Chapter 21
Shell cottage
"Harus kuakui," kata Ron berat dan sportif. "Aku tak akan bertahan dengan cewek yang bersikap seperti itu padaku. Marah-marah tanpa sebab, tak mau di ajak bicara, menguping pembicaraan saat hangout dengan teman-teman." Dia menatap Harry heran, yang meringis.
Draco mendengus. "Thank you Weasley, such a compliment untuk kesabaranku menghadapi cewek ini," katanya, lalu nyengir pada Harry. "Kau akan makin heran kenapa aku bisa bertahan dengan yang model begini di akhir cerita ini..."
Harry memelototi Draco. "Kau berani berkata begitu sekarang? Kau si super cemburuan..."
Draco mengangkat bahu. "Aku merasa tak ada yang salah dengan kecemburuanku. Kau memang suka main mata dengan cowok-cowok rendah," katanya.
Harry menggertakkan giginya. Hermione mau tak mau tersenyum, dan memilih bertanya kelanjuan ceritanya.
-dhdhdh-
4. Kelas 5, part 4
Harry akhirnya menginap di kamar Draco. Mereka langsung tertidur saking lelahnya.
Saat Draco bangun, jam baru menunjukkan pukul 6. Dia mempererat pelukannya pada pinggang Harry, menenggelamkan kepalanya ke rambut cewek itu, menghirup aroma vanilanya yang memabukkan... Draco jr, yang sudah bersemangat sejak Draco bangun, mulai mencium adanya harapan... setelah berbulan-bulan hanya puas dengan tangan kanan Draco...
Draco memasukan tangannya ke balik kaus Harry, membelai perutnya. Bibirnya mencium pundak Harry, berjalan ke tengkuknya...
Terdengar kikikan dari Harry, membuat Draco nyengir lebar. Bibirnya masih bergerilya...
"Aku lapaar," kata Harry, mendorong Draco, yang mendesah luar biasa panjang.
"Ini masih jam 6," tandas Draco, menggeliat, menjatuhkan kepalanya ke bantal lagi.
Harry menatapnya geli. "Kamar mandi," katanya riang, bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Draco cemberut.
Harry dan Draco menghabiskan Sepagian di kamar Draco, tiduran di kasur Draco sambil makan coklat kiriman ibunya, bercerita tentang apa yang terjadi pada mereka dalam 2 bulan terakhir tak saling bicara. Harry menceritakan dengan lengkap soal detensi Umbridge, Laskar Dumbledore, kedatangan Sirius yang nyaris ditangkap Umbridge, pelajaran di Kamar Kebutuhan, dan dilarang main Quidditch seumur hidup...
Draco melongo. "Seumur hidup?!"
Harry menatapnya sebal. "Thanks to you."
Draco berjengit. "Well, mana aku tahu dia membencimu sampai seperti itu," katanya, menatap punggung tangan Harry, membelainya pelan. "Heran kenapa."
"Pasti karena Fudge," kata Harry. "Dia kan benci aku. Aku punya kecurigaan Umbridge naksir Fudge."
Draco terkekeh. "Fudge sudah punya istri."
Harry mendengus. "Perempuan jahat seperti Umbridge tak akan berhenti hamya karena seorang istri."
Draco terbahak, menggeleng. "Bayangkan reaksinya kalau menangkap grup pertahananmu..."
"Pasti aku akan dikeluarkan," kata Harry simpel, mengangkat bahu.
Draco hanya mengangkat kedua alisnya, rupanya sudah terbiasa dengan segala macam tingkah gila Harry dan teman-temannya. Draco tengkurap, menatap mata Harry, tangannya mengelus perut Harry.
"Sekarang saat yang kutunggu-tunggu," kata cowok itu, nyengir lebar.
Harry tertawa. Dia hanya memakai kaus putih ketat dan jins. Draco menatap tubuhnya dengan ekspresi lapar. Tanpa kata lagi, dia mencium Harry mesra.
Tangannya langsung masuk ke dalam kaus Harry, dengan mudah melepaskan bra Harry, melemparkannya asal ke lantai. Napas Harry tercekat saat tangan Draco menyentuh dadanya, memainkannya...
