Hope is a Dream That Doesn't Sleep
Chapter 20
.
disc: all casts are their own. I only own the story
.
Cho Kyuhyun memandang sendu langit sepanjang perjalanan. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut pemuda yang baru menerima kenyataan. Helaan napas berat sudah menjadi langganannya. Mata sayu itu seakan tidak punya harapan hidup lagi. Alex yang fokus menyetir mobil pun merasa canggung.
Memang, setelah ini tidak ada lagi yang namanya kehidupan normal bagi seorang Cho Kyuhyun. Bahkan mungkin sejak lahir tidak. "Tuan muda, anda lapar? Mau mampir rest area sebentar?", tanya laki-laki itu. Cho Kyuhyun tidak membalas.
Tidak mendapat respon dari majikannya, Alex langsung mendatangi rest area terdekat. Ingat, daerah terpencil yang menjadi tempat tinggal pemuda itu sangat jauh. Kyuhyun tak pernah membayangkan jika dulu dia pernah tinggal di sana.
Laki-laki bermata hijau itu membelikan Kyuhyun snack. Ia mungkin tahu dari suasana hatinya pemuda itu tak akan makan makanan berat. Perlahan jari ramping itu meraih kentang goreng dan es krim di hadapannya.
Alex ikut makan dengan bibimbap yang dia pesan. Sesekali melirik Kyuhyun yang tidak fokus. Ia ikut menghela napas. Dalam hatinya, ia berpikir keras bagaimana cara meyakinkan Kyuhyun untuk kehidupan selanjutnya.
"…salju"
Bisikkan Kyuhyun membuat Alex menoleh ke langit.
Salju pertama.
"Ya, ini salju pertama. Musim dingin Kyuhyun."
Senyap.
Bahkan setelah pergi dari rest area senyum pemuda itu tidak kembali. Ia sudah merindukan Changmin, Minho dan lainnya. Sungguh, tidak akan menemui mereka adalah hal yang sangat menyesakkan.
Laki-laki itu memimpin jalan Kyuhyun ke ruang bawah tanah persis setelah sampai. Besi-besi di sekeliling ruangan membuat pemuda itu semakin tidak nyaman ditambah bau karat. Satu lagi, bubuk mesiu.
"Aku harus mengajarkanmu bela diri, tuan muda. Mau tidak mau jika terjadi sesuatu di luar rencana."
"Lalu, apa yang harus kulakukan?"
Sebenarnya dirinya sangat takut. Ia tidak pernah menyentuh senjata api bahkan berkelahi. Kyuhyun menelan ludah susah payah. Ia memperhatikan Alex yang sudah menyiapkan sebuah pistol beretta dengan peluru. "Hal mendasar sebenarnya bukan ini. Tapi, menggunakan pistol jauh lebih praktis untukmu."
Ia menarik lengan Kyuhyun untuk berdiri di depan bilik latihan. Tangan besar itu membantu Kyuhyun menggenggam pistol tersebut. "Apa rasanya, tuan muda?", tanya Alex.
"Dingin… berat."
"Dan seperti itulah perasaanmu ketika akan menembak sesuatu, Kyu." Alex memperbaiki kuda-kuda Kyuhyun. "Tatap matamu lurus kearah lingkaran tengah. Luruskan lengan kananmu. Gunakan tangan kirimu untuk memberi pegangan lebih pada pistolmu."
Jari Alex yang mendampingi Kyuhyun perlahan menarik pelatuk tersebut. Dan… Dor!
Sebuah peluru berhasil menembus meski tidak tepat di tengah. Jarak 10m itu berhasil membuat Kyuhyun merinding. "Apa aku harus melakukannya?"
Alex tidak berbasa-basi. "Ya, anda harus bisa membunuh mereka kelak. Anda harus berdarah dingin dan tidak memperdulikan semuanya."
"Mengapa?"
"Karena mereka musuh orangtuamu. Mereka yang membunuh semuanya. Kini, giliranmu untuk balas dendam."
Kyuhyun tidak menyukai ini. Apa artinya balas dendam jika orang tuanya tidak akan kembali. "Mata dibalas dengan mata, gigi dibalas dengan gigi, perbuatan dibalas dengan perbuatan yang sama. Itu hukum alam yang berlaku di dunia ini, tuan muda."
"Tapi aku bahkan takut menyentuh benda apa. Bagaimana cara—"
"Bisa, Anda pasti bisa. Anda hanya perlu tegar dan percaya diri."
Suara berat itu seolah meyakinkan pemuda itu untuk membunuh. Ia mendesah panjang. "Setelah ini semua berakhir, bisakah aku mendapatkan kedamaianku kembali?", ujar Kyuhyun.
Laki-laki itu tidak bisa menjamin. Baginya, dunia hitam memang tidak cocok untuk pemuda ini. Tapi sekali terjerumus, sangat sulit untuk keluar dari jurang. "Ya, aku janji," balasnya dengan penuh keraguan.
Malam itu, Kyuhyun terus berlatih menembak sampai ia berhasil menembak tepat di kepala dan jantung sampai ia tidak merasa menjadi dirinya sendiri. Ia lupa tentang penyakitnya. Ia tidak bisa berpikir rasional lagi. Sungguh, Alex berhasil membuatnya berubah menjadi manusia berdarah dingin dalam semalam. Membangkitkan darah membunuh yang tertidur dalam dirinya.
