-Konoha, 3 hari kemudian-

"Sakura kamu mau kemana?" tanya Sasori menatap Sakura yang keluar dari kamarnya. Memang setelah kejadian tersebut Sakura sempat dirawat selama 2 hari sebelum akhirnya diperbolehkan pulang. Sasori yang masih tidak tenang memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Konoha. Sedangkan Gaara harus segera kembali ke Suna mengingat posisinya yang tidak dapat ditinggalkan terlalu lama.

"Rumah sakit." ucap Sakura menikmati sarapannya.

"Tapi kamu baru keluar dari rumah sakit kemarinkan?" ucap Sasori tidak senang dengan jawaban Sakura.

"Ayolah Nii-chan.. Pekerjaanku dirumah sakit sudah sangat menumpuk." Ucap Sakura memohon.

"Hah.. Baiklah.. Tapi jangan bekerja terlalu keras. Lalu.. Dimana Hana?" tanya Sasori menatap Sakura.

"Ada apa?" tanya Hana yang keluar dari kamarnya.

"Ada apa denganmu?" tanya Sasori menyadari kantung mata Hana.

"Tidak ada.." ucap Hana ringan.

"Baiklah aku harus berangkat sekarang." Ucap Sakura pergi meninggalkan keduanya yang hanya mengangguk.

"Bukankah kalian sudah berbaikan? Kenapa masih kaku begitu?" tanya Sasori menatap Hana yang duduk disampingnya, menjatuhkan kepalanya kepundak Sasori.

"Bukan apa-apa..." jawab Hana pelan.

"Hah.. Aku tidak mengerti dengan jalan pikir kalian."ucap Sasori menatap layar TV.

"Nee.. Nii-chan.."

"Ya?"

"Aku rasa aku sudah memutuskannya." Ucap Hana tiba-tiba.

"Memutuskan apa?" tanya Sasori bingung.

"Masalah pindah ke Suna." Ucap Hana.

"Lalu? Bagaimana? Sakura menolak untuk pindah karena merasa berhutang banyak pada Konoha." Ucap Sasori lagi.

"Aku memutuskan untuk ikut pindah denganmu ke Suna." Ucap Hana tiba-tiba

"Huh? Apa kau yakin?" tanya Sasori lagi.

"Umm.. Aku ingin berkumpul dengan kalian." Ucap Hana pelan.

"Sudah berbicara dengan Hokage?" tanya Sasori lagi.

"Sudah.. Dia memberikan kebebasan padaku." Ucap Hana.

"Sudah memberi tahukan Gaara?"

"Sudah.. Gaara Nii-chan sangat senang dengan keputusanku." Ucap Hana dengan senyumnya.

"Hummm.. Kalau begitu kita harus cepat membeli rumah disana. Kita tidak bisa terus tinggal di apartement." Ucap Sasori lagi.

"Umm.. Aku setuju." Ucap Hana lagi.

"Kita juga harus membeli rumah disini." Ucap Sasori lagi.

"Huh?"

"Yaaa.. Jika kita datang kesinikan kita tidak mungkin terus-terusan tinggal di apartement kecil begini.. Nee Hana.. Bagaimana kalau kita mencari rumah sekarang? Toh kamu juga sedang tidak ada misikan?" ucap Sasori bangkit dari duduknya.

"Hai hai.." jawab Hana singkat.

-Rumah Sakit Konoha-

"Hah.."

"Ah?! Sakura-chan!"

"Naruto? Jangan berteriak di rumah sakit." Ucap Sakura menggetok pelan kepala Naruto.

"Gomen-gomen.. Sakura-chan.. Apa kau tidak terlalu memaksakan diri?" tanya Naruto tiba-tiba.

"Tidak.. Memangnya terlihat begitu ya?" tanya Sakura hanya tersenyum hambar.

"Begitulah.." ucap Naruto lagi.

"Dari pada memikirkanku lebih baik pikirkan ujianmu besok." Ucap Sakura membuat Naruto melemas seketika.

"Hah.. Sakura-chan.. Kau terlalu kejam.. Mengingatkanku pada hal itu." Ucap Naruto lagi.

"Well.. Kalau kau ingin menjadi Hokage maka lakukanlah semampumu." Ucap Sakura lagi.

"Tapi.. Kenapa ujian chuunin dan jounin digabung menjadi satu?" tanya Naruto bingung.

"Ujian kali ini tingkat kesulitannya lebih tinggi.. Jadi bisa saja yang belum menjadi chuunin bahkan langsung menjadi jounin bila kemampuannya mencukupi." Ucap Sakura.

