ANTIFAN

Jongin: Anak itu tidak pernah pacaran seumur hidupnya / Luhan: Aku akan menikah dengannya bulan depan. Benar kan Sehun-ah? / Sehun: Aku hanya melakukan CPR, bukan menciumnya / Kyungsoo: Aku bertaruh kalian akan putus / Baekhyun: Itu yang kuharapkan / Lay: Gadis itu seperti obat yang dikirimkan Tuhan untuk Kris / Xiumin: Baru saja ada berita pesawat jatuh, kudengar banyak penumpangnya menghilang / Chanyeol: Dunia ini bulat,tidak peduli seberapa jauh kau pergi, sama seperti bus sihir, kau akan kembali ke tempat dimana kau berada. Asal kau kembali, aku akan baik-baik saja / CHAPTER 21 UPDATE!

Cast :

Park Chanyeol EXO as an Actor

Byun Baekhyun EXO as a Girl

And other cast of EXO member

Tao mondar-mandir di depan kamar Baekhyun dengan gusar. Tao menekan tuts ponselnya untuk menghubungi Sehun. Ia menggigit bibir bawahnya dengan cemas karena lelaki itu tidak kunjung mengangkat teleponnya.

"Wae? Wae? Wae?!"

Untuk pertama kalinya Tao merasa lega mendengar suara galak Sehun. Tao menebak ia pasti mengganggu tidur nyenyak sahabatnya. Suara Sehun terdengar serak seperti baru bangun tidur.

"Kenapa kau lama sekali mengangkat teleponmu?", Tao langsung bicara terburu-buru.

"Harusnya aku yang tanya kenapa menelponku tengah malam?", suara Sehun terdengar menggerutu.

"Baekhyun… Baekhyun…", Tao menyebut nama Baekhyun masih dengan berjalan bolak-balik.

"Ada apa dengan noona?", suara Sehun terdengar khawatir.

"Entahlah, ia pulang ke rumah dengan menangis lalu masuk kamar tanpa bicara"

"Menangis?"

"Ya"

"Mengapa?"

Tao memutar matanya, "Ya ampun mana aku tahu. Bukankah kalian keluar bersama? Aku menelponmu karena ku pikir kau tahu sesuatu"

"Sehun… kau mendengarku?", Tao pikir Sehun jatuh tertidur saat bicara dengannya, karena tidak terdengar suara balasan sama sekali.

"Eoh? Ya… aku saja dia sendirian. Kita bisa bertanya padanya besok"

"Kau yakin tidak apa-apa membiarkannya sendirian?", tanya Tao ragu dengan ide temannya.

"Hm, sekarang tidurlah. Kita bicara lagi besok. Oke?"

"Baiklah, selamat malam", Tao mematikan teleponnya. Ia menggenggam benda elektroniknya itu erat-erat. Matanya mengawasi pintu kamar Baekhyun dengan khawatir. Tadi Baekhyun pulang dengan penuh air mata. Saat Tao bertanya ada apa, gadis itu malah bersembunyi di kamar dan menguncinya.

-ANTIFAN-

Kyungsoo dan Jongin duduk di sudut sebuah restoran. Mereka saling berbincang soal pernikahan dan banyak hal. Di tengah perbincangan, seorang wanita berambut coklat madu mendekati meja mereka.

"Kyungsoo-ssi? Jongin-ssi?", sapa wanita itu sopan.

Kyungsoo dan Jongin sempat terkejut namun mereka segera menyadari siapa wanita di depannya.

"Kau Luhan kan?", tanya Kyungsoo antusias.

"Kau mengenalnya?", tanya Jongin heran.

"Ya, aku Luhan"

"Wah, aku tidak menyangka desainer yang Sehun maksud adalah dirimu. Bukankah kau desainer terkenal dari Cina? Aku beberapa kali melihatmu di televisi", ujar Kyungsoo.

Luhan tersenyum mendengarnya. Untuk pertama kali, ada orang lain yang akhirnya menyadari siapa dirinya.

"Silahkan duduk", ujar Jongin mempersilahkan. Luhan menghirup nafas lega karena ia tidak salah mengenali orang. Untung saja malam sebelumnya Sehun menunjukkan foto Kyungsoo dan Jongin padanya .

"Kau ingin pesan apa?", tanya Kyungsoo.

"Terserah saja, aku tidak begitu tau menu restoran ini", balas Luhan dengan tersenyum. Kyungsoo mengangguk. Ia memanggil pelayan dan menyebutkan beberapa menu untuk mereka bertiga. Setelah mencatat, pelayan itu meninggalkan meja.

"Kalian terlihat serasi", puji Luhan.

Kyungsoo gembira mendengarnya. Sedangkan Jongin menyampaikan rasa terimakasih pada Luhan.

"Oh ya ngomong-ngomong bagaimana caranya Sehun bisa mengenalmu? Aku sangat terkejut", kata Kyungsoo.

"Dia pernah menolongku. Bila mengingat hari itu rasanya sangat memalukan. Aku mengotori pakaiannya secara tidak sengaja lalu aku menggantinya dengan menjahit kemeja lain untuknya"

"Oh, Sehun pernah cerita soal itu", seru Jongin.

"Aku sungguh tidak tahu itu pakaian yang sangat berharga untuknya. Bila aku tau itu buatan mantan kekasihnya, aku tidak akan merasa sebersalah ini", ujar Luhan dengan menunduk.

Kyungsoo mengernyit heran. "Mantan kekasih?"

Luhan mengangguk. "Dia bilang mantan kekasihnya menjahit sendiri untuknya"

Kyungsoo bertatapan dengan Jongin cukup lama. Saling bertukar bahasa dengan pandangan, namun setelahnya kedua orang itu tertawa lepas. Meninggalkan Luhan dengan wajah kebingungan.

"Sehun pasti mengerjaimu", ucap Kyungsoo disela-sela tawanya.

"Apa maksudnya?", tanya Luhan bingung.

"Anak itu tidak pernah pacaran seumur hidupnya. Bagaimana bisa dia memiliki mantan kekasih", jawab Jongin. Pria itu kemudian menggeleng pelan sambil tersenyum. Ia baru menyadari betapa liciknya Sehun terhadap gadis cantik.

Luhan terkejut mendengarnya. Matanya membulat tidak percaya. "Tidak mungkin, ia sendiri yang bilang padaku itu—"

Kyungsoo menggeleng pelan, "Aku yakin kau sudah dikerjai. Aku dan Sehun sudah berteman lama, dan aku sangat mengenalnya. Aku berani menjamin bahwa dia tidak pernah pacaran walaupun sekali"

Luhan terduduk lemas di kursinya. Ia mengingat bagaimana pandainya Sehun menipunya. Membuatnya harus dua kali menjahit kemeja karena bocah itu beralasan tidak menyukai warnanya. Luhan memilih bersabar karena ia sadar bahwa ia bersalah. Tapi setelah mendengar fakta ini, Luhan rasanya ingin segera berlari menemui Sehun dan menenggelamkannya ke dalam air. Bahkan ke samudra pasifik bila perlu. Luhan berjanji akan membalas dendam pada dokter albino itu.

"Kau baik-baik saja?", tanya Kyungsoo khawatir setelah melihat Luhan hanya melamun.

"Oh, y-ya aku baik-baik saja", jawab Luhan tidak fokus.

Setelah itu mereka bertiga mulai berbicara soal konsep pernikahan dan gaun seperti apa yang Kyungsoo inginkan. Luhan berencana mengajak Kyungsoo ke butiknya untuk melihat koleksi gaun buatannya. Dan Kyungsoo terlihat antusias karena segera menyetujuinya.

-ANTIFAN-

Baekhyun duduk lemas di kursinya. Ia tidak bisa fokus bekerja. Pikirannya terpecah kemana-mana. Kantung matanya bahkan sudah mirip dengan Tao karena tidak bisa tidur semalam. Baekhyun membuka lacinya dengan lemas, ia mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam sana. Matanya menatap amplop itu nanar.

Baekhyun tidak pernah tahu bagaimana takdir bekerja dalam hidupnya. Tadi atasannya baru saja memberikan surat pindah tugas ke luar negeri untuknya. Bukan Jepang, Cina, atau pun negara Asia lainnya, melainkan Ottawa, Kanada. Bayangkan betapa jauhnya jarak Korea-Kanada dan pikirkan juga perbedaan waktu Korea-Kanada yang belasan jam.

Ini seharusnya menjadi berita bagus. Baekhyun akan bekerja sebagai wartawan VOA Korea. Bekerja dengan gaji yang lebih banyak dan tinggal di tempat bagus karena perusahaannya yang akan memfasilitasi semua kebutuhannya. Selain itu ia juga akan lebih mudah berkarir dengan pengalaman bekerja di luar negeri.

Tapi Baekhyun menggelengkan kepalanya. Ini bukan pilihan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ia akan ke Kanada. Belahan dunia lain yang jaraknya bermil-mil jauhnya dari Korea. Ia akan tinggal di negara asing tanpa ayahnya, teman-temannya, dan juga kekasihnya… Park Chanyeol.

Dan buruknya, Baekhyun akan berada disana bukan hanya untuk menginap semalam atau dua malam melainkan satu tahun masa tugas. Itu artinya sama dengan dua belas bulan. Empat puluh delapan minggu. Tiga ratus tiga puluh enam hari. Delapan ribu enam puluh empat jam. Empat ratus delapan puluh tiga ribu delapan ratus empat puluh menit. Dua juta sembilan ratus tiga ribu empat puluh detik.

Baekhyun menunduk. Air matanya sudah meleleh sejak tadi karena memikirkan hal rumit yang membuatnya sesak bukan main. Kepalanya seperti berputar dan rasanya sangat memusingkan. Sebenarnya perusahaannya tidak memaksanya. Ia bisa pergi jika ia mau. Baekhyun ditunjuk karena ia satu-satunya pegawai yang diketahui lajang. Karena akan sulit memindahtugaskan seseorang yang sudah berkeluarga apalagi memiliki anak yang masih bersekolah. Selain itu Baekhyun dipilih karena ia lulusan sastra inggris sehingga tidak perlu meragukan kemampuannya berbahasa asing.

Perusahaannya juga memberikan kemudahan dengan memberi waktu untuk berpikir yang tidak sedikit. Selain itu mengurus kepindahannya juga membutuhkan waktu sekitar satu bulan sehingga Baekhyun bisa memikirkannya matang-matang. Tapi Baekhyun bukan mengkhawatirkan itu melainkan hal lain. Kris hanya memberinya waktu tiga hari untuk berpikir. Baekhyun rasanya seperti mau meledak. Ia harus mengambil keputusan besar dalam waktu tiga hari. Nyawa seseorang bergantung padanya. Dan ia harus menentukan pilihan. Pergi demi karirnya dan hidup seseorang yang bergantung padanya, atau tinggal karena cinta.

Drrt…

Drrt…

Ponsel yang diatur dalam mode getar terlihat menggeliat di meja kerjanya. Baekhyun meraih benda itu dan melihat siapa yang menghubunginya. Dan nama Chanyeol tertera disana dengan jelasnya. Baekhyun buru-buru menghapus air matanya. Setelah meyakinkan dirinya, Baekhyun pun mengangkat panggilannya.

"Yeoboseyo?", ucap Baekhyun pelan.

"Kau dari mana saja? Kenapa lama sekali mengangkat teleponku?", gerutu Chanyeol.

"Aku sedang bekerja. Ada apa menelponku?"

"Maaf aku tidak tahu. Aku hanya—merindukanmu"

"Jam berapa kau selesai bekerja? Aku akan menjemputmu", seru Chanyeol dengan suara senang. Berbanding terbalik dengan Baekhyun yang tidak begitu menanggapinya.

"Tidak perlu menjemputku, kurasa aku akan lembur"

"Benarkah? Kalau begitu akan kubawakan makan malam. Apa yang ingin kau ma—"

"Aniya… sudah ku bilang tidak perlu. Chanyeol sudah dulu, aku sedang sibuk. Akan ku hubungi lagi nanti"

Piiippp.

Suara telepon diputus secara sepihak. Di tempat lain, Chanyeol mengulang kata 'Yeoboseyo' berharap agar Baekhyun menjawab suaranya namun nihil. Pria itu menatap layarnya dengan ekspresi linglung. Entah mengapa ia merasa Baekhyun bersikap aneh hari ini. Apa sesuatu terjadi?

-ANTIFAN-

Luhan duduk dengan ekspresi datar di sebuah meja yang terletak di tengah restoran. Gadis itu memandang jam tangannya dengan gelisah. Duduk disini seakan waktu berjalan dengan sangat lambat.

Seorang lelaki duduk di depannya. Lelaki dengan warna rambut hitam yang disisir rapi, pakaiannya terlihat mahal dengan jas dan sepatu kulit bermerk. Wajahnya juga bisa dikatakan tampan dengan mata coklat yang tajam, hidung mancung, dan bibir tebal yang menawan. Setiap wanita normal pasti akan betah memandangi wajahnya namun tidak untuk Luhan. Gadis yang satu ini terlihat tidak tertarik sama sekali. Ia duduk disini bukan karena kemauannya melainkan terpaksa karena ayahnya yang terus mendesaknya.

Lelaki ini adalah Zhang Aron yang beberapa hari lalu ia dan ibunya bicarakan di telepon. Pria pilihan ayahnya yang akan dijadikan menantu. Menurut ayahnya Aron adalah lelaki sempurna. Luhan tebak sempurna yang dimaksud ayahnya adalah kekuatan ekonomi keluarganya. Anak seorang menteri dan keluarganya terkenal sebagai investor di Cina, asset keluarganya juga ada hampir diseluruh negara Asia, selain itu ia juga menjalankan bisnis hotel yang sangat sukses.

Luhan menenangkan dirinya sendiri. Dalam hati ia terus berkata, 'Tenanglah Luhan, hari ini adalah hari terakhir kau bertemu dengan pria ini.'

Gadis berambut coklat madu itu sudah merancang sebuah misi yang menurutnya sangat brilian dan pastinya sukses mengusir pria kaya ini menjauh dari hidupnya dengan sukarela. Mata rusanya terus memandang keluar pintu restoran. Berharap orang yang ditunggunya segera tiba.

"Kau tidak makan?", suara berat pria itu seperti menghantam pendengaran Luhan.

