Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujimaki
Katekyo Hitman Reborn © Akira Amano
.
.
Chibi!
.
.
Chapter 21: Catatan Haizaki
Aroma kopi menggelitik hidung bocah cilik yang masih terbuai mimpi.
Wangi roti panggang berlapis selai kacang membuat sang bocah cilik pemilik rambut abu acak-acakan bangun dari tidurnya. Gemuruh dari dalam perut menjadi jam alami yang menuntut sang pemilik untuk segera sarapan.
Sambil mengucek sebelah mata, Haizaki berjalan menuju dapur.
"Imayoshi-san nggak bisa masak yang lain apa." Cerca Haizaki seraya duduk di salah satu kursi. Di meja sudah tersaji sepiring roti panggang dan segelas susu, sementara Imayoshi duduk di seberangnya sambil menyesap kopi.
"Mau kuambilkan mie instan dari rumahmu?"
Haizaki menggeleng.
Dua minggu yang lalu, Haizaki ditemukan pingsan dalam apartemen keluarganya di antara tumpukan cup bekas mie instan setelah sebelumnya ia absen selama seminggu lebih.
Himuro yang pertama kali menemukannya, setelah ia mendobrak pintu sekuat tenaga.
Nijimura segera menelepon ambulans melihat kondisi Haizaki. Dengan wajah pucat dan demam tinggi, bocah berambut abu itu pingsan di lantai dapur. Semua jendela terkunci rapat, bahkan Himuro yakin pintu utama dikunci dari luar, seolah ada yang sengaja ingin mengurung bocah kecil itu dalam kamar apartemen.
Hanya gelengan yang Haizaki berikan ketika para polisi bertanya.
Ia tidak tau ibunya ke mana dan sejak kapan beliau pergi.
Ia tidak tau ayahnya di mana, bahkan ia tidak yakin ayahnya siapa.
Ia tidak tau apakah dia punya keluarga lain.
Awalnya polisi menyerah ketika mereka malah berakhir di hutan di kaki gunung Fuji saat sedang melacak nomor sang ibu. Mereka hampir memutuskan membawa Haizaki ke panti asuhan karena baik Himuro maupun Nijimura juga tidak sanggup menampung Haizaki di tempat mereka, sampai Imayoshi datang dan mengajukan diri untuk menampung Haizaki.
Imayoshi adalah seorang mahasiswa yang kebetulan tinggal di kamar apartemen sebelah keluarga Haizaki, dua bulan belakang dia terpaksa kembali ke rumah karena neneknya meninggal dunia. Begitu mendengar kabar dari pemilik apartemen, dia segera berlari ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Haizaki.
"Nak, kenapa kamu mau menampung anak itu?"
Pernah sekali Imayoshi ditanya oleh pemilik apartemen dan ia hanya tersenyum seraya mengedikkan bahu.
"Rasa kemanusiaan mungkin?"
Bukan rahasia lagi kalau Haizaki itu hanya sebatas 'produk gagal'. Datang dari keluarga yang tidak jelas asal-usulnya, tinggal hanya dengan ibu yang kerja siang-malam tanpa tau kerjanya apa, ayah yang tidak tau siapa di mana. Hanya mengganggu anak tetangga yang ia bisa. Mencari cacing tanah dan serangga untuk dilemparkan ke anak-anak yang sedang bahagia bermain bersama di taman.
Banyak yang komplain kepada pemilik apartemen agar mereka diusir saja dari sana. Lingkungan ini tidak perlu anak nakal seperti dia.
Tapi Imayoshi menanggapinya lain. Baginya Haizaki hanyalah anak kecil biasa yang sedang mencari perhatian dan kasih sayang.
Seperti anak-anak pada umumnya, Haizaki mudah tertarik pada sesuatu yang baru. Ia pernah semalaman belajar mendribble bola basket setelah Imayoshi mengajarkannya. Haizaki juga anak yang menepati janji. Bahkan dia rela membuang harga dirinya untuk membuat rekaman tarian monokuma di kebun binatang karena kalah main gaple.
Hanya karena asal-usul keluarganya yang tidak jelas, bukan berarti seorang anak harus diajuhi dan dilabeli gagal. Mana pernah orang-orang itu tau setiap malam Haizaki harus minum air banyak-banyak untuk mengganjal perut karena sang ibu belum pulang jadi tidak ada yang memasak tanpa bisa mengeluh.
Rasa kemanusiaan itu hanya legenda.
"...shi-san! Imayoshi-san!"
Imayoshi menoleh ke arah pintu. Di sana sudah berdiri Nijimura dengan pakaian rapi, menjemput Haizaki untuk berangkat sekolah.
Sudah berapa lama dia melamun? Ah tidak biasanya, bahkan kopinya sudah dingin.
"Imayoshi-san, aku berangkat!" Haizaki melambaikan tangan sebelum menutup pintu.
Mungkin Imayoshi harus segera bilang ke ayahnya untuk mengangkat Haizaki sebagai anak.
See you next chapter :3
...un ((kabur))
