Unexceptionable
Disclaimer: It's sad, but I just own the plot
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi.
A/N: Inspired from "Dangerous Twin" written by aninkyuelf
.
.
Enjoy!
.
.
Naruto mengerutkan dahi, tatapannya masih mengarah pada cermin yang memantulkan bayangannya dengan jelas. Sejak kapan ia menyukai pakaian serba hitam seperti ini? Dan... sejak kapan ia senang menata rambutnya?
Sang Uzumaki yakin ia tidak melakukan apapun sebelum tidur kemarin malam, ia juga yakin ia mengenakan piyama, bukan pakaian bepergian seperti yang menempel di tubuhnya saat ini.
Naruto menarik napas panjang, berusaha menghindari sakit kepala yang pasti akan ia dapatkan kalau terus memikirkan keanehan yang sedang ia alami. Ia menarik napas panjang dan memutuskan untuk keluar dari kamar. Hari ini memang tidak ada kegiatan penting selain datang ke kampus untuk berkonsultasi dengan Kakashi mengenai sidang skripsi yang terpaksa ia undur karena sakit beberapa minggu yang lalu.
Sejujurnya pemuda pirang ini tidak tahu penyakit apa yang diidapnya, tapi menurut Tsunade, wanita yang sudah menjadi dokternya sejak kecil, ia tidak boleh mengalami kelelahan dan stress yang berlebihan.
Ia sudah berusaha bertanya kepada sang dokter mengenai detail penyakitnya, tapi wanita cantik itu tidak pernah mau membuka mulut. Tsunade selalu berkata bahwa akan lebih baik jika ia tidak mengetahui penyakitnya dan Naruto tidak bisa untuk tidak menyetujui ucapan mantan dosen kedua orang tuanya itu. Toh kalaupun ia tahu apa yang sedang terjadi padanya, mungkin ia tidak akan mengerti bagaimana cara untuk mengobati dirinya sendiri.
"Teme?"
Sepasang mata beriris biru itu kini mengarah pada sosok yang tertidur dengan posisi meringkuk di sofanya. Ia tidak tahu bagaimana bisa Sasuke masuk ke apartemennya karena walaupun mereka sudah menjadi sepasang kekasih, pemuda bermarga Uchiha itu selalu menolak jika ia hendak memberikan kunci duplikat tempat tinggalnya ini.
"Bodoh," cetusnya kesal ketika menyadari bahwa dahi pemuda yang terlelap di sofanya itu terasa panas. Sasuke memang bukan orang yang mudah sakit, tapi bagaimana bisa dia tidak terkena demam jika dia tidur tanpa selimut di suhu ruangan yang cukup rendah seperti ini?
Tanpa ragu Naruto mengubah posisi tubuh sang Uchiha ke posisi duduk. Ia mengabaikan erangan protes yang diterimanya dan berusaha menggendong si pemilik rambut raven di punggungnya.
"Kau seharusnya membangunkanku, Teme. Kalaupun kau tidak membangunkanku, tidak seharusnya kau tidur sembarangan seperti itu. Kau kan bisa tidur bersamaku."
"Dan membiarkanmu melakukan sesuatu padaku, hn? Tidak, terimakasih."
Naruto melepaskan tawa saat mendengar gumaman pemilik iris mata oniks yang kini sudah ia baringkan di atas tempat tidurnya. Kini matanya mengarah lurus kepada mata sang lawan bicara yang masih digelayuti rasa kantuk.
"Lagipula apa yang kau lakukan di apartemenku dan bagaimana kau bisa masuk?" tanya Naruto sembari menyelimuti tubuh Sasuke yang menggigil pelan.
"Aku terlambat kembali ke asrama, Neji memberikan kunci duplikat apartemenmu padaku setelah menendangku keluar dari kediamannya." Sasuke tidak pernah berhenti bersyukur dengan kemampuan berbohongnya yang sangat baik di saat-saat terjepit seperti ini.
"Kau datang ke tempat Neji untuk menginap?" Naruto menaikkan alis. "Kenapa kau tidak pulang ke rumahmu?"
Sasuke menarik napas lega setelah mulai merasa hangat karena Naruto berhasil menutupi hampir semua bagian tubuhnya—kecuali kepala—dengan selimut yang cukup tebal.
"Hubunganku dengan Itachi memburuk dan satu-satunya nama yang muncul di kepalaku semalam adalah Neji. Tapi dia malah mengusirku dan menyuruhku untuk menginap di sini."
Naruto menatap sepasang mata oniks yang kini tersembunyi dibalik kelopak mata sang Uchiha muda. Sasuke memang pernah bercerita kalau hubungannya dengan Itachi berbeda dengan hubungan yang dimiliki kakak-adik pada umumnya.