Gadis itu memutar matanya lalu menjawab dengan suara dingin, "Aku sedang diet"

Pria di depannya itu mengangguk pelan. Dari raut wajahnya terlihat sekali kekecewaan. Namun detik berikutnya ia berusaha tersenyum manis kearah Luhan.

"Apa kau mau ke restoran lain? Aku tau tempat yang menjual makanan rendah kalori", ujar lelaki itu.

Luhan tersenyum paksa, "Tidak usah, terimakasih", jawabnya.

Luhan sekali lagi melirik jam tangannya. Ini sudah setengah jam dan lelaki sialan itu belum juga datang. Luhan segera mengetik sms secara sembunyi-sembunyi dengan tangan tersembunyi di bawah meja.

"Hei dokter magang! Cepat datang kesini dalam waktu lima menit atau aku akan mati. Aku serius!"—SENT.

Setelah mengirim pesan, Luhan kembali memasukan ponsel ke dalam tasnya. Luhan memainkan jarinya dengan gugup. Ia sudah dua kali bolak-balik ke kamar kecil hanya untuk menelpon Sehun, tapi dokter magang itu bersikeras bahwa ia sedang bertugas dan tidak bisa pergi. Sekalipun Luhan sudah mengancamnya, sepertinya itu tidak berhasil karena Sehun justru memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Luhan benar-benar cemas. Bagaimana kalau Sehun benar-benar tidak datang? Semua rencananya akan berjalan sia-sia.

"Luhan?", suara Aron cukup mengejutkan Luhan yang sedang melamun.

"Ya?"

"Kau sedang memikirkan sesuatu? Sejak tadi aku melihatmu banyak melamun", ujar pria itu lembut.

"Tidak ada, aku—"

Luhan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia terlalu terkejut melihat siapa orang yang baru saja muncul dari pintu. Perasaan lega langsung menyergap hingga ke paru-paru. Luhan merasa senang bukan main. Ia ingin sekali melompat girang sekarang. Namun ia masih waras untuk tidak melakukannya. Luhan menyeringai, ia mengangkat sebelah tangannya dan memanggil Sehun.

Sehun baru saja tiba di restoran. Ia langsung mencari taksi dan melaju kesini seperti orang panik setelah pekerjaannya selesai. Luhan menelponnya terus-menerus seakan ada sesuatu yang penting. Gadis itu bicara seperti kiamat akan tiba apabila Sehun tidak datang. Jadi tanpa rasa curiga, Sehun segera berlari kesini untuk menemui wanita Cina yang cerewet itu. Sehun mengedarkan pandangannya ke seluruh restoran untuk mencari Luhan. Dan tak lama, ia melihat Luhan melambaikan tangan padanya.

"Sehun-ah!"

Sehun-ah? Apa Sehun tidak salah dengar? Ini pertama kalinya ia mendengar Luhan memanggilnya dengan nama itu.

Pria yang satu meja dengan Luhan menoleh ke belakang, tepatnya kearah pintu masuk. Ia mengernyit saat melihat seorang lelaki asing berjalan kearah mejanya.

Luhan menyembunyikan senyumnya. Senang sekali mengetahui misinya akan dimulai. It's showtime!

Luhan segera berdiri dari kursinya dan menarik Sehun mendekat kearahnya. Setelah itu hal mengejutkan terjadi. Tanpa aba-aba, Luhan mendaratkan bibirnya di pipi Sehun. Membuat dokter magang itu harus merespon apa yang baru saja terjadi karena terlalu shock. Masih tidak mengerti situasi apa yang sedang dihadapinya sekarang, Luhan malah semakin menambah kadar kebingungannya dengan bicara hal-hal konyol yang tidak Sehun mengerti.

"Kau dari mana saja? Aku sudah lama menunggumu", ujar Luhan dengan suara manja. Ia melingkarkan tangannya ke lengan Sehun. Membuat calon dokter itu mengerutkan dahinya semakin dalam. Bukankah Luhan tahu ia dari rumah sakit? Kenapa masih bertanya?

Sehun membuka mulutnya untuk bertanya, "Ada apa dengan—Ah!", Sehun meringis saat merasakan sakit di sekitar pinggangnya. Apa Luhan baru saja mencubitnya? Sehun menatap Luhan tajam namun yang ditatap hanya melotot agar Sehun diam. Namun Sehun tidak mengerti isyarat yang diberikan Luhan.

"Siapa?", tanya Aron, pria yang datang bersama Luhan. Pria itu terlihat bingung dengan situasi yang sedang dihadapinya. Sama bingungnya dengan Sehun.

"Oh, sebenarnya ini alasanku mengajakmu bertemu", ujar Luhan tenang.

Aron semakin kebingungan. Ia memandang Luhan dan Sehun bergantian dengan ekspresi bertanya-tanya.

"Aku ingin mengenalkanmu dengan pacarku. Namanya Oh Sehun"

"Pacar?—Ah!", sekali lagi Sehun berteriak kesakitan. Kali ini bukan pinggangnya, melainkan kakinya yang diinjak oleh sepatu hak tinggi Luhan yang menyakitkan.

"Pacar?", Aron terlihat terkejut. Matanya membulat sempurna seperti akan keluar.

Luhan mengangguk sebagai jawaban. Ia semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Sehun. Bermaksud memamerkan kemesraannya di depan Aron.

"Aku akan menikah dengannya bulan depan. Benar kan Sehun-ah?", ujar Luhan santai. Ia tersenyum kearah Sehun. Bukan senyum normal, tapi senyum mengancam. Dan Sehun kelihatannya cukup cekatan kali ini. Tidak ingin bagian tubuhnya yang lain merasakan sakit, pria itu memilih untuk tutup mulut.

"Me-nikah?"

"Ya, menikah", jawab Luhan.

"Tapi ayahmu bilang—"

"Ayahku belum tahu, aku baru akan membicarakan ini dengan ayahku"

Luhan bisa melihat ekspresi Aron yang menahan emosi. Terlihat dari caranya menggertakkan giginya. Wajahnya sudah memerah. Ia pasti merasa dipermalukan oleh Luhan. Pria Cina itu menatap Sehun tajam sebelum akhirnya pergi keluar restoran. Luhan tersenyum lebar. Rencananya benar-benar bekerja.

Setelah pria itu pergi, Sehun melepaskan tangan Luhan dengan paksa. "Ada apa denganmu?", tanya Sehun dengan nada suara meninggi.

Luhan menatap Sehun bingung karena ekspresi Sehun yang terlihat tidak baik. "Kenapa? Kau marah?", tanya Luhan dengan suara tidak yakin. Memangnya apa yang salah?

Sehun mengadah ke langit-langit lalu menghela nafas kasar. Pria itu kemudian menatap Luhan tajam. Bukannya bicara, Sehun malah berjalan cepat meninggalkan Luhan keluar restoran.

"Ya Oh Sehun!"

"Berhenti disana!

"Dokter Oh Sehun!"

Percuma saja. Sehun seperti tuli. Ia justru berjalan semakin jauh hingga menghilang keluar restoran. Luhan mematung di tempatnya beberapa detik. Mengapa jadi pria itu yang marah? Bukankah seharusnya Luhan sebagai pihak yang marah karena Sehun telah menipunya?

Karena berdiri disini tidak memberikan jawaban, Luhan buru-buru mengambil tasnya dan berlari untuk menyusul Sehun. Ia melihat Sehun sudah menjauh dengan langkah besar-besar. Luhan cukup kesulitan berlari dengan stiletto yang tingginya sembilan centimeter. Sekalipun ia sudah terbiasa mengenakan ini, tapi dipaksa berlari dengan sepatu hak tinggi belum pernah ia coba sebelumnya dan ternyata cukup sulit menyeimbangkan tubuhnya.

"Ya Oh Sehun! Berhenti disana!", seru Luhan disaat ia sedang berlari.

Sehun bohong bila ia mengatakan tidak mendengarnya. Ia hanya tidak ingin bicara dengan Luhan. Menurutnya Luhan sudah keterlaluan.

"Dokter Oh! Bisakah kau dengar aku? Ku bilang berhenti disana! Ku mohon berhen—AH!"

Terdengar suara keras di belakang Sehun. Pria itu mau tidak mau menoleh ke belakang. Matanya membulat sempurna saat melihat Luhan terduduk di atas trotoar. Sehun segera menyusul Luhan. Ia berjongkok di sebelah Luhan yang sedang meringis memegang pergelangan kakinya.

"Ah… kakiku", rengek Luhan hampir menangis. Ia merasa ngilu luar biasa pada pergelangan kakinya.

Sehun tanpa bicara membantu meluruskan kedua kaki Luhan. Ia melepaskan kedua sepatu Luhan yang berwarna keemasan. Ia sesekali melihat ekspresi wajah Luhan yang menahan sakit. Sehun menekan salah satu pergelangan kakinya dan reaksi Luhan langsung berlebihan.

"Ah! Itu sakit!", teriaknya. Saat Sehun menoleh, gadis itu sudah menangis. Sehun menghela nafas. Ia menduga Luhan terkilir karena terjatuh. Sehun sudah tahu apa sebabnya. Lihat saja sepatu hak tingginya yang berbahaya.

"Apa kau bisa bangun?", Sehun bertanya dengan suara dingin. Ia masih marah pada Luhan.

Luhan diam. Ia sendiri tidak yakin. Namun gadis itu berupaya menggerakkan kakinya untuk berdiri, tapi setelah itu rasa sakit luar biasa sangat kuat di sekitar pergelangan kakinya. Lagi-lagi ia meringis kesakitan.

Sehun memutar matanya. Ia terpaksa melakukan ini. Pria itu mendesis pelan melihat bagaimana pendeknya rok Luhan saat ini hingga menampilkan paha dan kaki jenjangnya. Sehun terpaksa melepas jaketnya. Ia menyampirkan jaketnya ke sekitar pinggang Luhan dan mengikatnya. Jarak tubuhnya yang sangat dekat dengan Luhan membuat gadis rusa itu menahan nafas saat dada Sehun berada tepat di depan wajahnya. Mengapa jantungnya berdebar begitu cepat?

Sehun kemudian menghadapkan punggungnya kearah Luhan. "Naik", suara pria itu lebih terdengar seperti perintah.

Luhan menatap punggung Sehun dengan tidak yakin. "Kau menyuruhku naik ke punggungmu?"

Sehun menoleh kearah Luhan dengan ekspresi datarnya. "Lalu kau akan duduk disini sepanjang malam?"

Luhan segera menggeleng pelan. Sehun sekali lagi mengulang kata untuk menyuruhnya naik dan Luhan langsung menurut. Kedua tangannya melingkar di leher Sehun. Tangan kanannya memegang tas dan tangan kirinya memegang sepasang sepatunya hingga kini Sehun sedang menggendong Luhan yang tidak mengenakan alas kaki.

Luhan menyembunyikan wajahnya di bahu Sehun. Mereka sudah berjalan cukup jauh dalam diam. Luhan berusaha bernafas teratur, jantungnya sejak tadi terus berulah. Luhan harap Sehun tidak mendengar detak jantungnya. Ini pasti memalukan.

"Mengapa kau selalu membuatku menggendongmu?"

"Ne?"

"Ini kedua kalinya aku melakukannya"

"Aku kan tidak memintamu"

"Kau tahu pelajaran apa yang aku dapat?"

Luhan mengernyit heran. "Apa?", tanyanya penasaran.

"Ternyata dadamu rata", terdengar suara Sehun yang terkikik.

Luhan mendelik. Ia menjauhkan dadanya agar tidak menempel dengan punggung Sehun. "Ya! Kau kurang ajar!", seru Luhan kesal. Antara tidak terima dan menahan malu, Luhan mulai bergerak gelisah di punggung Sehun.

"Turunkan aku!", teriak Luhan jengkel.

"Diam saja", balas Sehun tenang.

"Aku bilang turunkan aku!" Luhan semakin menggeliat berusaha turun membuat Sehun sedikit kesulitan, oleng, dan hampir jatuh.

"Ya! Aku sedang marah padamu! Lebih baik kau duduk dengan tenang atau aku akan benar-benar menurunkanmu dan meninggalkanmu disini!", ancam Sehun.

Luhan langsung diam. Ia menggigit bibir bawahnya kesal. Luhan menarik tas clutchnya dan meletakkannya di antara dadanya dan punggung Sehun. Dengan begini semuanya aman.

"Apa yang kau letakkan?", tanya Sehun.

Luhan memandang rambut belakang Sehun dengan sengit. "Harga diriku!"

.

.

.

Sehun dan Luhan berhenti di sebuah supermarket karena saat melewatinya, Luhan mengeluh lapar. Alasan bodoh macam apa ini? Bukankah dia baru saja dari restoran? Lalu apa yang dia lakukan disana kalau bukan makan? Bermain masak-masakan dengan lelaki yang Sehun temui tadi? Karena Luhan terus memaksa, akhirnya Sehun batal mencari taksi dan menemani Luhan membuat ramen instant.

"Aish!", gerutu Luhan kesal.

Sehun menoleh ke sampingnya. Ia menaikkan sebelah alisnya melihat Luhan yang sibuk dengan rambut panjangnya. Saat gadis itu hendak memasukan ramen ke dalam mulutnya, rambut ikalnya terlihat mengganggu karena bergoyang kesana-kemari tertiup angin. Sehun dan Luhan memang sedang makan di tenda luar supermarket. Tentu saja angin malam bisa menerbangkan apapun.

Luhan mengibaskan rambutnya ke belakang punggung dan hendak memakan ramennya. Tapi lagi dan lagi rambutnya terjatuh ke depan membuat Luhan batal memakan makanannya.

"Ini menjengkelkan!", Luhan bicara sendirian. Ia meletakkan sumpitnya diatas meja dengan frustasi.

Sehun mengintip ke dalam supermarket seperti mencari sesuatu. Pria itu kemudian berdiri dari kursinya meninggalkan Luhan yang kebingungan. Luhan pikir Sehun akan membeli kopi untuk dirinya sendiri mengingat ia tidak membeli apapun sekarang.

Luhan menghela nafas. Lagi-lagi ia masih belum menyerah. Perut laparnya tidak bisa ditoleransi. Namun rambutnya sendiri mengkhianatinya. Ini cukup mengganggu waktu makannya.

Luhan berhenti meniup ramennya yang masih panas saat merasa seluruh rambutnya ditarik pelan ke belakang. Luhan hendak membalik kepalanya, namun suara Sehun menginterupsinya.

"Jangan bergerak!"

