Makasih banyak buat yang udah nyempetin review :D

#megumichan: hooo gitu toh, uke uke :) lain kali ore ganti, makasih sarannya ya… btw ufufufu iya dong sasu pindah karena tau apa yg terjadi sama ayangnya XD ikutin ceritanya kalo penasaran kekeke btw sankyuu buat read and reviewnya ya :D

#sas'key: wekekeke jadi gemes sendiri baca antusiasnya anata XD iya nak ini lanjut kok, ikutin ceritanya ya hehehe btw makasih banyak read reviewnya :D

#Elan: ufufu pastinya lah sasu pindah tuh buat lindungin naruto umumumumu XD dan sepertinya beberapa chapter lagi tamat kok, santai aja :) and updatenya tuh dua kali dalam sebulan. Makasih banyak read reviewnya ya :D

#himawari wia: uwaahh semoga jaringannya cepet bener nak XD bales lewat sini lagi ya hehe. Wkwkwkwkwk kalo ada nominasi nih, author bakal nominasiin review anata kali ini buat jadi yang tergreget XD #mesam mesem sendiri bacanya, puas dah #plak dess! Makasih banyak read reviewnya ya, ini update sesuai jadwal kok, Cuma malem krn lupaaa XD siang harusnya bisa update padahal uhuhu #tidur kekeke

#snlovers: iyaaa karena chap kemaren udah panjang jadi ini pendek XD #baca: udah mentok ide nya wkwkwkwk# ufufufu iya dong si abang pindah demi naru-chan XD makasih banyak read reviewnya ya :D dan semoga chap kali ini bisa mengobati kangennya drimu karena kmaren gak ada sasuke XD

#maiolibel: iya kan ngerti kan emang gitu kan? :'D itu berharga banget buat naru uhuhuhu dan tenang saja, adegan gore akan muncul disini wkwkwkwk btw makasih banyak read reviewnya ya :D

#onyxsafireFL: hohoho kalau begitu silahkan baca kelanjutannya kalo penasaran XD and author punya wattpad, tapi nggak pernah diurus akun nya XD lebih sering nongkrong di ffn hehe and sankyuu banyak ya atas read and reviewnya :D

#tora-chan: ufufufu itu masih misteri nak, bakal dikuak di chapter terakhir XD untuk sementara bisa diisi sendiri titik-titiknya #plaak# iya lah, demi naru apa sih yg gak sasu lakuin XD jadi dibela-belain pastinya…btw makasih banyak semangatnya, makasih juga read reviewnya :D

#Neko-Chan: ufufufu tenang saja nak, sasu bakal balas dendam wakakakaka #ketawa setan# btw makasih banyak read and reviewnya ya :D

#arashilovesn: kukuku pemikirannya sama yak, tapi lihatlah kejutan nya nanti muahahaha btw makasih banyak semangatnya ya :D makasih juga read reviewnya, ini lanjut ;)

#Guest: ukukuku tenang saja, baka ditebas abis kok sama sasuke XD btw makasih banyak read and reviewnya ya :D

#Kuro SNL: hehehe cewek mah gitu #author ikutan XD #plaak# iyaaa dong kan demi pacar kekekeke btw makasih banyak read reviewnya :D ini lanjut

#sukasn: hohoho menurut anata gimana hayooo XD dan iya dong, sasu pindah. Biar naru gak teruka lagi eeaaaa XD btw makasih banyak read reviwnya ya :D

#ayame: makasih banyak apresiasinya ^0^ makasih juga semangat, read and reviewnya ya…ini lanjut kok

#D: iya, sasuke tahu makanya dia pindah :) btw makasih banyak read and reviewnya ya…ini lanjut

#negisama: ohohoho iya dong abang sasu tahu, makanya dia pindah XD iya nak, ini niatnya mau bikin trilogy sih (kalo jadi) -) lha, ini sasu nya dinistain gimana bang? XD uwooh lagi PKL ato apa kah kok diluar kota? #kepo deh thor# XD btw makasih banyak read reviewnya ya, krn gak log in dibales lewat sini gak papa kan hehe semangat dengan kegiatan apapun nya ya… XD

#Guest: hohoho makasih banyak epresiasinya XD ini lanjut kok, silahkan membaca XD makasih banyak buat semangat, read and reviewnya ya…

#beplie: uwaaahh begitukah X'D jadi terharu nih #serius# makasih banyak apresiasinya ya…makasih juga buat semangat, read an reviewnya :D

.

