※Shery Kim※
Title : Catch Me. If You Wanna.
M. Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Friend Ship, Family, Comedy, etc...
Rate : T ~ M
WARNING.
.
.
.
Lirikan sadis Changmin sekali lagi membuat Jaejoong mendesah dramatis. Pemuda itu merajuk sejak siang tadi siang hanya karena masalah sepele yang tidak seharusnya di permasalahkan.
"Ya ya kau memang lupa padaku. Pergilah kencan dengan Paman tua itu dan jangan pernah menemuiku lagi." Menarik tas punggungnya kasar, Changmin meninggalkan Jaejoong di belakang.
"Haruskah kau merajuk seperti gadis?"
Changmin berputar cepat hanya untuk mendelik kepada Jaejoong. "Gadis?" pekiknya.
"Ya!" Jaejoong membentak. "Kau seperti gadis yang sedang merajuk."
Mengedikkan bahu Changmin berkata. "Terserah kau saja. Toh kita berdua tahu siapa di antara kita berdua yang sering kali bersikap seperti gadis manja." Pemuda itu kembali berputar dan melangkah cepat menuju gerbang di mana mobil beserta sopir sudah menunggu.
"Aku tidak seperti gadis!" seru Jaejoong. Pemuda itu berlari mengejar Changmin yang sudah bersiap masuk ke mobil. "Tunggu." ia menahan lengan Changmin.
"Apa lagi?"
"Rencana ini akan lucu jika kau ikut serta. Siwon benar, Yunho tidak akan percaya jika aku dalam bahaya jika kau bersama mereka menyanderaku."
"Tetap saja aku tidak ikut serta dalam rencana kalian. Bahkan saat aku menawarkan diri sebagai sandera kedua, kalian pun menolak."
"Tidak akan romantis jika kau ikut serta jadi sandera." jelas Jaejoong gemas. Kedua kaki pemuda itu menghentak kesal.
Keduanya bertatapan sama keras kepalanya. Baik Changmim maupun Jaejoong tidak ada yang mau mengalah meski hanya untuk sesaat
Siang tadi mereka sudah merencanakan penculikan pura pura terhadap Jaejoong yang di dalangi Siwon cs. "Untuk menguji berapa besar Yunho mencintaimu. Kita akan meminta tebusan yang sangat besar nantinya." Itulah yang Siwon katakan
"Bagaimana jika ada polisi?" protes Jaejoong.
"Kita akan memintanya datang sendiri. Tanpa polisi atau kau akan kami sakiti."
Jaejoong merinding ngeri sebelumnya. Sampai mereka meyakinkan Jaejoong bahwa tidak ada yang akan terluka dengan jaminan teman teman mereka lah yang menculik Jaejoong.
"Jongie tidak mau penculik Jongie jelek," tawar Jaejoong. "Harus tampan dan tidak boleh lebih pendek dari Jongie. Tidak lucu kan kalau Jongie kalah oleh penculik cebol. Mau di taruh mana wajah Jongie yang tampan ini nantinya."
"Demi Tuhan." saat itulah Changmin menggeram marah. "Kau adalah calon korban yang paling menyebalkan. Jangankan pria tampan, gelandangan sekalipun tidak sudi menculik pemuda cerewet sepertimu."
"Jongie juga tidak mau di culik gelandangan. Mereka bau dan jorok," ujar Jaejoong polos tanpa menyadari kemarahan Changmin. Dengan ngeri pemuda manis itu menambahkan. "Bagaimana jika Jongie di sekap di rumahnya yang kotor dan banyak kecoa juga tikus." detik itu juga Changmin menempeleng kepala Jaejoong penuh semangat. Pemuda itu tidak menyesal setelahnya mendengar pekikan kesakitan Jaejoong yang memang seperti gadis.
Akhirnya Changmin mendesah kalah, ia memalingkan muka. Tidak ada gunanya ikut serta dalam rencana mereka jika Jaejoomg sensiei tidak ingin ia ikut.
Baiklah. Terserah kucing nakal ini saja. "Bersenang senanglah. Aku tidak ingin menganggu rencana romantis kalian." Tanpa menunggu, Changmin menghempas lengannya untuk lepas dari Jaejoong lalu menutup pintu mobil. Meninggalkan Jaejoong berdiri sendirian di sana.
"Dia marah," gumamnya melihat mobil Changmin melaju pergi. "Bagaimana Jongie akan menghiburnya." ia bertanya pada diri sendiri.
