"Sudah kuduga, kuharap aku masih bisa menggunakannya, Hiaaat…!" ujarku memukul tembok didepanku dengan kuatnya.

Braaak…Duaaar, tembok pun hancur dengan dahsyatnya karena gelombang angin dari pukulan ku.

"Ini sudah cukup, walaupun tanpa perisai. Aku harus segera menyelamatkan dia!" tegas ku dalam hati dan segera menuju kemedan pertempuran untuk melawan kaguya.

MINNA-SAN, GIMANA KABAR PASTI BAIK DONG #PLAK.

ANE MAU MELANJUTKAN CHAPTER BERIKUTNYA NIH MAAF JIKA BARU …

*SELAMAT BINGUNG EH, SELAMAT BACA MAKSUDNYA"

DISCLAMER : CERITA PUNYA SAYA, TAPI PEMILIK KOMIK PUNYA MASASHI KISHIMOTO DAN SAYA MINJAM DULU CERITANYA …

(AUTHOR DIBACOK SAMA TAKUMI-SAN)

PAIRING : HINANARU X HANANARU

RATED : T+

GENRE : ACTION, SCI-FI, SUPER POWER, ROMANCE.

WARNING : OOC, EJAAN KADANG ADA YANG SALAH DAN TIDAK SESUAI, BANYAK KATA-KATA KASAR DAN MEMBINGUNGNYA SERTA TYPO.

CHAPTER 21 : PARTNER DUO

Dua orang absolute duo sedang berdiri disebuah pintu besar ditemani satu pria paruh baya yang berdiri didepan dua orang itu, yang sebelumnya mereka temui dalam kondisi sekarat.

"Ini dia, ruangannya. Apa kalian siap untuk menghadapi dia, Haruno-san, Uchiha-san?" Tanya pria itu kepada dua duo dibelakang mereka.

Glek... leguhan air liur yang tersirat dalam diri mereka yang merasa khawatir, keringat pun mengalir dari dahi mereka berdua, tapi mereka tepiskan jauh-jauh pikiran buruk tersebut. Mereka pun mengangguk tanda setuju dan siap untuk melawan kaguya jika memang tidak bisa dihindarkan.

"Baiklah, kalau begitu aku akan membukanya-..."

"Tunggu, Hyuuga-san!"Gadis itu berbicara untuk menghentikan hiashi yang sudah siap membuka pintu sebelumnya.

"Ada apa haruno-san.?" Tanyanya heran.

"Terima kasih, sudah mengantarkan kami Hyuuga-san. Anda pergilah dari sini sekarang juga, biar kami yang urus sisanya!"perintah pria berambut raven yang mulai berbicara dan menyuruh hiashi pergi dari sini.

"Kenapa ada apa memangnya?" tanyanya tidak mengerti

"Aku tidak ingin anda terlibat dalam pertarungan kami, kamilah yang akan menghadapinya, jadi pergilah!" tegas sakura dan sasuke kepada hiashi.

"Baiklah, aku akan pergi dari sini. Ada satu hal yang bisa aku lakukan setidaknya untuk saat ini. Aku akan menuju ruangan pengendali pasukan robot yang kuciptakan dan dikendalikan kaguya saat ini!"ujar hiashi mencoba membantu walaupun tidak banyak yang bisa dia lakukan.

"Jadi selama ini robot-robot itu dikendalikan kaguya!" Terkejutnya sakura yang mendengar pernyataan hiashi.

"Aku mengerti, berhati-hatilah!" Ucap sasuke memberikan nasihat.

"Ya, Aku mengerti setelah mendengar cerita kalian berdua selama perjalanan tadi. Kalian harus berhati-hati, aku akan menunggu diluar dan tolong selamatkan anak ku!"Mohon hiashi kepada sasuke dan sakura.

"Kami mengerti!" pria itu pun pergi keruangan yang lain untuk menghentikan kendali semua pasukan robot, saat akan pergi pria itu pun berhenti melangkah.

"Hyuuga-san!" panggil gadis itu kembali mencoba menghentikan langkah hiashi yang sebelumnya akan pergi, sambil berjalan kearahnya.

