Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

~ To Be A Princess ~

[ Chapter 20 ]

.

.

Warning : Chapter ini mengandung unsur 18+ (rate M)

.

.

Normal Pov.

FlashBack

Sebelum raja terdahulu wafat.

"Aku hanya ingin menyampaikan untuk membalaskan budi kerajaan terhadap seseorang tabib kerajaan bermarga Haruno, dia sudah begitu berjasa pada seluruh keluarga kerajaan dari masa lampu, alangkah baiknya, jika hubungan ini menjadi lebih baik dengan menjodohkannya dengan salah satu pangeran di kerajaan ini, aku rasa itu sangat pantas dan aku menunjuk pangeran Ren sebagai pangeran pertama."

"Sebelumnya aku berterima kasih telah memilihku sebagai perantara untuk membalas budi, sayangnya aku harus meminta maaf yang sebesar-besarnya jika aku sudah memiliki pasangan hidup, tapi jika Yang mulia berkenan aku akan memberikan anakku jika dia seorang putra menjadi pendampingnya." Ucap Ren.

"Uhm.. itu tidak buruk juga, aku hanya berharap segeralah jalankan amanah ini dan buatlah Haruno merasa jasanya terbalaskan."

"Terima kasih, sekali lagi terima kasih."

Pangeran Ren menikahi seorang wanita yang juga merupakan keluarga terpandang, mereka hidup bahagia dan wanita itu melahirkan seorang putra mahkota.

"Namanya adalah Uchiha Izuna. Sebagai pangeran pertama generasi ke-9 kerajaan Uchiha."

Izuna tumbuh menjadi anak sekaligus pangeran yang terdidik dan memiliki kepintaran di atas rata-rata, sikapnya yang baik dan lemah lembut, bahkan kesopananya sering mendapat pujian, kedua orang tuanya berpesan jika dia sudah memiliki jodohnya bahkan sebelum dia lahir, yang akan mendampinginya nanti seorang gadis yang bermarga Haruno.

"Baik ayah." Ucap Izuna, dia merasa tidak masalah akan hal ini, dia pun sangat patuh pada kedua orang tuanya, menunggu hingga dia besar nanti dan menemui calon pasangan hidupnya itu.

.

.

"Aku tidak menyangka, bahkan kau akan jauh lebih dulu menikah." Ucap Itachi.

Saat itu umur mereka masih 17 tahun.

"Aku hanya menjalankan amanah dari kakek buyut." Ucap Izuna. "Bagaimana dengamu?" Tambahnya.

"Aku akan menikah dengan seorang putri dari kerajaan Kagura, putri Izumi."

"Aku senang mendengarnya."

"Kau di situ? Aku mencarimu." Ucap Sasuke, masih berumur 14 tahun.

"Ada apa, Sasuke?"

"Ayah memanggilmu."

"Uhm, baiklah." Ucap Itachi. "Lain kali kita akan bicara lagi." Itachi beranjak dari sana setelah pamit pada Izuna.

"Lama tak jumpa Sasuke." Sapa ramah Izuna.

"Hn, lama tak berjumpa, Aniiki, kami pergi dulu." Ucap Sasuke dan pamit pada Izuna.

Hubungan layaknya saudara yang terbentuk, Itachi dan Izuna begitu akrab, mereka akan selalu bersama dan menghabiskan waktu selayaknya saudara, begitu juga Sasuke, dia sangat menghormati Izuna sebagai kakaknya, beda halnya dengan pangeran Shisui yang sedikit lebih muda dari Itachi dan Izuna.

Pada akhirnya.

"Pangeran Ren, kami mencabut tahtamu sebagai pangeran, calon raja pertama dan mengusirmu dari kerajaan, statusmu sebagai anggota keluarga kerajaan telah di hapuskan dan sekarang pergilah dari sini!"

Pangeran Ren di usir dengan tidak hormat. Mereka di biarkan tinggal di luar istana, namun atas permintaan pangeran Fugaku, Izuna akan di tetap tinggal di istana.

Pangeran Fugaku di angkat menjadi raja, sebuah amanah balas budi di berikan padanya.

"Aku akan menunjuk pangeran Sasuke sebagai yang akan menjalankan amanah ini." Ucap raja Fugaku.

"Baik, ayah." Ucap Sasuke, dia menerimanya, amanah yang turun padanya, ayahnya sudah tidak bisa menjalankan amanah itu dan kakaknya pun sudah menikah.

Ending Flashback.

Ending Normal Pov.

.

.

.

.

.

Serasa baru saja melihat perang dingin antara pangeran Izuna dan pangeran Sasuke, mereka tidak akur sepertinya.

"Ayah dan anak sama saja, ambillah tahta kami dan ambillah amanah itu, kalian bahkan tidak akan puas hingga memakan daging kami."

