TIGA "M"

By Itachannio

Vocaloid

Disclaimer: Yamaha, Crypton Future Media, and fans all over the world

Main Characters: Kaito Shion, Rin Kagamine, Miku Hatsune.

Other Characters: Find by yourself

Author's Words:

Moshi-moshi, annyeonghaseyo, halo, hi Readers di mana pun anda berada!

Mohon bantuannya ya untuk para readers ataupun senior yang membaca fanfic ini. Dengan banyaknya saran dan kritik yang masuk pada kantung review, saya bisa mengetahui seberapa banyak kesalahan, juga seberapa besar peluang saya untuk memperbaikinya.

Terima kasih dan selamat membaca!

Enjoy

Chapter twenty-one: Gelap

.

.

Cerita Sebelumnya

Bossu mengalami kecelakaan ketika mengejar Miku yang hendak pergi tanpa berita dan kabar. Kaito pun kembali dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa dia–lagi-lagi–harus kehilangan orang yang dicintainya.

.

.


BRUK!

"Hei, pakai matamu!"

Kaito memegangi bahunya yang baru saja bertabrakan dengan bahu seseorang. Tidak ada rasa sakit yang muncul, seolah bahunya membeku oleh hawa dingin. Tentu. Di luar, hawa dingin terasa sangat kuat. Apalagi untuk Kaito yang sekarang ini hanya mengenakan selembar jaket dan mengembara tanpa tujuan di pinggiran jalan raya setelah kelelahan berlari dari rumah sakit.

Aah…

Kaito menatap nanar ke langit malam. Hitam. Tak ada bulan , tak ada bintang. Hanya langit malam. Lalu kalau bintang tidak ada, kemana perginya orang itu? Heh. Kaito sudah tidak waras. Untuk apa juga dia mengharapkan muncul satu bintang yang tiba-tiba saja bersinar terang di atas langit? Itu tak akan pernah terjadi. Tidak. Sebab, orang itu telah berdosa padanya. Orang brengsek itu telah membuat Kaito berharap akan bisa mewujudkan sesuatu yang sia-sia; semua yang dia katakan, waktu itu…

"Melihatku tumbuh dewasa… heh…" Kaito terkekeh dalam bisikannya, "Sinting."

BRUK!

Lagi-lagi.

"Oi, teme! Kalau jalan lihat-lihat!"

Kaito menatap orang yang baru saja ditabraknya. Kali ini, dia menabrak seseorang yang umurnya terlihat tak jauh berbeda. Dan anak itu terlihat sedikit tempramen. Langsung saja orang tempramen ini menarik kerah jaket Kaito sambil melotot galak.

"Aku tak melihatmu," ucap Kaito datar. Si tempramen pun mendecih.

"Aku tak melihatmu?!" beonya kesal, "Aku sebesar ini masih saja tidak lihat, sialan?!"

Kaito melengos jengah, "Minggir."

"Teme! Aku sedang bicara denganmu!" geram orang itu, semakin kesal. Kaito pun kembali menatapnya.

"Lalu, kau ingin aku melakukan apa? Dogeza?"

"Kau sedang mengejekku ya?!" seru orang itu.

"Tidak," jawab Kaito, lalu menatap jalanan, "Kalau kau mau aku melakukannya, akan kulakukan."

"Dasar sialan!"

BUAAAGH!

Kaito pun terjatuh ke jalanan yang dingin. Tanpa ada niat bangkit, anak itu menyentuh ujung bibirnya yang sedikit basah. Oh, dia berdarah. Tapi…

Tidak sakit.

Kaito pun melirik orang yang memukulnya lewat ekor mata, "Hanya segini saja?"

"Nani?!" si pemukul kembali menarik kerah jaket Kaito, membuat anak itu bangkit dan terduduk di hadapannya, "Teme…"

"Pukul aku lagi," kata Kaito, "Yang tadi tidak sakit sama sekali."

"Apa-apaan kau…" orang itu mulai merasa ada yang aneh dengan anak lelaki di hadapannya. Dari mulai sorot mata, suara, dan sikapnya yang…

"Menjijikan!" dia pun membentak, lalu buru-buru berjalan pergi kalau saja Kaito tidak menahan kakinya untuk melangkah.

"Pukul aku," gumamnya, lalu mendongak dan menatap tajam orang itu, "Kalau tidak…"

Yang ditatap tiba-tiba saja meneguk ludah.

.

.

.


.

.

.

Kyo bersama Akaito berlari dan bertanya kesana-kemari untuk mencari sang tuan muda juga sepupu yang saat ini tengah menghilang.

Pasalnya, semenjak mereka tiba di rumah sakit, Kaito langsung melesat ke dalam tanpa memperdulikan apa-apa lagi. Akaito, Rin dan Kyo pun buru-buru menyusulnya. Tapi sebelum mereka tiba di pintu ICU, Kaito sudah berlari keluar ruangan. Dia berlari kencang melewati ketiga orang tersebut begitu saja.

Untuk beberapa saat, mereka hanya tercengang memandangi anak itu yang kian menjauh berlari ke jalanan. Namun tiba-tiba Akaito sadar diri dan langsung membawa Kyo untuk pergi mengejar Kaito, sedangkan Rin tinggal di rumah sakit.

Namun sayang sekali keduanya tidak menemukan Kaito hingga kemudian, mereka sampai di dekat sebuah lampu merah di mana ada banyak orang berkerumun. Di antara kerumunan tersebut, beberapa orang polisi sedang berusaha untuk menenangkan hiruk-pikuk kerumunan yang terdengar berisik. Akaito dan Kyo pun saling tatap sebelum bersepakat untuk mendatangi kerumunan. Mungkinkah...?

"Permisi! Maaf! Permisi!" Akaito dan Kyo menerobos kerumunan sampai mereka melihat sesuatu yang mengejutkan ketika muncul di posisi paling depan.

"K-kore wa…" Kyo menutup mulutnya yang ternganga. Sementara di sampingnya, Akaito terlihat tegang bukan main.

Di sana, di atas jalanan, ada sebuah genangan darah yang muncul dari seseorang yang sudah tak jelas lagi bagaimana rupanya. Kepala orang itu dibanjiri darah, keluar dari bagian belakang. Bagian depannya pun sudah benar-benar rusak. Dari kening, dahi, hidung, hingga mulut, semua mengeluarkan darah. Dan bukan hanya itu. Hidungnya bengkok, seluruh bagian wajah bengkak, dua buah gigi geraham bahkan keluar dari tempatnya. Samar-samar, bisa terdengar suara orang itu yang sedang merintih karena kesakitan saat menarik napas.

"Ap-apa yang terjadi?" Akaito berusaha bersikap tenang sekalipun sekarang ini dia sudah merasa mual melihat pemandangan itu.

"Anak ini baru saja dihajar orang gila," seseorang menjawab di sampingnya sambil bergidig ngeri, "Untung saja polisi sudah menangkapnya."

Akaito pun melotot. Yang benar saja…?!


Rin menangis di samping Bossu yang kini telah menjadi sebuah tubuh hampa tanpa jiwa. Maut. Siapa sangka ia bisa datang secepat ini? Siapa sangka ia bisa dengan mudahnya menjemput orang-orang terdekat kita? Hidup ini bisa jadi begitu singkat.

Sekarang, setelah meninggalkan anak semata wayangnya begitu saja, bagaimanakah keadaan Bossu di atas sana? Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah dia beristirahat dengan tenang?

Rin terisak. Gadis itu ingat betapa berharganya Kazuto Shion bagi keluarga Kagamine. Semua bantuan dan kebaikan yang beliau berikan sudah membantu keluarganya untuk bangkit dan berkembang. Selain itu, sosok tersebut juga telah mempertemukannya dengan seorang anak yang membuat dia menjadi gadis yang lebih tangguh dan kokoh. Beliau juga telah mengajarinya bagaimana seseorang bahkan bisa jatuh cinta dengan manusia yang hampir mustahil dicintai oleh makhluk apa pun.

Gadis itu terus menangis sambil menggenggam tangan Bossu saat Ling tiba-tiba masuk dengan wajah berantakan dan deraian air mata. Wanita itu kemudian berjalan mendekat dan menangis di samping Rin.

Untuk sesaat, Rin tidak tahu apakah tetap berdiam di tempat itu adalah pilihan yang tepat, jadi dia bangkit dari kursi dan berjalan gontai meninggalkan ruangan. Dia tidak tahan melihat Ling yang terkesan terlalu bersandiwara. Entah tangisnya atau sesuatu yang lain yang membuat Rin merasa bahwa wanita itu sama sekali tidak tulus menangis.

Beberapa saat kemudian, Sonika tergopoh menghampiri Rin yang saat ini sudah berdiri mematung di depan pintu ICU. Dokter itu masih mengenakan pakian serba biru yang menandakan bahwa dia baru saja keluar dari sebuah ruang operasi.

"Rin-chan…" gumam Sonika sambil menggenggam kedua tangan Rin.

"Sensei," gadis itu menatapnya dengan kedua mata yang terlihat merah. Sonika pun memeluknya dengan erat.

Beberapa saat yang lalu setelah dia keluar dari ruang operasi, ada berita tentang dua orang korban kecelakaan yang baru saja tiba di rumah sakit tempatnya bekerja. Para perawat bilang mereka adalah anggota yakuza. Saat bertanya pada petugas resepsionis, dokter itu sangat terkejut dengan kebenaran bahwa para korban yang dimaksud merupakan Bossu dan salah satu bawahannya. Yang paling menyesakkan dada ialah, dia diberitahu bahwa yang satu meninggal di rumah sakit, sedang yang lain meninggal di perjalanan.

Dengan keberadaan jasad Bossu di ruang ICU–masih dengan banyak dokter yang berada di dalam, dapat dipastikan bahwa korban yang meninggal di rumah sakit tersebut adalah Bossu sendiri. Dan Sonika masih belum bisa percaya hal semacam ini terjadi.

Andai saja dia tidak sedang bertugas saat itu, dapatkah dia menyelamatkan Kazuto Shion? Ataukah hasilnya tetap sama? Apakah ini karena para dokter terlalu lambat, sampai-sampai mereka tidak sanggup menyelamatkan korban yang masih berjuang untuk menyisakan napas? Apakah karena mereka kurang terampil sehingga tidak mampu mempertahankan satu nyawa saja?

Sekarang Sonika benar-benar merasa tidak berguna. Baiklah. Dia tahu. Dia tahu bahwa dokter bukanlah Tuhan yang mampu menghidupkan orang mati. Namun tetap saja. Saat seorang pasien meninggal di depan mata, apalagi yang diyakini merupakan anggota keluarga… rasanya lebih baik berhenti mengobati. Rasanya lebih pantas berhenti jadi dokter. Dan Sonika pun yakin, para dokter di dalam pasti merasakan hal yang sama kala ini pertama kalinya bagi mereka membiarkan seorang pasien meninggal dunia.

"Sensei…" Rin terisak dalam peluknya, "Sekarang apa yang akan terjadi…?"

Sonika membelai kepala gadis itu pelan-pelan, "Kita semua harus tegar…"

"Apa? Kantor polisi?!"

Tiba-tiba terdengar suara Ling dari dalam. Sonika dan Rin pun menoleh, mendapati wanita itu berjalan panik meninggalkan ruangan.

"A-ada apa?" tanya Rin, kebingungan. Ling menatap gadis itu dan Sonika dengan kedua alis berkedut-kedut dalam.

"Kaito baru saja ditangkap polisi," jelasnya, "Kalian tunggu di sini! Aku akan pergi menyusulnya!"

Rin dan Sonika pun bertatapan kaget.


BRUGH!

Kaito menabrak dinding saat polisi yang menangkapnya mendorong anak itu masuk ke dalam penjara. Dia tidak bisa menahan tubuhnya dengan apa pun karena kedua tangan yang dikunci borgol di belakang punggung. Belum lagi, anak biru tersebut sudah sempoyongan semenjak para polisi menembaknya dengan pistol listrik sebelum dibawa ke tempat ini–sebelum mereka berhasil menyelamatkan seorang anak muda dari keganasannya.

Pandangan anak itu pun terlihat kabur dan buram karena kedua lensa kontak yang seharusnya menempel di bola mata terlepas entah ke mana. Jadi sekarang, Kaito hanya bisa membiarkan dirinya tergeletak lemah di atas lantai penjara tanpa bisa melihat apa-apa dengan jelas.

"Kuso…" anak itu merapatkan gigi atas dan bawahnya kuat-kuat, "CHIKUSHOU!"

