Beautiful Prince(ss)

.

Byun Baekhyun as Hisahito no miya Bekkyon shinno denka

Park Chanyeol as Mafia Phoenix

.

SUMMARY

Baekhyun tidak mengerti saat seseorang membawanya ke tempat yang asing, istana mafia Phoenix. Dia hanya seorang pangeran penerus takhta kedua dari Jepang dan ia tak mengenal Chanyeol sama sekali. Lantas ia bertanya-tanya tentang apa yang Chanyeol rencanakan dengan menculiknya hingga ia tahu dan menyadari bahwa dunia memang tak pernah berpihak kepadanya.

.

WARNING : BOY X BOY (YAOI)! MATURE CONTENTS! Abuse! Mafia!

Don't bash! Don't plagiat!

.

Chapter 19

Sengatan bau dari obat bius itu masih mengudara di area pernafasan Baekhyun. Namun tak cukup kuat untuk dapat membuatnya kembali tertidur. Kelopaknya terbuka, pupilnya membesar dengan sendirinya saat ia tak mendapatkan banyak cahaya di ruangan remang ini. Retinanya tak mendapatkan cukup cahaya hingga ia beberapa kali mengedipkan matanya untuk penyesuaian penglihatan.

Lalu keningnya berkerut dalam saat menyadari bahwa tak hanya bau obat bius yang ia hirup, namun juga aroma lain yang begitu familiar di ingatannya. Aroma kayu serta rerumputan halus yang menggoda, sangat maskulin dan jantan. Ia mengenalnya. Aroma Man In Black itu sampai kapanpun akan selalu familiar baginya. Hanya Yuta dan Chanyeol yang ia kenal menggunakan aroma itu. Dan ia harap itu bukan keduanya.

Dirinya merasa tenang. Hatinya menghangat dan jiwanya merasa aman dalam situasi ini. Hanya satu orang yang bisa membuatnya merasakan itu semua. Tapi tidak, ia tak mengharapkannya. Karena jika itu terjadi maka seluruh pertahanannya akan runtuh.

"Baby wolf.."

Panggilan itu.

Hanya satu orang yang memanggilnya demikian. Telinganya tak mungkin salah. Ia yakin ini bukanlah sebuah mimpi ataupun halusinasi yang tak nyata. Suara berat itu begitu nyata terdengar di telinganya. Begitu dalam dan penuh makna.

Lantas ia memutar kepalanya ke samping. Membuat ambernya bertemu tatap dengan sepasang violet indah yang dingin juga lembut dalam waktu yang bersamaan.

Ia terdiam untuk beberapa saat. Tenggelam dalam indahnya sepasang violet gelap itu hingga batinnya menjerit penuh kerinduan.

"Baekhyun.. Byun Baekhyun.. baby wolf.. my sweetheart."

Tangan itu membelai wajahnya dengan lembut. Merasakan setiap bentuk wajahnya. Menatapnya penuh kerinduan dan memanggilnya dengan rasa sayang yang tak terkendali.

"Park Chanyeol." Lalu ia sadar siapa pria yang telah menghancurkan hatinya hingga menjadi kepingan kenangan yang menyakitkan. Terus menghantuinya selama 7 tahun terakhir. Membayangi kehidupannya dan dua putranya. Pria yang menjadi ayah si kembar. Pria yang sama pula yang menginginkan kematian mereka.

Lantas ia menepis tangan 'kotor' Chanyeol yang membelai wajahnya. Bangkit dari kelalaiannya serta menjauh dari mafioso itu hingga ia berdiri di sisi ranjang yang lain. Menatap Chanyeol tajam, waspada dan penuh kemarahan.

Kerinduan itu membuncah di hatinya. Namun tidak untuk dapat membuatnya jatuh begitu saja ke lubang yang sama. Mafioso itu berbahaya. Racun paling berbahaya yang dapat menghancurkannya dengan cara yang paling kejam.

"Baekhyun.." pria itu mengucap namanya dengan nada meratap. Namun ia tak akan lagi tertipu. Semuanya hanyalah kebohongan. Kebohongan yang begitu menyakitkan hingga rasanya ia ingin mati.

"Jangan mendekat!" Baekhyun berteriak. Penuh ketakutan dan was was. Langkahnya mundur perlahan. Dengan mata yang masih tetap mengawasi pergerakan Chanyeol yang berusaha menggapainya hingga tubuhnya menabrak meja di sisi ruangan. Ia melirik dengan cepat keatas meja, menggapai tempat lilin antik yang berada disana untuk kemudian ia gunakan untuk menggertak Chanyeol meski ia tahu itu hanya akan berbuah sia-sia. Chanyeol adalah mafioso, seorang Phoenix yang hebat. Pria itu telah mengalami banyak luka dengan senjata. Jadi tak mungkin Chanyeol akan mundur hanya dengan todongan tempat lilin.

Tangan Baekhyun bergetar ketakutan. Dan Chanyeol melihatnya dengan jelas. Dibalik violetnya, Chanyeol menatap Baekhyun sendu. Menyesali perubahan sikap Baekhyun terhadapnya. Semua ini memang kesalahannya, kebodohannya, karena keegoisannya. Ia ingin kembali memeluk Baekhyun dan memenangkan kembali hatinya. Namun ia tahu untuk saat ini ia harus bersabar. Baekhyun telah melewati banyak pesakitan yang luar biasa karenanya. Jika ingin kembali mendapatkan Baekhyun, ia harus bergerak secara perlahan.

"Baby.. dengarkan aku."

"Tutup mulutmu, penjahat!" Baekhyun berteriak padanya. Dengan aura penuh kemarahan yang bergelora dengan bebas. Namun Chanyeol hanya bisa menghela nafas. Baekhyun adalah satu-satunya orang yang dapat membuatnya menekan emosi dan egonya ke titik terendah.

"Baekhyun, dengarkan aku dulu, sayang." Ia melewati ranjang ditengah ruangan untuk semakin mendekat ke arah Baekhyun yang terus bergeser menjauh seiring langkahnya yang mendekat.

"MENJAUH DARIKU!" Lelaki yang lebih muda memekik keras. Bersamaan dengan itu air matanya jatuh. Pada akhirnya rasa rindu dan sakit hatinya membuatnya kian menangis lagi dan lagi.

Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Pegangannya pada batang tempat lilin semakin mengerat seiring langkah Chanyeol yang semakin mendekat dengan cepat. Chanyeol tak menghiraukan ancaman Baekhyun. Yang ingin ia lakukan saat ini adalah mendekap Baekhyun dan melampiaskan rasa rindu yang telah membatu di hatinya setelah sekian lama.

Baekhuun berbalik cepat, menjatuhkan tempat lilin hingga terdengar bunyi nyaring perpaduan antara besi dan lantai marmer. Ia nyaris menggapai pintu saat justru Chanyeol menariknya kedalam pelukan pria itu. Ia berusaha memberontak sekuat tenaga. Namun Chanyeol juga menahannya dengan lebih keras hingga ia tak bisa melepas dekapan itu.

"LEPASKAN AKU BRENGSEK!" Baekhyun menjerit keras hingga pita suaranya nyaris putus. Dalam reaksi setengah sadarnya, ia memukuli Chanyeol. Namun Chanyeol tak bergeming saat Baekhyun mencakar tangan yang memeluk tubuh carrier itu, juga saat Baekhyun memukul perutnya dengan siku. Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa rindunya terhadap Baekhyun selama ini. Ia tak akan lagi membiarkan Baekhyun hengkang dari sisinya meskipun lelaki itu menancapkan sebilah pisau ke jantungnya. Tidak lagi.

"Baby.. baby.. hear me please.." Chanyeol berbisik lembut ditengah raungan Baekhyun yang terdengar pilu dan menyakitkan. Menjelaskan seberapa sakitnya lelaki itu selama ini. Dan ia lah penyebab dari semua rasa sakit itu. Ia ingat saat Jackson mengatakan bahwa papanya selalu menangis dan menyebutkan namanya dalam tidurnya. Baekhyun pasti begitu kesulitan selama ini. Tapi setidaknya ia bersyukur bahwa tak hanya ia yang merindukan lelaki itu hingga mendarah daging, namun juga sebaliknya.

Baekhyun menggeleng kuat, tubuhnya mulai melemas hingga tak ada lagi rontaan yang menghabiskan energi. Tangisan histerisnya berubah menjadi tangisan memilukan yang terdengar menyayat hati. Baekhyun telah menyerah pada situasi. Hatinya terlalu lelah untuk melawan keadaan ini. Rasa rindunya telah memporakporandakan pikirannya hingga ia kembali jatuh kedalam pesona Godfather Phoenix ini. Semua hal yang terjadi padanya terlalu menyakitkan untuk diingat. Namun juga terlalu berat untuk di lupakan. Kebohongan Chanyeol lah yang begitu menyakitinya. Pria itu bersembunyi dibalik topeng manisnya, diam-diam merencanakan pembunuhannya dengan cara yang menyakitkan. Betapa Chanyeol begitu kejam atas semua ini.

Ia hanya ingin bertanya, apakah seseorang bisa memilih di keluarga mana ia ingin di lahirkan? Memiliki darah Wang tentulah bukan keinginannya. Tak seharusnya Chanyeol juga melibatkannya. Takdir ini begitu kejam baginya. Hingga ia memilih menyerah pada semua itu dan tenggelam dalam perasaan sakitnya.

Semua hal yang terjadi begitu menyesakkan hingga membuatnya lemah dan pada akhirnya kesadarannya hilang. Ia jatuh terkulai di pelukan Chanyeol.

"Aku tak akan membiarkan kau pergi lagi, sayang." Itu adalah sebuah janji. Sebuah ultimatum keras untuk Baekhyun. Meski ia tahu Baekhyun tak mendengarkannya.

Lantas ia mengangkat tubuh kecil yang masih seringan dulu itu keatas ranjang. Meletakkannya dengan hati-hati seolah Baekhyun akan pecah jika ia memperlakukannya dengan kasar. Byun Baekhyun, lelaki berharga yang telah berhasil memenangkan kerasnya hati Phoenix.

"Aku akan menjagamu, baby." Bisikan lembut dibalik suara berat itu seolah menjadi bunga tidur bagi Baekhyun. Hingga lelaki itu mengerang kecil dalam rasa aman dan nyaman. Alam bawah sadarnya mengatakan bahwa ia telah menemukan sesuatu yang hilang selama ini. Jiwanya begitu mendamba akan kehadiran dominannya, Park Chanyeol. Satu-satunya.

Air muka Chanyeol masih sama kerasnya. Pria dominan yang masih menggeluti pekerjaannya sebagai mafia itu mendekatkan wajahnya pada Baekhyun hanya untuk mencuri sebuah kecupan ringan dari bibir manis carriernya yang telah lama ia rindukan.

Tangan besarnya naik ke wajah Baekhyun, membelai garis wajah submisif itu dengan lembut nan penuh perasaan. Bibir tebalnya tersenyum tipis ditengah perasaan membuncah yang ia rasakan. Hatinya menghangat saat menemukan dirinya bersama Baekhyun disini. Setelah 7 tahun berlalu akhirnya ia bisa kembali memeluk submisifnya. Meski Baekhyun jelas-jelas menolak kehadirannya, ia bersyukur bahwasanya Tuhan masih memberinya kesempatan untuk kembali memiliki Baekhyun.

