Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Yoongi POV
Jimin POV
Rate M!
Romance, Drama, Fluff
Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 21
YOONGI POV
Aku belum lama tertidur saat telepon berdering. Saat ini masih tengah malam dan hanya beberapa orang yang memiliki nomorku. Perutku melilit saat aku meraih ponselku. Itu dari Jimin.
"Halo," kataku hampir takut pada apa yang akan ia katakan padaku.
"Hei, ini aku."
Suaranya seperti ia baru saja menangis. Ya Tuhan… tolong jangan biarkan Taehyung meninggal.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanyaku, berharap kali ini Tuhan benar-benar mendengar doaku.
"Dia akhirnya bangun. Dia sedikit bingung tapi dia mengenaliku saat dia membuka mata jadi memorinya baik-baik saja."
"Oh terima kasih Tuhan."
Aku duduk di ranjang dan memutuskan bahwa aku perlu berdoa lebih sering.
"Maafkan aku, Yoongi. Aku benar-benar minta maaf."
Suaranya serak. Aku dapat merasakan rasa sakit dalam kata-katanya dan aku tak perlu menanyakan apa maksudnya. Ini saatnya. Ia hanya tak dapat mengatakannya.
"Tak apa-apa. Rawat saja Taehyung. Aku benar-benar bahagia dia baik-baik saja Jimin. Kau mungkin tak percaya itu tapi aku mendoakannya. Aku ingin dia baik-baik saja."
Aku perlu dia mempercayaiku. Bahkan jika tak ada cinta antara Taehyung dan aku, Taehyung penting untuknya.
"Terima kasih," katanya.
"Aku akan pulang. Aku akan berada di rumah tak lebih dari besok malam."
Aku tak yakin apakah ini artinya ia ingin aku sudah pergi pada saat ia datang atau apakah ia ingin berpamitan secara langsung. Lari akan jauh lebih mudah. Tak harus berhadapan dengannya. Ini sudah cukup menyakitkan lewat telepon.
Melihat wajahnya akan sangat sulit tapi aku tak dapat membiarkannya menghancurkanku. Aku memiliki bayi kami untuk dipikirkan. Ini bukan hanya tentangku lagi.
"Aku akan menunggumu kalau begitu," jawabku.
"Aku mencintaimu."
Mendengar kalimat itu lebih menyakitkan dari apapun. Aku ingin mempercayainya tapi itu tak cukup. Rasa cinta yang mungkin ia rasakan padaku tidaklah cukup.
"Aku juga mencintaimu," aku menjawab dan menutup telepon sebelum aku bergelung dan menangis sampai tertidur.
.
.
.
Bel pintu berdering saat aku baru saja keluar dari kamar mandi. Aku meraih pakaian yang telah kusiapkan dan segera berpakaian lalu segera ke lantai bawah.
Saat aku membuka pintu dan melihat ayahku berdiri di sana, aku tak yakin harus berpikiran apa. Apakah Jimin mengirimnya untuk mengusirku?
Tidak. Jimin tak mungkin melakukannya.
Tapi… kenapa ia di sini?
"Hei, Yoongi. Aku, uh, datang untuk berbicara padamu."
Ia terlihat seperti sudah tak tidur selama beberapa hari dan pakaiannya kusut. Melihat putra yang benar-benar ia cintai di rumah sakit pasti sangat berat untuknya. Aku membuang jauh-jauh perasaan pahit itu.
Aku tak akan berpikiran tentang itu. Ia adalah ayah Taehyung juga. Setidaknya ia ada untuknya sekarang bahkan jika ia mengacaukan hidup Taehyung di awal kehidupannya.
"Tentang apa?" tanyaku, tanpa bergerak untuk mengijinkannya masuk.
Aku tak yakin ingin mendengar apapun yang akan ia katakan.
"Ini tentang Taehyung… dan kau."
Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku tak peduli. Aku sedang tidak ingin mendengar apapun yang akan kau katakan. Putramu sudah bangun. Aku senang ia tidak meninggal."
Aku mulai menutup pintu.
"Taehyung bukanlah putraku," katanya.
Hanya kata-kata itu yang menghentikanku dari membanting pintu di depan wajahnya. Aku membiarkan kata-katanya terserap di kepalaku saat aku membuka pintu kembali secara perlahan.
Apa maksudnya Taehyung bukanlah putranya?
Aku hanya menatapnya. Semua ini tak masuk akal.
"Aku ingin mengatakan padamu yang sebenarnya. Jimin akan mengatakannya pada Taehyung saat Taehyung sudah siap. Tapi aku ingin menjadi orang yang mengatakannya padamu."
Apa yang Jimin ketahui? Apakah ia telah membohongiku? Aku tak yakin aku bisa bernapas.
"Jimin?" tanyaku, sambil berjalan mundur jika seandainya aku tak dapat menarik napas dan pingsan.
Aku butuh untuk duduk.
"Aku mengatakan segalanya pada Jimin kemarin. Dia juga telah dijejali kebohongan yang sama dengan yang kau tahu, tapi ia tahu yang sebenarnya sekarang."
Kebenaran. Apakah kebenaran itu?
Apakah ada kebenaran itu atau semua keberadaanku adalah kebohongan? Aku terduduk di anak tangga dan menatap ke arah lelaki yang kupikir adalah ayahku saat ia melangkah ke dalam dan menutup pintu dibelakangnya.
"Aku selalu tahu Taehyung bukanlah putraku. Lebih penting lagi, ibumu tahu Taehyung bukanlah putraku. Kau benar, ibumu tak akan pernah mengijinkanku meninggalkan tunanganku yang hamil untuk bisa bersamanya. Tidak untuk apapun. Ia hampir tidak membiarkanku meninggalkan mantan kekasihku yang hamil dengan anggota Busker-busker yang lain karena ia khawatir pada apa yang akan terjadi pada Jimin. Hatinya memang sebesar yang kau tahu. Tak ada satupun yang kau tahu adalah kebohongan, Yoongi. Tak ada satupun. Dunia yang kau tahu bukanlah sebuah kebohongan."
"Aku tak mengerti. Aku tahu Eomma-ku tidak berhubungan dengan semua ini. Aku tak pernah mempertanyakan hal itu. Tapi aku tak mengerti. Jika kau bukanlah ayah Taehyung, mengapa kau meninggalkan kami untuk mereka?"
"Aku bertemu ibumu saat mencoba membantu mantan kekasihku menghadapi masalah yang baru saja menimpanya. Hyori keguguran bayinya pada saat itu, itu juga bukanlah anakku, itu adalah milik kekasihnya saat itu. Ibumu datang untuk membantu temannya juga. Kami berdua peduli pada Hyori. Dia membutuhkan kami dan kami mencoba untuk membantu. Aku jatuh cinta pada ibumu. Dia adalah segalanya yang tidak ada pada Hyori. Aku memujanya, dan untuk apapun alasannya, ia jatuh cinta padaku. Singkatnya kami menikah, memiliki kau dan Suga. Sampai suatu hari Hyori mencari kami, meminta kemurahan hati seorang sahabatnya yaitu ibumu untuk memberikan ayah bagi anaknya. Ibumu melepasku dan aku yang bodoh tidak dapat menolaknya. Tapi saat Hyori sering keluar untuk berpesta dan bersikap seakan ia tak punya anak lelaki kecil untuk di rawat di rumah dan kehamilan yang tidak ia pedulikan menggangguku. Saat kami pergi, Bradley datang untuk mengambil Jimin dan, Hyungtae, gitaris Busker-busker dan ayah kandung Taehyung, hadir untuk menawarkan bantuannya. Hyori mengetahui tentang ibumu dan aku yang bertemu lagi ketika ibumu mengunjungi rumah Hyori dan aku pada waktu itu. Hyori mengusir kami dan aku dengan senang hati pergi dari rumah itu dan kembali ke rumahku, rumah kita bersama ibumu dan kau dan juga Suga. Ibumu mengkhawatirkan Jimin dan menghubungi Bradley untuk menengoknya sesekali."
