mungkin ini chapter paling ngebosenin dan no asupan, jadi mohon maaf, sebagai gantinya aku bakal buat cerita horor untuk asupan dan bakal keluar malam minggu besok.
warning: Fang x Boboiboy
dont like, dont read
ok gak usah banyak ngomong, selamat!membaca semua!!
Sorenya, setelah ia mandi, Boboiboy mengambil napasnya dalam-dalam dan sudah menbulatkan tekadnya. Dengan tatapan ragu-ragu ia memencet tombol panggilan ke orang tuanya. Suara panggilan masuk sudah terdengar di telinganya. Ia siap mendapat komentar apa saja dari ibunya.
"Halo Boboiboy, ada apa? Kau sudah sampai?"
"Mama, aku sulit mengatakannya tapi... aku...memang tidak bisa ikut dengan mama dan papa, aku harus menyelesaikan sekolahku disini, maaf"
"Em...jadi kamu tidak ingin tinggal dengan mama lagi?"
"Bukan begitu, aku ingin tinggal dengan mama, tapi setelah lulus SMA nanti"
"Mama rindu denganmu, kau tidak tau perasaan mama dengan papa selama kau pergi? Sudahlah, mama akan datang ke pulau Rintis besok untuk menjemputmu"
"TUNGGU MAMA--" sebelum Boboiboy ingin menjelaskan, ibu Boboiboy sudah menutup telpon. Boboiboy menggigit ujung bibirnya dan melemparkan handphonenya hingga layar handphone retak. Boboiboy terduduk dilantai yang dingin sambil menutupi sebelah matanya.
"*berguman* Mama sendiri...tidak pernah tau perasaanku"
...
...
...
"HEH? MAMAMU MAU KESINI?" Gopal tidak sengaja menekan botol minumnya hingga tertumpa.
"Ya, dia sangat marah ketika mendengarku tidak kembali ke Kuala Lumpur, karena itu ia sampai cuti demi menjemputku" Gopal membayangkan wajah ibu Boboiboy yang pastinya sebelas dua belas dibanding Boboiboy.
"Ibumu gimana orangnya?" Fang mendadak duduk disebelah Boboiboy.
"Hm...dia menyebalkan" Boboiboy tertawa kecil setiap membicarakan ibunya, hal itu membuat dua sahabatnya merasa jika tawaan Boboiboy hanyalah palsu.
...
...
"Maaf, aku masih punya urusan, kalian pulang duluan aja" Boboiboy masih menulis tugasnya ditemani oleh tumpukan tugas yang tidak kunjung selesai.
"Baiklah, kami duluan ya" Gopal mengambil tasnya dan pergi keluar. Fang mengetuk kepala Boboiboy.
"Jangan lama-lama, dah" Boboiboy terdiam, ia masih menyentuh kepalanya yang baru saja disentuh oleh Fang. Wajahnya kembali memerah sambil menutupi wajahnya dengan buku catatannya, sesekali Boboiboy mehantukkan kepalanya kemeja belajarnya.
"*blush*SIALAN!! KENAPA DENGAN DIRIKU??"
...
...
Disaat Fang dan Gopal sudah didekat gerbang keluar sekolah, ia melihat wanita cantik dengan rambut tererai panjang hitam dan sedikit helai putih dirambutnya ditambah baju formal kantor.
"Fang, siapa wanita ini? Cantik banget" Gopal berbisik ditelinga Fang. Fang hanya bersikap dingin sambil sedikit memperhatikan wanita itu.
"Palingan kakak yang menjemput adiknya" Fang dan Gopal melewati wanita yang terus berdiri digerbang sambil memainkan handphonenya itu. Saat mereka sudah melewati wanita itu, wanita itu malah memanggil Fang dan Gopal.
"Maaf nak, boleh bertanya sebentar?" Wanita itu berjalan mendekati mereka disertai suara hak tinggi yang terkesan elegan dan sangat berwibawah bahkan wanita itu hampir setinggi Gopal.
(Ps: dicerita ini Gopal itu tingginya 180cm, Fang 178 cm, dan Boboiboy 160cm)
"Y, Ya?" Fang dan Gopal serentak menjawab panggilan wanita muda itu.