Saat pintu disana terbuka pelan, Chanyeol memutar kepalanya dan mendapati Joonmyeon disana dengan tangan yang menggenggam erat telepon genggam. Ia melihat pria itu menghela nafas sebelum masuk dan menutup pintu, memasukkan ponselnya kedalam saku celana sebelum berjalan mendekat padanya.

"Aku mendengar teriakan Baekhyun." Itu sudah cukup menjelaskan mengapa Joonmyeon lancang menginterupsi pelepasan rasa rindu Chanyeol terhadap Baekhyun. Pria yang masih setia menjadi tangan kanan Chanyeol itu duduk di tepi ranjang. Menatap Baekhyun yang berbaring di atas ranjang dengan sendu. "Semua yang dia lalui di masa remajanya begitu sulit, Chanyeol. Itu mengguncang mentalnya. Jadi cobalah meraihnya kembali dengan perlahan. Jangan terburu-buru atau kau akan kembali menyakitinya." Mata coklat Joonmyeon menatap Chanyeol lekat, mencoba memberikan pengertian pada bos nya dan pria itu mengerti. "Pergilah temui Choi Junho. Katakan semuanya dan bawa si kembar kemari. Jika kau ingin membawa Baekhyun kembali ke Korea maka kau harus bergerak cepat. Aku akan menjaga Baekhyun." Joonmyeon melihat keraguan itu di mata Chanyeol. Ia mengerti, Chanyeol begitu takut kehilangan Baekhyun lagi. 7 tahun lamanya pria itu mencari dan kini pencariannya berlabuh di daratan China. Ia tahu seberapa kacaunya Chanyeol selama ini. Dan ia paham betapa besarnya keterlibatan Baekhyun dalam kehidupan Chanyeol di waktu singkat. "Aku bersumpah dengan nyawaku."

Chanyeol kembali menatap Baekhyun, cukup lama hingga Joonmyeon mengira bahwa Chanyeol tak mau meninggalkan Baekhyun bersamanya. Namun saat pria itu mengecup kening Baekhyun lantas berdiri, semua pikiran negatif Joonmyeon hilang. Pria yang lebih muda itu menatapnya tajam, memberikan peringatan keras padanya dan ia mengangguk untuk meyakinkan Chanyeol bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jadi, Big Boss Phoenix itu melangkah keluar kamar dengan langkah-langkah tegas yang menggema dan terdengar menakutkan di waktu yang bersamaan.

Kini hanya ada ia dan Baekhyun di ruangan ini. Maka ia mendekat, meraih tangan Baekhyun yang dingin untuk ia genggam dengan lembut. Nyatanya tak hanya Chanyeol yang merindukan Baekhyun, tapi juga ia dan rekan-rekannya. Kenangan yang Baekhyun torehkan di hati mereka begitu menyenangkan dan berharga hingga ketika lelaki itu menghilang tanpa jejak, semua orang merasakan hal yang sama ; rindu.

Detik terus berlalu, dan ketika detik-detik yang penuh kekosongan itu berubah menjadi puluhan menit yang sunyi senyap, ia melihat kelopak cantik Baekhyun perlahan terbuka. Lantas ia tersenyum dalam perasaan bahagianya. Menanti kesadaran Baekhyun dengan sabar.

Namun justru Baekhyun menyentak tangan yang berada dalam genggamannya. Menatapnya penuh waspada seolah ia adalah orang asing. Itu begitu menyakitinya. Tetapi ia tak ingin egois, ia mengerti bahwa Baekhyun begitu ketakutan.

"Darling.. ini aku, Joonma." Joonmyeon mendekat, meraih tangan Baekhyun yang bergetar hebat. Memberikan sebuah senyum hangat yang selalu ia berikan pada Baekhyun dulu.

Joonma, bagaimana mungkin Baekhyun bisa lupa akan panggilannya untuk Joonmyeon. Tentu ia tahu pria yang saat ini bersamanya adalah Joonmyeon, namun ia terlalu takut untuk berbicara hingga ia membiarkan Joonmyeon memeluknya erat. Hangatnya pelukan Joonmyeon masihlah sama. Sama halnya dengan dinginnya pelukan Chanyeol yang selalu terasa aman baginya.

Jadi ia menangis kembali di bahu Joonmyeon, tak ada isakan, hanya tumpahan air mata yang melimpah. Menjelaskan rasa rindunya.

"Baekhyun, Baekhyun, aku merindukanmu.. kami semua merindukanmu, darling." Tangan hangat Joonmyeon mengelus surai Baekhyun yang masih sama lembutnya. Ikut menangis dalam diam saat mengingat memori menyakitkan ketika Baekhyun pergi. "Tak apa, baby. Tak apa. Aku tahu seberapa besar rasa sakitmu."

Lantas Baekhyun melepas pelukan itu, menatap Joonmyeon dengan ambernya yang menajam sedemikian rupa. "Apa kau tahu semua rencananya?" Itu adalah pertama kalinya Baekhyun berbicara padanya setelah 7 tahun berlalu. Kemudian ia menggeleng. Kendatipun begitu, Baekhyun tetap mencurigainya.

"Tak ada yang tahu tentang apa yang di pikirkan Chanyeol. Percayalah, semua yang ia perbuat menjadi bumerang baginya. Andai kau tahu seberapa kacaunya ia saat kau pergi. Ia kehilangan dirinya begitu banyak, Baekhyun. Dia tak akan pernah bisa menyingkirkanmu karena kau begitu berharga baginya. Semua yang ia ucapkan saat itu hanyalah sebuah luapan emosi, darling. Percayalah." Joonmyeon menangkup wajah Baekhyun dengan tangan kanannya. Menatap lelaki Jepang itu dengan tulus. Berusaha meyakinkannya bahwa ia bersungguh-sungguh atas ucapannya.

"Kau bohong. Dia menyakitiku." Suara Baekhyun bergetar penuh kesakitan.

"Aku tak akan egois dengan memaksamu menerimanya kembali karena aku tahu kau begitu ketakutan terhadapnya. Tapi cobalah hal terbaik yang bisa kau lakukan. Jika menjauh membuat masing-masing dari kalian terluka, kenapa harus melakukannya? Aku tahu kau masih mencintainya. Jackson telah memberi jawaban itu."

"Kalian tahu tentang Jackson?" Tubuh Baekhyun tersentak. Reaksinya sungguh diluar dugaan. Ia terlihat panik dan ketakutan.

"Tenang, Baekhyun. Tenang. Tak akan ada yang menyakiti mereka. Tidak ada. Kami sudah tahu putra kembarmu. Oh Haowen, teman mereka, adalah putra pertama Luhan dan Sehun. Hasil kecelakaan di pesta ulang tahun Yixing. Ingat?" Tawa hambar Joonmyeon mengingatkannya. Tentu ia ingat saat dimana Luhan frustasi dan ingin menggugurkan kandungannya, begitupun saat Sehun depresi dan mengurung dirinya di kamar seharian.

Putra pertama, itu artinya mereka memutuskan untuk bersama dan memiliki putra yang lain. Berita bagus, dua pria yang sering berkelahi satu sama lain akhirnya memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan.

"Banyak yang berubah saat kau pergi, honey. Minseok dan Jongdae akhirnya memutuskan untuk menikah meski mereka sama-sama dominan. Aku dan Kris juga, lalu Kai dan Kyungsoo yang memiliki putra yang seumuran dengan adik Haowenㅡ Oh Ziyu, namanya Kim Taeoh," Joonmyeon tersenyum penuh kebahagiaan. Namun ada satu binar yang menghilang di sudut matanya. "Kedua putramu begitu luar biasa, Baekhyun. Mereka mewarisi gen mu dan Chanyeol secara sempurna."

Untuk pertama kalinya Baekhyun tenang, tubuhnya tak lagi menegang atau pun bergetar. Joonmyeon adalah sosok carrier lembut yang selalu berhasil membuatnya merasakan kasih sayang seorang ibu sejak dulu.

"Jackson mengatakan bahwa kau sering mengigau dan menangis dalam tidurmu, memanggil nama Chanyeol. Tapi Baekhyun, kau harus ingat bahwa kau tak akan pernah bisa menjauh dari Chanyeol selama kau memiliki kedua putranya. Mereka yang mengikat kalian. Demi Tuhan aku tak akan memaksamu, hanya saja tolong renungkan baik-baik demi perasaan kalian. Kau jangan takut, Chanyeol tak akan membunuhmu atau kedua putra kalian. Dia tak akan mungkin membunuh darah dagingnya sendiri, percayalah. Dia hampir gila saat kehilanganmu, dan mungkin dia akan bunuh diri jika dia membunuhmu. Aku akan selalu disana, kami akan selalu disana jika Chanyeol melakukan hal diluar batas terhadapmu. Sekali lagi tolong pikirkan semuanya. Demi kalian, dan demi Jackson serta Jesper. Meski yang mereka tahu kau adalah ayah mereka, mereka berhak memiliki keluarga lengkap. Kami semua menyayangimu, Baekhyun. Adalah hal yang luar biasa bagi kami jika kau bersedia untuk membuka hati pada kami lagi." Joonmyeon mengelus wajah Baekhyun, lantas memberikan sebuah kecupan sayang di kening lelaki itu hingga Baekhyun tersentak. "Pikirkanlah baik-baik."

e)(o

"Mata paman mirip sepertiku." Jesper mulai berceloteh dalam pangkuan Chanyeol. Ia menatap lekat violet gelap itu dengan binar mata yang hangat hingga Chanyeol tersenyum, senyuman itu begitu tulus dan manis. Euforia yang ia rasakan dapat mengalahkan egonya.

Hanya sebentar lagi agar ia bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya, memeluk Baekhyun kembali dan mendapatkan kedua putranya yang hebat. Ia hanya tak menyangka bahwa anak yang dikandung Baekhyun nyatanya bukanlah berjenis kelamin perempuan. Tuhan benar-benar membuat sebuah kejutan untuknya.

"Kau akan tahu nanti, baby." Lagi, ia tersenyum pada si kecil Jesper yang senang berceloteh ini dan itu padanya. Anak itu begitu polos dan ceria, seperti papanya, Baekhyun. Ia memberikan satu kecupan gemas di pipi Jesper hingga anak itu terkekeh geli.

Jesper terus berbicara, membicarakan segala hal yang ia lihat seiring langkah Chanyeol yang memasuki kediaman Oh. Lantas sebagai seorang ayah, Chanyeol sesekali hanya tersenyum atas apa yang Jesper bicarakan.

"Paman Sehun!" Jackson meronta dari pangkuan Kris saat melihat Sehun disana, duduk di sofa dengan segelas wine di tangannya. Pria itu tersenyum lebar padanya, menyambut kedatangan Jackson dengan sebuah pelukan dan beberapa ciuman di wajahnya.

"Paman.. kenapa kita harus membawa serta semua baju?" Pertanyaan yang lugu keluar dari mulut kecil Jesper, teruntuk Chanyeol yang masih memangkunya.

"Kita akan pindah rumah," Chanyeol mengelus surai lembut Jesper, berusaha memberikan sebuah pengertian pada si kecil, "Jackson, kemarilah."

Anak laki-laki dengan mata bulatnya yang polos itu menatap violet Chanyeol dalam beberapa saat hingga kaki-kaki kecilnya mendekat pada pria yang tak ia tahu sebagai ayahnya.

"Mulai sekarang, panggil aku daddy." Chanyeol merangkul kedua bahu kecil putranya.