Luhan akhirnya diam. Ia menebak Sehun sedang mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Tak lama, Sehun kembali duduk ke tempatnya. Luhan meraba kapan Sehun mempunyai ikat rambut? Namun melihat Sehun yang keluar dari supermarket tanpa membawa apapun membuat Luhan curiga. Apa dia masuk hanya untuk membeli pita rambut untuk Luhan?

"Apa yang kau lihat? Cepat habiskan ramenmu", ujar Sehun.

Luhan mengalihkan pandangannya dari Sehun dengan salah tingkah. Ia buru-buru melanjutkan makannya. Namun baru tiga kali suapan, Luhan berhenti. Ia melirik Sehun dengan ragu-ragu.

"Kau marah padaku?", tanya Luhan dengan suara sangat pelan namun Sehun masih bisa mendengarnya.

Sehun menghela nafas sebelum menjawabnya. "Begitulah"

"Kenapa?"

Sehun menatap kearah jalanan dengan malas sebelum akhirnya menatap Luhan. "Apa kau tahu aku berlari mencari taksi seperti orang kesetanan dari rumah sakit ke restoran?"

"Kenapa?", tanya Luhan dengan ekspresi bingung.

"Ku pikir sesuatu yang buruk terjadi karena kau terus berkata aku akan mati, aku akan mati. Tapi saat aku ke restoran, apa yang aku dapat? Kau malah membuat lelucon tentangku?"

Luhan menggigit sumpitnya. Ia tidak tahu sikapnya yang ingin mengerjai Sehun ternyata berdampak seperti ini. Tapi apakah Sehun mengkhawatirkannya hingga segera mencarinya saat ia menelponnya?

"Aku tidak bermaksud membuat lelucon, aku hanya ingin menjauhkan pria tadi dariku", ujar Luhan dengan menunduk.

"Mengapa kau mau menjauhkan pria tadi darimu?"

"Ayahku menjodohkan kami"

Sehun terdiam. Ia memandang jalanan dengan pandangan kosong. Dijodohkan?

Luhan mengadahkan kepalanya untuk melihat Sehun. "Tapi aku tidak menyukainya. Makanya aku berpura-pura mengatakan akan menikah denganmu agar dia pergi. Maafkan aku"

Yesss! Sehun bersorak dalam hati. Luhan tidak mencintainya. Tunggu!—Sehun, apa yang kau lakukan? Mengapa kau gembira mendengarnya? Bersihkan kepalamu! Wanita ini bukan tipemu! Sehun menggeleng cepat.

"Ayahku terus menjodohkanku dengan banyak pria tapi tidak ada satu pun yang membuatku tertarik. Karena alasan itulah aku pindah ke Korea"

Sehun menatap Luhan yang bicara dengan pandangan menerawang. Sepertinya gadis itu butuh teman untuk mengungkapkan isi hatinya.

"Aku ingin tinggal disini dengan kakakku. Terkadang aku ingin kabur dari rumah seperti dirinya. Hidup bebas dan melakukan apapun yang aku sukai. Tapi aku tidak bisa, aku masih sangat bergantung pada keluargaku"

"Kakak?", Sehun sempat terkejut mendengarnya. Ia baru tahu Luhan memiliki kakak yang tinggal di Korea. Dan tadi Luhan bilang apa? Kakaknya kabur?

Luhan mengangguk pelan, "Kakak tiriku", ujarnya dengan suara parau.

Sehun bisa melihat kesedihan di mata Luhan. Bukan ekspresi ceria yang seperti biasanya ia tunjukan saat berada di sekitar Sehun, tapi ini seperti sisi Luhan yang sebenarnya. Apa selama ini senyumnya hanya semacam topeng? Karena pada kenyataannya, Sehun merasa bahwa Luhan hanyalah wanita lemah. Sehun ingat Luhan yang tinggal sendirian di apartemennya. Ia juga sepertinya tidak memiliki teman. Karena gadis itu hanya bermain di sekitar Baekhyun. Setiap bertemu Sehun, orang yang Luhan tanya kabarnya adalah Baekhyun. Dia juga tidak pernah membicarakan soal teman-temannya dan hanya bicara soal Baekhyun dan teman-teman baru yang ia kenal dari Baekhyun.

Luhan yang merasa suasana semakin canggung akhirnya mencoba mengganti topik. "Tapi ini tidak sepenuhnya salahku!", seru Luhan dengan salah tingkah.

Sehun mengangkat sebelah alisnya bingung. "Kau ini bicara apa?"

"Kau juga bersalah. Kau menipuku. Kau tidak pernah pacaran sebelumnya kan? Bagaimana bisa kau sebut kemeja dari mall adalah buatan mantan kekasihmu? Apa kau mencoba mengerjaiku?"

Sehun terkejut mendengar Luhan membeberkan kebohongannya. Dari mana gadis ini tahu? Sehun mulai panik. Namun ia mati-matian berusaha tenang. Tapi ia justru terlihat konyol dengan sikap mencurigakannya.

"Aku berbohong? Un—untuk apa?", tanya Sehun tergagap.

"Kau pasti bercanda", Sehun kemudian tertawa canggung. Luhan menatapnya tajam penuh dengan tuduhan. Mampus kau Oh Sehun.

Luhan memandang Sehun dengan menyipitkan matanya. "Berhenti berbohong, Kyungsoo dan Jongin sudah memberitahukan semuanya padaku", desak Luhan.

Sial. Sehun mengumpat dalam hati. Harusnya ia memberikan les kilat untuk Jongin agar menutup mulutnya. Sekarang apa yang harus Sehun lakukan? Menyangkal hanya akan semakin mempermalukan dirinya sendiri.

"Memangnya apa yang salah dengan tidak pernah pacaran?", tanya Sehun gugup.

Luhan menahan senyumnya. Ia ingin tidak percaya namun ini benar-benar terjadi. Oh Sehun tidak pernah pacaran. Ia tidak menyangka masih ada orang seperti ini di era modern. Jika melihat Sehun, Luhan bisa memberi nilai lumayan. Penampilan keren, pekerjaan mapan, dan wajah yang Luhan akui—tampan. Sehun juga bisa dikatakan baik setelah Luhan me-reply kembali ingatannya soal Sehun, pria ini ternyata sudah sering membantunya. Tapi bagaimana bisa lelaki seperti Sehun tidak pernah menjalin hubungan? Apa dia terlalu pemilih soal wanita atau justru wanita yang tidak menginginkan Sehun? Betapa malangnya.

Luhan kemudian tersenyum menyeringai membuat Sehun menatap Luhan heran. "Apa?", tanya Sehun.

"Jangan-jangan tadi adalah ciuman pertamamu", tuduh Luhan.

"Apa?", suara Sehun melengking beberapa oktaf.

"Ciuman di pipi", Luhan menunjuk pipinya sendiri. Mengingatkan Sehun kejadian di restoran beberapa jam yang lalu. Luhan yang mendaratkan ciuman tanpa aba-aba.

"Iya kan?", desak Luhan dengan tersenyum. Ia berencana mengerjai Sehun dengan mengejeknya. Namun reaksi Sehun terlalu berlebihan. Bukankah Luhan hanya bercanda?

"Apa tadi bisa disebut ciuman? Yang benar saja", tolak Sehun mentah-mentah.

"Kau bicara seakan-akan pernah melakukannya. Kau bahkan tidak pernah memiliki kekasih"

"Bukan berarti aku tidak bisa melakukannya"

Luhan mengangguk tidak peduli. "Ya, ya noona mengerti", Luhan menepuk bahu Sehun pelan seakan sedang berlagak membujuknya.

Ini membuat Sehun kesal. Luhan terlalu meremehkannya. Ia juga memiliki harga diri sebagai seorang laki-laki.

"Aku bilang aku bisa melakukannya", ucap Sehun serius.

Luhan masih mengangguk pelan tidak peduli. Pernah atau tidak, bisa atau tidak, itu urusan Sehun. Ia tidak begitu tertarik.

Luhan terkejut saat Sehun memutar tubuhnya. Manik matanya bertemu dengan Sehun. Saling bertatapan seperti ini membuat jantung Luhan bekerja tidak karuan. Luhan buru-buru mengalihkan pandangannya kearah lain. Namun hal yang tidak pernah ia duga terjadi. Entah kapan dan bagaimana, kini bibir mereka saling menempel satu sama lain. Luhan terkejut bukan main. Matanya membulat tidak percaya.

Saking terkejutnya, Luhan hanya bisa diam seperti batu. Otaknya terlalu lambat mencerna apa yang sedang terjadi. Jantungnya memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuhnya, tangannya bergetar hebat, dan kepalanya seperti berputar. Luhan tidak tahu ciuman ini keindahan saat lima detik pertama atau musibah ketika ciuman itu semakin dalam. Luhan memejamkan matanya erat. Rencana awal untuk mendorong tubuh Sehun menjauh entah kenapa bisa berubah haluan. Akal sehat dan tubuhnya tidak bisa bekerja sama. Sekalipun pikirannya berteriak ini tidak benar, tanpa ia sadari, jari-jari lentiknya malah meremas kemeja garis-garis Sehun di bagian dada. Menarik dada pria itu semakin dekat dan memperdalam ciuman mereka. Ini gila. Luhan pasti sudah tidak waras. Sehun berkali-kali memutar kepalanya. Luhan bisa merasakan bibir Sehun yang bergerak.

Luhan akhirnya menyerah. Nafasnya terasa hampir putus kalau saja Sehun tidak menarik mundur kepalanya saat sadar Luhan memukul pelan dadanya. Luhan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia menunduk tidak berani menatap wajah Sehun. Ini terlalu memalukan. Luhan mengigit bibir bawahnya. Rasanya ia ingin mengubur dirinya hidup-hidup sekarang juga.

Di sisi lain Sehun malah mematung dengan wajah bodoh. Pria itu bingung sendiri dengan tingkahnya. Awalnya ia hanya berniat mengerjai Luhan, namun entah mengapa ciuman itu terjadi. Bagaimana bisa ia terbuai begitu saja dan melanjutkannya? Ini benar-benar konyol. Sehun menoleh kearah Luhan dengan takut. Ia melihat Luhan memegangi bibir bawahnya dan tampak shock.

Sehun merasa jantungnya berdetak cepat. Sarafnya seperti tidak bekerja dengan benar. Apa Sehun sakit? Sehun melirik kearah Luhan sekali lagi. Satu hal yang baru Sehun sadari, yaitu kecantikan wajah Luhan. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana wajah Luhan yang merona dan bibir manisnya saat ia menciumnya.

"A—aku ke toilet dulu", ujar Sehun tergagap. Pria itu buru-buru kabur ke dalam supermarket mencari kamar kecil. Sehun menutup pintu toilet dengan gusar kemudian jatuh merosot ke lantai. Dadanya sakit sekali karena rusuknya seakan terlalu kecil menyimpan jantungnya yang tiba-tiba membesar, berdegup-degup kencang seperti genderang ditabuh, hendak keluar dari tempatnya dan berlari menuju Luhan.

"Sadarlah Sehun! Kau hanya ingin mengerjainya. Tapi kenapa aku merasa kalau aku yang dikerjai", omel Sehun bermonolog.

Sehun menjilat bibirnya. Rasanya bibir Luhan berada di sana. Bibir ranum Luhan terasa tidak asing. Sehun menggeleng cepat.

"Kau sudah sering melakukan CPR. Bukankah konsep CPR dan ciuman itu sama? Ya… aku tidak menciumnya. Hanya CPR", Sehun membantah mati-matian tapi itu tetap tidak berhasil. Sehun tahu itu bukan CPR. Luhan bukan orang sakit yang butuh nafas buatan. Ia melakukannya dalam keadaan normal dan sadar.

Oh Tuhan! Sehun sudah gila! Ia butuh ke rumah sakit setelah ini dan meminta resep obat penenang.

Luhan masih terpaku di tempatnya. Ini terlalu mendadak. Luhan tidak pernah berpikir akan melakukan ciuman pertamanya di depan supermarket. Di tempat umum.

Ya, ini memang CIUMAN PERTAMANYA! Setelah mengejek Sehun habis-habisan tentang ciuman pertamanya, Luhan malah mendapat karmanya sendiri. Ia telah menjaga bibirnya selama bertahun-tahun. Ia memang sudah pernah berpacaran dengan banyak jenis laki-laki, dari yang setia sampai pengumbar janji palsu tapi tidak pernah sekalipun ia memberikan ciuman pertamanya. Baginya ciuman pertama hanya untuk suaminya kelak. Tapi apa ini? Sehun mencurinya. Mencuri ciuman pertamanya.

.

.

.

Sehun keluar supermarket dengan langkah gontai. Ekspresi wajahnya kebingungan saat melihat tenda yang sebelumnya ia singgahi bersama Luhan kosong. Seingatnya tadi ia meninggalkan Luhan disana. Tapi gadis itu sudah menghilang. Sehun menghembuskan nafas beratnya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara menemui Luhan setelah hari ini.

-ANTIFAN-

Tao memang serumah dengan Baekhyun saat ini, tapi ia merasa seperti tinggal sendirian. Sepanjang hari Baekhyun menutup mulutnya. Temannya itu hanya bicara seperlunya. Tao benar-benar tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Ia harus menemui Baekhyun dan bicara.

Tao mengetuk pintu kamar Baekhyun sebelum akhirnya masuk ke dalam. Ia membawa teh hangat untuk Baekhyun. Tao meletakkan cangkir di nakas. Ia beralih ke sisi lemari. Menyusul Baekhyun yang terlihat sibuk mencari sesuatu.

"Apa yang kau lakukan?", tanya Tao heran.

Baekhyun menoleh kearahnya lalu tersenyum simpul. Setelah itu Baekhyun mengunci lemari bajunya dan memegang sesuatu yang membuat Tao mengernyit.

"Untuk apa kau mencari paspor dan visa?"

Ekspresi Baekhyun berubah dingin. Bukannya menjawab, temannya itu malah beralih ke nakasnya. Membuka laci dan mengeluarkan sebuah surat. Ia menyodorkannya kearah Tao. Menurutnya itu akan menjelaskan semuanya.

Tao membuka lipatan kertas tersebut dan membaca isinya. Matanya membelalak lebar lalu menatap Baekhyun dan menggeleng pelan tidak percaya. "Kau akan pergi?"

Baekhyun menghela nafas berat. Itu bukan jawaban sama sekali. Tao duduk di sebelah Baekhyun dan mulai panik. "Kau akan pindah ke Kanada?"