"Anak kelas 10 sudah pulang kan?" Wanita itu merapikan rambut panjangnya.
"I, iya, kakak sedang menunggu adik ya?" Gopal menjawab pertanyaan wanita itu dan berbalik bertanya. Mendengar kalimat Gopal, wanita itu langsung tertawa lepas sambil menghapus air matanya.
"Ka, kakak? Pft--Hahahaha, hah, ka, hahaha!! Kau bilang diriku kakak?" Wanita itu berusaha untuk memberhentikan tawanya. Fang dan Gopal sangat heran kenapa wanita itu tertawa lepas.
"Ke, kenapa kakak tertawa?" Gopal bertanya sekali lagi.
"Maaf maaf, hah...aku bukan kakak-kakak, aku seorang ibu" mendengar kalimat wanita itu, badan Gopal dan Fang seperti tersambar petir karena mereka tidak percaya.
"HAH? berarti...MACAN TERNAK??" Fang dan Gopal serentak mengatakannya.
(Macan ternak: mama cantik anter anak)
Terdengar suara terengah-engah dari kejauhan, Boboiboy berlari kearah gerbang sambil berlari.
"Ma, maaf aku terlambat mama--eh Gopal, Fang, kalian masih disini?" Boboiboy menyapa wanita itu dengan sebutan 'mama'.
"Huh?@_@" mendadak angin bertiup sangat kencang membuat beberapa plastik bertebaran melewati mereka.
"Ma, MAMA???????"
...
...
"JADI TANTE MAMANYA BOBOIBOY???" Gopal masih tidak percaya dengan kenyataan mengejutkan tadi dan ia kembali meminum coklat Tok Aba. Wanita itu hanya tertawa kecil sambil menggaruk pipinya.
"Iya, maaf aku belum bilang dari awal, ternyata kalian teman Boboiboy, benar-benar sebuah kebetulan ya, Fang dan Gopal ya? Aku sering mendengar nama kalian dari Boboiboy" ibu Boboiboy tersenyum manis kehadapan mereka, Gopal mengangguk semangat.
"Kenapa mama harus ke sekolah? Kan bisa tunggu dirumah saja" Boboiboy memasang wajah badmoodnya sambil mengembungkan sebelah pipinya.
"Mama kan rindu dengan Boboiboy, sesekali mama mau lihat sekolahmu" ibu Boboiboy terus bersikap tenang sambil meminum coklatnya. Fang hanya acuh diam sambil memperhatikan bukunya.
Mendadak Boboiboy berdiri dari kursinya sambil menatap marah ibunya."Kalau mama rindu, kenapa mama selalu tidak menyisahkan waktu mama untukku?" Mendengar kalimat Boboiboy, Fang berhenti membaca bukunya. Boboiboy pergi meninggalkan ibunya.
"Boboiboy!..." ibu Boboiboy memasang wajah khawatir sambil mengulurkan tangannya kearah Boboiboy yang sudah lari meninggalkannya. Fang mulai kepo dan mulai ikut bicara.
"Maaf sebelumnya tante, tapi kenapa Boboiboy sampai tega mengatakan hal itu kepada tante?" Fang akhirnya mulai peduli dan memulai pertanyaan.
"...ahaha...mungkin ini salahku juga" ibu Boboiboy berusaha menjelaskan permasalahan kepada Fang.
"Kenapa?"
"Soalnya aku kurang memperhatikannya dari kecil" mendengar jawaban dari ibu Boboiboy, Fang tidak memberikan komentar apapun. Fang langsung berdiri sambil mengambil tasnya dan memberikan salam.
"Maaf, saya permisi dulu" Fang berlari dan pergi ketaman dimana Boboiboy sering merenungkan diri disana. Sesuai dugaan, Boboiboy diam merenung sambil menatap minuman kalengya.
"Ternyata kau disini" Fang duduk disebelah Boboiboy yang hatinya sedang dilanda rasa kesal bercampur sedih.
"aku ingin tau kenapa kau membenci orang tuamu" mendengar permintaan Fang, Boboiboy akhirnya mengangkat wajahnya.
"...sebenarnya..."
10 tahun yang lalu...