Lantas si kembar menatapnya tak paham. "Daddy? Tapi kami sudah punya papa."

"Kalian ingat bahwa Haowen memiliki dua orang tua? Paman Sehun dan paman Luhan. Begitupun kalian. Kalian akan mengerti saat kalian sudah dewasa."

"Benarkah? Jadi sekarang kami juga punya 2? Papa dan daddy." Jesper bersorak dengan suara anak-anaknya. Begitu bersemangat atas daddy barunya tanpa tahu apa yang sedang terjadi.

"Papa!" Lalu tiba-tiba Jackson memekik, memanggil sosok papanya yang datang bersama seorang pria asing, pria yang sama yang mereka lihat beberapa hari yang lalu, masih di rumah ini.

Lantas dua anak kembar itu berlari kecil, memeluk kaki papa mereka dengan erat, seperti yang sering mereka lakukan.

"Mereka tak akan pernah menyebutmu demikian, Chanyeol!" Baekhyun berujar tegas. Suaranya terdengar dalam dan penuh emosi hingga Jesper dan Jackson merasa ketakutan dan bersembunyi di belakang Baekhyun.

Namun Jackson tak sepenuhnya merasa demikian, keningnya berkerut dalam saat papanya mengucap satu nama yang tak asing baginya; Chanyeol.

"Dia orang yang bernama Chanyeol itu, papa? Dia yang telah menyakitimu selama ini?" Tungkai kecil Jackson berdiri di hadapan Baekhyun, menatap papanya sedemikian rupa hingga Baekhyun terkejut akan perubahan emosi putra sulungnya. Raut marah itu nyaris sama seperti Chanyeol, penuh ketegasan dan begitu dominan. Jackson menyimpan sebuah kebencian untuk Chanyeol. Baekhyun dapat melihat itu di kilatan amber muda Jackson.

"Jake hyung.." Jesper mengiba, memanggil Jackson dengan suara kecilnya yang bergetar ketakutan. Melihat kemarahan saudaranya membuat ia semakin ketakutan dan memeluk kaki Baekhyun semakin erat. Violetnya berkaca-kaca dengan bibir melengkung ke bawah menahan tangis.

"Kau! Kau yang membuat papa selalu menangis!" Telunjuk kecil Jackson menunjuk wajah Chanyeol yang jauh lebih tinggi darinya dengan bengis. "Kau tak akan pernah menjadi orang tuaku! Aku hanya punya satu orang tua yaitu papa!"

Semua orang tersentak mendapati kemarahan Jackson yang begitu mendarah daging. Lelaki kecil itu berbicara lantang tanpa mengkhawatirkan apapun. Seorang anak yang membenci ayahnya, ini begitu mengejutkan. Rasa sayang Jackson terhadap Baekhyun membuatnya membenci siapapun yang berani membuat papanya bersedih. Tak peduli siapapun itu.

"Hey.. hey.. sayang, tenanglah." Kyungsoo memutuskan untuk bergerak, menghampiri Jackson dan mencoba memeluknya untuk memberikan sebuah ketenangan namun Jackson memberontak dengan begitu kuat hingga Kyungsoo melepasnya.

"AKU BENCI KAU!" Suara Jackson melengking dan menggema di seluruh penjuru ruangan. Merambat di udara dengan begitu dramatis hingga sampai di telinga Chanyeol juga Baekhyun.

Chanyeol bergeming, tak melakukan apapun saat Jackson mengutarakan kemarahannya selama ini. Mungkin ia pantas mendapatkan semua ini setelah apa yang ia perbuat pada Baekhyun.

Dan Baekhyun, lelaki yang telah membesarkan kedua putranya hanya menatap Jackson penuh keterkejutan, matanya berkaca-kaca penuh rasa haru dan tidak percaya. Ia hanya tidak tahu bahwa Jackson begitu peduli padanya, dan begitu tidak percaya bahwa Jackson begitu berani mengatakan kebenciannya pada Chanyeol.

Namun seharusnya ia tak membiarkan ini terjadi. Tak seharusnya rasa benci tumbuh di hati anak-anaknya yang tidak tahu apa-apa. Ia memang ingin menjauh dari Chanyeol, tapi menumbuhkan sebuah rasa benci di hati mereka untuk ayahnya bukanlah jalan keluar. Jackson dan Jesper harus tumbuh dengan baik tanpa ada rasa benci ataupun dendam. Biar saja ia yang menanggung semua sakit hati itu, tidak dengan anak-anaknya.

"Jackson, kenapa kau berbicara seperti itu, baby?" Baekhyun berlutut, meraih kedua lengan si sulung dengan lembut, menatap sepasang amber yang sama dengannya penuh tanda tanya. "Papa tak pernah mengajarimu untuk bicara demikian pada orang yang lebih tua darimu."

"Papa jangan membelanya! Dia jahat! Dia telah menyakiti papa! Aku tidak terima itu!" Lantas Jackson berteriak tanpa ampun. Matanya merah dengan bendungan air mata di kelopaknya. Jackson menatap papanya penuh rasa sayang. Ia ingin melindungi papanya dengan baik. Yang ia tahu papanya adalah carrier dan ia dominan. Dominan harus melindungi carrier, hanya sebatas itu yang ia mengerti tentang hubungan antara carrier dan dominan. "Papa bilang dominan harus melindungi carrier. Jake juga ingin melakukannya pada papa dan Jesper. Jake ingin melindungi kalian. Jake tak ingin melihat papa bersedih lagi."

Tuturan polos dari anak polos tak berdosa itu menyebabkan keterdiaman orang-orang dewasa disana. Dengan itu pula mereka memiliki kesimpulan bahwa Jackson adalah seorang dominan dan Jesper adalah carrier. Sungguh anugerah yang luar biasa. Keluarga kecil itu begitu lengkap.

"Jake, baby... dengarkan papa sayang. Sudah papa katakan bahwa saat seseorang menangis bukan berartiㅡ"

"Hentikan kebohongan itu! Papa jangan berbohong lagi pada Jake! Jake tahu bahwa papa bersedih karena orang itu. PAPA JANGAN BERBOHONG!" Suara jeritan Jackson disertai telunjuknya yang kembali menuding Chanyeol membuat Baekhyun tersentak. Air mata tak dapat lagi ia bendung di pelupuk matanya hingga air asin itu mengalir begitu saja di pipinya.

"Jackson, Jackson.. baby.."

"TIDAK! HENTIKAN! JAKE TIDAK MAU DENGAR APAPUN LAGI DARI PAPA!"

Kini Jackson mulai tak terkendali. Ia menjerit seraya menutup kedua telinganya tanpa mau mendengarkan Baekhyun yang berusaha membujuknya dengan berlinangan air mata.

Kris disana, mengambil alih tubuh kecil Jackson yang masih mengamuk tak terkendali hingga anak itu terkulai lemah di bahu Kris, memancing kepanikan Baekhyun yang segera berlari untuk melihat keadaannya.

"Apa yang terjadi? Kenapa Jackson pingsan?" Masih dengan menangis, Baekhyun menyentuh wajah putranya ditengah rasa panik. Jesper telah menangis keras melihat semua keributan yang terjadi disana dan Joonmyeon yang memeluknya untuk menenangkan keadaan Jesper.

"Tenanglah Baekhyun, dia baik-baik saja. Jackson hanya terlalu lelah dan shock atas semua ini." Kai menyentuh punggung Baekhyun yang masih menangis dengan suara memilukan. Sesungguhnya permasalahan yang rumit ini pastilah terasa begitu berat bagi Jackson maupun Jesper. Mereka hanyalah anak-anak berusia 7 tahun yang tak tahu apa-apa tentang konflik orang tuanya. Bahkan mereka tak tahu bahwa Chanyeol adalah ayah kandung mereka selama ini.

"Sweetheart.. tenanglah. Tak perlu takut." Baekhyun bahkan tak menolak pelukan Chanyeol ditengah rasa paniknya yang melanglang buana.

Lantas saat kontak mata antara Minseok dan Chanyeol terjadi, pria yang lebih tua itu mengangguk; memberikan sebuah kode yang telah disepakati eksistensinya. Mereka telah sepakat untuk melakukan ini. Meski keadaan begitu kacau, inilah saat yang tepat untuk membawa Baekhyun dan si kembar untuk terbang ke Korea.

"Semuanya akan baik-baik saja. Aku berjanji, baby wolf. Aku tak akan membiarkanmu pergi lagi. Tidak akan." Ucapan Chanyeol bagaikan obat tidur bagi Baekhyun karena setelahnya Baekhyun menutup matanya dengan tubuh yang melemas di pelukan Chanyeol.

Mafioso itu menghela nafasnya berat. Mengecup pelipis Baekhyun sekali lagi sebelum mengangkat tubuh ringan itu diatas kedua tangan kuatnya. Membawanya memasuki mobil untuk kemudian pergi ke lapangan udara dimana jet Phoenix telah menunggu.

"Easy boy.. jangan takut, kita akan pergi ke rumah barumu." Joonmyeon berbisik lembut di telinga kecil Jesper saat tangisnya mulai berhenti. Anak dengan mata violetnya itu masih nyaman untuk memeluk leher Joonmyeon dengan kedua tangan kecilnya yang melingkar disana. Bahkan ia tak bersuara sedikitpun saat mobil yang mereka tumpangi mulai melaju di jalanan lengang Guangzhou sore ini.

"Apa aku tak akan bertemu paman Joonhong dan Grandpa lagi?" Pelan, namun telinga Joonmyeon masih dapat mendengar itu dengan jelas saat Jesper berbicara di lehernya dengan suara lirih.

"Tentu saja kalian akan bertemu lagi. Suatu saat nanti, sayang. Jesper tidak perlu takut, hm?" Tangan besar Joonmyeon mulai mengelus punggung Jesper hingga naik ke kepalanya, sesekali ia menciumi kepala dengan surai hitam itu. Berusaha memberikan suasana senyaman mungkin agar Jesper tak kembali menangis.

"Apakah dia sungguh Daddy-ku dan Jake hyung?" Pembicaraan Jesper jelas mengacu pada Chanyeol. Meski Jesper tak menatapnya secara langsung, Joonmyeon tahu bahwa banyak kebingungan yang Jesper rasakan saat ini. Berbagai pertanyaan pastilah menepi di benak kecilnya.

"Tentu, dia Daddy kalian. Namanya Park Chanyeol. Nama kalian seharusnya Jesper Park dan Jackson Park. Dan nama papa kalian adalah Byun Baekhyun yang sebentar lagi akan menjadi Park Baekhyun." Joonmyeon menjelaskan dengan pelan agar Jesper mengerti. Namun sepertinya Jesper masih bingung dengan semua itu.

"Byun Baekhyun? Bukannya nama papa adalah Bian Baixian?" Kali ini si kecil dengan mata violet gelapnya itu mengangkat kepalanya dari ceruk leher Joonmyeon, menatap lekat Joonmyeon dengan penuh tanda tanya di matanya.

"Bian Baixian adalah pelafalan nama papa kalian dalam bahasa Mandarin. Jesper mengerti?"

Kemudian anak itu mengangguk dengan mimik menggemaskan yang membuat senyum Joonmyeon terlukis dengan tulus. "Daddy kalian adalah pria yang baik. Dia mencari kalian selama ini. Jangan takut padanya hanya karena dia terlihat kejam, oke? Dia sesungguhnya pria yang hangat."

