Bucket Balloons List

.

.


VH


.

Tiga hari berlalu sejak Taehyung dan ibunya akhirnya bertemu—tunggu, tiga hari juga ia bertemu ayahya, berarti, sudah tiga hari pula Taehyung merasakan hari-hari terbaiknya. Taehyung senang karena ia tak perlu lagi pura-pura koma, dan ibunya selalu menemaninya dan memberikan seluruh perhatiannya pada Taehyung hingga Taehyung rasanya ingin menangis. Karena rasanya Taehyung baru saja memakai jatah kasih sayang ibunya yang tak pernah ia gunakan selama hampir sepuluh tahun lamanya. Tapi Taehyung menikmati itu.

Ayahnya juga berada di Seoul, mengatakan bahwa kedatangannya ke Seoul karena ada urusan pekerjaan—yang faktanya bukan karena alasan itu, dan ia menginap di sebuah hotel. Namun secara teratur, pria itu selalu menjenguk Taehyung tepat saat tidak ada ibunya di sana. Suasana diantara mereka memang sangat canggung, tapi lagi-lagi Taehyung menikmatinya. Sedikit banyaknya, ia juga rindu dengan keluarga dari Daegunya ini.

Jika biasa ia bisa bertemu dengan orangtua dengan teman-temannya di ruang rawat, Taehyung tak sabar bagaimana hidupnya akan kembali normal lagi setelah ini. Ya, ia dipulangkan dari rumah sakit pagi ini. Bersama Jungkook juga. Dan jika Jungkook sedang membereskan barang-barangnya bersama Park Ahjussi—Park Chanyeol—kekasih ibunya, maka ia tengah membereskan barang-barangnya bersama ibunya.

"Taehyung-ah, jangan lupa dengan barang-barang di nakas." ucap ibunya mengingatkan, kini wanita itu tengah sibuk memasukkan baju-baju anaknya ke dalam tas.

Taehyung mengangguk, memeriksa setiap laci di nakas samping ranjangnya. Sudah beres, tak ada yang tertinggal, pikir Taehyung. Ia kemudian duduk di atas ranjangnya. Bosan menunggu ibunya, ia pun merogoh saku celana jinsnya, ingin menelpon Hoseok yang berada di sekolah. Namun selain ponsel, ia merasakan ada sebuah kertas di dalam sakunya dan langsung mengambilnya.

Taehyung melihat sejenak gumpalan kertas tersebut. Pasti karena sudah dicuci dan kering, pikir Taehyung seraya membuka kertas itu dengan hati-hati. Takut tersobek karena rapuh. Dan dugaan Taehyung memang benar.

Ah, kertas ini.

.

Bucket List

Tinggal bersama orang yang kusayangi

Bertemu dengan ibu

Menghilangkan rasa takutku pada balon!

Bermain seksofon lagi

Minum dua buah susu pisang di atap sekolah

Pergi ke tempat paling menyenangkan di Seoul

Bangun pagi tanpa alarm

Merokok

.

Taehyung tak tahu pasti kenapa kertas itu ada di sini. Ingat? Kertas ini pertama kali ia tulis saat datang ke Seoul, dan ia tak percaya ia sudah mencoret hampir setengahnya. Taehyung menyadari semuanya berjalan seperti mimpi. Ia sudah banyak berubah sejak tinggal di Seoul. Dan benar atau tidak, ini mungkin karena Bucket List yang ia tulis. Ibunya yang mengajarkannya menulis hal seperti ini.

Mata Taehyung pun melirik kearah pulpen yang entah sejak kapan berada di atas nakasnya. Ia tersenyum bangga, seraya mencoret point satu sampai tiga. Ia telah menyelesaikan semuanya! Dan Hoseok harus menjadi orang pertama yang mengetahui hal ini, ujar Taehyung dalam hati.

"Taehyung-ah, semua seudah siap, ayo kita pergi." Ucap ibunya, memecahkan lamunan singkat Taehyung.

Baekhyun yang melihat anaknya sedari tadi tersenyum sendiri pun ikut tersenyum "Apa kau senang sekali karena akhirnya pulang?" tanyanya.

Sang anak mengangguk "Ya, aku tak sabar untuk pulang dan bertemu Hoseok hyung!" ujarnya bersemangat.

"Jadi kau bersemangat pulang hanya karena Hoseok?" tanya ibunya, wajahnya dibuat kecewa dan Taehyung tertawa karenanya. Sebagian besar iya, karena sekarang ia sudah berada diantara keluarganya, Hoseok akan menjadi pelengkap kehidupannya yang sempurna.

Tak tertarik menjawab pertanyaan ibunya, Taehyung bangkit dan berdiri, ia membawa tas ranselnya dan membiarkan ibunya memimpin perjalanan.

"Oh ya bu, sepertinya kita harus membeli kasur baru. Karena kasur lamaku sudah tak cukup dan selama ini aku tidur di kamar ibu." Ucap Taehyung di tengah perjalanan mereka menuju parkiran. Mendengar perkataan Taehyung, Baekhyun langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Taehyung sejenak.

"Taehyung-ah, maafkan ibu. Ibu lupa mengatakan bahwa sekarang kita akan kembali ke rumah ibu, bersama Jungkook dan Chanyeol. Kita tidak kembali ke apartementmu." Ucap ibunya, ekspresinya terlihat sendu. Wanita itu menyalahkan dirinya sendiri karena lupa menjelaskan hal ini pada Taehyung sebelumnya.

"Maksud ibu, kita tak akan kembali ke apartement? tapi itulah tempat tinggal 'kita'" ada nada kecewa di nada bicara Taehyung.

