24 Maret 2013
Ternyata, mempertahankan suatu cerita agar bisa terus berjalan di jalurnya itu sulit, ya.
Anyway, let's move on~
Disclaimer: D.C/Case Closed bukan milik penulis dan merupakan sebuah mahakarya dari Gosho Aoyama, di sini penulis hanya memiliki hak penuh atas fanfic ini dan akun di mana fanfic ini berada.
.
.
Case 21: The Mysterious Sniper Case
Part I
[Meet The Agents]
"Peek-a-boo! I see you! You can't see me, but I see you and my spotter can too. I pull the trigger, the bullet flies. Commies watch as one of their own dies."
~Yahoo! Answers
.
.
"KID!?" Conan akhirnya bersuara setelah cukup lama ia terdiam kaku di tempatnya. Ia menyadarinya, suaranya tidak stabil. Terdengar bergetar dan sedikit serak yang diakibatkan dari rasa terkejut ketika ia melihat sosok itu di sana.
Dengan cepat ia menoleh kembali ke arah Heiji yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Setelah kembali diperhatikan, Heiji terlihat santai berada pada posisinya. Ia bahkan kini memeluk sebuah bantal dan terdengar mendengkur—Mendengkur!?
"Tenang, dosisnya sama dengan yang biasa kuberikan pada Nakamori-keibu dan Hakuba," jelas pencuri itu santai dengan satu tangan memainkan sebuah bola kecil berwarna merah muda di tangan yang berlapiskan sarung tangan. Tampaknya pencuri itu tahu kekhawatiran yang melanda pikiran detektif di sampingnya. Sekali lagi, siapa yang tidak akan khawatir jika melihat temanmu tidak sadarkan diri dan di ruangan itu ada seorang kriminal berkeliaran.
Oh, hei! Kaito KID mempunyai aturan 'Tidak Ada Yang Terluka Dalam Aksinya'!
Berdeham, KID lalu melayangkan pandangannya ke sekelilingnya. Tampak seperti mencari sesuatu hingga akhirnya ia mengintip ke dalam kamar mandi untuk melihat 'hasil karya'nya sudah hampir bersih dan kini tergeletak tidak terawat di pojok ruangan, di dalam sebuah karung besar. Kecuali sandal kamar mandi dan wallpaper yang tampaknya akan sangat sulit dilepas dalam waktu singkat. Dengan senandung yang mengesankan ia sangat terhibur, KID lalu menatap lawan bicaranya yang kini berjalan menuju dua ekor kucing di lantai dan menggendong paksa Holmes untuk menjauhkannya dari Lupin.
Dengan tatapan lekat yang menyelidiki sosok anak kecil di depannya, KID dibalik pokerface terlatihnya hanya bisa tersenyum kecut.
Hampir enam bulan ia mencaritahu keberadaan rivalnya karena hilangnya satu rintangannya dalam mencuri permata di luar sana. Menyamar, menyelinap masuk, bertanya, mengamati ... Semuanya terlihat seperti tindakan bodoh.
Apalagi setelah tahu bahwa orang yang dicarinya ternyata ada di depannya, sama sekali tidak pergi kemanapun, hanya berbeda kemasan. Ia akui, rasanya seperti orang bodoh. Mencari harta karun hingga ke negeri orang, padahal di tanahnya sendiri berlimpah benda berharga yang bernilai sama dengan harta itu.
Walaupun hingga saat ini, detik ini, ia masih tidak memahami kenapa dan bagaimana caranya seorang Kudo Shinichi bisa mengecil dan menjadi sosok Edogawa Conan.
Ya, mungkin dengan penyamaran semuanya bisa dilakukan—ia juga pernah melakukannya, benar? Menyamar menjadi Genta, si bocah gemuk yang merupakan anggota Detektif Cilik, dan itu berhasil mengelabui orang-orang. Baiklah, tidak semua orang berhasil ia kelabui. Sekali lagi, di depan detektif itu, rasanya sulit menyembunyikan sesuatu—tetapi jika mengingat Edogawa Conan hanyalah seorang anak lelaki berusia tidak lebih dari 10 tahun yang tinggi badannya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dan hampir dua tahun bertahan dalam kondisi itu … bagaimana mungkin?
Mungkin ini ada hubungannya dengan ucapan detektif itu di malam saat ia menginap di rumahnya; "Seperti Alice yang bisa mengecil dan membesar karena memakan sesuatu" dan erat kaitannya dengan semua coretan yang detektif itu buat di sehelai kertas sewaktu menginap di rumahnya.
Curiosity kills the cat, itu yang pepatah katakan dan Kuroba Kaito ingat betul bahwa jika ia gunakan pengetahuannya untuk mencecar detektif itu dengan berjuta pertanyaan—seperti 'Apa yang terjadi padamu, Tantei-kun?' atau 'Bagaimana caranya kau mengecil?' dan lain sebagainya—akan membuat pesona Kaito KID yang telah dibangun ayahnya beberapa tahun silam jatuh, hancur tepatnya.
Bahkan ia dengan senang hati menguburkan niatannya untuk menanyakan 'Jadi, Kudo Shinichi, The Great Detective of the East, adalah Edogawa Conan?' karena ia tahu detektif kecil itulah yang akan menceritakannya, mengatakan bahwa dirinya adalah Kudo Shinichi.
Sekarang, bagaimana ia harus memulai—Ah!
"Lama tidak melihatmu, Meitantei," KID berujar pelan dengan nada ramah yang berhasil menutupi rasa tidak sabarnya untuk mengulik informasi dari detektif di hadapannya. Kedua tangan pencuri itu terbentang di samping tubuhnya lalu ia miringkan kepalanya. "No hug for me?"
Conan menyipitkan matanya, menatap sebal ekspresi meledek yang dipertunjukan oleh pencuri itu padanya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya detektif itu terus terang tanpa ada niatan meladeni candaan sang pencuri.
KID menghelakan nafasnya lalu mengangkat bahunya sebagai jawaban. Pencuri itu lalu menjentikan jarinya dan kepulan asap merah muda muncul di atas meja belajar Kudo Shinichi. "Paket untuk Kudo Shinichi, masih hangat dari kantor kepolisian—" pencuri itu meletakan tangannya di keningnya, terlihat seperti sedang mencari sesuatu. "—tetapi sepertinya ia belum pulang. Mungkin sebaiknya aku kembali lagi nanti."
Conan membelalakan matanya ketika menyadari saat pencuri itu berkata, asap merah muda tebal kembali muncul di atas meja belajar Kudo Shinichi dan dalam hitungan detik melenyapkan apa yang tadi pencuri itu munculkan di sana. Dengan cepat ia memutar tubuhnya, menatap tajam pencuri yang berdiri menjulang di hadapannya. Detik berikutnya, detektif itu menyadari bahwa tidak seharusnya ia marah karena pencuri itu mengambil kembali arsip kiriman kantor kepolisian untuk Kudo Shinichi dan memutuskan untuk membiarkan pencuri itu melakukan apapun yang ia inginkan.
Atau setidaknya itu yang sempat ia pikirkan sebelum akhirnya ia tarik kembali kalimat 'melakukan apapun yang ia inginkan' ketika dilihatnya pencuri itu memunculkan beberapa balon tiup dengan warna menyala dan … dan … dan ada cetak gambar ITU pada badan balon tersebut.
"Apa yang kau lakukan, KID," pernyataan yang menyatakan ketidaksukaan dan penekanan pada pelafalan nama pencuri itu.
Pencuri itu tidak menjawab dan hanya bersenandung riang. Dengan lincah kedua tangannya mengikat balon-balon itu pada setiap sudut ruangan, menghias ruangan itu seolah akan ada seorang anak kecil yang berulang tahun di sana.
Begitu selesai memasang masing-masing 4 balon di beberapa sudut ruangan, pencuri itu kemudian berjalan santai menuju pojok ruangan di mana Heiji meletakan sebuah karung yang penuh dengan barang-barang berwarna kuning dan bermotif bebek karet.
"Oi, aku bertanya apa yang kau lakukan!" Conan yang merasakan tangannya terkepal di samping tubuhnya kini melihat tangan pencuri itu mengeluarkan kembali beberapa benda bermotif bebek karet dan meletakannya sebagai dekor di atas meja belajarnya.
KID terkikik pelan ketika tangannya berhasil meraba sebuah benda yang terasa sangat familiar. "Disitu kau rupanya, Ducky-chan!" seru pencuri itu riang seraya memencet miniature bebek karet yang kini berada di telapak tangannya.
Melirik ke arah Conan, pencuri itu lalu menjulurkan satu tangannya yang memegang miniatur bebek karet dan menekannya sehingga bebek itu mengeluarkan bunyi keras yang memekakan telinga. "Bagaimana jika kau membantuku menghias kamar ini, Meitantei?"
"Tidak!"
KID mengangkat satu alisnya, "Kenapa?"
"Karena … k, Karena Shinichi-niichan tidak menyukainya!"
"Oh? Tapi ia bilang Ducky-chan sangat menggemaskan~" C'mon, Tantei! Show yourself!
"Aku tidak pernah mengatakan—"
KID menarik sudut bibirnya. Ia berusaha menahannya, namun apa dayanya? Ia begitu senang ketika melihat detektif di hadapannya tanpa sengaja mengatakan sesuatu yang bisa dijadikan sebuah bukti kuat hingga tidak bisa mengendalikan otot di sekitar bibirnya untuk tidak menampakan senyuman kepuasan di wajahnya. Rupanya beginilah rasanya ketika seorang detektif berhasil membuat pelaku mengakui kesalahannya … menyenangkan.
"'Aku'?" KID menyengaja pengulangan kata yang diucapkan oleh detektif kecil di hadapannya dan bisa ia lihat jelas kepanikan menghiasi wajah lawan bicaranya.
"M, maksudku … S, Shini—"
KID dan Conan terkesiap bersamaan saat sebuah alunan musik menyeruak keheningan dari dalam saku celana yang dipakai oleh sang detektif dari Osaka. Keduanya lalu menoleh, menatap bagaimana si pemilik bisa tetap tidur walaupun ada nada keras yang mengalun dari salah satu saku di baju yang ia kenakan.
Tanpa menghiraukan bagaimana KID memprotes gangguan itu, sang detektif kemudian melompat naik ke atas tempat tidur, lalu menggunakan satu tangannya untuk merogoh saku depan pakaian yang dikenakan oleh Heiji dan mengeluarkan si sumber suara dari dalam sana. Ditatapnya beberapa saat layar ponsel yang menunjukan 'unknown number' itu sebelum ia tempelkan pada telinganya.