"Eomma mengenal Jimin?"
Membayangkan ibuku merawat Jimin saat ia masih kecil dan terjebak dengan dua orang tua yang kacau membuat air mataku berkembang. Jimin mengetahui bagaimana menakjubkannya ibuku dulu bahkan jika ia tidak ingat.
"Ya. Jimin memanggilnya Euge-Euge. Ia lebih memilih ibumu daripada Hyori dan itu tidak membuat Hyori senang juga. Setelah Hyori berhasil mendapatkan Jimin kembali, ia menolak mengijinkan ibumu menengok Jimin. Ibumu menangis berminggu-minggu, mengkhawatirkan anak lelaki yang mulai ia cintai. Tapi itulah ibumu. Selalu terlalu menyayangi segala sesuatunya. Ia memiliki hati yang lebih besar dari siapapun yang pernah aku kenal… sampai kau lahir... Kau sama sepertinya, Sayang."
Aku mengangkat tanganku untuk menghentikannya. Kami tak akan terikat hanya karena ini. Aku bukan menangis karena aku tahu ibuku tak bersalah atas kebohongan yang aku dengar sebelumnya. Aku menangis karena ia juga pernah mencintai Jimin, masa kecil Jimin tidaklah kesepian.
"Aku hampir selesai. Biarkan aku selesaikan, lalu aku akan pergi dan kau tak akan pernah melihatku lagi. Aku berjanji."
Ia tahu aku akan pergi juga. Bahwa semua antara Jimin dan aku telah usai. Rasa sakit yang menusuk di dadaku nyaris tak tertahankan.
"Kematian Suga adalah kesalahanku. Aku menerobos lampu merah. Aku tak memperhatikan dan aku kehilangan satu di antara putra-putraku hari itu. Tapi aku juga kehilanganmu dan ibumu juga. Kalian berdua amat sangat terluka dan itu semua salahku. Aku tak cukup kuat untuk melihat kalian berdua mengalami rasa sakit itu. Jadi aku lari. Aku membiarkanmu merawat Eugene saat seharusnya itu aku yang merawatnya tapi aku terlalu lemah. Aku tak bisa bertahan memikirkan melihat Eugene-ku sakit. Itu akan menghancurkanku. Aku mulai minum sampai mabuk. Itu adalah satu-satunya cara agar aku tetap mati rasa. Lalu kau menelepon dan mengatakan ia telah meninggal. Eugene-ku tak lagi ada di dunia ini. Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Taehyung tentang ayah kandungnya dan aku akan pergi. Aku tak yakin akan pergi kemana tapi aku tak peduli jika aku hidup atau mati. Lalu kau meneleponku dan membutuhkanku. Aku bahkan bukan seorang laki-laki lagi. Aku tidak berguna. Tapi aku tak bisa membuatmu kecewa. Aku telah membuatmu sangat menderita seorang diri. Aku mengirimmu ke Jimin. Dia bukanlah tipe seorang laki-laki yang sebenarnya seorang ayah ingin putranya bergaul dengannya, tapi aku tahu dia akan melihat sesuatu padamu seperti aku melihat sesuatu pada Eugene. Sebuah garis hidup. Sebuah alasan untuk hidup. Sebuah alasan untuk melawan. Sebuah alasan untuk berubah. Dia kuat. Dia dapat melindungimu dan aku tahu apabila terdesak ia akan melakukannya."
Semua ini terlalu berat. Aku tak dapat menalarkan semuanya. Ayah telah mengirimku ke Jimin? Seorang lelaki yang mencintai adiknya yang membenciku dan menyalahkanku untuk semua yang salah di hidupnya?
