Haruna Monogatari

Disclaimer :

Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

(And the Picture)

Warn. : OC, Alur mengikuti anime KnB, Typo(s), dll.

RnR?


Pemberitahuan : mulai chapter ini mungkin akan ada beberapa chara yang OOC, mohon di maklumi.

.

.

"Hidupmu pasti sangat berat kan, Haruna-chan?" Ai mengeluarkan sebilah pisau tanpa diketahui oleh Kunio dan Haruna. "Karna itulah, aku akan menyelesaikan masalahmu dengan… INI!"

'CRESSS'

Pisau yang dipegang Ai menancap di perut sebelah kiri Haruna. Seketika mata Haruna membulat. Ai melepas pelukannya dan terlihat dia masih memegang pisau yang menancap di perut Haruna.

"O-OJOU!" Kunio menghampiri Haruna.

"AHAHAHAHAHAHAHA! AKU BERHASIL! AKU BERHASIL MENANCAPKAN PISAU INI! AHAHAHAHAHA~!"

"HARUNAAA!" Kei, Kuroko, dan Kagami terlihat berlari menuju Haruna.

"Menjauh darinya!" Kunio mendorong Ai hingga dia terjatuh dan pisau masih menancap di perut Haruna. "Ojou! Ojou!"

"Ugh…" Haruna memegang pisau itu lalu mencabutnya sendiri. "Huaakk!" Dia memuntahkan darah dan dari luka itu, banyak darah yang keluar.

"HARUNA!" Kei menahan tubuh Haruna saat dia hendak terjatuh.

"APA YANG KAU LAKUKAN DASAR WANITA GILA!" Bentak Kagami.

"Kau…!" Kuroko mendekati Ai lalu memukulnya dengan keras hingga Ai kehilangan kesadaran.

"Haruna/Haruna-chan!" Kagami dan Kuroko menghampiri Haruna yang dipangku oleh Kei.

"Darahnya keluar banyak sekali. Bagaimana ini?" Gumam Kei.

"Onii-chan… apakah aku akan… mati?" Suara Haruna lirih dan lemah.

"Apa yang kau katakan?! Kau akan baik-baik saja!" Jawab Kei. "Kunio-san, ambulance…"

"Hai! Saya sudah memanggilnya." Jawab Kunio.

"HARUNAA!" Terdengar suara Haruko. Dia berlari menuju Haruna. "Eh? Apa yang… luka… darah… tidak! TIDDAAAAKKKKK!" Haruko berteriak lalu tubuhnya lemas.

"Haruko-chan!" Kuroko membantu Haruko duduk.

"Haruko… Gomen…" Haruna menangis.

"Tidak… aku tidak pernah benar-benar mengatakan hal itu… aku sangat menyayangimu Haruna! Aku tidak pernah membencimu! Bertahanlah! Kau harus bertahan!"

"A-aku… tidak ingin… mati…"

"Berhentilah berbicara seperti itu, Haruna! Polisi dan ambulance sebentar lagi akan datang. Bertahanlah!"

"Sakit… sakit Onii-chan…" Haruna memegangi lukanya yang masih mengeluarkan darah dan dia kembali memuntahkan darah.

"Bertahanlah Haruna! Kau harus bisa bertahan!" Kagami terlihat sangat khawatir.

"Darahnya terus keluar. Jika ambulance tidak segera datang maka…" Kuroko memegang tangan Haruna.

"Dia akan baik-baik saja!" Bentak Kei yang sudah hampir menangis. "Haruna, dengarkan aku. Kau harus bertahan, kau ingin bertemu dengan Seijuro kan? Kau ingin dia kembali kan? Kau tidak boleh menyerah!"

"Sei…juro?"

"Ya, Kau ingin dia kembali kan? Karna itu kau harus bisa bertahan!" Air mata Kei pun sudah mengalir.

"A-apa yang… Onii-chan katakan?" Suara Haruna semakin melemah.

"Demi kami dan Seijuro, kau tidak boleh pergi!"

"Seijuro…"

'Gelap… aku tidak bisa melihat… apa yang… terjadi? Kenapa…'

Haruna pun perlahan menutup matanya. Tapi samar-samar dia masih mendengar suara orang-orang yang ada di sekitarnya.

