21. BAHAYA DARI CERMIN

Mereka benar-benar sudah pergi. Ya, benar... mereka sudah meninggalkannya lagi. Sambil terus menatap langit, Xion berusaha untuk tidak memperlihatkan air matanya pada orang-orang. Sebenarnya dia ingin mengantar kepergian mereka, tetapi dia tidak bisa. Karena dia pasti akan menangis. Apalagi Vanitas, sudah bisa bertemu, tetapi dia harus pergi lagi tidak lama kemudian. xion ingin sekali marah-marah padanya. Marah-marah sambil melontarkan kalimat seperti 'apa kau tidak mengerti perasaanku? Kenapa kau meninggalkanku lagi?', tetapi tentu saja dia tidak melakukannya. Karena Vanitas pergi juga untuk menyelamatkan dunianya, dan juga dirinya. Dia akan mempertaruhkan nyawanya, demi menyelamatkan orang-orang yang bahkan bukan kaumnya sendiri. Kalau dipikir-pikir, mulia sekali ya mereka?

Setelah menghapus air matanya sebisa mungkin, Xion mencuri pandang ke belakang. vanitas serta yang lainnya masih sedang berdiskusi dengan Yen Sid. Vanitas terlihat begitu serius, dan dia juga tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun, bahkan padanya. Kalau diingat-ingat, Vanitas sebelumnya dimarahi karena dia tidak fokus, jadi mungkin Vanitas tidak mau mengulanginya lagi. Xion mengembalikan tatapannya pada langit, dan tidak lama kemudian dia mendengar suara kepakan sayap. Pasti mereka sudah pergi sekarang. Yah, kini dia sendirian lagi.

Dengan diam, Xion berlari keluar ruangan dan menuruni tangga. Rasanya Xion ingin mencari tempat lain yang dapat membuat perasaannya lebih baik. Karena itulah dia hanya terus dan terus menuruni tangga tanpa tujuan. Rasanya dia betul-betul putus asa.

Tetapi... tidak, bukan putus asa.

Mungkin lebih tepatnya...

Yah, cengeng.

Haha, lucu juga ya. Kenapa dia bisa jadi berubah drastis begini karena seorang laki-laki?

Eh? Seorang? Benarkah hanya seorang saja?

Setibanya di lantai paling bawah, Xion menghapus air matanya dan berjalan menuju sofa. Tetapi niat itu dia hentikan ketika dia melihat sebuah pintu berwarna hitam yang letaknya tidak jauh darinya. Sekilas, pintu itu memang tidak menarik perhatian sama sekali, tetapi entah kenapa Xion tertarik. Seolah-olah, ada sesuatu dari dalam sana yang menariknya. Hingga tanpa Xion sadari, dia berjalan menuju pintu itu dan membukanya. Tanpa adanya rasa ragu sedikitpun, dia langsung melangkah masuk.

Ketika dia sudah berada di dalam, Xion kira dia akan disuguhi oleh berbagai macam peralatan dan perlengkapan untuk sihir hitam. Berhubung ruangan ini serba gelap. Tetapi ternyata tidak apa-apa selain cermin enam arah yang terletak di tengah-tengah. Ya, hanya cermin itu saja yang ada ruangan nyaris tanpa penerangan ini. Xion memiringkan kepalanya karena heran, dan kemudian dia berjalan ke tengah-tengah cermin itu. Berhubung ini bukanlah dunia manusia, Xion rasa dia akan melihat hal yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Mungkin seperti melihat pemandangan lain, atau yang lebih hebat seperti melihat masa lalunya. Tetapi selama apapun Xion menatap cermin itu, tidak ada apa-apa selain pantulannya sendiri.

"Kelihatannya memang tidak mungkin."

Xion membalikkan badannya dan berjalan menuju ke pintu. Tetapi tiba-tiba saja dia dikagetkan dengan sesuatu yang tiba-tiba melayang di depan wajahnya. Ketika Xion mengambilnya, barulah dia tahu benda apa itu.

Bunga.

Sejumlah bunga berwarna merah muda inilah yang melayang barusan di depan wajahnya. Dan tiba-tiba saja, jumlah bunga itu semakin banyak.

Xion merasa aneh, tetapi entah kenapa dia juga merasa tenang berkat kelopak-kelopak bunga yang mulai memenuhi lantai ini. Kesedihannya berangsur-angsur lenyap. Dan tanpa Xion sadari, mulutnya menyunggingkan sebuah senyum. Bukan senyum kesedihan seperti sebelumnya, melainkan senyum kebahagiaan. Hatinya benar-benar merasa bebas. Padahal di sini dia hanya bisa melihat pantulan dirinya dan hujan kelopak bunga yang masih belum berhenti, tetapi entah kenapa semua itu sudah cukup untuk membuatnya bahagia.