Keduanya belum pernah bertengkar seperti ini sebelumnya. Changmin juga tidak pernah pergi begitu saja bahkan sebelum pertengkatan mereka selesai. Dan sekarang Jaejoong harus mencari cara untuk membuat temanya itu tidak marah atau Jaejoong akan kehilangan sahabat baiknya untuk beberapa hari.
Suara klakson terdengar dari luar gerbang. Jaejoong menatap mobil putih itu dengan kening berkerut karena ia mengenali mobil itu sebagai milik ibu tirinya.
Kaca mobil di turunkan dan Jaejoong terkejut mendapati wanita cantik itu di balik kemudi. "Sudah menunggu lama?" Song Ji Hyo bertanya dengan senyum di wajahnya yang cantik.
"Kenapa Mama disini?" Jaejoong bertanya terkejut.
"Menjemputmu tentu saja." Wanita itu tersenyum lebar sebelum membuka pintu sisi lain dari dalam. "Masuklah."
Tawa Jaejoong mengiringi pemuda itu masuk ke mobil. Ji Hyo menarik sabuk pengaman untuk putranya tanpa perlu di suruh. "Mama ingin menjemputmu sudah sejak lama." Ji Hyo melajukan mobil sesaat setelah menyadari reporter mengawasi tidak jauh dari sana.
Jaejoong tidak menyadari itu karena pemuda itu terlalu senang melihat ibu tiri kesayangan menjemputnya. Ya Tuhan, ia tidak pernah membayangkan ini sebelumnya.
"Mau ikut denganku ke suatu tempat?" Ji Hyo menatap putranya sekilas sebelum kembali memperhatikan jalan di depan.
"Ke manapun asal bersama Mama." ujar Jaejoong penuh semangat. Ia mengeluarkan ponsel untuk memberitahu Siwon bahwa ia ada urusan sebentar sebelum siap untuk di culik.
Jaejoong terkikik geli di tempat duduknya. Mana ada calon sandera yang menunggu untuk di culik selain dirinya. Yunho akan marah, mungkin. Tapi Jaejoong juga penasaran, relakah Yunho menebusnya dengan harga tinggi untuk menyelamatkan dirinya. Jika tidak. Aku tidak mau menikah dengannya. Putus Jaejoong.
。。* 。。
Jaejoong menyesali ke-ikut sertaannya ke tempat ini. Seharusnya ia bertanya kemana dan untuk apa ibu tirinya mengajak Jaejoong. Oh sialnya ia telat menyadari kemana tujuan mereka. Dan terlambat untuk menolak ketika mobil mereka masuk melewati gerbang rumas sakit.
Sejak mereka masuk ke rumah sakit, entah mengapa Jaejoong sudah memiliki firasat bahwa mereka akan menemui seseorang yang tidak ingin di lihatnya. Benar saja, di dalam sana, Kakek Song berbaring tak sadarkan diri sejak pagi tadi. Itulah yang di katakan Mama tadi.
Ibunya tidak memberitahu Jaejoong kenapa kakek bisa sampai di rawat, namun Jaejoong tidak bodoh untuk tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana dan alasan kakek Song berbaring tak sadarkan diri.
Berita yang tersebar pagi ini pasti membuat kakek Song marah dan mungkin penyakit jantungnya kumat atau darah tingginya kumat. Itulah penyakit yang Jaejoong dengar di derita kakek Song dari kakaknya.
Dari balik kaca dingin itu Jaejoong memperhatikan wajah santai kakeknya. Kakek dari pihak sang ayah yang tidak pernah menganggap Jaejoong sebagai salah satu cucu pria itu di antara keenam cucu gadis lain. Apakah ia merasa khawatir? Tidak. Jaejoong tidak merasakan apapun selain kasihan kepada pria tua itu.
Tidak. Ini bukanlah perasaan kasihan. Jauh dari itu, bisa di bilang kelegaan, tapi untuk apa?
Pria itu, pria yang saat ini berbaring seperti mayat di atas ranjang adalah pria yang telah menyakiti ibunya, pria yang membuat Jaejoong kehilangan sosok keluarga yang paling ia dambakan selama ini, pria yang telah membuat ibunya meninggal.
Kedua tangan Jaejoong terkepal karena marah. Ia tidak sadar bahwa dalam jiwanya yang kata orang polos memiliki sisi kejam yang tidak orang lain tahu ada disana. Berdiam diri menunggu waktu untuk muncul. Dendam yang terpendam.