"Berisik! Kau diam saja!" polisi itu memukul jeruji dengan tongkat kayu yang biasa dibawanya ke mana-mana, "Benar-benar! Dia sudah tidak waras!"

Tidak waras…?

Kaito terkekeh sendiri, lalu menatap langit-langit penjara, "Kau dengar itu, Kuso Jiji…? Mereka menyebutku tidak waras. Ha..haha… haha…"

"Orang gila," si polisi menatap jijik pada Kaito yang dapat mendengar dengan jelas semua perkataannya. Anak itu pun langsung merangsek mendekati apa pun yang terlihat seperti kaki si polisi, lalu mendongak dan berusaha menatap wajahnya–yang tak kelihatan–dengan pandangan tajam.

"Apa lagi sekarang?!" maki polisi tersebut.

"Aku tidak gila," kecam Kaito dengan kedua mata berkaca-kaca, "Aku memang terlihat gila. Tapi aku sama sekali tidak gila!"

"Bicara apa anak ini–"

"KAU AKAN MERASAKANNYA SAAT KAU KEHILANGAN ANGGOTA KELUARGAMU, BRENGSEK!" seru Kaito yang membuat hampir semua mata di kantor polisi mengarah padanya. Sang polisi yang bertanggung jawab pun terkaget-kaget dengan teriakan anak itu.

Penjara yang saat ini mengurung Kaito memang merupakan penjara sementara, terletak di area yang sama dengan ruang kantor kepolisian. Jadi, para penduduk bernotabene polisi tersebut bisa mendengar semua yang dikatakan anak itu dengan jelas.

"Aku hanya tidak tahu apa yang harus kulakukan! Aku hanya merasa marah! Sedih! Kesal! Depresi, juga kacau! Dadaku bahkan serasa hancur! Kalian orang-orang brengsek takkan bisa mengerti sampai kalian mengalami apa yang kualami! Dasar sampah-sampah keparat!"

Kaito pun berteriak-teriak sekeras mungkin sampai suaranya terdengar sumbang dan serak. Air mata akhirnya dapat mengalir setelah sekian lama, menyatu dengan noda-noda darah yang kemudian ikut hanyut terbawa arus. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain melampiaskan semua dengan teriakan dan air mata.

Para saksi yang memandang pun tak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan anak itu melepaskan segala amarah dan kesedihannya.


Pukul 9:20 malam.

Kaito keluar dari mobil sedan yang baru saja mengantarnya ke rumah dan berjalan gontai ke dalam. Sebelum naik ke lantai atas, anak itu sempat melirik ruang kerja Bossu yang pintunya sedang tertutup.

Ling, Akaito, dan Kyo hanya bisa menatapnya dari kejauhan–dari dalam mobil. Tadi, setelah berurusan dengan pihak kepolisian–dan mengatur segala sesuatu hingga masalah pembiayaan medis bagi korban kekerasan Kaito–Ling membawa anak itu pulang bersama Akaito dan Kyo yang memang sedang berada di lokasi. Beberapa saat kemudian, Rin tiba di rumah dengan jasa taxi.

"Rinny!" panggil Akaito sambil keluar dari mobil. Rin langsung menghampirinya dengan ekspresi cemas.

"Kaito wa?" tanyanya sambil melongok ke dalam mobil tapi tak menemukan Kaito di sana.

"Kaito-sama sudah ada di atas," jawab Kyo. Ling menghela napas.

"Apa dia pernah melakukan sesuatu seperti ini sebelumnya?" tanya wanita itu.

Akaito melirik Rin. Dia pernah dapat info kalau Kaito juga pernah masuk penjara akibat memukul Rin sampai gadis tersebut harus dirawat di rumah sakit. Tapi, tidak ada untungnya juga memberitahukan hal ini pada Ling. Toh, mau dia tahu atau tidak, tak ada yang berubah. Kaito akan tetap seperti ini. Paling tidak, untuk sekarang.


Kaito membiarkan air menetes dari ujung-ujung rambutnya. Meskipun sekarang dia sudah mengguyur diri dengan air, berharap bisa menghilangkan semua sesak dan penat yang ia rasakan, perasaan itu tidak pernah ikut terhanyut. Perasaan tersebut tetap menempel dalam dirinya.

Sial.

Sekarang dia mulai merasa bersalah, merasa kotor. Saat menatap lantai kamar mandi yang banyak mengalirkan darah, jantungnya mencelos. Darah itu bukan miliknya. Darah yang mengalir itu bukan darahnya. Darah itu… milik orang sialan yang tak tahu apa-apa namun menjadi objek amukannya.

Meski begitu, sebagian dari dirinya tidak mau disalahkan. Memang bukan keinginan Kaito untuk memukul dan mengamuk. Bukan keinginan Kaito untuk merasa kecewa dan frustasi. Bukan keinginannya untuk merasa ditinggalkan dengan cara yang sedemikian kejam; oleh orang-orang yang dia sayangi.

Ibunya mati ditikam orang-orang pengecut. Kini sang ayah pun ikut mati ditabrak kereta oleh seorang masinis gila. GILA. Biar saja meski masinis itu tidak tahu. Biar saja meski masinis itu merasa berdosa. Kaito hanya ingin ada orang yang bisa disalahkan; orang yang bisa membuatnya melampiaskan semua yang dia rasakan. Memukul pun tak apa. Membunuh pun Kaito tak keberatan.

"Are…?!" anak itu melotot lebar.

Membunuh? Siapa yang harus kubunuh?

Kaito memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut. Kuso. Dia tidak boleh seperti ini. Kaa-chan dan Kuso Jiji pun pasti tak menginginkan hal ini. Dia harus… kuat. Dia tidak boleh menjadi rapuh dan lemah. Keluarga Shion tidaklah lemah.

"Tapi nyatanya kau memang lemah."

"Siapa itu?!" Kaito berseru sambil menatap sekeliling. Pandangannya masih buram sehingga tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Tapi… siapa lagi yang berada di dalam kamar mandi selain dirinya? Lalu yang tadi itu apa? Siapa yang mengatakan bahwa dirinya memang lemah?

"SIALAAAAAAAAN!"


Rin menjerit tanpa suara begitu mendengar seruan Kaito dari dalam kamar mandi. Gadis itu sengaja menungguinya di luar karena khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu. Masalahnya, Kaito sudah berada di dalam selama kurang lebih dua jam. Sekarang saja sudah pukul 11:45.

Belum lagi, saat ini di rumah sedang tidak banyak orang. Hanya Rin dan Kyo saja yang bisa diandalkan untuk mengawasi anak itu. Ling dan Akaito menginap di luar untuk mengurus seputar prosesi pemakaman yang akan dilakukan besok pagi.

Rin pun memberanikan diri mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Namun tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Kaito dengan rambut basah acak-acakkan. Baju putih berlengan panjang yang ia kenakan pun terlihat basah dan menampakkan warna kulitnya yang kecokelatan.

"Ka-Kaito–"

Rin tidak sempat bicara karena anak itu tanpa melihatnya langsung berjalan keluar, lalu masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu.

Rin sempat tercengang beberapa saat. Kaito terlihat begitu menderita. Kedua matanya merah. Wajahnya basah karena tetesan air dari rambut. Namun, Rin merasa air yang menetes dari wajahnya itu bersatu dengan air mata yang masih tersisa. Mungkinkah Kaito sedang mencoba menyembunyikan air mata dengan menyirami diri dengan air? Kalau iya, tidak mengeringkannya memang suatu pilihan yang tepat.

Gadis itu menggigit bibir. Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Walau hanya sedikit, dia ingin membantu Kaito. Dia ingin berguna bagi Kaito. Apa pun itu. Apa pun…


Pandangan Kaito langsung terpancang pada sesuatu yang berwarna biru, yang tersimpan di atas meja belajarnya. Meskipun penglihatan masih buram, tapi dia tahu itu kado dari Miku.

Miku.

Benar juga. Gadis itu, kenapa tidak datang hari ini...? Ia juga tak ada di rumah sakit. Pun tidak datang kemari. Ke rumah ini. Sekarang. Kenapa tiba-tiba dia… menghilang?

Kaito menggertakkan giginya. Mendadak ada sebuah perasaan aneh yang muncul. Anak itu pun segera menyambar sebuah kacamata bersama kado pemberian Miku dari meja belajar.

Untuk sesaat, anak itu merasa tak punya keberanian untuk membukanya. Semua rasa sedih, juga kemarahan yang tengah ia rasakan… tiba-tiba Kaito ingin agar mereka hanya tampil sebagai bentuk candaan saja; bukan sebagai fakta menyakitkan yang kini sedang menyerang.

Kaito ingin agar 'kematian Kazuto Shion' itu hanya dirancang seseorang untuk membuat hari ulang tahunnya terasa lebih 'berkesan'. Kaito ingin agar 'menghilangnya Miku Hatsune' ini sengaja direncanakan agar hari ulang tahunnya terasa lebih 'membekas'.

Kenapa? Apa itu salah?

Dengan semua rasa cemas yang kini sedang mengepungnya, apakah Kaito sudah salah bila menginginkan hal-hal tak masuk akal tadi? Benar-benar kacau. Padahal dia hanya perlu mengendalikan diri dan mencoba sekeras mungkin untuk menghindar dari segala bentuk pikiran negatif.

Terlepas dari apa pun yang membuatnya gelisah, Kaito tetap harus membuka kado itu. Apa yang diberikan Miku untuknya? Kaito harap, ia merupakan sesuatu yang bisa membuatnya lupa akan semua peristiwa mengerikan hari ini. Kaito harap, di dalam sana ada sebuah sihir yang dapat membantunya untuk melepaskan segala kesedihan yang meliputinya kala ini.

Baiklah. Dia akan membukanya. Kaito akan membuka kotak itu dan melihat apa yang ada di sana; dan apa yang akan terjadi. Tapi–

"Kore wa…"

–Kotak itu hanya berisi busa putih yang di bagian tengahnya terdapat sebuah kamera digital. Jadi, Miku memberinya sebuah kamera sebagai kado ulang tahun…? Iie. Kaito tahu kalau gadis itu tidak bodoh. Dia tidak mungkin menghabiskan uang hanya untuk membeli sebuah barang murahan yang bisa dengan mudahnya Kaito beli sendiri.

Kaito pun segera menyalakan kamera dan menemukan sebuah rekaman yang menangkap sosok Miku di dalamnya.

Klik!

Terlihat bayangan hitam bergerak-gerak di depan layar. Beberapa saat kemudian, muncullah sebuah bola mata berwarna hijau pada layar tersebut.

"Apa ini sudah menyala? Oh… ternyata sudah. Hihihi. Aku masih saja norak!"

Kaito memasang wajah datar saat melihat 'acara pembukaan' yang dilakukan Miku. Benar-benar gadis bodoh. Lagipula… kenapa juga Kaito mau menyaksikan video semacam ini di saat seperti sekarang…? Hanya Hatsune Miku yang mampu membuat dia melakukannya.

"Jadi, Kaito… eh, maksudku…" Miku berdeham sambil membetulkan posisi duduknya di depan kamera. Gadis itu duduk di sebuah kursi kayu kecil.

"Konnichiwa. Miku Hatsune di sini!" gadis itu mengacungkan sebelah tangan sambil tersenyum lebar hingga kedua matanya ikut tersenyum dan menciptakan sebuah lengkungan cantik, "Bagaimana kabar Anda, Pemirsa? Di sini cuaca masih sangat dingin! Kuharap Anda memakai pakaian tebal meskipun ada di rumah, memakai kaus kaki, menyalakan penghangat ruangan, memakan makanan dan minuman yang masih panas, dan memakai syal biru yang sudah kubuatkan untuk Anda."

"Apa yang sedang dia lakukan…?" Kaito mendengus sambil tersenyum samar. Kali ini dia menopang dagu, masih sambil menatap layar kamera.

"Jadi!" Miku menepukkan tangannya dengan semangat, "Aku ada di sini untuk menemani seseorang merayakan hari ulangtahunnya. Kau tahu siapa dia, Pemirsa?"

Miku pun langsung menunjuk kamera, "Yak! Kaulah orangnya, Kaito Shion! Dengan begini, aku sudah melaksanakan janjiku untuk merayakannya bersamamu! Hahaha! Selamat dengan menuanya umurmu! Yeeeeeey!"

Gadis itu meletupkan potongan-potongan kertas kecil, lalu bertepuk tangan sendiri. Tak lama kemudian, dia bangkit dan pergi ke suatu tempat; lalu kembali dengan membawa sebuah kue tart berwarna cokelat yang sangat polos.