Dia mendudukan dirinya, dan menarik kepala Draco untuk menciumnya makin mesra. Kangen sekali. Rasanya ribuan ciuman tak akan mengobati rasa rindunya yang menggelegak. Napas Draco memburu saat cowok itu mencium lehernya, menggigitnya...
"ugh," desah Harry, merasakan cairan mengalir deras di celana dalamnya. "Itu akan membekas..."
"Who cares?" Desah Draco, menjilat hasil karyanya, membuat perut Harry makin tegang penuh gairah.
Tangan Harry melepaskan kancing Draco satu per satu, membuka jubah cowok itu, menunjukan bokser sutranya. Harry membelai dada bidang Draco, tangannya turun ke bawah, matanya mengikuti arah tangannya...
Draco mengeluarkan suara seperti menggeram, dan mencium Harry lagi, menarik cewek itu ke pangkuannya. Harry merasakan betapa bersemangatnya Draco jr, dan mendadak merasa keberaniannya datang. Dia membuka kausnya.
Mata Draco membelalak lebar, mulutnya terbuka, benar-benar kaget. Harry merasakan wajahnya terbakar, malu luar biasa. Tangannya mencoba menutup dadanya, tapi Draco dengan gesit menahannya. Cowok itu menatap payudara Harry penuh birahi, tampak terlalu terpesona untuk melakukan hal lain.
Harry mendengus. "Malfoy," katanya, menjentikkan jari ke depan wajah Draco. "Kau tidak mati saking girangnya kan?"
Draco tidak menanggapi, tapi tangannya bergerak menyentuh dada Harry, meraba putingnya. Harry merasakan bulu kuduknya berdiri saking bergairahnya. Astaga...
Lalu terdengar gedoran di pintu.
"Draco! Makan siang! Mau sampai kapan kau mengurung diri di kamar?" Seruan Zabini terdengar.
Draco menutup matanya seolah sedang meminta kesabaran. "Fuck off Zabini!"
"Kau masih marah karena dikalahkan Potter? Bukankah harusnya kau sudah terbiasa?" Tandas Zabini, di iringi suara tawa Nott.
Harry ikut cekikikan. Draco menatapnya tak terkesan. "Go away kalian berdua! Aku akan keluar sebentar lagi!"
"Nope! Kami akan menunggumu di sini! Keluar sekarang atau kupanggil Profesor Snape!"
"Merlin," geram Draco. Harry memakai kembali bajunya. Draco tampak ingin menangis saking kecewanya. Harry nyengir, turun dari kasur, memakai jubahnya dan mengambil jubah gaibnya. "Bagaimana dengan ini?" Desis Draco, menunjuk Draco jr yang masih terbentang gagah. Harry menatapnya kasihan.
"Minggu depan," katanya, tersenyum menggoda.
Draco menatapnya bingung. "Kenapa tidak nanti malam?"
Harry mengangkat bahu. "Kau yang bilang kalau kita harus mengerjakan PR. Ini sudah hari Minggu loh."
Draco memelototinya. "Well, siapa peduli pada PR?"
Harry tertawa. "Kau Mister."
Cowok itu mendesah. "Right," gumamnya, mengambil tongkatnya, menyentuh bagian depan celananya, dan sekejap, Draco jr menunduk lesu. Harry tertawa terbahak.
Harry menciumnya sekilas. "Sampai ketemu," bisiknya, memberi Draco tatapan menggoda. Draco mendesah panjang saat Harry memakai jubah gaibnya, lalu menuju ke pintu dan membukanya. Zabini dan Nott masih berdiri di sana, bersedekap. Nott memberi Draco, yang masih hanya memakai boksernya, tatapan mengapresiasi.
"Nice body baby," kata Nott riang, masuk ke dalam kamar Draco tanpa di undang. Draco memutar bola matanya. Zabini mengikuti mereka.
"Jangan panggil aku baby," ketus Draco.
"Kenapa? Takut seseorang cemburu?" Goda Nott penuh arti. Draco cemberut.
"Tak akan ada yang cemburu padamu."
"Hmm, sepertinya ada," kata Zabini, mengangkat bra Harry yang tergeletak di bawah meja Draco dengan ekspresi seolah natal datang dua kali lebih cepat. Draco tergagap, Harry merasakan wajahnya sendiri merah padam, dan buru-buru menyusup keluar.