"Haruna… Tidak! Buka matamu Haruna! TIDAK!" Haruko menangis di samping Haruna yang sudah memejamkan matanya.

'Suara Haruko? Apa yang dia katakan? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Ada apa? Kenapa…'

Lalu suara yang tadinya samar-samar pun sekarang menghilang. Haruna sudah benar-benar tidak sadarkan diri.

"Dia masih bernafas, tapi tubuhnya sangat lemah. Detak jantungnya juga tidak teratur." Kei memeriksa keadaan Haruna. "Aku mohon, bertahanlah Haruna!"

"Bahkan dia masih bisa menyebut nama Akashi sebelum kesadarannya hilang." Gumam Kagami.

"Hanya perasaanku atau memang suhu tubuh Haruna-chan semakin menurun?" Kuroko memegang kening Haruna.

"Kau benar!" Kei memeriksa suhu tubuh Haruna. "Kenapa ambulance lama sekali?" Kei mulai panik.

"Di-dia pasti kedinginan!" Haruko melepas jaketnya.

"Tidak, Haruko-sama!" Lalu Kunio melepas jasnya. "Biarkan Ojou memakai ini." Lalu Kunio menutupi tubuh Haruna dengan jas miliknya.

Lalu tidak lama setelah itu, ambulance dan polisi datang. Petugas ambulance segera menangani Haruna dan memberikan pertolongan pertama, sedangkan polisi bersama Kunio membawa Ai. Kuroko, Kagami, Kei, dan Haruko segera ke rumah sakit terdekat.

Sesampainya di rumah sakit, Haruna segera ditangani. Kuroko, Kagami, Haruko, dan Kei menunggu di ruang tunggu dengan perasaan cemas.

"Haruna… dia akan baik-baik saja kan? Tetsuya-kun, katakan kalau Haruna akan baik-baik saja…" Haruko menangis di pelukan Kuroko.

"Dia pasti akan baik-baik saja. Haruna-chan adalah gadis yang kuat." Kuroko mendekap Haruko dan mengusap kepalanya, berusaha menenengkan Haruko.

Lalu terlihat Hiroshi datang. Dia langsung menghampiri Kei dan menanyakan keadaan Haruna.

"Kei, bagaimana keadaan Haruna?" Tanya Hiroshi.

"Kami masih belum tau. Tapi saat aku memangkunya tadi… nafasnya lemah, tubuhnya sangat lemah, detak jantungnya juga tidak beraturan. Darahnya keluar sangat banyak dan dia juga memuntahkan darah. Dia bilang lukanya terasa sangat sakit dan dia bilang… dia tidak ingin mati." Jawaban Kei membuat hati Hiroshi teriris.

"Ini semua karna Otou-san!" Haruko berdiri dan menghampiri Hiroshi. "Otou-san tidak punya perasaan! Otou-san tidak pernah menyayangi kami! Yang Otou-san pikirkan hanyalah penerus perusahaan! Otou-san menganggap kami boneka! Dan sekarang nyawa Haruna terancam juga karna Otou-san! Okaa-san baru saja meniggal dan sekarang Haruna terluka parah! Apa ini yang Otou-san harapkan?! Jika Haruna tidak bisa selamat, seumur hidup aku tidak akan pernah menganggapmu Ayahku! Seumur hidupku, aku akan menganggapmu sebagai pembunuh! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Haruko menunjuk wajah Hiroshi dengan tidak sopan.

"Te-tenanglah, Haruko-chan. Kau tidak boleh berbicara seperti itu pada Ayahmu." Kuroko berusaha menenangkan Haruko. Haruko memang gadis yang lembut. Dia sangat baik, manis, dan penurut. Tapi Haruko bisa menjadi orang yang menyeramkan dan berbahaya jika dia sudah tidak bisa menahan amarahnya.