"Apa maksudmu? Rumah ibu juga rumahmu Tae…" ucap Baekhyun. Ia mengelus pipi Taehyung "Kau juga masih dalam masa penyembuhan, biarkan ibu merawatmu dengan baik. Lagi pula rumah kita lebih sangat dekat dengan tempat ibu bekerja." Jelasnya, berharap Taehyung akan mengerti. Tidak, ia sangat berharap.

Taehyung menggaruk tengkuknya. Sedikit frustasi. Ia ingin menolak, tapi tak tega melihat wajah ibunya yang memelas. Namun berada satu rumah dengan orang asing seperti Park ahjussi juga membuatnya tak nyaman. Taehyung belum mengenal kekasih ibunya itu dengan baik.

Setelah terdiam beberapa saat, Taehyung pun mengalah. Ia pun mengangkat tas yang sedari tadi dibawa oleh ibunya dan melanjutkan perjalanannya tanpa memandang ibunya.

"Ibu harusnya mengatakan ini padaku jauh-jauh hari" gerutunya, namun Taehyung tetap tersenyum saat Baekhyun menyamakan langkahnya dan menggandeng lengannya dengan manja.

.

"Terimakasih karena sudah mau mengerti…"

.

.


VH


Chapter 21—Place to stay

.

.

"Taehyung-ah, berhentilah merengut. Besok kita akan bertemu di sekolah"

"Aku tidak merengut." Ucapnya, seraya menatap kaca. Ya, ia tak merengut, hanya wajahnya terlihat lebih tertekuk dari biasanya.

Dan wajahnya makin tertekuk saat mendengar Hoseok tertawa.

"Hyung jelas memiliki banyak stok tertawa."

"Kau sudah tahu itu sejak dulu."

Taehyung mengangguk "Lain kali jika membeli stok tertawa, belilah yang menyenangkan, jangan yang menyebalkan." Ketusnya.

"Aku tak mengerti maksudmu~"

"Hmm… ya, begitu…" gumam Taehyung tak jelas. Tapi seolah terbiasa, Hoseok bahkan tak merespon gumam Taehyung dengan serius.

Keduanya hanya terdiam beberapa saat, saling menikmati keheningan walau yang terdengar hanya deru napas tenang keduanya, atau sedikit ribut dari adik-adik Hoseok. Taehyung sendiri berada di kamar barunya, di rumah barunya. Dan syukurlah ia sekamar dengan Jungkook, jadi ia tak akan kesepian. Dan beberapa menit lalu Taehyung undur diri di meja makan lebih cepat. Karena tak kuat dengan suasana canggung yang ada.

"Ah ya, Tae, kau sudah makan malam? Minum obat?" suara Hoseok kemudian kembali terdengar, memecah lamunan Taehyung.

"Aku sudah makan, dan sehabis ini aku akan minum obat."

"Pastikan kau meminum semua obatnya."

"Yes sir!" jawab Taehyung "Lagi pula ibu yang mengaturnya. Ia yang memegang semua obatku."

"Bagus kalau begitu!"

"Tapi rasanya aneh."

"Apanya yang aneh?"

"Saat ibu memperhatikan setiap detailku, itu aneh, hyung. Bahkan saat makan malam tadi ia terus menatapku, seperti ia menghapalkan berapa kali aku mengunyah sampai menelan."

"Ahjumma hanya sedang mempelajarimu dengan benar, Tae. Kau akan terbiasa nantinya…"

"Kuharap begitu…"

"Pasti akan begitu. Kuharap kau bisa segera merasa nyaman tinggal di sana."

Taehyung kembali mengangguk, tak peduli walaupun Hoseok mungkin tak melihatnya. Sedari tadi ia mulai berpikir bagaimana akan tinggal di sini nanti. Tanpa melihat Hoseok hampir dua puluh empat jam, tanpa memakan masakan Jin, tanpa memanggil nama ibunya tanpa sahutan—sekarang Taehyung bahkan jarang memanggil nama ibunya jika bukan untuk sesuatu yang perlu.

Sekali lagi, ini bukan hanya soal tempat baru. Tapi karena ada orang asing yang belum Taehyung begitu kenal.

"Ayo pergi kencan di akhir pekan."

"Ha? Apa?"

"Jangan pura-pura tak dengar." Goda Hoseok.

"Kemana?"

"Rahasia. Yang jelas, aku akan membawamu ke tempat yang menyenangkan di Seoul. Aku pernah berjanji itu padamu, kan?"

"Ya. Aku menantikannya."

"Oke kalau begitu. Tidurlah, kau harus bersiap untuk sekolah besok."

"Baik hyung. Bye."

.

.

Taehyung memutuskan sambungan teleponnya, dan begitu ia menoleh, ternyata Jungkook sudah duduk bersila diatas kasur sambil menatap Taehyung.

"Apa yang kau lihat?" tanya Taehyung, sok garang. Kemudian dengan senyuman jahil, ia berlari dan melompat ke kasur. Menerjang Jungkook hingga keduanya berbaring di kasur dan kasur bermuatan dua orang itu berderit karena Taehyung.

"Senangnya mendapat telepon dari kekasih" ledek Jungkook.

"Yak! Tahu apa kau soal kekasih, dasar bocah!" Taehyung mencubit hidung Jungkook, kemudian Taehyung mulai memberikan remaja itu serangan gelitik di tubuhnya, membuat Jungkook menggelinjang geli dan keduanya tertawa dengan suara keras.

Setelah perang-saling-gelitik itu selesai dan keduanya sudah puas tertawa, dua remaja itu pun terdiam. Terkapar karena kelelahan, namun raut wajah ceria menghiasi wajah keduanya. Hubungan mereka memang sedekat ini, jika kalian ingin tahu. Mereka pertama kali bertemu di mini market sebagai pekerja, dan waktu satu minggu sudah cukup untuk membuat mereka sedekat ini.