Ucapan pangeran Izuna kembali terdengar, dia berbicara seperti itu tapi menahan emosinya. Sasuke tidak menanggapinya dan mengajakku untuk segera kembali.

"Aku sudah memperingatkanmu tentang pangeran Izuna, kenapa masih membangkang juga?" Ucap Sasuke.

"Kami hanya berbicara dan tidak lebih."

"Berbicara apa di saat jam segini? Kau seharusnya kembali ke kediaman dan tidak berbicara padanya."

"Hanya berbicara kebenaran yang ada, apa karena itu kau tidak menyukai pangeran Izuna?" Ucapku.

Tatapan Sasuke berubah, jadi semakin dingin dan hanya ada tatapan kosong dari mata kelam itu.

"Kau tahu pun tidak akan ada yang berubah, amanah itu sudah berpindah tangan, ingatlah posisimu sekarang." Ucap Sasuke.

Menatapnya dan menghela napas, bahkan aku sengaja menghela napas berlebihan agar dia melihatnya.

"Selamat tidur." Ucapku dan segera berbaring di ranjang, aku ingat jika masih marah pada Sasuke, dia masih tidak memberiku ijin untuk kuliah.

.

.

.

.

.

"Aku pikir Yang mulia tidak akan datang setelah pembicaraan hari itu." Ucap Izuna.

Hari ini seorang dayang dari kediaman pangeran Izuna menyampaikan permintaan pangeran Izuna untuk sekedar minum teh dan berbicara santai bersama, aku rasa itu tidak ada salahnya, dia juga menambahkan sekedar menyambutku sebagai putri baru walaupun sudah lewat, aku tersanjung akan sikap baik pangeran ini.

"Jangan konyol, aku tidak akan bersikap seperti itu padamu-" Aku keceplosan lagi dan segera menutup mulut, menarik napas dan menghembuskan, sopan mode on. "Maaf Yang mulia, aku hanya kurang bisa mengontrol cara berbicara tidak sopanku, aku sangat berterima kasih atas sambutan hangat ini dari Yang mulia, dan juga, aku tidak perlu membangun sebuah tembok hanya karena masalah keluarga Yang mulia, menurutku sedikit tidak adil, dalam hal ini Yang mulia tidak ada salah apa-apa." Ucapku, itulah yang terpikirkan olehku, ayahnya yang bersalah kenapa harus menyeret anaknya juga? Aku rasa pangeran Izuna perlu kesempatan untuk dirinya sendiri.

"Apa pangeran Sasuke akhirnya menyerah dan membiarkan istrinya keluar?"

"Sayangnya dia tidak sedang berada di kediaman, pangeran Sasuke, eh, maksudku suamiku sedang bekerja." Ucapku, apa jika dia ada sekarang di kediaman, apa dia akan melarangku menemui pangeran Izuna? Aku tidak tahu.

Pembicaraan sederhana dan membuatku merasa cukup nyambung saat berbicara dengan pangeran Izuna, dia pandai memilih topik pembicaraan, aku sampai curhat akan masalah Sasuke yang tidak memberiku ijin untuk kuliah.

"Jika aku ada di posisi Sasuke, aku akan mengijinkanmu, di jaman sekarang pendidikan sangat penting khususnya untuk perempuan, tidak ada salahnya menjadi pintar dan bisa mendapat kedudukan yang sederajat dengan para pria, aku cukup mendukung hal ini."

Dia membuatku terkesan, aku harap pemikirannya itu bisa pindah pada Sasuke, dia mungkin akan langsung memahamiku.

.

.

Menatap layar laptopku, masih terfokus pada informasi universitas, aku harus bisa membuat Sasuke mengijinkanku, setelah berbicara dengan pangeran Izuna, aku semakin termotivasi. Menatap sekeliling ruangan, liburan setelah ujian membuatku harus selalu sendirian di rumah dan jadwal kegiatan sebagai putri sedang tidak ada, aku bisa bersantai, berkeliling di istana, melihat banyak barang peninggalan, Sasuke selalu sibuk dan kami sangat jarang menghabiskan waktu, aku tidak akan marah lagi untuk berusaha membujuk Sasuke tentang masalah kuliah itu.

Pintu terbuka dan aku melihat Sasuke pulang, dia cepat pulang? Tumben, menaruh laptopku di meja dan menyambutnya, aku akan berusaha membujuknya seperti apa yang di sarankan pangeran Izuna, ada beberapa pengawal di belakang Sasuke.

"Jangan mencoba masuk apapun yang kalian dengar dan jaga di depan pintu, jangan biarkan siapapun yang masuk." Ucap Sasuke kepada para pengawal. Mereka segera keluar dan Sasuke mengunci pintu.

"Kau pulang lebih awal, suamiku?" Ucapku padanya, tapi ucapanku sama sekali tidak mendapat jawaban, pria itu berjalan dan kini tatapan marah yang bisa aku lihat, tangan kekar itu menggenggam lenganku dengan sangat kasar, menarik dan menghempaskanku di ranjang begitu saja.