"Mama, ayo main denganku!" Boboiboy menarik baju ibunya sambil mengulurkan tangan untuk mengajak ibunya bermain, sementara itu ibu Boboiboy sibuk dengan handphonenya sambil memegang dokumen penting.
"Maaf Boboiboy, mama sedang sibuk, mainnya besok saja boleh? Jaga rumah ya, dah" ibu Boboiboy mencium pipi Boboiboy dan pergi dari rumahnya.
Sementara itu Boboiboy pergi mengarah ke ayahnya yang sebelas dua belas dengan ibunya.
"Papa!! Ayo main!" Boboiboy menarik-narik tangan ayahnya yang sedang memeriksa kertas rapat.
"Maaf Boboiboy ayah sedang sibuk, kalau ada sesuatu yang ingin kamu beli bilang saja, ayah akan memberikan apa saja untukmu, tapi jangan ganggu papa dulu ya" ayah Boboiboy mengusuk kepala kecil Boboiboy dan pergi dari rumah. Boboiboy hanya menatap sedih kesepiannya didalam rumah megah nan mewah dimana hanya ada pelayan dan dirinya.
Akhirnya Boboiboy mengambil bukunya dan membaca diatas kasurnya untuk mengusir rasa sepinya.
'Papa, hal yang ingin kubeli hanya kasih sayang kalian dan teman'
Flask back off...
"semenjak aku libur disini, aku menemukan teman dan aku akhirnya tinggal disini selama 9 tahun, mereka hanya menemuiku sebanyak 4 kali, itu pun hanya 2 hari disini"
"EM, EMPAT KALI? dikit amat"
"Iya, aku kira mereka berdua akan merindukanku, tapi ternyata mereka hanya sibuk dengan karir mereka. Karena itu saat mereka menyuruhku untuk kembali ke Kuala Lumpur sampai menjemputku kemari, itu merupakan keajaiban bagiku"
Fang menghelah napasnya. "Jadi...kau membenci orang tuamu?"
"Eh? Benci?... mungkin?" Fang teringat dengan kejadiannya saat ia berusia 6 tahun. Fang langsung memberikan keritikan.
(Kalo mau tau tentang masa lalu Fang, baca 'takut gelap hide story ya)
"Asal kau tau, tidak ada satupun orang tua yang tidak menyayangi anaknya"
"Tapi mereka sama sekali tidak memperhatikan diriku, apa itu yang disebut sayang?"
"Mereka memikirkan masa depanmu, karena itu mereka berkerja mati-matian demi dirimu"
"Tapi--"
"Walaupun kau selalu bilang kalau kau benci dengan orang tuamu, tapi pasti kau akan menangis saat melihat mereka benar-benar pergi nanti. TOLONG HARGAILAH NYAWA ORANG TUAMU YANG MASIH ADA--...yang... masih ada..." Fang menundukkkan kepalanya. Boboiboy menutup mulutnya dan mendekati Fang secara perlahan. Boboiboy menyentuh pelan wajah Fang.
"Ma, maaf, aku lupa, orang tuamu..."
"Sudahlah lupakan, yang terpenting, jangan pernah membenci orang tuamu, aku ingin pulang, dah" Fang mengambil tasnya dan pergi dari Boboiboy. Boboiboy langsung berdiri dan memeluk belakang tubuh Fang.
"Terima kasih" Fang tersenyum tipis. Akhirnya Boboiboy melepaskan pelukannya dan Fang pergi meninggalkan Boboiboy.
...
...
...
Malamnya, Fang terus kepikiran dengan cerita Boboiboy yang tidak sepenuhnya fakta. Fang mengambil jaketnya dan pergi ke rumah Boboiboy.
Fang mengetuk pelan pintu rumah Boboiboy, saat pintu terbuka ia menemui sosok orang yang ia butuhkan.
"Lah? Fang? Ayo masuk, tante panggilkan Boboiboy dulu ya" Fang langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah tante, saya ingin bicara dengan tante saja"
"Eh? Denganku?"
"Kenapa Fang ingin berbicara dengan tante?" Fang belajar dari kakaknya untuk berbicara secara to the ipoint.
