"Embrace The Chord"

Remake Story by Santhy Agatha

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Others

[Chanbaek]

.

.

.

.

.

.

Baekhyun terpana, menatap Chanyeol dengan mata membelalak seolah-olah tak percaya mendengar apapun yang dikatakan oleh lelaki itu.

"Apa?"

Chanyeol berdiri dari duduknya, memandang Baekhyun dengan tatapan serius, "Kurasa aku jatuh cinta kepadamu, Byun Baekhyun."

Apakah Chanyeol sedang mengerjainya dengan kejahilannya seperti biasanya?

Baekhyun berdiri di sana, menatap Chanyeol dengan terpaku dan kebingungan, tak tahu harus berkata apa. Mulutnya bahkan menganga dengan suara tercekat di tenggorokannya, tak tahu harus berkata apa.

Sementara itu Chanyeol melangkah mendekat dan berdiri dekat di depan Baekhyun, lelaki itu tampak tenang, menebarkan senyumnya yang mempesona.

"Jadi bagaimana Baek? Apakah kau membalas perasaanku?"

Sebuah pernyataan cinta? Perempuan mana yang tidak akan berdegup seluruh jantungnya merasakan pernyataan cinta dari lelaki yang begitu mempesona seperti Chanyeol?

Baekhyun sendiri merasakan debaran di jantungnya semakin nyata, dia ingin menjawab tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

"Aku tidak terbiasa ditolak seseorang." Mata Chanyeol mengerjap angkuh, "meskipun begitu bisa kukatakan kepadamu bahwa kau sebenarnya mencintaiku, hanya saja kau belum menyadarinya." Dengan lembut jemari Chanyeol bergerak menyentuh rambut Baekhyun di dekat telinga dan menyelipkannya ke balik telinga Baekhyun, "Cepatlah sadari perasaanmu kepadaku, dan datangi aku."

Lelaki itu menundukkan kepalanya, dan mengecup bibir Baekhyun, lalu melangkah berlalu melewati Baekhyun yang masih terpana dan meninggalkannya.

.

.

.

.

.

Beberapa saat kemudian dan Baekhyun masih berdiri di sana, terpana, merasakan kelembutan kecupan Baekhyun di bibirnya yang selembut kupu-kupu.

Benarkah itu tadi pernyataan cinta?

Baekhyun menyentuh bibirnya. Chanyeol tampak begitu tulus dan serius, lelaki itu sepertinya tidak main-main.

Apakah Chanyeol serius? Dengan pernyataan cintanya itu? Baekhyun masih saja tidak bisa membaca Chanyeol, dan lagipula, reputasinya di masa lalu sebagai penghancur perempuan membuatnya merasa takut... takut kalau dia menumbuhkan perasaanya kepada lelaki itu, ternyata dia hanya dipermainkan dan menjadi korban, seorang perempuan yang dihancurkan perasaannya seperti korban-korban Chanyeol sebelumnya.

.

.

.

.

.

Yang dilakukan Baekhyun pertama kalinya untuk menelaah perasaannya adalah dengan menelepon Jongin.

Lama sekali dia menunggu dan teleponnya tidak diangkat-angkat, tetapi kemudian pada deringan yang kesekian kali, akhirnya Jongin mengangkat teleponnya.

"Hallo Baek?" ada suara hiduk-pikuk di belakang Jongin, membuat Baekhyun mengerutkan keningnya.

"Halo Jongin, ramai sekali di belakangmu, kau ada di mana?"

Hening sejenak, hanya hiruk pikuk yang terdengar sebagai background suara. Dan kemudian Jongin bergumam.

"Aku ada di bandara Baek."

"Di bandara? Kenapa?"

Terdengar helaan napas Jongin di sana, "Aku pergi untuk menyusul Kyungsoo. Kurasa kalau kami benar-benar serius dengan hubungan ini harus ada salah satu yang berjuang."

Seketika itu juga Baekhyun berdiri dari duduknya, benar-benar terkejut.

"Kau benar-benar-benar akan pergi ke luar negeri untuk menyusul Kyungsoo?" dia setengah berteriak, terdorong oleh keterkejutannya.

Sekali lagi Jongin menghela napas panjang, "Semula aku meragukan perasaanku, tetapi kemudian setelah kejadian kemarin," Jongin menghela napas panjang, "Aku memutuskan untuk serius terhadap Kyungsoo."

Setelah kejadian kemarin? Apakah yang dimaksud Jongin adalah insidennya dengan Chanyeol kemarin?

Baekhyun terdiam, menunggu, menanti apakah akan ada patah hati di benaknya yang akan menyergap jantungnya. Apalagi mendengar kenyataan bahwa Jongin berangkat untuk mengejar cintanya kepada Kyungsoo dan meninggalkan negara ini.