"Kenapa dia mencari kami?" Kepala Jesper meneleng ke kiri dengan manis.

"Karena kalian menghilang dari jarak pandangnya."

"Aku tidak mengerti, paman." Bibir Jesper mencebik, perwakilan dari ketidakpahamannya atas apa yang Joonmyeon katakan.

"Kalian pergi. Papamu pergi dari Daddy-mu."

"Kenapa papa pergi?"

"Terkadang ada suatu hal yang tak di mengerti anak-anak atau bahkan orang dewasa." Joonmyeon menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyum simpul yang tetap terlihat hangat untuk Jesper.

"Itukah alasan papa pergi?"

"Begitulah. Suatu saat nanti mungkin kau akan mengerti."

"Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan? Papa terlihat tak menyukai Daddy." Anak kecil pun bahkan bisa merasakan emosi mendalam Baekhyun. Namun sesungguhnya kebencian itu hanyalah semu, karena dibalik semua itu mereka sama-sama tahu bahwa Baekhyun masih menyimpan hatinya dengan apik untuk Chanyeol.

"Kupikir, bagaimana jika Jes berusaha membuat papa dan Daddy semakin dekat?" Mungkin itu adalah kesempatan untuk menyatukan kembali Baekhyun dan Chanyeol ditengah ego mereka. Anak selalu menjadi ikatan yang kuat bagi orang tuanya.

"Semakin dekat?"

Lantas Joonmyeon mengangguk, "Jesper lihat bukan jika hubungan Daddy dan papa sedikit renggang? Akan sangat bagus jika Jesper bisa membuat mereka kembali dekat dan membuat Jesper memiliki orang tua lengkap."

"Ng, Jes mengerti paman."

"Sekarang kita teman, oke?"

"Call! Jadi siapa nama paman?"

"Joonmyeon, Kim Joonmyeon."

"Aku harus memanggilmu apa ya? Paman Joon? Tidak, itu terdengar seperti paman Joonhong. Bagaimana kalau... paman J?"

Joonmyeon tersenyum lebar, mengacak surai Jesper yang menggemaskan hingga anak itu terkikik-kikik.

"Teman-temanku juga memanggil begitu."

"Apa papa juga memanggilmu begitu?"

"No, baby. Papamu memanggilku Joonma."

"Joonma?"

Joonmyeon mengangguk kecil. Bersamaan dengan itu mobil berhenti melaju setelah sebelumnya melewati gerbang masuk landasan udara pribadi yang di klaim menjadi hak milik Phoenix sejak 4 tahun lalu.

"Jesper suka sunset. Papa sering mengajak kami melihat sunset di bukit dulu." Si kecil Jesper kembali berceloteh di pangkuan Joonmyeon saat melihat matahari yang hampir tenggelam di langit barat. Tangannya bergerak kesana-kemari saat mulutnya berceloteh hingga beberapa Phoenix mengalihkan atensi mereka padanya dan memilih untuk berjalan didekat Joonmyeon untuk dapat mendengarkan celotehan Jesper.

"Oh ya? Apa yang kau suka dari sunset?" Lalu Kai yang berjalan di sebelah Joonmyeon ikut menyahuti.

"Warna jingganya, paman. Warna jingganya. Itu sangat manis." Jesper mengulang ucapannya hanya untuk mempertegas bahwa warna jingga lah yang menjadi bagian favoritnya pada saat matahari kembali ke peraduannya.

"Kau akan suka rumah barumu, sayang. Disana ada pohon sakura dan kau bisa melihat sunset dengan jelas di halaman belakang." Bicara soal pohon sakura, Chanyeol memindahkan satu pohon sakura besar ke halaman belakangnya setelah Baekhyun pergi. Chanyeol ingat bahwa Baekhyun begitu menyukai pohon Sakura dan ia harap saat Baekhyun kembali, lelaki itu akan tetap menyukainya.

"Woa, itu bagus paman J."

Lagi, Joonmyeon hanya tersenyum sebagai balasannya untuk Jesper. Tungkainya kini berjalan menapaki tangga menuju pesawat, membawa Jesper untuk duduk di sebelahnya yang berhadapan langsung dengan Chanyeol serta Baekhyun.

"Ingat, kau tak boleh takut dengan Daddy mu, oke?" Joonmyeon berbisik di telinga kecil Jesper saat ia memasangkan sabuk pengaman untuknya.

Lalu Jesper membalasnya dengan bisikan penuh semangat, "Aye aye, paman J!"

Chanyeol menatap Baekhyun di sebelahnya yang tertidur. Rasanya seperti mimpi saat melihat kekasih hatinya disini, bersamanya, bersama kedua putra mereka. Lalu violet kelamnya beralih pada Jesper yang juga tengah menatapnya penuh rasa penasaran. Putra kecilnya itu tersenyum lebar padanya hingga dua gigi kelincinya nampak dan membuat Chanyeol tersenyum simpul.

Saat pesawat telah mengudara, Chanyeol melepas sabuknya begitupun dengan sabuk Jesper, memutuskan untuk membawa anak itu kedalam pangkuannya.

"Hihihi, Daddy.. itu geli." Jesper tertawa seraya berusaha lepas dari pangkuan ayahnya saat Chanyeol justru menciumi pipinya degan gemas. Setidaknya Chanyeol bersyukur bahwa kebencian itu tidak tumbuh di hati Jesper.

Mungkin Jesper benar-benar menuruni sifat papanya yang lembut sementara Jackson seperti dirinya; keras kepala, kasar, dominan dan otoriter.

"Diluar gelap sekali, Daddy. Aku tidak bisa melihat apapun." Jesper mengadu saat penglihatannya tak dapat menemukan apapun yang menarik ditengah langit malam diluar sana. "Woah! Disana ada bintang! Lihat itu Daddy, lihat!"

Chanyeol tersenyum dalam diam. Hatinya menghangat saat mendengar panggilan Jesper untuknya.

"Bintang itu sangat cantik seperti papamu." Chanyeol berbisik kecil di telinga Jesper. Kedua tangannya memeluk semakin erat Jesper dengan penuh rasa cinta. Tak ada yang lebih membahagiakan baginya selain dapat berkumpul kembali bersama keluarga kecilnya. Ia akan mendapatkan hati mereka kembali, pasti.

"Yash.. papa sangat cantik seperti kelopak bunga mawar yang baru mekar." Jesper mengatakannya dengan lugu. Hingga membuat mata Joonmyeon melebar gemas.

Jadi ia bertanya, "darimana kau belajar mengatakan hal seperti itu, honey?"

"Paman Joon sering mengatakan itu saat melihat tetangga baru kami di Guangzhou pada pagi hari." Jawaban khas anak-anak. Kenyataannya Jesper tak tahu makna dari kalimat yang ia ucapkan sebelumnya dan ia berkata jujur bahwa Zelo sering mengucap kalimat itu dulu.

"Itu ucapan orang dewasa, baby boy."

Jesper berbalik menatap ayahnya dengan beberapa kedipan menggemaskan hingga bulu mata cantiknya ikut naik dan turun bersamaan dengan kedipannya.

"Benarkah?"

Chanyeol mengangguk kecil, tersenyum dan memberikan sebuah kecupan sayang di pipi Jesper sebelum meletakkan kembali putra bungsunya itu di kursinya.

"Tidurlah, Daddy akan membangunkanmu saat kita sampai."

Dan Jesper hanya mengangguk patuh karena dia adalah anak baik. Papanya mengajarkannya untuk menuruti perintah orang tua selama itu tidak menjerumuskannya ke arah negatif. Chanyeol adalah Daddy nya, jadi ia harus menurut saat Daddy nya menyuruhnya untuk tidur.

"Nice dream, baby."

"Okay, Dad."

e)(o

"Kapan papa akan bangun, paman?"

"Aku tidak tahu, Jake. Tapi itu tidak akan lama."

Baekhyun telah menemukan kembali kesadarannya saat telinganya menangkap 2 suara orang yang berbeda di sekitarnya. Lantas matanya perlahan terbuka dengan lensa yang berusaha memfokuskan cahaya agar tepat jatuh ke retinanya.

"PAPA!" Suara Jackson dan Jesper lah yang pertama kali menyapa indra pendengarannya. Membuat hatinya diam-diam bersyukur bahwa kedua putranya baik-baik saja disini, bersamanya.

"Babies." Itulah yang pertama kali ia ucapkan, dengan sebuah senyum penuh kelegaan untuk si kembar.

"Papa, kenapa lama sekali bangunnya?" Jesper dan Jackson memeluk tubuhnya yang masih berbaring di atas ranjang. Lalu disana, di ujung ranjang, Baekhyun bisa melihat eksistensi Luhan, Yixing serta Chanyeol.

Ia tahu semua yang ia alami bukanlah ilusi, imajinasi, atau bunga tidur. Semuanya nyata diawali dimana ia nyaris kehilangan nyawanya di tangan Taejoon serta Sunbin, lalu Kai dan Yixing datang menyelamatkannya, kemudian kesadarannya perlahan ditarik paksa saat sesuatu yang tajam menembus punggungnya; suntikan obat bius yang Kai tembakkan. Selanjutnya ia terbangun dengan mendapati Chanyeol bersamanya, lalu ia menemui kedua putranya yang juga dibawa ketempat itu hingga akhirnya sekarang ia berada disini, di kamar yang begitu ia kenal, kamar yang ia tempati bersama Chanyeol dulu. Tak ada yang berubah dari kamar ini. Semuanya tetap sama. Suasana disini pun masih terasa dingin menusuk kulitnya.

"Jackson, Jesper, mari kita turun kebawah. Paman akan menunjukkan sesuatu yang menakjubkan pada kalian." Kris berusaha membujuk keduanya untuk meninggalkan Baekhyun serta Chanyeol. Ia mengerti bahwa Chanyeol dan Baekhyun harus memulai semuanya dari awal.

"Tidak mau! Jake mau menemani papa disini!"

"Jake.. ayolah, sayang. Kita harus pergi sebentar." Luhan menyentuh pundak Jackson yang masih memeluk papanya erat. Dan anak itu berhasil luluh oleh sentuhannya yang lembut juga bujuk rayunya yang manis. Kendatipun Jackson berwajah masam saat terpaksa harus meninggalkan papanya. Ia bahkan membuang pandangannya dengan keras saat bertatapan dengan Chanyeol. Dan Chanyeol tak bisa berbuat apa-apa selain berusaha mengerti, ia pantas mendapatkan kebencian itu. Lain halnya dengan Jesper yang justru menyentuh jemarinya sesaat seraya tersenyum seperti malaikat kecil seolah mengatakan pada ayahnya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Setelah semuanya pergi, kini yang tersisa disana hanyalah Baekhyun dan Chanyeol dalam suasana canggung yang begitu kental. Baekhyun mendudukkan dirinya dengan punggung yang bersandar pada headbed. Matanya enggan menatap Chanyeol dan lebih memilih arah lain dibanding violet gelap milik dominannya, atau mungkin mantan dominannya.

"Baekhyun.." suara berat itu mendayu rendah memanggil namanya. Namun Baekhyun tetap kuat dengan pendiriannya. Pertahanan yang ia bangun selama 7 tahun ini tak boleh hancur hanya karena pertemuannya kembali dengan orang yang telah menghancurkan hatinya juga hidupnya. "Maaf."