Apakah ia berniat melepaskan sisi kejam dalam dirinya kepada pria itu. Bukankah pria itu tidak akan tahu jika Jaejoong menyakitinya. Tidak akan ada yang tahu dan tidak akan ada orang yang melihat jika ia menarik selang oksigen itu.
Garis lurus di atas bibir Jaejoong menandakan pemuda itu marah. Jaejoong tidak percaya dirinya berjalan menuju pintu lalu masuk, berdiri di sisi ranjang pria tua lemah yang bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari kematiannya. Dari Jaejoong.
Tarik selang oksigen itu lalu biarkan dia mati. Tidak akan ada yang tahu dan tidak ada orang yang melihatnya.
Sisi dalam kegelapan berbisik.
Karena pria itu lah Jaejoong tidak memiliki kesempatan untuk melihat Kim Ji Young, ibu kandungnya. Ibu yang malang.
"Kau harus membayar penderitaan yang telah kau berikan padaku." bisik Jaejoong lirih.
Song Im Pyo membuka mata. Butuh beberapa saat bagi pria tua itu untuk tahu di mana ia berada dengan pemuda itu berdiri di sisi ranjang.
Kedua mata pria itu mendelik terkejut, napasnya mulai tersenggal dan berusaha mengeluarkan suara. Tidak ada kata yang terdengar dari mulut kering itu. Tubuh itu bergerak putus asa saat Jaejoong mencondongkan tubuh ke depan.
"Bagaimana rasanya menjadi orang yang lemah. Ketika Kakek dan harta yang Kakek kumpulkan seumur hidup tidak bisa menyelamatkan Kakek dari kematian..." ada jeda. "Di tanganku, mungkin." bisik Jaejoong lirih.
Bola mata hitam pemuda itu terlihat lebih besar dengan wajah dingin yang membuat wajah Kakek Song semakin pucat. Pemuda itu menarik tangan keatas, menuju wajah kakek Song lalu terdengar suara pintu bergeser terbuka.
"Kau di sini," Jaejoong menarik tangannya kembali. "Aku tidak berpikir kau bersedia masuk dan... Papa." Jaejoong mundur dan melesat keluar ruangan ketika perhatian ibunya teralihkan kepada kakek Song.
Wanita itu berteriak memanggil suster dan Jaejoong melihat wajah ibunya pucat melihat tubuh kakek Song kejang kejang.
Jaejoong mengabaikan sekeliling. Mengabaikan suster yang berlari melewatinya menuju kamar dan ia menjauh pergi.
"Apa yang coba aku lakukan." gumamnya pada diri sendiri.
Bodoh. Mama Ji Young tidak akan hidup lagi meski ia menyakiti pria itu. Balas dendam tidak akan mengakhiri masalah, hanya menambah masalah. Ji Hyo akan marah, ayahnya juga. Yunho akan membencinya, kakaknya juga tidak akan memaafkan Jaejoong. Teman temannya tidak akan menganggap Jaejoong teman, karena ia akan mendekam di balik jeruji besi dingin dalam penjara jika melakukan kejahatan.
Jaejoong tidak sadar ia telah berjalan keluar dari rumah sakit. Taman rumah sakit itu ramai dengan banyaknya pasien yang mencari udara segar atau pengunjung yang menikmati udara taman itu. Tapi ia tidak tertarik. Wajah Jaejoong pucat, tatapannya menerawang jauh sampai sebuah suara menarik perhatiannya.
"Kim Jaejoong?"
Pandangan Jaejoong terangkat. Sosok pria tinggi asing berdiri di hadapannya. Berpakaian rapi serba hitam dan mereka tidak sendiri. Setidaknya lima orang, tiga lainnya berpakaian biasa mengawasi sekeliling.
"Ya." jawab Jaejoong linglung. Pemuda itu masih menyalahkan diri sendiri atas pikiran buruknya tadi sampai tidak menyadari mereka menuntunya ke tempat yang lebih sepi.
Mobil hitam telah menunggu di luar pintu parkiran rumah sakit. Langkah Jaejoong terhenti. Ia menatap pria asing itu dengan tatapan ingin tahu sebelum ia merasakan sesuatu yang dingin di belakang tengkuknya.
"Jangan berteriak. Jadilah anak baik maka kami tidak akan menyakitimu."
Apakah mereka pria pria kiriman Siwon yang di tugaskan untuk menculiknya?
Jaejoong menurut tanpa memberontak atau berkata sepatah kata pun.
"Yunho?"
