Tap ... Tap .. Tap..

Langkah kaki itu terkesan tegas dan terburu – buru .

"Cepat cari informasi tentang rumah sakit kyungsoo. Periksa jam – jam berkunjungnya , aku mau saat aku datang sedang tidak ada siapa siapa"

"Aku mengerti."

"Sekarang antarkan aku ke apartemen nya jongdae "

"Lewat sini Jongin-ah"

Kedua pria itu berangkat menggunakan mobil yang sudah sedari tadi menunggu mereka.

.

.

.

.

"Lepaskan aku. Aku bisa jalan sendiri. Aku bilang lepas"

Wanita itu terlihat memberontak. Tangannya dipegang erat kanan kiri oleh dua orang pria berbadan kekar

Dua orang itu menyeret si wanita sampai kehadapan pria berbadan tegap yang menawan itu

Clap Clap Clap

Pria itu bertepuk tangan sambil menyeringai

"Hebat..Hebat..kalian berdua hebat"

"Ini dia yang Anda inginkan tuan"

"Apa yang kau ingin kan dari ku bocah ingusan?"

Sehun mendekati Mian Chu dan mencengkram pipi wanitu itu kuat-kuat.

"Apa yang ku mau ? kau tanya apa yang ku mau? Biar aku tunjukan apa yang aku inginkan dari mu"

Plak

Satu tamparan berhasil melukai pipi Mian Chu. Darah keluar dari sudut bibirnya yang sobek.

Sehun berjalan dan mendekatinya, mencekik dan mengangkat tubuhnya.

"Apa rencana mu sebenarnya"

"A..."

"Jawab aku"

"Ba...gaimana aku..uhuk..bisa..men..jawab...kalau kau...aakk..mencekik ..ku"

Bugh

Sehun membanting tubuh itu ke bawah

"Aww" , perempuan itu meringis kecil merasakan tulang – tulangnya patah.

"Sekarang cepat katakan", bentak Sehun.

"Aku memang punya dendam pada keluarga ini. Kau tau kan? aku sangat mencintai appa mu. Tapi eomma mu lah yang mendapatkannya. Aku bahkan membuang anakku untuk bisa bersanding dengan appa mu. Tapi appa mu malah memilih wanita sialan itu"

Plak

Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kanannya kali ini.

"Jaga ucapan mu. Kau lah wanita jalang yang hanya bisa merusak hidup orang lain. Lalu apakah luhan itu anakmu? Kau menyuruhnya menjadi mata-mata disini heum?"

"Iya. Luhan memang anakku"

Sehun sudah bersiap ingin memukulnya

"Tapi.."

"Tapi apa?", tanya Sehun menghentikan gerak tangannya.

"Aku tidak bekerja sama dengannya. Cih,.. aku tidak sudi menganggapnya anakku. Dia berhubungan dengan keluarga mu jadi aku pun sama membencinya. Lagi pula aku bukan pengecut yang memakai kaki tangan."

Bagai disambar petir , Sehun terdiam seribu bahasa. Luhannya... luhannya tidak bersalah. Apa yang telah dia lakukan. Sungguh Luhan yang malang.

Dor..Dorr..

Dua hempasan peluru itu berhasil menewaskan Mian Chu seketika.

"Cepat bawa dia."

"Baik Tuan"

Kedua pelayan itu pun menyingkirkan jasad Mian Chu yang sudah tidak bernyawa. Sehun melemparkan senjatanya dan terduduk di sebuah sofa dekat tv.

Dia menangis meruntuki dirinya sendiri. Dimana Luhannya saat ini. Apa yang sudah dia lakukan. Gadis itu berkata yang sebenarnya , tapi mata sehun sudah terlalu dibutakan amarah. Sungguh kejam mengingat perlakuan nya pada Luhan.

"Luhan...maaf kan aku"

Hanya berulang kata maaf dan air mata yang mengalir.

.

.

.

"Waahh senangnya. Akhirnya aku bisa minum ini lagi "

"Hahahah kau sangat suka bubble tea ya?"

Luhan mengangguk lucu.

Slurp slurp

Luhan dengan semangat menyedot butir butir bubble nya.

"Aku rasa aku dulu sering minum ini dengan seseorang", kata Luhan membuka obrolan

"Oh ya? Dengan siapa? Mantan mu?"

"Aku tidak bisa jelas mengingatnya"

Luhan diam dan memejamkan matanya, mencoba mengingat potongan potongan memori yang muncul. Dia melihat ada tawa dan kebahagiaan. Dia melihat pria tinggi yang selalu memeluknya saat dia menangis. Dia melihat senyum dari pria itu yang mampu membuatnya tenang. Tapi dia tidak bisa mengingat wajahnya dengan jelas. Seberapa keras pun Luhan mencoba mengingatnya malah kepalanya yang terasa pusing/

"Ahh" luhan meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.