Sedangkan Hiroshi hanya bisa terdiam melihat amarah Haruko. Jelas saja Hiroshi hanya diam. Dia sadar betul kalau ini adalah kesalahannya. Jika saja dia tidak bertengkar dengan Haruna, jika saja dia mengizinkan Haruna bermain basket bersama teman-temannya, jika saja dia tidak memaksakan kehendaknya pada Haruna, jika saja dia tidak menjadikan Haruna bonekanya, jika saja dia bisa mengerti bagaimana perasaan Haruna, jika saja dia bisa mencurahkan sedikit kasih sayangnya pada Haruna, jika saja… jika saja… jika saja… hanya kata itu yang ada di pikiran Hiroshi. Hanya ada penyesalan di hati Hiroshi.

Istrinya sudah tiada. Dia juga merasa sedih dan terpukul. Tapi saat itu, dia hanya memikirkan perusahaannya yang sedang berada di atas angin. Perusahaan yang hampir setara dengan perusahaan milik keluarga Akashi yang juga akan berkerja sama dengan perusahaannya.

Dia tidak sempat memikirkan perasaan anak-anaknya. Dan saat ini, dia baru menyadari kalau anak-anaknya haus akan kasih sayangnya. Setelah kecelakaan yang menimpa istri dan anak bungsunya itu, dia dan keluarganya sudah kehilangan belaian kasih sayang seorang Yorisato Reiko. Wanita yang lembut tapi pemberani dan juga cantik. Dia begitu menyayangi keluarganya dan hanya dia yang memberikan begitu banyak kasih sayang bagi keluarganya.

Kecelakaan itu terjadi saat Reiko dan Haruko hendak pergi untuk mengikuti kontes piano. Saat itu mereka hampir terlambat dan tiba-tiba saja mobil mereka hilang kendali saat melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Reiko melindungi Haruko sehingga luka yang dialami Haruko tidak separah Reiko. Tapi, luka yang dialami Reiko sangat parah dan dokter hampir menyerah menangani Reiko.

Saat itulah Haruna mulai hancur karna dia begitu mencintai Ibunya dan Haruko. Dia kehilangan semangat saat melihat Ibu dan adiknya terbaring dengan berbagai alat yang tidak dia mengerti yang ada di tubuh Ibu dan adiknya.

Dan sekarang, Haruna yang terbaring di rumah sakit dengan luka yang cukup parah. Hiroshi hanya bisa diam. Hatinya benar-benar sudah hancur melihat Haruna terluka, Kei yang terus bergumam menyebut nama Haruna, dan Haruko yang terus menangis di pelukan Kuroko. Pikirannya kosong. Dia takut kalau dia harus kehilangan orang yang dia sayangi sekali lagi.

"Sensei!" Kei menghampiri dokter yang keluar dari ruangan tempat Haruna ditangani.

"Luka Haruna cukup dalam dan juga lebih parah dari yang kami duga karna dia mencabut pisaunya dengan paksa. Dia juga kehilangan banyak darah. Apalagi saat kejadian itu, tubuhnya sudah sangat lemah. Kami sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menolongnya tapi…"

"Tapi? Tapi apa?"

"Saat ini yang bisa kami lakukan hanya menutup lukanya dan melakukan transfusi darah. Kami masih belum tau apakah dia akan sadar secepatnya atau tidak." Setelah itu dokter meninggalkan tempat itu.

"Sensei…" Panggil Hiroshi dan dokter itu berhenti. "Golongan darah Haruna sama dengan milikku. Ambil saja darahku."

"Apa anda yakin?"

"Ya. Dia adalah putriku. Aku akan lakukan apapun."

"Baiklah. Tolong ikut saya untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu."

"Baiklah." Hiroshi pun mengikut dokter itu.

Setelah itu, pintu terbuka lebar dan terlihat para perawat keluar dengan Haruna yang terbaring di ranjang dengan selang infus dan oksigen. Dia juga masih menutup matanya.

"Haruna…!" Haruko menghampirinya. Dia mendekat ke arah Haruna yang terbaring. "O-Onee-chan…"

"Maaf, dia harus segera di pindahkan ke ruangan khusus. Permisi." Ucap salah satu perawat. Lalu mereka memindahkan Haruna ke ruang perawatan khusus dengan peralatan yang lebih lengkap.