"Sebenarnya apa yang anda lakukan Boboiboy? Kenapa Boboiboy sangat membenci tante?" Ibu Boboiboy terkejut dan menghelah napas sesalnya.
"Ternyata Boboiboy sudah menceritakannya ya?" Fang tidak menjawab dan hanya mengangguk.
"I see, baiklah, sebenarnya..."
16 tahun yang lalu...
Ibu Boboiboy P. O. V
waktu itu, aku merasa diriku sedikit mual dan pusing. Saat kucek, teryata hasilnya positif. Dengan semangat aku berlari keruang suamiku.
"Sayang, aku sudah mengandung, mungkin sudah seharusnya aku berhenti kerja"
"Tapi kalau anak kita lahir, banyak kebutuhannya yang harus terpenuhi, karena itu bantu aku dalam mengurusi kebutuhan demi anak kita"
"...baiklah" akhirnya aku tetap berkerja dan berusaha mencari kebutuhan demi Boboiboy. Saat Boboiboy berusia 5 tahun, aku kembali meminta tolong untuk berhenti kembali dari perkerjaanku, saat itu suamiku setuju, tapi...
"Viola, kau benar-benar ingin berhenti kerja? Padahal kau sangat hebat dalam berkerja, kami masih menginginkan anda tetap berkerja disini" semua bos ditempat kerjaku sangat membutuhkan diriku, karena itu aku merasa kasihan dan akhirnya aku melanjutkan perkerjaanku.
Saat aku pulang dari kantor, aku melihat Boboiboy yang memelukku dari pintu rumah.
"Mama, selamat datang"
"Boboiboy, mama pulang, hari ini mau makan apa?"
"Terserah, yang penting aku suka"
"Boboiboy...maaf ya mama sering sibuk, waktuku tersita banyak karena perkerjaan"
"Tidak apa, mama kan berkerja demi diriku" aku sangat senang mendengar kalimat Boboiboy, aku mengira kalau dirinya tidak akan kesepian, karena itu aku terus berkerja demi dirinya.
Saat umurnya 6 tahun, ia pergi ke pulau Rintis dan ia akhirnya menemukan teman disana. Setelah beberapa minggu, ia meminta untuk tinggal bersama kakeknya.
"Hah? Tinggal bersama ayah? Tapi Boboiboy masih terlalu kecil, aku dan Rion pasti akan merindukannya"
"Kalau kau ingin bertemu Boboiboy kan tinggal telpon dia, dia juga sudah menemukan teman yang baik disini"
"...baiklah kalau itu keinginannya" mendengar kalimat ayah, aku merasa sedikit lega karena Boboiboy telah menemukan teman barunya. Aku hanya menghubungi Boboiboy lewat handphone dan chat. Hingga umurnya 10 tahun, aku akhirnya menemukan waktu luang untuk bertemu dengan Boboiboy. Saat aku dan suamiku sampai dipulau Rintis, aku melihat Boboiboy yang sudah tumbuh.
"BOBOIBOY!! MAMA RINDU! Maaf ya mama dan papa baru bisa menemuimu sekarang" saat itu Boboiboy hanya menatapku dengan wajah dingin tanpa senyuman.
"Ya" aku hanya mendengar kalimat itu dari mulut Boboiboy.
'Boboiboy, apa dia membenciku?' Aku tidak lama dipulau Rintis dan pulang kembali ke Kuala Lumpur. Beberapa tahun kemudian, aku mendengar berita darinya kalau dia menemukan teman baru saat SMP. Aku khawatir jika ia akan salah pergaulan, akhirnya aku menelpon Boboiboy lagi.
"Halo Boboiboy, apa kabar? Mama rindu"
"Maaf mama, aku sedang sibuk, nanti saja ya" Boboiboy mematikan telponku. Aku tidak tahu kalau anakku sudah sebesar ini, bahkan aku lupa dengan umurnya sekarang, bahkan aku pernah lupa untuk mengucapkan selamat di hari ulang tahunnya, mungkin dia sudah melupakan diriku disana. Beberapa tahun kemudian, saat Boboiboy SMA, akhirnya aku berunding dengan suamiku.
"Rion, kau tidak sepi?"