Setelah mereka memutuskan untuk menjalin hubungan, Sasuke menceritakan semua yang terjadi ketika ia menjaga jarak dari Naruto. Bagaimana Itachi menasehatinya, bagaimana hampir semua anggota klub drama memojokkannya, dan bagaimana Neji 'menampar'nya dengan sukses.
Naruto tahu bagaimana Sasuke berusaha untuk membuka diri sebisa mungkin kepadanya karena pemuda yang beberapa senti lebih pendek darinya itu tidak ingin dirinya berpikiran macam-macam. Naruto yakin Neji pasti sudah memberitahu kekasihnya ini mengenai pemikiran liar yang kadang ia miliki terhadap sesuatu.
"Dobe."
Sang Uzumaki kembali menatap lawan bicaranya yang terlihat berusaha untuk membuka matanya lebar-lebar.
"Berhenti berpikir dan jangan membuatku khawatir," lanjutnya yang diikuti helaan napas pajang.
Naruto menaikkan alis. Kenapa Sasuke menghkawatirkannya? Dengan kondisi tubuh yang seperti ini, bukankah seharusnya Sasuke mengkhawatirkan dirinya sendiri? Naruto mengerlingkan mata dan bangun dari duduknya untuk mengacak pelan puncak kepala sang Uchiha.
"Istirahatlah. Aku harus pergi ke minimarket untuk membeli obat penurun demam untukmu dan kurasa aku juga harus membuatkanmu bubur. Jangan lakukan apapun, mengerti?"
Setelah mendapatkan balasan berupa anggukkan kecil, putra tunggal keluarga Namikaze-Uzumaki itu memutuskan untuk membersihkan diri sebelum melakukan apa yang dikatakannya kepada sang Uchiha.
.
-0-
.
Naruto menggelengkan kepala melihat sosok yang duduk dengan tubuh berbalut selimut di sofanya. Ia melepaskan sepatu dan melangkah mendekati pemuda yang hanya ia tinggalkan selama lima belas menit di apartemennya itu.
"Bukankah aku memintamu untuk tidak melakukan apapun, Teme?" tanyanya dengan alis terangkat. Ia mengerutkan dahi saat Sasuke mengangkat kepala dan melemparkan tatapan malas padanya.
Tanpa ragu si pemuda pirang membungkukkan tubuh dan menempelkan dahinya ke dahi pemuda yang masih belum membuka mulut, hanya untuk merasakan bagaimana suhu tubuh sang kekasih masih lebih tinggi dari suhu tubuhnya sendiri.
"Jangan."
Sang Uzumaki kembali menaikkan alis saat sebelah tangan Sasuke menahan pergelangan tangannya, memberikan tanda agar ia tidak menjauhkan diri.
"Sebesar apapun keinginanku untuk terus menempel denganmu, saat ini aku harus membuat bubur dan menyiapkan obat untukmu, Teme," tuturnya sembari menjauhkan diri dari jangkauan sang Uchiha.
Naruto melepaskan tawa pelan dan mengacak puncak kepala Sasuke ketika melihat bagaimana sepasang mata sayu dengan iris oniks itu berusaha melemparkan tatapan tajam padanya. Ia segera melangkah ke arah dapur minimalis miliknya dan melakukan apa yang sudah ia katakan kepada pemuda berkulit pucat yang sudah kembali memfokuskan diri ke layar televisi.
"Kau sudah menghubungi kakakmu?" teriak Naruto dari dapur.
"Hn."
"Apa arti 'Hn'-mu itu? Aku masih belum bisa membedakan makna kata favoritmu, Teme."
"Belum."
"Huh? Aku tahu kalian sedang bertengkar, tapi kurasa dia pasti mencemaskanmu. Sebaiknya kau menghubunginya sebelum dia menelpon polisi dan mengabarkan kalau dia kehilangan adiknya."
Sasuke mengerlingkan mata bosan dan mengganti channel televisi, mencari program tontonan yang bisa menghilangkan rasa jenuhnya. Pada akhirnya ia memilih untuk mematikan televisi dan memainkan game di ponselnya. Suara-suara yang dihasilkan Naruto di dapur entah kenapa cukup untuk membuatnya merasa tenang.
Sebenarnya Sasuke cukup terkejut saat menyadari bahwa ia jatuh sakit karena seingatnya ia termasuk orang yang memiliki imunitas yang sangat baik. Tapi mungkin, mungkin, semua hal yang dihadapinya akhir-akhir ini berhasil membuat pikirannya tertekan sehingga menyebabkan kesehatannya menurun. Sasuke memang tidak pernah bisa mengendalikan diri kalau ada hal yang berhasil mengacaukan kepalanya.