Taehyung selalu menganggap Jungkook adalah adiknya—karena ia tak pernah memiliki adik laki-laki yang harus dilindungi, sedangkan Jungkook—sebenarnya lebih menganggap Taehyung sebagai sahabatnya—karena Taehyung itu kadang konyol dan asik. Tapi makin lama pun, keduanya makin mirip seperti saudara. Semua orang disekitar mereka mengakui itu.

"Kau ingat saat bilang ingin pesta piyama, Jungkook-ah? Sekarang sudah terwujud." Ucap Taehyung, memecah keheningan antara keduanya.

"Ya, aku tak menyangka akan terjadi secepat ini" ujar Jungkook, ia kemudian memiringkan kepalanya kearah Taehyung "… dan di situasi seperti ini…" lanjutnya dengan suara pelan.

"Situasi apa maksudmu?"

"Situasi ini… di kamar ini…" ujar Jungkook "Dulu kita merencanakan pesta piyama di apartement hyung. Bersama Jimin hyung, Hoseok hyung, dan semuanya. Tapi kita malah berakhir di rumah ini." Jelasnya kemudian.

"Kenapa? Kau tak menyukai rumah ini?" tanya Taehyung lagi.

Jungkook menggelengkan kepalanya "Bukannya tak suka, hanya aneh dan canggung berada di rumah keluarga lain" jawabnya. Mendengar jawaban Jungkook, Taehyung menghela napasnya "Jangankan kau, aku juga merasa seperti orang asing disini." Gumam remaja yang lebih tua. Ia memain-mainkan poninya dengan tangan.

"Jika kita berada di apartementku, kita bisa berteriak dan menggila sepuasnya."

"Nah, hyung mengeluh lagi." Jungkook menusuk-nusuk lengan Taehyung dengan jarinya "Ku kira hyung sudah puas mengeluh dengan Hoseok hyung tadi."

Taehyung kini yang menggelengkan kepalanya, namun ia tak mengatakan apa-apa. Hanya merasa kalau kini ia sudah menjadi anak yang manja. Ia terus mengeluh dibelakang ibunya karena tak tega.

.

"Jika hyung ingin kabur, jangan lupa bawa aku."

.

Celetuk Jungkook tiba-tiba. Pernyataan itu cukup untuk membuat Taehyung kaget, tapi ketika melihat ekspresi cengengesan remaja yang lebih muda, Taehyung malah menjadi gemas. Dengan kedua tangannya, Taehyung mencubit pipi Jungkook dengan gemas.

"Tentu saja aku akan membawamu, adik kecil maniskuuuh!"

.

.


VH


.

.

Esoknya,

Taehyung hampir melalui kehidupannya dengan normal. Ia sudah kembali bersekolah, kembali belajar, kembali bertemu dengan Jimin yang duduk di bangku sebelahnya, dan bertemu Hoseok di jam makan siang. Hari berjalan begitu cepat, dan normal. Seperti biasa. Hingga Taehyung sempat terpikir kapan hidupnya pernah terasa senormal dan selancar ini.

Dua jam setelah bel tanda pulang berbunyi, Taehyung baru memutuskan untuk mengemaskan buku-buku di mejanya. Ia tengah mengulang pelajaran sejak tadi, karena ia sudah tak masuk ke kelas cukup lama dan ia menyadari otaknya sudah semakin bodoh. Jimin dan Hoseok tak menemaninya kali ini, keduanya memiliki kerja part time dan Taehyung sama sekali tak ingin mencuri waktu keduanya walau mereka memaksa.

Hari telah menjelang sore, langit berwarna oranye indah dan Taehyung menikmati jalan santainya menyusuri koridor-koridor sekolah untuk pulang. Pikirannya kembali melayang pada tenangnya hari ini berlangsung. Remaja itu memejamkan matanya, ketika angin lembut musim semi menyapanya.

Andai setiap hari berlangsung seperti ini,

Ia akan terbiasa,

Walaupun harus pulang dengan jalur perjalanan yang berbeda.

.

.

"Taehyung-ah…"

Si pemilik nama sontak membuka matanya begitu ia mendengar namanya dipanggil. Ia mengedarkan pandangannya di sekitar gerbang sekolah, tempat ia berdiri. Dan seorang wanita mendekatinya. Taehyung tahu siapa wanita ini.

Walau kaget dan sempat terdiam, dengan gerakan kikuk Taehyung membungkukkan tubuhnya dalam.

"A.. Anyeong haseyoeo.. eomoni…"

.

.


VH


.

.

Apa yang baru ia bilang soal hari yang tenang?

Sepertinya selalu ada hal yang mengejutkan terjadi di tiap hari Taehyung…

.

Remaja kurus pemilik rambut hitam lurus itu mengetuk-ngetuk jemarinya di gelas yang sedang ia genggam. Ia mati gaya, bingung harus bertingkah seperti apa terhadap situasi canggung yang sedang ia hadapi ini. Suasana ini bahkan lebih canggung dari saat Taehyung bersama dengan ayahnya. Taehyung merutuk, ia harap ia bisa lebih kreatif agar bisa mulai bicara dan memecahkan keheningan diantara keduanya.

"Apa makanannya enak, Taehyung?" tanya wanita itu, yang dengan gaya elegan tengah memotong steaknya.

Taehyung hanya mengangguk kaku, walaupun ia sudah melupakan rasa makanan mewah yang ia rasakan sekitar sepuluh menit yang lalu dan ia belum menyuapkannya lagi ke mulut. Wanita itu kemudian tersenyum tipis, kembali melanjutkan makanan dengan gerakan anggun.