"Moshi-mo—"
"Kau berhutang sebuah scarf kulit domba padaku, Kudo-kun."
Haibara? "E, eh? A, Ah! Shinichi-niichan! Oh, maaf, sepertinya baterai ponselku habis. Apa? Ya, Heiji-niichan sudah membantu melepaskannya, tetapi—" Conan melirik ke arah KID dan menyeringai penuh kemenangan ke arah pencuri itu. "—boleh aku saja yang melakukannya? Sudah sejak lama aku ingin menendang bola basket ke arahnya. Eeeh? Kenapa? Kau ingin aku bekerja sama dengan KID? Karena ia juga ada di lokasi?"
Conan lalu menoleh ke arah meja belajar Kudo Shinichi.
"Arsip kepolisian? Ah! KID melarangku melihatnya! Ia bilang kalau—Hei! Kembalikan ponselnya!"
.
.
.
.
Ini sedikit gila.
Itulah yang KID gumamkan ketika ia mengembalikan ponsel milik Hattori Heiji ke dalam saku bajunya dan kini mendudukan diri di tepi tempat tidur. Kedua matanya—yang salah satunya tertutup monocle—ia arahkan pada sesosok detektif kecil yang kini sibuk menyibakan halaman pada map hitam arsip kepolisian sementara pikirannya ia biarkan terbang melayang menjauhi raganya.
Tidakkah kau juga berpikir ini sedikit gila?
Setelah ia menemukan fakta bahwa Edogawa Conan dan Kudo Shinichi adalah individu yang sama—melalui pemikiran panjang dan tentu saja ia belum 100% yakin dengan penemuan fakta ini—dan berencana menutup investigasi kecilnya dengan membuat detektif itu mengakui sendiri bahwa ia adalah Kudo Shinichi, semuanya harus kembali ke titik awal.
Hanya dengan sebuah telpon dari seorang Kudo Shinichi yang ditujukan pada ponsel Hattori Heiji dan sedikit percakapan yang berinti 'Kaito KID harus bekerjasama dengan Edogawa Conan menyelidiki kasus penembakan karena Kudo Shinichi sedang menangani kasus besar di suatu daerah terpencil entah dimana', semua hasil investigasinya harus menguap dan semakin tidak ada artinya.
Bahkan ia bisa menyimpulkan bahwa Kudo Shinichi dan Edogawa Conan adalah dua individu berbeda yang kebetulan memiliki wajah, sifat, dan cara berpikir yang sama. Walaupun kebetulan bukan kata yang tepat untuk menjelaskan teorinya.
Oh! Jika ia tidak salah dengar, detektif dari timur itu sempat mengatakan sesuatu yang berbunyi 'Conan blablabla sepupuku blablabla dan blablabla' yang secara umum dapat disimpulkan bahwa Kudo Shinichi dan Edogawa Conan memiliki kemiripan yang menakutkan karena mereka bersaudara. Sepupu tepatnya.
Memang bukan 'kebetulan' sepertinya.
Tetapi, kenapa salah satu dari mereka tidak pernah terlihat di saat yang lain berkeliaran.
Bukankah jika ada dua individu dengan daya berpikir yang hampir sama akan lebih banyak kriminalitas yang tereduksi? Walaupun ia tidak melupakan kenyataan bahwa akan semakin sulit melakukan aksi pencurian jika ia harus dihadang oleh dua mahluk seperti itu.
Satu saja sudah membuatnya kewalahan, apalagi jika harus ada dua?
Tetapi tidak.
Seorang Kaito KID menyukai tantangan. Semakin tinggi kesulitan sebuah tantangan, semakin meluap gairahnya dalam melakukan aksi pencurian.
Tetapi, sekali lagi, bukan itu yang sedang dipermasalahkan, benar?
"Gedung di seberang kantor penerbitan itu," Conan berujar pelan setelah menutup arsip kasus penculikan 3 putri polisi yang terjadi beberapa hari sebelumnya. "Adalah agensi model, benar?"
KID menganggukan kepalanya, sama sekali tidak merasa terganggu dengan cara detektif itu menyadarkannya dari lamunannya. "Lantai dasar hanya lobby biasa, lantai 2 dan 3 dipakai untuk kantor, studio pemotretan di lantai 4, dan aula di lantai 5."
"Jarak dari gedung itu ke lokasi penembakan kurang lebih 1 kilometer. Dilihat dari posisi luka tembak di tubuh korban, pelaku berada setidaknya satu lantai di atas."
"Dua atau tiga," ralat KID dan Conan melirik ke arahnya. "Tinggi gedung penerbitan dan gedung agensi model itu berbeda. Lokasi penembakan di lantai 3 dan yang sejajar dengan lantai itu adalah lantai 4 gedung agensi."
Conan terdiam sesaat lalu mengangguk. "Apa kau melihat pelaku?"
KID menggeleng.
"Apa pelaku melihatmu?"
KID mengangkat bahunya. "Aku berdiri cukup jauh dari jendela dan ada banyak tumpukan benda-benda yang menutupiku dari luar. Tetapi sepertinya pelaku tahu kalau Natsumi Ema ada di lokasi."
"Natsumi Ema? Bukan Kaito KID?"
Kali ini KID mengangguk pelan sebelum mendudukan diri di atas lantai berkarpet dengan kaki bersilangan di depan tubuhnya. Pencuri itu menjentikan jarinya untuk memunculkan selembar foto dan menyerahkan foto itu pada detektif kecil di hadapannya.
Dengan alis bertautan Conan menatap foto itu dan belum sempat ia menanyakan apa yang melintas di kepalanya, KID terlebih dahulu menjelaskan.
"Midorikawa Masato, editor di kantor penerbit yang menjadi lokasi penembakan. Aku menemuinya untuk membicarakan mengenai pemberitaan mengenai Natsumi Ema dan Kudo Shinichi. Saat itulah ia ditembak, kira-kira di sekitar sini—" KID menunjuk kepalanya, 5 sentimeter di atas telinga."—ia tewas dan pelaku menembak seluruh kaca jendela hingga tempat itu seperti kapal pecah."
Conan memiringkan kepalanya. "Kenapa Natsumi Ema bisa—"
"Nah ah ah~!" KID menggerakan jari telunjuknya lalu meletakannya di depan bibirnya. "Ini rahasia antara Natsumi Ema, Kudo Shinichi, dan korban."
Menyebalkan ... Conan tertawa getir dalam hatinya dan memilih untuk mengabaikan pencuri itu. Benar. Jangan meladeni pencuri itu karena saat ini ia adalah Edogawa Conan dan kalimat apapun yang ia ucapkan bisa menjadi boomerang mematikan baginya.
Walaupun Haibara telah membantunya keluar dari kondisi terpojok dengan menelpon ponsel Heiji dan menggunakan dasi pengubah suara untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan pencuri itu, ia merasa bahwa pencuri itu dalam waktu dekat akan kembali memojokannya.
Bagaimanapun lawan bicaranya adalah Kaito KID yang mempunyai latar belakang seorang pencuri jenius yang telah menjadi topik pembicaraan dunia karena aksinya.
Setidaknya untuk saat ini ia berhasil menanamkan mindset 'Edogawa Conan adalah sepupu Shinichi Kudo yang diminta menyelidiki sebuah kasus' pada pencuri itu. Hanya untuk saat ini, tidak, hanya sampai ia dapatkan kembali penawar APTX4869.
Sekali lagi, ia tidak merencanakan untuk berlama-lama terperangkap dalam tubuh Edogawa Conan. Kepulangan sementaranya ini tidak boleh diketahui siapapun. Hanya Professor, Haibara, dan Hattori Heiji yang boleh mengetahui fakta ini.
Dan itu artinya ia harus melakukan penyelidikan secara diam-diam, tanpa diketahui publik.
"Oi, KID."
"Hm?" KID menoleh, menghentikan gerakan tangannya memainkan helai rambutnya yang menutupi keningnya, dan melihat seorang detektif berukuran kecil kini berdiri di hadapannya dengan sebuah seringai buas di wajahnya.
Biasanya, ia akan merasakan firasat buruk jika melihat seringai itu di wajah rival kecilnya. Karena beserta seringai itu, akan ada sebuah jarum dan bola sepak melesat ke arah wajahnya. Tetapi, entah mengapa firasatnya kali ini mengatakan kalau sesuatu yang direncanakan oleh detektif dari timur yang mengecil itu adalah sesuatu yang akan membawa kasus penembakan ini ke garis finish.
"Kuharap kau punya jadwal kosong besok," detetif itu tersenyum simpel lalu menggerakan satu tangannya untuk membuka laci meja belajarnya dan mengeluarkan sebuah ponsel berwarna gelap dari sana.
KID yang tetap diam kemudian melihat ponsel itu bersinar terang secara tiba-tiba, menyinari wajah detektif kecil di hadapannya yang kemudian terlihat menggerakan jarinya di atas layar sentuh ponsel itu. Beberapa detik setelahnya, detektif itu menempelkan ponsel itu pada telinganya dan terlihat menunggu siapapun yang ia hubungi untuk mengangkat telponnya.
"Moshi-moshi, Jodie-sensei?"
Jodie-sensei? Guru? Ia menghubungi gurunya? KID yang kini menarik satu alisnya di balik helai rambutnya kemudian memiringkan kepalanya. Satu per satu percakapan antara seseorang bernama Jodie-sensei dan detektif itu mengalir sangat cepat dan singkat. Tidak ada basa-basi serta gurauan-gurauan yang membuang waktu. Semuanya langsung ke titik utama topik pembicaraan.
Jika ia bisa bicara dengan mudahnya mengenai topik ini, artinya orang bernama Jodie ini bukan orang sembarangan ... Pikir KID yang kini melihat detektif itu kembali membuka arsip dalam map hitam yang dibawanya.
"Benar. Karena itu aku ingin tahu apakah Jodie-sensei bisa—Eh? Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aku dan temanku—" Conan menegaskan pelafalan kata teman dan melirik ke arah KID yang masih diam di tempatnya. "—Oh, tidak. Bukan Haibara yang kumaksudkan. Akan kuperkenalkan ia padamu besok. Hm, baiklah. Jam 9, Starking Cafe."