Kaito mengamati kue itu yang ternyata hanyalah kue biasa. Bulat bentuknya. Tidak ada hiasan yang menempel sama sekali. Tidak ada tulisan 'selamat ulang tahun' atau 'happy birthday' yang biasa diukir di bagian atas. Apa itu kue buatannya sendiri?

"Sebenarnya aku ingin menghias kue ini, tapi takut gagal. Hehe…" Miku mengusap-usap belakang kepalanya, "Tapi, tunggu! Kau pasti sedang mengejekku 'kan?! Iya 'kan?! Pasti kau bilang ini hanya kue biasa?! Membosankan?! Lalu… jelek?!"

Hening beberapa saat.

"Yah, apa boleh buat. Kau boleh saja mengatakannya," Miku tersenyum, lalu memotong kue itu sembarangan, "Tidak ada acara tiup lilin karena kau juga tidak akan bisa meniupnya. Jadi, jangan protes! Oke?"

Kaito membuang napas pendek. Rencana bodoh apa yang sedang dipikirkannya?

"Waa! Ini sangat enak!" seru Miku setelah mencomot kue yang baru saja dia potong, "Kau harus mencobanya, Kaito! Aku tahu aku berbakat kadang-kadang! Hehe…"

Gadis itu melanjutkan acara makan kue sampai mantan adonan itu hanya tersisa setengahnya. Kemudian, dia kembali duduk dengan tegap dan rapi di atas kursi setelah menyimpan sisa kue tadi entah ke mana.

"Sekarang, ijinkan aku membacakan sebuah cerita," katanya dengan ekspresi serius yang dibuat-buat, "Ini cerita tentang sebuah syal biru yang secara misterius memiliki dua rajutan yang berbeda."

Kaito mengernyitkan dahi. Sebentar. Apa gadis itu sedang membicarakan syal biru yang diberikan padanya?

Kaito pun bangkit dari tempat tidur, lalu mencari-cari syal biru yang dimaksud. Setelah mengamatinya lebih teliti, memang benar ada yang berbeda. Setengah syal itu memiliki rajutan yang rapi, sedangkan setengah lagi bisa terbilang sedikit… berbeda. Kenapa dia baru sadar? Jadi, bukan Miku yang membuatnya sendiri? Kaito pun kembali ke tempatnya semula, lalu melanjutkan siaran.

"Suatu hari, Miku Hatsune menemukan sesuatu dari balik lemari. Ia sangat terkejut karena menemukan sebuah potongan syal yang belum selesai. Saat itu, syalnya baru jadi setengah. Ia tidak tahu apa-apa mengenai syal tersebut sampai kemudian seorang teman bernama Kaito Shion menceritakan pengalamannya dahulu; bahwa ibunya berniat memberikan syal sebagai hadiah ulang tahun. Miku Hatsune pun menyadari bahwa syal yang ia temukan itu merupakan syal buatan ibu Kaito Shion…"

"…setelah itu secara kebetulan, ia diminta Kaito Shion untuk membuatkannya sebuah syal biru. Meskipun tidak langsung menyanggupi, Miku Hatsune memutuskan untuk mencoba merajut. Namun hasilnya selalu tidak bagus. Tak lama, sebuah ide pun puncul. Bagaimana kalau dia mengombinasikan hasil rajutannya dengan hasil rajutan ibu Kaito Shion? Dengan demikian, tidak semua bagian syal akan terlihat 'hancur' dan 'berantakan', begitu pikirnya…"

"…setelah melewati masa-masa sulit, akhirnya Miku Hatsune berhasil menyelesaikan bagiannya pada syal biru ini. Dengan secuil keyakinan, pada saat yang tepat, gadis itu pun mampu memberikannya pada Kaito Shion. Sudah tentu Kaito Shion menerimanya dengan senang hati. Dan sekarang… setelah beberapa lama waktu berlalu, Miku Hatsune pun sadar bahwa mungkin Kaito Shion akan lebih bahagia begitu mendengar kebenaran ini…"

"…kebenaran bahwa syal biru yang sekarang sudah ada padanya... merupakan syal yang selama ini ia tunggu-tunggu, yang sengaja dibuatkan oleh sang ibunda terkasih…"

Kaito terkesiap. Apa… apa itu benar? Jadi, syal biru ini… Kaito menatap syal yang sekarang sedang berada di tangannya, 'Kaa-chan yang…'

"Oi, Kuso Jiji…" anak itu meremas syal itu kuat-kuat, "…Kaa-chan juga… memberiku hadiah…"

"Bagaimana Kaito? Kau menyukainya?" tanya Miku sambil tersenyum lebar, "Ini hadiah dariku, dan dari ibumu."

Hadiah? Bukan… ini harta karun.

"Tapi maaf… aku jadi ikut campur menyelesaikan syal itu. Dan meskipun kau tidak suka, kau harus tetap menyimpannya. Aku benar-benar minta maaf…" tiba-tiba Miku berbicara dengan nada yang berbeda, "…kau boleh marah padaku. Kau boleh membentakku, memakiku dan berteriak padaku sesukamu. Aku tidak akan marah… ah, tidak."

Kaito terdiam. Sesuatu… ada sesuatu yang mulai membuatnya semakin gelisah.

"Aku tidak punya hak untuk marah…" Miku mencoba tersenyum.

"Nee Kaito…" gadis itu bangkit, lalu berjalan mendekat, "Sekarang, kau sudah berubah. Kau sudah bisa menerima orang-orang di sekitarmu tanpa masalah. Mereka pun menerimamu apa adanya. Bagaimana perasaanmu, senang?"

Miku tertawa kecil, "Kuharap mereka akan tetap menjagamu, menyayangimu… dan terus bersamamu."

Gadis itu lalu mengarahkan pandangannya lurus pada kamera.

"Aku… suka Kaito. Dan karena aku sangat menyukai Kaito…" kilauan halus mulai nampak di kedua matanya, "…aku tidak bisa lagi berada disampingmu…"

Deg.

"A-apa-apaan…"

"Maaf sudah menyembunyikan semua ini darimu," Miku tersenyum, namun sesuatu seperti meteor jatuh melintas di pipinya, "Sekarang, aku benar-benar minta maaf sudah menyia-nyiakan kepercayaanmu…"

"Juga… telah membuatmu mengatakan suka pada orang yang salah…" gadis itu terisak hebat, "Tapi kuharap, kau tidak akan menyesal pernah menyukaiku…"

"Kh…" Kaito menekan dadanya yang sudah terasa sangat sempit. Apa… maksudnya?

"Sayounara, Kaito…"

"Jangan bercanda…" Kaito mengepalkan kedua tangannya, "Jangan bercanda… jangan bercanda… JANGAN BERCANDA, SIALAN!"

BRAAAAK!

"Kaito, ada apa?!"

Tiba-tiba pintu terbuka, dan Rin ada di sana. Gadis itu yang membuka pintu.

Kaito pun menatapnya dengan kedua mata melebar liar. Kuso. Dia tidak mengunci pintu sialan itu. Sejak kapan dia jadi pelupa? Oh, benar. Ternyata sudah lama sekali. Dia juga melupakan sebuah fakta penting bahwa para 'anak gadis' itu makhluk keparat. Mereka pembohong bermulut besar. Mereka sialan, brengsek, memuakkan!

Padahal baru beberapa saat yang lalu dia sempat merasakan dorongan untuk bangkit. Tapi siapa sangka kalau ternyata segunung rasa kecewa bisa tiba-tiba muncul dari dalam sebuah kotak. Kaito baru tahu kalau perasaan sialan itu bisa juga dijadikan hadiah ulang tahun.

Brengsek.

"Kaito, apa kau baik-baik saj–eh?!" Rin terkejut ketika melihat sesuatu melayang ke arahnya. Refleks, gadis itu menghindar dan membiarkan benda melayang itu meluncur sampai terdengar hancur di lantai bawah.

"A-apa yang…"

"KELUAR!" seru Kaito berang.

Gadis itu terpaku. Ke-kenapa…?

"KUBILANG KELUAR KAU, BRENGSEK!" Kaito melompat dari tempat tidur dan langsung menerjang Rin kalau saja Kyo tidak langsung muncul dan menahan serangannya.

"Rin Kagamine! Cepat pergi dari sini!" seru Kyo sambil berusaha sekuat mungkin menahan serangan Kaito.

Rin pun segera menyingkir meskipun hatinya sama sekali tak membenarkan. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Kaito jadi begini? Ah, yang terpenting sekarang dia harus minta tolong pada orang-orang di rumah. Jangan sampai hal buruk terjadi pada Kyo!


BRUAAAAK!

Punggung Kyo menghantam meja belajar. Ugh, rasanya sakit sekali. Apalagi bagian pinggangnya terkena pinggiran meja. Pasti nanti dia akan punya banyak 'tato' berwarna seperti bunglon. Amukan tuan muda ini memang mengerikan.

"Kaito-sama, ochitsuite kudasai!" seru Kyo, menyuruh sang tuan muda untuk tenang.

"BERISIK!" teriak Kaito sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, "KALIAN SIALAN! KUHARAP KALIAN SEMUA MATI SAJA!"

"Kaito-sama, tolong jangan berkata seperti itu!" ucap Kyo sambil menatap Kaito di mata, "Kazuto-sama juga pasti tidak ingin mendengarnya dari Anda!"

"Tidak ingin mendengar katamu…?" Kaito terkekeh seperti orang gila, "ORANG MATI ITU TIDAK PUNYA KEINGINAN APA-APA, BRENGSEK!"

"KAITO-SAMA!"

Kaito tersentak. Selama beberapa detik, suasana menjadi hening. Kyo pun mengepalkan tangan, lalu berjalan menghentak ke arah Kaito dan tanpa basa-basi lagi mencengkram kerah bajunya dengan kuat.

"Apa pun yang terjadi, aku akan tetap melindungi Anda! Aku sudah berjanji pada Kazuto-sama! Tak akan kubiarkan Anda tersesat dan kembali menjadi orang brengsek!" kecam Kyo. Kaito pun melebarkan matanya.

"Apa kau bilang…?!" dia menggeram.

Kyo memperkuat cengkramannya, "Takkan kubiarkan Anda merusak semua yang sudah diperjuangkan Kazuto-sama!"

Kaito menggertakkan gigi-giginya dengan amarah yang kembali menggunung, "Jangan pernah bicara seolah-olah kau lebih mengenalnya daripada aku…"

Kyo pun buru-buru mundur beberapa langkah karena merasakan bahaya dari diri Kaito. Gawat. Dia butuh bantuan! Kalau begini terus…

"Kaito-sama–"

"TUTUP MULUTMU!" teriak Kaito. Kyo sontak terdiam.

"Sejak dulu, aku selalu jadi orang yang dibenci… dibuang… dan ditinggalkan…" geram Kaito, "Sejak dulu, orang itu tidak pernah melihatku! Dia menelantarkanku dan membiarkanku jadi seorang bajingan! Apanya yang dia perjuangkan?! Dia hanya orang bodoh yang tak berguna!"

"Tidak!" sanggah Kyo, "Anda hanya mencari-cari alasan untuk membenci Kazuto-sama yang sudah meninggalkan Anda! Anda sendiri pasti tahu kalau kematiannya bukanlah pilihan, tapi takdir!"

"KUBILANG TUTUP MULUTMU, BRENGSEK!" seru Kaito sekeras mungkin. Kyo sampai terhenyak meskipun tepat berada di hadapannya. Mendadak, rasa takut pun mulai bersatu dengan diri.

"Semua sama saja…" Kaito menunduk, "Ano Kuso Jijiano kuso onna… kau juga… Akaito juga… Rin juga… semuanya sama saja…"

Kyo bersiap menahan serangan ketika tiba-tiba Kaito sudah berada di depan mata dan memberinya sebuah tendangan maut di bagian perut.

"UHUAK!"

Kaito berdiri di hadapan Kyo yang saat ini sedang kesulitan mencari oksigen karena rasa sakit dan mual yang dideritanya. Anak itu juga sempat merasakan sesuatu berbau anyir dan asin yang membasahi kerongkongan.

"Ka-Kaito..samakh…"

"Pada akhirnya kalian semua juga akan meninggalkanku 'kan…?" gumam Kaito, lalu berjongkok di hadapan Kyo dan menjambak rambutnya, "Sudah kuduga. Setelah si tua bangka dan gadis brengsek itu, sekarang giliranmu. Kau juga akan pergi seperti mereka karena sudah tidak tahan lagi denganku. Iya 'kan?"

