dangerouSHIRO present :

"Maple Love Story"

All chara own by SMent

This fanfic using MALExMALE story

So, if you DON'T LIKE that thing…

Make it simple!

DON'T READ my fanfic!

I DON'T NEED FLAMER OR BASHING!

( ¯ _ ¯!)

And if you don't like all pairing in this story,

Just GO AWAY!

XOXOX

Yesung berlari-lari di koridor SM Senior High-School untuk mengejar sosok Young Min, yang saat itu tengah menyeret Ryeowook. Tanpa berpikir panjang, Yesung berlari sekencang mungkin. Di belakangnya, Tuan Kim—ayah Yesung— juga tengah mengejar anak bungsunya itu, hingga terjadilah adegan kejar-mengejar diantara empat namja itu.

Ryeowook terus menolehkan kepalanya ke arah belakang, hanya untuk menatap sosok Yesung yang masih mengejarnya. "H─hyung..." Ryeowook menatap Yesung dengan matanya yang basah karena air mata. Tatapan namja mungil itu juga menyiratkan ketakutan, serta harapan untuk ditolong.

Yesung langsung mempercepat laju larinya, begitu ia melihat tatapan mata yang diperlihatkan oleh Ryeowook. Perasaan tak ingin kehilangan, kini kembali memenuhi dada Yesung. Namja tampan berkepala besar itu tidak ingin kehilangan lagi, ia tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai untuk kesekian kalinya. Sudah cukup bagi dirinya yang kehilangan adik laki-laki serta ibunya lima tahun lalu. Kini Yesung tak mau lagi merasakan hal tersebut, hanya karena ia tak mampu mempertahankan Ryeowook. Dan Yesung bertekad akan terus mempertahankan Ryeowook, tak perduli akan resiko yang harus ia hadapi nanti.

"Kim Jong Woon! Berhenti sekarang juga!"

Yesung memejamkan matanya begitu ia mendengar teriakan ayahnya di belakang sana. 'Aku benar-benar tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai lagi, Appa.' ucap Yesung dalam hati.

Yesung masih terus berlari mengejar Ryeowook di depan sana. Ia tulikan telinganya dari panggilan ayahnya sendiri, "Maafkan aku...Appa."

"KIM JONG WOON! KAU LEBIH MEMILIH ANAK ITU DARIPADA MENDENGARKAN AYAHMU SENDIRI?"

Langkah kaki Yesung langusng terhenti saat itu juga. Teriakan ayahnya tadi, sepertinya telak mengenai hatinya. Yesung berdiri diam di koridor yang sebentar lagi akan menghubungkannya dengan halaman depan SM Senior High-School. "Apa anak itu lebih penting dari ayahmu sendiri, Kim Jong Woon?"

"..."

"..."

Yesung menundukkan wajahnya, kedua tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memerah. "Cukup─" Yesung menghentikan kalimatnya, mencoba untuk meredakan emosinya terlebih dahulu, agar tidak langsung meledak-ledak. Namja tampan berkepala besar itu menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap sosok ayahnya. "─Appa. Bisakah kau membiarkan aku untuk memperjuangkan seseorang yang aku sayangi?" tanya Yesung.

"Jangan bodoh! Kau menyayangi seorang namja? Kau mau membuat ayah ma─"

Mata sipit Yesung menatap sosok ayahnya itu dengan tajam, "Membuat ayah apa? Malu?"

"..."

"Apa ayah malu, mempunyai dua orang putera yang sama-sama menyukai sesama jenis?" tantang Yesung. "Apa ayah malu, hingga ayah harus mengasingkan Jong Jin dari keluarga kita─" Yesung kembali menggantungkan kalimatnya lagi. Hatinya kini terasa sakit, ketika ia harus mengingat lagi tentang adiknya—tentang keluargnya—.

"─tak cukupkah ayah menyiksa Jong Jin? Tak cukupkah ayah melihatnya bunuh diri di panti rehab terkutuk itu?"

"..."

Kini Yesung tak mampu lagi menahan rasa sakit di dadanya. Ia juga tak mampu untuk berpura-pura bersikap tegar. Jujur saja, walaupun dirinya adalah seorang laki-laki, terkadang Yesung juga ingin menangis dan berteriak. "Tak cukupkah ayah melihat penderitaan ibu setelah ayah mengirim Jong Jin ke panti rehab itu? Tak cukupkah ibu─"

Yesung tak mampu berkata apapun lagi. Semuanya terlalu menyakitkan dan menyesakkan untuknya. Kini dengan sisa harga dirinya yang terakhir, Yesung berlutut di hadapan ayahnya. "Aku mohon Appa...biarkan aku mempertahankan orang yang aku sayangi." Mohon Yesung sembari mengatupkan kedua tangannya.