"Jam 9, Starking Cafe," gumam KID pelan dengan kening berkerut. Itu artinya, harus ada sedikit persiapan agar ia bisa melarikan diri dari sekolah karena tidak mungkin jika ia harus meminta izin pada ibunya untuk membolos. Resiko amarah seorang ibu bisa lebih berbahaya pada saat-saat tertentu.
Melihat detektif itu kembali memasukan ponselnya, KID lalu bertanya, "Sepertinya akan ada kencan besok, eh?"
Conan mengangguk pelan lalu kembali tersenyum ke arah pencuri di hadapannya. Jika sebelumnya senyuman itu tidak membawa rasa panik dalam diri KID, kali ini senyum itu membawa dampak berbahaya bagi mental sang pencuri. Itu adalah senyum yang membuatnya harus melompat dari atas gedung pencakar langit untuk menghindari sebuah jarum dan bola sepak yang diarahkan ke kepalanya. Senyuman berbahaya.
"Dan bukan teman kencan biasa," lanjut detektif itu dengan satu tangan memainkan sepasang borgol di ujung jarinya.
.
.
.
.
Conan menyipitkan matanya, menatap sebuah duffelbag biru yang kini berada di atas meja makan, di hadapannya. Dialihkannya pandangannya pada sesosok 'mahluk' yang duduk di sebuah kursi di seberang tempat duduknya.
Ya, hanya ada ia dan 'mahluk' itu di dapur rumahnya. Hattori Heiji telah pulang beberapa jam yang lalu dengan kereta paling pagi setelah memaki sang pencuri karena menidurkannya dengan sleeping gas. Detektif Osaka itu mengatakan sesuatu yang intinya ia akan kembali lagi jika memang bantuannya dibutuhkan. Shinichi, atau lebih tepatnya Conan, hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tertawa datar mendengar hal itu.
Dibutuhkan atau tidak, detektif berkulit gelap itu pasti akan datang. Tanpa undangan, tanpa diminta. Inisiatifnya sendiri.
KID bersiul ketika dirinya selesai menyisir bagian bawah wig berwarna merah gelapnya yang semula tampak sedikit kusut karena sudah lama sekali tidak ia pakai wig itu. Dikedipkannya beberapa kali kedua matanya di hadapan cermin dan dengan seulas senyuman manis—yang dapat meluluhkan hati para pria yang melihatnya hanya dalam hitungan sepersekian detik. Ini terbukti! Wajah Hakuba saja bisa merona merah karena melihat fotonya di halaman utama koran pagi—ia menggumamkan kata 'perfect'. Memuji hasil ciptaannya sendiri dengan penuh nada bangga.
"Kenapa kau terlihat seperti ... Itu."
KID meletakan cermin miliknya, menghilangkannya di antara kepulan asap yang ia munculkan dari udara kosong, lalu memutar tubuhnya ke arah detektif kecil yang kini tengah melahap sarapan yang ia bawakan. Nasi hangat, telur mata sapi, beberapa potong sosis gurita, dan sup hangat.
Tentu saja bukan dirinya yang memasaknya. Ia meminta ibunya untuk memasukan semua sarapannya ke dalam kotak bekal dengan alasan ia ingin sarapan di sekolah karena ada pr yang harus diselesaikannya. Tentu saja pr yang dimaksudkan adalah persiapan yang harus ia lakukan—yakni menyiapkan bom asap di seluruh kelas yang kemudian akan mengaktifkan sensor kebakaran—agar ia bisa membuat pihak sekolah memulangkan siswanya. Cara terbaik daripada harus membolos, benar?
"Natsumi Ema Upgraded Version," ucap pencuri itu dengan suara aslinya. Ia lalu berdeham sekali sebelum mengedipkan matanya ke arah bocah detektif yang hanya duduk dengan sepasang sumpit ditempelkan pada bibirnya, "Tantei-kun memintaku untuk menemanimu menyelidiki kasus ini. Ia juga memintaku untuk mengantarkan sesuatu pada wali kelasnya."
Conan yang hanya mengenakan kemeja putih dan celana pendek hitamnya menyipitkan matanya, menatap curiga pencuri di hadapannya yang kini menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat seekor kucing hitam dalam pelukannya.
Aku memang memintanya mengantar sesuatu, tapi aku tidak—Haibara … adalah sebuah pemikiran yang melintas dalam kepala detektif tersohor yang mengecil itu. "Yang kumaksudkan adalah bagian 'Upgraded Version', KID."
"Ah," KID mengangguk pelan. "Pergantian image." Mereka mengenali Natsumi Ema. "Dan pengait wigku sebelumnya sedikit bermasalah."
Pergantian image.
Ya, itu yang harus ia lakukan. Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehnya sebelumnya? Jika ia tidak ingin keberadaan Edogawa Conan diketahui publik dan menyelesaikan kasus ini sekaligus, yang harus ia lakukan adalah menyamar. Tidak perlu sesuatu yang menyusahkan seperti yang KID lakukan pada dirinya, sesuatu yang simple namun bisa menutupi sosok Edogawa Conan saja sudah cukup.
"Tenang," suara KID yang kini sudah sepenuhnya berubah menjadi suara 'Natsumi Ema' terdengar tenang dan sangat halus. Pencuri itu lalu tersenyum tipis. "Tantei-kun sudah mengatur semuanya. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah—"
Aku? Mengaturnya? Apa yang Haibara katakan padanya?
"—ucapkan 'Ema-neechan, kau sangat cantik hari ini!'."
…Kau pasti bercanda, KID.
.
.
.
.
Menginjakan satu kakinya di permukaan tanah beraspal, Jodie kemudian menoleh ke arah agent Camel yang memegang kendali penuh kemudi mobil. Dengan satu alis terangkat wanita berambut pirang itu lalu menerima sebuah map yang diberikan pria itu padanya dan memilih untuk tidak menanyakan isi map itu karena ia sudah terlambat.
Setelah mengucapkan salam pada rekan kerjanya, dengan cepat wanita itu melompat keluar dari kursi penumpang dan menggunakan pinggulnya untuk menutup pintu mobil. Wanita itu kemudian berlarian kecil menyusuri jalan yang diperuntukan bagi pejalan kaki hingga matanya melihat sebuah papan tulis bertuliskan 'Starking Cafe' yang diikuti dengan penawaran-penawaran serta menu andalan hari ini dengan goresan kapur berwarna.
Tersenyum, agent wanita itu kemudian memperlambat langkahnya menuju pintu masuk cafe.
Namun, belum sempat kakinya mendekati pintu masuk cafe, seorang wanita dengan rambut merah lurus sebahu menabraknya. Membuatnya limbung dan kehilangan kendali atas tubuhnya yang membuatnya jatuh dalam posisi duduk di atas jalan setapak. Map yang dipegangnya pun ikut terjatuh dan nampak beberapa lembar kertas terlihat berserakan di jalanan.
Meringis pelan, wanita yang dikenal dengan nama Jodie Starling itu kemudian mengusap pinggangnya dan mencoba mengumpulkan kembali kertas-kertas yang berserakan.
"Kau," datang sebuah suara yang bukan berasal dari mulut agent wanita itu. Suara itu terdengar dingin dan sedikit menakutkan hingga Jodie bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. "Dipenuhi awan gelap."
"Eh?" Jodie mengangkat kedua alisnya, menatap bingung wanita yang kini mencoba menyusun kembali kertas-kertas yang berserakan miliknya. Wanita itu, menurut Jodie, memiliki aura yang menakutkan. Ditambah dengan aroma herbal yang memberi kesan misterius serta pakaian serba hitam yang sama sekali tidak memperbaiki firasat jelek dalam hatinya. Dibalik topi fedora hitam yang dipakai wanita itu, Jodie bisa melihat helai rambut berwarna merah dan paras wajah yang cantik.
"Ada luka besar dan beberapa luka kecil dalam dirimu. Keberadaanmu di sini pun sepertinya berhubungan dengan luka itu," lanjut wanita itu yang kemudian menatapnya tajam. "Jangan terlalu dekat dengan siapapun yang akan kau temui setelah ini. Terlalu banyak pusaran air di sekitar orang itu dan itu hanya akan membuat luka dalam dirimu semakin besar."
Dengan itu, wanita misterius itu kemudian tertawa pelan, mengembalikan map milik Jodie lalu pergi dari pandangan agent wanita itu dan membaur dengan keramaian.
Berdiri dari posisinya, agent wanita itu lalu menepuk bajunya untuk membersihkan debu yang menempel sebelum memutuskan untuk mengabaikan semua yang wanita misterius itu katakan dan memasuki tempat yang dijanjikan olehnya dan that cool kid.
Begitu memasuki cafe dan setelah bunyi lonceng di atas pintu berbunyi, agent wanita itu lalu melangkahkan kakinya hingga ia berdiri tepat di depan kasir. Dilayangkannya fokus penglihatannya pada ruangan yang tidak begitu ramai itu dan belum ditemuinya sosok yang dicarinya.
Di sana, hanya ada tiga meja yang sudah terisi dan salah satu penghuni meja itu terlihat melambaikan tangannya ke arahnya. Agent wanita itu mengangkat alisnya lalu menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa memang kepadanyalah lambaian tangan itu ditujukan, dan ya! Seorang anak dengan rambut berantakan berwarna merah gelap yang duduk bersama seorang gadis dengan rambut berwarna senada itu memang melambai ke arahnya.
"Jodie-sensei!" Sapa anak itu dengan suara riang yang kemudian dijawab sebuah anggukan oleh Jodie.
"Aku benar-benar tidak mengenalimu," ujar wanita itu ketika ia sampai di meja tempat anak itu duduk. Dengan satu tangan ia menarik mundur sebuah kursi dan mendudukinya. "Ada apa dengan penyamaran ini? Dan gadis ini adalah?"
Conan tertawa pelan lalu mendelik ke arah gadis di sampingnya yang asyik menyantap pudding coklat yang dilumuri vla putih dan potongan buah strawberry di atasnya.
"Maaf, aku tidak boleh terlihat berkeliaran di Jepang saat ini. Edogawa Conan seharusnya berada di Amerika bersama orangtuanya. Bukan bersama pencuri paedophile mesum menyebalkan," jelas detektif itu seraya mengalihkan tatapan tajamnya pada gadis di sampingnya. Gadis di sampingnya hanya melirik ke arahnya lalu menggumamkan sebuah kalimat yang bisa ditangkap jelas oleh mata detektif tersebut. Dengan jelas pencuri itu mengatakan 'Aku tidak berminat pada barang kecilmu, Meitantei' dan hal itu membuat Conan ingin menjejalkan gelas iced-coffeenya ke dalam mulut gadis itu.