Biarkan pria yang menyelesaikan masalahmu, pikirnya, menutup mulutnya agar tan ada yang mendengarnya tertawa cekikikan.
-dhdhdhdh-
Waktu berjalan cepat setelah itu.
bulan November berakhir, berganti Desember, dan tanpa terasa sudah mau liburan Natal. Tapi kejadian buruk terjadi. Harry mendapat penglihatan bahwa Arthur Weasley diserang ular besar. Dia, Ron, Ginny, Fred, dan george dikirim oleh Dumbledore ke Grimmauld Place.
Harry sudah ingin kembali ke kamarnya untuk memberitahu Draco. Tapi dia tak bisa mengirim surat kan? Harus dengan kode, karena Umbridge memeriksa semua surat yang masuk dan keluar. Harry baru bisa masuk ke kamarnya malam hari setelah menjenguk Arthur, setelah Moody bilang dia dirasuki oleh Voldemort...
Harry mengernyit.
Draco,
Aku tak bisa bercerita banyak, hanya bisa bilang aku baik-baik saja, tapi tak baik-baik saja. Bisakah kita bertemu?
Girlfriend
Harry mendesah panjang.
Untungnya, beberapa hari setelah itu, Ginny berhasil meyakinkannya kalau dia tak dirasuki. Draco berkata dalam suratnya bahwa dia akan mengunjungi neneknya di st Mungo saat Natal. Kebetulan Harry juga akan menjenguk Arthur bersama yang lain.
Mereka janjian bertemu di lantai empat, depan penyimpanan sapu. Begitu melihat cowok itu, berdiri bersandar di tembok, dengan jubah biru dongker mewah, Harry langsung berlari memeluknya.
Draco terkekeh, balas memeluknya. "Miss you too," gumamanya, mencium kepala Harry. Harry menariknya ke dalam lemari sapu, lalu tanpa kata menciumnya mesra. Mereka menghabiskan 5 menit yang panjang untuk berciuman, sampai dengan terpaksa Harry melepaskan dirinya, dan menceritakan apa yang terjadi.
Draco mengernyit. "Bagaimana bisa kau melihat yang seperti itu?"
Harry mengangkat bahu. "Seperti ada koneksi antara aku dan Voldemort. Aku pernah beberapa kali melihat pikirannya kan?"
Draco mengangguk, teringat saat kelas 4. "Dan Dumbledore tak mengatakan apapun?"
Harry cemberut. "Tidak satu katapun."
Mereka membahas sebentar, tapi Harry harus segera kembali ke teman-temannya. Sudah setengah jam dia kabur dari mereka.
Mereka keluar dari ruangan itu. Harry memeluk leher Draco, menariknya untuk menciumnya. Draco tersenyum malas, menempelkan dahi mereka.
"Sampai ketemu di sekolah," gumam Draco.
Harry mengecup bibirnya. "Thanks karena kau mau kesini..."
"Everything for you."
Harry tertawa. "Tumben kau bisa mengucapkan kalimat bagus."
Draco menecup bibir Harry. "Because I love you..."
Harry terbahak, wajahnya merona. "Siapa kau dan apa yang kau lakukan pada Draco Malfoy?" Godanya. "But I love you too."
Draco memutar bola matanya, menunduk untuk mencium Harry properly...
"Harry?"
Harry dan Draco tersentak melepaskan diri, menoleh, menatap kaget Neville, yang berdiri dengan mulut terbuka lebar, tergagap bagai ikan.
"Astaga..."
"Emm," Harry tak tahu harus berkata apa, melirik Draco, yang mengangkat bahu menatapnya. "Hai Nev, sejak kapan kau di situ?"
Neville menatap Harry, lalu ke Draco, lalu ke Harry, lalu mengusap matanya, lalu menatap mereka lagi, seolah sungguh tak percaya apa yang dilihatnya.
"sejak dia berkata I love..." Neville berjengit. Wajahnya merah padam. Harry meringis. Draco mendengus.
"Well, kuserahkan padamu?" Tanya Draco. Harry mengangguk. Lalu dengan anggukan sekali pada Neville, Draco berjalan pergi.