Bunga yang tidak Xion ketahui namanya. Bunga itu seolah mampu mengetahui kegundahan hatinya, dan kemudian menyerapnya sampai habis. Apakah ini adalah salah satu sihir juga? Baru Xion tahu ada sihir sejenis ini.

Bagaikan balerina, Xion berputar-putar di tengah-tengah cermin itu. Dia juga menggerakkan badannya—menari—meski hanya berupa gerakan-gerakan singkat. Seolah ada musik orkes yang melanun di belakangnya. Astaga, rasanya dia seperti balerina saja.

"Entah kenapa, rasanya menyenangkan sekali," pikir Xion.

Xion menari dan terus menari, walau sebenarnya dia tidak bisa menari. Seolah terhipnotis oleh sesuatu, dia melakukan gerakan yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Berputar, melompat, dan berputar lagi. Dan ketika kakinya menapak lantai, dia langsung terjatuh karena kelelahan. Kaki dan tangannya kaku karena dia tidak terbiasa menari. Tetapi aneh, bukannya rasa sakit yang dia alami, dia malah merasa senang. Seolah tidak mengalami apa-apa. Bahkan dia juga masih bisa tertawa.

Xion berusaha bangun sambil membersihkan celananya yang terkena debu, dan kemudian pandangannya mengarah pada cermin di hadapannya. Tetapi ada yang aneh kali ini. Bayangan yang ada di cermin itu bukanlah pantulannya. Malahan... tidak ada pantulannya sama sekali! Bayangannya saja tidak ada! Xion mendekat dan menyentuh kaca itu, tetapi sama saja. Sama sekali tidak ada pantulan dirinya di cermin itu, bahkan siluetnya saja tidak ada. Senyum di wajah Xion langsung lenyap. Dan Xion langsung melangkah mundur tanpa melepaskan pandangannya pada cermin itu.

Sebuah bayangan hitam muncul di cermin itu. Bayangan hitam bercampur dengan warna keunguan, sama seperti ketika Demyx muncul. Bayangan itu berkumpul di tengah-tengah cermin, dan kemudian menyebar kembali membentuk sosok seseorang. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya sosok itu sempurna sehingga Xion dapat melihat wajahnya.

"Va... ni?"

Entah apa sebabnya, sosok Vanitas lah yang muncul di cermin. Vanitas dengan sosoknya yang asli, yang berdiri dengan sayapnya yang melebar. Xion sungguh tidak mempercayai apa yang dia lihat. Tetapi toh, dia berjalan mendekat juga. Karena rasa rindunya melebihi rasa penasarannya. Xion berjalan secara perlahan mendekati cermin itu, dan semakin dekat dia, semakin cepat juga langkahnya. Xion mengulurkan tangannya, dan entah kenapa bayangan Vanitas seperti menerima uluran tangan itu. Semakin dekat. Semakin dekat. Tinggal sedikit jarak lagi sampai jari-jari Xion menyentuh permukaan cermin itu.

Kemarilah, kemarilah.

Suara itu tiba-tiba terdengar di kepala Xion. Suara laki-laki, lebih tepatnya suara Vanitas. Apakah dia juga merindukannya sama seperti Xion juga merindukannya? Apakah dia ingin Xion untuk segera datang ke tempatnya?

Kemarilah, kemarilah.

Tangan Xion akhirnya hampir mencapai cermin itu. Ketika Xion mulai senang karena dia kira dia bisa bertemu Vanitas lagi, sebuah tangan tiba-tiba saja keluar dan mencengkranya secara paksa. Xion kaget dan mengira itu adalah tangan Vanitas, tetapi ternyata bukan. Bayangan Vanitas masih tetap sama dengan yang ia lihat sebelumnya, tidak bergerak. Kalau begitu tangan siapa ini? Dan sepertinya ini bukanlah tangan manusia dilihat dari warna dan kukunya yang begitu tajam. Kenapa juga Vanitas hanya diam saja? Kenapa dia tidak menolongnya?

Tangan yang satu lagi tiba-tiba muncul dan ikut menarik tangan Xion. Tenaganya sangat kuat sehingga mampu menarik Xion hingga memasuki cermin itu. Xion menutup matanya ketika kepalanya memasuki cermin itu, dan ketika ia membuka matanya, ia langsung 'disuguhi' oleh wajah makhluk yang tidak dia kenal. Wajahnya sungguh menyeramkan dengan enam mata dan taring yang tajam di mulutnya. Memiliki empat tangan, dan di belakangnya terdapat sebuah gunung yang terdiri dari tumpukan... mayat. Astaga, ternyata ini adalah cermin setan!