Jika kalian tak tahu siapa wanita ini, kenalkan, dia Yoo Youngjae, atau Kim Youngjae, harusnya. Ia adalah istri kedua seorang Kim Daehyun dan menjadikannya seorang ibu tiri bagi Kim Taehyung. Ia seorang pekerja kantoran, berumur dua puluh tujuh tahun, memiliki satu anak perempuan dan satu anak tiri laki-laki. Dia tipe wanita yang serius, elegan, dan memiliki harga diri yang tinggi.

Selaras dengan ayahnya, dan berbanding terbalik dengan ibu kandungnya.

Taehyung sampai sekarang tak tahu kenapa wanita muda sukses sepertinya mau menikah dengan ayahnya yang duda beranak satu yang gila, padahal ia bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik. Dan Taehyung lebih tak habis pikir lagi kenapa wanita itu kini berada di hadapannya. Taehyung kira Youngjae tak pernah menganggap ia begitu penting.

Bukan seperti Youngjae membenci Taehyung, tapi wanita itu lebih seperti tak menganggapnya ada karena Taehyung selalu merepotkannya selama mereka tinggal di Daegu.

"… Jadi, Taehyung…" tubuh Taehyung sontak menegang saat Youngjae kembali bicara. Ia menatap ibu tirinya itu dengan pandangan kaget dan gugup.

"Apa kau sempat terpikir mau kembali ke Daegu?" tanya Youngjae.

Taehyung mengangguk "Ya, aku sempat berpikir akan kembali saat liburan akhir semester nanti." Jawabnya jujur.

"Bukan itu maksudku. Bukan untuk berlibur, tapi kembali dan tinggal di Daegu." Ucap ibunya "Kembalilah, kau tak perlu takut dengan orang-orang yang mengganggumu itu. Ayahmu sudah memastikan mereka akan dibawa ke pusat rehabilitas di Busan selama satu tahun." Tambahnya.

Perkataan dari wanita itu cukup untuk membuat Taehyung menganga. Tunggu! Apa barusan ibu tirinya memintanya pulang? Lalu apa-apaan?! Kenapa ia bahkan tak tahu Sungjae dan teman-temannya akan dibawa ke Busan?! Apa yang telah ayahnya lakukan pada mereka?

Taehyung tak bisa menyembunyikan wajah syoknya. Bukan karena sesuatu yang buruk, tapi ini mencengangkan—dan mengharukan, sebenarnya.

"Jangan memasang wajah seperti itu" Youngjae terkekeh "Aku tahu, ayahmu memang keren. Dia memang bisa melakukan hal sejauh itu karena murka anaknya disakiti. Untuk kesekian kalinya"

Taehyung menundukkan kepalanya, satu tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya. Ia tak tahu kenapa tapi wajahnya memanas dan memerah.

"… Tapi… itu… mengejutkan…"

"Jangan terkejut. Itu memang pekerjaan orangtua. Melindungi anaknya."

Youngjae menopang wajahnya dengan kedua tangannya diatas meja. Ia menatap Taehyung tepat dimata, seraya memberikan tatapan yang hangat. Yang lagi-lagi membuat Taehyung mati gaya. Ia sudah cukup terlihat bodoh sekarang.

"Dan kupikir ini giliranku untuk melakukan pekerjaanku dengan benar" ujar Youngjae kemudian, kini kedua tangannya meraih tangan Taehyung di atas meja "Aku menyesal karena tak memperlakukanmu dengan baik selama ini. Aku meremehkanmu dan mengaggap kau sangat merepotkan. Kau boleh marah karena itu dan tak memaafkanku juga hakmu… tapi tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini. Kembalilah kerumah 'kita'…".

Keheningan panjang terjadi diantara keduanya setelah Youngjae mengungkapkan isi pikirannya, alasan kenapa jauh-jauh pergi ke Seoul diantara jadwal padatnya. Taehyung memang tak langsung menjawab, ia sudah bilang tadi otaknya menjadi bodoh akhir-akhir ini hingga ia perlu mencerna dengan baik kata-kata yang tadi Youngjae katakan.

Terlalu banyak kata 'rumah kita' di sini. Dan itu membuat Taehyung bingung. Apalagi saat ia melihat mata wanita yang selalu terlihat tegas itu berkaca-kaca, makin membuat Taehyung rasanya ingin lompat saja dari jendela di lantai dua puluh ini. Ia terlalu bingung untuk menghandle situasi ini.

Apa yang akan terjadi jika ia mengatakan ini pada Baekhyun? Apa Youngjae dan Baekhyun akan menarik kedua tangannya? Lalu Hoseok? Apa kekasihnya itu akan menarik kepalanya? Lalu mereka bertiga memperebutkan Taehyung hingga akhirnya tubuh Taehyung terbagi menjadi tiga dan akhirnya ia mati?

Youngjae yang melihat wajah kebingungan Taehyung pun hanya bisa menghela napas kemudian tersenyum maklum. Ia tahu anak tirinya itu sedang bergulat dengan pikirannya sendiri, dan ia sebenarnya juga tak tega. Hingga akhirnya, masih dengan tangannya diatas tangan Taehyung, Youngjae kembali berkata,

.

"Pikirkanlah baik-baik, kami akan selalu menunggumu di rumah…".

.

.


VH


.

.

"Jungkook, aku pulang…"

Ucap Taehyung begitu ia memasuki pintu kamarnya. Sekarang sudah menunjukkan jam delapan malam dan rumahnya tampak sepi, jadi Taehyung baru memberikan salam ketika masuk ke kamarnya. Dan ia menemukan Jungkook di sana, sedang berdiri di depan meja belajarnya dan terlihat sedang membereskan sesuatu. Remaja yang lebih muda terlihat agak kaget ketika Taehyung mendekatinya.

"Kenapa kau terlihat kaget begitu?" Taehyung memandangnya aneh "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya kemudian, seraya merangkul bahu Jungkook dan melihat apa yang adiknya lakukan.