"Aku—"

"Bagaimana dengan ayahmu?"

"Aku sudah bicara dengan ayahku", ujar Baekhyun dengan suara lemah.

"Lalu?"

"Ia mendukung segala keputusanku. Ayahku tidak keberatan jika aku ingin pergi ataupun tetap disini"

Tao menggeleng lemah. "Tentu saja beliau akan mendukungmu selama itu yang terbaik untuk karirmu. Tapi Baekhyun, ini bukan Busan, Pohang, Gwangju, atau Suwon. Tapi Kanada. Kau yakin akan pergi?", tanya Tao.

Baekhyun menatap paspornya dengan pandangan nanar. Ia sendiri tidak tahu sebenarnya kemana kakinya ingin melangkah. Dan kemana hatinya ingin tinggal. Baekhyun tidak mengerti tentang dirinya sendiri.

"Aku harus pergi Tao", ujar Baekhyun dengan suara yakin. Walau separuh jiwanya menolak mati-matian.

"Kau yakin?"

"Ini pekerjaanku, aku harus melakukannya"

"Kau yakin?", ulang Tao.

Baekhyun menoleh kearah Tao lalu menunduk, "Aku akan pergi"

"Aku tanya apa kau yakin?", desak Tao tidak sabar. Ia tahu benar bagaimana Baekhyun. Dan hanya dengan melihat, ia bisa tahu keragu-raguan di hati Baekhyun.

"Aku tidak tahu", suara Baekhyun terdengar parau. Tao meraih tubuh Baekhyun ke pelukannya. Mengelus punggungnya dengan gerakan menenangkan.

"Kau sendiri bahkan tidak tahu keinginanmu. Kalau begitu jangan pergi", ujar Tao lembut.

Tao bisa merasa kepala Baekhyun menggeleng di dadanya. Wanita bermata panda itu melepaskan pelukannya perlahan lalu menatap Baekhyun dengan sebelah alis terangkat.

"Ada apa?", tanya Tao bingung.

Baekhyun masih menangis tanpa suara. Air matanya terus mengalir keluar. Ia menatap Tao lalu menghela nafas panjang. "Satu nyawa bergantung padaku"

"Apa?", Tao semakin tidak mengerti. Sebenarnya apa maksud pembicaraan ini.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ia diam beberapa detik sebelum akhirnya meyakinkan dirinya sendiri untuk membicarakan ini dengan Tao. Baekhyun memulai semua ceritanya tentang alasan ia harus ke Kanada untuk Kris. Tao sempat terkejut bahkan nyaris tidak percaya dengan cerita Baekhyun. Tapi semakin malam, Tao yakin Baekhyun benar-benar mengalaminya. Temannya itu dihadapkan pada pilihan sulit. Baekhyun memang bercerita soal Kris, tapi ia belum siap menceritakan soal Chanyeol.

Malam itu menjadi malam yang panjang untuk Baekhyun dan Tao. Mereka saling berbagi pelukan dan menangis bersama. Mungkin ini yang terakhir kalinya. Karena Baekhyun mengatakan untuk melakukan penerbangan tiga hari lagi.

.

.

.

Esok harinya Baekhyun sengaja menemani Kyungsoo ke butik milik Luhan. Ini fitting gaun pertama Kyungsoo, dan Luhan mengerjakannya dengan sepenuh hati. Sore ini Kyungsoo juga akan pergi untuk melakukan foto Prewedding sederhana di studio dan di taman dengan Jongin.

Kyungsoo terlihat cantik mencoba sebuah gaun yang indah. Baekhyun tersenyum tipis melihat wajah sumringah Kyungsoo di depan kaca, tapi di sisi lain Baekhyun benar-benar kehilangan semangat. Ia bahkan nyaris menangis melihat ini. Betapa sedihnya ia memikirkan tidak akan bisa hadir di pernikahan Kyungsoo. Tidak bisa menyaksikan kebahagiaan Kyungsoo yang diikat dalam perkawinan dengan Jongin. Ia tidak akan bisa melihat pemberkatan pernikahan mereka di altar, karena pada saat itu tiba, Baekhyun mungkin saja sedang berada di negara lain.

"Baekhyun, ini indah sekali bukan?", seru Kyungsoo gembira. Wanita itu tidak hentinya berputar di depan kaca.

Baekhyun mengangguk lemah. Ia kemudian mengeluarkan kamera dari tasnya. "Kyungsoo, ayo berfoto bersama", ujar Baekhyun saat mendekati Kyungsoo.

"Kenapa? Kita bisa berfoto di hari pernikahanku", ucap Kyungsoo.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Menahan air matanya untuk keluar. Ia tidak bisa menunggu hingga hari itu tiba. Karena ia tidak akan bisa menyaksikannya sekalipun ia sangat ingin melakukannya.

"Ayolah, ambil satu foto, kau terlihat cantik dengan gaunnya", bujuk Baekhyun.

"Baekhyun benar, aku akan mengambil gambarnya untuk kalian. Baekhyun, berikan kameranya padaku", ujar Luhan. Baekhyun pun memberikan kameranya untuk Luhan dan Luhan mengambil beberapa foto.

Hasil fotonya sangat bagus dan Kyungsoo terlihat menyukainya. Setelah itu Luhan menyarankan Kyungsoo untuk mencoba gaun yang lain sehingga Kyungsoo kembali masuk ke kamar ganti hingga menyisakan Baekhyun dan Luhan.

"Sudah lama aku tidak bertemu denganmu", ujar Luhan senang.

Baekhyun tersenyum tipis. Ia menggenggam kameranya erat. Ia merasa canggung bicara dengan Luhan. Mengingat dengan siapa ia berpacaran sekarang. Orang yang sangat disukai Luhan. Dan ia merasa bersalah untuk itu.

"Kupikir aku tidak akan bisa meihatmu lagi", kata Luhan dengan suara pelan.

Baekhyun menoleh kearah Luhan. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres."Mengapa kau bicara begitu?"

"Aku akan kembali ke Cina setelah gaun pernikahan Kyungsoo selesai"

"Kenapa?", Baekhyun terlihat terkejut. Ia pikir Luhan akan tinggal disini lebih lama.

"Kurasa tidak ada alasan untukku tinggal disini. Lagipula Kris tidak ingin melihatku"

Baekhyun terpaku di tempatnya. Luhan pasti sangat terluka mengetahui fakta bahwa saudara yang sangat ia sayang membenci dirinya. Baekhyun menggenggam kameranya semakin erat. Ia merasa sangat berdosa bila harus pergi tanpa memberitahu Luhan soal kondisi Kris. Bukankah Luhan setidaknya harus tahu soal kakaknya yang akan melakukan operasi? Baekhyun tidak ingin berprasangka buruk, tapi Lay mengatakan keberhasilan operasinya hanya lima puluh berbanding lima puluh. Itu artinya mati ataupun hidup dalam keberhasilan yang seimbang. Walaupun Baekhyun sangat yakin itu berhasil, tapi ia juga harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Setidaknya Luhan harus bertemu Kris dan bicara.

"Luhan, ada yang ingin ku katakan padamu", Baekhyun menggigit bibir dalamnya.

Luhan menatap Baekhyun dengan ekspresi ramahnya. "Soal apa?"

"Sebenarnya…"

Luhan mengernyit. Ia menunggu Baekhyun bicara.

"Sebenarnya aku dan—"

Kalimat Baekhyun terputus saat mendengar suara tirai dibuka. Kyungsoo muncul sekali lagi dengan gaun yang berbeda namun sama cantiknya. Kyungsoo tersenyum senang dan memuji gaun Luhan sedangkan Luhan berterimakasih dan memuji Kyungsoo yang tidak kalah cantik.

Baekhyun menghela nafas. Ia bahkan tidak bisa berbicara dengan Luhan. Baekhyun ijin ke kamar kecil. Luhan terus memperhatikan punggung Baekhyun yang menghilang keluar ruangan. Luhan merasa sesuatu mengganjal di hatinya. Sebenarnya apa yang ingin Baekhyun katakan padanya? Mengapa ia merasa kalau itu adalah sesuatu yang penting?

.

.

.

Kyungsoo dan Baekhyun pamit untuk pulang pada Luhan. Mereka melambai kearah Luhan sebelum masuk ke dalam mobil. Kyungsoo memang sengaja membawa mobil hari ini. Karena ia ingin mengajak Baekhyun membantunya memilih beberapa perabotan untuk rumah barunya dan Jongin. Pasangan ini memang sudah menyiapkan rumah yang akan mereka tinggali bersama setelah menikah. Jongin juga berencana pindah ke Seoul setelah kontrak kerjanya selesai.

Baekhyun tidak keberatan menemani Kyungsoo berkeliling ke beberapa toko perabotan, toko elektronik hingga furniture. Kyungsoo juga sempat tertarik dengan beberapa peralatan bayi namun ia menahan diri untuk membelinya karena ia memang belum mengandung. Sepanjang perjalanan itu, Kyungsoo berbagi banyak hal tentang pemikirannya dan betapa bahagianya ia sekarang. Ia juga terus bicara soal gaun untuk Baekhyun dan Tao yang akan menjadi pengiringnya saat acara sakral dalam hidupnya berlangsung. Baekhyun terus bergerak gelisah karena sebentar lagi ia akan membuat Kyungsoo mendnegar suara petir menyambar, menghancurkan segala imajinasi indahnya. Bagaimana cara menjelaskan ia akan pergi ke Kanada dan tidak bisa hadir di pernikahan Kyungsoo? Baekhyun terus saja memikirkan kalimat yang baik, tapi tidak berhasil. Sebaik apapun kalimat yang ia gunakan, beritanya tetap menjadi berita buruk. Ia tidak akan bisa menjadi pengiring Kyungsoo.

Mereka baru saja masuk ke dalam mobil setelah berbelanja beberapa kebutuhan bulanan di supermarket. Kyungsoo akan menyalakan mobilnya kalau saja Baekhyun tidak menahannya.

"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu"

"Soal apa? Mengapa ekspresimu serius sekali?", ujar Kyungsoo dengan tersenyum.

"Aku akan ke Kanada", jawab Baekhyun to the point. Ia tidak ingin berbelit-belit dan cepat menyelesaikan ini.

Kyungsoo mengangguk pelan. Ia terlihat santai menanggapinya. "Benarkah? Kapan?"

"Dua hari lagi aku berangkat"

Kyungsoo sempat terpaku di tempatnya namun akhirnya ia menoleh kearah Baekhyun masih dengan senyumnya. "Berapa hari kau tinggal disana? Sehari? Dua hari? Tiga hari?"

"Tidak secepat itu Kyungsoo", kata Baekhyun dengan suara parau.

"Lalu? Satu minggu? Dua minggu?"

Baekhyun menahan nafas sebelum akhirnya ia berkata, "Satu tahun"

Suasana menjadi hening seketika. Kyungsoo terlihat shock dengan apa yang baru saja di dengarnya. Namun perlahan wanita itu tertawa renyah. "Jangan bercanda"

"Aku serius, aku dipindah tugaskan di Kanada selama satu tahun, dua hari lagi aku berangkat"

Kyungsoo memegang stirnya dengan lemas. Ia memejamkan matanya sampai akhirnya Baekhyun kembali bicara.

"Kurasa aku tidak bisa menjadi pengiring mempelai wanita", Baekhyun menahan air matanya. Ia mengalihkan tatapannya ke jendela di sampingnya kemudian menghapus air matanya yang terlanjur jatuh.

"Apa ini masuk akal? Apa perusahaanmu mengirimmu secara mendadak?"

Baekhyun menggeleng, "Aku diberi waktu satu bulan untuk berpikir"

"Lalu kenapa kau terburu-buru pergi?"

"Seseorang memintaku kesana"

"Apa?"

"Kau tahu kan kalau Kris sedang sakit?"

"Jadi?"

"Aku akan menemaninya operasi di Kanada sampai masa pemulihan"

"Kau serius?"

"Ya"

"Baekhyun, apa kau masih berhubungan dengannya? Ku pikir skandal itu membuatmu berpikir jernih dan menjauhi orang itu. Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Keputusan macam apa yang kau ambil?"

"Dia membutuhkanku"

"Lalu bagaimana denganku? Tao? Jongin? Sehun? Ayahmu?"

"Aku sudah berbicara dengan ayahku dan Tao. Aku harap kau bisa menyampaikan ini pada yang lainnya"

"Apa kau masih mengharapkan Kris?"

"Apa? Tidak", jawab Baekhyun tegas.

"Menggenggam tangan idola bukan berarti kau bisa mendapatkan hatinya"

"Sungguh… aku tidak berpikir seperti itu"

"Bagus"

Kyungsoo memandang nanar ke depan. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Pandangannya tidak fokus.

"Kyungsoo, kau baik-baik saja?", tanya Baekhyun ragu.

Kyungsoo menghantam kepalanya sendiri ke stir mobilnya. Wanita itu meringkuk cukup lama sampai akhirnya ia kembali menegakkan badannya dan menatap Baekhyun dengan pandangan tidak percaya.

"Kau tanya aku baik-baik saja? Lalu apa kau baik-baik saja?"

Baekhyun terdiam. Ia saling meremas kedua tangannya.

"Kau yakin pergi dalam kurun waktu selama itu?"

Baekhyun diam tidak menjawab. Mengapa semua orang bertanya soal keyakinan akan pilihannya.

"Lalu bagaimana dengan Chanyeol?"

Deg!

Kyungsoo melihat ekspresi Baekhyun. Ia bisa menebak apa yang terjadi. Kyungsoo lalu menggeleng tidak percaya, "Demi Tuhan, apa Chanyeol tidak tahu ini?", suara Kyungsoo meninggi. Dan Kyungsoo melihat Baekhyun hanya mematung. Ia sudah tahu jawabannya.

Kyungsoo menganga tidak percaya. "Daripada mengkhawatirkanku, tidakkah kau seharusnya mengkhawatirkan hubunganmu? Menurutmu apa reaksi Chanyeol bila kau mengatakan akan terbang ke negara lain dalam waktu dua hari dan tidak kembali selama satu tahun karena lelaki lain?"

"Aku bertaruh kalian akan putus!", ucap Kyungsoo jengkel. Bagaimana ia tidak kesal? Baekhyun bahkan tidak bicara pada Chanyeol dan mendiskusikan keputusan sebesar ini sendirian.