Sambil terus meronta, Xion berusaha untuk menarik dirinya kembali. Tetapi sangat susah, tangannya terlihat tidak bergeming sama sekali, benar-benar kalah jauh. Ya ampun, apakah dia akan mati di sini? Apakah dia akan menjadi salah satu bagian dari gunung mayat itu?

"Awas!"

Sebuah cahaya berwarna merah muncul dan mengenai muka makhluk itu sehingga dia melepaskan tangan Xion. Kesempatan! Xion langsung mengeluarkan dirinya dari sana dengan cepat dan akhirnya dia kembali ke dunia asal lagi. Napasnya terengah-engah karena rasa takut dan gugup yang bergabung menjadi satu. Dan di belakangnya, terdapat sosok Flora, Fauna, dan Merryweather yang tidak melepaskan pandanganya dari cermin itu. Ternyata mereka bertiga yang menolongnya tadi.

Mereka datang menghampiri Xion dengan wajah khawatir.

"Kau tidak apa-apa, sayang?" tanya Fauna. "Apa kau terluka?"

"Ti—tidak, terima kasih sudah menolongku."

"Itu sudah seharusnya."

"Xion, kenapa kau bisa memasuki ruangan ini?" tanya Flora.

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku... tiba-tiba saja aku merasa tertarik dengan ruangan ini."

"Lalu, kenapa kau bisa masuk ke cermin itu?"

"Soalnya... soalnya aku melihat Vanitas di sana. Dia tersenyum padaku sambil mengulurkan tangannya. Karena itu aku—"

"Itu semua hanya ilusi," kata Merryweather.

Xion terdiam karena kaget.

"Cermin itu bukan cermin biasa, ada heartless berbahaya yang berdiam di dalamnya. Karena itulah Master Yen Sid memutuskan untuk meletakkannya di ruangan ini. Agar tidak ada orang lain yang menyadari dan menghampiri cermin ini," kata Merryweather. "Cermin ini memanfaatkan rasa sedih manusia. Mereka menyerapnya, dan kemudian dijadikan kekuatan untuk menarik targetnya ke dalam, dengan cara apapun. Jika kau sudah di dalam cermin itu seutuhnya, kau tidak akan bisa keluar lagi. Jiwamu akan dimangsa dan kau akan mati."

Memangsa kesedihan?

"Karena itulah, perasaan bahagia yang kau rasakan barusan itu hanyalah ilusi. Jangan sampai terperangkap di dalamnya, Xion."

"Untung saja tadi kami sempat menolongmu," kata Fauna.

Xion hanya terdiam ketika mendengar penjelasan mereka. Jadi perasaan bahagia yang tadi dirasakannya, hujan bunga-bunga merah muda, serta bayangan Vanitas. Semua itu hanya ilusi semata? Semua itu bohong? Bayangan Vanitas yang sedang tersenyum padanya, yang mengulurkan tangan padanya, semua itu benar-benar hanya ilusi? Merenungkan semua itu membuat lutut Xion menjadi lemas sehingga kini dia berada dalam posisi berlutut. Air mata kesedihan mengucur deras di matanya. Dia sungguh sakit hati karena dia merasa dibohongi. Flora, Fauna, dan Merryweather segera berusaha untuk menghiburnya. Xion terus menangis sampai sepuluh menit lebih, sampai akhirnya tangisannya berhenti.

Mereka berempat meninggalkan ruangan itu dan berjalan ke sebuah kamar yang terletak di belakang tangga. Xion tidak menyadarinya karena tertutup besarnya tangga itu. Sebuah kamar tidur berukuran kecil, yang isinya tidak terlalu ramai. Hanya ada ranjang dan lemari kecil. Untung penerangannya, Merryweather memelayangkan tongkatnya ke atas langit dan menciptakan sebuah bola cahaya kecil. Yen Sid memutuskan untuk tidak memulangkan Xion sampai saatnya tepat. Mungkin lebih tepatnya, sampai Yen Sid memastikan bahwa keadaan sudah benar-benar aman. Dan sepertinya akan makan waktu, jadi Yen Sid memutuskan untuk menampung Xion lebih dulu. Xion mengangguk sebagai tanda kalau ia mengerti.

Xion berjalan ke ranjang dan kemudian merebahkan tubuhnya. Perasaannya sudah lebih tenang sekarang, meski rasa sedih masih terasa.

"Vani, Riku, dimana kalian sekarang?" tanyanya. "Seandainya aku bisa tahu kalian dimana."

"Aku bisa membawamu ke tempat pria yang kau cintai, asal kau tahu."

Suara itu membuat Xion langsung terbangun, dan tiba-tiba di hadapannya muncul sosok wanita bertanduk yang mengenakan jubah dan di tangannya terdapat tongkat panjang.

"Apa kau mau ikut denganku?"

"Siapa kau?" tanya Xion. "Dan kenapa kau bisa kemari?"