.
-Hope is a Dream That Doesn't Sleep-
.
Tiga bulan kemudian.
Narita Airport, Tokyo.
Pemuda bernama Cho Kyuhyun sudah berubah. Ia bukan lagi pemuda penakut yang bahkan menghindar jika ada satu kepalan tangan mengarah padanya.
Kacamata hitam bertengger di hidungnya dengan mantel abu-abu panjang. Ia tidak berjalan dengan bungkuk lagi. Tubuhnya tegap dan rahangnya mengeras. Selama tiga bulan itu pula Alex benar-benar melatih mentalnya dari hal yang paling dasar sampai tingkat lanjut. Selama itu pula secara perlahan dirinya membunuh satu persatu orang luar yang pernah mengkhianati orangtuanya.
Entah bagaimana, ia berhasil melewati jembatan yang seakan-akan roboh dan jatuh ke bawah jurang jika ia lengah sedikit saja. Alex cukup kagum akan kemampuannya, Dia benar-benar anak dari bos terdahulu, batinnya.
Kini mereka tidak hanya berdua. Ketika Kyuhyun dan Alex bersama-sama mulai beraksi menghabisi mereka, beberapa dari mereka mohon ampun dan meminta untuk bisa kembali ke klan. Tentunya setelah pertimbangan dan ujian dari Alex, mereka diperbolehkan kembali ke klan.
Sebagian dari mereka berjaga di depan dan sebagian di belakang.
Kim Kibum, orang yang dulu pernah menyerang Kyuhyun blak-blakkan tidak lagi menyerang. Melainkan membentuk mitra mutualisme karena dulu kedua belah pihak keluarga memang saling membahu. Kyuhyun awalnya ragu, namun Kibum berhasil meyakinkan pemuda itu.
Kibum mengaku semua hal itu hanyalah upaya menakut-nakuti sekaligus mendekatkan diri kembali setelah 10 tahun putus hubungan. "Apa guna kau berusaha mendekati diri dengan cara rendahan seperti itu, Kibum? Yang ada aku semakin menghindar."
Kim Kibum tertawa lepas. "Tapi aku suka melihat reaksimu yang diluar dugaan. Toh, akhirnya aku bisa bekerja sama denganmu lagi, sayang."
"Hentikan bualanmu. Aku bukan kekasihmu, Kim."
Kim Kibum terkekeh. "Justru penolakanmu yang membuatku tergoda untuk mempermainkanmu."
Pria bermata hijau itu menatap bangga Kyuhyun yang sudah bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Ia yang menjadi pengganti orang tua Kyuhyun merasa seperti anaknya melewati masa puber.
"Jadi, kita di sini untuk apa?", tanya Kyuhyun.
"Di Jepang banyak sekali yang harus kita bereskan, tuan muda. Akan kubicarakan di penthouse."
"Hmm."
Setibanya di penthouse, mereka beristirahat sejenak sebelum para anggota baru lainnya berjaga di sekeliling. "Kau mau memasak apa, Alex?"
"Tidak banyak, hanya spaghetti dan ayam."
Kyuhyun merengut. "Kita di Jepang, bisakah kau buat setidaknya sushi? Sudah lama aku tidak makan."
"Iya, Kyuhyun benar Alex. Buatkan saja sushi atau kita makan di luar," suara bass di pintu depan mengejutkan keduanya, mendapati Kim Kibum bersama Lee Donghae tengah melepas sepatu dan jaket mereka. Mata Kyuhyun membulat. "Kau juga akan tinggal di sini?"
"Tentu saja, Kyu. Kita sekarang adalah partner yang harus bersama di setiap misi."
Laki-laki berambut hitam itu duduk di sofa dan menghidupkan TV. "Aku 'kan menemanimu jadi aku harus ada di manapun kau pergi."
Kyuhyun menatap tidak percaya. Alex pun hanya menggeleng makhlum.
"Okay. Kita di sini untuk bekerja. Tapi, apa?"
"Pertanyaan bagus, Kyu. Kau ingat, orang yang dulu pernah nyaris membunuhmu dengan pedangnya saat kita bersama Changmin temanmu itu?"
Kyuhyun mengangguk. "Dia orang yang sama yang pernah nyaris membunuhmu dulu saat aku baru mendekatimu, Kyuhyun," lanjut Alex.
Pemuda itu merengut kesal. "Jadi, sasaran kita…" Kim Kibum menoleh ke wajah Kyuhyun yang mendadak pucat.
"Kini giliran kita menghabisi yakuza itu. Musuh bebuyutan orang tuamu yang terakhir."
.
.
TBC
A/N: huff… sudah hampir ending :') author seneng banget karena ff terbelangkai ini akhirnya bisa dilanjut.
Dengar-dengar Hangeng mau balik SJ? Semoga itu benaran terjadi ya. Amiin. Kim Kibum juga balik doong.
Numpang promosi, ada ff author yang baru judulnya "One Day Family" dari judulnya udah keliatan yaaa. Semoga berminat.