"J─jong Woon! Apa yang kau lakukan?"

Satu tetes air mata, mengalir tanpa hambatan dari kelopak mata Yesung yang terpejam. "Aku mohon, untuk kali ini saja..."

XOXOX

Young Min membuka pintu rumahnya dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi debaman yang cukup keras. "Bisakah kau diam, anak sial?" maki Young min ketika ia merasakan kalau Ryeowook masih meronta-ronta.

"Lepaskan aku Appa! Lepaskan!"

PLAK!

Karena emosi, Young Min akhirnya menampar Ryeowook hingga namja bertubuh mungil itu terhempas ke lantai dan membentur sebuah kaki meja. Ringisan sakit pun terdengar dari bibir mungil berwarna pucat milik Ryeowook. "Ssshhh...Appo."

"Kau akan dapatkan hal yang lebih menyakitkan, kalau kau tidak menuruti perkataanku anak sialan!"

Young Min menatap Ryeowook dengan tatapan jijik, "Harusnya aku menjualmu sejak dulu! Kau itu benar-benar makhluk pembawa sial!" hardik Young Min. Mendengar hardikan yang dilontarkan oleh ayah kandungnya sendiri, Ryeowook tak mampu untuk tidak menangis. Hatinya terlalu sakit saat ini.

Young Min menarik dagu Ryeowook, lalu menengadahkan wajah mungil anaknya itu dengan kasar. Mata Young Min menatap nyalang ke arah mata Ryeowook, "Setelah ini...aku akan menjualmu ke Jepang! Anak sepertimu pasti akan laku dengan harga yang tinggi disana." kata Young Min dengan seringai yang bermain-main di wajahnya.

Ryeowook menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras, begitu ia mendengar perkataan ayahnya. Perasaan takut yang teramat sangat, kini menyelimuti hati namja mungil berwajah polos itu. "J─jangan Appa! Aku mohon...jangan jual aku." Ryeowook mulai terisak.

"Aku akan menuruti apapun perkataan Appa. Aku akan melakukan apapun, asal jangan jual aku. Aku tidak mau di jual..."

Young Min tertawa. Ia jambak rambut Ryeowook secara tiba-tiba, hingga Ryeowook harus berteriak kesakitan karena ulah ayahnya itu. "Apa baru saja kau memohon padaku, Kim Ryeowook?"

"Hiks...Appo...lepaskan..."

Young Min mengarahkan kepala Ryeowook ke arah kakinya, "Ciumlah kakiku. Dan memohonlah sebanyak yang kau bisa!" desis Young Min dengan sebuah senyuman licik di wajahnya.

XOXOX

Seoul State Hospital, Loby...

Kangin mencoba mensejajarkan langkahnya dengan tempat tidur beroda milik Leeteuk. Tangan besar milik namja tersebut, tak pernah lepas untuk menggengam tangan kurus Leeteuk yang terasa dingin. Sejak di dalam mobil, Kangin tak mampu berpikir dengan jernih. Memang, dari luar dia terlihat tenang. Namun jangan samakan hal tersebut, dengan hati Kangin.

"Bertahanlah. Kumohon..." Kangin terus membisiki kalimat itu di telinga Leeteuk. Berharap kalau Leeteuk akan mendengarnya, meskipun hal tersebut sangatlah tidak mungkin.

Tak lama kemudian tempat tidur beroda itu berhenti di depan ruang isolasi. Para perawat khusus yang ada di sekitar ruang isolasi, langsung memindahkan tubuh Leeteuk ke atas ranjang lain yang telah disiapkan.

Kangin mencoba untuk mendekat, namun sepasang tangan mencegahnya untuk melakukan hal tersebut. "Tidak, Kangin-sshi."

"Kenapa Taeyeon-sshi? Aku ingin menemani Leeteuk. Kasihan dia, sendirian di dalam sana. Ia pasti butuh teman, dia pasti─" kata-kata Kangin langsung terhenti begitu ia melihat tatapan mata milik Taeyeon.

Perlahan-lahan, tubuh Kangin pun melemas dan jatuh ke lantai. Taeyeon menatap Kangin dengan tatapan miris, "Sebaiknya kau pulang Kangin-sshi. Sekolahmu pasti kacau karena kejadian-kejadian tadi." Taeyeon menepuk-nepuk pundak Kangin beberapa kali, lalu berbalik untuk pergi meninggalkan namja bertubuh tinggi besar itu.