Buat yang udah log in bales lewat PM ya: Lusy922, Yerin1106, Vilan616, Hime-UzumakieyResty, ithacollitha15, Dewi15, choikim1310, Hany Hyuuga, uzumaki megami, saniwa satutigapuluh, versetta, Jonah Kim, Suzuki Sora, liaajahfujo, Sharyn Li, michhazz, deshitiachan, Jasmine DaisynoYuki, Hamano Hiruka, Habibah794, UchiKaze Ammy, Classical Violin, kusuma. lya, Scarlet Lim, Shafiosia Prakasa, viskanurkhofifah, Shean Ren31, redclumsy242, riri8894, depdeph and yuukinyan14121.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 21: Solved

.

.

.

Gadis itu berjalan di kegelapan malam, langkahnya terlihat gelisah karena ia melihat ke belakang berkali-kali. Ia merasa ada yang mengikuti. Hingga saat berbelok tiba-tiba ia menabrak seseorang.

"Ahhh!" jeritnya dan terjatuh. "Ittai…"

"Kau tidak apa-apa?" suara seorang cowok. Gadis itu mendongak menatap cowok yang tengah mengulurkan tangan padanya itu. "Maaf, aku tidak sengaja," ucap cowok itu.

"Sa-Sasuke-kun…" gadis itu memanggil nama cowok tersebut dan berdiri dengan bantuan cowok yang ia panggil Sasuke itu.

"Kenapa sendirian? Ini sudah malam loh."

"I-iya, tadi aku dari rumah teman."

"Biar kuantar. Anggap saja sebagai permintaan maafku sudah menabrakmu."

Gadis itu tersenyum senang dan mengangguk.

"Tapi apa tidak apa-apa mampir ke tempatku dulu? Tadinya aku mau ke convenience store tapi ternyata dompetku tertinggal," ucap Sasuke.

"Ke-ke-ke tempat Sasuke-kun?" wajah gadis itu memerah.

"Kau keberatan?" Sasuke berwajah sedih. Gadis itu menggeleng keras.

"Sama sekali tidak, aku malah senang," jawab si gadis. Iapun mengikuti langkah Sasuke menuju sebuah apartement. Keadaan apartement gelap saat mereka masuk.

"Kau bisa tunggu di kamarku, aku mau mengambil sesuatu dulu di kamar mandi," ucap Sasuke dan menunjuk sebuah kamar tertutup.

"Iya," angguk gadis itu dan menghampiri pintu itu sementara Sasuke pergi ke ruang lainnya. Dengan berdebar gadis itu membuka pintu kamar, ia sudah tersenyum gembira membayangkan apa yang akan dilakukan Sasuke nanti di dalam sana. Tapi tiba-tiba senyumnya lenyap begitu ia membuka pintu kamar.

Di sana, di dalam kamar, begitu banyak tubuh wanita berserakan. Tubuh tanpa kepala, potongan tangan, kaki, dan kepala gadis yang digantung dengan mata melotot. Seluruh dinding dan lantai kamar dibanjiri oleh darah.

"Kyyyaaaaaaaaaaaa…!" jerit gadis itu, ia mundur dan terjatuh.

"Ada apa?" Sasuke menghampiri. Gadis itu makin ketakutan saat melihat sebuah gergaji di tangan Sasuke.

"Sa-Sasuke-kun…" ucap si gadis dengan suara bergetar.

"Ada apa?" ulang Sasuke. Ia lalu melihat ke arah kamar dan tersenyum melihat mayat-mayat itu. "Oh, itu," ucap Sasuke. "Itu teman-temanmu loh. Aku hanya membalas perbuatan mereka pada pacarku Naruto. Terus kudengar kau juga ikutan membully nya ya? Jadi aku berniat menjadikanmu seperti mereka. Tidak apa-apa kan?" Sasuke tersenyum. Sebuah senyum langka yang dalam keadaan normal tidak akan dilihat oleh gadis-gadis yang mengejarnya.

"U-u…Sa-Sasuke-kun…" gadis itu tak bisa bergerak saking takutnya, ia hanya bisa terisak saat melihat seringaian Sasuke. Perlahan tangan Sasuke terangkat, mengarahkan gergaji itu ke leher si gadis.

"GGYYAAAAHHHHHH! STOP IT! Itu nggak masuk akal banget kan! Kau terlalu ngayal deh!" omel Naruto pada cowok di depannya yang barusan membacakan narasi seram dari hasil menghayal, sementara dua orang lainnya terkekeh.

"Memangnya kenapa? Bagus kan untuk menakuti mereka. Begini saja, mayatnya itu cuma mannequin di make up darah," ucap Sasuke.