Pria lain itu menatap kearah yang sama, di seberang taman, mobil Yunho melaju memasuki parkiran. Pria pria itu mendorong Jaejoong maju dengan desakan yang menyakiti tubuhnya.
Jaejoong membeku, ia ingin bertemu Yunho tapi mereka mendorongnya masuk dan pukulan itu membuatnya tak sadarkan diri.
Pemuda itu di dorong kearah pria yang sudah menunggu mereka di dalam mobil. Pria lain masuk ke dalam mobil lalu mobil pun melaju tepat ketika Yunho berputar kearah parkiran dan berpapasan dengan mobil hitam itu.
Pandangan Yunho menatap sekilas mobil hitam itu. Kaca mobilnya gelap yang membuat pria itu tak menyadari siapa pengemudi di dalamnya.
。。* 。。
"Jaejoong menghilang?" Ji Hyo terkejut dengan apa yang di katakan Yunho dan juga putrinya. "Bagaimana mungkin? Dia tadi di sini, bersamaku. Lalu Kakek kalian sadar dan Jongie keluar. Mungkin dia pergi ke suatu tempat dan kalian tidak tahu."
"Mama, ponsel Jongie tidak aktif dan Jongie tidak ada di manapun. Kami sudah mencarinya tiga jam terakhir ke seluruh rumah sakit bahkan di rumah. Teman teman Jaejoong tidak ada yang tahu di mana dia berada." salah satu putri Ji Hyo menjelaskan.
Yunho yang masih bermain dengan ponselnya mengabaikan Ji Hyo dan putri wanita itu, pria itu telah menghubungi pihak keamanan rumah sakit untuk memeriksa semua kamera CCTV dan sekarang berniat menghungi Changmin.
Terdengar suara marah dari seberang sana namun Yunho mengabaikannya. "Di mana Jaejoong?" Pertanyaan menuntut itu di ucapkan Yunho dengan amarah yang nyata. Bahkan seisi ruangan menatap Yunho terkejut karena suara pria itu benar benar mengerikan jika sedang marah.
"Mana aku tahu." Changmin sama marahnya di seberang sana.
"Jika tidak bersamamu, lalu kemana Jaejoong? Dia menghilang sejak sore tadi dan sekarang sudah larut malam. Sialan!"
Terdengar helaan napas Changmin dari seberang. Pemuda itu terdengar santai yang hanya membuat Yunho curiga. " Jaejoong disana?"
"Tidak!" bentaknya.
"Kau tahu Jaejoong dimana?"
Ada jeda. Changmin terdiam sebelum menjawab. "Mana aku tahu. Kami bertengkar siang ini dan mungkin saja ia bersama Siwon dan yang lain."
"Hubungi Siwon dan... "
"Mr. Jung!" Pria berseragam biru langit menerobos masuk ke ruang tunggu yang mereka gunakan sebelumnya. Yunho mengabaikan ocehan Changmin di seberang untuk mengalihkan perhatiannya kepada petugas keamanan rumah sakit itu.
"Pemuda yang Anda cari, atau pemuda yang memiliki ciri ciri yang Anda sebutkan tadi, kami curiga dia di culik. Lima pria mencurigakan membawa pemuda itu ke tempat parkir. Mobil hitam sudah di sana saat pemuda itu di paksa masuk dan kami melihat mereka memukul pemuda itu sampai pingsan."
Wajah Yunho berubah pucat. Darah seakan sirna dari wajah pria itu. Yunho kehilangan kata-kata dan hanya kedua mata musangnya lah yang terlihat hidup dengan kemarahan yang mengerikan. "Hubungi polisi." kata itu di ucapkan Yunho dengan datar.
Petugas keamanan itu segera keluar meninggalkan seisi ruangan yang berubah dingin di penuhi kekhawatiran.
"Jongie." Ji Hyo tidak bisa menahan air matanya turun. Wanita itu menangis tersedu, baru pagi ini ia mendapatkan kembali putranya. Kenapa Tuhan menjauhkan Jaejoong lagi dengannya. Ya Tuhan. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada putranya. Jaejoongnya. Tidak!
Di seberang telefon Changmin mendengarkan percakapan mereka dengan tenang. Amarah menyusup ke ulu hati karena Siwon berani memukul Jaejoong sampai pingsan. Apakah harus dengan kekerasa untuk meyakinkan skenario mereka.