Harry dan Neville terdiam sampai suara langkah Draco tak terdengar lagi.
"Em,"
"What the hell Harry?" Ketus Neville, menatap Harry tak percaya. Harry berjengit.
"Yah, seperti yang kau lihat," kata Harry. "Aku pacaran dengan dia."
"Dengan Draco Malfoy?" Neville tampak sangat sangat tak percaya. "Kau membencinya!"
Harry meringis. "Well, kau dengar tadi kan. I love him..."
Neville bergidik. "Astaga!" Gumamnya, syok luar biasa. "Astaga. Kurasa aku perlu duduk." Dia mendudukkan dirinya di kursi tunggu depan salah satu kamar.
"Nev," kata Harry cepat. "Ini... kau tahu... hubungan kami rahasia..."
"bisa kutebak," desah Neville lemas.
"Yah, untuk keselamatan Draco. Kau tahu kan, Voldemort akan membuatnya menjadi pancingan untuk mendapatkanku kalau mereka tahu..."
Neville memutar bola matanya. "Harry, aku mengerti. Aku tak akan mengatakan pada siapapun. Astaga... melihatmu berciuman dengan dia..." dia bergidik lagi. "Trauma seumur hidup."
Harry terbahak. "Jangan gitu dong. Memangnya aku sebegitu tak pantasnya dengan Draco?"
"Draco..." Neville tampak mual. "Jangan panggil nama depannya. Aku merasa ada di dunia lain."
Harry menggeleng-geleng. "Hiperbola."
Neville memelototinya. Tapi sebelum dia bisa berkata apa-apa, teman-teman yang lain muncul.
"Itu dia Harry!" Tandas Hernione.
"Kami cemas tahu Har. Kupikir kau diare atau bagaimana," kata Ron. "Rupanya sedang reunian dengan Neville. Hai Nev."
Harry bersyukur tak perlu memberi alasan apapun pada Ron dan yang lainnya. Dan, menatap Neville, untungnya hanya Neville yang memergoki mereka...
-dhdhdhdh-
Hari terakhir di Grimmauld Place, Harry diberitahu bahwa dia harus mendapat pelajaran Occlumency dengan Snape. Marah, karena bukankah sudah cukup dia bertemu Snape hanya saat pelajaran ramuan saja? Tapi tidak. Dia harus menerima celaan demi makian Snape di luar kelas ramuan.
"Apakah Mr Malfoy satu-satunya hal yang ada di pikiranmu, Potter!" Desis Harry, dengan sangat mirip menirukan nada penuh benci Snape padanya. "Pangeran kegelapan, dengan seluruh upaya ingin menghabisimu, dan yang kau pikirkan hanyalah bagaimana membuat Mr Malfoy mau menidurimu!"
Draco tertawa terbahak-bahak. Harry, yang duduk di kursi meja belajar Draco, menatapnya sebal, tapi Draco hanya tak bisa berhenti tertawa. Dia berguling di kasurnya, memegang perutnya.
"Well, terimakasih atas simpatimu," tandas Harry masam. "Kita lihat bagaimana reaksimu kalau ada yang melihat memorimu, terutama saat tanganmu sedang masuk ke bajuku..."
Draco menggeleng-geleng, masih sangat geli. "Tak akan terjadi padaku, Potter, karena aku sudah ahli menutup pikiranku," katanya ringan. "Kau membuatku heran. Apanya yang susah sih? Kau tinggal menutup pikiranmu. Selesai."
Harry cemberut. "Kalau segampang itu, kenapa bukan kau yang mengajariku?"
Draco menatapnya seolah dia sudah gila. "Aku tidak berkualifikasi Potter. Snape, dilain pihak, sangat jago oklumensi. Dia berhasil mengelabui Pangeran Kegelapan!"
Harry mendengus, masih percaya bahwa Snape tak mungkin sepenuhnya membela Orde, tapi tak ingin membahasnya lagi.
"Jadi," kata Draco penuh humor. "Apa hanya aku yang ada di pikiranmu, Potter?"
Wajah Harry merona, memutar bola matanya. "Berhenti menggodaku! Kau tak tahu bagaimana malunya aku. Diceramahi soal hubungan cowok cewek oleh Snape. Snape! Mungkin masih virgin..."
