Bagian 1 "Aerial Negeri Cahaya, Negeri Kegelapan"

~ Chapter 19 ~

Cast :

VIXX N (GS) & Leo

VIXX Ravi

Super Junior Siwon

Beast Doojoon

B.A.P Yongguk

Wu Yifan/Kris

VIXX Hyuk

~ AERIAL ~

Letakkan Batu Bulan pada dasar danu di Aerial dan ambil prasasti batu yang menempel di istana bawah air.

Ravi mengingat-ingat instruksi itu dengan seksama.

Ia berdiri di tepi danau, mata memandang lurus ke bawah, ke air tenang yang sesekali menyapu ujung kakinya.

Sesaar Ravi ragu, berpikir bahwa apa yang dilakukannya—terutama bagian ia tidak pernah memberitahu ini pada Leo—adalah sesuatu yang keji, sehingga terus-menerus menelurkan rasa bersalah yang semakin menumpuk di hatinya.

"Tapi kalaupun kukatakan langsung kepadamu, Leo, maukah kau meninggalkan Yeonie untuk kepentingan klan kita?" ia bertanya pahit.

Dan Ravi pun sudah tahu apa jawabannya.

Ia melompat ke dalam air berbekal sebatang alat pencongkel batu di tangan kanan dan Batu Bulan di sakunya.

Tatkala menyelam, Ravi tidak menyadari ada cairan warna merah pekat yang ikut meluruh, bercampur dengan air, dari sakunya. Batu Bulan yang telah diberi cap darah oleh Siwon kini mengeluarkan darah yang menyatu dengan air. Cairannya menempel pada permukaan batu, pasir, tumbuhan, dan segala benda yang ada di dalam danau.

Ravi berhenti di depan reruntuhan istana termegah yang pernah ia lihat. Prasasti yang harus diambilnya menempel pada salah satu sisi jendela. Ia maju ke depan, memperhatikan lebih dekat, lebih fokus lagi pada objek yang dimaksud. Di situ memang terdapat beberapa baris tulisan, namun Ravi tidak mengerti hurufnya.

Dan menurut Siwon, pada prasasti ini ada tulisan yang dapat menciptakan perdamaian di seluruh negeri. Hmm, mungkin penasihat nyentrik itu tidak sejahat yang kukira, Ravi membatin.

Sebelum melepaskan prasasti dari tempatnya, Ravi mengeluarkan Batu Bulan dari saku dan melemparkannya ke dasar danau. Ia baru menyadari ada cairan merah yang menyertai benda itu, tapi tidak memedulikannya.

"Ravi!"

Ravi terkejut setengah mati, mendengar suara dari daratan di atasnya.

Suara Doojoon.

Bagaimana mungkin Doojoon bisa ada di sini?

Ia pun langsung kembali ke permukaan, bersikap seolah-olah tidak mengerjakan sesuatu secara sembunyi-sembunyi.

"Kukira Yang Mulia saja yang suka datang ke Aerial sendirian," Doojoon berkata tanpa nada curiga atau penasaran di dalamnya, dan ini membuat Ravi lega.

"Aku hanya ingin menyendiri," Ravi merespon sekenanya.

Doojoon tidak datang sendiri. Yongguk ikut di sisinya, membawa sebilah pedang. "Leo mencarimu. Ada perubahan jadwal penjagaan. Mulai hari ini kita turun pukul dua belas malam sampai pagi. Perintah langsung dari Penasihat Siwon."

Ravi tidak heran mendengarnya. Di antara semua orang yang ia tahu di Kegelapan, Siwon termasuk yang paling semangat memproklamirkan perang.

"Menyendiri katamu? Tidak biasanya kau begini, Ravi," Doojoon masih tidak puas dengan jawaban sobatnya.

"Kau tidak percaya padaku?" Ravi menantangnya.

Doojoon hanya melempar senyum kecil yang sarkastis. "Di saat situasi memanas sulit membedakan mana kawan mana lawan."

"Apa katamu?!" Ravi hampir menerjangnya, merasa dituduh sebagai pengkhianat.

"Hei, hei, kalian—!"

Yongguk langsung mengmbil tempat di antara mereka berdua, "Justru di saat memanas begini kita harus lebih jeli menilai situasi. Semua yang terlihat di mata bisa jadi terbalik dan lebih menyesatkan dari kenyataan sebenarnya. Kita berlima bersahabat, bukan?"

"Persahabatan. Aneh rasanya kalau harus mengucapkan itu dalam kata-kata," papar Ravi dengan nada kesal dan sedih yang bercampur jadi satu.

Di depannya ekspresi Doojoon masih tetap sama : merasa di atas angina, dan tampak belum puas mencari masalah dengan dirinya.

"Aku akan kembali ke istana. Tuan Leo menunggu kita."

Entah mengapa Doojoon memutuskan pertunjukkan cukup untuk hari ini. Ia langsung berbalik badan tanpa memedulikan Susana tidak enak yang terlanjur tercipta.

Merasa tidak ada keperluan lain di Aerial, Yongguk pun beranjak pergi, meninggalkan Ravi seorang diri.

Ravi hampir saja melakukan hal yang sama, namun ingatannya akan tugas yang belum dirampungkan olehnya membuat kakinya tidak jadi melangkah.

Tinggal sedikit lagi, pikirnya. Dengan prasasti ini seharusnya perang tidak akan terjadi.