"Itu yang kuharapkan"

Kyungsoo memandang Baekhyun dengan tatapan tidak percaya. Seakan ia baru saja salah dengar. Namun melihat ekspresi Baekhyun yang begitu kusut, ia yakin wanita itu tidak main-main dengan kata putus. Berakhir. Selesai. Tidak ada hubungan.

"Apa selama ini kalian tidak serius pacaran? Mengapa mudah sekali kau bicara akan putus dengannya?"

"Aku pikir dia tidak akan setuju denganku"

"Kalau kau tahu dia tidak setuju, kenapa masih bersikeras pergi?"

"Aku harus membantu Kris"

"Sebelum membantu orang lain, bantulah dirimu sendiri. Aku bahkan ragu kau mencintai Chanyeol bila pemikiranmu seperti ini dalam berhubungan", Kyungsoo keluar dari mobil dan membanting pintunya sedikit kasar. Baekhyun buru-buru keluar mengejar Kyungsoo.

"Jangan ikuti aku. Sekarang bawa mobilnya dan temui Chanyeol"

Baekhyun berdiri kaku di tempatnya. Ia tidak siap.

"Apa yang kau tunggu?", tegur Kyungsoo.

"Aku belum siap"

"Lalu kapan kau akan siap? Saat pesawatmu akan lepas landas? Apa kau mau membuatnya kena serangan jantung?"

"Tapi—"

"Aku bilang pergi dan bicara dengannya!", Kyungsoo tidak ingin dibantah. Dan Baekhyun pun pada akhirnya pergi dengan mobil yang Kyungsoo pinjamkan untuknya. Dia harus bicara dengan Chanyeol.

-ANTIFAN-

Chanyeol terus-terusan memandang layar ponselnya gusar. Ia melihat nama Baekhyun pada kontaknya dan hendak melakukan panggilan. Namun ia teringat Baekhyun yang mengatakan ia sedang sibuk bekerja akhir-akhir ini. Lalu apa Chanyeol akan mengganggunya hanya karena merindukannya? Chanyeol tidak ingin egois. Ia menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. Ia merindukan Baekhyun hingga nyaris gila. Berlebihan memang, tapi cinta terlalu banyak mengusai dirinya.

Chanyeol melangkah ke sebuah rak kayu di dekat dapur. Ia mengambil sebotol wine dan menuangkan sedikit isinya ke dalam gelas transparan. Pria itu kemudian berjalan kearah balkon. Berdiri menatap kearah langit malam sambil menyesap wine nya perlahan. Mungkin alkohol akan membantunya cepat tertidur dan melupakan rasa rindunya pada Baekhyun. Walaupun Chanyeol tahu ini tidak akan berhasil, karena ia akan kembali merindukan Baekhyun saat ia terbangun di pagi hari. Tapi setidaknya ia bisa membuat dirinya merasa lebih baik.

Langit cukup berbintang malam ini. Warna putih bercahaya terlihat seperti titik-titik di atas kertas hitam. Chanyeol kembali menyesap anggurnya. Tiba-tiba ia mendengar pergerakan kecil di depan pintu apartemennye. Seperti suara seseorang memencet password untuk membuka pintu. Chanyeol keluar dari balkon untuk sekedar melihat siapa yang datang.

Pria itu tidak terkejut melihat Baekhyun masuk ke dalam apartemennya karena mereka memang saling berbagi password. Tapi ada hal lain yang membuatnya terkejut. Alasan apa yang membawa Baekhyun kesini secara tiba-tiba setelah ia mengatakan tidak ingin bicara dengan Chanyeol. Namun pria itu tidak ingin mempermasalahkannya. Yang terpenting sekarang ia merasa senang melihat Baekhyun yang sangat ia rindukan.

Baekhyun melangkah masuk dan pandangannya langsung tertuju pada Chanyeol yang berdiri di dekat balkon dengan segelas minuman di tangannya. Baekhyun menebak itu adalah wine. Ia mengernyit mengetahui Chanyeol minum. Ia memang tahu Chanyeol memiliki beberapa botol wine di rumahnya tapi Chanyeol pernah berkata tidak begitu membutuhkan wine kecuali ia sedang ingin menenagkan pikiran. Jadi sebenarnya apa sesuatu terjadi?

Baekhyun melangkah tanpa bicara menyusul Chanyeol. Baru saja ia ingin mengomentari Chanyeol dan wine-nya, kekasihnya itu sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan. Chanyeol meletakkan gelas wine-nya di meja kecil yang memang sengaja diletakkan di balkon. Ia memeluk Baekhyun dari belakang. Melingkarkan lengan besarnya disekitar pinggang Baekhyun. Chanyeol tersenyum saat mencium aroma shampoo di surai kekasihnya sehingga ia betah menenggelamkan kepalanya disana lebih lama.

Mereka berdiri dengan posisi seperti itu sambil menatap bintang. Langit terlihat lebih indah malam ini. Tidak ada awan mendung. Hanya langit malam dengan bulan dan bintang yang menggantung disana. Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan semilir angin menerpa tubuh mereka. Ia hanya ingin sekedar berbagi kehangatan dengan Baekhyun.

Baekhyun yang diam cukup lama, akhirnya membuka pembicaraan.

"Apa yang kau lakukan disini sebelum aku datang?"

"Memikirkanmu", jawab Chanyeol dengan senyum lebarnya yang tentu saja tidak Baekhyun lihat mengingat posisinya yang berdiri dibalik punggung Baekhyun. Namun Baekhyun bisa merasakan nafas Chanyeol di belakangnya saat pria itu bicara.

Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya. Ia juga merindukan Chanyeol.

"Kau minum wine?"

"Hmm", Baekhyun bisa merasakan Chanyeol mengangguk di belakangnya.

"Tumben sekali, ada apa?"

"Karena aku merindukanmu. Tapi kau sudah berada disini, jadi aku tidak membutuhkan anggur lagi"

Merindukanku? Apa Chanyeol menghabiskan waktu untuk minum wine karena merindukanku? Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol yang berada disekitar perutnya. Ia bermain dengan jari-jari Chanyeol dan sesekali membuat pola tak beraturan pada punggung tangannya. Apa yang terjadi kalau ia pergi jauh dari Chanyeol? Maka pria itu akan merindukannya setiap hari. Lalu apa ia akan menghabiskan waktunya untuk minum alkohol? Itu terdengar buruk.

"Ayo masuk, udara disini dingin. Kau bisa masuk angin", ujar Baekhyun.

"Aku suka disini, tapi aku lebih khawatir jika kau yang sakit"

Baekhyun memutar tubuhnya hingga kini ia berhadapan dengan Chanyeol. Ia menatap wajah pria itu cukup lama. Tatapan matanya, hidungnya, bibirnya, rahangnya, alisnya, suaranya. Baekhyun akan merindukan semua ini.

"Kenapa?", suara berat Chanyeol masuk ke indra pendengarannya.

"Aku hanya memandangi wajahmu", jawab Baekhyun.

"Kenapa? Apa aku tampan?", tanya Chanyeol dengan nada menggoda.

Baekhyun tersenyum lebar lalu mengangguk, "Sangat tampan"

.

.

.

Baekhyun sedang merapikan majalah di meja ketika Chanyeol keluar dari toilet. Lelaki itu mendekat ke ruang tengah untuk melihat Baekhyun.

"Berhenti mengerjakan sesuatu. Mengapa kau membuat dirimu sibuk setiap datang ke apartemenku?"

Baekhyun berdiri lalu tersenyum puas melihat tempat ini sudah rapi.

"Kalau begitu rapikan tempat ini bila kau tidak ingin melihatku bekerja", balas Baekhyun dengan ekspresi pura-pura kesal.

"Chanyeol, ayo jalan-jalan"

Chanyeol mengernyit heran. Ia melihat jam yang berdetak di dinding ruang tengah. "Kemana? Ini sudah malam"

"Kita tidak bisa jalan-jalan di siang hari karena seseorang bisa saja mengenalimu. Ini kesempatan bagus, kau tidak perlu menyamar di malam hari. Kita hanya mencari udara segar, keliling di sekitar gedung ini juga tidak apa-apa"

"Ayolah Chanyeol-ah", Baekhyun menggoyang-goyangkan lengan Chanyeol sambil merajuk.

"Jangan memasang ekspresi seperti itu", Chanyeol membuang pandangannya kearah lain. Ia pura-pura tidak melihat Baekhyun. Karena ia bisa luluh kapan saja.

"Chanyeol-ah…", Baekhyun semakin bersemangat menggoda Chanyeol. Ia menarik-narik ujung kaus Chanyeol hingga itu terlihat akan melar.

"Baiklah, tunggu disini aku harus mengambil jaket"

Baekhyun tersenyum simpul melihat Chanyeol menghilang ke kamarnya. Namun senyumnya ikut hilang saat pintu itu tertutup. Sebentar lagi Baekhyun akan menjatuhkan bomnya.

.

.

.

Sebelum keluar dari pintu apartemennya, Chanyeol menghentikan Baekhyun hanya untuk memasang syal di lehernya.

"Di luar dingin", ujar Chanyeol. Dan Baekhyun hanya tersenyum.

Seperti rencana awal, mereka berdua berjalan beriringan di sekitar taman yang dimiliki gedung apartemen dimana Chanyeol tinggal. Suasana memang terlihat sepi nyaris tidak ada siapapun kecuali petugas keamanan dan pegawai apartemen. Mereka tentu tidak akan mengusik kencan oran lain apalagi penghuninya kecuali mereka berniat untuk dipecat. Jadi Chanyeol santai saja saat keluar tanpa kacamata ataupun topinya. Ini pertama kali ia menghirup udara segar dengan Baekhyun disampingnya.

Chanyeol terus tersenyum saat berjalan di jalan setapak melewati pepohonan dan bunga-bunga. Ia menggenggam tangan Baekhyun erat. Sesekali mengayunkan tangan mereka di udara. Ini sangat menyenangkan. Setidaknya Chanyeol merasa seperti orang-orang biasa. Berkencan seperti biasa tanpa takut seseorang mengenalinya. Ia ingin pergi dengan Baekhyun lain kali walau hanya berkeliling di sekitar sini.

"Udaranya benar-benar segar", seru Chanyeol senang. Pria itu memperhatikan lampu taman yang tidak cukup terang namun ia masih bisa melihat jalanan di depannya dengan jelas.

Chanyeol menoleh ke sampingnya saat merasa Baekhyun berhenti melangkah. Gadis itu menunduk sehingga Chanyeol tidak bisa melihat wajahnya. Chanyeol masih memegang tangan Baekhyun erat.

"Ada apa?", tanya Chanyeol bingung. Pria itu kemudian berdiri lebih dekat di sisi Baekhyun.

"Kau lelah berjalan?"

Baekhyun menggeleng lemah.

"Lalu kenapa?"

Chanyeol melihat Baekhyun pelan-pelan mengangkat kepalanya. Dengan cahaya minim, ia masih bisa melihat cahaya mata Baekhyun yang redup. Tatapan mata gadis itu terlihat berbeda. Penuh kesedihan. Ada apa? Sepertinya tadi mereka baik-baik saja.

"Baekhyun, kau baik-baik saja?", tanya Chanyeol khawatir. Tapi Baekhyun tidak menjawab. Ia justru diam di tengah kesunyian. Hanya memandang lurus kearah Chanyeol.

"Apa kau mau kembali? Akan kuantarkan kau pulang, ne?", tanya Chanyeol lembut.

"Chanyeol, kita harus bicara", nada suara Baekhyun terdengar serius. Chanyeol merasa aura di sekitarnya berubah aneh.

"Ada apa?", suara Chanyeol pelan sekali tapi Baekhyun masih bisa mendengarnya.

Baekhyun lagi-lagi terdiam. Menunduk menatap ujung sepatunya. Hatinya rasanya sakit sekali melihat wajah Chanyeol. Pria itu terlihat baik-baik saja, tapi ia akan mengubah ekspresi kegembiraannya sebentar lagi.

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

Baekhyun menggigit bibir dalamnya. Ia menatap manik mata Chanyeol. Ia akan merindukan tatapan teduh itu. Ia akan merindukan tangan Chanyeol yang selalu menggenggamnya. Ataupun merindukan pelukannya.

"Aku akan pergi ke Kanada", suara Baekhyun terdengar tenang. Tapi tidak dengan jantungnya. Organ vitalnya itu bergemuruh kuat.

Baekhyun tertegun karena tidak ada balasan apapun dari Chanyeol. Pria itu hanya menatapnya lurus-lurus. Baekhyun merasa lemah karena tatapan itu. Ia menunggu Chanyeol bicara, namun pria itu tetap mematung. Apa Chanyeol tidak mendengarnya? Jadi Baekhyun memutuskan untuk mengulang kalimatnya, walaupun itu terasa menyakitkan saat mengucapkannya.

"Aku akan ke Kanada", kali ini suaranya bergetar. Ia tidak bisa berpura-pura tenang.

"Untuk apa?", akhirnya Chanyeol menanggapinya.

"Aku dipindahtugaskan kesana"

"Kapan kau akan pergi?"

"Dua hari lagi"

Keheningan itu datang lagi. Chanyeol tidak membalas ucapannya. Baekhyun tahu ini pasti sangat mengejutkan bagi Chanyeol. Tapi ini juga berat untuk Baekhyun.

"Aku kesana bukan hanya untuk bekerja", ujar Baekhyun. Gadis itu bisa melihat kerutan di dahi Chanyeol.

"Aku akan pergi menemani Kris berobat, aku akan kembali tahun depan", Baekhyun merasa bersalah saat mengatakan itu. Tapi ia harus menjelaskannya pada Chanyeol. Baekhyun tidak perlu repot-repot mengutarakan sakit apa Kris sebenarnya, karena Chanyeol sudah tahu itu. Pria itu bahkan tahu Baekhyun bolak-balik ke rumah sakit untuk menjenguk Kris dan Chanyeol tidak pernah keberatan karena hal itu. Ia tahu Baekhyun mengidolakan pria itu. Dan ia berusaha mengerti. Tapi ia tidak pernah tahu bahwa akhirnya akan seperti ini. Chanyeol merasa sejak ada Kris, Baekhyun bukanlah Baekhyun. Baekhyun di depannya berbeda.

"Mengapa harus kau?"

"Karena aku sudah berjanji padanya"

"Bagaimana kalau aku memintamu untuk tidak pergi? Apa kau akan tinggal?"