"Ada apa, haruno-san.?" Tanyanya tak mengerti.

"Ambillah ini.!" Perintah sakura memberi kan sebuah senjata handgun beserta pelurunya.

"Ini, apa kau yakin?" Ragu pria itu karena senjata handgun itu bisa saja sewaktu-waktu akan digunakan untuk melawan kaguya.

"Uhm... cepat ambil dan pergilah!" Ujarnya menyuruh pria itu mengambil pistolnya, pria itupun mengambilnya dan mengangguk tanda mengerti lalu meninggalkan kedua duo tersebut.

"Ikuzo, sakura...!" ajak sasuke mengulurkan tangannya kepada duo partner itu sedangkan sakura meraih tangan sasuke dan menuju pintu tersebut.

"Blaze…" gumam mereka berdua memanggil senjata suci milik mereka. Zetsss... pintu pun terbuka secara otomatis dan memasukinya.

Tap... tap Bruuuk... duo itu pun masuk kedalam ruangan itu dengan keadaan siaga saling membelakangi punggung mereka satu sama lain dengan blaze masing - masing yang ada ditangan mereka.

"Gelap sekali"

"Jangan lengah sakura!" Ujarnya.

Ctaaak.. lampu pun menyala secara merata satu persatu dan menampilkan gadis surai coklat yang tergantung diatas langit-langit dengan tangan yang terbogol keatas dalam keadaan pingsan.

"Hanabi" gumam pria itu terkejut melihat sosok yang dikenalnya.

"Hanabi-chan!" panggil sakura yang berlari tanpa memperhatikan sekitar.

"Sakura-..."

Sakura pun berlari kearah gadis yang tak berdaya itu tanpa melihat kondisi sekitarnya dan tak mengetahui bahwa dia sudah menginjak sebuah ranjau jebakan.

Traaak... sebuah selongsong pistol keluar dari setiap dinding dengan cepat dan menembak kearah gadis surai pink bunga musim semi tersebut.

"Sakura!" teriak sasuke barlari kearah sakura, pria itu pun menangkap tubuh gadis itu dan menjatuhkan diri ke bawah.

Zleeb... zleeb... peluru tanpa suara itu pun berhasil dihindari karena sigap sasuke yang waspada dan lebih cepat.

"Bodoh, kau ingin mati ya!"bentak sasuke dengan emosi yang tinggi ke sakura.

"Aku minta maaf, sasuke-kun, aku-..." lirih sakura merasa bersalah.

"Hoh... kalian cukup beruntung juga!" ujar seseorang dari atas langit-langit.

Sasuke dan sakura yang mendengar suara itu pun mencari asal suara orang itu dan melihat keatas tempat hanabi dan menampilkan wanita paruh baya tersebut.

"Kaguya!" geram sasuke dan mengangkat tubuh sakura untuk mulai bertarung.

"Dimana Hyuuga-senpai?"tanyanya dengan nada yang dingin.

"Hoh... dia sudah mati!" Ucapnya dengan senyum licik. Kedua duo yang mendengar itupun tak percaya akan pernyataan wanita itu.

"K-kau…!?" Sakura tak mempercayai ucapan yang terlontar dari mulut kaguya dan menyerang secara langsung.

"Sakura, tch!" decih pria itu karena rekan duonya bertindak gegabah.

"Terserah kau saja mau mempercayai itu atau tidak, karena aku akan membuat kalian berdua menyusul dia!" ujarnya dengan dingin.

Crick... wanita paruh baya itupun dalam sekejap menghilang tanpa jejak.

"Dia menghilang?" gadis itu pun berhenti berlari karena terkejut melihat wanita itu sudah menghilang.

"Cepat sekali?-... Huh?.. u-ugh…" perut pria itu pun dipukulnya dengan sangat kuat hingga membuat rasa sakit yang membuat dia merintih dan sasuke pun terlempar beberapa meter.

"Sasuke-kun!" sakura yang melihat rekan duonya itu diserang oleh kaguya sangat terkejut, karena musuh sudah berada dihadapan sasuke dengan sangat cepat.

