"KOMET and MAID"


.

.

.


Quotes :

"You'll Never Be "Brave" If You Don't Get "Hurt"

You'll Never "Learn" If You Don't Make "Mistakes"

You'll Never Be "Successful" If you Don't Encounter "Failure".

"Unknow Author"


.

.

.


"KOMET and MAID CHAPTER 20"

Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil

Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc -,-v

Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.


.

.

.


"WORDS"


.

.

.


"Hidup bukan untuk menjadi sempurna,

tapi untuk melakukan

Apa yang ingin kau lakukan

untuk menjadi yang kau inginkan"


pagi ini semua siswa Sakura Gaoka berkumpul di Aula untuk mendapatkan penjelasan untuk perjalanan wisata. Saat semua orang berkonsentrasi, dia tersenyum sinis seakan menikmati hal-hal konyol di sekitarnya. Tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi, senyum sinis di wajahnya menghilang dengan seketika.

Dia tak membalas e-mail yang barusan dia dapat, pembicara itu membicarakan banyak hal yang tak aku mengerti. Tapi cukup menarik untuk di dengar. Semua orang-orang semakin malas memperhatikan. Entah apa yang terjadi. Semua orang kini memegang ponselnya, mereka menengok ke kanan dan kiri, mereka mendapatkan sebuah pesan singkat yang sama.


"Fight. Or you will Die."


Aku tak tahu apa maksudnya tapi semua orang di Aula merasa asing dengan pengirim e-mail itu, orang yang merasa penasaran dengan nomor itu membalas e-mail tapi setelah pesan itu terkirim ponsel orang itu langsung mati dan saat di nyalakan layar ponselnya menampilkan kata "Die" dengan background hitam pekat.

Semua anak kelas 3 berjalan beriringan melewati pintu Aula, mereka berbisik-bisik tentang pesan aneh tersebut. Himeka memanggilku saat aku masih terjepit di antara segerombolan anak laki-laki yang sibuk dengan ponselnya sampai tidak memperhatikan jalan. "Uhhgg.. Sial." Umpatku kesal. Buru-buru aku melewati mereka satu persatu. Dengan sedikit usaha aku berhasil melewatinya.

"Karinn.. sebelah sini." Teriak Kazusa yang entah sejak kapan sudah bersama Himeka. Aku tersenyum dan berlari kecil menghampiri mereka. "Heii...Kaliaaannnn..." Miyon berteriak dari kejahuan dan mengangkat ponselnya sambil berlari. Dia memegangi kedua lututnya dengan badan menunduk dan nafas terengah-engah. "A-apa kalian mendapatkan pesan yang sama denganku?" tanyanya masih dengan nafas terengah-engah.

Himeka, Kazusa dan aku menunduk meng'iya'kan pertanyaan Miyon. "Hei bukankah ini menarik, bagaimana kalau kita bongkar identitas pengirim pesan ini?" Miyon terlihat sangat antusias, matanya berbinar-binar penuh dengan keingin tahuan. "Sepertinya menarik. Aku ikut." Seru Kazusa semangat. "Maaf, sepertinya aku tak ikut." Aku memaksakan senyum terukir di wajahku.

Seandainya kalian tahu, aku masih trauma dengan penculikanku waktu itu, dan ada hal yang harus aku selidiki. Tentang bagaimana penculik itu tahu nama asliku, padahal selama ini yang tahu tentang hal itu hanya keluargaku saja, dan semua hal tentang Kazune, Hisako juga Yuuta masih membuatku sedikit terpuruk. "Maaf bolehkan aku pulang duluan?" pertanyaan singkatku mengagetkan mereka bertiga.

"Kamu tak apa Karin?" Himeka menatapku dengan cemas. "Tenang saja, aku tak apa kok.. aku hanya kelelahan. Aku ingin pulang ke rumah dan mulai menulis lagi." Lagi-lagi aku tersenyum, sejujurnya aku tak ingin memperlihatkan senyum ini pada kalian hanya saja ini lebih baik dari pada kalian melihatku menangis.

Aku berjalan meninggalkan mereka bertiga yang masih berdiri di depan Aula. Langkah kakiku semakin berat, walau ada mereka bertiga entah kenapa beban di pundakku tak mau berkurang. Aku ingin menangis, tapi untuk apa? Aku ingin berteriak tapi apa yang ingin aku teriakkan? Aku ingin menghancurkan semua beban ini, rasanya berat saat aku memikulnya sendiri. Bagaimana pun aku tak ingin merepotkan mereka bertiga, entah kenapa hal itu semakin dan semakin membuatku terpuruk. Sesampainya di kelas aku lihat sosok yang selalu bisa membuatku terpeseona.

Bola mata birunya sejernih lautan yang tenang, rambut pirangnya terlihat seperti sunset sore ini. Saat aku memasuki ruang kelas dia menatapku dan tersenyum. Iya.. dia tersenyum, tapi apa sebabnya. Apa dia tersenyum kepadaku? Apa dia serius tersenyum kepadaku? Jujur saja dengan semua yang sudah aku lakukan kepadanya apa dia masih bisa bersikap seakan semua baik-baik saja dan kemarin hanya masa lalu.