Tetapi ternyata perasaan itu tidak muncul di dalam hatinya, dia menunggu dan terus menunggu, yang muncul malahan perasaan sayang dan dorongan untuk memberi semangat kepada Jongin.

"Semoga kau berhasil menyelesaikan permasalahanmu dengan Kyungsoo, Jongin, semoga kau berbahagia bersama Kyungsoo." Gumam Baekhyun dengan tulus.

Hening sejenak, kemudian ketika Jongin berkata-kata, Baekhyun bisa mendengar ada senyum di dalam suaranya,

"Terimakasih Baek, kuharap kau juga berbahagia bersama Chanyeol. Semula aku memang tidak setuju, tetapi kemudian kulihat dia sangat serius kepadamu, dan dia tampaknya sangat melindungimu, mungkin kau adalah perempuan yang pada akhirnya bisa menaklukkan Chanyeol dan menghentikan reputasinya sebagai pengancur perempuan."

Baekhyun tercekat, dia teringat akan keraguannya kepada pernyataan cinta Chanyeol, dan kemudian mulai merasakan rasa hangat di dadanya.

Jongin bisa melihat bahwa Chanyeol serius kepadanya, mama Chanyeol juga sudah pernah mengatakan bahwa Chanyeol menyimpan perasaan yang dalam kepadanya. Apakah itu berarti bahwa Baekhyun harus mulai mempercayai Chanyeol dan membuka hatinya kepada lelaki itu?.

.

.

.

.

.

Chanyeol sedang berada di ruang musik, melatih nada-nada yang indah dari alunan biolanya, ketika Baekhyun muncul di ambang pintu dengan hati-hati, takut mengganggu latihan Chanyeol.

Tetapi ternyata Chanyeol menyadari kehadirannya, dan lelaki itu menghentikan latihan biolanya.

Setelah meletakkan biolanya dengan hati-hati pada meja yang tersedia, Chanyeol tersenyum kepada Baekhyun.

"Apakah kau sudah siap untuk berlatih biola bersamaku?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya, dan melangkah memasuki ruang musik itu.

"Aku siap." Gumam Baekhyun pelan.

Chanyeol tersenyum lembut dan mengedikkan bahunya ke arah biola Paganini yang sudah menjadi milik Baekhyun dan diletakkan di kotaknya di atas meja,

"Ayo. Ambil biolamu." Gumamnya.

Dengan penuh semangat Baekhyun mengambil biola itu dari kotaknya dan meletakkan di pundak kirinya.

Chanyeol sudah berdiri dan meletakkan biola itu di pundak kirinya sama seperti Baekhyun, berdiri tegak dengan posisi sempurna seorang violinist.

"Kau ingin memainkan lagu apa?"

Baekhyun menarik napas panjang, memandang Chanyeol dengan tatapan mantap.

"Beethoven Violin Romance no 2" jawabnya tak kalah mantap.

Chanyeol mengangkat alisnya mendengar pilihan lagu Baekhyun.

"Violin Romance ya?" lelaki itu tersenyum penuh arti, kemudian menganggukkan kepalanya, "Mari kita mainkan, sepertinya benakku sedang dipenuhi oleh hal-hal romantis."

Pipi Baekhyun memerah menerima tatapan tersirat Chanyeol, dia menganggukkan kepalanya. Dan kemudian memulai nada awal. Seketika itu juga, seperti sudah bisa membaca nadanya, Chanyeol langsung memasukkan nada pendamping yang menyempurnakan permainan musik itu.

Permainan musik yang mencerminkan perdamaian hati Beethoven dalam menghadapi penyakitnya, musik yang mencerminkan sisi lembut dan ringan dari Beethoven.

Nada-nada berpadu sempurna, luar biasa indahnya, memenuhi ruang musik itu. Alunan musiknya seolah-olah dimainkan oleh dua orang yang memiliki satu hati, sungguh kesempurnaan yang tidak terkatakan.

Kalau ada orang yang mendengarkan permainan musik duet mereka ini, pastilah mereka akan terpana.

Dari awal sampai akhir, keseluruhan keindahan nadanya terus dan terus berpadu, sampai akhirnya, Baekhyun menguarkan nada penutup dan Chanyeol mengikutinya.

Mereka menyelesaikan permainan duet mereka dengan sempurna.

Luar biasa sempurnanya bagi Chanyeol. Lelaki itu meletakkan biolanya dan menatap Baekhyun dengan lembut.

"Kau adalah pasangan yang sangat sempurna bagiku."

Baekhyun menatap Chanyeol dengan hati-hati.

"Apakah kau serius dengan perkataanmu?"

"Perkataan yang mana?" Chanyeol tersenyum lebar, membuat pipi Baekhyun memerah.