Dengan marah ia mematikan ponsel lalu bangkit untuk meraih kunci mobilnya. Ia akan mencari Siwon, mengabaikan rencana mereka yang berkemungkinan gagal karena sungguh, ia tidak akan tenang ketika tahu Jaejoong mengalami luka pukulan di tengkuk. Luka itu boleh sekedar memar, namun bisa sangat berbahaya jika di abaikan terlalu lama.
Ponsel Changmin kembali berdering pemuda itu menghempas jaketnya kesal lalu mengangkat ponsel tanpa melihat siapa penelfon. "Ya." serunya kesal di antara usahanya memakai jaketnya.
"Ini aku Hankyung."
"Demi Tuhan. Aku akan menghajar kalian jika Jaejoong terluka. Apa apaan itu, beraninya kalian memukul Jaejoong sampai pingsan." Terdengar gumaman dari seberang sana sebelum Siwon mengambil alih.
"Kami tidak bisa menghubungi Jongie. Dia tidak datang di tempat yang sudah kita sepakati, kau tahu di mana dia?"
Changmin menghentikan usahanya untuk memasukan sebelah lengan ke lengan jaket. "Kau belum menculiknya?"
"Bagaimana kami menculiknya jika Jongie tidak muncul." itu suara Kyuhyun.
"Astaga. Ya Tuhan." Dengan sekali hentakan Changmin berhasil memasukan lenganya ke dalam jaket. Pemuda itu membanting pintu kamarnya sebelum berlari keluar kamar seperti pemuda kesetanan.
"Jongie di culik." teriaknya kepada Kyuhyun di seberang telefon.
"Kami belum menculiknya, Changmin." ujar Kyuhyun malas. "Kami sudah di lokasi dan menunggu... ."
"Jaejoong di culik oleh penjahat lain. Bukan! Di culik oleh entah siapa dan dia dalam bahaya. Bahaya yang sesungguhnya. Sialan. Siapkan yang lain dan kita harus mencari Jongie." Langkah kaki Changmin menuruni tangga dengan cepat. Pemuda itu memasukan ponsel ke saku jaket dan bertabrakan dengan Yoochun di pintu depan.
"Haruskah kau berlari seperti itu?" Grutu Yoochun.
"Harus Paman. Jongie di culik. Aku harus mencarinya."
Pemuda itu memutari tubuh pamanya untuk berlari ke tempat mobilnya di parkir. Yoochun menatap keponakanya dengan tatapan heran sebelum sadar siapa yang di maksud oleh keponakan nakalnya itu.
"Aku ikut." Yoochum berhasil masuk sebelum mobil Changmin melaju. Sebenarnya karena Jaejoong lah ia datang. "Kau tahu, bukan, bahwa Jaejoong putra Song Il Gook?"
"Ya."
"Dan kau tidak mengatakannya kepada siapapun?"
"Bukankah sekarang aku mengatakannya padamu." gerutu Changmin.
Mobil mereka melaju keluar gerbang dengan kecepatan yang gila gilaan. Yoochun bersandar pasrah karena ia tidak memiliki pilihan lain. Karena ia sendirilah yang masuk ke dalam mobil keponakannya ini dan ia tidak boleh protes tentang cara mengemudi Changmin.
"Kemana kau akan mencari Jaejoong?"
"Aku hanya berniat menemui teman temanku. Sebelum menyusun rencana mencari Jaejoong."
"Yunho tahu?"
"Tentu saja! Paman Yunho sudah menghubungi polisi. Itu yang ku tahu."
Yoochun sudah akan bertanya sesaat sebelum Changmin membentaknya. "Diamlah Paman. Aku sedang konsentrasi." bibir Yoochun tertutup rapat. Untuk kali pertama dalam hidupnya ia menuruti nasehat keponakan nakalnya itu. Dan tidak akan ada kedua kalinya. Janji Yoochun.
-TBC-
Typo masih juga ada padahal sudah di edit. Maafkan Sherry. ^.^
Semoga cerita ino tidak membosankan.
Ff ini sudah akan end. Gx tau beberapa lagi 2 mungkin. Semoga tidak mengecewakan.
Yang masih berminat dengan PDF untuk koleksi. Bisa hubungi Sherry. Tersedia beberapa pdf.
Untuk buku...? Akan saya pikirkan.
All ff bakal ada pdf. Cuma masih di edit.
Sebenarnya sherry malas edit. Jadi sabar kalau editnya lama.
Untuk yang sudah beli buku
Dan sudah di terima. Tolong infonya ya. Biar Sherry tau bukunya sampai dengan selamat(?)
Kamsahamnida.