Jodie kemudian mengangkat satu alisnya. "Benar juga, kudengar dari Keibu-san dan Keiji-san kalau kau sudah kembali pada keluargamu beberapa bulan lalu. Kau tidak tahu betapa rindunya aku bermain menjadi detektif bersamamu, Conan-kun!"
Detektif kecil itu tertawa datar. Bermain menjadi detektif katanya …
"Lalu gadis ini adalah temanmu yang kau ceritakan?"
"Natsumi Ema, 18 tahun, yoroshiku!" Dengan riang dan tidak memperhatikan bagaimana ekspresi sebal Conan tertuju padanya, KID memperkenalkan dirinya.
Jodie yang tampak bingung hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. "The name's Jodie Starling, nice to meet you, pretty girl."
Entah mengapa aku ingin muntah saat ini ... Batin Conan sambil menggelengkan kepalanya ketika Natsumi Ema tertawa kecil dan menanggapi pujian yang diberikan Jodie dengan tingkah malu-malu yang, mungkin bagi orang lain, terlihat menggemaskan. Tetapi tidak baginya, karena bagaimanapun ia tahu bahwa dibalik wajah cantik itu adalah seorang pencuri yang telah menghias kamar mandinya dengan … dengan benda kuning berisik itu.
"Jadi, tentang yang kita bicarakan semalam?"
Jodie yang belum siap dengan perubahan topik yang terjadi kemudian menoleh ke arah Conan. sepasang iris biru bertemu sepasang iris grayish-blue selama beberapa saat hingga akhirnya Jodie menganggukan kepalanya. Wanita itu kemudian memejamkan matanya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan tersenyum.
"Kau sepertinya punya magnet yang bisa menarik orang-orang jahat di seluruh dunia, eh, Cool Kid? Belum lagi mayat-mayat yang terus berjatuhan setiap kau pergi. Apa kau pernah melakukan sesuatu yang membuat tuhan marah padamu?"
Conan menarik sudut bibirnya yang berkedut dan menahan niatannya untuk menancapkan pandangan tajamnya pada sesosok gadis yang sedang terkikik geli di sampingnya. "B, begitulah ..."
"Stockholm Army berdiri sepuluh tahun lalu di sebuah daerah terpencil di Rusia, pendirinya Tovlovsky Benio, adalah keturunan Jepang-Rusia yang beberapa kali keluar masuk penjara karena berbagai macam tuduhan. Beranggotakan sepuluh orang yang memiliki darah keturunan Jepang yang memiliki status buronan kepolisian," jelas Jodie tenang. "Modus operandi mereka kurang lebih sama dengan organisasi itu. Tetapi mungkin S.A ini bekerja spesifik pada orang-orang dari pemerintahan dan pemusnahan keluarga target. Cukup mudah menghubungi mereka karena kenyataannya mereka menerima jasa pembunuh bayaran. Di Rusia sendiri keberadaan mereka cukup berpengaruh hingga didirikan sebuah sekolah militer, singkatnya, mereka seperti sistem pertahanan swasta yang bertugas membasmi hama-hama pemerintahan."
KID dan Conan saling pandang sesaat lalu kembali menatap Jodie.
"Lalu, apa mereka memiliki trademark tersendiri dalam persenjataan? Seperti peluru misalnya?"
"Hm," Jodie mengerutkan keningnya. "Sejauh ini tidak ada laporan seperti itu. Mereka memakai senjata yang dijual di black market dan membuangnya setelah digunakan."
"Disposable weapon," sahut Natsumi Ema pelan. "Dengan begitu, jika polisi ingin menjebak mereka dengan memasang transmitter pada senjata mereka, pelaku tetap tidak akan bisa ditangkap."
Jodie mengangguk.
"Tetapi hingga saat ini, polisi tidak mengatakan telah menemukan senjata yang mereka gunakan di lokasi kejadian," Conan menyipitkan matanya. "Hanya peluru dengan ukiran ular berbentuk S."
"S for Snake?"
Conan melipat kedua tangannya di depan dada, "Atau mungkin S untuk Stockholm."
Jodie mengangguk lagi. "I see. That might be a possibility. Walaupun sejauh ini, aku tidak pernah mengetahui kalau komplotan ini memiliki ketertarikan pada ular. Aku belum pernah berhadapan langsung dengan mereka, tetapi kudengar dari beberapa kasus yang masuk ke dalam database kami, mereka bekerja individu. Satu target, satu agent yang bekerja."
"Kau yakin hanya satu, Jodie-san? Karena sepertinya mereka bertelur."
"Fertilized? How so?" Jodie mengangkat satu alisnya.
"Yang dimaksudkan oleh KI—Ema-neechan—adalah, mereka bekerja bersama-sama. Apa kau sudah melihat berita tentang penangkapan itu? Ada setidaknya 7 orang yang berhasil diringkus polisi. Dua di antara mereka, salah satunya bernama Odagiri Nao, bunuh diri saat diinterogasi."
Jodie menyipitkan matanya. Menatap curiga ke arah Conan yang baru saja menjelaskan duduk perkaranya. Wanita itu lalu menjepit dagunya dengan dua jarinya dan menunduk, tampak berpikir keras dengan alis yang bertautan.
"Odagiri Nao bukan anggota komplotan itu," sebuah suara terdengar mendekati meja tempat mereka duduk. "Atau setidaknya dia bukan lagi anggota S.A."
"Camel-san!" Seru Conan terkejut ketika melihat agent berwajah menyeramkan itu menghampiri mereka. Bocah detektif itu kemudian memiringkan wajahnya dan melihat dua orang pria lainnya juga menghampiri mereka. Salah satu dari dua pria itu kemudian dikenali Conan sebagai James Black. "James-san juga!"
"Been a long time, Conan-kun. Kasus berbahaya apalagi yang melibatkanmu kali ini?" James tertawa pelan sebelum membisikan sesuatu pada anak buahnya dan membiarkan pria yang baru saja datang bersamanya keluar dari café itu. Pria berkumis itu kemudian menarik sebuah bangku di samping Jodie dan mendudukinya, sementara Camel menduduki menarik sebuah kursi dari meja sebelah dan bergabung bersama empat orang lainnya.
"Komplotan dari Rusia itu, sepertinya our little boss sedang diincar oleh mereka," Jodie menjelaskan singkat. "Begitu juga temannya yang cantik ini."
James menyipitkan matanya sesaat untuk melihat sosok Ema yang hanya menyapanya dengan seulas senyuman lalu mengangguk pelan.
"Sepertinya Jodie tidak akan tahu kasus penangkapan itu," Camel yang duduk di tengah melanjutkan. "Ia baru kembali ke Jepang kemarin siang untuk—"
Jodie berdeham pelan dan Camel pun berhenti bicara.
"Ah, ya. Odagiri Nao," Camel meralat cepat sebelum lebih banyak hal ia beberkan pada lawan bicaranya. "Dua tahun lalu ia ditangkap di perbatasan Amerika karena membawa bom rakit dan obat-obatan terlarang. Seminggu setelah ia ditangkap, opsir yang menjaga selnya ditemukan tewas akibat penyakit jantung dan Odagiri Nao berhasil kabur. Hingga saat ia ini, tewasnya opsir itu masih diyakini sebagai kematian wajar karena tidak ada bukti kuat bahwa Odagiri-lah yang membunuhnya."
"Dalam kurun waktu seminggu itulah diketahui bahwa ia keluar dari S.A tanpa alasan yang jelas," Camel menambahkan seperlunya lalu membiarkan tubuhnya bersandar pada punggung kursi. "Pihak kepolisian Jepang memang tidak mencantumkan foto anggota komplotan yang berhasil ditangkap, hanya diberikan inisial nama. Tetapi, salah seorang temanku yang bekerja di kepolisian pusat memperlihatkan data mereka padaku. Benarkan, Bos?"
Conan menoleh ke arah James yang menganggukan kepalanya.
"Lalu, apa kalian mengenali orang-orang itu?"
"Hm," James mendongak. "Sepertinya mereka, 6 orang selain Odagiri Nao, hanyalah pembunuh bayaran biasa yang direkrut oleh Odagiri Nao dengan iming-iming beasiswa sekolah militer di Rusia. Faktanya, nama mereka tidak pernah tercantum dalam data siswa sekolah militer itu."
"Beasiswa?" Ema terdengar terkejut. Suaranya tidak menyembunyikan ketidakpercayaannya atas informasi yang baru didengarnya. "Sekolah militer yang kalian maksudkan adalah sekolah milik Tovlovsky? Mereka memberikan beasiswa?"
"Ya. Kau tahu? Biaya pendidikan satu orang siswa di sekolah militer itu menyamai harga sebuah Bugati Veyron keluaran terbaru, tidak sembarangan orang bisa masuk."
Dengan datangnya informasi itu, Conan dan Ema membelalakan matanya.
James yang menyadari hal ini kemudian menghelakan nafasnya sebelum menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi agar membuatnya merasa lebih nyaman.
"Sorry to ask," Jodie kembali berbicara. "Bisakah kau ceritakan lagi hubunganmu dengan komplotan ini, Conan-kun? Saat kau menelponku, aku kurang bisa menangkapnya karena banyak hal harus kuselesaikan saat itu."
"Benar, bagaimana mereka bisa ada sangkut pautnya denganmu?" Camel menambahkan dan ucapannya diangguki James yang hanya diam dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya.
Conan yang mulai merasa kebingungan bagaimana harus menjelaskan kemudian menggaruk pipinya. Ia tidak tahu apakah ia harus mengatakan kalau komplotan itu mengincarnya—tidak, komplotan itu tidak mengincarnya. Yang diincar adalah Kudo Shinichi! Lalu bagaimana ia harus menjelaskan kenapa ia harus bersusah payah menyelesaikan sebuah kasus yang jelas-jelas ditujukan untuk Kudo Shinichi?
Dan keberadaan pencuri di sampingnya, sama sekali tidak memberinya keringanan.
Ia tidak boleh salah berbicara ataupun salah memilih kata. Karena bagaimana pun juga, baik pencuri itu maupun ketiga anggota FBI di hadapannya tidak boleh mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Bagaimana ini?