"kenapa?"
"Aku rindu dengan Boboiboy, sangat merindukannya, aku hanya melihat dirinya dari video call, aku benar-benar merindukannya"
"...aku juga. Viola, ambil lah cuti kerjamu dan bawa Boboiboy pulang"
"...iya" akhirnya aku menelpon Boboiboy untuk menyuruhnya pulang ke Kuala Lumpur. Aku sungguh terkejut mendengar persetujuannya. Akhirnya dengan semangat aku menjemputkan dibandara. Tapi entah kenapa hingga sore Boboiboy belum juga sampai, padahal waktunya sudah lewat. Mendadak sebuah suara dari handphoneku berbunyi. Firasatku tidak enak untuk mengangkat telpon.
"Halo Boboiboy, ada apa? Kau sudah sampai?"
"Mama, aku sulit mengatakannya tapi... aku...memang tidak bisa ikut dengan mama dan papa, aku harus menyelesaikan sekolahku disini, maaf"
saat mendengar kalimatnya, aku sangat sedih dan hilang semangat. Entah kenapa emosiku malah tidak terkontrol dan akhirnya aku datang kesini demi membawanya pulang.
Ibu Boboiboy P. O. V end
"...maaf" Fang sedikit menutupi wajahnya dengan poninya.
"Hm? Kenapa Fang minta maaf?"
"Soalnya...aku yang membuat Boboiboy kembali kesini " ibu Boboiboy tidak terkejut dan malah tersenyum iklas.
"Begitukah...ya tidak masalah lah, itu juga permintaanku, seharusnya aku tidak egois kepada Boboiboy juga, oh ya, orang tua Fang bagaimana? Sehat?"
"Eh...orang tuaku sudah meninggal saat umurku 6 tahun"
"Begitukah...maaf ya aku bertanya seperti ini"
"Ti, tidak apa-apa, aku sudah terbiasa hidup tanpa orang tua... aku ingin tanya kepada tante"
"Apa itu?"
"Tante tau kalau Boboiboy takut gelap?" Ibu Boboiboy mengankat alis kananya.
"Takut gelap? Aku tidak tau"
" 'bahkan dia tidak tau kelemahan anaknya sendiri?' ...sebenarnya Boboiboy dan tante sama-sama salah"
"Kenapa?"
"Tante terlalu sibuk dengan perkerjaan tante bahkan kelemahan Boboiboy sendiri tidak tau, sementara itu Boboiboy juga salah karena terlalu menganggap tante orang yang tidak bertanggu jawab"
"Begitukah...aku memang orang tua yang gagal mendidik anak" Fang memegang kedua pundak ibu Boboiboy.
"Kenapa tante tidak minta maaf sekarang? Selagi ada kesempatan, seharusnya tante segera meminta maaf, aku yakin Boboiboy pasti memaafkannya" ibu Boboiboy terdiam mendengar kalimat Fang. Akhirnya ia berdiri dan pergi dari Fang.
"...maaf ya Fang, aku harus pergi"
"Kemana?"
"Aku ingin minta maaf kepada Boboiboy" ibu Boboiboy langsung berlari kembali ke rumahnya, Fang tersenyum lega melihatnya dan Fang kembali merebahkan badannya dikursi taman.
"Oh ya Fang!!"
"Apa lagi?"
"Terima kasih!!"
"*blush* bu, bukan berarti aku khawatir dengan hubungan tante dengan Boboiboy"
"Hahaha, kau tsundere ya?"
"A, AKU TIDAK TSUNDERE!! Sudah pergilah, anak sama ibu sama aja"
...
...
"Boboiboy" ibu Boboiboy mengetuk pintu kamar Boboiboy.
"Masuklah" Boboiboy memberi salam dengan suara dingin. Ibunya masuk kedalam kamar Boboiboy yang terlihat rapi, lelaki beiris coklat itu masih membaca buku pelajarannya di atas meja belajar tanpa menoleh kehadapan ibunya. Mendadak ibu Boboiboy mematikan lampu kamar. Boboiboy langsung terkejut dan dengan cepat menghidupkan lampu belajarnya.