"Hah.. Aku bahkan belum mendapatkan kelompok.. Kenapa kalian harus meninggalakanku sendiri?" keluh Naruto.

"Kami tidak meninggalkanmu.. Kamu yang meninggalakan kami dan berkembang hingga sekuat sekarang. Ah.. Mengenai kelompok.. Kenapa tidak bergabung dengan Ino dan Chouji?" tanya Sakura lagi.

"Huh? Bagaimana dengan Shikamaru?" tanya Naruto lagi.

"Dia tidak mengikuti ujian ini." Ucap Sakura teringat ucapan Shikamaru beberapa waktu yang lalu.

"Huh? Kenapa begitu?" tanya Naruto penasaran.

"Umm.. Dia sudah jounin.. Dan lagi dia adalah penguji ujian pertama kalian bersama Temari-san." Ucap Sakura lagi.

"Temari yang dari Suna?" tanya Naruto memastikan.

"Yup.."

"Aku dengar mereka berpacaran." Ucap Naruto menerawang.

"Belum.. Baru dekat saja." Ucap Sakura seakan tau betul tentang hubungan keduanya.

"Hah.."

"Lalu.. Ada apa kamu kesini Naruto? Apa kamu terluka?" tanya Sakura tiba-tiba.

"Huh? Ahh... Soal itu..." dengan cepat Naruto membuka resleting jaketnya dan memperlihatkan luka dipundaknya.

"Apa yang terjadi?" ucap Sakura kaget dan segera membawa Naruto ke ruangannya.

"Ah.. Aku sedang berlatih bersama Yamato-sensei." Ucap Naruto menatap Sakura yang tengah mempersiapkan chakranya untuk mengobatinya.

"Yamato-sensei?" tanya Sakura memastikan.

"Ya.. Si ero sanin itu menghilang entah kemana." Ucap Naruto kesal

"Naruto.. Tidak sopan berkata begitu pada senseimu." Ucap Sakura menasehati.

"Hah.. Hai.. Hai.." ucap Naruto mengalah.

"Sudah.." ucap Sakura selesai mengobati Naruto.

"Terima kasih Sakura-chan." Ucap Naruto dengan senyumnya.

"Sama-sama."

"Nee.. Sakura-chan.."

"Ya?"

"Bagaimana kalau ikut denganku? Ini sudah jam istirahatkan?" tanya Naruto memastikan.

"Kemana?" tanya Sakura bingung.

"Ayo makan denganku." Ajak Naruto dengan cengirannya.

"Ah.. Te.."

TOK TOK

"Sak.. Apa yang kau lakukan disini?"

"Harusnya aku yang bilang itu TEME!" hardik Naruto menatap pria berambut pantat ayam yang memasuki ruangan Sakura itu.

"Sasuke-kun? Apa terjadi sesuatu?" tanya Sakura menatap Sasuke yang sudah mengambil posisi duduk diantara Naruto dan Sakura.

"Kakashi menyuruhku kesini gara-gara ini." Ucap Sasuke menggulung lengan bajunya.

"Ara.. Apa yang terjadi?" tanya Sakura segera mengobati tangan Sasuke.

"Akibat berlatih dengan Kakashi. Dia sangat menyebalkan hari ini." Ucap Sasuke lagi.

"Ahahahahahaha.."

"Teme! Kenapa kau tidak minta bantuan perawat lain?!" hardik Naruto tidak suka.

"Memangnya kenapa? Kau bukan suaminya." Ucap Sasuke tajam.

"Kauuuu... Setelah ini akan ku..."

"Kau berani mengancam pengawas ujianmu huh?" ucap Sasuke dengan senyum sinisnya.

"A.. Apa?! Berhenti berbohong teme! Pengawas ujian tahun ini Temari dan Shikamaru."

"Mereka hanya mengawal di ujian pertama.. Ujian kedua yang menjadi pengawasnya adalah aku dan Sakura." Ucap Sasuke dengan senyum kemenangannya.

"Ungh... Sakura-chan... Kenapa kau tidak bilang hal ini padaku?" ucap Naruto menatap Sakura yang tengah memperban tangan Sasuke.

"Ahahahaha.. Gomen-gomen. Sudah.." ucap Sakura menjauhkan tangannya dari tangan Sasuke.

"Sudah selesaikan.. Ayo Sakura-chan." Ucap Naruto menggandeng tangan Sakura.