"Apa perlu aku yang menghubunginya untukmu?" tanya Naruto sembari meletakkan nampan di tangannya ke atas meja dan duduk di samping si pemuda berambut raven.
Sasuke menegakkan tubuh dan menerima mangkuk yang disodorkan padanya dan mulai makan dengan perlahan. Walaupun lidahnya tidak bisa merasakan apapun kecuali rasa pahit, ia tahu ia akan terasa jauh lebih baik jika ia tetap memberikan asupan nutrisi dan energi yang cukup pada tubuhnya.
Naruto menaikkan alis ketika sisi tubuhnya terasa berat dan menggelengkan kepala melihat bagaimana Sasuke menikmati sarapan dengan tubuh yang bersandar padanya. Ia memutuskan untuk mengangkat sebelah lengan dan melingkarkannya di bahu sang Uchiha sebelum meraih remot dan mencari acara televisi yang menarik perhatian.
"Kali ini apa yang terjadi pada kalian? Apa kau melakukan sesuatu yang bodoh sampai-sampai Itachi hilang akal dan marah padamu?" tanya Naruto setelah memutuskan untuk menonton salah satu acara musik.
"Apa yang membutmu berpikir kalau akulah yang melakukan hal yang bodoh dan bukan dia, Dobe?"
Naruto melirik sisi wajah kekasihnya sebelum kembali memfokuskan pandangan pada video musik yang sedang ditayangkan.
"Karena setahuku Itachi bukan orang yang sering melakukan hal bodoh, tentu saja."
Sasuke kembali mengerlingkan mata mendengar penuturan lawan bicaranya. Apa yang dikatakan Naruto memang benar, tapi untuk kali ini penilaian itu sama sekali tidak tepat.
"Itachi mengetahui hubungan kita."
Kali ini Naruto menolehkan kepala dan memberikan perhatian penuh pada pemuda yang sudah menghabiskan isi mangkuknya.
"Aku tahu dia pernah menyukaimu, tapi semenjak dia menerima pertunangannya dengan Shion, kupikir dia sudah tidak memiliki perasaan itu lagi padamu. Semua tuduhan yang dia tujukan benar-benar memicu kekesalanku. Aku tahu apa yang pernah kulakukan padamu dan aku tahu orang yang sudah berlaku kasar sepertiku tidak pantas untuk menjadi kekasihmu, tapi aku tidak menyangka dia akan mengatakan semua hal itu padaku. Dengan nada seperti itu. Dengan kemarahan sebesar itu. Dengan sangat menyakitkan seperti itu."
"Dan kau akhirnya kehilangan kesabaran."
Sasuke menarik napas panjang dan menganggukkan kepala, membenarkan lanjutan ucapan yang diberikan Naruto.
Sesabar apapun seorang Uchiha Sasuke, ia tidak pernah bisa tahan jika sudah dihadapakan dengan bentuk tuduhan negatif dalam bentuk apapun—terlebih jika tuduhan itu dilontarkan oleh kakaknya sendiri. Orang yang paling ia percaya di dunia ini.
Naruto meraih mangkuk di pangkuan sang Uchiha dan kembali meletakkannya di atas nampan. Ia meraih gelas dan dua butir obat yang sudah ia siapkan. Senyum tipis terulas di wajahnya saat Sasuke meminum obatnya dan meneguk habis isi gelas.
"Aku tidak tahu apa komentar yang harus kuberikan dalam masalah ini, Teme, karena secara tidak langsung aku adalah orang yang sudah membuat hubungan kalian memburuk. Tapi kurasa dia hanya mengkhawatirkanmu."
Sasuke mendengus pelan dan menggelengkan kepala, menyalahkan ucapan Naruto. Kalaupun ada yang dikhawatirkan Itachi, orang itu bukan dirinya, melainkan sosok yang duduk tepat di sampingnya ini. Dari semua perkataan yang dilontarkan sang Uchiha sulung, Sasuke yakin benar sosok yang ada di kepala lelaki itu bukanlah dirinya.
"Lalu apa yang kau katakan sebagai balasan semua ucapan kakakmu?"
Sasuke menghela napas dan menutupi sisi wajahnya dengan sebelah tangan. Ia melipat kedua kakinya di depan dada dan memeluknya erat sembari menumpukan dahinya di atas lutut.
"Aku mengatakan hal terbodoh yang tidak seharusnya kukatakan," ungkapnya dengan nada berat. "Semarah apapun aku kepada Itachi, tidak seharusnya aku mengatakan semua yang kukatakan saat itu. I fucked everything up."