"Pernyataan cintamu tadi."

Chanyeol memasang ekspresi penuh makna, meskipun begitu, ada keseriusan di dalam nada suaranya,

"Apakah kau tidak tahu? Aku menjalin hubungan dengan banyak perempuan, tetapi tidak pernah sekalipun aku menyatakan cintaku kepada mereka semua." Mata Chanyeol berubah tajam, "Kau adalah satu-satunya perempuan di mana aku menyatakan cintaku."

Pipi Baekhyun memerah, meskipun begitu dia masih belum yakin.

"Dan apakah kau serius dengan kata-katamu? Kau tidak sedang mempermainkanku bukan?"

Chanyeol melangkah mendekat, selangkah lebih dekat di depan Baekhyun.

"Apakah aku terlihat seperti sedang bermain-main?' tangannya terulur, meraih dagu Baekhyun. "Pada mulanya aku jatuh cinta setengah mati kepada permainan biolamu. Sungguh-sungguh jatuh cinta sehingga aku rela melakukan apa saja supaya kau mau menjadi muridku dan aku bisa terus menerus mendengarkan permainan biolamu yang indah itu, bagiku kau adalah perempuan yang sempurna, perempuan yang bisa memeluk semua nada, dan kemudian, tanpa kusadari, pikiranku terlalu fokus kepadamu dan kau kemudian menguasai seluruh pikiranku." Mata Chanyeol menggelap, "Aku tidak pernah berencana jatuh cinta kepada siapapun, Baek, dan aku bahkan tidak mengira aku bisa jatuh cinta, tetapi aku mencintaimu, dan perasaan ini bukan main-main."

Ya. Pada akhirnya, Baekhyun meyakinin perasaan Chanyeol. Siapa yang tidak percaya ketika melihat betapa ekspresi Chanyeol begitus seriusnya kepadanya?

"Dan sekarang, apakah kau masih belum mempercayaiku?" Chanyeol bertanya, menatap Baekhyun dengan penuh tanda tanya, "Apakah kau membalas perasaanku?"

Tidak perlu menunggu lama lagi, Baekhyun menganggukkan kepalanya, menatap Chanyeol dengan pipi merona.

"Kurasa aku... aku membalas perasaanmu."

"Kau apa?" Chanyeol tampaknya tidak puas dengan pengakuan Baekhyun.

Pipi Baekhyun semakin merona.

"Aku.. kurasa aku juga mencintaimu."

"Benarkah?" Chanyeol mengangkat alisnya, "Lalu bagaimana perasaanmu kepada Jongin?"

Baekhyun menghela napas panjang, "Jongin memutuskan pergi ke luar negeri untuk mengejar Kyungsoo."

'Bagus." Tanpa perasaan Chanyeol bergumam, "Jadi dia tidak akan mengganggu kita lagi." Tetapi kemudian lelaki itu menatap Baekhyun dengan tatapan mata menyelidik, "Apa kau menerima cintaku karena Jongin meninggalkanmu?"

Baekhyun langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat,

"Tidak!" kata-kata itu seolah-olah susah keluar dari bibirnya, "Ketika Jongin mengatakan bahwa dia akan pergi mengejar Kyungsoo, aku tidak merasakan apa-apa selain rasa yang tulus suapaya dia berhasil mengejar cintanya, pada saat itu aku sadar bahwa aku sudah tidak merasakan apa-apa kepada Jongin."

Senyum Chanyeol melebar, dan kemudian tanpa permisi, lelaki itu mendekat dan merengkuh Baekhyun ke dalam pelukannya,

"Kalau begitu sekarang kita tidak bersandiwara lagi? Kau benar-benar menjadi kekasihku?"

Baekhyun mengangguk malu-malu dengan pertanyaan Chanyeol itu.

Chanyeol terkekeh, memeluk Baekhyun semakin rapat dan mengecup dahi Baekhyun."Menjadi kekasihku tidaklah mudah, kadangkala aku bisa menjadi sangat egois dan posesif, kuharap kau siap."

Baekhyun mengerucutkan bibirnya, "Kau sudah sangat egois, angkuh, jahil, tukang memaksa, dan tukang cium sembarangan, meskipun begitu aku tetap saja jatuh cinta kepadamu." Baekhyun tersenyum lucu, "Kurasa aku siap menghadapi segalanya."

Chanyeol tertawa. "Kalau begitu, mari kita berlatih biola dan mempersembahkan duet sepasang kekasih yang mempesona."

.

.

.

.

.

.

THE END

READ , REVIEW , FAV PLEASE?

PS : YAWLA UDAH END AJA GAK KERASA NIHHH WKKWKWKW Gantung banget yaaa? Tenang aja masih ada satu chapter buat epilog yuhuuu ditunggu aja eapzzz :*