Baekhyun harus ingat bahwa itu adalah kata maaf yang pertama dari Chanyeol setelah 7 tahun mereka tak bertemu. Kata maaf dari Chanyeol selalu menjadi hal yang berharga. Namun kini tidak lagi. Setelah semua kebohongan itu, ia tak akan percaya lagi. Jadi sekarang ia hanya berusaha menulikan telinganya dari segala perkataan Chanyeol. Karena tak peduli seberapa banyak kata itu terucap dari Chanyeol, rasa sakit hatinya tak akan hilang begitu saja.

"Aku tahu rasa sakitmu tak sebanding dengan apapun, Baekhyun. Jika kau tak ingin berbicara padaku maka lakukanlah. Lakukan apapun yang kau inginkan. Tapi jangan coba untuk pergi lagi. Aku akan menukar apapun untuk dapat melihatmu kembali. Kau ada dalam jarak pandangku saja itu sudah cukup. Hanya itu yang kupinta, kau ada disini."

"Kau pikir kau masih berhak meminta setelah semua yang kau lakukan?" Kali ini amber Baekhyun beralih untuk menatap Chanyeol. Menatap violet gelap itu dengan selubung kebencian yang begitu tebal hingga Chanyeol merasa kehilangan Baekhyun untuk yang kedua kalinya. "Apa dosa yang kulakukan padamu di masa lalu hingga kau dengan posisi mafia mu berhak untuk membunuhku dan anak-anakku?" Suara Baekhyun mulai meninggi. Namun lelaki itu kukuh mempertahankan emosinya. Giginya saling bergemelatuk menahan luapan kemarahan yang begitu bergejolak didalam hatinya.

"Aku tak akan mengatakan apapun untuk meyakinkanmu, Baekhyun. Tetapi aku akan melakukan cara apapun untuk mendapatkanmu kembali. Ingat itu." Chanyeol tahu bahwa dirinya egois, sangat egois dengan mengatakan hal itu pada Baekhyun. Namun rasa cinta di hatinya telah tumbuh begitu besar dan nyaris berubah menjadi obsesi pada sosok Byun Baekhyun, carriernya yang luar biasa cantik dan menawan. Lautan darah pun akan ia seberangi jika itu untuk Baekhyun. Kini Baekhyun dan si kembar adalah segalanya untuknya. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan mereka. Apapun.

Disana, Baekhyun hanya bergeming. Tak mengatakan apapun untuk membantah ucapan Chanyeol. Bibirnya terkatup rapat dengan kaku dan tubuhnya terdiam seperti manekin saat Chanyeol memeluknya sesaat sebelum beranjak dan mengecup keningnya dalam diam. Bahkan saat pintu kamar telah tertutup pun Baekhyun masih terdiam.

Hanya buliran air mata yang kembali menemaninya dalam kesepian itu. Chanyeol nyatanya masihlah sama, otoriter dan egois. Ia merasa begitu bodoh dengan berpikir bahwa sikap Chanyeol akan berubah setelah semua waktu sulit yang mereka lewati. Hatinya terlalu lemah untuk dapat menolak kembali pesona Phoenix. Hanya satu kali, satu kali saja ia berharap bahwa Chanyeol akan membalas perasaannya yang masih sama kuatnya seperti dulu.

Yang Baekhyun tidak ketahui adalah bahwa sesungguhnya Chanyeol terlalu takut untuk mengatakan kebenarannya. Kebenaran bahwa ia telah jatuh pada pesona Baekhyun dengan begitu dalam.

e)(o

"JANGAN SENTUH AKU! AKU BENCI KAU!" Teriakan Jackson masihlah sama. Untaian kalimat kebencian telah berulang kali keluar dari mulutnya teruntuk Chanyeol. Tatapan amber kecilnya kian menusuk dari menit ke menit hingga hati Chanyeol terasa diremas kuat oleh tangan tak kasat mata saat mendapati kebencian Jackson untuknya. "KAU BUKAN AYAHKU! AYAHKU HANYA PAPA!" Itu teriakan terakhirnya sebelum sepasang tungkai pendeknya berlari menjauh dari Chanyeol serta Jesper yang mulai memanggilnya untuk kembali.

"Maafkan Jake hyung, Daddy. Dia tidak bermaksud begitu. Dia hanya belum siap mendapatkan keluarga baru." Ucapan polos Jesper berhasil menghangatkan kembali hati Chanyeol. Pria dewasa itu tersenyum lalu mengusap kepala Jesper penuh sayang.

"Tidak apa-apa. Daddy mengerti bahwa dia butuh waktu."

"Jake hyung sesungguhnya adalah orang yang sangat baik, Daddy. Dia begitu bertanggung jawab dan tujuan hidupnya adalah bisa menjadi dominan yang kuat agar bisa menjagaku, papa, serta kekasihnya kelak."

Chanyeol tertegun. Itu terdengar seperti janjinya dulu sesaat setelah ia membunuh ayahnya. Semua pahitnya kehidupan yang ia terima di masa kecilnya membuat hatinya mengeras. Dulu ia berjanji akan selalu menjadi dominan yang mendominasi serta dapat melindungi Jisung serta kekasihnya di masa depan. Namun pada kenyataannya itu hanyalah omong kosong karena ia tak berhasil melindungi keduanya. Maupun Jisung ataupun Baekhyun pada akhirnya pergi meninggalkannya karena kelemahannya; egois.

"Jes.."

"Hng?" Kepala Jesper mendongak pada Daddy nya. Mata sabitnya yang cantik menatap Chanyeol penuh keingintahuan dengan kelopak yang berkedip tiap 5 detik.

"Kau menyayangi hyung dan papamu, hm?"

Lantas Jesper mengangguk beberapa kali, "tentu. Jes sangat menyayangi mereka. Sangat sangat menyayangi mereka."

"Kalau begitu Jes harus membuat mereka selalu tersenyum, paham?"

Dengan itu Jesper menelengkan kepalanya ke kanan, pose menggemaskan dari anak-anak.

"Kenapa tidak Daddy yang melakukannya? Apa Daddy tidak menyayangi papa dan Jackson?"

"Bukan begitu, baby boy. Daddy sangat menyayangi mereka. Tapi Daddy tak bisa."

"Kenapa?"

"Karena mereka tidak akan tersenyum saat bersama Daddy. Mereka membeciku, baby boy."

"Itu tidak benar, Daddy! Mereka pasti tidak membenci Daddy!" Jesper menaikkan nada bicaranya. Violet kecilnya menatap violet besar Chanyeol penuh ketidaksetujuan. Kepalanya menggeleng beberapa kali untuk menegaskan pada Chanyeol bahwa Jackson dan Baekhyun sama sekali tidak membencinya. Bagi Jesper ini hanyalah sebuah kesalahpahaman yang akan terhapus waktu. Ia yakin itu. "Apa Daddy akan pergi? Apa kita akan berpisah lagi?" Lalu violet ditengah kelopak sipitnya itu menatap Chanyeol seperti anak anjing yang memelas.

Namun Chanyeol tak mengatakan apapun untuk memberikan kepastian hingga membuat putra kecilnya itu merasa gelisah luar biasa. Ia merengut pada Chanyeol seraya menggenggam erat tangan besar Chanyeol yang beberapa kali lipat lebih besar dari ukuran tangannya.

"Jangan pergi, Daddy. Jes tak ingin berpisah dengan Daddy. Jangan pergi lagi. Jes sayang Daddy Chanyeol." Violet kecil itu berkaca-kaca, menatap ayahnya penuh permohonan namun Chanyeol tetap bungkam hingga Jesper menangis karena ketakutannya akan berpisah dari Chanyeol, ayahnya. Ikatakan ayah dan anak diantara mereka membuat Jesper merasa nyaman begitu saja pada Chanyeol meski Chanyeol masih asing baginya.

Kendati Chanyeol memangku Jesper dan berusaha meredakan tangisannya, anak itu tetap menangis meraung-raung seraya memeluk leher ayahnya erat seperti benalu yang menanamkan akarnya pada pohon inang.

"Jangan pergi lagi.. hiks." Suara anak-anaknya yang melengking menggema disana hingga menarik beberapa orang untuk mendekat. Diantaranya Kai, Joon dan si anak baru, Lucas. "Jes tidak ingin berpisah dengan Daddy."

Kini suara tangis itu berubah menjadi suara parau yang menyedihkan. Jesper dengan wajah merahnya kini menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Chanyeol seraya terisak kecil.

"Daddy disini, baby. Daddy tidak akan pergi kemanapun. Daddy tak akan membiarkan kalian jauh dari Daddy lagi." Lantas saat Chanyeol membisikinya dengan kata-kata penenang, si kecil Jesper mengangguk di lehernya hingga Chanyeol terkekeh gemas.

"Promise?"

"Yeah, I'm promise, baby boy."

"Wow, aku tidak pernah lihat Bos yang sehangat itu." Lucas, dengan permen karet yang ia kunyah berbicara seolah takjub dengan apa yang ia lihat. Punggungnya bersandar pada pilar didekat tangga. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk hingga Kai memutar matanya, jengah.

"Kau hanya tidak tahu betapa manisnya Bos pada kekasihnya dulu." Joon menepuk pundak Lucas sejenak dengan mata yang menatap kearah Chanyeol serta Jesper yang masih bermanja di pangkuan ayahnya. Lantas setelahnya lutut Joon berputar hingga tungkainya berjalan menjauh.

"Kembali bekerja, nak." Itu Kai, dengan menekankan kata 'nak' nya demi mempertegas siapa senior dan junior disini, setelahnya pergi meninggalkan Lucas seperti yang Joon lakukan. Mereka datang kesana hanya untuk memastikan bahwa pangeran kecil Phoenix baik-baik saja. Hanya itu.

Lalu Lucas mendelik sebal pada punggung Kai yang telah menjauh dari pandangannya, "tch, dasar orang tua."

e)(o

Saat matahari mendekati waktu tenggelamnya di barat, Jackson duduk disana, di halaman belakang rumah barunya, di atas bukit dengan pohon apel tua yang ada disana.

Diam-diam ia menangis tanpa suara. Megeluarkan rasa sakitnya yang ia sendiri tak mengerti mengapa ia merasakannya. Semuanya berawal disaat ia menemukan papanya menangis dalam tidurnya. Itu terlihat begitu menyakitkan baginya. Bagaimana papanya yang selalu tersenyum dan merawatnya itu menangis tiap malam tanpa sadar dalam tidurnya seraya memanggil satu nama yang sama; Park Chanyeol.

Papanya adalah orang pertama yang begitu ia cintai dengan Jesper yang ada di urutan kedua. Begitu menurutnya. Papanya adalah cinta pertamanya. Hanya papanya yang begitu mengerti dirinya. Jadi, saat ada seseorang yang menyakiti hati papanya, ia akan membenci siapapun itu dengan sendirinya. Rasa benci dan marah itu tak bisa ia hilangkan begitu saja. Ia memang anak-anak, tapi setidaknya ia mengerti bahwa papanya itu seharusnya tidak berada dekat dengan Chanyeol karena itu akan menyakitinya.

"Jakson ge? Mengapa menangis?" Lalu saat seseorang datang, Jackson langsung menghapus air mata di pipinya dengan cepat. Papanya bilang lelaki sejati tak boleh menangis. Seorang dominan harus kuat dan tegar.

Itu Oh Ziyu, si manis adik Haowen. Jackson tak mengerti mengapa Ziyu bisa berada disini, jadi ia bertanya, "Ziyu? Kenapa kau bisa ada disini?"

