"Bagaimana mungkin orang tolol sepertiku masuk divisi? Bagian atas pula? Leader, kumohon jangan bercanda", ujarku menahan diri untuk berteriak. Tidak pantas berteriak padanya. Ini membuatku frustasi.

Kuakui, aku iri pada Rokoz yang sudah memiliki divisi. Mereka punya dunia mereka – dunia yang menyenangkan milik mereka seorang. Dibandingkan diriku yang tak punya arah. Tapi kalau tiba – tiba seperti ini, sama saja aku akan menyeret orang – orang tak bersalah lebih banyak lagi.

"Aku tak ingin...orang lain terluka lagi...", bisikku tertunduk.

"Aku tahu maksudmu, Fied", Mazo meremas bahuku. "Tapi seperti yang kubilang, kau tak boleh menanggungnya sendirian."

"Tapi...", aku coba membantah.

"Ini tugas pertamamu sebagai anggota Canvas –Ranger, masuk ke divisi dua, kenalkan diri dan dapatkan kebahagiaan", perintahnya dengan nada agak tajam penuh wibawa.

Kebahagiaan...

Aku tak bisa membantah.

"Jadi ini si orang baru?" tanya seseorang berambut orange. Dia mengamatiku dari atas ke bawah.

Yang ada di hadapanku adalah seorang pemuda sekitar delapan belas tahunan dengan kaus sederhana. Rambutnya terkuncir. Dia memakai kacamata gelap sehingga matanya tidak beegitu terlihat. Sebelahnya ada seorang gadis berambut hitam dengan gaun biru sederhana yang membuatnya cantik.

Dibelakangku ada bocah yang baru selesai mengamati bagian belakangku. Dia maju dan mendekatkan wajahnya padaku. Dari sudut mata, ada gadis kecil dengan kerincingan kecil terikat di rambutnya. Matanya berbeda warna – sedang duduk manis dengan kondisi yang sama, melihatku – memerhatikanku.

"Bolehkah kami melihat wajahmu yang tanpa perban?" Tanya gadis bergaun biru. "Aku Rina, yang berambut hijau itu Nakamiya, dan sepupunya Kyou", tunjuknya.

"Dan aku Algeo, Algeo Elgitroix", ujar pria berambut orange dihadapanku.

"Fied White. Dan…..sesuai keinginanmu, nona", ujarku. Kulepas perbanku pelan – pelan. Yang terakhir ikat kepalaku.

Mereka bergeming. Aku sudah duga. Tampangku jelek dan aneh. Huruf Frios membuatku seperti batu tulis. Aku hendak menutup kembali wajahku dengan perban ketika Rina memengang tanganku. Berharap aku tidak menutupi wajahku – diriku.

"Kau tampan", ujarnya. "Bahkan lebih dari Algeo."

"Rina sayang, jangan begitu...", dia dapat tendangan telak dari Rina. Kurasa wajar, karena dia berlutut di bawah rok Rina – mencari kesempatan.

Aku tersipu. Apa mereka berbohong agar aku kerasan? Jujur, aku tidak percaya diri dengan penampilanku sejak kecil. Aku dicap batu tulis berjalan dan menurutku itu juga termasuk wajahku. Aku malu untuk menunjukkannya tapi aku akan coba untuk tidak seperti itu. Aku tak mau jadi bebek di antara alang – alang.

"Rina tidak bohong, kok", ujar Kyou. Dia membaca pikiranku. "Kau keren."

Pujian mereka membuatku tersipu. Ini pertama kalinya aku dipuji seperti ini.

Kuharap aku bisa kerasan.

Kami bermain apapun, bersenang – senang.

Kegiatan mereka membuat hatiku terobati perlahan – lahan. Aku senang aku bisa melepas topeng tegar dari diriku dan sempat menangis di hadapan mereka. Seperti pengecut dan itu kenyataannya.

Tapi mereka menerimaku apa adanya. Murni.

Rasanya nyaman.

Pintu diketuk, Benzi muncul di hadapan kami.

Ada apa?