"Itu… tidak benar…" desis Kyo. Kaito pun mengacungkan tinjunya ke udara. Brengsek. Anak ini brengsek. Dia berbohong. Dia bohong!

Kaito mengangkat tinjunya tinggi-tinggi. Kedua matanya melotot lebar. Sisi kemanusiaannya terbuang. Yang dia inginkan hanya–

BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH! BUAGH!

–itu saja; memukuli pembohong sampai rasa sakit menyerang tangannya sendiri. Sudah. Selesai. Sekarang, pembohong brengsek ini sudah kehilangan kesadaran. Lalu… apa?

Kyo tidak bergerak lagi. Wajahnya yang menyamping sudah belepotan darah. Seluruh tubuhnya lemas. Hei, apa dia sudah mati? Kedua bola mata Kaito spontan berkeliaran buas menjelajahi noda darah yang bercipratan di sana-sini, memperhatikan setengah wajah Kyo yang sudah diliputi bengkak merah.

Kedua tangan Kaito pun gemetar hebat. Pandangannya mulai kabur saat menatap kedua tangan itu yang telah melukai Kyo. Tapi, kenapa…? Bukankah tadi dia baik-baik saja? Bahkan dia sempat membuat anak orang lain melalui kondisi yang lebih parah dari orang ini. Lalu kenapa saat dia sadar telah melakukannya pada Kyo…

"Kaito… apa yang kau lakukan…?" suara Rin yang bergetar langsung menggema di telinganya. Kaito sendiri hanya bisa terdiam, tidak yakin dengan apa yang sudah dia lakukan.

Rin tak mempedulikan Kaito lagi. Dia langsung berlari pada Kyo sambil berteriak pada siapa pun, "Seseorang, panggil ambulance! Yang lain bantu aku membawanya keluar! Kita harus mengobati lukanya sampai ambulance datang!"


Rin berjalan mondar mandir sambil terus menatap telpon rumah yang belum kunjung berdering. Tadi, dia meminta salah seorang yakuza yang ikut ke rumah sakit untuk menelponnya kalau-kalau sudah ada kabar baik mengenai Kyo. Tapi sampai sekarang telponnya belum datang.

Belum lagi, sekarang Rin tidak tahu bagaimana keadaan Kaito. Sebenarnya gadis itu sempat melihat wajah Kaito yang nampak shock dan terkejut; seolah yang menghajar Kyo bukanlah dirinya. Jadi, apakah dia tidak bermaksud berbuat demikian atau bagaimana?

Yang pasti Rin sangat marah, tapi tak jelas pada siapa. Mungkin pada Kaito karena anak itu sudah menghajar Kyo sampai babak belur. Mungkin karena Kyo karena dia sok jago menghadang Kaito seorang diri. Mungkin juga pada diri sendiri atas ketidakmampuannya untuk melakukan apa-apa dalam situasi seperti sekarang.

Rin tidak bisa menyalahkan Kaito karena anak itu memang sedang dirundung duka atas kepergian Bossu. Rin juga tidak bisa menyalahkan Kyo karena dialah yang telah menolongnya agar tidak menjadi 'objek amuk' Kaito. Lalu… yang salah berarti Rin sendiri?

Gadis itu pun mendesah sambil menyibak poninya ke atas, lalu kembali berjalan seperti setrikaan. Sekarang pikirannya sudah buntu. Dia tidak tahu harus melakukan apa pada siapa. Beruntung sekali sejurus kemudian, ada seorang maid yang menyapa dan memberinya sebuah kamera digital yang bentuknya sudah rusak, namun masih bisa menyala. Maksudnya menyala disini, bukan bisa beroperasi tapi layarnya masih hidup namun tak menampilkan gambar apa pun.

"Sebelum ribut-ribut tadi, saya mendengar sesuatu yang di banting. Ternyata kamera ini, Ojou-sama," tutur si maid sebelum Rin sempat bertanya, lalu menyerahkan kamera itu pada Rin, "Silahkan…"

"Ini…" Rin melihat-lihat kamera tersebut. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu.

"Kalau begitu, terima kasih ya!" ucapnya, lalu mencari-cari sebuah laptop di mana pun ia temukan, masuk ke kamarnya di lantai atas dan mengunci pintu rapat-rapat.

Setelah merasa yakin, Rin pun menyambungkan kamera digital itu pada laptop. Kemudian, terpampanglah sebuah video berdurasi sekitar 35 menit dengan thumbnail berupa Miku yang sedang memakan sebuah kue ulangtahun.

Jantung Rin berdegup kencang. Mungkinkah ini penyebabnya? Ketika sosok Miku terlihat pada thumbnail, feeling berkata kalau gadis itulah yang sudah membuat Kaito semakin sedih dan marah. Apa ini benar? Apakah yang dikatakan Miku pada Kaito melalui video ini?


Kaito meringkuk di balik selimut di atas tempat tidur. Ketakutan masih menjalari seluruh tubuhnya sehingga dia terus-terusan menggigil. Dia masih belum bisa berhenti memikirkan apa yang sudah dia lakukan dengan kedua tangannya; memikirkan apa yang sudah terjadi pada Kyo, juga orang tak dikenal itu.

Kaito sungguh tidak tahu setan jenis apa yang telah merasukinya hingga dia bisa melakukan sesuatu yang mengerikan seperti itu. Kini, rasa bersalah kian membesar dan menggerogoti dirinya hingga Kaito tak ingat lagi bagaimana caranya menghadapi manusia. Dia hanya ingin menghindari mereka sebisa mungkin, menjauh sejauh-jauhnya. Dia takut untuk bertatap muka dengan siapa pun.

PRAAAANG!

Kaito meringis kaget begitu mendengar suara kaca pecah. Tidak. Sekarang apa? Kaito langsung melindungi kepalanya dengan tangan yang masih gemetaran. Kedua mata dia tutup rapat-rapat. Siapa itu…? Siapa yang memecahkan jendela kamarnya…? Apa seseorang yang berniat balas dendam?

Sesaat kemudian, terdengar suara berisik jendela digeser. Kaito pun yakin kalau dirinya semakin menggigil. Napasnya tertahan dan badannya menegang hebat. Pikirannya kacau balau. Dan dia hampir saja berteriak kalau tidak merasakan sesuatu yang tiba-tiba merengkuhnya dengan erat.

Kaito pun membatu. Dia tak berkutik selama beberapa saat hingga dia merasakan orang yang sedang memeluknya itu bergerak-gerak dan mulai menyuarakan tangis. Saat merasa mengenali siapa orang ini, Kaito tanpa sadar menghembuskan napas yang sedari tadi tertahan dalam dada.

"Gomen..."

Kaito mendengar orang itu bergumam. Untuk sesaat, anak itu kembali merasa kedua matanya memanas. Sial. Padahal dia tidak ingin bertemu orang lain sekarang.

"Aku minta maaf sudah memberimu waktu yang sulit…" orang itu–Rin–mengusap kepalanya pelan. Mungkin gadis itu tahu posisi kepala Kaito dari cetakan selimut yang sedang menutupinya, "Aku menyembunyikan banyak hal darimu, termasuk… rencana kepergian Miku-chan..."

Kaito terdiam. Jadi… Rin sudah tahu? Berarti, semua orang sudah tahu kecuali dirinya?

"Tapi sungguh! Kami benar-benar tidak tahu kalau Miku-chan akan pergi hari ini! Dia bahkan tidak memberitahu kami…"

Tunggu. Dia tidak memberitahu?

Rahang Kaito spontan mengeras. Dia langsung membuka selimut dan memaksa Rin untuk membebaskan pelukannya. Anak itu duduk bersila di hadapan si gadis yang kini tengah menunduk.

"Jadi…" Kaito pun menggumam datar. Dia tak melanjutkan kalimat itu karena merasa sangsi dengan sebuah pemikiran yang hampir saja membuat kepalanya meledak.

Jadi… waktu itu si botak bukan pergi karena urusan pekerjaan?

Kaito meremas selimut yang menutupi setengah badannya kuat-kuat. Yang benar saja. Kenapa dia lambat sekali menyadarinya…? Mana mungkin orang brengsek itu pergi demi masalah pekerjaan kalau yang memberitahunya Akaito?

"…aku benar-benar minta maaf…" Rin kembali terisak.

Tak tahu. Kaito tak tahu lagi harus bagaimana. Hanya saja, penglihatannya langsung memburam seperti kaca mobil yang tersiram air hujan.

.

.

.


.

.

.

Prosesi pemakaman Kazuto Shion telah selesai dilaksanakan.

Suasana sunyi seolah menjadi teman akrab untuk tujuh orang yang masih setia berdiri di depan batu nisan Kazuto Shon. Mereka adalah Ling, Akaito, Sonika, Kiyoteru-sensei, Rin, Len, dan seseorang dengan wajah yang hampiri mirip dengan sosok Kazuto Shion. Semuanya masih menunduk, mendoakan sang arwah agar dapat tenang di langit yang lepas.

Hingga beberapa menit tadi, suasana di pemakaman masih penuh sesak karena banyak orang yang berdatangan untuk ikut melaksanakan jalannya prosesi, termasuk para keluarga yang beberapa waktu lalu datang ke kediaman Shion. Rento dan Rinka juga datang dan menghabiskan waktu lebih lama dari yang lain, namun mereka harus pulang ketika tiba-tiba ada sebuah urusan mendesak.

Rin sempat marah karena kedua orangtuanya terkesan tidak peduli, tapi kemudian Len menenangkan dan berkata bahwa setiap orang juga punya urusannya masing-masing. Apalagi itu Rinka dan Rento, yang memang melakukan sesuatu demi mereka. Dan lagi, urusan ini juga pasti datang karena Bossu sehingga mereka tidak boleh menyia-nyiakannya. Dengan begitu, yang tersisa sekarang hanyalah mereka bertujuh.

Oya. Kaito tidak datang. Dia sama sekali tidak mau keluar dari kamarnya. Rin rasa, semenjak malam kemarin, Kaito berubah jadi pendiam. Tadi pagi pun tidak terdengar apa-apa dari dalam kamarnya; seperti bunyi kursi berderit, bunyi langkah kaki, bunyi seseorang duduk atau tidur di kasur. Tidak ada. Seolah kamar itu tak berpenghuni, padahal Rin sudah meminta para yakuza yang berada di rumah untuk mengawasi Kaito sampai pagi menyingsing. Tapi mereka juga tidak melaporkan adanya kegiatan mencurigakan dari kamar Kaito. Artinya, anak itu tidak kabur dan masih berada di dalam kamar.

Lalu bagaimana dengan Kyo? Anak itu sebenarnya sudah siuman dan sempat bersikeras untuk mengikuti acara pemakaman Bossu. Tapi atas saran yang memaksa dari dokter, dia pun tetap tinggal di rumah sakit.

"Tou-san…"

Orang berwajah sangar yang sedang berdiri di samping Akaito menoleh saat mendengar anak itu memanggilnya. Dia pun mengangguk samar, lalu menoleh pada Ling yang masih berdoa dengan tenang.

"Yuengzheng-san," orang tersebut memanggil Ling dengan nama marganya yang lama, seolah wanita itu bukan merupakan anggota keluarga Shion, "Anda harus pulang sekarang. Sebentar lagi akan ada detektif yang mampir ke rumah Anda. Aku juga akan menginap selama proses penyelidikan."

Ling terkejut, "Eh? Detektif? Penyelidikan?"

"Kami meminta jasa detektif untuk menyelidiki kasus ini," sahutnya. Ling mendesah pelan.

"Maaf Soujirou-san, tapi kenapa Anda tidak memberitahuku dulu? Bukankah aku juga termasuk keluarga Shion?" tanya Ling, "Lagipula kenapa Anda menyebut ini sebagai kasus?"

"Kemarin Tou-san mendapat kabar dari pihak rumah sakit bahwa supir yang membawa Ojisan ditemukan mengkonsumsi sejenis obat-obatan," jelas Akaito tanpa diminta, "Ling-san sedang pergi keluar saat itu, jadi kami tidak sempat memberitahumu. Lebih tepatnya kami ingin kau merasa lebih tenang, jadi kami tidak mengatakannya."

Ling menatap Akaito dengan bingung, lalu beralih pada sosok Soujirou Shion. Ya. Orang itu memang bermarga Shion dan merupakan saudara laki-laki Kazuto dengan umur yang setahun lebih tua darinya; dengan kata lain, kakak dari Bossu.