"Ini rumah atasan papa dan mama. Big Boss. Dan mama bilang bahwa kau dan Jesper ge adalah putranya."

Rahang si kecil Jackson mengeras, tak suka dengan fakta yang ia dengar dari Ziyu. "Dia bukan ayah kami. Tak akan pernah!"

Lalu Ziyu menatap Haowen dengan mata hazelnya yang berbinar lugu. Sesekali ia menelengkan kepalanya untuk berpikir tentang apa yang membuat Jackson begitu tak suka pada pria yang ia sebut Big Boss.

"Chanyeol sajangnim adalah pria yang baik, Jake ge. Meski dia tidak pernah tersenyum."

"Itu bukan alasan. Dia telah menyakiti papa. Dia bukan ayahku!" Lagi-lagi kalimat itu yang keluar dari bibir Jackson. Kebenciannya yang begitu mendarah daging membuat orang-orang cemas.

Mungkin itu yang dinamakan hukum alam. Chanyeol juga dulu sangat membenci ayahnya. Dan itu juga terjadi saat ini dimana ia dibenci oleh putranya sendiri. Ironis. Joonmyeon menyebut itu sebagai kutukan darah mafia.

"Jake ge.. papa Sehun selalu mengajarkan Ziyu untuk belajar memaafkan kesalahan orang lain. Dia bilang tidak ada yang sempurna dari manusia. Semua orang pernah memiliki kesalahan dan semua orang berhak mendapatkan pengampunan."

"Tak ada orang yang benar-benar baik, dan tak ada orang yang benar-benar jahat." Lalu Jackson ingat bahwa papanya pernah mengatakan itu padanya.

"Tuhan akan marah jika kita tidak memaafkan kesalahan sesama manusia."

"Tapi rasanya sakit sekali. Hampir setiap malam aku melihat papa menangis. Dan itu karena orang yang sama."

"Tidak apa, Jackson ge. Jika kau ingin menangis maka menangislah. Itu akan lebih baik dariapada kau menyimpannya didalam hati."

Lalu Jackson menangis keras diantara kedua lututnya yang ia tekuk dan peluk. Dengan Ziyu yang mengusap-usap punggungnya seperti orang dewasa. Papanya selalu melakukan itu jika mamanya menangis. Jadi ia juga bisa melakukan itu pada Jackson sebagai penenang.

Jauh disana, dibalik dinding kaca tebal yang membatasi rumah dengan halaman belakang, Minseok berdiri disana bersama Baekhyun. Mereka sama-sama melihat bagaimana interaksi Jackson dan Ziyu meski tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.

Baekhyun ingat ada satu kenangan lucu di tempat itu. Saat Sehun mengejutkannya dengan bergelantungan dari atas pohon apel dan saat ia bertengkar dengan Chanyeol tentang 'berbagi ranjang'. Semua yang terjadi di rumah ini tak bisa ia lupakan dengan mudah. Saat ia tersenyum, tertawa, atau menangis. Saat ada sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, bahkan menyakitkan. Semua itu tak pernah bisa ia lupakan selama ini. Semuanya melekat dengan sempurna di ingatannya.

"Kumohon untuk kau tinggal, Baekhyun. Kami semua membutuhkanmu. Terutama Chanyeol." Minseok mulai berbicara padanya. Penuh permohonan dan pengharapan padanya.

"Itu semua hanyalah kebohongan, hyung." Jawaban Baekhyun membuat Minseok tertegun. Sikap Baekhyun telah berubah. Tentu saja, rasa sakitnya pasti membuat ia membangun tameng yang kuat di hatinya. Meski begitu, nyatanya ia masih melihat secercah harapan untuk Chanyeol di amber bening Baekhyun. Keduanya masih memiliki perasaan yang sama kuatnya. Ia hanya berharap bahwa putra mereka bisa mempersatukan mereka. Namun melihat bagaimana Jackson bereaksi, ia pikir semua ini akan berjalan sulit. "Kenyamanan anak-anak adalah prioritasku hyung. Semuanya kugantungkan pada mereka. Jika mereka menginginkan seorang ayah maka aku akan tinggal. Tapi jika tidak, maka jangan paksa aku untuk melakukannya."

Ultimatum keras. Baekhyun telah menjatuhkan keputusannya. Dan itu terlihat tak bisa di ganggu gugat. Jadi ia hanya diam saat melihat punggung Baekhyun perlahan menjauh dari jarak pandangnya.

Baekhyun mungkin juga mempertimbangkan keinginan Jackson dan Jesper yang bertolak belakang. Jackson begitu membenci Chanyeol sedangkan Jesper terlihat begitu nyaman dengannya seolah mereka tak bisa di pisahkan.

Keadaan telah berubah. Dan kini ia tahu bahwa kunci kebahagiaan keluarga kecil itu ada pada si sulung, Jackson Park.

e)(o

Malam ini langit berawan, tak nampak satupun bintang atau bulan di angkasa. Dan Baekhyun hanya menatap kosong ke arah sana dalam diam. Suara dengkuran halus Jackson bahkan tak mengganggunya sama sekali. Perasaannya tak pernah nyaman sejak ia bertemu dengan Phoenix kembali. Bahkan untuk sekedar memejamkan mata pun rasanya begitu sulit seolah bayangan moncong pistol dan timah panas selalu menghantuinya.

Dirinya merasa terancam oleh eksistensi Chanyeol, ia masih ingat jika penyebabnya pergi dari Chanyeol adalah karena pria itu mengatakan sendiri bahwa dia akan membunuhnya serta anaknya. Dan kini mimpi buruk itu kembali lagi padanya. Meski Joonmyeon telah mengatakan padanya untuk tak mengkhawatirkan itu, jauh didalam hatinya ia selalu merasa resah. Jackson dan Jesper adalah hidupnya, ia tak akan sanggup kehilangan mereka setelah semua pahitnya hidup yang ia alami.

Lantas saat suara derit pintu terdengar, tubuhnya berbalik hingga mendapati sosok tinggi Chanyeol yang memasuki kamar. Ini bukan kamar Chanyeol, ia sendiri yang meminta agar ia dan kedua putranya tidur terpisah. Untuk saat ini, ia masih belum terbiasa lagi dengan kehadiran Chanyeol dan segala dominasinya, pria itu terlalu mengancam baginya.

"Kau belum tidur?" Hanya sebuah pertanyaan yang tak harus dijawab. Basa-basi.

Chanyeol tak menghampiri Baekhyun, ia justru duduk di tepi ranjang dan mengamati kedua putranya yang tidur dengan pulas, terutama Jackson. Ia memperhatikan detail wajah anaknya dengan betul, menyadari dengan sangat bahwa Jackson adalah duplikatnya yang nyaris sempurna. Betapa berbangganya ia memiliki 2 orang putra yang begitu luar biasa dari Baekhyun. Sayang sekali Jackson tidak menerima kehadirannya. Tidak, bukan tidak, tapi belum.

Di sudut ruangan, Baekhyun hanya terdiam dengan mata yang tak pernah lepas mengawasi gerak-gerik Chanyeol. Terlalu takut seandainya Chanyeol menyakiti mereka.

"Daddy.." Lalu kedua orang dewasa itu mendengar suara parau Jesper yang memanggil ayahnya. Kelopak sipitnya perlahan terbuka dengan rasa kantuk luar biasa yang di rasakannya. Tapi masih dapat tersenyum senang saat melihat wajah tampan Daddy-nya disana.

Chanyeol menyentuh kepala Jesper, mengelus surainya pelan untuk membawa putra bungsunya kembali ke alam mimpi.

"Jangan pergi, Daddy... aku menyayangimu." Itu yang Jesper katakan sebelum mata kecilnya kembali terpejam erat seolah yang baru saja terjadi hanyalah sebuah igauan.

Baekhyun dan telinga normalnya juga mendengar itu. Pernyataan yang begitu polos dari Jesper mampu mengusik hatinya. Ia hanya tidak mengerti bagaimana bisa pertemuan singkat Jesper dengan Chanyeol sudah dapat membentuk ikatan yang begitu kuat seperti yang seharusnya, ayah dan anak.

Ia tidak mengerti, sungguh.

Lalu saat tungkai Chanyeol berjalan ke arahnya, ia berubah menjadi waspada. Alisnya menukik tajam dengan tatapan penuh peringatan pada Chanyeol yang terus berjalan mendekat tanpa mengindahkan tatapan tak suka dari Baekhyun. Rasa rindunya tak bisa ia kendalikan lagi saat melihat wajah cantik Baekhyun berada nyata di hadapannya.

"Baby wolf, aku merindukanmu.." Chanyeol memeluk Baekhyun tanpa peringatan. Mendekap Baekhyun dengan erat hingga Baekhyun tak bisa lepas darinya. Ia telah berjanji bahwa ia tak akan melepaskan genggaman tangannya pada Baekhyun lagi jika Tuhan memberinya kesempatan kedua. Dan inilah kesempatan kedua itu. Maka ia tak akan menyia-nyiakannya.

"Lepaskan aku, Chanyeol." Hanya sebuah ucapan lirih yang dapat Baekhyun lontarkan. Keadaan mentalnya terlalu lemah jika di hadapkan pada Chanyeol yang sesungguhnya masih memiliki cintanya. Sepenuhnya. Perasaan bodoh itu nyatanya tak pernah hilang meski 7 tahun lamanya mereka terpisah.

"Tidak akan, Baekhyun. Aku tak akan melepaskanmu. Tidak lagi." Bisikan suara Chanyeol yang berat berhasil meluluhkan Baekhyun, lelaki itu tak lagi berusaha melepaskan pelukan Chanyeol dan hanya terdiam dengan debaran jantung yang menggila. Ia bahkan bisa mendengar detak jantung Chanyeol yang tetap memiliki ritme yang teratur seperti dulu. Ia menafsirkan itu sebagai perwakilan dari perasaan Chanyeol karena Chanyeol tak merasakan hal yang sama dengannya.

Namun ia salah saat Chanyeol justru mendekapnya semakin erat dan membisikkan satu kata yang begitu bermakna baginya. Satu kata yang selalu ia harapkan keluar dari mulut pria itu. Satu kata sederhana yang memiliki arti mendalam.

Hanya satu kata.

Hanya satu kata yang akhirnya dapat meluluhlantahkan hatinya kembali seperti dulu. Hanya satu kata yang dapat membuatnya kembali menyerah atas perasaannya pada Chanyeol. Satu kata yang sangat ia pahami seberapa dalam maknanya.

"Aishiteru."

Bukan lagi 'suki' seperti apa yang sering ia dengar.

Baekhyun lahir dan besar di Jepang hingga usianya 18. Ia jelas mengerti dengan betul perbedaan dari 'suki' dan 'ai'. Di Jepang, kata 'aishiteru' memiliki makna yang lebih dalam, kata itu hanya di ucapkan oleh seseorang yang begitu serius dengan pasangannya, pasangan yang ingin ia ajak untuk menikah. Dan Chanyeol baru saja mengatakannya. Entah Chanyeol tidak mengetahui makna yang sebenarnya atau Chanyeol hanya mempermainkannya.

"Apa kau tahu seberapa dalam makna kata itu, Chanyeol?" Chanyeol dengan jelas dapat mendengar getaran yang terdapat pada suara Baekhyun. Untuk itu ia mendekapnya lebih erat dan posesif. Lalu kembali berbisik dengan lembut.