"Kau baik – baik saja ?"

"Aku rasa begitu"

"Jangan paksakan dirimu. Kau akan mengingatnya kalau itu memang sesuatu yang perlu diingat. Kalau kau masih kesulitan mengingatnya maka hal itu bukanlah hal penting untuk diingat"

"Kris.."

"Iya?"

"Kau melakukan rawat jalan dirumah? Kenapa tidak dirawat saja?"

"Aku sudah menghabiskan waktuku bertahun-tahun di rumah sakit , tapi aku tak lekas sembuh. Daripada terus membuang waktu lebih baik kulakukan rawat jalan. Jadi aku bisa bekerja dan beraktifitas."

"Kalau tau disini tidak mendapatkan hasil kenapa tidak ke luar negeri saja?"

"Aku tidak tau harus berobat kemana. Temanku di Kanada pernah bilang kalau di tempatnya ada rumah sakit yang bagus namun belum tentu juga bisa pulih."

"Kenapa tidak dicoba saja dulu. Kau tidak akan tau kalau belum mencobanya kan? atau kau mau ke Jepang? Aku dengar penyakit ini juga banyak di sana jadi mungkin penyembuhannya sudah ada disana"

"Sebenarnya kemanapun aku pergi , aku hanya butuh kau bersama ku"

Luhan tersenyum ,

"Tentu saja. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Kau adalah malaikat ku"

"Bagus", kris mengelus lembut surai madu itu.

.

.

.

.

Kai hanya bisa meratapi kekasihnya yang terbaring lemah dengan beberapa jarum dan oksigen di tubuhnya.

"Hyaa..aku pulang"

Hening

"Kau tak ingin menyambutku heum? Aku janji bukan untuk menemuimu saat aku kembali? Aku disini sekarang . Ayo cepat buka matamu cantik"

Tidak ada reaksi apapun. Air mata Kai satu persatu lolos. Ini sungguh menyakitkan.

.

.

*dalam alam bawah sadar kyungsoo*

Kyungsoo berjalan tertatih dalam ruang serba putih. Tidak ada siapapun. Kemana semua orang? Dia merasa takut saat ini.

"Appa..."

"Oppa.."

"Luhan eonnie..."

Kyungsoo berteriak memanggil – manggil semua orang

"Kalian dimana? Hiks..hiks.."

Tiba – tiba sebuah cahaya terang terlihat di depan matanya

"Kyung..Kyung.."

Suara itu. Kyungsoo tau benar suara itu. Itu suara Kai.

"Kai..Kai tolon aku..dimana kau?"

"Kyung..kyung.." suara itu semakin menjauh

Kyungsoo berlari mengejar suara itu, dia tidak mau kehilangan jejak suara itu.

"Kai kau dimana.?"

"Kyung.."

Suaranya berasal dari cahaya itu. Kyungsoo bingung sekarang. Dia terlalu takut untuk masuk kedalam sana. Tapi dia juga tak mau terlalu lama disini. Dia memulatkan tekadnya dan mengikuti arah suara Kai dalam cahaya itu

.

.

.

.

Kai masih setia mengenggam tangan dingin itu, sesekali mengecup nya .

Terasa gerakan pada tangan Kyungsoo , membuat Kai tersentak kaget.

Kai segera bergegas memanggil dokter dan perawat untuk datang.

Mata kyungsoo terbuka perlahan , pandangannya samar tapi perlahan jelas.

Dokter memeriksa setiap tubuh Kyungsoo memastikan kalau dia baik baik saja.

"Bagaimana dok?", tanya Kai cemas

"Ini sungguh hebat. Dia berhasil melewati masa kritisnya dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Keadaan nya pun kini mulai stabil. Dia hanya butuh banyak istirahat saat ini. Kalau begitu saya permisi dulu"

"Baik terima kasih dok"

Dokter itu pergi meninggalkan kamar rawat kyungsoo. Kai bergegas menghampiri Kyungsoo.

"Hey,,heyy kau bisa mendengarku?"

"Kai..." ucapnya lirih

Kai tersenyum "Iya ini aku. Kau tidur lama sekali sayang"

"Kai benarkah itu kau?", tanya kyungsoo meraba wajah Kai

"Ini benar benar aku bodoh", jawab Kai mencubit manja pipi Kyungsoo

"Hiks..hiks.."

Greb

Kai memeluk tubuh Kyungsoo dengan erat . Isakan kebahagiaan itu pun tak dapat dibendung lagi.

"Kau tolol..hiks..hiks..bercandamu sungguh kampungan ..itu tidak lucu. Hiks ...hiks "

"Hahaha maaf maaf. Aku tau aku salah jadi aku minta maaf ya"

"Jangan ulangi itu lagi dan jangan pernah meninggalkan ku lagi"

"Iya iya. Aku janji aku akan tetap disini."

