"Aku berjanji akan melindungi, selalu berada di sampingmu."

"Benarkah itu?"

"Tentu saja..." Ucapannya terhenti.

Hening untuk beberapa saat. Sang lawan bicara juga menunggu apa yang akan dikatakan olehnya.

"Tapi… Jika saatnya tiba, dimana kita akan bertemu dengannya… Aku tak bisa memegang janjiku itu."

"Ah, yang kau maksudkan dia? Hmm… Aku malah berharap ingatanku menghilang saat itu tiba."

"Hei, kenapa kau mengatakan itu, Yang Mulia?"

Sebuah senyuman terpantri di wajah cantiknya. Sebuah senyuman yang sangat menenangkan.

"Karena mungkin aku tak rela kau melindungi orang lain. Hehe… Maafkan aku, Seokmin…"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Rumah? Jadi kau dulu tingal disana, Jeonghan hyung?" Tanya Seungkwan.

Mereka kini tengah duduk di sofa ruang tengah sambil menikmati secangkir teh hangat yang dibalut aroma cinnamon. Duduk santai sambil berbincang- bincang.

Jeonghan mengangguk pelan.

"Aku lahir disana. Dahulu itu adalah sebuah tempat suci, tempat ibuku tinggal." Kata Jeonghan.

"Jadi kau tumbuh dan besar disana, Jeonghan hyung?" Kali ini Seokmin yang bertanya.

Jeonghan mengangguk kembali.

"Mungkin hingga 13 tahun aku hidup di bawah bimbingan God. Setelah itu Seungcheol mulai menemaniku di luar bangunan dan aku mulai mengerti akan segala hal."

Seluruh pasang mata menatap Jeonghan.

"Jadi ibumu…." Ucapan Wonwoo membuat yang lainnya penasaran.

Jeonghan sekali lagi mengangguk.

"Tentu saja ia sudah meninggal. Sayangnya kita tumbuh hingga 20 tahun dan hidup dengan umur yang panjang." Kata Jeonghan.

"Oh iya, aku ingin tahu sesuatu. Sebenarnya apa hubungan kalian Jisoo hyung, Seokmin?"

Pertanyaan tiba-tiba dari Mingyu membuat Jisoo tersedak kue kering juga Seokmin yang menyemburkan teh yang ada di mulutnya.

"Hei!" Ucap Wonwoo memekik kaget disertai tawa dari Seungkwan. Pasalnya Wonwoo duduk di antara Seokmin dan Jisoo.

Para maid langsung datang membersihkan sedikit kekacauan yang ada. Setelah suasana sedikit lebih tenang, Mingyu kembali buka suara.

"Jadi?"

Seokmin menatap Jisoo yang agak menunduk. Hyungnya itu memang cantik sekali.

"Sudah siap menceritakan masa lalu, hyung?" Tanya Seokmin.

Jisoo terdiam sejenak. Namun detik berikutnya ia mengangguk.

Seokmin akhirnya menghela nafas.

"Sebelum peristiwa masuknya kristalku ke dalam tubuh Jisoo hyung, kami adalah anggota kekaisaran Quartzea saat itu. Jisoo hyung adalah seorang putra mahkota, sedangkan aku adalah panglima jendral perang. Umur kami berbeda 200 tahun dan karena Jisoo hyung yang tidak menua, akhirnya ia dan para rakyat Quartzea tahu bahwa Jisoo adalah Preator. Walau begitu hyung tetap tidak mau naik tahta. Ia terus menyerahkan ke keturunan Raja dan tetap menjadi Putra Mahkota." Jelas Seokmin.

"Bagaimana kalian bisa saling kenal?" Tanya Seungkwan antusias. Hei, ia juga penasaran.

Wajah Jisoo memerah saat itu juga.

"A..aku tak mau mengingatnya…" Kata Jisoo. Lihatlah wajahnya yang luar biasa merah.

Ucapannya malah membuat yang lain semakin penasaran. Yang lainnya kini menatap Seokmin meminta penjelasan. Tawa super canggung keluar dari mulut Seokmin.

"Musim gugur. Aku saat itu 19 tahun sedangkan Jisoo hyung sudahlah, tak penting dengan umurnya. Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan Jisoo hyung, karena walaupun aku sudah dilatih begini- begitu untuk menjadi prajurit, tetap saja putra mahkota hanya tampak sekilas-sekilas dimanapun ia berada. Lalu di pemandian air panas-"

Plak…

Jisoo memukul lengan Seokmin.

Wonwoo? Sudah sedari tadi pindah posisi.

"Apa yang hyung lakukan?" Tanya Seokmin kesal.

Jisoo memanyunkan bibirnya.

"Biar aku yang menceritakannya."