"Tetap saja aneh. Nggak sampai segitunya juga kali. Dan kau tahu, yang bikin aku merinding bukan adegan gore nya. Tapi sikapmu yang perhatian banget itu, kau ini orangnya kan super cuek. Kalau dalam kenyataan kau pasti ninggalin tuh cewek gitu aja tanpa membantunya berdiri."

"Hei, apa sedingin itu kesanku di matamu? Kukira aku sudah sangat perhatian."

"Geez kau ini!" kesal Naruto sedikit tersipu.

"Haha tapi boleh juga tuh Naruto, untuk menakuti mereka biar kapok," komentar Sakura.

"Setuju," tambah Sai.

"Kalian jangan ikut-ikutan! Ah, kalian juga kan yang mengadu pada Sasuke! kalau enggak kenapa juga si bodoh ini sampai pindah sekolah di tahun terakhirnya!"

"Mau bagaimana lagi, senpai tidak mau bilang sendiri jadi kami yang bilang," ucap Sai.

"Yup, kerja bagus. Terimakasih atas itu," ucap Sasuke. Ia meraih tangan Naruto yang diperban lalu mengecupnya. "Dengar, aku tersanjung kau melakukan ini demi aku. Tapi aku bisa mati kalau sampai terjadi sesuatu padamu. Karena seperti yang kau bilang, 'aku akan melakukan apapun untukmu karena kau sudah membuatku jatuh cinta sampai bertekuk lutut padamu'."

Wajah Naruto langsung memerah dan langsung menatap Sai kesal. Itu kan ucapannya ke cewek itu saat di kantin? "K-kau ngadu apa aja sih ke ni orang?" ucap Naruto.

"Semuanya," jawab Sai santai, Sakura tertawa.

"Ugh…" Naruto hanya bisa speechless.

Mereka menyelesaikan makan mereka dan turun dari atap, lalu saat berjalan di sepanjang lorong, dengan amat sengaja Sasuke merangkul pundak Naruto, membuat bocah blonde itu hanya bisa speechless karena tatapan-tatapan yang diarahkan ke mereka. Cewek-cewek itu terlihat kesal, tapi tentu saja mereka tak melakukan apapun.

~OoooOoooO~

"Tolong ambilkan modul di perpustakaan," ucap sensei. Biasanya yang mengambil adalah yang sedang piket hari itu, kebetulan yang piket Naruto, Kiba, dan yang lainnya. Tapi mengambil buku paling cukup dua orang. Jadi saat Naruto bangkit, tinggal—…

"Biar kubantu," ucap Sasuke.

"Ehm ehm…! Suit suit…" kelas sempat ribut beberapa saat sebelum Naruto meninggalkan kelas, tapi bocah blonde itu hanya bisa terlihat kesal meski pipinya sedikit bersemu.

"Apaan sih, ini kan bukan piketmu," omel Naruto saat mereka berjalan di lorong.

"Apa yang salah dengan membantu pacarku?" jawab Sasuke santai.

"Kau ini…!"

Sasuke hanya tertawa pelan lalu mengacak rambut Naruto, hingga tatapannya terpaku ke salah satu arah. "Ah, kau bisa ke perpustakaan duluan? Aku mau ke toilet."

"Iya, cepat ya. Nanti sensei ngomel kalau ambil bukunya lama."

"Iya," Sasuke mengecup singkat bibir Naruto sebelum memisahkan diri, tak peduli boca blonde itu kini kelabakan dengan wajah memerah.

~OoooOoooO~

Beberapa cewek mengendap-endap ke loker sepatu membawa beberapa benda di tangan mereka.

"Psstt…ayo cepat, sebelum ada yang datang," bisik mereka lalu mengocok piloks di tangan masing masing. "Cih! Naruto makin belagu saja karena Sasuke pindah ke sini! Biar dia tahu ra—…"

"Hei," sapa Sasuke sebelum mereka sempat menyemprotkan piloks mereka ke salah satu loker.

"Sa-Sasuke-kun," para gadis itu kelabakan dan segera menyembunyikan piloks mereka di balik punggung.

"Kalian sedang apa? Ini belum jam istirahat kan?" Sasuke menghampiri.

"U-umm…kami ada sedikit urusan," jawab mereka tanpa berani menatap Sasuke. "Sa-Sasuke-kun sendiri?"

"Aku sedang kesal pada Naruto, jadi bolos kelas buat refreshing. Ano sa, apa kalian tahu cewek bernama Sakura? Kudengar Naruto menyukainya," dengan sengaja Sasuke mencondongkan wajah ke mereka, satu tangannya menumpu ke loker.