~ AERIAL ~

Siwon menepuk tangannya dengan rasa sangat puas.

Tadinya ia sempat gusar karena rencananya terbentur satu hambatan vital dan fatal : Linc si kuda terbang. Beberapa waktu lalu ketika menyadari dirinya kecolongan—adik Putri Matahari berhasil memanggil Linc—Siwon langsung mengirimkan ratusan petir ke langit Cahaya untuk melukai kuda terbang ini, namun usahanya sia-sia. Kekuatannya sama sekali tidak sebanding, bahkan menyentuh bulu halus kuda terbang ini saja ia tidak mampu.

Yang penting kini si kuda terbang hitam sudah tidak dapat membantu pasangannya lagi. Siwon merasa tenang mengingat ia telah lebih dulu menyingkirkan Llyr, si kuda terbang hitam.

Kini tanpa susah-susah, ia dapat memanfaatkan tenaga "suka rela" Ravi untuk meletakkan Batu Bulan di dasar telaga dan mengambil prasasti kuno di dalamnya, sesuatu yang tidak dapat dilakukannya sendiri karena perisai pelindung Aerial menolak kehadirannya. Ravi sendiri tidak menyadari bahwa Batu Bulan itu justru akan menyeret sehabatnya ke neraka karena setelah dibubuhi mantra khusus, benda itu akan berfungsi sebagai pasir hidup; akan menelan siapapun yang berenang di danau Aerial.

"Kejadian yang menarik akan segera di mulai." Seulas senyum lebar bertahta di wajah tirusnya.

Siwon tahu ia memang dapat mengandalkan Ravi untuk melakukan ini. Tapi tidak pernah disangkanya bantuan paling utama justru datang dari sahabat orang yang paling ia segani—ia benci.

Ya, walau selama ini ia menjadi kepercayaan Raja, bukan berarti Siwon senang berakrab-akrab dengan kedua putra Raja. Hubungan dengan mereka bisa dikategorikan jelek, dan paling parah adalah dengan Leo. Anak ingusan macam Leo seharusnya bukan ancaman penting bagi keberhasilan ambisi dan rencananya. Namun nyatanya Leo lebih bebal dan nekat dari Kris!

Hanya dalam waktu singkat anak muda satu ini tanpa sungkan, tanpa malu-malu, menjalin cinta dengan Putri Matahari. Dan yang paling memalukan adalah di saat pemuda ini seharusnya bisa memangsa bangsa Cahaya, menerkam Yeonie yang berada di sisinya, ia justru setengah mati menekan hasrat membunuhnya itu.

Itu sama saja Leo menolak kodratnya sebagai bangsa Kegelapan, sebagai pemburu. Apa gunanya mereka diberi kelebihan untuk membaui makhluk lain dan kondisi di sekitar melalui darah yang tercium?

"Keberadaan para pengecut Kegelapan itu sangat tidak berguna," kata Siwon memberi alasan. "Oleh karena itu, tidak satu pun dari mereka yang layak hidup."

Siwon telah mempelajari sejarah Aerial dan prasasti yang terdapat pada istana bawah air. Pada permukaan batu prasasti yang terlihat, terdapat sepenggal tulisan yang menurut Siwon isinya adalah hal-hal nonsense tentang perdamaian bangsa Cahaya dan Kegelapan. Tetapi bukan itu yang dicarinya.

Rahasia sesungguhnya terletak pada lapisan tipis di bawah permukaan huruf-huruf prasasti yang konon berisi kunci untuk membumihanguskan sebuah peradaban.

"Untuk melakukan sesuatu yang dahsyat, diperlukan temuan yang dahsyat juga."

Ini satu-satunya petunjuk yang terkumpul berkaitan dengan menggunakan sihir.

Siwon telah menguak rahasia untuk menjadi lebih kuat, atau bahkan menjadi sakti seperti para dewa, yaitu dengan meminum darah Putri Matahari. Ia pernah mencoba membunuh Yeonie melalui Hyuk, namun tidak berhasil.

Cara apa pun tidak akan berhasil selama Pangeran Leo masih berada di sisinya.

Untuk bisa menjadi kuat dan menghilangkan peradaban Cahaya, Siwon sadar hal pertama yang harus dilaukan adalah menyingkirkan "si anak ingusan" Leo.

"De inimico non loquaris sed cogites." Siwon menyingkap jubahnya dengan tangan, menyadari di belakangnya telah hadir orang lain, "…Bukan begitu, Doojoon?" (De inimico non loquaris sed cogites : Jangan berharap lawanmu sakit, tapi susun rencanamu sebaik mungkin.)

Dan untuk ini, Siwon telah menyiapkan tentara-tentara Kegelapan yang siap mendukung rencananya.

"Tentu, Tuanku. Saat ini Ravi sedang kembali membawa prasasti," Doojoon melaporkan.

~To Be Continued~

Annyeong minna-san~~ ^^

Haduh.. maaf ya buat yang nunggu, ff ini lama updatenya -_-"

Udah lama update, sedikit pula isinya, mian.. TT

Maaf jika ada typo yang bertebaran. :)

Terimakasih sudah menyempatkan baca ff ini, sudah comment, fav & follow. Terimakasih juga selalu menyemangati dan mengingatkan saya untuk update, hihihi. Silahkan ditunggu chapter selanjutnya ^^

Arigatou gozaimasu~ Thank you very Gamsa~ :*