"Aku tahu, Baekhyun. Aku bukan hanya suka padamu, aku mencintaimu. Kau segalanya untukku. Untuk itu aku mengatakannya. Hanya katakan padaku seberapa banyak kau ingin mendengar itu dariku."

Perlahan, air mata yang telah membuat bendungan di kelopak mata Baekhyun akhirnya jatuh. Dan Chanyeol dapat merasakan itu lewat getaran samar pada bahu sempit Baekhyun serta kemejanya yang perlahan basah oleh air mata kekasih hatinya.

Tangis Baekhyun adalah sebuah siksaan bagi Chanyeol. Itu begitu menyakitkan. Ia tak ingin melihat carriernya menangis lagi, cukup selama ini ia menyakiti Baekhyun. Namun pada kenyataannya, ia lah yang selalu membuat air mata yang begitu berharga itu jatuh dari pelupuk mata Baekhyun.

"Aishiteru."

Dan ia kembali mengucapkannya dengan tulus seraya mendengar isakan kecil Baekhyun malam itu.

e)(o

"Kalian suka seragam barunya, jagoan?" Baekhyun merangkul kedua pundak putranya didepan cermin besar yang menampilkan bayangan mereka bertiga dengan Jackson serta Jesper yang mengenakan seragam sekolah baru mereka; jas almamater dengan warna kuning gelap serta 2 garis hitam di lengan kanan.

"Aku tidak suka. Aku lebih suka seragam lamaku!" Kedua alis Jackson menukik tajam. Ia menepis tangan Baekhyun yang berada di pundaknya hingga Baekhyun tersentak kaget. Lalu setelahnya berlari keluar dari kamar dengan wajah marahnya.

"Papa.." Jesper menatap papanya penuh kekhawatiran. Ia tahu bahwa papanya akan bersedih atas sikap Jackson yang tak terkendali setelah mengetahui bahwa Chanyeol adalah ayahnya.

"Tidak apa, baby." Dan Baekhyun bersyukur bahwa Jesper tidak memperburuk situasi mereka saat ini. Jesper begitu terbuka dan menyukai Chanyeol. Hal itu lah yang memberatkan Baekhyun untuk pergi. Malam tadi ia mendengar Jesper mengucapkan kalimat yang begitu luar biasa untuk Chanyeol. Jadi Baekhyun dapat lebih mengerti bahwa sesungguhnya Jesper telah memiliki suatu ikatan yang kuat dengan ayahnya. "Kau siap untuk sekolah barumu?"

"Yeah! Of course, papa!" Sahutan ceria Jesper kembali membuat senyum pagi Baekhyun melebar. Baekhyun mengusap surai lembut Jesper pelan, mengecup pipi putra bungsunya dengan gemas sebelum membawanya untuk sarapan.

"Pagi, Daddy." Jesper berjinjit, lalu memberikan sebuah kecupan di pipi Chanyeol yang duduk di balik meja makan hingga Chanyeol tersenyum lembut dan mengusap surai Jesper.

"Pagi, baby."

Sementara Jackson hanya duduk disana dengan wajah tidak sukanya, menggenggam garpu dan pisaunya dengan erat, melampiaskan rasa marahnya pada alat makan yang ia genggam.

"Makanlah, Jake. Kau tidak boleh melewatkan makan pagimu." Baekhyun menatap Jackson dengan mata sayunya saat Jackson justru memalingkan wajahnya darinya. Itu menyakitkan, sungguh. Jackson tak pernah seperti ini padanya. Tidak pernah sekalipun. "Jakeㅡ"

"AKU BENCI PAPA!" Lihatlah, Jackson bahkan sekarang berani berteriak padanya, dan mengucapkan kalimat yang seharusnya tak keluar dari anak seusianya.

Mata Baekhyun berkaca-kaca saat Jackson turun dari kursinya dan berlari dengan sepasang tungkai kakinya. Jackson bahkan tak menyentuh makanannya sama sekali.

"Jangan khawatir, baby wolf. Aku akan mengejarnya." Chanyeol meraih kepala Baekhyun kedalam pelukannya sejenak sebelum berjalan cepat ke arah yang sama dimana Jackson pergi.

"Papa.. jangan menangis." Disana, Jesper menatapnya dengan mata yang berair, siap untuk menangis. Ia meletakkan alat makan yang ia pegang untuk kemudian mendekati Baekhyun dan memeluk pinggangnya penuh sayang. "Jes tak ingin melihat papa bersedih."

Itu manis, sungguh. Dan kata-kata penuh kasih sayang anaknya selalu dapat mengobati luka hatinya. Ia hanya merasa emosional akan sikap Jackson yang berubah, ia takut seandainya Jackson terus membencinya. Bukan ini yang ia inginkan.

"Jackson, Jake!" Chanyeol berlutut lalu meraih pinggang kecil putranya, membawanya kedalam sebuah pelukan meski Jackson memberontak keras darinya. Mata Chanyeol memejam erat, berusaha menemukan kesabarannya dalam menghadapi putra sulungnya. Sesungguhnya semua orang tahu bahwa ia bukanlah orang yang penyabar. Namun tentu saja itu akan berubah dihadapan keluarga kecilnya. Sangat tidak bijaksana menghadapi anak-anak dengan cara kemarahan karena itu tidak akan berjalan dengan baik bagaimanapun juga.

"Lepaskan aku!"

"Jake.. dengarkan Daddy, sayang." Chanyeol berbisik dengan suara rendahnya yang begitu dominan hingga Jackson diam membisu. Suara dominan itu seolah memanggilnya untuk tunduk. Dan ia hanya terdiam saat Chanyeol membalik tubuhnya dan meletakkan kedua tangan besarnya di bahunya. "Daddy tahu kau membenciku. Tapi jangan dengan papamu, baby. Dia yang merawatmu sejak bayi. Dia yang membawamu dan Jes dalam perutnya selama 9 bulan. Dia yang melewati banyak penderitaan untuk membesarkan kalian. Dia yang mencurahkan seluruh kasih sayang dan hidupnya untuk kalian. Kata-katamu tadi bisa menyakiti hatinya, baby. Jangan buat hubunganmu dan papamu hancur hanya karena kebencianmu padaku. Kau boleh membenciku, tapi tidak dengan papamu. Mengerti?"

Mata violet Chanyeol yang selalu dapat mengintimidasi musuhnya kini menatap Jackson lekat, penuh dominasi dan kontrol sehingga Jackson layaknya orang yang terkena hipnotis. Kedua sudut bibir Chanyeol terangkat ke atas, menepuk pipi Jackson beberapa kali dengan lembut, lalu membawa salah satu tangan mungil putranya untuk berjalan bersamanya, diakhiri dengan ia yang menaikkan Jackson ke mobil.

"Be a good boy, baby."

"Apakah dia sudah tenang?" Baekhyun menatap Chanyeol penuh harap. Semua pikirannya telah tercurahkan pada putranya, ia bahkan tak memikirkan perasaannya saat berdekatan dengan Chanyeol meski tak dapat dipungkiri bahwa detakan jantung itu masih sama.

"Aku bisa mengatasinya, baby wolf." Chanyeol dengan suara beratnya yang jantan adalah kelemahan Baekhyun. Apalagi saat pria itu mengucapkan panggilan baby wolf untuknya. Seperti bernostalgia pada masa lalu.

"Baby wolf? Apa artinya itu papa?" Yang tidak mereka sadari adalah bahwa si kecil Jesper masih disana, memperhatikan kedua orang tuanya dengan tatapan lugu yang menggemaskan. Ia menarik-narik ujung kemeja garis-garis yang Baekhyun kenakan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

Lantas Chanyeol kembali berjongkok untuk dapat menyetarakan tinggi badannya dengan Jesper. Dua violet gelap yang luar biasa indah itu saling bertukar pandang untuk beberapa saat sebelum Chanyeol memutuskan untuk menjawab pertanyaan si kecil.

"Itu panggilan sayang dari Daddy untuk papa. Sama halnya seperti kau yang memanggilnya dengan papa." Chanyeol menjelaskan dengan pelan agar Jesper mengerti. Dan saat putra bungsunya itu bergumam 'oh' dengan pose yang menggemaskan, Chanyeol tak bisa menahan dirinya untuk tak menjawil gemas hidung kecil Jesper.

"Aw.. Daddy." Yang dibalas dengan rajukan Jesper. Anak yang belum lama ini kehilangan salah satu gigi seri bawahnya itu merengut pada Daddy-nya yang hanya terkekeh.

Daddy-nya sangat tampan, Jesper menyadari itu. Dan dia tersipu saat melihat senyum dengan lesung pipit di wajah tampan Chanyeol. Kini ia tahu maksud dari cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Meski dia bukan anak perempuan, dia adalah carrier. Jadi ia tidak tahu apakah itu masih terdengar normal atau tidak.

"Daddy akan mengantarmu dan Jake hyung ke sekolah."

Jesper hanya mengangguk dan menurut saat Daddy nya mengangkat tubuhnya untuk masuk kedalam mobil, tepat di samping Jackson yang masih terdiam membisu.

"Bye bye papa!" Tangan kecilnya melambai pada Baekhyun dari dalam mobil, dengan senyuman secerah mentari pagi yang tak pernah luput mengembalikan senyum Baekhyun.

"Aku pergi, sweetheart." Chanyeol merangkul Baekhyun, mempertemukan ujung hidungnya dengan Baekhyun, menatap kedalam amber sayu itu dengan penuh kasih sayang sebelum mengecup singkat bibir manis yang selama ini ia rindukan.

Bibir tebalnya yang senantiasa merah merekah nan menggoda itu tersenyum pada pujaan hatinya, membelai wajahnya hingga nyaris lupa bahwa mereka tak hanya berdua disana, ada kedua putra mereka, juga ada para Phoenix lain yang tak pernah lepas menjaga keluarga kecil itu.

"Jangan pergi lagi, baby wolf. Please, aku bisa gila tanpamu."

Dan Baekhyun benar-benar telah jatuh kembali pada pesona Chanyeol. Nyatanya ia tak bisa mengelak akan semua itu. Ia tak bisa mendustakan pesona Chanyeol yang begitu memikat. Hatinya melemah kembali setelah mendengar bisikan kata cinta yang pertama kalinya ia dengar dari Chanyeol malam tadi.

"Aku ingin Zelo kembali. Aku tahu Joonhong hyung adalah mantan bawahanmu. Jangan bawa dia dalam masalah kita."

"As your wish, sweetheart."

Dan jiwanya meraung tidak rela saat Chanyeol melepaskan rengkuhan di pinggangnya dan pergi tanpa menatapnya lagi untuk mengantarkan kedua putra mereka ke sekolah. Ya, putra mereka. Tak ada yang bisa menyangkal itu sekalipun ia enggan.

Chanyeol pergi bersama 8 mobil pengawalnya. 4 diantaranya ia tugaskan untuk berada di sekitar sekolah si kembar, mengawasi dan menjaga mereka dengan baik.

"Jaga mereka dengan nyawa kalian." Itu yang Chanyeol katakan setelah si kembar melewati gerbang sekolah baru mereka. Lantas setelahnya ia pergi ke perusahaan dengan 4 mobil lain.

"Kau kedatangan tamu, daepyeo-nim." Sehun menghampirinya begitu ia sampai di lobi perusahaan, ikut mengimbangi langkahnya yang cepat menuju lift. Lalu Sehun membisikkan sesuatu padanya seolah hal yang ia sampaikan begitu rahasia.