"Sekarang giliranmu!" Senyum licik terukir didepan hadapan sakura, gadis itu terkejut dan mencoba menghindar tetapi.

Tak... tangan dengan cepat menyambar leher sakura, dan mencengkramnya dengan kuat hingga terangkat keatas. Blaze milik sakura pun terjatuh ketanah

"U-ugh... l-lepaskan, s-sahsuke-kun, uhuk... uhuk...!"ronta sakura mencoba melawan tapi kekuatan mereka sangat berbeda jauh, gadis itu hampir kehabisan nafas.

"Sakura... lepaskan sakura, hiaaat…" geram pria itu lalu melemparkan sebuah pisau kecil kekaguya.

Wush... pisau pun melayang dengan cepatnya ke arah muka kaguya. Wanita itu dengan mudah menghindari pisau itu.

"Terlalu mudah, Huh?... ini!" kaguya tak menyadari dipisau yang dia hindari itu terdapat sebuah botol kecil seukuran flashdisk dan menimbulkan cahaya menyilaukan.

Flussh… cahaya pun tercipta dalam hitungan detik yang menimbulkan mata wanita itu kesakitan.

"U-ugh…Arrgh, M-mataku!" rintih kaguya yang kesakitan karena penglihatannya terganggu dan melepaskan cekikan sakura.

Bruuuk… sakura pun terlepas dari cengkraman kaguya.

"Uhuk… uhuk… apa yang sebenarnya terjadi-…"

Sakura terkejut karena dia sudah ditarik seseorang.

"Kurang ajar kalian bocah…kemana mereka dan bocah itu hilang, aku akan membunuh kalian?!"Geram kaguya yang tidak terima dipermainkan oleh dua duo tersebut.

SKIPTIME.

Dua orang duo itu sedang berlari menjauhkan diri dari tempat pertarungan dimana kaguya berada, sebelumnya dengan hanabi yang masih pingsan yang dibawa oleh sasuke.

"Huh… huh… huh… aku rasa disini sudah aman!" gumam pria itu menurunkan hanabi yang masih tak sadarkan diri dan melihat sakura yang sangat kelelahan.

"Ternyata memang tidak bisa bertarung dengan kaguya secara langsung!" batin pria itu kesal mengepalkan tangan kanannya dengan kuat, sakura yang melihat geramnya sasuke pun hanya menunduk menyesal.

"Sasuke-kun!" panggil gadis itu.

"Ada apa sakura-… Huh?" pria itu tak mengerti kenapa sakura menangis.

"A-aku minta maaf, A-Aku hiks… memang bodoh. Seharusnya sejak awal aku memang harusnya mati saja. A-aku selalu membuat susah dan menjadi beban untukmu, A-aku-…"

Plaak… sebuah tamparan mendarat diwajah gadis itu dengan kuatnya.

"S-sahsuke-kun, k-kamu?" gumam sakura menyentuh mukanya ditempat bekas tamparan itu.

Greep… sebuah pelukan pun terjadi yang disebabkan oleh pria berambut raven itu.

"Huh, a-ap yang kamu lakukan lepaskan aku sasuke-kun, A-aku sudah menyusahkan mu lebih baik, Aku-…"

"Diamlah!" bentak pria itu dengan keras, gadis itu hanya diam menunduk dan menangis dalam diam sambil mengigit bibir bawahnya.

"T-tapi, aku-…"

"Aku sudah bilang bukan, aku akan melindungi mu, aku akan menjaga sakura mulai sekarang, jangan bicara yang tidak – tidak tentang kematian atau semacamnya. Jika kau melakukan hal itu sama saja kau sudah mengotori jiwamu untuk mati dan aku tidak akan menerima kematian!" Ujar pria itu masih dengan nada tinggi. Sakura yang mendengarkan perkataan sasuke hanya menangis dengan kacaunya.

"Sah-sasuke-kun, A-aku…!" ucapnya tercekat karena sudah tidak bisa menahan diri dan akhirnya sakura pun menumpahkan semua pelampiasan emosinya ke sasuke. Pria itu hanya mengelus rambut musim semi itu dengan lembut.

