Saya mencoba gaya penulisan yang agak berbeda di chapter ini, jika ada yang salah mohon dikoreksi ya.

ZACK & AERITH TRIBUTE II

Semenjak pertemuan pertama itu, hubungan keduanya menjadi sangat dekat. Zack yang selalu berusaha untuk meluangkan waktu ke toko Aerith, dan Aerith yang selalu menyambutnya adalah alasan utama kenapa mereka bisa bertambah akrab. Zack sendiri tidak mengerti akan perasaannya sendiri, maksudnya—baru kali ini dia merasa … aduh, bagaimana ya menjelaskannya? Pokoknya baru kali ini dia merasa bahwa ada seseorang yang begitu spesial di hatinya, spesial sampai dia merasa kalau bertemu gadis itu bagaikan sebuah 'kebutuhan'.

Meskipun baru empat bulan semenjak kejadian itu, tetapi Zack mengakui kalau dia memiliki perasaan khusus kepada Aerith. Butuh waktu sekitar beberapa hari sampai Zack bisa mengetahui makna perasaannya itu. Konyol ... konyol sekali, Zack berkali-kali berkata begitu pada dirinya sendiri. Padahal dia hanya bertemu gadis itu dalam kurun waktu yang bisa dibilang sebentar, tetapi ternyata gadis itu—Aerith—mampu menumbuhkan benih-benih cinta yang ada di hatinya. Caranya? Dengan suaranya, sentuhannya, dan tatapannya pada Zack. Jika diibaratkan dengan tanaman, mungkin itu semua sama dengan air, tanah gembur, dan cahaya matahari.

"Hei, kau sedang apa?" Tanya Aerith lewat handphone.

"Aku sedang ada pemotretan di pantai, kebetulan sudah selesai."

"Kau akan ke sini nanti?"

Zack tersenyum, "akan kuusahakan."

Zack memutuskan teleponnya, dan setelah itu dia memasukkan ke kantong celana jeans-nya.

"Entah kenapa aku sudah rindu sekali padanya."

Zack berjalan menuju ke mobilnya yang diparkir di pinggir jalan raya, dan langsung saja, dia menginjak gas untuk menuju ke toko Aerith. Dengan kecepatan sekitar 100 km/jam, Zack sudah sampai di sana dalam waktu delapan menit, dengan tambahan teriakan kaget para pejalan kaki. Tangan Zack mengambil sebuah topi baret berwarna abu-abu serta kacamata hitam yang ada di kursi sebelahnya, biasa … untuk menyamar sebelum dia keluar.

"Halo nona Gainsborough," kata Zack, "apa kabarmu hari ini?"

Aerith tersenyum, "baik-baik saja tuan … Zacky?"

Zack menunggu keadaan di sekelilingnya sepi terlebih dahulu, baru setelah itu dia melepas kacamatanya, "jelek sekali nama samaranku."

"Lalu kau mau nama apa?" tanya Aerith sambil tersenyum.

"Yah ... " Zack berjalan mendekati Aerith, "Mr. Handsome kan bisa?"

"Ewww, aku takkan memakai nama itu."

"Hei, jangan begitu dong."

Percakapan itu sering sekali mereka berdua ucapkan, namun mereka tidak pernah merasa bosan. Mereka bertemu setiap hari, namun mereka tidak pernah bosan. Mereka selalu bercanda ria, bersenda gurau, dan bersenang-senang berdua, tetapi mereka TIDAK pernah merasa bosan, terutama Zack. Bagi Zack, mendengar suara gadis itu adalah sebuah anugerah yang sungguh luar biasa, baru kali ini dia merasa bersyukur diberikan telinga yang sehat.

"Kau mau jalan-jalan?"

"Zack, kenapa sih kau selalu mengajakku saat aku kerja? Kan kita bisa mengobrol saja di sini."

"Ayolah, kau mau kan?" kata Zack dengan mata memelas.

"Eits ... puppy eyes milikmu tidak mempan untukku, Mr. Zack Fair."