"Naikkan level pengintai ke siaga 1." Hanya itu yang Chanyeol ucapkan. Matanya bahkan tak menatap sedikitpun pada Sehun, tetap lurus dan fokus, begitu tegas dan rupawan dengan karisma nya yang luar biasa hebat.

"Eagle team, siaga 1." Itu yang Sehun katakan pada arlojinya. Arloji yang sama yang dimiliki nyaris setiap petinggi Phoenix, alat pengintai rahasia dengan teknologi luar biasa rancangan tim IT Phoenix.

Kini Phoenix berkembang jauh lebih besar dari sebelumnya. Dan tetap memegang kekuasaan tertinggi di atas bumi ini, gangster paling berbahaya dan di takuti semua orang. Sampai detik ini pun tak ada yang dapat melampaui Phoenix, Wang sekalipun.

Phoenix kini memiliki snipers team yang handal dibawah didikan Sehun dan Yixing sebagai senior. Salah satunya Wong Yukhei dengan nama Phoenix; Lucas, salah satu murid kebanggaan Yixing karena berasal dari negara yang sama dan menjadi sniper tingkat lanjut di usianya yang terbilang muda, 20.

"What's up, brother?" Jongdae menyapa Sehun dengan senyum selebar Joker saat ia dan Chanyeol memasuki ruangan Chanyeol. Hampir semua orang ada disana, salah satunya Jongdae yang baru kembali dari Barcelona.

"Bagaimana David?"

"Dia ingin pindah ke Korea. Tapi kupikir itu bukan ide bagus. Aku dan Minseok mungkin tak bisa menjaganya dengan baik disini."

"Aku tahu rasanya bung, tapi mungkin aku akan membawa kedua putraku ke Seoul mengingat bahwa mereka sama-sama menyukai putra Phoenix." Sehun terkekeh, sedikit geli dan merasa lucu akan kedua putra kecilnya dimana masing-masing dari mereka menyukai kedua putra Chanyeol dan Baekhyun.

Lalu ada David Kim, putra angkat Minseok dan Jongdae, 2 tahun lebih tua dari Jackson maupun Haowen. Mereka mengadopsinya dari panti asuhan di Barcelona dan sampai sekarang pun David tinggal di rumah mereka di Barcelona. Alasan adopsinya jelas karena Minseok maupun Jongdae sama-sama dominan. Dan alasan mereka tak mau membawa David ke Korea adalah karena domisili mereka bukanlah tempat yang aman bagi David mengingat status mereka berdua yang selalu terancam bahaya setiap detiknya. Alasan yang sama pula dengan Sehun dan Luhan yang sepakat meninggalkan Haowen dan Ziyu di Guangzhou.

"Harap ingat bahwa aku masih disini, tuan-tuan. Tolong jangan jadikan ini sebagai reuni orang tua." Satu-satunya wanita disana menginterupsi. Adalah Bae Joohyun wanita cantik yang beraliansi dengan Phoenix-Feon sejak satu tahun lalu. Pengelola berbagai tempat perjudian dan pelelangan manusia berkedok casino dan club malam yang ada di Seoul. Wanita berbahaya yang menaruh kehidupan sempurnanya diatas kehidupan mafia.

"Katakan itu sekali lagi dan kubawa kau ke ranjang saat ini juga, nona Bae." Zitao, pria yang sudah bercerai dengan istrinya angkat bicara. Alisnya terangkat skeptis dengan segelas martini yang menempel di ujung bibir seksinya. Alasan mengapa ia bercerai adalah karena gugatan istrinya sendiri yang menuduhnya lelaki brengsek. Meski itu benar, Zitao selalu enggan mengakuinya.

"Jika kau adalah Joonmyeon aku akan menerimanya dengan senang hati, Mr. Huang." Lantas telunjuk lentik dengan cat merah cabai di ujung kuku panjang Joohyun menuding Zitao dengan gaya wanitanya yang angkuh nan serampangan. Sementara Joonmyeon di sudut ruangan nyaris tersedak wine nya ketika mendengar penuturan mafioso cantik itu.

Telah menjadi rahasia umum bahwasanya Joohyun memiliki ketertarikan khusus terhadap Joonmyeon. Kendati Joonmyeon adalah seorang submisif yang telah memiliki dominan. Dan kini Joohyun telah kembali menyulut api cemburu dominan Joonmyeon, Kris.

"Langkahi dulu mayatku, nona Bae." Ucapan sinis itu dibalas dengan senyuman miring yang begitu luar biasa cantik dari si pemilik marga Bae. Wanita itu mengibaskan tangannya dan memilih untuk menghampiri Chanyeol dengan map di tangannya.

"Sayangnya perjanjian aliansi kita mengatakan bahwa Bae dan Park beserta seluruh anggotanya dilarang saling menjatuhkan."

Wanita menyebalkan, itu yang selalu terlintas di benak Kris saat mulut berbisa Joohyun menanggapinya. Wanita adalah makhluk paling menjengkelkan di hidupnya, itu anggapan Kris selama ini dan memang terbukti secara faktual.

"Hanya tanda tangani untuk mengirim anggotamu ke Sidney, aku butuh pelabuhan disana untuk setiap transaksi penting, father." Semenjengkelkan apapun Joohyun, ia sadar dimana tempatnya, dari mana asalnya dan diatas apa ia berpijak saat ini. Ia tak akan pernah melupakan semua itu dengan kesimpulan bahwa dalam seluruh riwayat hidupnya hanya Chanyeol yang ia hitung begitu berjasa dalam semua karirnya, orang yang begjtu ia hormati. Ayah baptisnya, sebut saja begitu. Pria itu begitu banyak membawa perubahan pada taraf hidupnya dan ia berhutang begitu banyak untuk itu pada Phoenix. Jadi, bukanlah hal yang mengejutkan jika wanita menyebalkan sejenis Bae Joohyun akan tetap merendah sopan di hadapan Phoenix.

"Apa semua transaksi itu dapat menguntungkanmu dengan sangat?" Perlahan, Chanyeol membuka lembaran demi lembaran proposal yang di ajukan Joohyun. Lantas pada lembar terakhir, violet tajam Chanyeol beralih padanya, menuntut sebuah kejelasan.

"Sebenarnya hanya sekitar 15% dari semua bisnisku dapat dipertaruhkan disana karena aku mendapatkan 70% keuntungan dari berbagai transaksi di Bangkok."

"Kalau begitu urungkan niatmu dan ajukan sesuatu yang lebih berharga padaku." Final, Chanyeol telah mengultimatum tanpa argumen apapun. Semua keputusan Godfather selalu atas pertimbangan yang begitu mendalam, nyaris selalu benar dan menguntungkan semua pihak.

"Sidney adalah pangkalan utama The Ark. Kau tak akan sanggup menyingkirkan mereka." Kalimat opini dari Yixing memperjelas keputusan Chanyeol setelah Joohyun menarik dirinya dari Chanyeol. Bukan keegoisan yang Chanyeol lakukan, melainkan kepedulian dan kasih sayang seorang Godfather pada teman aliansinya.

The Ark, gembong narkoba yang mulai terdengar namanya di dunia bawah setelah berhasil menyelundupkan ekstasi sebanyak 7 ton di pelabuhan Sidney tanpa tertangkap maupun di curigai. Dan pendapat Yixing benar, bahwa Joohyun tak akan bisa mengalahkan The Ark dalam masalah perebutan wilayah, Chanyeol tak lagi berhak ikut campur atas itu, untuk itu pria itu enggan menandatangani proposal yang Joohyun ajukan karena Chanyeol tahu bahwa itu hanya akan merugikan kelompok Joohyun, pria baik dan cerdas.

Lagipula Phoenix memilih untuk tidak ikut campur dengan masalah The Ark selama kelompok rookie itu tidak menyinggung mereka terlebih dulu.

"Thanks, Yie. Aku harus pergi." Hanya itu. Karena setelahnya Joohyun pergi bersama selusin pengawalnya, mencari gagasan baru untuk kemajuan kelompoknya seperti yang Phoenix usulkan.

"Dia wanita aneh yang sayangnya cantik, menjengkelkan." Luhan melipat kedua tangannya didepan, punggungnya bersandar sepenuhnya pada sofa saat kakinya bertumpang dengan bibir yang tersungging kesal.

"Aku setuju." Joonmyeon bergumam kecil, bersamaan dengan dimulainya permainan catur antara dia dan Kyungsoo. Ia hanya ingat dulu bahwa ia pernah bermain catur dengan Baekhyun yang dapat mengalahkannya bahkan kurang dari 15 menit, luar biasa. Joonmyeon jadi ingin membedah otak Baekhyun untuk mengetahui seberapa cerdaskah sebenarnya otak itu. Sayangnya ia tidak bisa, selain karena ia bukan seorang ilmuwan dan dokter bedah, juga karena Chanyeol akan terlebih dahulu mengeluarkan otaknya dari tempurung kepalanya sebelum ia dapat berhasil membedah otak Baekhyun.

Ruangan Chanyeol di perusahaan adalah ruangan paling favorit bagi mereka untuk berkumpul selayaknya di casino. Bagian terbaiknya adalah ketika Chanyeol membiarkan semua itu terjadi tanpa rasa marah. Kenikmatan yang luar biasa.

"Halo." Semua suara mendadak hilang saat suara berat Chanyeol berbicara dengan penelpon ponselnya. Raut wajahnya terlihat semakin berkerut serius seiring detik-detik berlalu hingga mereka menahan nafas atas ketegangan yang terjadi. Atmosfer yang terasa mencekik paru-paru itu tiba-tiba saja datang hanya karena mimik wajah Chanyeol saat menelpon. "Kembali ke markas, SEKARANG!"

Saat Chanyeol berteriak pada si penelpon, mereka tahu bahwa keadaan benar-benar darurat hingga dapat menyulut kemarahan Chanyeol. Entah apa yang terjadi, tapi mereka pastikan itu bukan hal yang baik.

"Mereka membawa Jackson. Semuanya berkumpul di markas!"

Dan pada kenyataannya konflik hidup Chanyeol tak pernah mengalami kata selesai setelah resolusi dilakukan.

.

Bersambung

.

Hello my beloved readers!

Finally, gue balik lagi. Maaf atas menghilangnya gue selama kurang lebih satu bulan. Buat reader ffn juga sorry banget karena kalian gak tau kalo gue hiatus karena tuntutan real life. Yang follow gue di wattpad pasti tau kalo gue hiatus.

Dan gue bener-bener minta maaf sama hiatus mendadak itu. Tapi sekarang masa hibernasi gue udah selesai dan gue bisa lanjut lagi ceritanya.

Btw buat pejuang SBMPTN semangat yaa! Moga kita di terima di perguruan tinggi yang kita inginkan. Aamiin..

Sebenernya gue pengen bikin akun ig khusus yang bersangkutan sama dunia ff gue, tapi gue masih bingung. 'Emangnya apa yang mau gue upload kalo gue beneran bikin ig itu?' Wkwkwk gajelas banget ya gue.

Satu sih pertanyaan gue buat kalian, seandainya gue bikin ig atas akun author kalian mau follow gak? Wkwkwk

Gitu aja sih bacotan dari gue. Sekali lagi gue minta maaf udah bikin kalian nunggu lama.

Oh iya, jangan rindu, itu berat, kalian gak akan kuat, biar aku saja. Wkwkwk

See you guyss!