Sekitar pukul 11 malam tadi, Soujirou tiba di Crypton dan langsung mendatangi rumah sakit untuk melihat keadaan Bossu. Saat itu, dia juga melihat jasad sopir Bossu yang juga menjadi korban kecelakaan, bertemu dengan keluarganya, lalu mendapat informasi dari dokter yang bersangkutan mengenai hasil autopsi mayat. Hasil autopsi tersebut menunjukkan bahwa sang sopir sedang berada di bawah pengaruh sejenis obat-obatan ketika sedang mengemudi sehingga menyebabkannya kehilangan kesadaran saat berkendara.

"Kami menyewa detektif karena kami tahu ini bukan sebuah kecelakaan biasa," jelas Soujirou dengan nada yang sangat yakin. Sonika dan Kiyoteru-sensei pun saling pandang karena bingung dengan perkataan Soujirou.

Ling mendesah, "Walau begitu, Anda seharusnya memberitahuku dulu, Soujirou-san."

"Anda tidak perlu khawatir, Yuengzheng-san. Serahkan semuanya pada kami," balas Soujirou. Ling hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Ah, ponselku…" tiba-tiba ponsel Akaito bergetar. Anak itu segera mengangkat telpon dan menempelkannya ke telinga, "Moshi-moshi? Eh…?!"

Semuanya langsung membidik Akaito dengan pandangan heran.

"APA KAU BILANG?!" seru Akaito, lalu menatap ayahnya dengan pandangan panik yang tak dibuat-buat.


Kaito mengacungkan sebuah pecahan kaca besar yang sudah berselimut darah di depan pintu masuk rumah. Semua orang sempat menjerit ketakutan ketika anak itu melakukan sesuatu yang gila; dia menggoreskan pecahan kaca itu ke lengannya dari bagian atas sampai bawah sehingga darah membanjir mengotori lantai.

"Ka-Kaito-sama, kami mohon untuk tetap tenang… letakkan pecahan kacanya pelan-pelan…" kata salah seorang yakuza, berusaha bersikap setenang mungkin meskipun sebenarnya dia sedang kalang kabut karena khawatir dengan keselamatan sang tuan muda.

"BIARKAN AKU KELUAR, CECUNGUK-CECUNGUK BRENGSEK!" Kaito mengacungkan pecahan kaca tersebut ke lehernya, "KALAU KALIAN TAK MAU, AKU AKAN MEMBUAT KALIAN JADI PEMBUNUH!"

Para maid dan yakuza yang sedang mengerubunginya pun semakin panik. Kalau mereka membiarkan Kaito pergi dari rumah, mereka takut terjadi sesuatu yang lebih parah. Apalagi anak itu sudah mengeluarkan banyak darah. Tapi kalau mereka menahannya di sini, Kaito bisa terus melukai dirinya sendiri tanpa tanggung-tanggung. Ini benar-benar gawat.

Salah seorang yakuza kemudian sudah tidak tahan lagi melihat darah Kaito yang terus bercucuran sehingga dia segera menyuruh orang-orang untuk membuka jalan agar Kaito bisa pergi ke luar. Kaito pun mulai berjalan ke teras depan dengan langkah sedikit terseok.

Untunglah jumlah yakuza di sekitar rumah tidak sebanyak dulu sebelum ayahnya menikah dengan Ling sehingga kini sudah tidak ada lagi yang menghadang Kaito di depan gerbang. Tentu. Semua orang kaget dengan tingkah Kaito yang benar-benar absurd sehingga mereka semuanya berkumpul di depan pintu masuk rumah untuk mencegah anak itu bertindak lebih jauh.

Hal mengejutkan ini terjadi setelah Kaito melakukan sesuatu di ruang kerja Bossu.

.

.

.


Flashback

Kaito membuka selimut yang telah menutupi wajahnya dari mulai langit masih berwarna hitam sampai ketika sinar matahari sudah mulai meninggi. Kedua matanya terasa gatal dan bengkak. Sialan. Sialan. Sialan. Dia terjaga semalaman hanya untuk meratapi fakta bahwa yang telah membawa ayahnya pergi adalah gadis brengsek itu; Miku Hatsune.

Kalau dia tidak pergi, si botak tidak perlu mengalami kecelakaan. Kalau dia tidak pergi, Kaito tak perlu berhadapan dengan hari ini; hari di mana jasad orang itu akan dikebumikan.

Sekarang, Kaito merasa menyesal untuk banyak hal; dia menyesal pernah mengenal makhluk brengsek bernama Miku Hatsune, menyesal telah membiarkan orang itu melangkah dalam hidupnya, dan menyesal karena dia sempat menyukai si brengsek ini. Sempat. Sekarang tidak lagi. Kaito sudah tak menyukainya lagi. Semua sudah selesai. Kini, yang tersisa dalam diri Kaito tentang gadis itu hanyalah kebencian.

Si brengsek itu membuat ayahku mati. Dia yang membunuh ayahku.

Demikianlah suara pikiran Kaito ketika dia mengingat sosok Miku Hatsune. Kaito tidak peduli lagi dengan alasan dibalik kepergiannya. Hal itu sudah tidak penting. Si brengsek itu… kalau bisa Kaito ingin melakukan sesuatu padanya yang juga akan berdampak sama dengan apa yang dia alami. Jika hanya Kaito yang merasakan ini, bukankah itu sama sekali tidak adil?

Tok! Tok! Tok!

"Kaito…"

Suara kecil Rin tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Kaito hanya menatap nanar papan tebal bercat cokelat itu.

"Aku berangkat sekarang. Kalau kau sudah merasa lebih baik, kau boleh menyusul," sahut gadis itu kemudian. Kaito hanya menunduk, menghembuskan napas pelan yang dia sendiri tak bisa dengar.

Sial. Kaito tak ingin pergi. Dia tak mau mengakuinya. Biarkan saja orang-orang itu berdatangan ke sana, tapi Kaito tidak. Sampai kapan pun. Dia tak akan membiarkan orang botak itu pergi. Akan lebih bagus kalau jadi arwah penasaran saja. Dengan begitu, Kaito mungkin akan bisa melihatnya walau hanya sekali. Gila. Memang, tapi itulah yang ia harapkan.


Keadaan yang sepi mengundang Kaito untuk keluar dari kamar. Dia perlu mencuci muka untuk menghilangkan rasa lengket dan gatal di wajah, juga mengurangi bengkak di kelopak dan kantung matanya.

Saat menatap cermin di kamar mandi, Kaito seolah melihat wajah monster laut yang sudah lama tidak mendapat sentuhan air. Menyedihkan. Apa si botak juga melihatnya sekarang? Kalau iya, dia pasti sedang terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Tanpa sadar, Kaito tersenyum samar. Aah, ini tidak bagus. Anak itu… merindukannya. Sangat.

Kaito pun cepat-cepat keluar dari kamar mandi, lalu berjalan mendekati tangga. Di bawah sepi. Suara orang sedang membersihkan piring saja tidak terdengar. Anak itu segera turun ke bawah dengan langkah sedikit berjingkat, lalu berjalan ke depan pintu ruang kerja Bossu.

Setelah sejenak menarik napas, Kaito membuka pintu dan mengintip ke dalam ruangan. Aroma khas ruang kerja Bossu langsung menyerbu hidungnya. Suasana ruangan itu masih sama; hampir semua benda berwarna cokelat. Dimulai dari meja, taplak meja, kursi kerja, dinding, gorden, rak buku, bahkan karpet kecil yang digelar di bawah meja kerja. Keramiknya berwarna krem gelap. Suram dan klasik adalah deskripsi yang pas untuk tempat ini.

Kaito pun masuk dan menutup pintu menggunakan punggung. Kedua matanya kemudian berlari ke arah meja kerja yang di sana terdapat sebuah buku tebal yang masih dalam keadaan terbuka. Kaito pun menghampiri meja dan melihat buku tersebut. Oh, itu hanya buku kerja yang tak Kaito pahami apa isinya.

Kedua mata Kaito beralih pada sebuah bingkai cantik yang memang biasa dipajang di ujung meja; bingkai berisi foto Sakura Shion. Kaito mengambil bingkai tersebut dan mengusapnya dengan ibu jari.

Mungkinkah kalian sudah bertemu di sana, Kaa-chan?

Kaito merapatkan bibirnya sambil menatap foto itu lekat-lekat. Setelah merasa lebih tenang, barulah bingkai itu dia simpan kembali ke tempat semula.

Kaito kemudian berpindah pada rak buku panjang yang berisi banyak buku tebal, menyentuhnya satu persatu menggunakan telunjuk. Ketika menemukan sesuatu yang menarik, anak itu berhenti berjalan dan melihat satu buku berupa sebuah album foto.

"Sejak kapan…?" gumam Kaito sambil berjalan ke meja kerja tanpa mengalihkan pandangan dari album foto itu. Dia lalu duduk di kursi dan menyimpan album tersebut di atas meja, mulai melihat halaman demi halaman.

Saat melihat-lihat foto, Kaito kembali merasa sedih. Jadi, orang itu menyimpan album foto yang seperti ini? Kebanyakan isinya adalah foto Kaito; dari mulai saat dia bayi, saat dia duduk di sekolah dasar, saat SMP… bahkan ada juga foto dirinya yang sekarang.

Dasar tua bangka sialan. Ternyata selama ini dia memperhatikannya–atau menyuruh orang untuk melakukannya. Tapi meskipun si botak meminta orang lain untuk melakukan semua ini, setidaknya dia yang menyuruh. Dia yang peduli.

Kaito pun mendesah sambil menyandarkan diri pada kursi, lalu menatap laci-laci kecil yang menempel di bawah meja kerja. Kini, dia merasa telah terlambat untuk 'ingin mengetahui lebih jauh' tentang sang ayah yang selama ini memberikan kasih sayangnya di balik bayangan. Heh… benar-benar sudah terlambat.

Kaito ingin tahu apa yang selalu dikerjakannya dalam ruangan ini; ingin tahu buku apa yang selalu dibacanya setiap hari, ingin tahu kapan orang itu akan tertidur kecapekan di atas meja kerja, ingin tahu apa saja yang dia simpan dan di mana dia menyimpannya.

Kaito pun menarik napas panjang sambil menutup mata, lalu menghembuskannya perlahan. Kedua mata anak itu kemudian mengunci diri pada laci-laci yang tadi ia temukan. Si botak pasti menyimpan sesuatu yang serius di laci-laci ini. Tangannya langsung bergerak sendiri untuk membuka-buka laci yang kebanyakan berisi map dan dokumen-dokumen pekerjaan. Namun ketika sampai pada laci terakhir, dahi Kaito berkerut samar melihat ada beberapa lembar potongan koran yang sudah digunting rapi di bawah sebuah map usang yang disimpan asal-asalan.

Kaito menyingkirkan map itu, lalu mengeluarkan potongan-potongan koran yang tadi dilihatnya. Dan, kedua matanya perlahan-lahan melebar begitu menangkap sesuatu pada lembaran pertama. Seakan tidak percaya pada apa yang baru saja ia lihat, anak itu membuka lembar yang lain dengan tidak sabar. Kedua mata anak itu bergerak dengan cepat ke kiri dan ke kanan mengikuti untaian kalimat yang panjang. Kaito pun terlihat semakin terkejut. Wajahnya mulai memucat. Dia kemudian menatap kosong ke depan. Jari-jarinya melemah sehingga potongan koran yang tadi dia pegang jatuh berserakan ke lantai.

"Tidak... mungkin…" gumam Kaito sambil menggeleng. Kedua bola matanya bergerak-gerak dengan resah, "Tidak mungkin…!"

Untuk memastikan sekali lagi–hanya sekali lagi–Kaito mengarahkan kedua bola matanya ke bawah dan menemukan tulisan-tulisan artikel yang masih sama dan tak berubah:

TERBUKTI, HATSUNE TERLIBAT KASUS PEMBUNUHAN TERKAIT KELUARGA SHION.

PEMBUNUHAN TERENCANA KELUARGA HATSUNE TERUNGKAP!

ANGGOTA YAKUZA HATSUNE MELAKUKAN 'SERANGAN' TERHADAP ISTRI PIMPINAN YAKUZA SHION.

Seluruh tubuh Kaito menegang. Kepalanya serasa mengeras. Darah mengalir dengan cepat.

"Sialan…" Kaito menunduk sambil mengepalkan kedua tangan sampai urat-uratnya terlihat mengencang, "SIALAAAAAN!"