Remaja itu sedang memasukan beberapa baju dan barang lainnya ke dalam tas "Aku akan menginap di rumah temanku malam ini hyung." Jawab Jungkook "Kami punya tugas besar dan butuh waktu lama untuk mengerjakannya. Jadi aku akan pulang besok sore." Tambahnya kemudian. Wajahnya terlihat tak tenang, tapi Taehyung sepertinya tak begitu memperhatikan. Remaja berambut hitam lurus itu justru mengeluh.

"Berarti aku akan tidur sendirian hari ini?" keluhnya, tapi Jungkook hanya tertawa garing.

"Sebelumnya hyung tinggal di apartement sendirian" ujar Jungkook.

"Tapi aku sudah terlanjur nyaman tidur berdua denganmu." Taehyung mendecak, ia melipat kedua tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya.

Sedangkan Jungkook memutar bola matanya malas "Hyung hanya menjadikanku guling setiap malam" ujarnya. Ia melihat Taehyung yang kini giliran tertawa.

"Itu karena aku sangat menyukaimu!" bela Taehyung, ia mulai melantur, dan lagi-lagi melihatkan perubahan ekspresi Jungkook. Remaja yang lebih muda sejenak menghentikan kegiatan tangannya memasukkan barang dan menundukkan kepalanya.

"Aku juga sangat menyukai hyung…" gumamnya pelan.

Taehyung terkekeh, suara kasur yang berderit kemudian terdengar. Taehyung baru saja membaringkan tubuhnya di kasur "Kenapa kita jadi saling mengungkapkan perasaan seperti ini?" tanyanya.

Jungkook mengangguk, tahu pertanyaan tadi sebenarnya tak perlu ia jawab. Dan begitu ia selesai mengemasi tasnya, Jungkookpun membawanya dan mendekati Taehyung yang masih berbaring di kasur.

"Hyung, bagaimana harimu? Buruk?" tebak Jungkook langsung, begitu melihat raut wajah Taehyung yang tak terlihat baik.

"Tidak buruk" jawabnya "Hanya ada kejadian mengejutkan disana sini" gumamnya kemudian tak jelas, khas seorang Kim Taehyung. Mendengar itu Jungkook hanya tersenyum.

"Hidup hyung memang penuh dengan kejutan" komen Jungkook "Tapi aku yakin hyung selalu bisa mengatasinya dengan baik." Tambahnya.

Keheningan singkat kemudian terjadi diantara keduanya. Taehyung bingung dengan perkataan Jungkook, rasanya seperti tak cocok dengan suasana. Dan ia menatap yang lebih muda dengan tatapan bingung. Tapi Jungkook lagi-lagi hanya tersenyum, dan itu entah kenapa itu terlihat mengkhawatirkan.

"Apa kau akan pergi ke rumah temanmu sekarang?" tanya Taehyung akhirnya, memecah keheningan singkat mereka.

Jungkook menggaruk tengkuknya dan mengangguk canggung "Ah ya, aku akan pergi sekarang…" ujarnya, bersamaan dengan Taehyung yang tiba-tiba bangkit dari posisi berbaringnya. Ia kemudian berdiri di hadapan Jungkook dan merogoh saku celananya, kemudian memberikan Jungkook ponselnya.

"Berikan aku nomor temanmu, jadi aku bisa mengecek jika ada sesuatu terjadi." Ucap Taehyung, tapi Jungkook melenguh "Ayolah hyung! Aku bukan anak kecil lagi" keluhnya. Namun Taehyung hanya tertawa dan mengacak rambut Jungkook.

"Kau memang anak kecil, kenapa mengeluh." Ledeknya "Cepat berikan aku nomor temanmu!" ujarnya, dan walaupun Jungkook terlihat ragu, ia pun meraih ponsel Taehyung dan mengetikkan nomor temannya di layar ponsel itu.

"Sudah, puas?"

"Sangat!"

"Kalau begitu aku pergi!"

Taehyung terkekeh melihat wajah Jungkook yang terlihat kesal. Bukannya takut, justru remaja yang lebih tua itu menepuk-nepuk bokong Jungkook "Pergilah, dan jangan nakal, oke?" candanya seraya tertawa lebar.

Menggoda Jungkook memang tak pernah gagal membuat mood Taehyung merasa lebih baik. Dan ia menikmati ekspresi kesal dan malu Jungkook yang terlihat sangat menggemaskan.

Taehyung ingin selalu bersama bocah itu, dan sepertinya itu telah terwujud sekarang.

Begitu suara pintu yang tertutup terdengar, remaja berambut hitam lurus itu pun kemudian memejamkan matanya beberapa saat dan mengehela napas panjang. Wajahnya yang tadi terlihat ceria dihadapan Jungkook berubah drastis menjadi serius. Taehyung menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Apa yang terjadi tadi siang tak bisa ia lupakan begitu saja. Apa yang dikatakan ibu tirinya, walaupun rasanya Taehyung akan menolak tawaran untuk kembali tinggal di Daegu, remaja itu tak bisa—tidak memikirkannya ulang.

Ia juga sebenarnya tak ingin selamanya tinggal di rumah ini. Melihat ibunya selalu bersama lelaki asing—Park Chanyeol—tak pernah membuat Taehyung terbiasa. Jungkook adalah alasan kedua Taehyung tak menolak tinggal di sini, setelah ibunya.

Taehyung kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kertas kumal yang selalu ia bawa kemana-kemana. Di paling atas kertas itu ada judul bertuliskan 'Bucket List', dan Taehyung sudah mencoret semua nomornya. Remaja itu tersenyum miris. Ia belum menyelesaikan Bucket list ini.

.

Tinggal bersama orang yang kusayangi.

.

Dimana seharusnya ia tinggal?

.