"Apa aku menganggumu?" entah apa yang terjadi, pertanyaan cangung itu keluar begitu saja dari mulutku. "Maukah kau menemaniku. Sejujurnya senyumku tadi untuk ini. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, dia menangis setiap malam mencarimu, walau aku sudah menjelaskannya sepertinya hal itu tak meluluhkan tekatnya." Seru Kazune. "Emm.." aku mengangguk.

Tanpa pikir panjang aku meng'iya'kannya. Aku sekarang berdiri di depan pintu gerbang menunggu Kazune datang dengan sepedanya. Entah, rasanya sudah lama kami tidak bermain atau berjalan bersama seperti ini. Aku memeganggi kalung yang dulu aku temukan di kolam, rasanya saat mengenang saat-saat itu membuatku sedikit, hei .. aku bilang hanya sedikit. Aku tersenyum untuk diriku sendiri dengan kegilaan kecil yang aku lakukan.

"Sepertinya sang putri sudah merasa baikan." Kazune tersenyum ramah, senyumnya yang kena pancara mentari senjan membuatnya semakin menawan. "Huhh.. jangan harap aku akan memaafkanmu ya!" seruku cuek. "Hihihi.." dia tertawa. Aku tersenyum, rasa cangung yang sedari tadi menghalangi jarak di antara kami membuatku sadar betapa berartinya cowok ini untukku. Hanya dengan senyumnya yang sederhanya itu membuatku melupakan bebanku untuk sejenak.

Aku berdiri di sepeda goes milik Kazune, mau tak mau aku mengengam kedua bahunya. Ini membuatku malu, mungkin karena sudah lama kami tak boncengan seperti ini. Kazune menganyun dengan santainya, matahari senja semakin menunduk. Bersembunyi dari bumi dan langit senja yang menawan. 10 menit kemudian Kazune menghentikan sepeda goesnya dan berhenti di sebuah TK yang dekat dengan taman bermain. "Tunggulah di sini sebentar." Sebenarnya aku masih tak mengerti tindakan Kazune, orang yang ingin bertemu denganku sebenarnya siapa? Apakah kenalan Kazune di sekolah TK ini?

Aku bersandar di gerbang masuk sekolah dan menunggu dengan banyak pertanyaan berputar di otakku. Aku menatap langit senja yang mulai tertelan kegelapan dengan nyamannya, lamunanku terpecah menjadi puzzel saat aku rasakan tangan mungil menarik-narik rok sekolahku. "Mama..!" laki-laki mungil itu tersenyum dengan polosnya. Aku tertegun dengan kedatangannya, seragam sekolah yang terlihat kebesaran di badannya. Topi sekolah yang mungil, dan senyuman manis di wajahnya entah kenapa aku tak mengingat semua itu.

Aku ingin menangis. Sungguh. Kini aku tak butuh alasan apapun untuk menangis, aku hanya menarasa aku ingin memeleluk laki-laki yang memanggilku mama dengan segera. Aku berjongkok di depan Suzune dan dia langsung memelukku. Reflek aku terdorong ke belakang. Kini aku terduduk di jalan, Suzune menanggis terisak –isak di pelukanku.

Cengkraman tangan mungilnya membuatku sedikit tersentak, mungkin aku terlalu egois, terlalu memikirkan semua bebanku sampai-sampai aku melupakan tentangmu. Dia masih terisak, air matanya membasahi serahamku. Cukup lama ia menangis. Tangisannya berhenti saat Kazune menarik Suzune dari badanku dan mengendongnya. Seperti yang ku duga, matanya sembab, wajanya terlihat memerah. "Sebaiknya kau gendeng Suzune, aku yang akan membawa sepedamu." Kazune tak terkejut sama sekali dengan kata-kataku, dia hanya tersenyum. Kami berjalan beriringan menelusuri malam panjang yang masih menanti.

Suzune sepertinya tertidur di gendongan Kazune, dia terlihat menikmati tidurnya. "Sejak kapanSuzune sekolah?" rasanya Kazune seperti seorang ayah, dia perhatian dan hangat. "Sejak seminggu yang lalu, saat kau terpuruk aku tak tahu harus melakukan apa dengan Suzune, aku tahu kau tak akan datang lagi ke Apartemenku, dan aku tak bisa merawatnya sambil sekolah, jadi.."

"Jadi kau putuskan untuk menyekolahkannya, maafkan aku. Maafkan aku Suzune." Aku menatap tanah yang ku pijak.

"Kita sampai, aku akan menidurkan Suzune. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Ujar Kazune. "Bo-bolehkan aku menginap di Apartemenmu." Entahlah, kata-kata itu tiba-tiba keluar begitu saja, kata-kata singkat yang aku fikirkan keluar begitu saja dari mulutku. "Tentu.. " Kazune tersenyum manis, "Dan juga, bukankah besok kita libur jadi maukah kau menemaniku malam ini." Kali ini senyuman usil yang terpampang jelas di wajahnya.

"KKKAAAAZZZZUUUUNNNNEEEEEEEEEE... KU BUNUH KAU." Teriak Karin.


Jadi apakah yang akan terjadi di NEXT CHAPTER di APARTEMEN KAZUNE?

See yaa... ^^

Review menyusul xp maaf ada masalah jaringan x.x


.

.

.

BALASAN REVIEW MENYUSUL X_X

.

.

.