"Dia dulu membenciku," aku memberitahunya,
"Dia dulu membenci siapa aku, Appa!"
Ayahku tersenyum sedih.
"Ya, dia membencimu berdasarkan apa yang ada di pikirannya, tapi lalu dia bertemu denganmu. Dia ada di sekitarmu dan hanya itulah yang dibutuhkan. Orang sepertimu sangatlah jarang, Yoongi. Sama seperti ibumu dulu. Tak banyak manusia di dunia ini yang sekuat dirimu. Penuh dengan rasa cinta dan kesediaan untuk memaafkan. Kau selalu iri dengan cara Suga mempesona dimanapun. Kau berpikir ia mendapatkan yang terbaik dari kalian berdua. Tapi apa yang Suga ketahui dan aku ketahui adalah bahwa kami yang beruntung karena kami memiliki orang-orang sepertimu dan ibumu di hidup kami. Suga memujamu. Dia melihat bahwa kaulah yang mempunyai semangat ibumu. Kami selalu memandang kagum pada kalian berdua. Sampai sekarang pun aku masih mengagumimu, dan walau apapun yang telah aku lakukan adalah melukaimu sejak hari kita kehilangan saudara kembarmu, percayalah bahwa aku adalah ayah yang mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Kau adalah putra kecilku. Kau pantas mendapatkan yang terbaik di dunia ini dan aku bukanlah yang terbaik. Aku akan menjauh dan tak akan pernah mengganggumu lagi. Aku perlu untuk hidup berkelana di sisa hidupku seorang diri. Mengingat semua yang telah kulakukan."
Rasa duka di matanya mengiris jiwaku. Ia benar. Ia meninggalkanku dan ibu saat kami benar-benar membutuhkannya. Tapi mungkin kami menelantarkannya juga. Kami tak mengejarnya. Kami hanya membiarkannya pergi.
Hari dimana kami kehilangan Suga telah menandai hidup kami. Ibu dan Suga telah pergi sekarang dan kami tak akan bisa mendapatkan mereka kembali. Tapi kami disini. Aku tak ingin hidup dengan mengetahui ayahku di luar sana seorang diri.
Ibuku tak akan menginginkan itu. Ia tak pernah menginginkan ayah seorang diri. Ibu mencintainya sampai ia menarik napas terakhirnya. Suga juga pasti tak akan menginginkan itu. Ia selalu menjadi putranya ayah.
Aku berdiri dan mengambil langkah mendekatinya. Air mata yang tertahan di matanya pelan-pelan mengalir turun di wajahnya. Ia adalah lelaki yang berbeda tapi ia adalah ayahku. Sebuah isakan keluar dari dadaku dan aku melemparkan diriku ke pelukannya. Saat ia merangkulku dan memelukku erat aku membiarkan semua rasa sakit itu terbebas. Aku menangis untuk kehidupan yang kami sia-siakan.
Aku menangis untuknya karena ia tak cukup kuat dan aku menangis untukku karena memang sudah saatnya.
.
.
.
JIMIN POV
Keadaan rumah gelap dan senyap saat kubuka kunci pintu dan melangkah masuk. Mungkinkan Yoongi mematikan semua lampu jika dia berada di sini sendirian?
Aku telah sangat fokus untuk kembali pulang padanya setelah berbincang-bincang dengan Taehyung, membuat aku tidak membiarkan diriku mempertimbangkan kemungkinan dia meninggalkanku. Mungkinkah dia meninggalkanku?
Aku berbalik dan menaiki tangga dengan dua anak tangga sekaligus. Ketika aku sampai di puncak anak tangga aku mulai berlari. Jantungku berpacu dengan kencang di dadaku. Dia tidak mungkin telah pergi. Aku telah mengatakan bahwa aku mencintainya. Aku telah berkata padanya aku akan pulang.