"Aku mengerti perasaanmu saat ini, tapi untuk sekarang sebaiknya kita sembunyi dahulu. Sepertinya kita diikuti?" tukasnya untuk menghentikan aktivitas sakura yang menangis, gadis itu hanya mengangguk mengerti.

HIASHI POV.

Pria paruh baya mengenakan baju lab dengan rambut hitam panjang sedang bergerak secara sembunyi – sembunyi sambil menggunakan pistol handgun yang digenggamnya dengan erat dikedua tangannya untuk berjaga-jaga jika ada musuh. Pria itu pun menyenderkan tubunya ditembok untuk melihat situasi kondisi sekitar.

Tap… tap… langkah kaki pria itu berlari – lari kecil untuk sampai ditempat tujuan. Beberapa waktu dibutuhkan untuk menghindari semua pengawasan tentara robot musuh, akhirnya pria itu pun berhasil keruang kendali.

"Yokatta, akhirnya aku sampai juga disini. Aku harus cepat!" pria itu pun mencoba membuka pintu kode yang memiliki kunci sandi disamping pintunya.

Pria itu pun berkelut dengan cepatnya dengan tombol yang ada dipintu tersebut. untuk mematikan sistem jaringan pengendali musuh. Tetapi…

Tot…Tot…Tot…, Suara pun terdengar dengan jelas ketika hiashi menekan tombol terakhir untuk membuka pintu ruangan pengendali dan kata sandi pun salah membuat suara gaduh tersebut aktif.

"Kuso!" Decih hiashi yang ketahuan dan berlari. Karena pasukan musuh mulai mengejar hiashi yang ketahuan.

"Huh… huh… huh… Sial!" terkejutnya pria itu saat akan berlari ternyata sudah dihadang tiga musuh seperti pesawat mini.

"Minggir kalian!" menembakkan pistolnya kearah musuh didepannya.

Dor…Dor…Dor… pistol pun menembak dengan cepatnya kearah musuh didepannya.

Duaaar… ledakan pun menyebabkan kedua pesawat dibelakangnya hancur.

"Bagus-…"

Dor… sebuah peluru berhasil bersarang ditubuh pria paruh baya itu.

"U-ugh… K-kenapa?" gumam pria itu terkejut karena tubuhnya sudah basah dengan warna merah yang membuat seluruh pakaiannya bernoda merah.

Bruuuk… tubuh pria itu pun ambruk. Pria itu hanya tersenyum kecil karena gagal tidak bisa membantu lagi.

"Haruno-san, Uchiha-san. Sepertinya aku gagal, aku minta maaf. Sial…!" pria itu hanya bergumam kecil pasrah menerima kematiannya. dan mulai menutup mata secara perlahan.

"Kurang ajar kalian semua, Hiaaat…!" sebuah pukulan dengan kuat menghancurkan semua pasukan musuh dalam sekejap.

Braaak… Braaak, Duaaar… ledakan pun terjadi dikarenakan kekuatan yang sangat dahsyat.

"Siapa itu?" Batin pria itu mencoba mencari tahu tapi penglihatannya sudah mulai kabur karena cukup banyak kehilangan darah.

"Bertahanlah…!" mohonku kepada orang itu agar tidak mati.

Beberapa saat kemudian.

"Yosh, ini sudah cukup menghentikan pendarahannya, maafkan aku, aku harus meninggalkan anda, tapi aku harus segera menolong hinata. Aku permisi hiashi-san" batin ku sudah cukup tenang dan meninggalkan pria itu yang masih tertidur.

SKIPTIME.

"U-umzh… ittai, A-apa yang terjadi. L-luka ku?" hiashi yang tersadar dari pingsannya pun terkejut bahwa tubuhnya sudah diobati walaupun masih ada sedikit jejak luka yang belum tertutup maksimal.

"Huh… siapa yang mengobatiku?" gumamnya tak mengerti dan baru menyadari bahwa dia sudah berada diruangan kendali pasukan robot.

"Ini bukannya saatnya berpikir siapa yang menyelamatkan ku, aku harus membantu Haruno-san dan Uchiha-san!" Tegas pria itu mulai mengambil alih kendali mesin pengendali jaringan robot.