Sekarang Taehyung sudah memiliki banyak orang yang ia sayangi, dan ia tak bisa tinggal di tempat mereka semua. Taehyung sadar, ia terlalu konyol. Kenapa juga ia menulis keinginan seperti ini? Ini terlalu absurd dan Taehyung sudah tak tahu lagi bagaimana menyelesaikannya.

Drrrt

Getaran ponsel di sakunya membuat Taehyung memecah lamunannya dan ia kembali merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya. Di layar, terdapat satu pesan. Dari Hoseok, yang dalam sekejap langsung Taehyung buka.

.

Dari: Hoseok Hyung

Tidak lupa besok kita akan… ehem… kencan, kan? Jangan terlalu banyak berpikir, dan jangan tidur terlalu malam, kita akan menghabiskan banyak energi besok! ^^

.

Sebuah senyuman langsung terpatri di bibir Taehyung begitu membaca pesan dari Hoseok. Bagaimana Hoseok tahu Taehyung sedang memikirkan banyak hal?

.

Drrrt

.

Dari: Hoseok Hyung

Kau pasti sibuk menebak-nebak kemana aku akan membawamu besok? Ahaa percayakan pada Jung Hoseok! Jadi, temui aku di halte bus dekat sekolah besok jam 6~

.

Belum sempat Taehyung membalas, pesan dari Hoseok kembali ia dapatkan dan Taehyung tersenyum mengejek. Siapa juga yang sibuk memikirkan itu? Taehyung tak pernah meragukan Hoseok dalam hal membawanya ke tempat-tempat menyenangkan. Sayang sekali, Taehyung hampir saja terharu tadi.

Namun entah sihir dari mana, senyuman Taehyung kembali dan ia membalas pesan dari Hoseok dengan cepat sebelum akhirnya memejamkan mata untuk tidur. Ia sengaja tak menjawab pesan dari Hoseok, karena jika ia membalasnya, Hoseok mungkin akan marah karena ia belum tidur.

Dan untuk sekarang, sepertinya tak masalah jika Taehyung mengesampingkan sejenak tentang pikirannya tadi dan mulai menikmati jantungnya yang berdebar tak sabar menunggu esok hari.

.

.


VH


.

.

Esoknya.

Taehyung menunggu di tempat yang Hoseok katakan sebelumnya, di halte bus dekat sekolah. Remaja itu duduk di kursi panjang halte yang sepi—karena sekarang hari libur dan tak ada anak sekolah yang singgah ke sini—Taehyung menggerakkan kakinya dan menggosok kedua tangannya, agak bosan, dan udara pagi hari sangatlah dingin. Sesekali ia melirik jam tangannya, satu jam telah terlewat dari janji Hoseok, dan pemuda itu belum juga datang.

Tapi Taehyung tak merasa kesal—mungkin, belum. Ia bukanlah seorang gadis, dan ia juga tidak-tak sabaran walaupun ia tak sabar untuk melihat wajah Hoseok yang ia rindukan. Sebaliknya, pikiran Taehyung mulai melayang jauh. Apa Hoseok kecelakaan? Atau ia malah telat bangun?

.

"Taehyung-ah!"

.

Si pemilik nama sontak menoleh, dan orang yang ditunggunya datang. Taehyung mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak terlihat terlalu excited. Walaupun sebenarnya Taehyung ingin berlari dan langsung memeluk tubuh Hoseok. Ia terlalu rindu, karena dalam sehari waktunya bersama Hoseok sudah sangat berkurang.

Apa Taehyung harus bertingkah ngambek? Seperti di drama-drama? Pikir Taehyung tiba-tiba. Mungkin menyenangkan membuat Hoseok kelabakan karena membuatnya menunggu lama, tapi Taehyung langsung mengurungkan niatnya sedetik kemudian saat melihat wajah Hoseok yang berpeluh.

"Maafkan aku! Kau pasti menunggu lama!" ucapnya di sela napasnya yang terburu. Taehyung tebak Hoseok pasti berlari dari rumah.

Taehyung tak langsung menjawab. Ia memandangi Hoseok yang kini menunduk dengan tangan di lutut. Remaja itu terlihat sangat kelelahan, membuat Taehyung makin tak tega.

"Percaya atau tidak, aku bangun kesiangan dan baru menunggu di sini sepuluh menit yang lalu." Ucap Taehyung dengan nada suara datar "Kupikir hyung sudah meninggalkanku tadi" tambahnya, seraya tersenyum tipis saat Hoseok mendongak dan menegakkan tubuhnya kembali.

"Benarkah?"

Taehyung mengangguk, senang karena wajah Hoseok tak sekhawatir tadi. Hoseok pun tersenyum "Tapi tetap saja, maafkan aku karena terlambat. Hoya membuat sedikit masalah di rumah" jelas Hoseok.

"Apa yang terjadi?" tanya Taehyung, penasaran. Tak tahu masalah apa yang bisa dibuat bocah sepuluh tahun seperti Hoya. Tapi Hoseok menggeleng "Masalah kecil, tak perlu dipikirkan" ujarnya seraya tersenyum lebar. Remaja itu kemudian menunjuk ke belakang Taehyung.

"Busnya sudah datang, ayo pergi!" ucap Hoseok, seraya menggenggam tangan Taehyung dan menariknya untuk masuk ke bus yang telah sampai di halte.

Taehyung hanya membiarkan Hoseok membawanya, kemudian mendudukkan mereka berdua di kursi kedua dari belakang bus yang lenggang tanpa melepaskan tautan tangan keduanya.

"Kemana kita akan pergi?" tanya Taehyung dengan semangat, matanya masih menatap jendela. Menebak-nebak kemana bus mereka akan tertuju.