"Hoi dobe! Apa-apaan kau?" ucap Sasuke tidak suka.

"Memangnya kenapa? Sakura-chan juga tidak marah kenapa kau yang sewot?" tanya Naruto membuat Sasuke kaget.

"Ah.. Bagaimana kalau Sasuke-kun juga ikut makan bersama kami?" tawar Sakura.

"Baiklah kalau kau memaksa." Ucap Sasuke membuang mukanya.

"Cih! Dasar pengecut." Ucap Naruto dengan suara pelan.

"Kau bilang apa dobe?!" ucap Sasuke yang terpancing amarahnya.

"Hai.. Stop.. Cukup sampai disini.. Aku tidak mau mendengar kalian bertengkar." Ucap Sakura bosan.

-Sorenya-

"Huh? Apa ada yang pindah ke apartement kalian?" ucap Naruto melihat beberapa barang-barang yang berada di depan apartement itu.

"Humm.. Seingatku apartement ini sudah sangat penuh." Ucap Sakura mengingat-ingat.

"Ah.. Sakura-chan.. Waktunya tepat sekali." Ucap Sasori menatap Sakura yang berdiri didepan apartement bersama Naruto dan Sasuke.

"Apa terjadi sesuatu nii-chan?" tanya Sakura bingung.

"Hummm.. Tidak.. Tidak juga.. Ayo kita pulang." Ucap Sasori membuat bingung Sakura.

"Tapi nii-chan.. Aku sudah memutuskan untuk tidak meninggalkan Konoha dan kita sudah membicarakan tentang hal ini." Ucap Sakura membuat kaget Naruto dan Sasuke.

"Bukan bukan.. Sudah.. Ikut saja ya. Lagipula tidak sopan bila berdiri disini dan mengganggu tetangga baru Sasuke yang akan menempati apartement itu." Ucap Sasori menarik Sakura pergi.

"Kalian akan diam disana?" tanya Hana mengagetkan Naruto dan Sasuke.

"Maksudmu?" tanya Sasuke.

"Ikutlah."

"I.. Ini.."

"Selamat datang dirumah baru kita." Ucap Sasori dengan senyumnya saat mereka berdiri didepan sebuah rumah dengan pekarangan hijau yang cukup luas dan pagar batu dengan lambang Haruto di cat sepanjang tembok rumah itu.

"Ru.. Rumah baru?" tanya Sakura bingung.

"Ya.. Rumah brau.." ucap Sasori.

"Tapi.."

"Aku sudah memikirkannya. Kita tidak mungkin tinggal di apartement terus. Apalagi keadaannya sangat sempit." Ucap Sasori.

"Kita? Bukankah tidak lama lagi kita akan ke Suna?" tanya Hana bingung.

"Aaa.. Sepertinya kalian sudah berkumpul disini semua."

"Gaara nii-chan?"

"Kenapa sekaget itu Sakura? Akukan sudah berjanji untuk datang." Ucap Gaara mengusap kepala Sakura.

"Ayo ayo masuk.. Aku sudah menyiapkan banyak makanan didalam." Ucap Sasori mendorong semuanya memasuki rumah yang bisa dibilang cukup besar itu.

Mereka berbincang-bincang banyak. Hingga tanpa sadar matahari telah terbenam dan pembicaraan yang tadinya ringan berubah berat.

"Jadi.. Aku sudah menyiapkan rumah juga di Suna." Ucap Gaara saat mereka tengah berkumpul di ruang santai.

"Tapi bukankah rumah ini terlalu besar untuk aku tinggali sendiri?" ucap Sakura tiba-tiba.

"Hah.. Gaara.. Ada yang ingin aku bicarakan."

"Adaapa nii-chan?" tanya Gaara menatap Sasori serius.

"Hana akan pindah ke Suna benar? Dia akan menemanimu disana dan akan bekerja sebagai asistenmu." Ucap Sasori serius.

"Itu benar.. Aku sudah mengurus berkasnya." Ucap Gaara membenarkan.

"Aku rasa kalian berdua akan melakukan kerja yang hebat.. Aku tidak bisa membayangkan bila kita bertiga disana dan meninggalkan Sakura sendirian disini."

"Apa maksdumu nii-chan?" tanya Sakura bingung.

"Aku memutuskan untuk tinggal disini." Ucap Sasori mengagetkan semuanya.

"Tapi.. Kenapa?" tanya Hana kaget.

"Hana.. Tenangkan dirimu. Akukan sudah katakan alasannya.. Lagipula sebagai pemimpin clan aku tidak bisa meninggalkan clanku dan tinggal di suna." Ucap Sasori.