Dia harus berada di sini. Aku harus mengatakan segalanya pada Yoongi. Aku harus mengatakan semua hal akan berubah. Aku harus mengatakan padanya bahwa aku ingat tentang ibunya. Aku ingat pancake buatan ibunya itu.
Aku harus mengatakan padanya aku akan menjadi pria yang dia butuhkan. Aku harus mengatakan padanya aku akan menjadi ayah terbaik yang pernah ada di dunia.
Kusentakkan pintu yang mengarah ke kamarku hingga terbuka dan melesat menaiki anak tangga karena butuh melihatnya. Ya Tuhan, ijinkan dia berada di sana. Kumohon ijinkan dia berada di sana.
Tempat tidurnya kosong.
Tidak. TIDAK!
Kutelusuri kamar untuk mencari barang-barang miliknya. Perasaanku berkata dia belum meninggalkanku. Dia tidak boleh meninggalkanku. Aku akan mengejarnya. Aku akan berlutut dan memohon. Aku akan menjadi bayangannya hingga dia menyerah dan memaafkanku.
"Jimin?"
Suaranya memecah keheningan dan dentuman di dalam kepalaku dan berbalik dengan cepat ketika aku melihatnya duduk di atas sofa. Rambutnya berantakan dan wajah mengantuknya sempurna.
"Kau di sini."
Aku berlutut di hadapannya dan menjatuhkan kepalaku di atas pangkuannya. Dia berada di sini. Dia tidak meninggalkanku.
Tangan Yoongi menyentuh kepalaku saat dia menjalankan tangannya membelai rambutku.
"Ya, aku di sini," jawabnya dengan suara tidak yakin.
Aku telah menakutinya namun aku butuh semenit untuk meyakinkan diriku sendiri dia tidak meninggalkanku. Aku tidak sepenuhnya mengacaukan semuanya. Aku tidak ingin seperti ayahnya. Aku tidak pernah ingin menjadi seperti pria tersesat dan hampa yang kulihat kemarin. Dan aku tahu tanpa kehadiran Yoongi aku akan menjadi seperti itu.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Aku mengangguk tapi kubiarkan kepalaku tetap berada di pangkuannya. Dia terus berusaha menenangkanku dengan membelai kepalaku secara lembut. Ketika aku telah merasa yakin bisa berbicara padanya tanpa terlihat sepenuhnya rapuh kuangkat kepalaku untuk melihatnya.
"Aku mencintaimu."
Caraku mengatakannya sangat garang itu terdengar hampir seperti aku sedang memaki. Seulas senyuman sedih tersungging di bibirnya.
"Aku tahu dan itu bukan masalah. Aku mengerti. Aku tidak akan membuatmu memilih. Aku hanya menginginkan agar kau bahagia. Kau pantas untuk berbahagia. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku kuat. Aku bisa melakukan ini seorang diri."
Aku tidak paham dengan apa yang dikatakannya. Apa yang akan dilakukannya seorang diri?
"Apa?"
Aku bertanya, mengulang semua kata-katanya di dalam kepalaku.
"Aku berbicara dengan ayahku hari ini. Aku tahu semuanya. Memang sulit untuk dipahami namun sekarang semuanya makin masuk akal."
Jiwon telah datang kemari? Dia telah datang dan mengatakan segalanya pada Yoongi.
Dia tahu… namun apa yang dikatakannya tidak masuk akal.
"Baby, mungkin karena aku kurang tidur selama delapan hari belakangan ini atau mungkin karena sangat lega bahwa kau ada di sini namun aku tidak mengerti apa yang berusaha kau katakan padaku."
Setetes airmata menggenangi matanya dan aku terlonjak dan menariknya ke atas pangkuanku. Aku tidak ingin membuatnya menangis. Kukira ini adalah hal yang membahagiakan. Dia telah mengetahui kebenaran yang selalu dia tahu, bahwa ibunya suci dan jujur seperti yang diyakininya.