"Kagami-kun, Tetsuya-kun… sebaiknya kalian pulang dulu." Ucap Kei.

"Bagaimana bisa kami pulang sedangkan Haruna-"

"Ini demi Haruna, Kagami-kun. Besok kalian harus bertanding lagi kan? Kalian pasti butuh istirahat. Kalian harus memenangkan pertandingan besok demi Haruna."

"Kami akan pulang setelah memastikan Haruna-chan baik-baik saja." Ucap Kuroko.

"Baiklah."

Setelah Haruna di pindahkan ke ruangan khusus dan berbagai alat terpasang di tubuh Haruna, dan setelah dia menerima donor darah dari Ayahnya, Dokter mengatakan kalau sementara ini keadaan Haruna sudah membaik.

"Karna Haruna sudah sedikit membaik, kami pamit pulang." Ucap Kagami.

"Aku antar kalian sampai depan." Haruko berdiri.

"Tidak perlu, Haruko-chan. Kau istira-" Kalimat Kuroko terpotong setelah melihat ekspresi Haruko yang terlihat tertekan. "Baiklah Haruko-chan." Mereka pun berjalan keluar rumah sakit.

"Ano… Tetsuya-kun, Kagami-kun."

"Hm?"

"Ada apa?"

"Tolong jangan katakan hal ini pada teman-teman di Seirin."

"Hah?! Apa maksudmu?" Tanya Kagami.

"Tolong rahasiakan soal Haruna dari Seirin. Aku tidak ingin semua orang khawatir dan mengganggu pikiran mereka. Aku mohon."

"Baiklah, Haruko-chan. Tapi kami tidak bisa merahasiakan hal ini terlalu lama."

"Aku tau, Tetsuya-kun. Aku yang akan mengatakan hal ini pada semuanya tapi tidak untuk sekarang."

Lalu mereka pun sampai di jalan raya depan rumah sakit. Cukup sepi karna memang sudah malam.

"Kalau begitu kami pulang dulu, Haruko-chan." Langkah Kuroko terhenti saat melihat Haruko menangis. "Haruko-chan?"

"T-Tetsuya-kun… aku takut…" Air mata Haruko sudah membasahi pipinya dan dia benar-benar terlihat takut. Kuroko yang melihatnya pun langsung memeluk dan menenangkannya.

"Tidak akan terjadi apa-apa. Tenanglah, Haruko-chan. Haruna-chan pasti akan baik-baik saja."

"Aku tidak ingin kehilangan dia, aku tidak ingin dia pergi…"

"Dengarkan aku, Haruko-chan." Kuroko memegang pipi Haruko dengan kedua tangannya. "Dia tidak akan kemana-mana. Dia akan tetap bersama kita. Bukankah Sensei bilang Haruna-chan sudah tidak apa-apa? Dia pasti akan baik-baik saja."

"Tetsuya-kun…"

"Jangan menangis. Haruna-chan pasti akan sedih jika dia tau kau sedang menangis." Kuroko menghapus air mata Haruko. "Kau sudah tenang?"

"…" Haruko mengangguk perlahan tapi dia masih menangis.

"Ne.. jangan menangis. Bagaimana aku bisa pulang kalau melihatmu menangis seperti ini…"

"Aku sudah tidak menangis." Haruko menghapus air matanya lalu tersenyum manis. "Arigatou, Tetsuya-kun."

"Kau tidak perlu berterima kasih."

"Aku menyayangimu." Haruko berbisik pada Kuroko lalu mencium pipinya dan membuat wajah Kuroko memerah.

"Kau ini." Kuroko mengusap kepala Haruko. "Aku juga menyayangimu." Dia mengecup kening Haruko lalu pergi bersama Kagami.

.

"Menyebalkan sekali kau ini." Kagami sedikit kesal.

"Kenapa?" Tanya Kuroko datar.

"Kau malah bermesra-mesraan dengan pacarmu di depan orang yang baru saja ditolak."

"Sumimasen."