Draco terbahak lagi. "Banyak juga yang naksir dia di Slytherin," katanya, membuat Harry menatapnya tak percaya. "Seriusan. Aku dan Blaise pernah mendengar Pansy dan geng membicarakan soal apakah Snape mau meniduri mereka secara bergantian kalau mereka sudah cukup umur..."
"Stop!" Seru Harry, menutup telinganya, ekspresinya horor. Draco kembali tertawa sampai air matanya keluar. Harry menatapnya tak terkesan.
"Lucu sekali," ketusnya.
Draco bangkit, menarik Harry berdiri dari kursinya, memeluk pinggang Harry dan merapatkan tubuh mereka. Wajah Harry masih nampak kesal. Draco nyengir lebar.
"mau membuat kenangan baru untuk membuat Snape makin trauma?" Godanya.
"Ha ha," jawab Harry garing. Draco terbahak.
"Kau tahu, kau beruntung orangtuakulah yang pelahap maut. Kalau keluargamu yang dark side, dan aku adalah boy-who-lived, aku akan terpaksa memutuskanmu karena kau tak bisa menangkap konsep menutup pikiran," katanya geli.
Harry mengernyit. "Hmm, jadi kau akan menjadi Gryffindor dan aku Slytherin?"
Draco mengangkat sebelah alisnya. "Apakah pahlawan harus dari Gryffindor?"
Harry nyengir. "Tentu saja! Every Gryffindor borns a hero! And herroin."
Draco mendengus, memutar bola matanya. "Stereotype. Ingat Peter Pettigrew, Babe."
Harry hanya bergumam, menatap bibir Draco, hilang konsentrasi pada percakapan mereka. Draco terkekeh, lalu mendekatkan wajahnya untuk mencium mesra pacarnya itu.
Hari itu jumat, jadi Harry menginap di kamar Draco seperti biasa. Esoknya, Sabtu siang hari saat Draco bangun, sudah tidak ada cewek itu. Tapi ada surat yang dia tinggalkan di meja kecil di sebelah tempat tidur Draco.
Walaupun kau terlahir Gryffindor,
dan aku yang menjadi Slytherin rasis anti-muggle,
aku tahu aku akan tetap jatuh cinta padamu.
forever,
Harry
Draco merasakan wajahnya terbakar. Dasar Gryffindor! Bagaimana bisa dia menulis sperti itu tanpa merasa malu! Tapi Draco tak bisa menahan senyumnya, menggeleng-gelemg, dan bersenandung saat mandi.
Saat dia selesai mandi dan berganti baju, ada yang mengetuk pintu.
"Draco? Kau di dalam? Bisakah kau membantuku menyelesaikan pr ramuan?" Suara Theo.
Draco mendesah panjang, membukakan pintu kamarnya. Theo langsung masuk dan menjatuhkan dirinya ke kasur Draco.
"Tak bisakah kau minta tolong Blaise?" Tandas Draco, merapikan rambutnya di depan kaca.
"Nope. Kau mengajar lebih sabar dari dia," kata Theo. Lalu... "Astaga!"
Draco menoleh. "Ada apa..." wajahnya langsung merona dahsyat saat melihat Theo sedang membaca surat kecil Harry. Draco dengan bodohnya lupa menyimpannya! "Berikan padaku Theo! Itu privat!"
Theo menatap Draco tak percaya. "Kupikir kalian putus," katanya syok.
Draco memutar bola matanya, tangannya terulur. "Bukan urusanmu! Berikan kertas itu padaku!"
Theo menatap Draco tajam. "Kau tahu apa taruhannya kan? Ayahmu pelahap maut, dan kau pacaran dengan cewek yang di incar oleh pangeran kegelapan?!"
Draco menggeram. "Aku tahu persis apa taruhannya, Nott. Itu sebabnya kami merahasiakan ini kan?" Tandasnya, setelah sekian detik dan Theo tampak tak mau mundur.
Theo mengernyit dalam. "Draco..."
"Look, Theo, aku tak ingin membicarakan ini, oke? Aku dan Harry sudah membahasnya, dan kami baik-baik saja," kata Draco, duduk di kursi, menatap langit-langit kamarnya.