Hoseok terkekeh "Kau akan tahu nanti…" gumamnya santai. Taehyung hanya berdehem, tak terlihat kecewa dengan jawaban Hoseok dan masih sibuk menatap pemandangan luar jendela. Sedangkan Hoseok tiba-tiba menggenggam tangan Taehyung dengan kedua tangannya.

"Kau pasti bohong saat bilang hanya menunggu sepuluh menit." Ucap Hoseok, membuat Taehyung akhirnya mengalihkan pandangannya dari jendela "Tanganmu sangat dingin" Hoseok kemudian mengambil satu lagi tangan Taehyung, menggenggamnya lagi lalu mendekatkannya pada bibirnya.

Tubuh Taehyung kaku saat merasakan napas hangat Hoseok di kedua tangannya yang tadi serasa beku. Jantungnya berdebar setengah mati. Hoseok seolah memiliki kemampuan untuk membuat Taehyung mati berkali-kali dengan tingkah manisnya.

"Apa yang harus kulakukan pada pembohong manis sepertimu?" ujar Hoseok lagi, nada suaranya seperti mengeluh, dan ia melirik Taehyung dengan tatapan menggoda.

"Heh?" Taehyung baru saja mati untuk kesekian kalinya. Wajahnya memerah, tapi ia tak menyesal karena berbohong—bahkan jika Hoseok menghukumnya.

Bukannya takut atau berusaha mencari alasan, masih dengan ekspresi blank karena gugup, Taehyung justru bertanya "Bibirku juga rasanya membeku, bagaimana?" tanyanya antara sadar dan tidak. Hoseok mengangkat satu alisnya, terlihat bingung namun ia kembali tersenyum. Jangan tanya senyuman jenis apa itu, dan jangan tanya apa yang mereka lakukan setelahnya.

.

Keduanya saling menghangatkan, satu sama lain.

.

.

.

"He? Gunung?"

"Tidak, tidak. Bukit, Tae…"

Taehyung menoleh, menatap Hoseok dengan tatapan tajam "Kau membawa mantan pasien rumah sakit mendaki di kencan pertamanya?" tanyanya tak percaya. Namun Hoseok hanya tertawa "Justru karena kau sudah terlalu lama di rumah sakit, kau harus meregangkan otot-ototmu lagi." Jelas Hoseok. Ia berjalan lebih depan dari Taehyung.

Remaja kurus itu menghela napasnya, menatap palang selamat datang bukit Namjin dengan tatapan ngeri. Tak yakin apa ia bisa sampai ke puncaknya. Bukannya Taehyung merasa dirinya lemah, hanya… tidak saja. Ia sedikit kecewa, mengira sebuah kencan romantis akan terjadi, bukan kencan 'sportif' seperti ini. Dan lagi, ia kesal karena tak curiga sedari tadi Hoseok memakai tas ransel besar yang entah apa isinya.

"Ayo Tae, jika terlalu lama cuaca akan semakin panas!" ujar Hoseok, yang sudah mulai menaiki tangga-tangga tak berujung itu.

Taehyung mendengus, namun tetap saja ia mengikuti Hoseok mendaki tangga satu persatu "Apa yang terjadi jika aku kelelahan dan pingsan?" tanya Taehyung di sela pendakian mereka "Apa hyung akan menggendongku sampai keatas?" tanya lagi pada Hoseok yang berada tiga tangga lebih tinggi darinya.

"Tentu saja aku akan memanggil orang dan kita turun bersama-sama." Jawab Hoseok dengan nada ceria.

"Kenapa begitu?" tanya Taehyung kecewa.

"Percuma saja jika aku menggendongmu sampai keatas, kau tak bisa melihat apapun karena pingsan."

"Hyung bisa membangunkanku jika sudah sampai di atas." Timpal Taehyung.

"Apa kau baru saja berencana pura-pura pingsan?" tanya Hoseok, ia menoleh kebelakang dan menyeringai. Membuat Taehyung mendecak kesal, namun akhirnya tertawa karena Hoseok tertawa.

"Udara hutan sangat baik untukmu Tae~" senandung Hoseok seraya merentangkan kedua tangannya. Remaja itu memang yang paling ahli dalam menikmati suasana, Taehyung harus mengakui itu. dan melihat Hoseok yang senang, sangat mudah untuk tertular pada Taehyung pula.

Sesederhana itu.

Taehyung tahu kencannya kali ini tak seburuk yang ia kira.

.

"Jadi, ada berita apa akhir-akhir ini?" tanya Hoseok kemudian, setelah keduanya terdiam beberapa saat. Taehyung menatap Hoseok, setelah sedari tadi sibuk dengan pijakannya. Ia harus ekstra hati-hati karena sudah hampir terpleset dari tadi.

"Memangnya apa?" Taehyung bertanya balik.

"Selama seminggu ini kita sudah sangat jarang bertemu. Apa tak ada sesuatu yang terjadi?"

"Apa hyung menginginkan sesuatu terjadi padaku?" Taehyung mengerutkan dahinya.

Hoseok terkekeh, ia pun menoleh kebelakang "Sederhananya, aku bertanya kabarmu, Kim Taehyung." Jelas remaja yang lebih tua. Ia terlihat gemas dengan tingkah Taehyung yang sekarang menggerutu.

"Kenapa bicaranya ribet sekali" gerutunya. Ia kemudian terdiam, berpikir sejenak. Ia baru saja ingin mdengatakan tak ada sesuatu spesial yang terjadi, sampai tiba-tiba ia teringat dengan pertemuannya dengan ibu tirinya kemarin.

"Eoh? Aku tahu sepertinya kau menyembunyikan sesuatu." Ujar Hoseok, menebak dari ekspresi Taehyung yang berubah. Taehyung menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, membuat Hoseok pun mencoba untuk serius, namun senyuman hangat tetap terpatri di wajahnya "Ada apa, hm?" tanyanya lembut.