"A-ada apa, suamiku?" Ucapku, takut, Sasuke tidak seperti biasanya. marah yang sangat berbeda. Menatapnya tengah membuka jas dan melonggarkan dasinya.

"Aku sudah katakan padamu berkali-kali, kenapa masih membangkang juga!" Kini nada suara itu meninggi.

"Aku tidak mengerti?" Ucapku, aku semakin takut.

"Para dayang melapor kau bertemu pangeran Izuna, bagus sekali, aku tidak tahu jika kau seperti ini, apa kau lupa posisimu putri, kau lupa statusmu? Apa aku harus menegaskannya sekarang juga?" Kali ini nada suara yang terdengar angkuh.

"Kami hanya minum teh bersama dan saling berbicara, aku pikir itu sebuah hal yang tidak masalah." Ucapku.

"Tidak masalah katamu? Kau mengabaikan peringatanku!"

Terkejut, Sasuke menarikku kasar dan menindihku, sebuah ciuman yang kasar di sana dan gigitan pada leherku.

"Sakit! Sasuke, hentikan! Aahhhkkk!" Teriakku, aku tidak akan memanggilnya dengan sopan kali ini.

Takut dan takut, hanya itu yang terus berputar di kepalaku, menghalangi apa yang ingin Sasuke lakukan hingga membuatnya semakin marah, menjerit kesakitan dan teriak pada Sasuke untuk berhenti, seakan hanya ada kami berdua. Pria itu mengangkat tubuhnya dan tangan itu mulai melayang mengarah pada wajahku, segera menghalangi tangan itu dengan menggunakan kedua lenganku, aku tidak merasakan tangan Sasuke menyentuh kedua lenganku, mengintipnya dari sisi lenganku, dia berhenti, Sasuke berhenti dan gerakannya seperti siap akan menamparku, tatapan marah itu berubah perlahan menjadi tenang, rambutku berantakan sama halnya kimono yang ku pakai, penampilanku setengah tanpa busana dan memperlihatkan bagian yang selama ini aku tutupi dari Sasuke, bibirku terasa bengkak dan leherku sakit-perih, tapi Sasuke segera menahan diri dan tidak melakukannya, dia tidak sampai melakukan apa yang tidak ingin aku lakukan bersamanya sebelum dia memahami apa itu cinta.

Air mataku menetes dan aku yakin teriakkan ku tadi bisa terdengar hingga ke ruangan para dayang yang tidak jauh dari kamar kami, tapi mereka seakan tuli, apa ini sebabnya Sasuke menyuruh para pengawal itu berjaga dan tidak boleh masuk apapun yang mereka dengar? Kedua lenganku masih tidak berpindah dari wajahku, aku menutup wajahku yang kacau. Aku tidak bisa menahan suara isak tangisku, detik berikutnya, sebuah pelukan, pelukan lembut dan penyesalan yang aku dapat.

"Maaf." Bisik Sasuke di telingaku, dia meminta maaf.

Mungkin inilah yang terjadi jika aku terus membangkang pada Sasuke, dia marah, sangat marah, baru kali ini aku melihatnya, bahkan itu pada pangeran Izuna, dia tidak peduli, bahkan itu padaku.

"Aku mencintaimu." Bisiknya lagi.

Akhirnya aku mendapat sebuah pengakuan dari seorang pangeran arogan, sayangnya pernyataan itu tidak begitu tepat, seakan habis mendapat kecelakaan parah dan mendapat luka patah tulang di seluruh tubuhku dan dia hanya meminta maaf dengan entengnya, ini sangat tidak tepat.

.

.

TBC

.

.


udpate...~ update...~

terima kasih doanya, *terharu* punggung belum sembuh malah kena flu kemarin hingga sekarang, wkwkwkwk tapi tidak apa-apa, author anak yang rajin minum obat(?)

chapter ini sedikit agak anu gitu yaa... gara-gara chapter ini, author ubah rate jadi rate M, biar aman gitu, tapi cuma chapter ini kok, di sini author cuma mau kasih lihat sosok lain dari si sasuke dan mungkin atau semoga tidak jahat gini lagi *malah spoiler* wkwkwkw.

untuk chapter ini ada flashback tentang Izuna dan sasuke terus uhmm.. chapter berapa lagi yaa, bakalan ada cerita lengkapnya, di sini kurang lengkap sih, cuma bayangan doang. ehehehehe. *malah spoiler lagi*

yang minta salam buat pangeran Izuna sudah author sampaikan yaa... katanya salam balik sambil tangan bentuk hati *ala oppa-oppa gitu* eehehe.

.

.

see you next chapter yoo, jangan sampai bosan sama fic ini, hehehehe