"Bocah kecil ini hanya dimintai tolong 'korban' untuk menyelidiki komplotan itu," sebuah suara menjawab dengan tenang.
Conan yang menyadari bahwa suara itu berasal dari gadis di sampingnya kemudian menoleh dan kedua alisnya terangkat sempurna dari posisinya semula.
KID?
"Kudo Shinichi, target utama mereka, saat ini sedang terikat sebuah kasus entah dimana dan sepertinya tidak bisa pulang sampai kasus itu selesai. Sebagai gantinya, ia meminta si kecil ini—" Ema meringis pelan saat ia rasakan sebuah tendangan di kakinya. "—maksudku, Conan-kun, untuk mengumpulkan petunjuk yang ada."
"Kudo Shinichi?" Ketiga agent FBI itu berujar bersamaan sebelum mengalihkan pandangan mereka pada sosok Conan yang hanya tertawa canggung.
"Ah! Ran-chan's boyfriend! That famous highschool detective!" Jodie berseru riang yang kemudian diberi respon wajah merona oleh sang detektif yang bersangkutan.
Menanggapi respon sang agent wanita dengan senyum tipis, KID yang kini menyamar menjadi Natsumi Ema pun memulai ceritanya.
.
.
.
.
Jam menunjukan pukul 10.45 pagi ketika Ran, di tengah pelajaran matematika yang berhasil membuat setengah siswa dalam kelasnya tertidur, melirik ke arah jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Ditolehkannya kepalanya ke arah bangku kosong yang seharusnya diduduki oleh seseorang di tengah kelas sebelum dihembuskannya nafasnya.
Dengan seulas senyum pahit, gadis jawara karate nasional itu kemudian menunduk untuk menatap ponselnya yang ia letakan di dalam laci mejanya.
Nihil.
Tidak ada satu pun pesan masuk dari pemilik bangku kosong itu. Begitu pula telpon masuk.
"Hei, Ran. Suamimu itu benar-benar tidak bisa bangun pagi, eh?" Sonoko yang duduk tepat di belakang Ran berbisik ketika sang guru tengah mencatat sesuatu di papan tulis. Sesuatu yang hanya akan diperhatikan oleh orang yang menyukai matematika dan menyukai detail.
Bagi Sonoko, hal itu tidaklah penting.
Ia tidak peduli bagaimana sebuah rumus pitagoras ditemukan, atau bagaimana mereka menurunkan sebuah rumus hingga akhirnya mereka temukan—apa namanya? Diferensiasi? Fertilisasi? Supremasi? —Hah! Entah apapun mereka menyebutnya, Suzuki Sonoko tidak peduli dan tidak akan pernah mau memperdulikannya.
Bukankah yang harus ia lakukan hanyalah menjawab soal dengan benar dan mendapat nilai bagus saat ujian nanti sehingga ia bisa lulus dan mendapatkan universitas terbaik di negerinya?
Gadis keturunan Suzuki itu kembali mencondongkan tubuhnya. "Kenapa kau tidak membangunkannya? Kupikir pagi ini kau menjemputnya ke rumah."
Ran menggeleng pelan. Hanya sebuah gelengan kepala.
"Apa ia terlibat kasus lagi tadi malam?"
Sekali lagi gadis berambut panjang itu menggeleng.
"Ia tidak menceritakannya padamu?"
Mendengar pertanyaan itu Ran hanya bisa diam. Ia tidak tahu harus menggeleng ataukah menjawab 'tidak'. Karena memang kenyataannya pemuda itu tidak menceritakan apapun padanya. Tidak sejak ia mendengar tentang obat yang membuat Kudo Shinichi harus menjadi Edogawa Conan. Dan dengan adanya kasus penculikan tempo hari, hubungannya dengan detektif itu semakin renggang.
Terima kasih kepada ayahnya yang telah mengusir dan melarangnya menghubungi detektif itu.
Ia rindu detektif itu.
Banyak hal yang ingin ia bicarakan, walaupun hanya sebatas menanyakan kabar, ia ingin bisa berbicara empat mata lagi dengan teman masa kecilnya. Cinta pertamanya itu. Hanya berdua, tanpa perantara.
Ya, perantara.
Seperti yang terjadi pagi ini, saat ia dengan sengaja datang ke rumah pemuda itu dengan niat ingin mengajak berangkat bersama. Yang sudah jarang mereka lakukan ketika semuanya terkuak. Ia sempat berpikir, mungkin jika ia memberanikan diri mengajak bicara detektif itu, semuanya akan berubah. Kembali seperti semula. Itulah yang ia harapkan.
Tetapi, saat ia tekan bel rumah besar itu, seorang gadis kecil berambut pendek yang lengkap dengan tas sekolah berwarna merahnya keluar untuk menyapanya dan mengatakan kalau Shinichi membolos karena demam.
Ia pun menjadi khawatir. Namun gadis itu, gadis yang mengetahui sejak dulu sekali bahwa Edogawa Conan dan Kudo Shinichi adalah satu individu, mengatakan kalau Professor sudah mengurusnya sehingga ia tidak perlu mengkhawatirkan nasib detektif itu dan pergi belajar seperti biasa.
Begitulah semua terjadi. Begitu cepat seperti air yang mengalir ke hulu sungai. Sudah pergi jauh dan tidak bisa dihentikan.
Dengan senyuman pahitnya, gadis itu kembali menghelakan nafas.
"Hei! Nona!" sebuah teriakan keras dari arah koridor terdengar. Suara derap langkah kaki yang terburu-buru serta bunyi ketukan yang tidak kalah cepat juga ikut membahana, merambat masuk ke setiap pasang telinga. Perlahan, suara itu terdengar semakin keras, keras, keras, dan akhirnya berhenti.
"Anda tidak boleh ke sana! Kehadiran anda dapat mengganggu—"
Secara bersamaan, seisi ruang kelas dimana Ran berada menoleh ke arah pintu saat seseorang secara paksa membuka pintu itu dan menciptakan bunyi berdebam keras. Disana, dibalik pintu geser yang menghubungkan antara ruang kelas dan koridor, berdiri seorang wanita dan seorang pria yang dikenali oleh siswa siswi SMA Teitan sebagai seorang kepala sekolah SMA Teitan.
Wanita itu lalu berjalan dengan langkah tegas. Menghantamkan heelsnya pada permukaan lantai dan berjalan dengan angkuhnya menuju depan kelas.
Dengan tatapan tajam dan suara lantang, wanita itu bertanya, "Dimana pemuda detektif itu?"
.
.
.
.
"Hatsune ... Ema?" Ran dan Sonoko berseru bersamaan ketika mata mereka melihat sebuah kartu nama berwarna merah dengan ukiran mawar perak di sudutnya milik wanita di hadapan mereka. Wanita itu mengangguk sebelum mengibaskan rambut merah gelapnya yang sejak tadi menutupi bahunya.
"Jadi, anda mendapatkan alamat sekolah ini dari kantor kepolisian?" Ran bertanya pelan seraya memerhatikan perawakan wanita di hadapannya. Dari ujung kakinya hingga ujung rambutnya.
Wanita itu terlihat … cantik. Walaupun tertutup make-up, Ran bisa tahu bahwa dibalik make up itu ada wajah cantik yang, menurutnya, sangat sayang jika harus ditutupi dengan make up.
Gaya berpakaian wanita itu pun tidak bisa dianggap remeh.
Blouse putih yang dibordir buatan perancang ternama yang dipadukan dengan belt perak dan rok berwarna biru akua yang mengikuti lekuk tubuhnya dengan sempurna, serta mantel berwarna coklat karamel.
Dari tempatnya berdiri, Ran bisa melihat merk yang tertera pada punggung mantel itu dan, ya! Itu adalah mantel yang harganya menyamai harga sebuah mobil baru yang Sonoko incar sejak lama namun tidak bisa ia beli karena harganya yang tidak manusiawi.
Mungkin, pekerjaan wanita itu yang membuatnya bisa membeli barang-barang mahal seperti itu. Apa pekerjaan wanita itu? Ia sempat melihatnya tertera di kartu nama wanita itu namun Ran tidak bisa mengingatnya karena terpaku pada wajah wanita itu.
Hatsune Ema, wanita yang diketahui berusia 24 tahun itu, memiliki wajah yang sangat—dengan cetak tebal—mirip dengan wajah Natsumi Ema. Gadis yang diberitakan memiliki hubungan khusus dengan seorang detektif kebanggaan SMA Teitan, tidak, kebanggaan Jepang, karena tertangkap basah tengah bersama detektif itu di sebuah taman.
Jika wanita itu memiliki wajah dan nama yang hampir sama dengan Natsumi Ema, dan wanita itu datang untuk mencari Kudo Shinichi, apa itu artinya—
"Kau jauh-jauh dari Perancis, datang ke Jepang, hanya untuk menemui si maniak misteri itu? Untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di media?" Sonoko bertanya pada wanita itu. Gadis berambut coklat itu lalu menoleh, menatap beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka dengan tatapan penasaran dan memilih untuk menggerakan tangannya untuk mengusir mereka.
Hatsune Ema mengangguk pelan.
"Staffku mengirimkan seluruh artikel itu beberapa jam setelah artikel itu dimuat di koran pagi. Jujur saja, aku tidak paham apa maksud pemberitaan itu. Sejak usia 13 tahun aku tinggal di Perancis dan baru kembali ke Jepang beberapa jam yang lalu. Jika yang diinginkan Kudo Shinichi ini hanyalah perhatian dariku, well, I'll give it. Walau aku tidak begitu berminat pada remaja yang baru menginjak usia dewasa sepertinya. The point is, aku tidak setuju dengan pemberitaan apapun yang ada di media saat ini. Nama baikku bisa jatuh karena hal seperti ini."
"Kau tidak meminta manajermu atau mungkin asistenmu untuk menyelesaikan masalah ini?" Sonoko kembali bertanya dan gadis keturunan Suzuki itu bisa melihat respon wanita di hadapannya dengan jelas. Wanita itu merespon dengan gedikan bahu dan sebuah helaan nafas. Hanya itu.