HINATA POV

Wanita bersurai indigo sedang berusaha untuk keluar dari pintu jebakan yang membuat dirinya terperangkap dalam ruangan tersebut.

"U-ugh,… aku jatuh dalam sekali. Jika saja tidak ada pintu jebakan itu" gumamnya memikirkan hal yang sebelumnya terjatuh.

#FLASH_BACK_ON

"Cih, ternyata benar dugaanku"! keluh gadis itu terluka akibat terkena serangan laser merah sebelumnya dibagian lengan kanan nya dan hinata pun segera bergegas pergi dari tempat itu, melihat pintu didepannya berada dia pun segera menuju kesana, tapi laser dengan cepat datang kembali dari arah belakang hinata yang siap menyerang kapan pun dirinya.

"Gawat… tidak sempat sampai pintu berikutnya!" batin hinata khawatir.

Zloomph… pintu jebakan dibawah lantai pun terbuka dan membuat dirinya terjatuh dengan cepat sehingga terhindar dari serangan laser yang menuju dari belakangnya.

"Huh?.. Kyaah… B-Blaze…!" teriak gadis itu khawatir terjatuh kebawah dan mengaktifkan blazenya dengan cara menusukan pedangnya ke dinding.

Zleeb, Traang… bunyi decitan yang sangat kasar karena pedang itu terus menahan tubuh gadis itu dengan kuatnya.

"U-ugh… A-aku mohon berhenti!" teriaknya menahan sakit yang luar biasa karena menggengam kedua pedang itu dengan kuat yang ditancapkan ke tembok agar menghentikan laju jatuh hinata.

Traaang… Bruk, beruntungnya nyawa gadis itu masih terselamatkan karena blazenya masih bisa bertahan menahan tubuh gadis bersurai indigo tersebut.

"Yokatta,… jika saja jika aku tidak melakukan ini?" gumam hinata melihat kebawah dasar jebakan tersebut sebuah mata pedang berkilau yang lancip dan menjulang keatas membuat siapapun pasti akan ketakutan.

"Ittai…" Ringis hinata karena tangannya sudah memar dan berdarah akibat menahan laju ketika dia terjatuh.

#FLASH_BACK_OFF

"Aku sudah tidak kuat untuk melangkah lagi!" gerutu gadis itu mulai kehilangan kesadaran.

Pussh… blaze gadis itu pun menghilang, membuat gadis itu terjatuh kembali.

"Naruto-kun!" batin gadis itu pasrah dan pingsan.

Tap…Tap…Tap… Huph, seseorang dengan langkah cepat melompat kedalam lubang jebakan itu untuk menangkap tangan hinata yang kearah atas dalam keadaan tak sadarkan diri.

"U-ugh, sedikit lagi!" geram ku mencoba menangkap tangan hinata.

"Hinata…!" panggil ku dengan kuat untuk menyadarkan hinata, tapi tak digubris oleh gadis itu karena sudah tak sadarkan diri.

"A-Aku... aku akan melindungimu… Jadi!" tekad ku mengerahkan kekuatan untuk mengapai tangan gadis itu.

Beberapa centimeter lagi… TAK, tangan gadis itu pun berhasil ditangkap.

"Dapat,… Hiaaat!" teriak ku memeluk hinata dengan erat dan melemparkan sebuah pengait besi dengan tali kawat yang menempel diikat pinggang pria tersebut.

Traaang… pengait tersebut pun menembus tembok itu dengan mudahnya karena penambahan kekuatan blaze yang diterapkan kedalam benda tersebut.

Sreeek... Crack...Crack...Crack, bunyi tali kawat yang terus mengulur pun berhenti.

"Huh?... syukurlah masih sempat"gumam ku bersyukur dan segera keluar dari tempat perangkap itu sambil membawa gadis itu yang masih berada dipelukanku.

SKIPTIME.

Dua orang bersurai indigo dan bersurai blonde sedang bersama, gadis itupun masih tak sadarkan diri karena luka yang diterimanya dikedua tangannya dan lengan kanannya, pria itu masih sibuk mengobati luka gadis itu, sampai akhirnya hinata pun sadar.