"Tapi kalian benar-benar serasi. Awalnya aku pikir kalian pasangan yang aneh karna Haruko terlalu sempurna untukmu tapi kau terlihat dewasa saat bersamanya. Kau selalu menenangkannya dan mencurahkan kasih sayangmu untuknya." Mendengar itu, Kuroko langsung berhenti. "Hm? Ada apa?"

"Apakah Kagami-kun iri denganku?" Tanya Kuroko datar sambil menatap Kagami.

"SHINU!" Kagami-pun marah.

"Tapi, meski Sensei bilang kalau Haruna-chan baik-baik saja, aku tetap merasa khawatir."

"Kau benar. Bahkan Haruko sampai seperti itu."

"Semoga saja dia baik-baik saja."

"Na Kuroko. Jika Akashi menemui Haruna, apakah Haruna bisa membaik?"

"Akashi-kun ya? Aku rasa tidak sesimpel itu. Mengingat bagaimana respon Haruna-chan setiap bertemu dengan Akashi-kun, aku rasa itu tidak akan membantu. Kenapa Kagami-kun memikirkan hal itu?"

"Apa kau ingat sebelum Haruna pingsan? Tadi dia memanggil 'Seijuro' sebelum menutup matanya."

"Meski begitu, Akashi-kun yang sekarang tidak bisa membantu Haruna-chan. Mungkin saja keadaan Haruna-chan akan semakin memburuk."

"Benar juga."

.

"Haruna akan baik-baik saja, Haruna akan baik-baik saja…" Haruko bergumam di tengah-tengah tidurnya.

"Are? Ini… dimana? Ah.. di rumah ya? Bukannya aku ada di rumah sakit?"

Haruko berjalan tanpa sadar. Kakinya bergerak dengan sendirinya menuju ruang altar Ibunya. Terdapat karangan bunga yang besar dan foto Ibunya.

"Are? Haruna? Bukankah Haruna terluka dan berada di rumah sakit? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kejadian itu hanya mimpi?"

Haruko hendak mendekati Haruna tapi dia tidak bisa mencapainya.

"Heh? Ada apa ini? Aku sudah berjalan jauh, dan dia berada tepat di depanku, kenapa aku tidak bisa meraihnya? Haruna… Haruna!"

Saat Haruna menoleh, wajahnya penuh dengan rasa sakit. Dia tidak tersenyum dan tidak bersuara. Air matanya hanya mengalir dengan sorot mata yang mengatakan 'Aku tidak ingin pergi' dan perlahan Haruna menghilang ditelan kegelapan.

"Tunggu! Tunggu Haruna! jangan pergi! HARUNAAA!"

"HARUNA!" Haruko terengah-engah dan terbangun dari tidurnya. Dia menoleh ke jam dinding "Jam 3 pagi ya?" Lalu dia menoleh ke ranjang Haruna. Haruna masih terbaring di sana dan masih tidak sadarkan diri. Haruko pun turun dari sofa dan menghampiri Haruna.

'Kau tidak akan pergi kan? Kau tidak akan meninggalkanku kan?'

Haruko duduk di kursi dekat ranjang Haruna. Dia memegang tangan Haruna lalu dia mengusap pipi Haruna. "Dingin… kau pasti kedinginan ya?" Haruko menarik selimut dan menyelimuti tubuh Haruna. Dia mengabaikan berbagai kan kabel-kabel dan selang-selang kecil yang berada di tubuh Haruna.

"Kau akan berjuang dan terus hidup kan, Onee-chan?" Haruko tersenyum pahit. "Onee-chan ya? Sejak dulu kau selalu melarangku memanggilmu seperti itu dan saat aku tanya kenapa kau selalu saja berkata kalau kau tidak ingin terlihat tua karna dipanggil 'Onee-chan' oleh adikmu yang hanya lima menit lebih muda darimu." Haruko mulai menangis.

"Tapi selama kau masih tertidur dan terluka, aku akan terus memanggilmu 'Onee-chan', aku akan terus memanggilmu seperti itu. Kau pasti kesal kan? Jika kau kesal kau harus membuka matamu dan kau harus kembali tersenyum bersama semuanya." Haruko mengamati monitor detak jantung Haruna yang tidak stabil.