"Kalau kusuruh mereka melakukannya, akan ada banyak proyek yang tertunda. Lebih baik mereka kusuruh mengurus proyek perusahaan daripada mencari seorang pemuda yang mengaku detektif atau semacamnya. Katakan," wanita itu memiringkan kepalanya. "Apa hebatnya pemuda itu? Apapun yan ia lakukan, itu hanyalah merangkak di TKP, mencari petunjuk, evidence, whatever it is, menemukan pelaku, and that's it! Ia bahkan tidak bisa menangkap Kaito KID—jangan salah sangka! Bukan maksudku untuk mendoakan pencuri berkharisma itu untuk segera ditangkap, aku hanya tidak bisa mempercayai—"
"Apa kau menyebutkan Kaito KID pencuri berkharisma?" Sonoko menyipitkan matanya. Menatap tajam wanita di hadapannya yang terlihat terkejut karena tiba-tiba saja pembicaraannya dipotong oleh seorang gadis SMA biasa. Dengan ragu dan sedikit rona merah di wajahnya, wanita itu mengangguk pelan. "Apa … apa itu artinya kau adalah penggemar Kaito KID?"
"Bien sûr!" Hatsune Ema berseru lantang. "Maksudku, who wouldn't? Pencuri itu memiliki selera fashion yang fantastis! Aku ingin sekali bertemu dengannya untuk meminta izin menggunakan namanya pada koleksiku selanjutnya."
"Benarkah? Jadi kau—"
"Maaf," Ran menginterupsi dengan nada ketus dan mata terpejam. "Sebentar lagi jam istirahat selesai dan kami ada ulangan. Jika tidak keberatan, kami harus pergi."
Ran kemudian berbalik badan dan berjalan dengan langkah tegas menjauhi tempatnya semula bersama wanita bernama Hatsune Ema itu. Sonoko yang merasa ditinggal oleh sahabatnya yang baru saja mengatakan bahwa akan ada ulangan setelah jam istirahat selesai, dengan segera menyusul gadis berambut panjang itu.
"Kita ada ulangan?" tanya Sonoko dengan suara cukup keras bagi Hatsune Ema untuk mendengarnya. "Hei, Ran! Kenapa kau—"
Hatsune Ema menggedikan bahunya. Ditatapnya dua remaja yang kini berdebat di tengah koridor beberapa meter di depannya selama beberapa saat sebelum akhirnya ia tarik sudut bibirnya untuk menampakan seulas senyum yang mengandung banyak makna.
"Pasti sulit memiliki kekasih yang cukup populer dikalangan wanita, benar?"
Ran mengerjapkan matanya lalu menoleh ke arah Hatsune Ema yang kini bersandar pada dinding.
"Sebelum tiba di sini, aku mencaritahu tentang detektif muda ini," wanita itu menggeleng pelan. Ekspresi dan cara berbicaranya tenang. Sama sekali tidak terdengar ada nada meremehkan yang angkuh seperti yang ia lakukan sebelumnya. "Di beberapa situs internet hanya dituliskan ia adalah seorang detektif SMA yang dikabarkan telah menjadi penyelamat kepolisian Jepang, well, I don't know about that. Lalu kutanya beberapa anak buahku dan mendengar jawaban dari mereka, kekasihmu itu sangat populer. Maksudku, siapa yang tidak akan jatuh hati padanya? Tampan? He is. Pintar? Kalau ia bodoh, ia tidak akan menjadi detektif. Walaupun tubuhnya sedikit kurus tetapi aku yakin ia setidaknya berolahraga dua hari sekali, Maybe jogging? Dan kudengar ia anak dari penulis novel misterius terkemuka."
"Dan seorang aktris legendaris Jepang, Kudo Yukiko," Sonoko menambahkan dari tempatnya berdiri.
Wanita itu membelalakan matanya. "Kudo ... Yukiko? The Night Baroness?" wanita itu kembali menarik sudut bibirnya lalu menggeleng pelan. "Ternyata benar dia bukan sembarang siswa yang mengaku detektif."
"Kau sangat beruntung bisa menjadi kekasihnya, Mouri-san."
"E, eh? T, tidak! Shinichi bukan kekasihku!" Ran menggeleng cepat dengan wajah memerah lalu dikibaskannya tangan kanannya di udara untuk menyangkal segala kesimpulan yang telah dibuat oleh wanita di hadapannya. Kekesalannya terhadap cara wanita itu merendahkan Kudo Shinichi di depan matanya seolah lenyap ketika mendengar dugaan itu. "K, kami hanya—"
"Terlalu takut untuk mengambil langkah karena ada ikatan 'teman masa kecil' di antara mereka. Ditambah lagi, si maniak mister itu sedikit 'lamban' dalam hal percintaan," jelas Sonoko dengan nada simpati yang diperjelas dengan gelengan kepala dan gedikan bahu. Ran yang berdiri di sampingnya dengan cepat menatapnya tajam namun kembali menunduk untuk menutupi rona merah di wajahnya.
Hatsune Ema membulatkan bibirnya setelah paham dengan kondisi hubungan gadis di hadapannya dengan seorang detektif yang sedang dicarinya. Sambil bersiul pelan wanita itu lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan ia biarkan kedua bola matanya menatap lurus sepasang iris keunguan yang tertangkap basah beberapa kali mencoba menghindari kontak mata dengannya. "Aku paham perasaan itu," ujar wanita itu pelan dengan seulas senyuman. "Tetapi, kau tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi jika tidak mencari tahu, benar? Kalaupun hasilnya akan menyakitkan, setidaknya kita sudah mencoba mencari tahu."
Ran mengangkat kepalanya, menatap sepasang bola mata yang menatapnya dengan tatapan yang … entahlah. Rasanya seperti ada batu besar yang menutupi saluran pernafasannya jika ditatapnya sepasang bola mata itu dan ada gemuruh dalam kepalanya ketika melihat senyuman pahit di bibir wanita yang beberapa menit lalu memperkenalkan diri sebagai Hatsune Ema.
Siapa wanita itu?
Apakah benar ia hanya seorang CEO salah satu brand terkemuka yang datang ke Jepang hanya untuk mencari Kudo Shinichi sehubungan dengan pemberitaan tempo hari?
Kenapa … rasanya ada yang berbeda dari cara wanita itu menatapnya? Kenapa wanita itu terlihat tidak sekokoh penampilannya? Seperti ada sesuatu yang rapuh dan akan hancur hanya dengan hembusan angin.
"Itu lebih baik daripada terus menunggu tanpa kepastian."
.
.
.
.
"—Oi, KID!"
"Hm?" KID yang berhasil menghentikan langkahnya—hanya butuh dua langkah lagi agar ia bisa membenturkan kepalanya pada sebuah tiang listrik di hadapannya—kemudian mengerjapkan matanya dan menoleh ke arah detektif kecil yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan satu alis terangkat. Pencuri itu kembali mengerjapkan matanya sebelum menggeser tubuhnya dari hadapan tiang listrik yang hampir diciumnya.
"Kau baik-baik saja? Sejak Jodie-sensei pergi kau terus diam." Dan hampir satu jam sudah berlalu sejak mereka berpisah dengan para agent FBI dan melanjutkan perjalanan mereka menuju SMA Teitan.
KID mengeratkan cengkraman tangannya pada strap postman bag yang tergantung di pundaknya sebelum menggeleng pelan. Beruntung ia sedang memakai wajah 'Natsumi Ema' saat itu, karena jika tidak, mungkin detektif di sampingnya bisa melihat bagaimana kerutan di keningnya mengindikasikan bahwa ia benar-benar berpikir keras, bingung terhadap semua informasi yang sudah didapatnya.
Semuanya terasa seperti bola yang kau lemparkan dari ketinggian, ia memantul terus hingga akhirnya saat pantulan terakhir, bola itu menggelinding dan lenyap dari pandangan.
Jika hidup semudah mengoperasikan komputer, mungkin saat ini ia sudah merusak fungsi kolom pencarian karena terlalu banyak kata kunci ia masukan di saat bersamaan, namun tidak ada satu pun yang masuk ke dalam kategori informasi logis.
"Pria bernama James itu," pencuri itu memulai dengan suara sedikit bergetar, namun dengan cepat ia sempurnakan suaranya. "Tidak berhenti menatapku. Sepertinya aku harus lebih berhati-hati dalam menciptakan penyamaran."
"Trained Agent," Conan berkomentar dengan nada yang terdengar seperti mencoba mengingatkan sebuah fakta terlupakan. "Mata mereka pasti terlatih untuk melihat suatu kejanggalan di sekitarnya, benar?"
"Di saat seperti ini aku merasa harus memberikan hadiah apresiasi untuk Nakamori-keibu," ujarnya pelan dengan nada sarkastik yang ditujukan untuk sang detektif dan detektif itu hanya menjawab dengan tawa kecilnya. "Mereka semua agent?"
Conan mengangguk pelan lalu melirik ke arah pencuri di sampingnya. "Mereka tidak membedakan wajah seseorang saat melakukan tes menjadi agen, KID. Jika itu yang ingin kau katakan."
Menit berikutnya, hanya derap langkah kaki mereka menuju gedung SMA Teitan saja yang bisa mereka dengar. Keduanya sama sekali tidak berbicara dan memilih untuk menyibukan diri dengan pikiran masing-masing.
.
.
.
.
"Kenapa kita tidak menceritakannya pada anak itu?" Camel yang baru saja menutup pintu mobil bertanya dan dibiarkan tubuhnya bersandar pada jok mobil yang didudukinya.
Jodie menggeleng pelan sebelum menarik seatbeltnya melintasi tubuhnya dan menganggukan kepalanya ke arah James yang kini menstarter mobil yang mereka kendarai. "Too risky."
"Tetapi sejak awal anak itu tahu tentang mereka, benar? Ia bahkan bisa—"
"Wanita yang bersamanya," James memotong. "Adalah warga sipil."
Jodie menggedikan bahunya. "Bukan warga sipil biasa pastinya. Ia memiliki catatan hampir di seluruh ingatan warga Jepang dan mungkin sudah terukir di hati para polisi."
"Rupanya isu yang beredar itu benar, hm? Bahwa ada serangga kecil yang bebas keluar masuk ruang penyimpanan arsip kepolisian. Kau pikir kita harus memperingatkan mereka?"
Jodie hanya diam lalu mengalihkan pandangannya pada jalan raya yang bergerak bagai garis di sisi kirinya. Dengan alis bertautan ia menggeleng pelan dan membiarkan pikirannya kembali memutar kejadian saat ia bertubrukan dengan seorang gadis misterius yang menyuruhnya untuk tidak menemui siapapun yang akan ditemuinya.