"Namaku adalah Maleficent," jawabnya, "aku adalah penyihir yang tinggal di World of Never Was."

"Penyihir?"

"Ya, sama seperti Yen Sid yang tinggal di sini. Dengan sihirku, sangat mudah bagiku untuk menemukanmu."

"Lalu, bagaimana kau bisa tahu namaku?"

"Oh, kalau itu aku tidak menggunakan sihir," kata Maleficent. "Aku melihat melalui ingatan Vanitas, tepatnya saat aku menyerangnya."

"Menyerangnya? Maksudmu... kau yang menyerang Vani saat itu?"

"Hoo, ternyata mereka sudah menceritakan itu padamu ya?" tanya Maleficent yang setelah itu tertawa. "Dan itu memang benar."

Xion menggertakkan giginya karena kesal.

"Nah, daripada membicarakan itu, lebih kau pikirkan tawaranku sebelumnya. Apa kau mau bertemu dengan Vanitas? Aku bisa membawamu ke sana."

"Kau kira aku akan percaya denganmu?"

"Setelah memperlihatkan ini, ya."

Maleficent mengerahkan tongkatnya ke tembok dan memunculkan sebuah cermin raksasa. Dan dari cermin itu, terlihat sebuah gambar. Gambar Vanitas yang sedang terbang dengan Riku dan keluarganya.

"Vani?" kata Xion.

"Bagaimana? Kali ini kau percaya, kan? Jika kau masuk lewat cermin ini, kau akan langsung bertemu dengannya?"

"Masuk ke cermin katamu?"

"Ya, hanya tinggal masuk, mudah kan? Daripada kau hanya diam di sini?"

Xion terdiam dan menundukkan kepalanya.

"Kudengar Xehanort sangat kuat. Jika kau terlambat, mungkin kau tidak akan bisa bertemu dengannya lagi," kata Maleficent yang setelahnya tertawa. "Karena dia pasti mati."

Kalimat terakhir Maleficent memancing reaksi Xion dan amarah. Sambil turun dari ranjang dengan niat untuk menghajar Maleficent, tiba-tiba saja ada sebuah cahaya berwarna merah yang datang dari sebelah kiri. Cahaya merah itu langsung membakar Maleficent hingga akhirnya hilang.

"Jangan termakan ucapannya, Xion."

Yen Sid melangkahkan kakinya memasuki ruangan Xion, dan kemudian dia memasukkan kembali tongkat sihirnya. Ternyata yang barusan itu adalah perbuatannya?

"Maleficent ahli dalam mempermainkan perasaan manusia, terutama yang sedang bimbang dan sedih sepertimu. Yah, tidak berbeda dengan cermin setan yang hampir membunuhmu tadi."

"Tadi... tadi dia..."

"Tadi itu bukanlah Maleficent yang asli, Xion. Tadi itu hanyalah bayangannya, yang entah kenapa bisa memasuki tempat ini."

"Tapi, kenapa dia mengincarku?"

"Mungkin karena kau memiliki hubungan spesial dengan Vanitas. Dia ingin menggunakan kau untuk memancingnya."

Yen Sid membalikkan tubuhnya.

"Sepertinya kau memang harus dipindahkan ke tempat yang aman. Kau tidak boleh di sini terus."

"Tetapi... aku harus kemana?"

"Aku memiliki seorang teman yang tinggal di Disney Castle, namanya adalah Mickey. Tempat itu dilindungi oleh semacam kekuatan suci yang dipancarkan Cornerstone of Light, aku yakin kau akan lebih aman di sana."

"Eh? Disney Castle?"

"Maleficent sudah mengetahui posisimu, karena itu kita harus cepat."

Yen Sid mengeluarkan tongkat sihirnya kembali, dan mengayunkannya pada Xion. Cahaya putih yang keluar dari tongkat langsung mengelilinginya dan melenyapkannya entah kemana. Xion benar-benar tidak diberi kesempatan bahkan hanya untuk berbicara sama sekali. Padahal, dia ingin meminta Yen Sid untuk memperlihatkan keadaan Vanitas walau hanya sebentar saja. Tetapi dalam sekali kedipan mata, Xion sudah berada di tempat lain. Sebuah ruangan besar yang di depannya terdapat dua buah kursi tahta, ada yang duduk di sana. Tetapi mereka bukan manusia. Mereka malah lebih seperti... tikus? Yang sebelah kiri mengenakan gaun dan mahkota, sementara yang sebelah kanan mengenakan jubah kerajaan dan mahkota juga.

"Oh! Kau mengagetkanku!" kata tikus yang ada di sebelah kanan. "Kau tamu?"


A/N : Yap, akhirnya selesai juga. Terima kasih buat yang udah ikutin cerita ini. Mohon read sama review yah, saya sangat membutuhkannya. Maaf kalau ada kesalahan.