"Yo, kau sudah sadar senpai?" tanya ku sedikit terkejut karena hinata belum sadar sepenuhnya.

"U-ugh… Apa aku sudah mati?" gumamnya dengan polos yang masih belum sepenuhnya sadar.

"Kalau kau mati, untuk apa aku mengobati dirimu, aku naruto!" kesal ku, hinata pun tersadar mendengar namaku.

"Naruto-kun… Naruto-kun!" teriaknya dengan sangat kuat dan memeluk ku dengan kuat secara mendadak.

"Ittai… ittai… ittai… Senpai, aku bisa mati jika kau memeluk ku seperti ini-…"

"Baka… baka… baka… naruto-kun no baka, A-aku sangat khawatir padamu, aku sangat takut jika aku gagal menolong mu… a-aku takut sekali!" gadis itu hanya menangis dan memarahi diriku sebagai pelampiasannya.

"Maafkan aku Senpai, Aku tidak akan membuatmu khawatir dan menangis lagi!" ucapku tenang, hinata yang mendengar itu pun hanya membuang muka.

"Benarkah, naruto-kun?" tanyanya dengan semu kecil sambil menunduk, aku pun hanya mengganguk tanda menyetujui pertanyaan hinata.

"Aku janji. Sekarang yang lebih penting adalah mengobati luka mu dahulu, biar aku saja yang mengobati mu!" tawarku mengambil perban baru kembali ditas yang baru karena yang sebelumnya berantakan akibat ulah hinata yang histeris secara tiba-tiba.

Pria surai kuning itu dengan teliti mengobati setiap luka yang ada ditubuh gadis itu, hinata yang dilakukan seperti itu hanya tersenyum kecil dengan semu yang menghiashi wajah chubbynya. Menambah kesan manis bagi siapapun yang melihatnya, mereka hanya berdiam diri, hinata pun mulai membuka pembicaraan agar tidak kaku.

"Ano… N-naruto-kun!" panggil gadis itu mencoba mencairkan suasana, akupun hanya melihat keorang itu.

"Ada apa?" pria itu pun masih sibuk mengobati luka hinata.

"Sono, etoo… Apakah naruto-kun saat ini-…"

"Kalau soal itu bicaranya nanti saja senpai, kita harus segera ketempat hiashi-san. Karena dia terluka sebelumnya yang disebabkan luka tembak serangan musuh. Aku baru menghentikan pendarahannya, tapi tidak sepenuhnya mengeluarkan sisa bekas pelurunya!" tegas ku memotong perkataan hinata untuk mengalihkan pembicaraan hinata.

"Otou-sama, jadi?" hinata tak percaya bahwa ayahnya masih hidup. Sedangkan aku hanya mengangguk.

"Dan kita harus mengalahkan kaguya, maka dari itu aku mohon pinjamkan kekuatanmu, Senpai!" tegasku dengan serius, hinata yang mendengar itu hanya menundukkan kepalanya.

"Uhm… sepertinya mudah sekali kalau kamu bicara naruto-kun dan ingat Onee-chan!" ejek hinata yang tak begitu suka cara bicaraku yang blak-blakan saat ini dan menyentil keningku dengan keras.

"I-ittai, maafkan aku Jadi, bagaimana?" tanyaku ragu.

Menunggu jawaban…

"Ayo kalahkan dia dan menikmati kebebasan kita setelah ini!" jawabnya dengan tegas, aku yang mendengar itupun hanya tersenyum kecil.

"Ikuzo, naruto-kun!" ajak gadis itu dengan semangat dan berdiri lebih dahulu dariku, aku pun hanya mengikuti langkah dia yang ikut berdiri juga.

"Uhm!" jawab ku mengangguk kan kepala tanda setuju dan kami berdua segera menuju ketempat kaguya.

Dua absolute duo sudah terbentuk untuk mengalahkan kaguya, lalu bagaimana keadaaan sasuke dan sakura saat ini.?

TO BE CONTINUED