Chanyeol merasa tubuhnya memanas. Ia merasa marah. Bukan pada Baekhyun atau Kris. Tapi dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia sebodoh ini membiarkan Baekhyun dekat dengan Kris seakan-akan tidak mungkin terjadi apa-apa. Tapi sekarang apa yang terjadi? Kekasihnya akan pergi karena pria lain yang memintanya.

"Aku akan tetap pergi"

Mata Baekhyun sudah berkaca-kaca begitu pula Chanyeol. Situasi ini sangat sulit untuk Baekhyun. Ia bahkan merasa sulit untuk bernafas. Tapi ia sudah memikirkan semuanya matang-matang. Ia akan menepati janjinya. Setidaknya demi satu nyawa. Dan ia sudah memikirkan segala resikonya sekalipun ia harus kehilangan Chanyeol.

"Aku tidak mungkin membiarkanmu di sana selama satu tahun. Lalu bagaimana denganku?"

Chanyeol merasa tidak adil. Baekhyun akan pergi dan ia baru memberitahunya sekarang? Dua hari? Ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa dalam waktu sesingkat itu.

"Kalau begitu kita akhiri sampai disini", Baekhyun butuh banyak keberanian untuk meloloskan kalimat itu dari mulutnya. Baekhyun meremas sisi bajunya. Ia merasa akan jatuh bila tidak berpegang pada apapun.

"Apa?"

"Aku bilang berakhir, kau dan aku"

Chanyeol membatu di tempatnya. Itu bukanlah jawaban yang ingin ia dengar. Apa ia melalui kesulitan selama ini hanya untuk mendapat kalimat menyakitkan seperti sekarang?

"Aku tahu akan sulit bagimu, makanya kita putuskan saja sekarang. Kita akhiri semuanya"

Baekhyun merasa menjadi wanita jahat saat mengucapkan kalimat itu. Ia tidak tahan melihat ekspresi wajah Chanyeol yang sepertinya berantakan karena dirinya. Baekhyun melihat genggaman tangan Chanyeol yang masih menempel dengan tangannya. Perlahan ia menyingkirkan tangan Chanyeol. Lalu tangan itu terhempas begitu saja tanpa perlawanan. Baekhyun memutar tubuhnya. Tepat saat ia berbalik, air mata yang daritadi di tahannya tumpah. Ia berusaha melangkahkan kakinya untuk pergi walaupun rasanya ia bisa limbung kapan saja.

"Apa kau selama ini tidak mencintaiku?"

Baekhyun berhenti melangkah. Suara Chanyeol membuatnya tidak bisa pura-pura tidak mendengarnya. Aku mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Tapi Baekhyun tidak bisa mengucapkannya atau hatinya akan kembali goyah. Baekhyun kembali mengambil langkah. Ia sama sekali tidak ingin melihat wajah Chanyeol atau ia akan kembali dan berlari pada pria itu.

Sentuhan di bahunya membuat Baekhyun terkejut. Ia bisa merasakan deru nafas di sekitar lehernya. Ia bisa merasakan tangan Chanyeol melingkar diatas dadanya.

"Ini tidak berakhir. Belum berakhir", bisik Chanyeol dengan suara bergetar. Pria itu sudah menangis sambil mendekap tubuh Baekhyun. Saat gadis itu hendak memutar tubuhnya, Chanyeol menahan tubuhnya. Ia tidak bisa membiarkan Baekhyun melihatnya menangis.

Baekhyun menggeleng. Ini tidak benar. Ia akan pergi dan ia tidak bisa menjalin hubungan dengan Chanyeol. Itu hanya akan semakin berat untuknya ataupun Chanyeol.

"Hanya satu tahun… aku akan tetap disini. Saat kau kembali, aku pastikan masih menunggumu disini"

Baekhyun merasa air matanya tidak bisa berhenti dengan mudah. Ia memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak bukan main. Mengapa Chanyeol tidak mengatakan ya saat ia mengajaknya untuk mengakhiri semuanya? Maka semuanya akan selesai. Tapi pria ini justru menawarkan dirinya untuk tetap menunggunya.

"Dunia ini bulat,tidak peduli seberapa jauh kau pergi, sama seperti bus sihir, kau akan kembali ke tempat dimana kau berada. Asal kau kembali, aku akan baik-baik saja"

-ANTIFAN-

Malam sebelum keberangkatan Baekhyun, ia habiskan bersama teman-temannya. Ia juga tidak lupa menghabiskan waktunya selama berjam-jam di telepon dengan ayahnya. Kyungsoo memang sengaja membuat pesta perpisahan dengan membeli soju, namun tidak ada satu pun diantara Baekhyun, Kyungsoo, Jongin, Tao, ataupun Sehun yang menyentuh alkohol. Suasana malam itu benar-benar buruk. Sehun dan Jongin yang biasanya berisik justru lebih banyak diam, lalu ada Kyungsoo dan Tao yang tak henti-hentinya menghabiskan tisu.

"Kau sudah berkemas?", tanya Jongin.

Baekhyun tersenyum lalu mengangguk pelan.

"Jam berapa penerbanganmu?", kali ini Tao yang bertanya.

"Pukul delapan pagi"

"Aku akan mengambil cuti dan mengantarmu ke bandara", ujar Kyungsoo dengan suara parau karena baru saja selesai menangis. Ia terus menempel di sebelah Baekhyun selama acara malam itu.

"Tidak perlu, aku akan baik-baik saja", bujuk Baekhyun. Ia tidak ingin menyusahkan siapapun.

"Ku dengar noona akan berangkat dengan dokter Lay", ucap Sehun. Ia memang sudah tahu soal Kris dari Kyungsoo dan ia cukup pandai untuk menjaga rahasia kali ini. Ia langsung tahu saat Lay mengatakan akan terbang ke Kanada untuk megurus operasi kerabatnya. Tapi sejauh ini hanya Kyungsoo dan Jongin yang mengetahui hubungan Baekhyun dan Chanyeol.

"Kami satu pesawat", jawab Baekhyun. Kata kami cukup untuk mencakup Kris juga.

Baekhyun memang sudah mempersiapkan semuanya. Ia mengajukan kepindahannya lebih cepat kepada perusahaannya dan untungnya semua berjalan lancar tanpa kesulitan apapun. Jadi saat ia sampai di Kanada, ia tidak perlu khawatir soal tempat tinggal. Walaupun Kris dan Lay mengatakan sudah menyiapkan villa, Baekhyun merasa cukup canggung tinggal dengan dua orang pria. Jadi ia lebih suka tinggal di tempat yang sudah disediakan perusahaan untuknya.

Sebelum mendengar Tao menangis lagi, Sehun mengajak mereka untuk menghentikan pestanya. Lagipula ini tidak bisa disebut pesta mengingat ini hanya penuh dengan air mata.

"Noona, kau harus pulang. Bukankah besok penerbanganmu pagi?"

Mereka memang sedang merayakan pesta di rumah Kyungsoo walaupun acara ini sebenarnya milik Baekhyun. Tao memang sudah berkemas pindah ke rumah Kyungsoo karena ia tidak mungkin tinggal di tempat Baekhyun lagi mengingat tuan rumahnya akan pindah ke negara lain yang jauh dari Korea.

"Aku akan mengantar noona pulang", ujar Sehun. Dan Baekhyun menyetujuinya.

Malam itu hanya Sehun dan Baekhyun yang pergi lebih awal. Jongin masih ingin bicara dengan Kyungsoo sedangkan Tao sudah tinggal disana jadi tidak ada alasan untuknya mengikuti Baekhyun pulang.

Di dalam mobil Sehun terus saja memperingati Baekhyun untuk menjaga kesehatan dan pola makan. Ia juga memberitahu makanan sehat yang bisa Baekhyun makan. Dan ia juga mengingatkan Baekhyun untuk berolahraga. Ya beginilah cara dokter menasehatinya. Walaupun dari luar Sehun terlihat kekanakan, sebenarnya Sehun cukup perhatian kepada teman-temannya.

"Noona, haruskah ku bawakan kimchi agar bisa kau makan disana? Kanada tidak memiliki kimchi kan?"

"Tidak perlu Sehun-ah, aku akan membuatnya sendiri bila aku ingin"

Sehun memutar mobilnya berbelok keluar gang hingga kini mereka sudah berada di jalan raya. Sesekali ia memperhatikan kaca spionnya untuk melihat kendaraan di belakangnya.

"Sehun-ah"

"Hm?"

"Apa sesuatu terjadi padamu dan Luhan?"

Sehun langsung menekan remnya dalam-dalam. Ia nyaris saja menabrak mobil di depannya karena tidak fokus. Padahal ia sudah menyetir dengan hati-hati. Tapi nama Luhan menghancurkan konsentrasinya. Baekhyun bahkan terkejut dan sedikit panik. Gadis itu membungkukkan tubuhnya ke depan untuk melihat apakah mobil depan Sehun menabrak mobil orang lain dan untungnya itu tidak terjadi. Baekhyun bernafas lega walau rasanya masih sedikit sesak.

"Noona, kau tidak apa-apa? Maafkan aku", Sehun melihat keadaan Baekhyun dengan khawatir. Karena ia melihat Baekhyun terus memegang dadanya, Sehun berasumsi mungkin saja terjadi sesuatu pada rusuknya jadi ia mencoba untuk memeriksa keadaan Baekhyun.

"Ya! Apa yang kau lakukan?!", Baekhyun memukul tangan Sehun agar menjauh dari dadanya.

"A—aku hanya mau memeriksa. Kupikir kau cedera", jawab Sehun tergagap. Ia takut Baekhyun bisa saja salah paham.

"Aku hanya terkejut", bantah Baekhyun. Ia panik, tadinya ia pikir Sehun akan berbuat yang aneh-aneh tapi ia baru ingat Sehun sebagai dokter. Yang ada di pikirannya hanya Sehun yang kekanakan. Setidaknya Baekhyun harus mengingatkan dirinya sendiri kalau Sehun yang masih kekanakan ini akan segera menjadi dokter.

"Maafkan aku noona", Sehun terlihat salah tingkah. Ia mulai gugup saat mendengar suara klakson mobil yang tidak sabaran di belakangnya karena lampu sudah berubah menjadi warna hijau.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga nyaris menabrak mobil orang lain? Bila aku celaka, aku mungkin saja tidak bisa melakukan penerbangan besok pagi"

"Aku—aku hanya sedikit tidak fokus"

"Karena apa? Luhan?"

"Apa?", Sehun menoleh kearah Baekhyun, dan tepat saat itu Baekhyun berteriak kencang.

"Sehun! Di depan!"

Sehun segera memutar stirnya. Ia mengambil jalur orang lain. Hampir saja ia menabrak truk yang berlawanan arah dengannya kalau Baekhyun tidak memperingatkannya.

Baekhyun menganga tidak percaya. Ia hampir mati. Gadis itu menatap tajam kearah Sehun.

"Menepi!"

"Apa? Kenapa?"

"Ku bilang menepi! Cepat!"

Baekhyun tidak mau dibantah. Sehun akhirnya menepikan mobilnya di tempat yang agak sepi. Baekhyun buru-buru keluar dari mobilnya. Sehun pikir Baekhyun akan pulang dengan taksi setelah kejadian yang terjadi. Tapi gadis itu malah berputar untuk membuka pintunya.

"Keluar"

"Kenapa?"

"Cepatlah"

Sehun hanya menurut dengan patuh. Baekhyun kemudian masuk di kursi kemudi membuat Sehun mengernyit.

"Masuk", suara Baekhyun terdengar tegas.

"Noona yang akan menyetir?"

"Lalu apa aku harus diam saja setelah dua kali nyaris kehilangan nyawa?"

Sehun menuduk merasa bersalah. Ia masuk ke dalam kursi penumpang dengan gontai. Ia bertukar posisi dengan Baekhyun. Kini Baekhyun yang menyetir menggantikan Sehun.

"Ku pikir kau mengantuk setelah beberapa hari ini begadang di rumah sakit. Bahkan kau tidak fokus saat menyetir", omel Baekhyun.

Sebenarnya bukan karena itu. Baekhyun yang terus-terusan menyebut nama Luhan membuatnya merasa tidak nyaman. Ia teringat bagaimana pertemuan terakhirnya dengan Luhan yang penuh kesalahpahaman.

"Oh ya, kemarin Luhan mencarimu"

"Aku?"

"Ya, kau! Kenapa kau kedengaran terkejut sekali?"

"Ah—bukan begitu. Tapi kenapa dia mencariku?"

"Entahlah, katanya ingin mengembalikan jaketmu"

"Jaket?", Sehun diam untuk berpikir. Ia teringat soal jaketnya. Ia memang meminjamkannya untuk Luhan karena tidak tahan melihat pakaian Luhan yang terlalu pendek.

"Kau tahu dia akan kembali ke Cina?"

"Aku tahu", suara Sehun terdengar lemah.

Baekhyun melirik Sehun sekilas lalu kembali fokus pada jalanan.

"Apa kau menyukainya?"

"Apa?"

"Aku merasa sepertinya kalian saling menyukai"

"Noona, berhenti bicara omong kosong"

"Aku tidak bicara omong kosong. Saat aku bicara dengan Luhan, ia hanya terus membahas tentangmu dan bertanya soal dirimu. Dan—", Baekhyun menghentikan kalimatnya sebentar tapi Sehun kelihatannya tidak sabar mendengar lanjutannya.

"Apa?"

"Kurasa kau menyukai Luhan karena setiap aku menyebut namanya di depanmu, aku hampir kehilangan nyawa. Terlihat jelas kau memikirkannya"

"Aku? T—tidak, bukan begitu"

"Berhenti membantah perasaanmu sendiri. Aku hanya bisa membantumu dengan ini sebelum pergi Sehun-ah. Setidaknya aku membantu agar kau yakin akan perasaanmu sendiri. Saranku hanya satu… katakan padanya jika kau menyukainya sebelum kau menyesal. Dia akan kembali ke Cina dalam waktu dekat"

Sehun melamun di kursinya. Apa dia memang menyukai Luhan? Dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya. Mereka selalu bertemu dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Adu mulut, bertengkar, dan berdebat. Apa dia menyukai Luhan dengan situasi seperti itu?

Tanpa Sehun sadari, mobilnya sudah berhenti di depan tempat tinggal Baekhyun. Baekhyun melepaskan sabuk pengamannya.

"Terimakasih tumpangannya Sehun", ujar Baekhyun saat keluar dari mobil. Sehun ikut keluar menyusul Baekhyun.

"Noona, bolehkah aku memelukmu?"