Naruto melemparkan tatapan teduh dan memutuskan untuk melingkarkan kedua lengannya ke bahu Sasuke, membawa tubuh Uchiha muda itu ke pelukannya. Hanya disaat-saat tertentu seperti ini ia bisa melihat kondisi Sasuke yang sebenarnya; kondisi Sasuke sebagai seorang remaja yang jauh dari kata kuat seperti yang biasa pemuda ini perlihatkan di hadapan orang banyak.
Tidak banyak orang yang memiliki kesempatan untuk melihat sisi lain dari Sasuke yang seperti ini dan Naruto tentu merasa beruntung karena mengetahui hal yang tidak diketahui banyak orang mengenai juniornya ini.
"Itachi melakukan banyak hal bodoh untukku dan tidak sepantasnya aku menyalahkan semua hal yang dia lakukan," ucap Sasuke yang masih dengan posisi meringkuknya.
Naruto mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepala Sasuke di sisi bahunya, berusaha memberikan kenyamanan yang dibutuhkan sang lawan bicara.
"Aku merebut perhatian kedua orang tuaku darinya. Sekeras apapun niisan berusaha untuk membanggakan mereka, chichi dan haha tetap memperhatikanku. Itachi melakukan banyak hal untuk membuat mereka memperhatikannya—menjadi juara kelas, mengikuti dan memenangkan berbagai perlombaan—tapi mereka tetap tidak menganggap keberhasilan itu."
Naruto menenggelamkan wajahnya di puncak kepala Sasuke, pelukannya mengerat dengan sendirinya.
"Aku merebut semua hal yang dia inginkan—kemenangannya di turnamen kendo, kau, dan kebebasannya dari tanggung jawab untuk menikahi Shion."
Kali ini Naruto membuka matanya yang sejak tadi terpejam.
"Aku mendapatkan semua yang tidak seharusnya kudapatkan hanya karena kedua orang tuaku lebih memilih untuk membebankan semua hal pada niisan. Hanya karena mereka lebih menyayangiku. Hanya karena aku adalah 'anak emas' yang selalu mereka elu-elukan. Hanya karena—"
"Sasuke."
Sang Uzumaki mengulaskan senyum tipis saat mendengar isakan yang berhasil terselip dari bibir sang Uchiha. Ia mengulurkan tangan, melepaskan lingkaran tangan Sasuke di kakinya dan menuntun pemuda itu untuk menggenggam tangannya. Naruto kembali tersenyum saat ia merasakan sebelah tangan Sasuke yang lain dengan ragu melingkar di pinggangnya dan membawa tubuh mereka makin merapat.
Uchiha Sasuke bukan orang yang lemah, tapi ia juga bukan orang yang bisa mengabaikan semua kekesalan yang sudah ditumpuknya setelah sekian lama.
Uchiha Sasuke bukan orang yang cengeng, tapi ia juga bukan orang yang bisa terus menahan emosi ketika ada orang yang menunjukkan perhatian padanya seperti yang dilakukan Naruto sekarang.
Uchiha Sasuke bukan orang yang menyedihkan, tapi ia tidak bisa memikirkan kata lain yang lebih pantas dari itu saat ia menyadari bagaimana ia merasa sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari perasaan nyaman dan tenang yang ditawarkan si pemuda pirang.
Uchiha Sasuke bukan orang yang mudah jatuh cinta, tapi ia tidak bisa meneruskan pelariannya dari perasaan yang sudah ia miliki sejak beberapa bulan setelah perkenalannya dengan sang Uzumaki.
Uchiha Sasuke bukan orang yang munafik, dan karena itulah ia memutuskan untuk tidak lagi menyembunyikan perasaannya terhadap seorang pemuda bernama Uzumaki Naruto. Ia memutuskan untuk tidak lagi mempedulikan orang lain yang memiliki perasaan yang sama dengannya terhadap si pemuda pirang. Ia memutuskan untuk melakukan semuanya dengan benar—untuk menjadi kekasih Uzumaki Naruto sebaik yang bisa ia lakukan.
.
.
TBC
.
.
Review Reply:
.
.
Kicchan: Udah mulai masuk ke inti, tapi kayaknya masih jauh ke akhir (-_-) Terima kasih sudah menunggu~ ^^
Kirie: merinding? (O.O) Sekarang udah tau kan Sasuke suka sama siapa ^^
Makki chaan: whoa, whoa, review beruntun! :D Apa sekarang udah ngerti maksud Sasuke? Pertanyaan yang lain pasti kejawab di chapter-chapter selanjutnya ^^