Hanya sekali, tetapi Zack langsung menyerah. Zack selalu menggunakan cara ini untuk merayu orang lain, sayangnya Aerith kebal terhadap matanya, tidak seperti kepada orang lain yang biasanya sangat ampuh.

"Baiklah, jadi kau mau aku di sini saja?"

"Betul, lagipula setengah jam lagi toko tutup."

"Lalu kau mau aku bicara tentang apa?"

"Apa saja, seperti pekerjaanmu yang selalu dipenuhi 'cerita' unik."

Zack bertolak pinggang, "daripada 'cerita', lebih pantas disebut 'masalah.' "

Aerith meletakkan sebuket bunga yang tadi dibawanya, "salah sendiri kenapa kau jadi artis."

"Model."

"Sama saja," kata Aerith, "dan ... sepertinya aku sudah tahu topik apa yang akan kubicarakan denganmu."

"Oh ya?" kata Zack sambil duduk di kursi di sampingnya.

"Yep," jawab Aerith sambil merapikan lengan bajunya, "tapi tunggu toko tutup, oke?"

Apakah sepenting itu? Pikir Zack, dan meski penasaran, Zack memutuskan untuk duduk menunggu di sini. Agak bosan memang hanya duduk sambil melihat pengunjung yang datang dan pergi lagi tak lama kemudian, malah ada juga yang hanya melihat-lihat tanpa berniat membeli, kurang kerjaan sekali. Zack dibuat menunggu sekitar empat puluh menit lamanya, dan untuk menghabiskan waktu, dia memainkan games di handphone miliknya sampai baterainya hanya tersisa sekitar tiga puluh persen. Tetapi itu pembayaran yang cukup impas untuk menunggu sampai Aerith menutup tokonya.

"Lama menunggu?" tanya Aerith.

"Sangat," kata Zack, "jadi, kau mau bicara apa?"

"Tapi jangan di sini," kata Aerith, "bisakah di tempat lain?"

"Loh, katanya kau mau di sini saja?"

"Aku berubah pikiran, boleh ya?"

"Di mana?"

"Taman bunga yang waktu itu," kata Aerith, "kau mau?"

Zack sungguh penasaran, tetapi dia tetap mengiyakannya. Dan setelah menunggu Aerith sampai selesai, barulah mereka berdua berjalan ke dalam mobil.

-00000-

"Tempat ini masih indah, ya kan?" tanya Aerith.

"Ya."

Aerith berjalan menelusuri padang bunga yang ada di sekelilingnya, tangannya yang dia rentangkan menyentuh bunga-bunga dengan lembut setiap dia lewat. Zack melihat gadis itu dengan pandangan mata yang sungguh terpesona, meskipun dia melihatnya setiap hari, tetapi dia tidak pernah bosan memuji dan mendambakannya. Mungkinkah ... ini adalah salah satu alasan dia bisa mencintainya?

"Sudah empat bulan kita tidak ke sini, entah kenapa semenjak kita bertemu waktu itu, kau tidak pernah mengajakku ke sini lagi."

"Karena kukira—banyak tempat yang lebih bagus dari ini."

"Benarkah?" tanya Aerith sambil memetik salah satu bunga, "meskipun kau mengajakku ke macam-macam tempat, tapi aku paling suka padang bunga ini."

"Oh ya?" tanya Zack sambil mengamati bunga-bunga di sekelilingnya, "padahal pemandangannya selalu sama."

"Justru itu," jawab Aerith, "aku menyukai tempat ini karena alasan itu."

Karena alasan itu? Lagi-lagi Zack dibuat tidak mengerti oleh gadis ini.

"Kau mungkin tidak mengerti," kata Aerith sambil berpaling pada Zack, "tapi lama kelamaan kau pasti mengerti."

Zack hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya, meskipun artinya itu berlawanan.

"Aduh!" teriak Aerith tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Jariku."

Aerith mengangkat tangan kanannya, di sana dia melihat jari telunjuknya yang berdarah. Dilihat dari tempatnya, kelihatannya sebabnya adalah duri bunga.