"Apa?"

Baekhyun terkejut mendengar Sehun tiba-tiba bicara seperti itu. Belum sempat ia menjawab, Sehun sudah merengkuh tubuh Baekhyun dalam sebuah pelukan hangat.

"Noona, terimakasih"

Suara Sehun terdengar tulus. Baekhyun tersenyum simpul. Ia membalas pelukan Sehun. Menurutnya ini tidak lebih dari pelukan pertemanan atau mungkin adik dan kakak mengingat ia menganggap Sehun seperti adik laki-lakinya sendiri.

"Jaga dirimu noona"

Setelah mengatakan itu, Sehun melepaskan pelukan mereka. Ia tersenyum kearah Baekhyun sebelum masuk ke dalam mobil. Baekhyun melambai dengan senyumnya.

"Berhati-hatilah. Jangan memikirkan Luhan saat menyetir", Baekhyun terkekeh saat mengatakannya. Sehun sempat cemberut namun itu tidak berlangsung lama. Ia melempar senyum hangat sebelum meninggalkan Baekhyun. Sehun akan merindukan 'Noona'nya itu.

Melihat mobil Sehun yang menjauh hanya membuat Baekhyun menghela nafas berat. Ia belum berangkat ke Kanada, tapi ia sudah merindukan teman-temannya dan juga—Chanyeol.

Sejak kejadian malam itu, Baekhyun pulang dengan air mata. Ia tidak bicara dengan Chanyeol lagi. Tidak melihat atau mendengar suaranya. Ia pikir ini akan membiasakan dirinya hidup tanpa lelaki itu di sisinya. Namun itu malah membuatnya semakin tersiksa karena ia selalu merindukannya setiap waktu.

Baekhyun sedang berbaring di tempat tidurnya. Mencoba memejamkan matanya namun itu adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Baekhyun menyerah berguling kesana kemari. Ia melihat jam digital di mejanya dan mendesah berat. Ini sudah pukul sebelas lewat dan ia masih belum tidur sedangkan besok ia sudah harus bangun pagi menyiapkan kepergiannya.

Baekhyun menutup selimut hingga ke wajahnya. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Percuma saja. Ini usaha yang sia-sia. Baekhyun duduk di pinggiran ranjang dengan frustasi. Ia merindukan Chanyeol. Besok ia harus pergi tapi sampai saat ini ia tidak bicara ataupun bertemu dengan Chanyeol. Kepergiannya terasa menjanggal. Baekhyun mendnegar ponselnya bergetar di meja, ia buru-buru meraihnya. Mungkin saja itu Chanyeol. Namun yang tertera disana justru nama lain. Kris. Byun Baekhyun apa yang kau harapkan? Kau yang mengakhiri ini semua tapi mengapa kau seperti ini?

From : Kris

"APA KAU SUDAH TERTIDUR? AKU MERASA GUGUP MENUNGGU BESOK PAGI"

To : Kris

"AKU BARU SAJA AKAN TIDUR. KAU JUGA TIDURLAH, KITA BERTEMU BESOK PAGI DI BANDARA"—SENT.

Baekhyun meletakkan ponselnya di meja dengan lemas. Ia bangun dari ranjangnya dan berjalan mengambil mantelnya yang tergantung. Mungkin sedikit udara segar akan membuatnya mengantuk.

Baekhyun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Walaupun ini sudah terlalu larut malam untuk jalan-jalan, setidaknya kota Seoul tidak pernah tertidur. Baekhyun melangkah hingga ke pintu. Memutar kenopnya hingga terbuka. Baekhyun tidak pernah tahu bahwa kejutan selalu datang dalam kehidupannya seperti saat ini. Ia melihat sosok Chanyeol berdiri di depan pintu apartemennya. Apa dia bermimpi? Apa Baekhyun sedang tertidur sekarang? Atau mungkin ini karena ia terlalu merindukan Chanyeol?

"Chanyeol…"

Pria itu langsung menariknya ke dalam sebuah ciuman. Bibir yang hangat itu membuat jantungnya berdebar-debar. Baekhyun menahan nafasnya. Ia merasa Chanyeol sedikit berbeda. Ini terlalu menuntut dan emosional. Chanyeol menciumnya kuat dan sentuhan tangannya membuat Baekhyun mundur selangkah untuk memutus ciuman itu tapi seperti tidak ada celah, Chanyeol justru merapatkan tubuh mereka. Baekhyun terasa seperti terbakar sekarang.

Baekhyun akhirnya berhasil melepaskan ciuman yang menurutnya terlalu memaksa. Jantungnya seperti meledak saat melihat tatapan Chanyeol. Terlalu sendu. Baekhyun mengatur nafasnya yang terengah-engah.

"Ada apa denganmu?", tanya Baekhyun susah payah.

Baekhyun menatap Chanyeol lekat-lekat. Tanpa menjawabnya, Baekhyun tahu apa yang membawa Chanyeol sampai kesini. Semua terpatri jelas di sorot mata dan ekspresi wajahnya.

Chanyeol maju selangkah, dan Baekhyun memilih untuk tidak mundur. Ia menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin saja pria ini akan mengatakan sesuatu.

Chanyeol menyentuh wajahnya dengan ujung jarinya hingga turun ke rahang. Baekhyun menatap Chanyeol dengan waspada. Chanyeol bisa melihat dari mata hingga pipi Baekhyun yang memerah.

"Chanyeol…", panggil Baekhyun dengan suara bergetar.

Baekhyun tersentak saat bibirnya lagi-lagi menempel dengan bibir Chanyeol. Ia berusaha mendorong dada Chanyeol namun lelaki itu mendorongnya hingga ke dinding dan memenjarakannya. Menahan tangannya untuk bergerak. Baekhyun merasa ruangan ini semakin sempit saja. Chanyeol seolah tidak memberi pilihan apa-apa dan itu tersampaikan dalam ciumannya, Chanyeol hanya menuntunnya dalam sebuah ciuman yang mendamba, lebih dekat, lebih dalam.

Baekhyun merindukan lelaki ini. Bibirnya, deru nafasnya, gerakan dadanya yang naik turun. Baekhyun tidak bisa berpura-pura tidak merindukannya. Ia akhirnya terhanyut dalam ciuman itu hingga semuanya terjadi semakin intens.

Tanpa di duga, Chanyeol yang mundur lebih dulu. Pria itu memutus ciumannya secara sepihak. Ia menatap mata Baekhyun lurus-lurus. Ia bisa melihat dada Baekhyun yang bergerak naik turun untuk menemukan oksigen.

"Aku merindukanmu", suara berat Chanyeol membuat Baekhyun membeku.

Lelaki itu perlahan menariknya dalam sebuah pelukan. Baekhyun menenggelamkan kepalanya di dada bidang Chanyeol. Menikmati tangan Chanyeol yang bergerak mengelus rambutnya perlahan. Baekhyun terlalu hanyut dalam situasi hingga kalimat itu keluar.

"Aku juga merindukanmu"

.

.

.

Malam itu Baekhyun tertidur di dalam pelukan Chanyeol. Mereka hanya tidur, masih dengan pakaian lengkap. Baekhyun sangat tahu batas dan ia tidak akan melanggarnya. Tempat tidur yang sudah sempit untuk satu orang terlihat semakin sempit saja. Tapi itu kelihatanya tidak menjadi masalah bagi mereka berdua.

Baekhyun menggunakan lengan Chanyeol sebagai bantalan. Setelah mengatakan pada Chanyeol kalau ia ingin keluar karena tidak bisa tertidur, Chanyeol langsung menawarkan diri untuk menemaninya. Pria itu memutar tangannya di punggung Baekhyun. Membuat pola tak beraturan yang terasa menenangkan.

Baekhyun merasa nyaman diam di dada Chanyeol. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu dengan jelas. Tidur dengan Chanyeol disampingnya terasa sangat nyaman dari yang ia bayangkan. Ia yang sebelumnya kesulitan tertidur, kini justru merasa mengantuk sejak Chanyeol berada di sisinya.

"Kau tidak tidur?", tanya Baekhyun.

"Hmm, sebentar lagi setelah kau terlelap"

Baekhyun melingkarkan tangannya di pinggang Chanyeol dan memejamkan matanya. Tapi suara berat Chanyeol membuatnya kembali terbangun.

"Baekhyun…"

"Hm?"

"Kau berjanji akan kembali kan?"

Baekhyun terdiam. Ia terlalu takut membuat janji untuk Chanyeol. Ia bahkan tidak bisa menepati janji yang terakhir kali ia ucapkan untuk Chanyeol. Ia tidak ingin sesumbar dan membuat Chanyeol semakin kecewa karena ia tidak bisa menepatinya.

"Kau akan kembali bukan?", Chanyeol mengulang pertanyaannya.

"Aku takut membuat janji untukmu. Aku takut tidak akan bisa menepatinya"

"Apa kau mengingkari janjimu?"

"Kau memintaku untuk tinggal di sisimu, tapi aku justru akan pergi"

Chanyeol berhenti menggerakkan tangannya di punggung Baekhyun. Ia hanya mengeratkan pelukannya.

"Kau tidak mengingkarinya", bantah Chanyeol.

Baekhyun mengadahkan kepalanya. Ia bisa melihat Chanyeol tersenyum padanya. Lelaki itu menarik sebelah tangan Baekhyun hingga berpindah ke dadanya. Baekhyun bisa merasakan detak jantung lelaki itu bergerak dengan jelas.

"Kau tidak pergi kemanapun. Kau disini. Kau tidak mengingkari apapun"

Baekhyun menatap Chanyeol lama. Mengapa lelaki ini begitu mempercayainya? Chanyeol pria yang sempurna, ia bisa mencari gadis manapun yang ia sukai, lebih cantik dan lebih baik dari Baekhyun. Tapi kenapa ia hanya melihat Baekhyun? Apa dia begitu mencintainya? Baekhyun semakin sadar betapa beruntungnya ia mendapatkan lelaki ini. Tapi dengan bodohnya ia mencampakkannya.

"Aku akan kembali", ujar Baekhyun yakin.

Chanyeol tersenyum lebar. Ia kemudian mendaratkan sebuah ciuman singkat di dahi Baekhyun.

"Sekarang tidurlah"

.

.

.

Saat terbangun di pagi hari, Baekhyun panik karena tidak melihat Chanyeol. Namun pria itu tiba-tiba muncul dengan wajah basah. Baekhyun merasa lega saat melihat wajah kekasihnya. Ya kekasih, Baekhyun dan Chanyeol tidak pernah berakhir.

"Kau darimana? Aku pikir kau meninggalkanku"

"Aku mencuci muka", jawab Chanyeol.

"Jam berapa penerbanganmu?"

Baekhyun menatap Chanyeol heran. Pria itu bertanya seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Padahal sebentar lagi Baekhyun akan terbang ke belahan dunia yang berbeda dengan Chanyeol. Baekhyun melihat jam di meja.

"Kurang lebih dua jam lagi"

"Kalau begitu cepatlah mandi dan bereskan bagasimu. Sebelum ke bandara, aku akan mengajakmu sarapan"

Baekhyun membuka mulutnya hendak bicara sesuatu, tapi itu tertahan di tenggorokan. Ia menunduk lemas melihat Chanyeol menghilang lagi.

Sebenarnya Chanyeol tidak baik-baik saja. Ia hanya berusaha untuk baik-baik saja. Pria itu bahkan tidak bisa tidur semalaman. Hanya memeluk dan merengkuh tubuh Baekhyun sambil memandangi wajah damainya yang terlelap. Ia takut bila ia tertidur, ia akan kehilangan Baekhyun begitu ia bangun. Pria itu bersandar di tembok lalu menghela nafas berat. Ini terlalu berat.

Chanyeol mengajak Baekhyun sarapan di sebuah kafe yang memang menyediakan menu breakfast. Mereka duduk di sebuah meja dekat dengan jendela. Baekhyun tidak berniat makan disaat seperti ini begitu halnya Chanyeol. Pria itu bahkan sudah kehilangan selera makan sejak Baekhyun mengatakan akan pergi ke Kanada.

"Aku membeli ini untuk kau makan, bukannya dipandangi"

Chanyeol menyodorkan pancake dengan madu sebagai sausnya. Makanan enak itu bahkan tidak berhasil menggugah seleranya. Baekhyun menatap Chanyeol lekat.

"Ada apa?", tanya Chanyeol.

"Daripada sarapan, mengapa kita tidak menghabiskan waktu berdua? Aku akan pergi sebentar lagi"

"Bukankah sekarang kita sedang menghabiskan waktu bersama?"

"Duduk disini membuang waktu"

"Kau harus makan"

"Aku bisa makan di pesawat"

"Aku tidak percaya padamu. Aku ingin melihatmu makan sekarang"

"Kalau kau memaksa, aku akan memakannya. Tapi kau juga harus makan"

"Aku tidak lapar"

"Kalau begitu aku tidak akan makan ini"

Chanyeol mengalah. Ia akhirnya memanggil pelayan. Seorang wanita dengan umur sekitar tiga puluhan lebih. Chanyeol akhirnya memesan roti dan sosis.

"Kau puas?"

Baekhyun tersenyum lalu mengangguk.

.

.

.

Saat mereka sampai di bandara, Chanyeol langsung disambut Kris dan juga seseorang yang tidak Chanyeol kenal. Baekhyun memberitahu kalau pria itu bernama Lay. Dalam keadaan normal, Chanyeol akan menghajar Kris karena membawa kekasihnya pergi bersamanya, tapi melihat kondisi Kris, Chanyeol tidak bisa melakukan apapun. Pria itu memang terlihat membutuhkan pertolongan.

Kris memang sudah mengetahui hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Ia sadar terlalu egois mengajak Baekhyun pergi sedangkan Chanyeol mungkin akan sangat terluka karena itu. Tapi ia merasa umurnya tidak lama, jadi ia ingin Baekhyun di sisinya walau hanya di sisa waktunya.

Lay ijin untuk mengurus beberapa hal. Kini hanya tersisa Chanyeol, Baekhyun, dan Kris. Chanyeol terus saja memegang tangan Baekhyun seakan sedang pamer pada Kris kalau Baekhyun adalah miliknya. Kris hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan Chanyeol.

"Ah, kepalaku", seru Kris dengan memegang kepalanya.

Baekhyun yang panik langsung mendekati Kris. "Ada apa? Kau sakit? Haruskah kupanggil dokter Lay?"