Tanpa bisa mencegah diri lagi, Kaito menyingkirkan apa saja yang ada di atas meja hingga suara benda-benda berjatuhan pun ramai terdengar. Belum cukup berbuat demikian, Kaito mengangkat kursi, lalu melemparnya ke jendela sehingga mengagetkan semua orang yang mendengar suara kaca pecah.

Para yakuza dan pelayan yang berada di sekitar pun langsung berlarian ke ruang kerja. Mereka terkejut melihat Kaito mengamuk dan membuat ruang kerja ini jadi porak-poranda. Beberapa orang langsung menyerbu dan mencoba menghentikan sang tuan muda yang sedang lepas kendali. Tapi mereka tidak berhasil dan malah berakhir terluka karena Kaito menggunakan pecahan kaca sebagai senjata. Alhasil, anak itu memasang sikap bertahan dengan mengacungkan pecahan kaca yang lumayan besar itu ke arah orang-orang yang berdiri di hadapannya.

"Mundur…!" peringatnya dengan suara bergetar. Seorang maid yang melihat tangan Kaito mengeluarkan darah secara tak sadar melangkah maju.

"Ka-Kaito-sama! Tanganmu–"

"KUBILANG MUNDUR!" Kaito mengayunkan pecahan kaca itu sampai darah bercipratan dari tangannya sendiri.

"Kaito-sama…"

"DIAM! KELUAR DARI TEMPAT INI!" seru Kaito.

Orang-orang itu tak punya pilihan selain menuruti keinginan Kaito. Mereka pun mundur dengan patuh. Setelah melihat para yakuza keluar dan memberinya jalan, Kaito kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut sambil tetap bersikap waspada. Sementara para yakuza tersebut berada di depan, anak itu berjalan mundur hingga dia sampai di depan pintu; masih dengan pecahan kaca yang mengacung ke depan.

Sebelum Kaito sempat melangkahkan kaki ke keluar rumah, tiba-tiba ada seseorang yang menangkapnya dari belakang. Kaito pun memberontak. Tapi mungkin karena gerakan orang yang sedang kalap bisa terbaca dengan baik, orang itu berhasil menahan gerakannya. Yang lain pun berniat untuk segera membantu kalau mereka tidak melihat kejadian mengerikan itu; Kaito dengan gerakan cepat mengacungkan potongan kaca yang sedang dia genggam, lalu menggoreskan potongan kaca tersebut pada lengannya sehingga darah menyembur dan mengenai wajah si yakuza yang sedang mencoba menahannya.

"KAITO-SAMA…!" seru para penghuni rumah.

End of Flashback


.

.

.

Kaito berjalan terseok sambil memegangi lengan kirinya yang masih terus mengeluarkan darah. Dia mengambil jalan berbelok ke gang-gang rumah yang lain agar orang-orang brengsek itu akan susah menemukannya. Tapi, setelah beberapa lama berjalan, Kaito merasa semakin pusing dan lemas. Selain itu, dia juga menggigil karena kedinginan. Sialan. Dia tidak bisa berhenti di sini. Dia harus segera menemukan gadis keparat itu. Tapi… lututnya gemetaran. Dia mungkin sudah tidak kuat berjalan lagi.

Kaito pun bersandar pada sebuah tembok, terduduk sambil mengeluarkan napas panjang. Sial. Sial. Udara dingin membuatnya serasa seperti ditusuk-tusuk jarum. Sekarang, rasanya menarik napas saja sulit. Ah… Kaito merasa sekarat saat tiba-tiba dia mendengar suara beberapa manusia mendekat ke arahnya.

"Bawa dia kemari! Cepat!"

"A-apa yang kalian lakukan?! Sudah kubilang aku tidak bawa uang! Lepaskan!"

"Berhentilah merengek seperti anjing dan cepat berikan pada kami! Hei, coba geledah tasnya!"

"Hentikan! Hentikan!"

Kaito mendecih mendengar suara-suara ribut itu. Meskipun merasa sudah diambang kematian, tubuh anak itu bergerak dengan sendirinya; berdiri sambil memegangi tembok, lalu berjalan sedikit untuk melihat orang-orang brengsek tadi di belokan dekat sana.

"Lihat! Dia bawa banyak uang! Hahaha!" seseorang berambut pinkish jabrik berteriak senang sambil membuka-buka dompet yang dia dapat dari tas orang yang dia bully.

"Waaaa…! Kami tertolong!" seru temannya yang bertubuh sedikit gemuk.

"Tidak! Itu bukan uangku! Kembalikan!" lelaki bertubuh kurus yang menjadi objek bully pun mencoba merebut kembali dompetnya. Tapi si rambut pink menendang perut anak itu sampai dia berlutut di atas tanah, mengaduh kesakitan.

"Sebaiknya kau diam saja di sana, dasar bocah tengil!" ancamnya.

"Yuuma, kau jangan terlalu keras. Dia bisa mati, hahahaha!" tawa si gemuk.

"Oi…"

Si gemuk dan si pinkish bernama Yuuma pun menoleh begitu mendengar suara sedingin es dari arah belakang. Mereka langsung terperanjat kaget karena melihat seseorang di sana. Apalagi keadaannya bisa terbilang cukup mengerikan. Mereka melihat lengan kaos putih anak itu robek dan becek dengan cairan merah yang masih terus menetes ke ujung jarinya. Selain itu, dia tidak memakai alas kaki. Wajahnya pias dan pandangan matanya terlihat sadis dan menyeramkan.

"Ha-hantu…?!" seru si gemuk, panik.

"Tidak, tunggu!" Yuuma menahan temannya yang hendak berlari. Kedua mata anak itu menyipit memperhatikan sosok 'hantu' di depan sana. Sejurus kemudian, dia melotot.

"Kaito… Shion…?" gumamnya, tak percaya.

"Eh?! Kaito Shion?!" si gemuk menatap kaget pada Kaito yang masih bertahan pada posisinya, "Si brengsek dari Voca High itu?! Benarkah?!"

Yuuma langsung mendengus, lalu tertawa menyebalkan.

"Kupikir siapa, ternyata ada sampah yang sedang sok jago," katanya sambil berjalan mendekati Kaito, "Tak kusangka bisa melihatmu di sini, Kaito Shion."

"He-hei, tunggu! Yuuma!" seru si gemuk yang masih kelihatan ragu untuk bertindak. Tapi orang jangkung itu sudah berada di hadapan Kaito.

"Apa ini? Kau sekarat? Aku penasaran siapa yang melakukan ini padamu," katanya sambil memperhatikan Kaito dari atas sampai bawah, lalu mengulurkan tangan hendak menyentuh Kaito. Tapi sebelum Yuuma sempat menyentuhnya, Kaito menepis tangan anak itu hingga badannya oleng karena sulit menjaga keseimbangan.

"Hahahahahaha! Bahkan berdiri saja kau tidak becus! Rasakan ini!" Yuuma langsung mendorong Kaito tanpa ampun, membuat anak itu terjatuh ke tanah tanpa perlawanan. Kacamatanya terlepas dan sekarang Kaito tidak bisa melihat keadaan sekitar dengan jelas.

Yuuma menyeringai, lalu berjalan tiga langkah dan–

CREK! CREK!

–Kaito mendengar suara seseorang menginjak kaca pecah. Itu pasti kacamatanya. Kuso. Sekarang dia tidak bisa melawan. Tenaganya sudah terlalu lemah. Dia bahkan tidak bisa merasakan lengan kirinya lagi.

Orang brengsek itu… Yuuma. Kaito mengingatnya. Dia orang yang membuat Kaito memukul kepala Rin dengan balok kayu sampai si gadis masuk ke rumah sakit. Sialan. Kenapa pula mereka harus bertemu di saat seperti ini?!

"Matte, YUUMA!"

Kaito tidak tahu kenapa dia mendengar suara si gemuk yang sangat panik, tapi detik berikutnya dia mendapat rasa sakit yang luar biasa pada bagian perut. Mungkin Yuuma menginjak perutnya dengan tumit sepatu. Kaito bahkan tak sempat mengerang karena Yuuma langsung menarik kerah bajunya, lalu membuat kepala Kaito serasa meledak karena benturan keras yang berkali-kali ia terima di bagian belakang.

"Yuuma, hentikan! Kau bisa membunuhnya!" si gemuk berteriak sambil berusaha menghentikan Yuuma yang sedang mengangkat kepala Kaito, hendak menghantamkannya lagi pada aspal.

"Lepaskan aku! Dia sudah pernah hampir membunuhku! Aku belum puas!" Yuuma melawan saat si gemuk mencoba untuk membawanya pergi. Tapi ia langsung membatu ketika melihat darah segar mengucur dari belakang kepala Kaito.

"Hei, hei…" Yuuma pun mundur beberapa langkah dengan wajah pucat, "Dia kenapa…?"

"Yu-Yuuma…" si gendut juga ikut-ikutan pucat, "Lari… ayo kita lari!"

"Kuso!" Yuuma dan orang gendut itu pun langsung kabur dengan terbirit-birit.

"Tidak! Tunggu dulu! Tolong!" korban bully yang sedari tadi terkaget-kaget melihat adegan di depannya sekarang langsung menghampiri Kaito dengan panik. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap ada orang yang melihatnya.

"Bagaimana ini?!" serunya pada diri sendiri. Gawat. Sekarang, si rambut biru itu tidak bergerak lagi. Tubuhnya dingin, bibirnya membiru dan wajahnya sangat pucat. Gawat! Ini benar-benar gawat!

"Seseorang! Tolong!"

"Arah sana!"

Tiba-tiba dia mendengar teriakan seorang wanita bersamaan dengan suara derap kaki yang kian mendekat.

"Itu! Kaito-sama!"

Kaito masih sadar, tapi sudah tak bisa merasakan apa-apa. Hal terakhir yang dia lihat sebelum warna hitam meliputi dunia adalah sosok buram seseorang dengan rambut pirang sedang berlari ke arahnya.

.

.

.


.

.

.

Rin menggigiti kuku ibu jarinya sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter di rumah sakit. Tadi ketika dia dan yang lain menemukan Kaito, mereka langsung membawanya ke rumah sakit. Beruntung Sonika juga ikut sehingga dia bisa langsung melakukan pertolongan medis sebisa mungkin selama di perjalanan. Dan sekarang, Kaito sudah masuk unit gawat darurat meskipun sebelumnya para petugas UGD ricuh keluar-masuk mengambil darah untuk Kaito.

"Sialan!" umpat Akaito sambil meninju dinding. Dia terlihat masih shock dan tidak terima dengan keadaan sepupunya. Dia ingat kalau kejadian seperti ini bukan hanya terjadi sekali. Karena itulah, Akaito jadi semakin cemas dan khawatir.

"Apa yang terjadi?!" suara Kyo terdengar dari kejauhan. Akaito menoleh dan melihat anak itu sudah berada di depan pintu UGD, masih sambil mengenakan piyama rumah sakit. Luka-luka di wajahnya juga masih terlihat jelas.

"Kaito kehilangan banyak darah. Lalu, kepalanya terbentur…" Akaito menjawab dengan nada merenung. Kyo pun menatap cemas pintu UGD.

"Kaito-sama…"

"Tapi, Kyo..." Akaito menatap Kyo, "Kau tak apa-apa?"

Kyo menggeleng, "Tolong khawatirkan Kaito-sama saja. Aku tidak apa-apa."

"Ha'i, ha'i, Soujirou-san…" Kiyoteru-sensei mengangguk-angguk sebelum menutup ponselnya, lalu menatap seorang anak berambut pirang jabrik yang sedang duduk di kursi sebelah Rin.

"Sensei, kapan Otou-san akan datang?" tanya Akaito.

"Soujirou-san bilang para defektif masih belum selesai, jadi ia akan sedikit terlambat," jawab Kiyoteru-sensei. Akaito mendesah.

Iya. Tadi setelah dia mendapat kabar kalau Kaito kabur dari rumah, mereka semua langsung pulang. Sesampainya di rumah, Soujirou segera menyuruh Akaito dan para yakuza untuk pergi mencari Kaito. Rin, Sonika, dan Kiyoteru-sensei juga ikut menyebar sedangkan Soujirou dan Ling menunggu kabar di rumah. Tapi saat berhasil menemukan Kaito, anak itu sudah sangat membutuhkan pertolongan medis sehingga tanpa menunggu lama, mereka langsung melarikannya ke rumah sakit. Soujirou dan Ling yang saat itu hendak pergi ke rumah sakit tiba-tiba saja menunda keberangkatan karena kedatangan para detektif. Jadi sekarang mereka belum tiba di sini.