"Apakah Onee-chan khawatir dengan pertandingan? Tenang saja. Aku akan menggantikanmu. Aku akan menjadi Onee-chan dan menjadi manager Seirin. Aku tidak mengerti basket, jadi mungkin aku akan memberikan saran yang konyol untuk mereka. Tapi aku akan berjuang agar bisa membantu mereka. Aku janji aku akan mendukung mereka. Kau tidak perlu khawatir. Adikmu ini pasti bisa membantu Seirin memenangkan pertandingan hingga ke final nanti dan adikmu ini akan membawa orang yang kau cintai kembali padamu." Haruko menghapus air matanya dan tersenyum.

.

.

Keesokan harinya, setelah Kagami dan Kuroko selesai membeli sepatu baru yang memakan waktu cukup lama, Haruko bergegas menuju gymnasium. Ruangan yang dia tuju saat itu adalah ruang locker SMA Seirin.

'TOK TOK'

"Sumimasen…" Haruko pun membuka pintu perlahan.

"Are?"

"Kau…"

"Haruko-chan? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Kuroko.

"Tolong izinkan aku menggantikan Onee-chan hari ini." Ucap Haruko.

"HAAAH?!"

"Apa maksudmu?"

"Menggantikan Haruna?"

"Kau mengerti tentang basket?"

"Aku memang tidak begitu mengerti mengenai basket, tapi ini adalah permintaan Onee-chan. Aku sudah berjanji padanya."

"Permintaan Haruna-chan? Benar juga! Dia sedang sakit kan?" Tanya Riko.

"Un!" Haruko mengangguk.

"Baiklah. Bantulah kami, Haruko-chan." Riko tersenyum.

"Arigatou, Riko-san." Haruko tersenyum lebar.

"Tapi… apa tidak apa-apa kau keluar rumah? Terakhir kali kau keluar rumah kau pingsan karna kelelahan." Kuroko memegang pundak Haruko.

"Aku baik-baik saja, Tetsuya-kun. Tubuhku sudah tidak selemah dulu." Haruko tersenyum.

"Baiklah kalau begitu." Kuroko tersenyum dan mengusap kepala Haruko.

"Ehem! Ini bukan waktunya untuk berpacaran." Riko melipat tangan di depan dada.

"Ma-maaf…" Haruko menunduk dengan wajah yang memerah.

"Baiklah! Kita akan bahas strategi kita. Kalian pasti sudah tau kan perfect copy Kise-kun adalah ancaman terbesar kita. Perfect copy hanya bisa berlangsung selama lima menit dan perkiraan, Kise-kun akan menyimpannya untuk menit-menit terakhir. Karna itu, kalian harus mencetak angka sebanyak-banyaknya sebelum Kise-kun menggunakannya. Jika kita bisa memberi jarak score sejauh mungkin, bahkan dengan perfect copy akan mustahil untuk mengejar ketertinggalan!" Ucap Riko.

"Perfect copy?" Haruko sedikit bingung.

"Benar juga! Kau belum tau ya? Perfect copy itu-" Penjelasan Kagami terhenti.

"Kemampuan Kise-kun adalah dia bisa meniru gerakan yang dia lihat dengan sempurna. Jika ada istilah perfect copy itu berarti…" Haruko memasang pose berfikir. "Kise-kun bisa meniru semua gerakan Kiseki no Sedai dengan sempurna!"

"Eh?"

"Da-dari mana kau tau?" Tanya Kagami.

"Aku hanya menghubungkannya. Kemampuan Kise-kun yang bisa meniru teknik orang lain dan kalian menyebut 'Perfect copy'. Pemain yang paling kuat saat ini adalah Kiseki no Sedai dan Kise-kun termasuk di dalamnya, itu artinya Kise-kun adalah orang yang paling sering melihat kemampuan Kiseki no Sedai. Tidak mustahil jika Kise-kun bisa meniru gerakan mereka. Meski begitu, Kiseki no Sedai bukanlah pemain yang tekniknya bisa ditiru dengan mudah, karna itu perfect copy tidak bisa bertahan lama." Jawab Haruko.

"Sugoi!"