"Berapa─" Kangin menatap punggung Taeyeon yang saat itu berdiri membelakanginya. "─berapa harapan hidupnya?" tanya Kangin.

"..."

"Taeyeon-sshi..."

Saat itu, Kangin dapat melihat bahwa punggung Taeyeon bergetar. 'Apa yeoja itu menangis? Tolong jangan katakan kalau harapannya sangatlah buruk. Tolong, jangan katakan─'

Taeyeon menghela nafas panjang, sebelum ia menjawab pertanyaan Kangin. Yeoja manis itu juga harus menguatkan dirinya sendiri. Ya, ia harus menguatkan dirinya sendiri dengan segala kemungkinan terburuk.

"Kurang dari dua puluh persen, Kangin-sshi."

XOXOX

Setelah kekacauan yang terjadi, kini Yunho dan Soo Man tengah berhadapan satu sama lain. Mereka saling memandang, dengan tatapan membunuh terbaik milik mereka sendiri. Lama bertatapan, akhirnya Soo Man mengulaskan sebuah senyum tipis yang terlihat sangatlah memuakkan di mata Yunho.

"Jadi, beginikah akhir dari kisah cinta yang kau harapakan Yunho-sshi?" tanya Soo Man.

"..."

"Akhir yang mengecewakan, ne?"

Soo Man membalikkan tubuhnya hanya untuk berjalan menuju kursi kerjanya. "Seperti perjanjian dalam permainan kita, Yunho-sshi. Kau─harus─angkat─kaki dari sekolah ini!" Soo Man memberikan penekanan pada tiap suku kata yang terlontar dari mulutnya.

Yunho masih memandang Soo Man dengan tajam. Diwajah tampannya, tak ditemukan sedikit pun ekspresi yang berarti. Sungguh, wajah seorang Jung Yunho sangatlah dingin saat ini.

"Ada yang ingin kau katakan, atau kau berikan padaku, Yunho-sshi?" tanya Soo Man, masih dengan senyum tipis meremehkan di bibirnya.

Yunho menghela nafas, "Baiklah. Saya kalah, Soo Man-sshi." kata Yunho. Namja tampan berwajah kecil itu merogoh saku celana bahannya, lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam sana. Yunho membawa amplop itu ke arah meja kerja Soo Man, "Ini adalah surat pengunduran diri saya."

Soo Man menatap amplop berwarna putih yang kini telah tergeletak manis di atas mejanya. "Dan ini," Yunho merentangkan sebuah lipatan kertas yang ada di genggaman tangannya. "Adalah kontrak kerja saya di sekolah ini." Yunho merobek kertas yang merupakan kontrak kerjanya dengan pihak SM Senior High-School, di depan mata seorang Lee Soo Man.

"..."

Dengan sebuah senyuman, Yunho melemparkan robekan-robekan kertas itu ke udara. "Saya tidak membutuhkan kontrak itu lagi." Kata Yunho dengan sebuah senyuman di bibirnya yang berbentuk hati.

Yunho dan Soo Man kembali saling melemparkan pandangan penuh benci. Namun akhirnya Yunho memilih untuk membalikkan tubuhnya, dan beranjak menuju pintu ruang kerja Lee Soo Man. Sebelum dirinya benar-benar pergi dari ruangan suram itu, Yunho menolehkan kepalanya lagi ke arah Soo Man. "Terima kasih...untuk semuanya Tuan Lee Soo Man." Yunho pun segera membuka pintu ruangan tersebut, lalu keluar dari dalam sana.

"..."

Sepeninggal Yunho dari ruangannya, Soo Man segera menyambar ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Dengan cekatan, namja paruh baya itu menginput nomor seseorang yang hendak ia hubungi.

Setelah terdengar nada sambung yang cukup lama, sampai akhirnya panggilan yang dilakukan Soo Man tersambung. "Ya. Jung Yunho telah keluar dari sekolah ini. Kalian harus memata-matainya setelah ia keluar dari gerbang sekolah. Cari tahu─"

"─kemana dia pergi, setelah ini." perintah Soo Man pada seseorang di line seberang.

XOXOX

Yunho menatap ke sekeliling kamar pribadinya, di asrama para guru SM Senior High-School. Matanya meneliti satu persatu setiap sudut kamar tersebut, berusaha melekatkan sebuah memori di otaknya sebelum ia benar-benar pergi. Yunho mengulas sebuah senyum tipis, 'Terlalu banyak kenangan di tempat ini...' pikir Yunho dalam hati.

Tak mau untuk berlama-lama di kamarnya, Yunho segera menenteng ransel serta koper kecilnya untuk di bawa keluar. Sebelum benar-benar pergi, Yunho kembali menolehkan pandangannya. "Aku pasti akan merindukan kamar ini." Yunho bermonolog.

