Pukul aku Sakura! Kau membenciku kan?" Jerit Mikoto tiba-tiba, dan itu jelas membuat Sakura terkejut. Senyum malaikat yang tadi ditujukan Mikoto padanya hilang dan digantikan dengan keputus asaan dan kesedihan yang sangat menyiksa.

" Aku yang telah membunuh kedua orang tuamu! Aku membenci ayah dan ibumu Sakura! Kau dendam padaku kan?" Jerit Mikoto lagi. Sakura mencoba menenangkan Mikoto. Tapi Mikoto menepis semua itu dan segera bangkit dari posisi duduknya.

Wanita paruh baya itu langsung hampir saja kehilangan keseimbangannya andai saja Sakura tak sigap langsung menangkap tubuhnya.

" Kumohon duduklah kembali! Tolong jangan buatku khawatir!" Ucap Sakura seraya memegang lengan Mikoto.

" Khawatir? Kau mengkhawatirkanku? Setelah apa yang aku lakukan padamu?" Jerit Mikoto menggila. Ditepisnya tangan Sakura hingga tubuh Sakura jatuh kelantai.

" Bunuh aku! Sama seperti aku membunuh ayah dan ibumu, Sakura! Lakukan...Akh!" Jeritan Mikoto berakhir dengan erangannya sendiri. Rasa sakit yang amat sangat menyerang kepalanya. Segera ia mencengkeram kepalanya berharap itu dapat mengurangi sakit dikepalanya yang diakibatkan oleh jumlah alkohol yang terlalu banyak diminum diusianya yang tak lagi muda.

Sakura sendiri tak menghiraukan sakit dibokong serta punggungnya akibat terjatuh tadi. Ia segera meraih tubuh Mikoto.

" Kumohon jangan seperti ini! Aku tak mungkin melakukan itu!" Ujar Sakura seraya memeluk tubuh Mikoto. Entah sejak kapan air mata telah berkumpul dipelupuk matanya saat melihat Mikoto yang tiba-tiba menggila.

" Kau mungkin melakukan itu...Benci aku Sakura...Kau membenciku kan?" Bisik Mikoto pelan ditelinga Sakura. Sakura terus saja menangis sambil memeluk Mikoto. Ia tak tahu apa alasan Mikoto membunuh kedua orang tuanya, tapi pasti Mikoto punya alasan atas itu semua. Mikoto adalah orang yang teramat disayanginya, Sakura telah menganggap Mikoto ibu keduanya dikarenakan sejak kecil ia dekat dengan Mikoto. Bermain bersama, belajar bersama, belanja bersama dan melakukan banyak hal yang tak bisa dilakukannya bersama ibunya sendiri. Karena ibunya sangat sibuk dengan perusahaan. Jadi tak ada alasan kuat bagi Sakura untuk membenci Mikoto.

" Aku tak membenci Tante! Aku menyayangi Tante...kembalilah menjadi sosok Tante salon yang kusayangi...aku menyayangimu!"

" BOHONG!"

Cklek...

" IBU!" Tepat saat Mikoto menjerit dan mendorong tubuh Sakura, Sasuke datang dan langsung menangkap tubuh Sakura yang hampir saja terjatuh.

" Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke seraya mengelus pipi Sakura. Sakura mengangguk dan langsung mengusap air matanya. Tatapan tajam Sasuke langsung mengarah kesosok ibunya yang sedang berdiri berurai air mata.

" Kau! Apa yang ibu lakukan pada Sakura?" Bentak Sasuke seraya mengguncang bahu ibunya. Mikoto hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menangis dalam diam. Sasuke terlihat sudah dalam puncak emosinya. Diguncangkan kembali bahu ibunya itu lagi kasar hingga tubuh Mikoto tak berdaya ditangannya.