"Kau memang adiknya Haruna!"

"Kau pasti bisa membantu kami!"

"Tapi… aku tidak terlalu mengerti basket, jadi jika kalian merasa saranku mustahil untuk dilakukan, kalian bisa menolaknya." Haruko tersenyum. Lalu terdengar sorakan penonton dari lapangan.

"Sepertinya sudah di mulai."

"Yah! Rakuzan melawan Shutoku."

"Seijuro-kun melawan Midorima-kun." Gumam Haruko. "Ano… apa aku boleh menonton pertandingan Rakuzan dan Shutoku?"

"Untuk apa kau menontonnya?" Tanya Hyuga.

"Untuk Onee-chan." Jawab Haruko.

"Kita akan menontonnya setelah kita pemanasan. Sebelum itu, kita akan tetap di sini." Ucap Hyuga. Haruko pun duduk di salah satu bench.

"Ano… Haruko?" Kagami dan Kuroko berdiri di depan Haruko.

"Hm?" Haruko mendongak.

"Bagaimana keadaan Haruna?" Tanya Kagami lirih dan setelah itu Haruko hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya.

"Apa… maksudmu?" Tanya Kuroko.

"Dia sudah lebih baik dari kemarin karna sudah menerima darah dari Otou-san tapi…"

"Tapi?"

"Semalam saat aku tertidur, Onee-chan datang di mimpiku. Aku ingat betul mimpi itu! Dia… dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya menoleh saat aku memanggilnya, dia tidak menjawab semua perkataanku. Dia hanya menangis dan saat aku melihat matanya, aku bisa merasakan apa yang dia rasakan." Haruko mendekap dirinya sendiri dan tubuhnya sedikit bergetar. "Rasanya begitu menyedihkan. Dia tidak ingin meninggalkan siapapun tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Rasa sakitnya benar-benar sangat dalam…" Haruko pun menangis dan mencuri perhatian semua yang ada di ruang locker.

"Ada apa?"

"Kenapa dia menangis?"

"Haruko-chan…" Kuroko pun duduk dan mendekapnya.

"Kowai… Kowai yo… aku tidak ingin dia pergi..." Bisik Haruko.

"Ssssshhh… dia tidak akan pergi kemanapun. Dia akan tetap bersama kita!" Kuroko menelungkupkan tangannya di pipi Haruko dan menghapus air matanya. "Dia tidak akan pergi. Dia adalah gadis yang kuat!"

"Apa yang terjadi? Siapa yang akan pergi?" Tanya Hyuga.

"Untuk sekarang, aku tidak bisa memberitahu kalian semua. Maafkan aku. Jika kalian memenangkan Winter Cup ini, aku akan memberitahu kalian apa yang terjadi. Aku sudah berjanji pada Onee-chan akan membantu kalian jadi kalian harus berjuang… demi Onee-chan juga." Haruko tersenyum palsu.

"Kalau itu sudah jelas! Tanpa kau mengatakannya, kami pasti akan berjuang!" Ucap Kiyoshi.

"Ne… Haruko-chan. Aku penasaran sejak dulu. Sebenarnya apa yang terjadi antara Haruna-chan dan Akashi-kun? Haruna-chan bilang dia mencintai Akashi-kun, tapi kenapa setiap kali bertemu dengan Akashi-kun Haruna-chan malah bersikap seolah dia membencinya?" Tanya Riko.

"Soal itu…" Haruko sedikit berfikir.

'Apa aku harus menceritakannya pada mereka? Tapi bagaimana jika Onee-chan marah padaku? Tapi mereka ingin mengetahuinya. Baiklah, akan aku ceritakan semuanya. Lagi pula, tidak ada salahnya jika mereka mengetahui masa lalunya dan Seijuro-kun.'

"Akan aku ceritakan semuanya. Tentang Yorisato Haruna dan Akashi Seijuro." Jawab Haruko dengan mantap.

.

.

.

TBC


Yosh! akhirnya bisa update juga :D

-san : sudah update :D

ShioriAn-san : Ada kok, tapi mungkin bakal Hana singkat XD Tunggu ya :D

See you next chapter :)