"Aku mengerti." Ucap Gaara tersenyum tipis.

"Lagipula.. Masih banyak berkas yang harus diuruskan.. Aku tidak bisa membiarkan Sakura mengerjakannya sendiri. Itu bukan sikap seorang pemimpin.. Jadi.. Aku putuskan untuk tinggal disini bersama Sakura. Dan aku paham kalau Gaara tidak dapat tinggal bersama-sama disini.. Tapi Gaara dan Hana bisa mengembangkan clan kita di Suna juga." Terang Sasori.

"Baiklah.. Aku paham. Hana.. Bagaimana? Apa kamu ingin merubah keputusanmu?" tanya Gaara menatap Hana yang terdiam.

"Tidak.. Aku akan tetap tinggal bersama nii-chan di Suna.." ucap Hana tersenyum.

"Baiklah.. Sudah diputuskan." Ucap Sasori bernafas lega.

"Baiklah.. Ayo bersulang untuk kepala clan Haruno yang baru." Ucap Naruto mencairkan suasana.

"Sakura?"

"Ah.. Aku keluar dulu." Ucap Sakura bangkit dari duduknya dan segera keluar dari rumah itu.

"Hana.. Jangan." Ucap Gaara menatap Hana yang akan mengejar Sakura keluar.

"Merasa kurang enak badan?"

"Ah.. Umm.. Tidak.. Aku hanya butuh udara segar, Naruto." Ucap Sakura menatap pria rambut kuning yang duduk disebelahnya memberikan segelah coklat hangat.

"Baguslah.. Aku tidak mau kau sampai sakit." Ucap Naruto dengan senyumnya.

"Kau terlalu baik, Naruto." Ucap Sakura tersenyum hambar.

"Hahahaha.. Tidak.. Itu tidak benar. Aku akan menjadi pendengar yang baik bila kau mau." Ucap Naruto membuat Sakura terkejut.

"Ah.. Apa terlalu kelihatan?" tanya Sakura lagi.

"Apa kau masih ada masalah dengan Hana? Seingatku kalian sudah berbaikankan?" ucap Naruto memastikan.

"Tidak.. Aku tidak ada masalah dengan Hana.. Aku hanya merasa sangat lelah belakangan ini. Seakan ingin kabur dan menghilang." Ucap Sakura pelan.

"Jangan lagi." Ucap Naruto serius.

"Huh?"

"Apa kau lupa kekacauan yang kau timbulkan saat menghilang dulu? Kau membuat panik Sasuke dan aku. Untung Sasuke berhasil menemukanmu dan menghentikan permainan petak umpetmu itu." Ucap Naruto mengingatkan Sakura pada kejadian saat mereka masih berusia 12 tahun itu.

"Ahahaha. Maafkan aku."

"Ah.. Aku tau.."

"Na.. Naruto?" Sakura yang kaget dipeluk tiba-tiba oleh pria rambut kuning itu tidak dapat berbuat banyak.

"Sudah lebih baik?" tanya Naruto masih memeluk Sakura.

"Aa... Umm.." ucap Sakura pelan menikmati pelukan hangat itu.

"Kalau kau membutuhkannya katakan saja Sakura-chan.. Aku akan dengan senang hati memelukmu begini." Ucap Naruto lagi.

"Ahahahahahaha. Tentu.."

"Uzumaki.. Aku tidak menyangka kau akan seberani ini."

"A.. Aa... Sa.. Sasori-san.. Maafkan aku." Dengan cepat Naruto melepaskan pelukan itu saat melihat tatapan membunuh Gaara dan Sasori serta Sasuke.

"Hah.. Sudahlah.. Sakura beristirahatlah. Besok pagi-pagi sekali ujiannya sudah dimulaikan?" ucap Sasori mengingatkan jadwal kegiatan Sakura besok.

"Ah.. Umm.." ucap Sakura bangkit dari duduknya.

"Sampai jumpa besok Sakura-chan." Ucap Naruto dengan senyum lebarnya.

"Umm.. Berjuanglah pada ujianmu besok." Ucap Sakura tersenyum dan berlalu pergi.

"Baiklah.. Ini sudah larut malam. Aku permisi pulang duluan." Ucap Sasuke bangkit dari duduknya.

"Umm.. Tentu." Ucap Sasori.

"Aku juga." Ucap Naruto cepat takut dibunuh oleh kakak beradik Haruno itu.

"Ya."

TBC