Aku telah berada di rumah dan aku telah siap untuk menjadi segala yang pantas didapatkannya di dalam hidup. Aku rela mati untuk membuatnya bahagia.
"Aku mencintaimu dan karena aku mencintaimu, aku melepaskanmu. Aku menginginkan kau mendapatkan kehidupan yang kau inginkan. Aku tidak ingin menjadi belenggu yang merantai di sekeliling kakimu."
"Apa yang baru saja kau katakan?" aku bertanya saat kata 'melepaskanmu' meresap.
Apa-apaan dia ingin melepaskanku.
"Kau telah mendengarku, Jimin. Jangan membuat ini lebih sulit," bisiknya.
Kupandangi dia dengan sorot ketidakpercayaan. Dia benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya. Aku telah meninggalkannya di sini untuk memikirkan semua ini sementara aku duduk di rumah sakit menunggui Taehyung. Aku seharusnya meneleponnya tapi tidak kulakukan. Tentu saja dia kebingungan.
"Dengarkan aku, Yoongi. Jika kau sampai berusaha pergi kemanapun aku akan memburumu. Aku akan menjadi bayanganmu. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku karena aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku telah banyak sekali melakukan kesalahan padamu aku bahkan tidak ingin berusaha dan menghitungnya namun aku akan mulai membuat segalanya benar sejak saat ini. Aku bersumpah padamu ini tidak akan pernah terjadi lagi. Sekarang aku tahu bahwa di sinilah seharusnya aku berada. Tak ada lagi kebohongan. Hanya kita."
Dia terisak dan menguburkan kepalanya di bahuku. Aku mendekapnya semakin erat.
"Aku bersungguh-sungguh. Aku membutuhkanmu. Kau tidak boleh meninggalkanku, Sayang."
"Namun… aku tidak pantas. Keluargamu membenciku. Aku membuat hidupmu sulit."
Disitulah dia salah.
"Tidak. Kaulah keluargaku. Ibuku tidak pernah menjadi keluargaku. Dia tidak pernah berusaha menjadi bagian dari itu. Adikku mungkin tidak sepenuhnya menyetujui namun dia telah mengatakan padaku bahwa dia bisa menjadi bagian dari kehidupan keponakan perempuan atau keponakan laki-lakinya. Jadi dia sedang berusaha menuju ke sana. Dan mengenai membuat hidupku sulit, kau, Min Yoongi, membuat hidupku lengkap..."
Mulut Yoongi menutupi mulutku saat dia mencengkeram kausku sekepalan tangannya. Lidahnya meluncur memasuki mulutku dan aku mengecap rasanya. Aku sangat merindukannya. Bagaimana aku bisa sempat berpikir aku bisa bertahan hidup tanpa ini… tanpanya, aku tak tahu.
-TBC-
Update time: Saturday, 2 hari setelah bday uri Jungkook (Happy birthday Jungkook ah! ^^)
[Hi readernim pembaca setia minimini series, bagaimana? Chapter ini apa bikin airmata kalian kembali mengalir? T_T]
[Tapi… airmata bahagia kan hehe… Bertemunya kembali bapak n anak yg penuh haru, Jimin yg (akhirnya) nyamperin Yoongi, Yoongi yg ternyata gk pergi… plus Taehyung yg (walaupun nyebelin) akhirnya jg siuman :')]
[Next chapter dr preview uda kecium kan adegan yg kalian tunggu2 *hayo ngaku* :p]
.
Preview: Chapter 22
-Yoongi POV-
"Aku butuh berada di dalam dirimu," dia berbisik di telingaku saat dia menciumku di sepanjang rahangku dan tangannya meluncur ke bawah kaosku.
.
-Jimin POV-
"Apakah masalah jika orang ini ada di sini?"
Orang ini? Apa maksudnya?
Yoongi tersenyum dan kembali melihatku.
"Ya, orang ini adalah ayah bayi ini."