Taehyung masih mendaki, walaupun kakinya terasa berat. Begitu pula dengan Hoseok. Dan remaja yang lebih tua itu tidak terlihat terburu-buru. Ia menunggu Taehyung untuk bicara dengan sabar.

"Ibu tiriku datang ke Seoul kemarin, dia memintaku untuk kembali ke Daegu…" ucap Taehyung pelan. Berterima kasih pada jalanan yang sepi, Hoseok bisa mendengar suara Taehyung dengan jelas.

Hoseok terdiam beberapa saat, masih dengan kaki yang mendaki. Taehyung kembali bicara "Aku tak pernah sekalipun berpikir untuk kembali menetap di sana, hyung. Tapi aku juga tak bisa tidak memikirkan tawaran ibu. Dia mengatakan semua akan dimulai dari awal, tak ada yang perlu kukhawatirkan." Tuturnya jujur.

"Bagaimana menurut hyung?" tanya Taehyung.

Hoseok kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Taehyung. Membuat yang lebih muda juga diam. Kemudian dengan lembut, Hoseok mengelus kepala Taehyung "Kau pasti sedang kebingungan." Ucapnya "Jika seperti ini, kau harus melupakan aku, teman-temanmu, orang tuamu sejenak dan fokuslah dengan apa yang kau inginkan. Jangan pikirkan kami dan hanya pikirkan apa yang akan membuatmu senang" lanjutnya.

Taehyung mengerucutkan bibirnya "Hyung tahu aku tak ingin berpisah denganmu" gumamnya pelan.

"Aku juga tak ingin, tapi aku tak mau egois. Itu kenapa aku bilang kau harus melupakanku dulu untuk mendapatkan jawabannya." ujarnya.

"Penjelasan hyung terlalu rumit. Mana mungkin aku bisa melupakan kalian, kalian semua sumber kebahagiaanku." Taehyung mendengus, kemudian melanjutkan pendakian dengan langkah lebar-lebar, meninggalkan Hoseok di belakangnya.

Hoseok hanya tersenyum melihat tingkah Taehyung. Tahu jika remaja itu tengah kebingungan, dan Hoseok pun tahu dalam hal ini ia tak bisa membantu. Semua terserah pada Taehyung.

"Kalau sekarang, tempat mana yang paling ingin kau tinggali?" tanya Hoseok kemudian, pada Taehyung yang sudah berjalan lebih depan darinya.

"Apartement." Jawab Taehyung tanpa menoleh.

"Kukira itu tak masuk ke pilihan? Orangtuamu tak setuju kau tinggal sendirian." Ucap Hoseok dengan nada penasaran, menyembunyikan rasa senangnya karena jawaban Taehyung. Hoseok pun berharap keadaan kembali seperti dulu, saat Taehyung menjadi tetangganya. Tapi sepertinya tidak mungkin.

"Itu memang tidak termaksud dalam pilihan, tapi itu yang aku butuhkan." Ujar Taehyung seraya menatap Hoseok tepat dimata "Ini salah hyung karena aku mulai ketergantungan dengan tetanggaku sendiri" tambahnya. Wajah Taehyung memerah. Malu karena mengatakan hal tersebut tepat didepan Hoseok.

Namun tidak seperti yang Taehyung duga, Hoseok tak memberikan ekspresi senang—ataupun tersanjung. Remaja itu justru tersenyum sedih.

"Maafkan aku."

"Kenapa hyung minta maaf?" tanya Taehyung cepat.

"Jika itu alasannya, kupikir lebih baik kau tak mengambil pilihan itu" ujar Hoseok, dan Taehyung masih memasang wajah tak mengerti. Walau ia tahu maksud dari 'pilihan itu' adalah apartementnya.

.

"Jika aku dan keluargaku tidak menjadi tetanggamu, apa kau tetap akan memilih apartement itu?" tanya Hoseok.

.

Dan Taehyung terdiam. Tak tahu harus mengatakan apa. Ia berharap tiba-tiba Hoseok tertawa dan mengatakan bahwa yang ia kira adalah salah dan remaja itu hanya bercanda. Tapi Hoseok memasang wajah serius. Taehyung mulai takut.

.

.

Drrrrt drrrrtt

.

Masih menatap Hoseok, dan masih diam, Taehyung mengambil ponselnya yang bergetar di saku celana. Kemudian tanpa melihat layar ponselnya, ia langsung menjawab panggilan itu.

.

"Halo? Taehyung-ah, kau dimana sekarang?"

Ah, ibunya.

"Di gunung. Kenapa bu?"

"Gunung?! Oh, astaga… Taehyung, dia belum pulang sampai sekarang. Apa kau tahu dia dimana?"

"Dia bilang dia akan pergi mengerjakan tugas dengan temannya. Mungkin sore nanti ia akan pulang, jangan khawatir bu."

"Benarkah? Tapi ibu menemukan sebuah surat perpisahan dan sepertinya ini dari Jungkook. Taehyung-ah, pulanglah. Ibu tidak tenang…" suara ibunya terdengar bergetar, membuat Taehyung pun mengerutkan dahinya. Ia langsung menebak apa Jungkook kabur dari rumah, dan tak ada hal lain yang ia pikirkan selain itu.

Taehyung kemudian berdehem, mencoba tenang. Ia masih menatap Hoseok yang kini menatapnya dengan tatapan bingung. Remaja yang lebih tua itu menggerakkann mulutnya mengatakan 'ada apa?' tanpa suara.

"Baiklah bu, aku akan pulang sekarang." Ucapnya sebelum akhirnya memutus hubungan telepon mereka dan Taehyung langsung menarik tangan Hoseok.

.

"Kita harus pulang hyung, sepertinya Jungkook kabur lagi."

.

.

.

Bersambung