Seokmin hanya menghela nafasnya lalu mengangguk. Jika hanya itu kenapa harus memukul? Seokmin itu rela memberi apa saja ke Jisoo. Apalah arti memberikan kesempatan berbicara, jika memberikan nyawa saja Seokmin bisa.

"Sebenarnya saat itu aku kabur. Aku juga ingin merasakan pemandian air panas di luar kerajaan, jadinya ya begitu… Ternyata yang aku masuki adalah pemandian campuran. Aku yang tak biasa menunjukan tubuhku menggunakan kain untuk melilit bagian atasku. Saat itulah ada sekitar 6 pria yang mengurungku di area ganti-"

"What? Jadi Jisoo hyung… Kau sudah?"

Pertanyaan super ambigu itu membuat Jisoo memerah.

"Bukan begitu! Kalian tahu Quartzea terkenal dengan masyarakatnya berambut panjang. Karena mereka melihatku dalam keadaan begitu, mereka menganggap aku ini wanita. Mereka menggodaku ini itu bahkan sampai menarik kain putih itu sampai lepas. Dan saat tahu bahwa aku pria, mereka terkaget tapi malah tetap menggodaku! Saat itulah Seokmin datang dengan menggeser pintu dengan keras. Sambil berkata 'Mau kulaporkan kepada kepolisian?' Memang Seokmin menggunakan pakaian prajurit lengkap dengan sebilah pedang, maka dari itu orang-orang yang mengangguku langsung pergi."

"Tunggu. Aku memikirkan sebuah alur. Jangan bilang Seokmin malah menganggapmu sebagai perempuan?" Tanya Jihoon.

Jisoo langsung merengut kesal sedangkan Seokmin terkikik kecil.

"Itu karena aku membelakangi pintu masuk. Seokmin dari belakang menaikan kainku lalu melilitkannya di tubuhku. 'Kau baik- baik saja nona?' Masa ia bertanya begitu. Aku benar- benar merasa harga diriku jatuh ke jurang-"

"Kalian tahu apa bagian berkesannya? Jisoo hyung yang kesal malah membuka kainnya dengan percaya diri sambil berteriak 'AKU INI LAKI- LAKI!' Hahaha… Aku sebenarnya tahu ia putra mahkota. Aku hanya menggodanya saat itu dan reaksinya benar-benar hebat."

Beragam tawa keluar dari bibir orang-orang disana. Bahkan para maid dan butler yang berada di dekat sana sambil mendengarkan ucapan Seokmin dibuat terkikik kecil.

"Kalian jahat…" Kata Jisoo.

"Sudah- sudah. Hyung, jangan cemberut lagi." Kata Wonwoo sambil mengusap pelan punggung Jisoo.

"Bagaimana jika kita semua istirahat? Kalian terlihat kelelahan." Kata Jihoon memecah suasana.

"Haah… Ide bagus. Aku sangat lelah. Selamat tidur, semuanya." Kata Seokmin yang kini bangkit dari tempat duduknya.

"Kau tak ikut hyung?" Kata Seokmin sambil menoleh ke Jisoo.

Jisoo memainkan bibirnya lalu berdiri.

"Aku bisa tidur sendiri!" Ucapnya lantas berlari.

Menyisakan tawa kecil di orang- orang yang melihatnya.

.

.

.

.

.

.

.

"Jangan merasa tersisihkan Jisoo hyung." Kata Seokmin sambil memeluk Jisoo dari belakang, menyesap wangi tubuh Jisoo dari tengkuknya.

Ketika Seokmin masuk ke kamarnya, ia melihat Jisoo yang berdiri di belakang jendela yang menghadap ke taman belakang. Seokmin tak bisa menahan diri untuk memeluk sosok itu.

Punggung kecil itu terlihat sangat kesepian. Seokmin merasa amat sangat bersalah pada Jisoo.

Jisoo menghela nafasnya. Ia memang selalu merasa tersaingi karena Seokmin amat sangat mementingkan Jeonghan. Dahulu Seokmin selalu menjaganya, melindunginya, dan selalu berada di sampingnya. Melihat posisinya digantikan, membuat Jisoo termakan kegelapan.

"Aku sudah berdamai dengan diriku sendiri, Seokmin-ah." Jawab Jisoo sambil tersenyum kecil.

Seokmin semakin mengeratkan pelukannya.

"Maafkan aku… Aku melindungi Jeonghan hyung karena itu memang kewajibanku. Aku adalah Guardiannya dan memang seharusnya jiwa loyalku aku berikan ke dia. Tapi hyung… Hatiku hanya padamu…"

Setetes air mata Jisoo mengalir. Ia belum pernah mendengar Seokmin mengatakan hal ini. Hal yang membuat Jisoo tersenyum lembut.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Terimakasih… Seokmin…"