Lalu beberapa detik setelahnya, ingatannya kembali memutar percakapan yang terjadi antara dirinya dan gadis bernama Natsumi Ema yang mereka lakukan secara terpisah di toilet wanita. Yakni, saat gadis bernama Natsumi Ema itu dengan penuh sopan santun menemuinya—menyusulnya ke toilet—dan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan ia bertanya:
"Tubuh besar dengan rambut perak. Apa ada anggota organisasi itu yang memiliki ciri tersebut?"
Gadis itu hanya tersenyum tipis saat Jodie memilih untuk bertanya kembali 'Kau sedang mencari seseorang, Pretty Girl?' dan berkata bahwa ia hanya ingin memastikan sesuatu, memberinya setangkai mawar berwarna merah, dan kembali ke tempat di mana yang lain berada.
Bisa dikatakan ia tidak paham.
Siapa sosok yang dibicarakan gadis itu. Apakah yang ia maksudkan adalah Gin? Siapa gadis itu? Apa hubungan gadis itu dengan sosok yang ditanyakannya? Dengan Edogawa Conan? Bagaimana ia bisa mengetahui sesuatu tentang organisasi—tentu ia ingat pernah secara tidak sengaja menyebutkan kata 'organisasi' saat bicara dengan detektif dan gadis itu dan ia menyesali kecerobohannya—tetapi kenapa bisa ia menanyakan sesuatu yang mungkin ada kaitannya dengan organisasi?
Benarkah hanya ingin memastikan? Jika ya, apa yang harus dipastikan? Mengapa harus dipastikan? Jika tidak, apa alasannya? Apakah ada sesuatu yang membuat gadis itu bertemu sosok itu dan semuanya ada kaitannya dengan Edogawa Conan? Atau mungkin semuanya bukan untuk Edogawa Conan? Tetapi untuk—
"Aku tidak tahu kau suka hal-hal seperti itu, Jodie."
Wanita itu tersenyum lalu menghelakan nafasnya sambil menatap lurus ke arah depan di mana lampu merah bagian belakang mobil menyala bersamaan.
"Mereka bilang kau tidak akan tahu pada siapa kita jatuh cinta, benar?"
.
.
.
.
… delapan, Sembilan—Whoa!
KID mengangkat kedua alisnya, membulatkan mulutnya ketika tangannya memungut beberapa amplop yang terjatuh saat ia membuka loker sepatu milik Kudo Shinichi. Ini bukan pemandangan yang langka baginya. Beberapa kali ia harus melakukan hal yang sama setiap membuka loker milik detektif dari timur itu. Ya, benar. Saat ia ingin mengerjai detektif itu maupun saat ia memasang alat penyadap di dalam sana.
Ia berani bertaruh, saat hari kasih sayang mendatang, ketika ia buka loker itu pasti yang berjatuhan bukanlah sepucuk dua pucuk surat, melainkan bungkusan beraneka warna dengan aroma menggiurkan yang bisa membuat air liurnya menetes. Mungkin ia harus mengajak detektif itu bermain tepat di hari kasih sayang mendatang karena ia tahu sang detektif tidak akan memakan semua coklat pemberian penggemarnya.
Catat itu. 14 Februari.
"Oh! Ema-chan!"
KID yang merasa namanya disebutkan kemudian menoleh dan tersenyum ketika dilihatnya dua orang pemuda berseragam SMA Teitan berdiri di salah satu ujung loker. Kedua pemuda—yang dikenali KID sebagai … siapa nama mereka? Kalau tidak salah mereka teman satu klub sang detektif yang pernah memberikan Ema nomor ponsel mereka saat ia datang tempo hari. Tetapi ia tidak bisa mengingat nama mereka. Jun? Mirai? Yodai? Entahlah—tersebut melambaikan tangan mereka penuh semangat sebelum akhirnya menghampirinya.
"Ternyata kau benar-benar datang!" salah satu dari mereka yang memakai bandana berseru riang.
Benar-benar datang?
"Apa kau datang untuk bertemu Shinichi?" tanya seorang yang memiliki kulit gelap di antara keduanya.
Ema menggeleng pelan, "Aku datang untuk mengantarkan titipan Kudo-kun. Ah! Apa bisa kutitipkan pada kalian? Ia bilang untuk menyerahkannya pada wali kelasnya sebelum jam pulang sekolah."
"Tidak masalah," si pemakai bandana mengangguk pelan dan menerima beberapa buku yang diserahkan Ema. "Kenapa dia tidak menyerahkannya sendiri?"
"Bodoh! Shinichi pasti saat ini sedang merayap di TKP untuk memecahkan kasus! Benarkan, Ema-chan?"
Ema menghelakan nafasnya lalu mengangkat bahunya untuk menjawab pertanyaan itu. "Ia pergi sejak kemarin, entah kemana, dan hanya memintaku untuk mengantarkan tugasnya. Apa kalian sedang istirahat?"
Si kulit gelap menggeleng dan dengan satu tangannya menggaruk pipinya yang ditempeli plester luka. "Kami diminta untuk mengambil peta peraga di ruang penyimpanan dan memutuskan untuk jalan-jalan sebentar."
"Ah, begitu rupanya," Ema mengangguk pelan. "Kalau begitu aku permisi dulu. Ada hal lain yang harus kulakukan. Sampai jumpa—"
"Goto! Panggil aku Goto dan dia adalah Misaki!"
Dengan seulas senyum, sebuah kedipan, serta satu tangan yang melambai, Ema berjalan keluar dari dalam ruang loker sepatu.
.
.
.
.
"Apa kau siap, Meitantei?" Tanya KID dengan tangan terulur untuk menekan salah satu angka pada lift. Pencuri itu melirik ke bawah, di mana seorang bocah berusia 8 tahun berdiri dengan kedua tangan terjejal dalam saku jaketnya.
"Sebelum kujawab," detektif itu menjawab pelan dan ada rasa malas dari caranya berbicara pada pencuri di sampingnya. "Siapa kau saat ini?"
KID bersiul pelan sebelum menyeringai dengan dada membusung, terlihat angkuh dan seolah ingin memamerkan bentuk tubuhnya—yang beberapa kali Conan katakan dalam hatinya 'Silikon, pencuri itu memakai bantalan silikon untuk mengganjal dadanya'—jika dilihat dari sudut di mana Conan berada. Satu tangannya memegang besi pada troli makanan yang dipinjamnya dari ruangan karyawan, sementara tangan lainnya bergerak mengibaskan wig merahnya yang bergelombang. "Natsumi Ema Upgra—"
"Seharusnya aku tidak bertanya," gerutu detektif itu pelan.
"—biar aku selesaikan. Natsumi Ema Ugraded Version; Room Service-girl Edition. Aku siap melayani!" Jelas pencuri itu dengan satu kaki terangkat dan sebuah kedipan mata. Kurang lebih sama dengan pose-pose karakter wanita yang bisa berubah menjadi seorang pahlawan yang memakai baju-baju lucu berwarna-warni dan menghancurkan musuhnya dengan tongkat ajaib pada acara kartun anak. Ayumi pernah meminjamkan dvd complete seriesnya walaupun tidak seluruhnya ia tonton karena tidak sesuai seleranya. Hal ini berhasil membuat Conan menggelengkan kepalanya. Terlalu banyak tingkah ajaib pencuri itu dan semuanya berhasil membuatnya merasakan rasa nyeri di seluruh sudut kepalanya.
'Kasus ini harus cepat kuselesaikan' adalah satu kalimat yang terus ia teriakan dalam hatinya, sebagai bentuk motivasi diri, dengan ekstra 'Agar aku bebas dari pencuri gila ini'. Karena seperti yang pernah ia katakan sebelumnya, berada lebih lama dengan pencuri itu bisa membuatnya gila.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya KID sekali lagi dengan suara Natsumi Ema yang sedikit dibuat agar terdengar lebih manja. Kedua tangannya kini merapihkan lekuk baju seragam yang dipakainya serta menarik stoking hitam yang juga dipinjamnya dari loker seorang karyawan, lalu dilanjutkan dengan memasang tanda pengenal pada bagian pinggangnya yang dengan jelas menunjukan identitasnya sebagai pelayan di hotel itu. Hotel tempat ia melakukan aksi pencurian dimana kasus penembakan pertama kali terjadi.
"Aku sudah mengirimkan fotoku untuk Tantei-kun dan ia pasti iri tidak bisa melihat kecantikanku hari ini."
Akan kupatahkan ponselku begitu pulang nanti ... Batin detektif itu sambil tetap mengacuhkan seorang pencuri yang masih berupaya menunjukan kecantikannya dengan melakukan pose-pose aneh. Baginya saat ini, pantulan dirinya di dinding lift terlihat jauh lebih menarik daripada tingkah aneh si pencuri.
Rambut acak yang bertolak belakang dengan rambut rapihnya yang dilapisi pewarna rambut temporary yang memiliki warna serupa dengan wig yang dipakai KID saat ini. Warna iris matanya tetap ia biarkan apa adanya, berbeda dengan KID yang memakai lensa kontak berwarna coklat.
Jika harus diakuinya, ya, ia terkejut. Ia tidak menyangka penyamaran seperti ini yang akan ia pakai selama ia menyelidiki kembali gedung dimana penembakan pertama terjadi bersama seorang pencuri yang tampaknya lebih sibuk membetulkan riasannya. Lebih lengkapnya, ia tidak menyangka penyamaran seperti ini yang diberikan pencuri itu.
Kartu disebar, namun satu kartu tertiup angin sehingga semua pemain dapat melihatnya.
Itu yang terjadi.
Dengan seulas senyum tipis pada salah satu sudut bibirnya, detektif itu kembali menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih."
"Hm?" KID yang baru saja mengalihkan perhatiannya pada layar navigator lantai pada bagian atas lift menunduk, menatap kepala sang detektif yang kini melirik ke arahnya.
"'Terima kasih sudah menolongku'," detektif itu mengulang dan menambahkan. "Itu yang Shinichi-niichan katakan saat menyuruhku datang."
"Ah, ternyata detektif arogan seperti dia bisa berterimakasih," komentar KID dengan suara meledek yang diucapkan pada Edogawa Conan namun ditujukan untuk Kudo Shinichi. Pencuri itu lalu menarik sudut bibirnya membiarkan wajah Natsumi Ema menunjukan ekspresi yang memiliki kejujuran yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Kaitou KID. Dan Conan hanya bisa membalas senyuman itu dengan sebuah senyuman canggung yang membuatnya tidak mengerti kenapa wajahnya terasa panas di tengah ruangan yang jelas-jelas tidak memiliki pemanas di dalamnya.