Ceklek

Pintu itu terbuka menampakkan sehun yang berdiri tegap

"Kyung..kau sudah sadar?"

Sehun berlari memeluk Kyungsoo. Sehun juga mengecup surai hitam adiknya melampiaskan rasa bahagianya.

"Oppa.. aku merindukan mu"

"Nado kyung..."

"Oppa.. dimana Luhan eonnie?"

Deg!

Suasana berubah hening seketika. Kyungsoo menatap Sehun penuh tanya sementara Kai menatap Sehun penuh benci, ya semua itu karena Kai sudah tau semuanya.

"Luhan...luhan..dia.."

Brak

Kai membanting meja rawat di samping Kyungsoo membuat Sehun tersentak kaget

"Jawab dengan jelas. Dimana Luhan sekarang?"

"Aku tidak tau" , jawabnya pelan namun masih bisa terdengar oleh semuanya.

"Apa maksudnya kau tidak tau oppa? Luhan eonnie menghilang?" tanya Kyungsoo khawatir.

"Cih.. bukan itu kyung. Oppa mu lah yang sudah membuang Luhan . itulah kenapa Luhan tidak ada disini sekarang"

"Apa?" kyungsoo melotot menatap oppa nya. Sehun hanya bisa tertunduk dalam diam.

Hening

"Kau bajingan" , emosi kyungsoo mulai melonjak.

"Kau bajingan Oh Sehun kau sungguh sungguh biadab. Seharus nya kau malu pada dirimu. Apa yang kau lakukan padanya hah? Kau memang harus mati. Aku akan membunuh mu dasar laki-laki laknat."

"Sabar kyung sabar" , Kai mencoba menahan Kyungsoo yang merota – ronta menendang Sehun. Sehun terjatuh tak berdaya. Dia tidak bisa melawan adiknya karena itu memang kesalahannya.

"Maaf kan aku", ucap nya lirih

Kai menarik kerah baju Sehun dan mencekiknya

"Kau bilang maaf? Kau memperkosanya seperti pelacur lalu membuangnya dan kau hanya bilang maaf?"

"Uhuk..uhuk.."

Sehun merasa napasnya sengal. Kai yang melihat itu melepaskan cengkramannya

"Hiks..hiks..aku minta maaf. Aku memang laki-laki kurang ajar yang tidak bisa mempercayai istriku sendiri. Tapi sungguh aku menyesal dengan itu semua. Kalian pasti sedih sekarang, tapi asal kalian tau , aku lebih lebih kehilangan dia. Cintaku padanya melebihi kalian berdua, kalian tidak akan bisa mengalahkan rasa sakit ku sekarang. Hiks .. hiks.."

Sehun menangis di bawah kaki Kai. Kyungsoo tidak tega juga sebenarnya melihatnya. Toh , kakak nya sudah menyadari kesalahannya.

Kyungsoo berlutut mencoba mengimbangi posisinya dengan kakaknya.

"Sekarang apa rencanamu?" , tanya kyungsoo

"Aku akan mecarinya. Aku butuh bantuan kalian berdua untuk memperbaiki keadaan. Bantu aku mendapat luhan ku kembali kumohon"

"Dimana kau mau mencarinya? Tempat kau membuangnya?" tanya Kai meremehkan

"Aku akan mencari bahkan sampai keujung dunia sekalipun. Kalau kalian tidak mau membantu , tak masalah aku akan cari sendiri"

Sehun berdiri dan mulai berlalu walaupun jalannya pincang saat ini.

"Tunggu,"

Sehun menoleh

"Aku akan ikut dengan mu", kata Kai tersenyum

"Terima kasih. Aku sangat sangat berterima kasih"

"Santai saja bro. Hahaha "

Sehun tersenyum

"Kyung. Istirahat lah disini, aku akan mengabari semua tentang Luhan nanti"

Kyungsoo mengangguk mengerti. Kai menegcup dahi kyungsoo lalu berlalu bersama Sehun.

.

.

.

.

.

Luhan sedang beres-beres rumah kris. Dia menemukan baju yang ia kenakan saat ia ditemukan. Di dalam baju itu terdapat cincin pernikahan berukirkan Hunhan.

Luhan mulai mengingat ingat. Dia melihat gambaran dirinya sedang memakai gaun yang cantik dan berjalan ke sebuah altar. Di situlah dia bersanding dengan pria yang memiliki senyum indah itu. Anehnya pria itu sama sekali tidak terlihat seperti Kris. Luhan bisa mengingat hari pernikahan itu tapi masih tidak bisa melihat jelas wajah laki-laki itu.

"Siapa laki-laki itu?", tanya Luhan frustasi

.

.

.

.

.

TBC