"A, apa yang mama lakuin? Aku kaget lo!!" Boboiboy berusaha mengatur emosinya. Viola alias ibu Boboiboy itu mendekat dan mematikan lampu belajar Boboiboy. Kekuatan Boboiboy seolah-olah hilang dan menjadi makluk terlemah dimuka bumi ini. Boboiboy menutup kedua telinganya sambil menaikkan kakinya ke kursi.
'Ternyata benar, Boboiboy takut gelap' mendadak ibu Boboiboy memeluk tubuh anaknya itu. Boboiboy terkejut melihat kelakuam ibunya, kehangatan dari pelukan seorang ibu sangat terasa ditubuh anak yang kurang kasih sayang itu.
"Maaf ya Boboiboy"
"Mama?"
"Selama ini mama selalu menghabiskan waktu mama demi membiayai hidupmu, jadi maaf, mama memang ibu terbodoh yang pernah ada"
"..." tidak ada respon dari Boboiboy.
ibu Boboiboy kembali bercerita tentang alasan ia selalu meninggalkan Boboiboy.
...
...
"Apa? Aku tidak pernah tau tentang kenyataan itu"
"Karena itu maafkan mama ya, karena mama gagal sebagai seorang ibu, kau pasti membenciku kan?" mendengar kalimat ibunya, Boboiboy tersenyum lega, rasa takut terhadap gelap menjadi hilang.
"Aku memang membenci mama, tapi sekarang tidak, aku senang bisa melihat mama lagi, aku tau kalian pasti susah mencari biaya karena diriku, terima kasih dan maaf selama ini aku selalu egois"
"Itu jawabanmu? Apa Boboiboy menjawab dari lubuk hati Boboiboy?"
"Iya, kali ini aku berkata jujur dan aku ingin mama dan papa sering kesini" ibu Boboiboy tidak sengaja meneteskan air matanya karena melihat pola pikir Boboiboy yang sudah dewasa. Ibu Boboiboy segera menghapus air matanya.
"Iya, pasti mama dan papa bakal sering kesini" mungkin malam ini adalah malam yang paling dinantikan Boboiboy, perasaannya yang selama ini terganjal akhirnya hilang.
...
...
Keesokan harinya, Boboiboy melihat ibunya yang sudah siap pergi sambil menarik kopernya.
"Sudah waktunya, Boboiboy, jaga kesehatanmu ya" ibu Boboiboy mengecek jam tangannya.
"Iya ya, aku bukan anak kecil lagi" ibu Boboiboy mengusuk kepala Boboiboy yang semakin tinggi.
"Jangan lupa untuk belajar terus, oh ya, ada satu hal yang ingin kuberitahu"
"Apa itu?"
"Hubungan kita membaik itu karena nak Fang yang sudah membantuku"
"Fang?"
"Ne...Boboiboy, jangan pernah membuat Fang hilang dari hidupmu ya, karena anak itu sangat baik, dah" Viola menarik kopernya dan meninggalkan anaknya. Boboiboy tidak menyangkah jika hubungannya dengan orang tuanya membaik karena lelaki yang ia sukai.
Tbc
Masih ada kok
"Kenapa telingaku berdengung ya?" Fang menyentuh telinganya dan tidak jadi meminum coklatnya. Gopal yang duduk disebelahnya masih fokus meminum coklat.
"Palingan ada yang bicarain kau"
"Masih juga percaya tentang itu, itu mah cuman mitos"
"Oh ya, mama Boboiboy umurnya berapa ya?" Mendadak Boboiboy duduk disebelah Gopal.
"Umur mama 36 tahun" Boboiboy yang tiba-tiba datang menjawab dengan tenang.
"WHAT?? MUDA!!" Gopal dan Fang serentak menjawa.
"Mama menikah di umurnya yang ke 20 dan mengandung aku setelah 1 tahun pernikahannya" Boboiboy kembali menjelaskannya.
"Memang sih dari wajahnya terlihat muda"
Tbc
jangan lupa baca "Paranormal Experience" yang bakal keluar malam minggu nanti, ceritanya tentang horor, lebih tepatnya comedy yang dihororin, ceritanya masih berkaitan dengan Takut Gelap kok.
See you again in the next chapter!! love you gaes!!