Setelah merasa puas, Yunho pun segera melangkah menuju pintu. Jemarinya yang panjang dan kurus, terulur ke arah kenop pintu. Disentuhnya kenop tersebut, lalu dengan sekali gerakan memutar, pintu kamar itu pun terbuka.

Yunho mengamati pemandangan di sekitar asrama guru itu, lalu kembali tersenyum. "Maafkan aku Jae. Kali ini pun, aku gagal lagi..." gumam Yunho.

"Tak apa Yun. Kau sudah berusaha semampumu, terima kasih...untuk semua yang telah kau lakukan."

Yunho memejamkan matanya begitu ia merasakan embusan angin lembut yang menerpa wajahnya. Sejenak, Yunho tampak menikmati belaian angin itu. Namun Yunho langsung tersadar kalau ia harus cepat-cepat pergi.

Yunho pun keluar dari dalam kamarnya, "Tunggu aku Jae. Aku akan segera menemuimu di Rumah Sakit." kata Yunho sembari menutup pintu kamarnya kembali.

Dengan satu helaan nafas, Yunho berbalik untuk menatap ke arah koridor yang membentang di hadapannya. "Selamat tinggal..."

XOXOX

Yunho berjalan melewati koridor belakang, ia ingin menghindari koridor depan karena ia tahu kalau akan banyak anak muridnya disana. Yunho tidak ingin kepergiannya dari sekolah ini, menjadi sebuah drama yang klasik dengan air mata dimana-mana. Oh, sungguh bukan tipe dari seorang Jung Yunho.

Dengan langkah pasti, Yunho pun meniti tiap langkahnya di koridor halaman belakang. Sesekali, namja tampan itu melirik ke arah pohon-pohon maple yang daunnya berguguran dan terbang terbawa angin.

Yunho tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sepertinya ia tergoda dengan pesona cokelat kemerahan yang di tawarkan oleh daun-daun maple di sepanjang jalan. Yunho pun tergoda untuk masuk ke dalam memori lamanya, yaitu menikmati terpaan daun-daun maple yang berguguran...dibawah pohon maple itu sendiri.

Yunho pun akhirnya memilih untuk melepaskan ransel yang tergendong di pundaknya, lalu meletakkan ransel tersebut ke lantai bersama sebuah koper kecil disana. Yunho segera berlari-lari kecil, kearah sebuah pohon maple. Pohon maple yang menyimpan kenangan indah untuknya, pohon maple...yang menjadi tempat pertemuan pertamanya dengan seorang Lee Jaejoong, istrinya sendiri.

Yunho memejamkan matanya, mencoba menikmati angin yang berembus pelan. Terkadang ia juga menikmati sensasi saat daun-daun maple berguguran ke atas kepalanya, atau wajahnya. 'Aku pasti akan merindukan saat-saat seperti ini. Jae, andai kita bisa menghabiskan waktu kita berdua sekali lagi disini...pasti sangat indah.' ucap Yunho dalam hati.

Nagareru kisetsu no mannaka de...

Yunho segera membuka matanya begitu ia mendengar sebuah nyanyian dari arah koridor. Dan betapa terkejutnya Yunho, begitu ia melihat beberapa dari anak muridnya tengah berdiri di bawah atap koridor. Tampak disana sosok Lee Donghae, Lee Hyukjae, Lee Jinki, Kim Keybum, Lee Taemin, dan beberapa anak yang namanya tak bisa Yunho ingat. Beberapa dari anak-anak yang tadi dikenali oleh Yunho, maju ke pinggir halaman lalu membuat sebuah barisan.

"Hei anak-anak, kenapa kalian ada disini? Masuk ke asrama, dan─"

Futo hi no nagasa wo kanji masu...

Sewashiku sugiru hibi no naka ni.

Watashi to anata de, yume wo egaku.

Kata-kata Yunho tertelan begitu saja ketika ia mendengar lantunan koor dari anak-anak muridnya itu. Lantunan indah sebuah lagu berbahasa Jepang, yang mempunyai makna sangat dalam. Yunho tersenyum ke arah murid-muridnya itu, "Sangatsu no kaze ni omoi wo nosete. Sakura no tsubomi wa, haru he to tsuduki masu..." Yunho pun ikut menyenandungkan lirik lagu tersebut dengan mata yang tiba-tiba terasa panas. Yunho merasa terharu dengan perlakuan yang diberikan oleh murid-muridnya, hingga ia tak mampu untuk tidak menangis.