"Sounds pretty serious to me," desah Theo. "Hubungan kalian terlalu serius untuk anak 15 tahun kan?"
Draco mengangkat bahu. "Bisa di bilang begitu."
Theo mendengus. "Pantas saja kau tergila-gila padanya, kalau dia pandai memggombalimu seperti ini. Aku akan tetap jatuh cinta padamu," Theo menirukan suara Harry, yang sama sekali tidak mirip.
Draco memutar bola matanya, tapi tak menanggapi. Theo terbahak.
"Astaga. Jangan bilang kau juga mengatakan I love you-I love you too? Siapa kau? Hufflepuff?" Godanya.
Draco cemberut. "Shut up Theo! Memangnya kenapa? Mana bisa aku tidak mengatakannya kalau dia memberiku tatapan terluka-slash-insecure-slash-marah kan?" Ketusnya.
"Alibi hanyalah alibi," ledek Theo. "Merlin, nasibmu sungguh sial kan jatuh cinta pada gadis macam Potter."
Draco mengernyit dalam. "Dan apa maksudnya itu?" Desisnya.
Theo mengangkat bahu. "Potter. Keluargamu membencinya. Darah-campuran. Pecinta muggle. Sama sekali tidak anggun. Tomboy. Berteman dengan banyak cowok. Seolah dunia ingin menghukummu dengan sesuatu yang sama sekali bukan tipemu..."
Dan bahkan Draco tak bisa menanggapi itu.
-dhdhdhd-
shell cottage
"Jadi Neville tahu?" Kata Hermione tajam.
Harry meringis. "Yah, dia melihatku dan Draco berciuman dan bertukar I love yous... bukan sesuatu yang bisa disangkal kan?"
"Kau tahu, kurasa harusnya aku tahu..." kata Ron, dahinya berkerut. "Saat Dean berkata kalau dia menyukaimu, Neville satu-satunya yang tidak memberikan dukungan..."
Harry duduk tak nyaman, melirik Draco, yang ekspresinya langsung kaku, tapi tidak mengatakan apapun.
"Anywaaay," kata Harry, mengalihkan perhatian. "Mari kita lanjut..."
"Aku tak tahu cerita itu," kata Draco dingin.
"cerita apa?" Tanya HARry.
"Ceritamu dan Thomas."
"Memang tak ada cerita apapun..."
"Dan lihat sekarang siapa yang menyembunyikan rahasia di balik asramanya," desis Draco. Harry berjengit.
"Aku sungguhan tak tahu Draco," katanya putus asa. "Aku baru tahu Dean menyukaiku saat kelas 6, saat dia menembakku..."
"Kami tahu," kata Hermione. Ron menatapnya kaget. "Yah, aku tahu setidaknya," tambah Hermione, mengangkat bahu. "Dean selalu menyukaimu Harry. Mungkin sejak awal bertemu denganmu..."
Harry mengernyit. "Dan kenapa kau tak pernah bilang padaku?" Tuduh Harry.
Hermione mengangkat bahu lagi. "Bukan urusanku kan? Dia pasti punya alasan kenapa tidak menyatakan perasaannya padamu. Tapi menurutku sangat jelas..." Dia menggeleng menatap wajah cengo Ron dan Harry. "Kalian berdua memang keterlaluan."
Draco tampak tak terkesan. "Ceritakan padaku," desisnya. Hermione mengerjap. Kaget pada perubahan mood Draco yang tadinya tenang, jadi berapi-api.
Cemburuan.
Hermione menggigit bibirnya. Benarkah Harry sungguhan bisa hidup dengan manusia seperti Draco Malfoy? Sepanjang cerita mereka, jelas sekali Harry tergila-gila pada cowok itu, tapi Draco... seolah kehilangan kendali ketika ada satu saja kemungkinan Harry dekat dengan pria lain.
Hubungan yang tidak sehat...
Dan Harry memang juga menunjukan cemburunya, tapi masih dalam taraf wajar. Hermione bisa memahami semuanya.
Hermione menatap Ron, yang mengangkat bahu.
Lalu mulai bercerita.
-dhdhdhdh-
next chapter, sedikit tentang perasaan Dean, dan momen Drarry yang makin istimewa :*
sampai ketemu setelah 10 reviews :*
terimakasiih