Chanyeol mendesis pelan melihat Baekhyun begitu khawatir. Chanyeol melihat Kris menyeringai kearahnya. Pria ini benar-benar. Apa dia sengaja?

"Chanyeol, bisa kau cari air?"

"Apa?"

Chanyeol tidak percaya Baekhyun baru saja menyuruhnya mencari air untuk Kris?

"Aku bilang air", seru Baekhyun dengan khawatir.

Chanyeol akhirnya pergi dengan berat hati. Pria itu melangkah besar-besar mencari toko atau semacamnya yang menjual air.

Chanyeol tidak sengaja melihat kearah tiang penyangga. Seseorang langsung bersembunyi saat melihatnya. Chanyeol menyipitkan matanya penuh curiga. Ia berjalan perlahan kearah sana. Saat ia hampir saja sampai, ia melihat orang itu kabur dengan kamera. Chanyeol langsung sadar ada yang tidak beres. Apa dia wartawan? Sial.

Chanyeol buru-buru mengejar orang itu. Ia tidak ingin kehilangan jejak. Dan keberuntungan berpihak padanya. Ia mendapatannya. Chanyeol menahan tangannya ke belakang dan menarik kameranya.

"Siapa kau?"

"Ah, ah. Itu sakit. Kumohon lepaskan aku"

"Aku tanya siapa kau?!", bentak Chanyeol tidak sabar.

"Aku reporter!"

Chanyeol menghempaskan tangan pria itu kasar. Ia melihat kamera yang disitanya dan memeriksa gambarnya. Benar saja di dalam sana penuh dengan gambarnya dan Baekhyun juga Kris.

"Berita apa yang akan kau buat?"

"Apa?"

"Skandal?"

"Itu—"

Chanyeol mengeluarkan batere kamera dan memorinya dengan kesal. Ia sudah biasa diberitakan. Tapi ia tidak akan membiarkan seseorang menulis apapun tentang Baekhyun. Orang itu terkejut melihat Chanyeol merampas barangnya.

"Jika kau menginginkan barang-barang ini, temui aku. Aku akan menggantinya dengan yang baru. Tapi aku akan menahan yang ini"

Chanyeol melempar kamera itu ke dada orang itu hingga ia menangkapnya. Reporter itu tidak bisa berkata apa-apa dan hanya membiarkan Chanyeol pergi.

Chanyeol kembali dengan membawa air. Ia sedang dalam emosi yang buruk karena reporter penguntit. Dan sekarang ia harus melihat drama menyedihkan. Chanyeol hanya mengamati dan menunggu. Apa yang dilakukan dua orang ini?

Kris melihat Chanyeol datang dengan sebotol air, namun saat Chanyeol semakin dekat, Kris malah sengaja membuat Chanyeol geram.

"Baekhyun, apa kau menyukaiku?"

"Apa?"

Baekhyun terkejut mendengarnya. Gadis itu tidak tahu Chanyeol berdiri di belakangnya sedang mengamati.

"Kurasa aku menyukaimu", ujar Kris. Pria itu memang bicara dengan Baekhyun, tapi pandangannya lurus pada Chanyeol.

Baekhyun mematung di tempatnya. Sebenarnya situasi apa yang sedang ia hadapi sekarang? Bukankah Kris tahu ia berpacaran dengan Chanyeol? Lalu untuk apa ia mengatakan hal ini?

"Aku bilang aku menyukaimu, lalu bagaimana denganmu?"

Chanyeol meremas botol di tangannya erat. Ia beradu tatapan tajam dengan Kris.

"Aku—", Baekhyun diam beberapa saat. Gadis itu menunduk lalu kembali mengadahkan kepalanya untuk melihat Kris.

"Aku juga menyukaimu"

Kris beralih menatap Baekhyun sedikit terkejut. Sedangkan Chanyeol tidak tahu harus melakukan apa sekarang.

"Aku menyukaimu sebagai idola"

"Apa?"

"Aku menyukaimu sebagai fans yang mencintai idolanya. Seperti itulah perasaanku"

Kris menghela nafasnya lalu tersenyum. Bodoh. Hampir saja ia pikir Baekhyun membalas perasaannya. Kris kemudian menyeringai ke belakang Baekhyun.

"Kau dengar kan?"

Baekhyun yang merasa bahwa Kris tidak bicara dengannya, akhirnya menoleh ke belakang. Ia terkejut melihat Chanyeol berdiri di depannya.

"Sejak kapan kau disana?"

Chanyeol maju mendekati Baekhyun dan menyerahkan sebotol air yang Baekhyun minta.

"Kau menakutiku", ujar Chanyeol. Baekhyun hanya memandang kekasihnya tidak mengerti.

"Dia tidak menyukaiku.. Kau tenang saja, sekalipun ia bersamaku, hatinya tidak akan berubah. Iya kan Baekhyun?", tanya Kris dengan tersenyum. Wajahnya terlihat pucat. Kris sadar posisinya sekarang. Ia tidak akan memaksa perasaannya lagi. Kali ini ia benar-benar tulus hanya ingin Baekhyun di sisinya selama ia sakit. Ia butuh seseorang. Tidak lebih.

Chanyeol menarik Baekhyun ke sisinya. Ia menatap Kris dengan tatapan menyalak. Sebenarnya ia tidak serius memberi tatapan seperti itu. Chanyeol kemudian memperingatkan Kris, "Jangan ganggu dia"

Kris mengangguk patuh, "Tidak, sekarang habiskanlah waktumu dengan Baekhyun. Karena setelah ini ia akan bersamaku untuk waktu yang lama"

"Kris!"

Chanyeol melirik kearah Baekhyun. Sedangkan Kris membalik tubuhnya. Ada apa gadis itu memanggil Kris? Apa dia berubah pikiran? Chanyeol mulai gusar.

"Airnya"

Baekhyun memamerkan botol di genggamannya. Kris menyuruh Baekhyun melemparnya dan ia menangkapnya. "Terimakasih"

"Kenapa kau suka sekali menakutiku?", omel Chanyeol saat Kris sudah pergi.

"Apa?", Baekhyun memasang wajah polosnya seakan tidak tahu apa-apa.

Chanyeol terus memegang tangan Baekhyun erat-erat saat duduk di ruang tunggu bandara. Menunggu hingga pengumuman penerbangannya diumumkan.

Baekhyun tak henti-hentinya bicara panjang lebar dan Chanyeol dengan senang hati mendengarkannya. Kalimat itu sebenarnya hanya seperti omelan, tapi Chanyeol senang mendengarnya. Karena setelah ini ia pasti sangat merindukan suara Baekhyun. Gadis itu lebih banyak mengeluarkan kata jangan.

Jangan pulang larut malam.

Jangan sering menyetir sendirian.

Jangan melewatkan makan siang.

Jangan lupa sering makan nasi.

Jangan sakit.

Jangan minum wine saat merindukanku.

Jangan bicara dengan gadis lain.

Jangan melihat gadis lain.

Jangan lupa menelponku.

Jangan, jangan, jangan. Semuanya 'jangan' yang menurut Chanyeol baik.

"Pesawat Korea Air dengan penerbangan KS27 menuju Ottawa, Kanada akan segera berangkat. Penumpang diharapkan segera memasuki pesawat. Terimakasih."

Lay dan Kris menghampiri Baekhyun setelah mendengar pemberitahuan penerbangan mereka akan tiba. Kris bisa melihat betapa beratnya Baekhyun melepaskan Chanyeol begitu juga sebaliknya. Ia merasa bersalah untuk hal itu tapi ia tidak bisa melakukan apapun untuk keegoisannya. Setidaknya ini untuk yang terakhir kali ia mengambil Baekhyun dari Chanyeol, karena mungkin tidak memiliki kesempatan untuk melakukan ini lagi.

"Baekhyun, ayo", suara Lay memperingatkan.

Baekhyun berbagi pelukan sangat erat dengan Chanyeol sebelum pergi.

"Aku akan menelponmu saat aku sampai", ujar Baekhyun.

Chanyeol mengangguk. Memaksa senyumnya walau sebenarnya ia ingin sekali menangis.

"Aku mohon jaga Baekhyun", ujar Chanyeol tulus pada Kris.

Kris bahkan tidak tahu apakah ia masih bisa menjaga Baekhyun setelah operasi selesai. Entah ia masih hidup atau mati. Tapi entah mengapa pria itu yakin kalau ia bisa melakukannya. Jadi ia mengangguk sebelum pergi.

Chanyeol melihat punggung Baekhyun yang menjauh. Gadis itu berkali-kali menoleh ke belakang hanya untuk melihat Chanyeol dan Chanyeol pasti akan melambai dengan senyum. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali menyeret Baekhyun untuk pulang.

Lay membisikkan sesuatu pada Chanyeol sebelum pergi, dan ia akan mengingatnya. Setidaknya ia dan Baekhyun punya tujuan yang sama. Membantu satu nyawa.

Chanyeol masih ingat Lay mengatakan ini, "Gadis itu bagaikan obat yang diberikan Tuhan untuk menghilangkan kesedihan Kris, terimakasih karena membiarkannya ikut bersama kami. Aku akan menjaganya dengan baik."

Chanyeol berdiri di bandara sampai ia memastikan pesawat Baekhyun benar-benar telah lepas landas. 'Aku akan menunggumu bahkan jika itu butuh waktu lebih lama dari satu tahun.'

-ANTIFAN-

Baru empat jam jelang penerbangan Baekhyun, Chanyeol sudah merindukan wanita itu. Apa yang sedang Baekhyun lakukan di pesawat? Apa ia sedang memandang langit lewat jendela dan merindukannya juga?

Chanyeol menatap ponselnya dengan gelisah. Ia ingin segera bicara dengan Baekhyun. Penerbangan Korea—Kanada membutuhkan waktu belasan jam dan itu artinya Baekhyun belum sampai. Dia mungkin masih berada diatas awan sekarang.

Chanyeol sedang menghabiskan waktunya untuk bekerja. Ia bersyukur mempunyai kesibukan. Ia tidak tahu apa yang terjadi bila ia hanya duduk di rumah. Mungkin ia akan menjadi gila karena merindukan Baekhyun. Ia sedang di lokasi syuting saat ini jadi tak heran suasana sedikit riuh. Para staf mondar-mandir kesana kemari melakukan kesibukan. Tapi Chanyeol mengernyit saat melihat beberapa dari mereka justru bergerombol di suatu tempat. Terlihat heboh membicarakan sesuatu. Ini tidak biasanya. Tapi Chanyeol tidak ingin ambil pusing.

Seorang make up artist kemudian mendekati Chanyeol dan menaburkan sesuatu ke wajahnya. Ia perlu tampil sempurna di depan kamera, apalagi sebagai pemeran utama dari drama yang ia mainkan.

Tak lama, Xiumin berlari kearah Chanyeol dengan gulungan kertas di tangannya.

"Adeganmu dimulai sepuluh menit lagi"

Chanyeol hanya mengangguk saat Xiumin memberitahunya informasi itu.

"Ada tawaran pemotretan di Jeju untuk produk minuman ion. Apa kau mau mengambilnya?"

"Biar kulihat isi kontraknya"

"Akan kuserahkan padamu besok"

Chanyeol melihat gerombolan staf semakin banyak. Laki-laki dan perempuan sibuk bicara bukannya bekerja. Lama-lama Chanyeol juga menjadi penasaran.

"Hyung"

"Ada apa?"

"Mengapa mereka bergerombol disana bukannya bekerja? Apa sutradara tidak tahu?"

Xiumin melihat kelompok yang ditunjuk Chanyeol. Ia lalu mendesah berat saat mengingat apa yang sedang mereka lakukan.

"Kau pasti terlalu sibuk hingga tidak melihat berita"

"Memangnya ada apa?"

"Baru saja ada berita pesawat jatuh, kudengar banyak penumpangnya menghilang"

"Apa?!"

"Kenapa ekspresimu seperti itu?"

"Pesawat apa? Kemana tujuannya?"

"A—aku tidak ingat", jawab Xiumin gugup. Ekspresi Chanyeol yang begitu serius membuatnya ketakutan.

Chanyeol merasa kakinya lemas. Kepalanya pening seketika. Pria itu menatap ke sekitarnya dengan tidak fokus. Baekhyun. Baekhyun. Baekhyun. Nama itu terus berputar di kepalanya.

"Kau tidak apa-apa?", Xiumin melihat Chanyeol khawatir.

"Hyung, kemana tujuannya?"

"Apa?", Xiumin tidak mengerti arah pembicaraan Chanyeol.

"Pesawat itu hyung. AKU TANYA KEMANA TUJUAN PENERBANGANNYA?!"

-000-

-000-

-000-

TO BE CONTINUED

-000-

-000-

-000-

Holla~

Chapter 21 sudah mendarat di ffn.

Sedikit info, ini kurang lebih dua belas ribu words. Bayangkan bagaimana pegelnya.

Author jahat! Pasti pada mau ngomong gitu deh. Habis, di review rata-rata minta Baekhyun jangan pergi. Eh tapi author malah kirim dia ke Kanada. Hohoho.

Jujur, nulis chapter ini agak sedikit gimana gitu. Empty feel lah pokoknya pas tahu Baekhyun pacaran sama Taeyeon. Jleb jleb banget. Chanbaek feels langsung lenyap gitu aja. Jadi agak gak mood pas bikin ff Chanbaek. Tapi balik lagi lihat review. Gak bertanggung jawab banget kalau ini gak dilanjut. Betul?

Tapi jadi fans harus dewasa. Jangan ngajakin fandom lain fanwar. Gak baik. Lagian mau bulan ramadhan nih. Saling silahturahmi aja sama fandom sebelah.

Toh ini keputusan Baekhyun, selama dia bahagia ya akurapopo.

Author ngerti yang biasin Baekhyun pada potek nih. Sama author juga

Tapi jadi fans labil juga gak baik. Jangan egois sama bias. Toh yang makan hati kita sendiri.

Makanya belajar melapangkan dada. Oke? Oke?

Terimakasih buat yang sudah review ya. Banyak banget review yang masuk di chapter kemarin. Tapi author seneng bacanya. Maaf gak bisa dibalas satu per satu ya.

Nah, mumpung author udah mau masuk tes. Jadi ff ini mungkin akan segera di tamatkan.

Doain aja cepet selesai jadi author gak pake delay atau hiatus.

Terimakasih atas dukungan kalian selama ini. Dan jangan lupa review chapter ini ya. Terimakasih ^^