Dengan mata musangnya, Yunho bisa menatap bahwa anak-anak muridnya tengah menggenggam sesuatu di tangan mereka. "Seonsangnim!" Taemin, salah satu dari anak kelas satu yang berbakat dalam hal menari, melangkah maju untuk bisa sedikit lebih dekat dengan sosok seonsangnim tampannya. "Kami membuat ulang ungkapan cinta di daun maple ini! Kami tidak akan memberikan daun maple ini kepada orang yang kami cintai."

"..."

Taemin menerbangkan daun maple di tangannya ke arah Ynho. Membiarkan angin yang ada, memberikannya kepada sosok Yunho disana. "Kami semua akan memberikan ungkapan cinta dan hormat kami padamu lewat daun maple ini, seonsangnim!" seru Taemin. Dan serentak setelah seruan Taemin terdengar, ratusan namja yang memenuhi koridor pun langsung berebutan ke pinggir taman untuk menerbangkan daun-daun maple mereka.

"Bacalah seonsangnim..."

"Jangan lupakan kami meskipun seonsangnim tidak mengajar kami lagi."

"Hidup dengan baik ya seonsangnim..."

"Terima kasih karena telah mengajarkan kami banyak hal!"

Begitulah, satu-persatu dari ratusan namja beralmameter biru itu meneriaki pesan terakhir mereka kepada Yunho. Mendengar pesan-pesan dari murid-muridnya, Yunho pun tak dapat lagi menahan air mata harunya.

Afuredasu,

Hikari no tsubu ga...

Sukoshi zutsu...

Asa wo, atatame masu...

Yunho berjalan mendekat ke arah para muridnya. Namja tampan itu langsung memeluk Taemin dengan erat, "Hontou na...arigatou gozaimasu." Bisik Yunho di telinga Taemin. Tak berapa lama, satu-persatu dari ratusan namja beralmameter bitu itu mendekat ke arah Yunho dan Taemin, dan langsung berpelukan untuk terakhir kalinya.

'Jae, aku tidak kalah. Disini...masih ada cinta yang lebih berharga, dibandingkan cinta antar sepasang kekasih.'

...

.

...

'Akhirnya kau mengerti, apa arti cinta yang sebenarnya. Iya kan Yun?'

Ookinaa kubi wo shita ato ni...

Sukoshi tereteru, anata no yoko de.

Anata na sekai no...

Iriguchi ni tachi.

Kiduita koto wa,

Hitori ja naitte koto.

Tanpa Yunho dan para murid SM Senior High-School sadari, dari sebuah kaca di gedung kepala sekolah, ada sepasang mata yang mengamati ke-haruan itu dengan wajah dinginnya. "Kau salah Jung Yunho. Sebenarnya, aku telah kalah darimu..."

Hitomi wo tojireba anata ga...

Mabuta no ura ni itu koto de.

Dore hodo tsuyoku nareta deshou.

Anata ni totte watashi mo,

Sou de...

Aritai!

XOXOX

"Kami telah mengikuti Jung Yunho, Tuan."

"Lalu?"

"Dia sekarang berada di Rumah Sakit Seoul."

"Apa dia sakit?"

"Hmm...sepertinya bukan Jung Yunho yang sakit Tuan."

"..."

"Di papan pasien, tertulis...Jung Jaejoong."

T B C

Oke!

Chapter depan adalah klimaks dari semua masalah di setiap tokoh.

Sengaja MinKyu ga saya munculin di chapter ini.

Buat chapter depan aja ya.

*ditampar ChangKyu shipper*

Well,

Saya mau ucapin terima kasih buat readers, ataupun silent readers yang masih setia membaca fanfic ini.

Yang udah ngefave juga.

Terima kasih...

Saya cinta kalian semua!

*kecupin satu persatu*

Maaf, saya ga pernah bales reveiw yang masuk.

Tapi sungguh,

Review kalian adalah semangat buat saya.

Saya baca satu persatu review kalian...

Apalagi kalau ada review yang menunjukkan dimana letak kesalahan saya dalam fanfic ini.

Saya senang^^

Jadi,

Jangan takut buat review ya...

Meskipun saya ga pernah bales reveiw kalian satu-persatu seperti kebanyakan author.

Ah!

Saya lupa...

Bagi kalian yang merasa KangTeuk ato ChangKyu shipper,

Maukah kalian menjadi adik saya?

Saya lagi buat kelompok KangTeuk siblings dan ChangKyu siblings looh...

Kalau mau ikutan,

PM. Oke?

*liat author note sendiri*

Hehehe...x3

Sepertinya AN saya kebanyakan ya.

Oke,

Tanpa banyak omong lagi..

Mind to leave me some review?

But, PLEASE BE POLITE!