" Bohong! Ibu pasti menyakitinya kan? Kenapa? Kenapa ibu selalu menyakitinya bu? Kenapa ibu tak pernah puas menyakiti Sakura?" Raung Sasuke. Tak dihiraukan lagi keadaan ibunya yang sudah kacau sekarang. Mikoto tak menjawab, ia sudah tak punya kekuatan untuk sekedar melawan putranya sendiri. Tak pernah ia bayangkan putranya akan membentaknya sekeras itu. Hatinya sakit.

" IBU JAWAB AKU!"

" Sasuke hentikan!" Sakura langsung menarik tangan Sasuke agar berhenti mengguncang tubuh Mikoto. Tapi itu sama sekali tak membuat Sasuke bergeming. Pria berambut raven ini masih terus mengguncang tubuh ibunya dan mengeluarkan makian-makian tak pantas yang tak seharusnya keluar dari mulut seorang anak pada ibunya.

" Dasar ibu brengsek! Jawab pertanyaanku bu? Kenapa ibu tak pernah puas menyakiti kami?"

" SASUKE KUBILANG HENTIKAN!" Jerit Sakura dengan sekuat tenaga melepaskan tangan Sasuke dari bahu Mikoto. Dan usahanya tak sia-sia. Kini Sasuke tengah memandangnya tajam. Tapi itu sama sekali tak membuat Sakura gentar.

" Kenapa? Kenapa kau membela ibuku? Kenapa kau menghentikanku?"

PLAK

Sasuke dapat merasakan pipinya panas akibat tamparan keras Sakura. Seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan kekasihnya, Sasuke mulai menatap kembali wajah kekasihnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat lelehan air mata yang membasahi pipi kekasihnya itu dan ekspresi marah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

" Berhenti berkata seperti itu! Dia ibumu Sasuke! DAN AKU TIDAK SUKA KAU MENYAKITINYA!" Jerit Sakura. Sasuke terdiam dan detik berikutnya terdengar suara erangan Mikoto dan tubuh tuanya jatuh kedalam pusaran ketidak sadaran.

BRUK...

" Tante Mikoto!"

" Ibu sadarlah!"

End Chapter 20

Kekekekeke saya kayak orang gila waktu buat fic ini, soalnya emosinya berubah-ubah. Dari cerianya couple NaruHina langsung ke adegan sad SasuSaku.

Jadinya dhitta ketawa cekikikan pas buat adegan NaruHina, dan nangis sesegukan waktu adegan SasuSaku. Dhitta gatau pasti perbedaan waktu antara Jepang sama Thailand, jadi saya perkirakan kira-kira kalau di Tokyo malam maka di Pattaya tuh sekitar sore gitu lah. Kekekeke saya sotoy.

Sekitar 3 chapter lagi The Shinobi Gank the series akan tamat! *ngibarin bendera* Akhirnya akan selesai...jujur saya udah mandek nih buatnya. Ending akan sangat berbeda dengan yang dhitta pikirkan dulu, soalnya udah lupa ma ending yang lama, jadi ending yang baru deh! *reader : bomat bodo amat*

Adegan NaruHina terinspirasi dari jalan-jalan saya sama temen-temen waktu tour perpisahan...gara-gara beliin oleh-oleh duit saya jadi abis semua...kekekeek *curcol*

Baiklah...Terima kasih atas kesedian readers membaca dan mereview fic ini...Terima kasih banyak bagi yang sudah mereview...ini semua kupersembahkan untuk kalian, karena kalau ga ada yang review..dhitta ga tau bakal lanjut atau ga fic ini! Terima kasih atas dukungannya! Dukung dhitta terus sampe fic ini kelar ya!

Bocoran chap 21: Ga nyangka panjangnya ni fic nyampe chapter 21! Mikoto pingsan! Ingatan Sakura akan kebaikan Tante salonnya aka Mikoto terus menganggunya...akankah Mikoto berubah dan dendam Sakura atas kematian orang tuanya terlupakan? Lanjutan jalan-jalan NaruHina di Thailand terhambat...karena mereka mendadak harus kembali ke Jepang karena sebuah insiden? Apa itu? Ayo tebak! Semua ada di The Shinobi Gank chap 21!

Review! Khamsahamnida!