"Ano, namamu… Oliver-kun 'kan?"

Merasa ada yang bicara padanya, anak berambut pirang bernama Oliver itu menoleh.

"Kau boleh memanggilku Kiyoteru-sensei," Kiyoteru-sensei mengulurkan tangannya sambil tersenyum bersahabat. Oliver hanya menatap uluran tangan si sensei dengan ragu.

"Oke…" Kiyoteru-sensei pun duduk di sebelah Oliver, lalu mengamati penampilan anak itu dari atas sampai bawah.

Sepatu, celana panjang, dan tas yang dipakainya kotor semua. Jaketnya juga sedikit basah. Selain itu, mata kirinya ditutup perban. Apa yang terjadi pada anak ini? Apa dia sering berkelahi atau semacamnya? Tapi dilihat dari mana pun, Oliver begitu pendiam. Dia pasti tak pandai berkelahi.

"Dengar, Oliver-kun…" Kiyoteru-sensei menepuk punggungnya, "Kau tidak perlu takut. Kami bukan orang jahat."

Oliver tidak merespon. Dia tetap tak mau bicara. Kiyoteru-sensei pun mendesah pelan. Pasti akan memakan waktu lama untuk mengatahui apa yang sebenarnya terjadi pada Kaito.

"Baiklah, Oliver-kun," Kiyoteru-sensei akhirnya mengeluarkan sebuah kartu nama, lalu memberikannya pada Oliver, "Kalau kau sudah siap untuk bicara pada kami, kau bisa menghubungi nomor ini. Sekarang kau boleh pulang."

Oliver menatap bimbang kartu nama yang diberikan Kiyoteru-sensei sebelum kemudian menerimanya juga.

"Baiklah…" jawabnya, nyaris menggumam. Si sensei pun tersenyum, lalu membiarkan Oliver berjalan pergi meninggalkan koridor.

"Sensei yakin membiarkannya pergi begitu saja?" tanya Akaito. Yang ditanya mendecak pelan.

"Dia tidak mau bicara. Kalau aku memaksanya buka mulut, hanya buang-buang waktu," sahut si sensei.

Tak lama kemudian, pintu UGDterbuka dan terlihatlah para perawat yang membawa Kaito keluar untuk dibawa ke ruang inap. Rin dan Len langsung mengikuti kemana Kaito dibawa pergi. Sonika keluar belakangan. Wajahnya terlihat agak pucat.

"Kau baik-baik saja? Bagaimana Kaito?" tanya Kiyoteru-sensei sambil menghampiri Sonika. Dokter cantik itu menggelengkan kepalanya cepat.

"Mana Soujirou-san?" tanyanya.

"Belum datang," jawab Kiyoteru-sensei, "Ling-san juga."

Sonika langsung memijat kening dengan resah, lalu mengajak Kiyoteru-sensei untuk ikut ke ruangannya. Akaito dan Kyo yang masih di sana pun saling pandang.


"APA?!"

Sonika tahu pasti begini reaksi orang-orang saat mendengar kemungkinan yang terjadi pada pasiennya tadi. Walau masih kemungkinan, tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini akan jadi kenyataan.

Kiyoteru-sensei menggebrak meja, "Kau yakin? Tak ada kesalahan?!"

Sonika mendesah sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangan, "Aku yang paling merasa melakukan kesalahan. Tapi sudah aku cek berulang-ulang dan hasilnya sama saja…"

Kiyoteru-sensei melepas kacamatanya, lalu berjalan ke arah jendela yang terbuka, merenung atau… entahlah. Tak ada yang tahu. Sonika saja sudah terlihat tak bertenaga di kursinya.

Di sisi lain ruangan, Akaito dan Kyo yang sedang mencoba menguping sama sekali tak mendapatkan informasi apa-apa. Pintunya dikunci rapat-rapat. Mungkin mereka sengaja agar tidak ada yang menguping. Meski begitu, keduanya masih bisa melihat apa yang terjadi di dalam lewat kaca dari pintu.

"Kiyoteru-sensei terlihat marah…" gumam Kyo, "Sonika-sensei juga kelihatan lesu."

Akaito mendecak. Tidak salah lagi. Pasti terjadi sesuatu pada Kaito; sesuatu yang mungkin lebih mengejutkan dari apa yang mereka bayangkan. Apa, apa itu…?

.

.

.


.

.

.

Hari sudah senja saat Soujirou tiba di rumah sakit. Dia datang sendiri karena ada sedikit masalah dengan Ling sehingga wanita itu tidak ikut. Saat memasuki ruang inap Kaito, lampu dalam keadaan padam sehingga pencahayaan tak begitu terang. Soujirou kemudian menatap Rin yang sedang tertidur dengan posisi duduk sementara kepalanya berada di pinggiran ranjang. Di sofa dekat pintu, ada Len dan Kyo yang juga sedang tertidur pulas. Kaito sendiri sedang terlihat tenang dengan kedua mata terpejam.

Sementara itu, Kiyoteru-sensei dan Akaito sedang terlibat sebuah perbincangan serius di dekat jendela karena mereka berdua sama sekali tidak sadar dengan kedatangan Soujirou.

"Apa yang terjadi?" bisik Soujirou, mengagetkan kedua orang itu.

"Tou-san!" Akaito berseru tanpa suara.

"Kenapa kalian serius sekali?" tanya Soujirou. Akaito dan Kiyoteru-sensei saling bertatapan dengan pandangan rumit.

"Sebenarnya…"

"Ngh..."

Kiyoteru-sensei, Akaito dan Soujirou langsung menoleh pada Kaito saat mendengar anak itu mengerang halus.

"Sensei…" Akaito menatap sensei-nya. Kiyoteru-sensei mengangguk, lalu pergi ke sisi Kaito.

"Tou-san, ini hanya kemungkinan saja. Dan jujur, aku juga sangat kaget ketika Kiyoteru-sensei memberitahuku…" tutur Akaito yang membuat kerutan berlipat-lipat di dahi ayahnya, "Tapi kuharap ini tidak benar-benar terjadi."

Meski belum mengerti, Soujirou menatap Kaito yang kini terlihat sedang meringis kesakitan. Ada apa sebenarnya? Mereka berdua membuat Soujirou tidak tenang.


Kaito meringis saat kepalanya diserang rasa sakit dan pusing. Apa yang terjadi? Seingatnya, kepala itu dibentur ke aspal. Berkali-kali. Dan rasanya memang sakit sekali. Ia berdenyut-denyut. Kaito pun berniat mengangkat tangan untuk menyentuhnya, tapi lagi-lagi rasa sakit menyerbu. Sekarang tangan kirinya yang kena.

"Aku…" Kaito lalu mencoba membuka mata. Tapi, ada yang aneh. Kedua matanya sudah pasti terbuka, dia bahkan bisa merasakan kelopaknya bergerak-gerak. Lalu kenapa…

"Kaito…?" tiba-tiba dia mendengar suara Kiyoteru-sensei. Kaito pun langsung melambaikan tangan, berharap menemukan orang yang memanggilnya.

"Sensei?!" panggil Kaito sambil terus melambai. Saat mengenai tangan siapa pun yang dia anggap Kiyoteru-sensei, anak itu langsung memeganginya.

"Kenapa ini? Gelap sekali," tanyanya bingung.

Soujirou menyaksikan kejadian itu. Dan ia termangu.

Di sana, di atas ranjang, dia bisa melihat dengan jelas kedua mata Kaito yang terbuka. Mereka terbuka. Tetapi mengapa anak itu…

"Sensei!" Kaito menarik tangan yang sedang digenggamnya, "Apa sedang mati lampu? Pukul berapa sekarang?"

Soujirou masih tidak percaya dengan kenyataan mengerikan ini. Dia tak percaya kalau Kaito telah kehilangan penglihatannya. Lalu mulai sekarang, apa yang akan terjadi pada anak itu…?

"Hei…" Kaito mulai kelihatan tidak tenang, "Katakan sesuatu! Apa sekarang aku ada di rumah sakit? Di rumah? Atau di mana?"

Tak ada jawaban. Kaito pun mencoba untuk bangkit dan melawan rasa sakit di kepalanya. Ada yang salah. Ada yang salah dengan dirinya.

"Ja-jangan dulu bangun, Kaito!"

Kali ini dia mendengar suara orang asing, namun juga tak asing. Siapa itu? Dan lagi, kenapa orang itu bisa melihatnya meskipun sekarang sedang mati lampu…? Brengsek! Sebenarnya ada apa ini?!

"Sensei! Katakan sesuatu!" Kaito pun mengguncang-guncang tangan yang masih dipegangnya, "KUSO MEGANE!"

Suara Kaito yang cukup keras itu membuat Rin terbangun. Ia langsung menegakkan punggungnya, lalu menatap sekeliling.

"Ada apa?!" tanyanya.

"Rin?! Rin! Kau di mana?!" tiba-tiba Kaito berseru panik setelah mendengar suara Rin di dekatnya.

"Eh? A-aku di sini, Kaito!" Rin segera berdiri dan meraih tangan kiri Kaito, lalu menatap wajahnya yang terlihat sangat gusar dan tegang. Gadis itu mengerutkan dahi begitu merasa ada yang janggal.

"Kaito? Kau bisa melihatku? Aku di sini," Rin mendekatkan wajahnya pada Kaito.

"Tidak… Rin, kau… di mana…?" Kaito terbata. Suaranya kini terdengar lemah dan bergetar.

Rin pun mematung.


"Kenapa tak ada yang memberitahuku?"

Len menatap Rin yang sedang berjongkok sambil menangis, lalu mendesah pelan dan panjang. Gadis itu bertanya kenapa tidak ada yang memberitahunya? Dia sendiri juga ingin tahu. Tapi memangnya kalau diberitahu, mereka bisa apa?

Mungkin Sonika-sensei tidak membeberkannya agar mereka tidak terlalu mengkhawatirkan Kaito. Dan meski dibeberkan pun, semuanya tetap tidak akan berubah. Dokter itu tahu kalau Kaito akan tetap kehilangan penglihatannya. Dia tahu kalau Kaito akan tetap mengamuk, membuat para perawat berjuang mati-matian untuk membuat anak itu tenang dengan jarum suntik berisi obat tidur.

Sekarang saja Len tidak tahu apakah para perawat itu sudah berhasil menenangkan Kaito. Kyo, Akaito, dan Soujirou Shion mungkin tahu karena mereka berdua tetap berada di dalam ruangan saat Rin berlari keluar karena tidak tahan melihat keadaan Kaito. Hanya Len yang mengejar Rin.

"Kau tahu…" Len menginjak-injak tanah yang dipijaknya, "Kalau kau seperti ini, Kaito akan mengalami waktu yang lebih sulit…"

Rin menoleh ke arah Len, "Memangnya apa yang bisa kulakukan? Kau lihat sendiri aku malah berakhir menyedihkan di tempat ini."

Len menghembuskan napas, lalu ikut berjongkok di samping Rin.

"Kupikir hanya kau yang bisa melakukannya," ucap Len. Rin menatap anak itu bingung.

"Apa?"

"Membantu Kaito untuk bisa menerima keadaannya sekarang," jawab Len, "Hanya kau yang bisa."

Rin terdiam sambil menatap lurus ke depan. Dia tidak tahu. Apa yang harus dia lakukan? Entah sudah berapa kali ia mengalami situasi seperti ini; di mana Kaito berubah menjadi orang lain. Tapi yang ini nampaknya menjadi situasi paling sulit bagi Rin, dan mungkin, bagi semua orang; karenanya Rin tidak berani mengambil langkah. Gadis itu bingung harus bagaimana.

.

.

.


.

.

.

Sudah tiga hari lamanya Kaito menutup diri dari berkomunikasi dengan manusia. Ia tak pernah mau diajak bicara dan selalu meminta agar ditinggal sendirian. Selama itu, ia juga tidak mau makan sehingga daya tahan tubuhnya melemah.

Sekarang pukul 8 pagi. Akaito, Kyo, Len, Rin dan Kiyoteru-sensei sedang tidak ada di sini. Mereka ada di sekolah. Jauh dari rumah sakit.

Kaito bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah jendela, lalu menempelkan telapak tangannya untuk merasakan hawa dingin yang masih kental. Oya. Mengapa ia tahu kalau sekarang pukul 8? Itu karena…

"Apa kau mau jalan-jalan keluar, Kaito-san?"