"Ah le le, Conan-kun. Kau baik-baik saja? Wajahmu memerah," pencuri itu kemudian berjongkok, mengulurkan satu tangannya untuk memegang kening detektif itu dan satu tangan lainnya memegang keningnya sendiri. Satu alis terangkat saat tangan kecil milik detektif itu menepiskan tangannya dan wajah detektif itu semakin memerah. "Hei, tubuhmu benar-benar panas. Kau baik-baik saja?"
"Bodoh! Wajahmu berlapis bahan latex dan menyimpan dingin yang diserap dari udara sekitar. Wajar saja badanku jadi lebih panas!"
Ia tidak mengangguk tidak pula menjawab. Hanya diam menatap lawan bicaranya yang kini garis matanya sejajar dengan dirinya. Di sana ia bisa melihat sepasang iris biru cerah yang harus diakuinya berbeda dengan jenis biru yang menjadi warna irisnya, tetapi ada satu persamaan yang tidak bisa ia pungkiri.
Rasa cemas.
Aneh, eh?
Seorang detektif yang selalu merasa percaya diri di setiap langkahnya bisa memiliki rasa cemas yang terpancarkan dari caranya menatap lawan bicaranya. Terlebih lagi lawan bicaranya adalah seorang pencuri buronan yang merupakan musuh abadinya.
Tetapi yang lebih aneh adalah ia juga merasakan hal yang sama.
Sesuatu dalam hatinya juga di belakang kepalanya saat ini terus meneriakan perasaan cemas yang tidak bisa dikontrolnya. Seperti sebuah ketakutan yang menghalangi rasa percaya diri untuk muncul dan berakhir dengan ketidakpastian yang membingungkan.
Sejak kapan ia merasakannya? Entahlah, ia tidak yakin bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Mungkin saat ia berbicara dengan beberapa agent FBI itu? Atau saat ia bertemu detektif kecil itu tadi pagi? Atau mungkin sejak ia dan detektif itu merencanakan semua ini?
Tidak. Lebih lama dari itu. Tetapi kapan? Dan kenapa?
"Apa kau menonton berita pagi ini, Meitantei?" Pencuri itu berkata datar seraya berdiri dari posisinya. Kedua tangannya melingkar erat pada pegangan troli sementara pandangannya sama sekali tidak ia alihkan dari pintu lift. Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, KID yang menyamar menjadi room service-girl sebuah hotel yang menjadi lokasi pencuriannya beberapa waktu lalu melangkahkan kakinya keluar dari lift ketika pintunya terbuka. Lantai 10, itulah yang tertera pada layar kecil di atas pintu lift.
Berhenti melangkah, pencuri itu lalu menoleh ke arah Conan yang berdiri tepat di tengah lift.
"Malam ini akan ada badai dan aku lupa membawa payung. Bisakah kau katakan pada Shinichi-niichan untuk menjemput?"
Dan pintu lift pun menutup.
.
.
.
.
"Bagaimana?" Tanya Sonoko pada sahabatnya ketika mereka sampai di depan pintu toilet.
Ran, dengan satu tangan menekan tombol-tombol ponselnya menggeleng pelan. "Ponselnya tidak aktif. Telpon rumahnya pun tidak—"
Kalimat itu tidak ia selesaikan. Kedua matanya ia arahkan pada layar ponselnya yang menunjukan deretan nomor telpon pada kontak ponselnya dan entah bagaimana caranya, tangannya berhenti menggulirkan keypad ponselnya ketika ia sampai pada kontak dengan nama 'Edogawa Conan'.
Tidak mungkin 'kan? Pikirnya dalam hati disertai sebuah gelengan kepala. Sonoko yang berada di sampingnya hanya diam menatapnya dengan tatapan bingung. "Ada apa, Ran?"
Menggeleng, gadis bernama Mouri Ran itu kemudian menarik napasnya dan menekan satu tombol pada keypad ponselnya. Ia menatap sesaat wajah sahabatnya di sampingnya sebelum menempelkan ponselnya pada telinganya dan berharap suara mesin penjawablah yang akan ia dengar.
Namun sayang, bukan suara mesin penjawab yang menyapanya, melainkan sebuah suara milik seorang detektif berusia tidak lebih dari 10 tahun yang sudah tinggal bersamanya selama dua tahun terakhir dan berakhir enam bulan yang lalu.
Suara yang ia percaya tidak akan pernah ia dengar karena seseorang menyuruhnya untuk percaya bahwa pemilik suara itu sudah pergi untuk selamanya.
Dengan mata membelalak, Ran menelan ludahnya.
"C, Conan-kun?" Ia jawab sapaan itu dengan suara sedikit serak karena belum pulih dari keterkejutannya. Sonoko yang kini tengah membasuh mukanya dengan air kran wastafel menoleh cepat ke arahnya dengan kedua alis terangkat.
"R, Ran!?" Suara di seberang sana terdengar tidak kalah terkejut dan disusul dengan suara gemerisik sebelum akhirnya suara di seberang sana kembali terdengar. "I, ini bisa ... Bisa kujelaskan—"
"Tolong," gadis itu menggigit bibirnya, menahan cairan bening yang mengumpul di sudut matanya. "Bisakah kau letakan alat ... Alat pengubah suara itu? Aku—" sebuah tarikan napas. "—ingin mendengar suara Conan."
.
.
.
.
"Hatsune ... Ema?" Conan mengerutkan keningnya, tangan mencengkram ponselnya yang menempel pada telinganya. "Kapan ia datang? Dimana ia sekarang?"
"Sekitar jam 9.45 saat pelajaran matematika. Ia ada di sini sekitar 30 sampai 45 menit lalu pergi untuk mengurus sesuatu," jelas suara di seberang sana. Jika didengar dari cara gadis di seberang sana berbicara, sepertinya ia sudah sedikit lebih baik daripada saat pertama detektif itu mengangkat telponnya. "Umm, Shinichi?"
"Ya?"
Suara di seberang sana terdengar berbisik, disusul dengan sebuah desahan nafas lelah, sedikit gerutu, dan beberapa kali tangan ditepukan di atas permukaan benda padat. Entah apa dan siapa penghasil suara tersebut.
Memiringkan kepalanya, Conan lalu menarik satu alisnya. "Ran? Ada apa?"
Suara di seberang sana menarik napas panjang. "Wanita itu, maksudku, Hatsune-san. Sepertinya ada yang aneh dengannya."
"Aneh?"
"Ya," suara di seberang sana terdiam sesaat. "Entah ini hanya perasaanku saja atau memang sepertinya ia menyembunyikan sesuatu. Selain itu, aku merasa seperti ada aura aneh saat bersamanya."
"Seperti ada yang memperhatikan!" suara Sonoko terdengar dari seberang sana.
"Apa kalian melihat ada orang lain bersamanya?"
Di seberang sana, Ran dan Sonoko saling pandang beberapa saat sebelum menggeleng bersamaan. "Ia datang bersama seorang pria, sepertinya keluarganya karena ia memanggilnya 'Paman'. Tetapi, aku yakin aura aneh itu bukan dari pria itu!"
"Maksudmu ada orang lain yang mengawasi mereka?" Conan berkata dengan suara sedikit berbisik ketika didengarnya seseorang melangkahkan kakinya melewati area tempat duduk di mana ia berada. Seorang tamu hotel yang berjalan menuju lift. Dengan sengaja ia menggerakan kakinya dan memasang ekspresi ceria seolah siapapun yang berbicara di telpon sedang menceritakan sesuatu yang membuatnya senang.
Ran di seberang sana mengangguk. "Mungkinkah ada orang dengan niat jahat mengincarnya?"
Conan terdiam sesaat. Dari sudut matanya ia melihat sang tamu hotel yang baru saja lewat di depannya kini menunggu sambil mendongakan kepalanya untuk menatap angka pada layar kecil di atas pintu lift.
"'Mungkin' dan sepertinya mereka salah mengenali target mereka. Apa ia mengatakan pada kalian kemana ia akan pergi selanjutnya?"
Samar, detektif itu mendengar ada suara 'Ding!' yang berasal dari lift yang baru saja tiba di lantai 18 tempatnya berada di antara suara Ran dan Sonoko yang sibuk berdiskusi. Pintu lift pun terbuka dan tamu hotel yang tadi berniat menaiki lift terlihat melangkah mundur, satu tangannya bergerak menunjuk ke arah dalam lift, mata membelalak, dan mulut terbuka lebar seolah ingin berteriak namun suaranya tidak mampu keluar.
Mengangkat kepalanya, Conan lalu mengarahkan pandangannya pada lift yang pintunya terbuka lebar.
Ia tidak bisa melihat apapun dari sudut tempat ia berada saat ini, namun sekilas ia bisa melihat noda merah terciprat pada dinding lift dan beberapa kali terdengar jeritan seorang wanita yang meneriakan kata 'paman' di antara isak tangisnya, disusul oleh teriakan tamu hotel yang berdiri di hadapan lift serta ucapan Ran pada speaker ponselnya.
"Sepertinya aku tahu kemana 'Hatsune Ema' pergi, Ran."
.
.
.
.
Karakter baru muncul, masalah baru, kasus baru, Ema naik level, badai menyerang, bebek-chan sudah diberi nama, suhu bumi naik, harga bawang naik, UN sebentar lagi, tugas sa—Whoa! Hold it right there!
Penulis tahu akan muncul banyak pertanyaan dalam benak kalian, so, rangkum semua pertanyaan kalian dan penuhi notif review penulis :'D
Dan sedikit pengumuman untuk KaiShin-shipper. Yuk! di follow akun twitter KaiShinOfficial dan promote fanfic/fanart KaiShin favorite kalian. Fanfic ini sudah pernah di-promote di sana~XD
And for your information, this case will be divided into parts. I haven't decided how many it'd be, but yeah ... We'll do it sinetron's way.
Keep calm and 'to be continued' ;)
Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^
P.S: Sekedar tanya, berapa usia kalian? Kalau tidak keberatan dijawab (boleh dengan mencantumkan kelas jika mau), ya. Untuk kepentingan pembuatan chapter berikutnya ^^