"Aduh, mana aku tak bawa plester lagi."

Meski kecil, tetapi darah terus keluar dari jari telunjuknya. Tak hanya Aerith, Zack sendiri tidak membawa plester di kantung celananya, kepikiran pun tidak. Tetapi Zack memiliki cara lain untuk memberikan pertolongan pertama untuk luka ringan seperti itu.

"Kemarikan tanganmu," kata Zack sesampainya dia di depan Aerith.

"Eh?"

"Tanganmu yang terluka tadi."

"Kau bawa plester?"

Zack tersenyum, "tidak, tapi aku tahu cara mengobati luka tanpa menggunakan plester."

Kali ini giliran Aerith yang tidak mengerti, meski begitu, dia tetap mengangkat tangan kanannya dan mendekatkannya ke Zack. Zack menggenggam tangan Aerith dengan lembut dan setelah itu dia mendekatkan telunjuk yang berdarah itu ke wajahnya. Aerith masih belum bisa menebak apa yang akan dilakukan Zack.

"Tahan ya," kata Zack.

Dengan perlahan, Zack memasukkan telunjuk Aerith yang berdarah itu ke dalam mulutnya, dan dia menghisapnya. Zack memang bukan vampir dan dia tidak suka darah, tetapi dia pernah diobati oleh ibunya dengan cara ini ketika dia masih kecil, dan ternyata itu membuat lukanya lebih baik. Seumur-umur, baru kali ini Zack merasakan rasa darah, dan meskipun darah manusia memiliki rasa, Zack tidak bisa mendeskripsikannya.

"Z-Zack."

Zack seolah tidak memperdulikan perkataan Aerith dan terus menghisap jarinya. Setelah beberapa saat, barulah dia mengeluarkan jari telunjuk Aerith dari mulutnya. Tetapi kedua tangannya tidak melepas tangan kanan Aerith. Dia terus menggenggamnya sambil menatap wajah Aerith yang dia tidak tahu ekspresinya apa.

"Zack?"

Dia tidak menjawab, tetapi pandangannya tetap tidak teralih kemanapun. Perlahan, dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Aerith, membuatnya bisa merasakan hangat tubuhnya yang berbeda dengan hangat yang dihasilkan oleh cahaya matahari. Mata zamrud hijaunya yang begitu indah bertatapan langsung dengan mata emerald biru laut miliknya, kedua warna yang berbeda, namun cocok jika di gabung menjadi satu. Tangan Aerith terasa begitu kecil dalam genggamannya, namun halusnya sungguh bagaikan kain sutra (baru pertama kali Zack bisa menggenggam Aerith).

"Hei Aerith, kau tahu tidak?"

Aerith memasang wajah heran, "tahu apa?"

"Darahmu manis sekali," kata Zack sambil menunjukkan seringainya.

"Dasar ngaco, sudahlah," kata Aerith sambil menarik tangannya, "tapi ... terima kasih."

"Sama-sama," jawab Zack, "oh ya, kau mau bicara apa?"

"Oh benar juga," kata Aerith, "sebenarnya aku ingin tahu mengenai satu hal"

"Tanyakan saja, manis."

Aerith cemberut mendengar rayuannya, tetapi Zack bisa melihat semburat merah di kedua pipinya.

"Sebenarnya-"

"Hm?"

"Kenapa sih, kau selalu mengajakku pergi?"

Zack mengerutkan kening, "maksudmu?"

"Semenjak kita berdua bertemu pertama kali, kau selalu datang ke tokoku. Kau mengajakku mengobrol macam-macam, dan akhirnya selalu mengajakku jalan-jalan setiap hari. Mulai dari ke restoran mahal, bioskop, sampai taman hiburan. Membuatku bolos dari pekerjaanku."

Zack kembali tersenyum, "Memangnya kenapa kalau aku begitu? Kau tidak suka?"

"Bukannya tidak suka sih, hanya saja ..." Aerith menjeda ucapannya, "aku ingin tahu."