Kaito berbalik ke arah ia mendengar suara. Yap. Seorang suster datang untuk mengecek kondisinya. Ia sempat berkata bahwa itu adalah pukul 8 pagi.

"Di luar memang dingin, tapi sepertinya tak masalah untuk sekedar jalan-jalan. Bagaimana?" lanjut si suster yang sekarang sedang merapikan barang-barang yang dia bawa untuk memeriksa Kaito.

Suster itu sama sekali tak menatap Kaito karena dia pikir, dia tak akan mendapat jawaban. Namun secara mengejutkan, anak itu tiba-tiba menjawabnya dengan sebuah 'ya' pendek.

"Eh?! Kau mau jalan-jalan keluar? Benarkah?!" suster itu pun setengah berseru saat mendengar suara Kaito.

Tak aneh, karena anak itu memang sudah tiga hari tak pernah merespon jika ada yang mengajaknya bicara. Sekarang tiba-tiba ia menjawab saat ditanya. Kalau ada yang bertanya mengapa, itu karena Kaito sudah lelah. Mungkin sudah saatnya melepaskan diri dari sesuatu yang sudah tak dapat ia tanggung lagi.

"Kalau begitu tunggu sebentar, akan kuambilkan mantel–"

"Sekarang," potong Kaito, "Aku ingin pergi sekarang."

"Sekarang? Ah, baiklah. Kalau begitu, pakai selimut saja ya."

Sang suster pun menutupi badan Kaito dengan selimut.

"Selesai! Bagaimana? Sudah hangat?" tanyanya. Kaito mengangguk.

"Baik, sekarang pegangan padaku. Aku akan menuntunmu sampai ke taman," kata suster itu sambil membuat Kaito berpegangan pada lengannya.

"Tidak," balas Kaito, "Antar aku ke atap. Aku tak ingin mendengar suara bising."

"Atap?" tanya si suster, "Mm. Tidak masalah!"

Mereka pun pergi ke atap rumah sakit dengan menggunakan lift dan sedikit naik tangga. Ternyata, udara di luar sana lebih dingin dari yang mereka kira.

"Aku kedinginan…" Kaito pun meringis sambil mengepulkan uap hangat dari mulutnya. Sang suster tertawa.

"Kalau begitu tunggu sebentar ya, akan kuambilkan mantel yang hangat untukmu!"

Kaito pun mengangguk dan suara langkah kaki menjauh terdengar ringan di telinganya.


Rin menatap bosan keluar jendela kelas. Di luar sana, salju masih terlihat menumpuk. Meskipun seharusnya itu jadi pemandangan yang indah, tapi ini benar-benar membosankan. Apalagi dia harus mendengarkan ceramah dari guru sejarah yang terus-terusan bicara sampai mulutnya terlihat berbusa. Ew.

Lebih baik memikirkan sedang apa Kaito sekarang. Yaa, mungkin masih sama seperti yang kemarin; hanya berbaring atau duduk diam di atas ranjang rumah sakit tanpa banyak bergerak atau pun bersuara. Setidaknya ini lebih menarik daripada kegiatan sekolah.

Gadis itu terus melamun hingga namanya tiba-tiba saja dipanggil lewat microphone.

"Eh? Ada apa?" tanya Rin.

"Kau dipanggil ke kantor," kata guru sejarahnya, "Sekarang juga."

Rin mengerutkan alisnya.


"Katanya ini darurat. Cepatlah bicara."

Rin menerima telpon yang diberikan seorang guru piket padanya dengan bingung. Darurat? Memangnya siapa yang menelpon?

"Moshi-moshiSensei? Eh, Kaito? Memangnya kenapa…?" Rin semakin bingung setelah mendengar suara ribut Kiyoteru-sensei di seberang telpon. Dan pada detik berikutnya, wajah gadis itu berubah pias.


Rin berlarian di lorong rumah sakit sampai ia tiba di depan ruang inap Kaito. Gadis itu belum tahu pasti apa yang terjadi, tapi dia yakin Kaito sedang berada dalam bahaya.

"Kaito!" Rin pun masuk ke dalam kamar, namun kamar itu kosong. Lalu di mana Kaito?!

"Ano…"

Rin spontan berbalik saat mendengar suara seseorang di belakangnya. Ternyata itu seorang petugas rumah sakit.

"Di mana Kaito? Kaito Shion?!" tanya Rin. Untuk sesaat, petugas rumah sakit itu terlihat enggan menjawab. Dan lagi, ekspresi wajahnya membuat Rin bertambah waswas dan cemas. Perlahan tapi pasti, Rin pun merasa jantungnya berdegup kencang tak beraturan.

"Kaito Shion…" ia menghembuskan napas panjang sambil menunduk menatap lantai, "…lompat dari atap rumah sakit."

Rin pun tercengang. Kaito… apa?!

"Bohong. Tidak mungkin…" gadis itu menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia benar-benar tak percaya. Mengapa hal seperti ini…

"Sekarang, kami juga masih belum tahu apakah para dokter akan berhasil menyelamatkannya atau tidak…" kata petugas itu dengan lesu.

Rin pun langsung berlari ke tempat di mana nyawa Kaito mungkin sedang diperjuangkan. Gadis itu terus berdoa agar Kaito bisa diselamatkan. Ia juga menjerit dalam hati agar Kami-sama mau mendengarkan.

Kaito tidak boleh menyerah! Dia harus terus melawan dan tetap bertahan…

karena ada seseorang yang benar-benar tak bisa jika harus kehilangan dia.


Chapter Twenty-one's finished.

.

.

By Itachannio

.

.

Lagi-lagi si Author apdet setelah berbulan-bulan. Hahahaha! Gomennasa~i!

Baiklah. Saya akan sedikit berbagi alasan mengapa proses pembuatan cerita ini bisa tertunda! :3

.

Pertama, karena ada comeback BTS (maap, saya seorang K-Poper dan bias saya adalah V! XD). Saya jadi terlalu bersemangat untuk naikkin jumlah views MV-nya di YT, juga ngedengerin musiknya. Hahaha! ^^'

Kedua, karena tiba-tiba saya suka sama Shawn Mendes. Saya begitu sibuk men-download lagu-lagu dari berbagai album yang doi punya, sampai-sampai playlist favorit di hape saya isinya hampir lagu doi semua. XD

Ketiga, karena saya nemu iflix dan kembarannya, netflix, sehingga saya terlalu asyik menonton TV Show Amerika. Apalagi yang judulnya The 100. Waduh, coba deh tonton. Dijamin ketagihan! Padahal ada tiga season! ^^'

Keempat, karena saya bertemu seekor siluman bernama males =3= sepertinya alasan keempat ini yang paling dominan sehingga saya butuh waktu 3 bulan lebih untuk mengapdet cerita yang hanya satu chapter ini. Waduh. Siluman Males ini memang sangat berbahaya dan nyaris selalu menempel dengan jiwa. Saya aja sampai geleng-geleng kepala ngeliatin sang siluman apet banget ama saya. Hahaha! Baiiiik…

ABAIKAN!

.

Intinya saya tidak ingin para reader kabur gara-gara saya lama update, karena ternyata alasan yang dikemukakan cukup masuk akal dan bisa diterima #WOY

.

.

Terakhir, jangan lupa tinggalkan kesan/pesan setelah baca cerita ini yak! Hehe. Juga silakan jika ada Dokter Spesialis Typoleosis yang masih berniat menyembuhkan saya. Ditunggu banget malah.

.

.

BYE BYE. See you next time~!

Next Chapter

Rin Kagamine


Reviews reply:

cilok chan

Hehehe… tebakan Cilok-chan bener banget. Tuh 'kan, si Kaito jadi nyalahin Miku atas kematian Bossu. Abisnya emang bener kok! Hahahahaha, dasar author jahat! XD

Makasih dah nungguin! Semoga suka! See you chapter depaaaan! XD

Hara

Hai, okaerinasai Hara-san! Senang bertemu lagi! XD

Bagus ya? Setelah Kaito mengalami masa-masa indah, eh tiba-tiba tangga jatuh nimpa dia. Waduh, itu emang durian runtuh beneran. Asli. Sakit. XD

Makasih atas semangat yang Hara-san berikan pada saya! Saya semangat lagi nih! Hehehehe… see you next chapter yaaa~! :D

Agatha Kim

Hehehe, justru bagus. Di saat seseorang sedang bahagia, tiba-tiba malapetaka datang dan menghancurkan kebahagiaan itu. Maksudnya, bagus kalau hal tersebut terjadi dalam cerita. Tapi seandainya ini kejadian asli, tentu saja tidak bagus. Jangan sampai deh. Kalo di drama korea boleh, di anime boleh, asal jangan di kehidupan asli kita, umat manusia. :B

Sankyuu review-nya yaa… datang lagi chapter depan! ^^

muni

Iya iya bener, itu si Kaito beneran nyalahin Miku atas kematian Bossu. Dan secara gak langsung, kematian Bossu itu memang disebabkan Miku. Coba Miku gak pergi diem-diem, semua ini gak akan terjadi. (ciyee… author bela diri biar gak dibilang jahat XD)

Heheh makasih semangatnya, sudah saya lahap dengan baik XD meskipun siluman males sedikit on my way. Tapi percayalah, saya tetap bertahan karena reviews dari muni-san dan kawan-kawan reviewer semua! Hehe makasih banyak ya~

See you in Chapter 22! :D

Fina

Panggil Ita-chan boleh, boleh. Silakan panggil saya sesuka hati! Hehehe

Maaf ya sudah mengaduk-aduk isi hatimu, tapi saya seneng banget ngeliat Kaito menderita. Hahahahahahahahaha! Dasar emang, saya jahat banget XD

Makasih lho… mau tetap setia meski saya lama apdet :'( makasih banget Fina-san! Di chapter 22, kalo bisa datang lagi ya. Sekali lagi, makasih banyak!

chindleion

Aduh aduh chindleion-san… saya terlalu seneng nih baca review-nya. Gimana iniiii…?! XD XD XD

Pokoknya terima kasih terima kasih terima kasih sudah baca lagi dari awal dan cuma menghabiskan waktu 3 hari buat nyampe ke chapter 20! Huweee… #nangisharu

Makasih looh sudah terharu dan suka dengan alur cerita-nya… juga lain-lainnya, waduh ini saya bener-bener seneng XD jadi semangat ngelanjutin! XD

Dan oya, kalau ada banyak pertanyaan yang masih belum terjawab di chapter ini, tunggu the answers di chapter-chapter berikutnya~ :3 mudah-mudahan makin suka eheheh… datang lagi ya di chapter depan~! ;)

Katekichi

Maafkan dakuuuu Katekichi-san! Saya harus menjadi sosok yang jahat demi membuat Kaito menderita, karena emang membuat tokoh utama menderita itu merupakan best part dari membuat sebuah cerita hahahaha :)
soal Ling-san…? Entahlaaah masih belum ada kabar, jadi gak tau deh dia berduka atau malah berpesta setelah kepergian Bossu. Hehe.
Oya, soal Luka… sebenernya saya berniat bikin cerita juga buat Luka, kayak cerita Gumi. Nah, jadi Luka punya cerita, tapi saya bingung nyimpennya di bagian mana, jadi belum saya masukin deh kenapa si Luka bisa kerja di vocalo resto sementara keluarganya kaya raya. Hahahaha! Writer's block tuh DX

Doakan mudah-mudahan saya segera dapet ide untuk menghubungkan cerita-cerita dari setiap karakter yang ada

Btw, almost akurat. 5-6 bulan… jadi malu. Untung cuman tiga bulan XD

See you next chapter~! ;)

Agnuslysia

Oh oh oh nooo Agnuslysia-san, you are not greedy at all. Normal-normal aja buat nge-ship pair favorit XD
Btw, sebenernya saya juga agak susah ngebuat Bossu meninggal dunia. Tapi gimana lagi, demi kengenesan cerita ini, terpaksa saya terpaksa harus 'membunuh' sosok Bossu. Huwaaaa… gomeeen Kaitooo DX

Dan semoga aja akhirnya emang happy ya, nggak sad. hehe. Again, thank you for coming. See you next time~ ^^

Fani

Halo, selamat datang! Irrasshae! Hehe…
Kalau masalah pairing utama, itu antara MikuxKaito dan MikuxRin. Selama cerita ini belum selesai, pair utamanya belum bisa dipastikan.
Datang lagi yaa~ ^^

guest

Haaai... Makasih dah nunggu~ hehehe ini udah apdet. Mudah-mudahan suka yaaa... Datang lagi yaaa~! ;)