"Ternyata soal itu," kata Zack, "itu semua karena ... apa ya?"

"Hei! Aku serius!" kata Aerith sambil memukul pelan lengan Zack.

"Sepertinya aku lupa alasannya, apa ya?" kata Zack sambil membalikkan badannya, lalu dia berjalan menelusuri padang itu dengan langkah pelan.

"Zack! Jangan bercanda, aku serius!" kata Aerith sambil mengejar Zack.

Ketika tangan Aerith baru mau menyentuh pundak Zack, tiba-tiba saja Zack langsung membalikkan badannya.

"Kalau kau memang ingin tahu, baiklah," Zack mencondongkan tubuhnya, "itu karena aku. Cinta. Padamu. Kau tahu?"

-00000-

"Kau—kau bercanda kan?" tanya Aerith sambil membalikkan badannya.

Aerith sungguh tidak percaya, dan siapa juga yang akan percaya? Padahal dia yang tadinya ingin bicara dengan Zack di padang bunga ini, tetapi apa yang malah Zack lakukan? Menyatakan cinta! Gadis mana yang tidak akan bereaksi seperti Aerith? Tambahan lagi, yang melakukannya adalah seorang model terkenal, model, dan t-e-r-k-e-n-a-l.

"Aku serius," kata Zack.

Aerith menggelengkan kepalanya, "Zack, sungguh ... jangan bercanda di saat begini!"

Zack menggenggam kedua bahu Aerith, "aku tak mungkin bercanda soal perasaanku sendiri, Aerith! Aku serius!"

"Tapi—tapi, bagaimana kau bisa mencintaiku?" tanya Aerith lagi, "masih banyak perempuan yang lebih—jauh lebih baik dariku! Dan lagi, kita baru empat bulan bertemu kan?"

Wajah Zack tampak agak terluka ketika mendengarnya, "jadi menurutmu aku harus mengenalmu bertahun-tahun supaya aku bisa mencintaimu? Begitu?"

Aerith tidak mengetahui jawabannya, antara ya—atau—tidak, atau mungkin bukan keduanya. Dia tidak pernah 'ditembak' sebelum ini, jadinya wajar jika dia tidak berani menjawab. Zack kembali melanjutkan ucapannya.

"Aerith, mungkin kau menganggap bahwa aku gila, aneh, dan freak. Mungkin kau tidak mempercayai setiap ucapanku, tetapi kau harus percaya akan satu hal," kata Zack, "kau harus percaya, kalau aku memang mencintaimu, semenjak pandangan pertama, serta sepenuh hatiku."

Melihat kesungguhan di mata birunya serta ucapan yang terlontar dari mulutnya, kini Aerith yakin bahwa pria yang ada di depannya ini tidaklah sedang bercanda ataupun bergurau semata, dia benar-benar serius. Aerith tak bisa lagi menahan air matanya. Apakah seperti ini rasanya dinyatakan cinta oleh seorang pria? Apakah seperti ini rasanya ... bahagia?

"Maukah ... kau menjadi kekasihku?"

Zack melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Aerith, membuatnya menangis di dada pria berbadan tinggi itu.

"Aku—aku ..."

"Kalau kau mau menjadi kekasihku, aku janji kalau aku akan-"

Belum selesai Zack merangkai kata-katanya, tiba-tiba saja Aerith melepaskan dirinya dari pelukan Zack. Terlihat, air mata mengalir begitu deras di wajahnya yang mulai memerah itu.

"Z-Zack ... harus kuakui, kalau aku sangat senang mendengarnya."

"Jadi, kau menerimaku?"

Aerith menghapus air matanya, dan setelah itu dia menghela nafas, "maaf Zack, tapi, aku ... aku tak bisa menerima cintamu padaku."


Bagaimana? Mohon sampaikan kesan lewat review ya, thanks . Btw, thanks to Ilana Tan dan Stephenie Meyer, gaya penulisan kalian sangat membantu saya dalam belajar.