"Eh? Sakura? Ah aku tahu dia. Terlihat sekali Naruto-kun memang menyukainya, dulu sebelum dengan Sasuke-kun dia tergila-gila pada cewek itu."

"Geez, jadi benar!" Sasuke pasang tampang kesal.

"Memangnya kenapa Sasuke-kun?"

"Sepertinya Naruto selingkuh dariku. Menyebalkan! Mungkin aku harus coba selingkuh juga. Tapi dengan siapa ya? Semua orang sekarang membenciku gara-gara aku pacaran dengannya dan dikira gay."

"Kyaaa aku juga mau denganmu kok," jiwa fangirlingan mereka kambuh.

"Eh? Betulan?"

Mereka mengangguk bersemangat.

"Kalau begitu boleh minta nomor ha-pe kalian?" Sasuke mengeluarkan ponselnya.

"Boleh! Boleh banget!" mereka mulai mendikte nomor ponsel mereka satu per satu.

"Hng…masih ada yang kurang," ucap Sasuke setelah mereka semua selesai dengan ocehan mereka. "Nomor ponsel Tou-san kalian, juga nama tempat mereka bekerja?"

"H-huh? Untuk apa Sasuke-kun?"

"Aku berniat membuat perusahaan mereka bangkrut. Dengan begitu orang tua kalian tidak akan bisa membiayai kalian sekolah, nah dengan begitu kalian bakalan keluar dari sekolah. Meskipun caranya sedikit berputar-putar, tapi setimpal lah dengan cara main kalian yang juga berputar-putar, mulai dari mengotori loker Naruto dan semacamnya."

Cewek-cewek itu langsung bungkam dan mundur beberapa langkah.

"Ada apa? Mana nomor orang tua kalian? Masa sih aku tidak boleh tahu. Kalian menyukaiku kan?" tambah Sasuke dan detik berikutnya cewek-cewek itu kabur. Sasuke hanya bisa menyeringai singkat lalu baru menyusul Naruto ke perpustakaan.

"Lama amat!" omel Naruto yang terpaksa sudah membopong semua modul.

"Maaf maaf," ucap Sasuke santai lalu mengambil sebagian besar tumpukan buku di tangan Naruto. Merekapun kembali ke kelas.

~OoooOoooO~

Mungkin karena pernah bersama saat festival kuliner waktu itu, Sasuke gampang banget akrab sama teman sekelasnya yang baru. Sama seperti hari itu di jam istirahat pertama, dia sudah ngobrol asyik dengan anak-anak sekelas, termasuk cewek juga. Harusnya Naruto sudah biasa dengan pemandangan itu, dulu di tempat les juga Sasuke melakukan hal yang sama, dan harusnya ia senang karena teman-teman sekelas mereka memperlakukan mereka seperti betulan teman bukan memusuhi, Naruto tahu itu, tapi tetap saja ia merasa kesal terutama tiap kali teman-teman ceweknya tertawa saat ngobrol dengan Sasuke. Akhirnya Naruto pun pergi dari kelas tanpa mengatakan apapun. Sasuke yang melihat itu hanya menyeringai tipis.

"Geez, harus diapain ya," gumamnya.

"Ada apa Sasuke-kun?"

"Well, ada rubah yang harus ku urus," ucapnya seraya bangkit. Tapi sebelum sempat pergi, Airi—teman sekelas Naruto—menghampiri.

"Sasuke-kun, Sasuke-kun, kau harus tahu ini," ia tampak panik. "Ah, Naruto-kun mana? Kurasa dia juga harus tahu."

"Katakan saja, nanti kuberitahu dia," jawab Sasuke.

"Baiklah. Ini," ia mengeluarkan sebuah amplop. "Aku salah satu anggota komite sekolah, dan tadi saat aku bertugas mengambil kotak keluhan siswa aku menemukan ini di sana.

"…" Sasuke terdiam menatap isi amplop itu lalu menyeringai tipis. "Thanks Airi-chan. Biar aku yang mengurusnya, kau tetap masukkan ini ke daftar keluhan siswa."

"Eh? Kau yakin?"

"Yeah, dan sebaiknya kau jangan bilang siapapun telah memberitahuku."

~OoooOoooO~

Seperti biasa, Naruto sedang sedikit kesal melihat Sasuke ngobrol dengan teman-teman sekelasnya. Harusnya dia tidak marah ia tahu itu, dan kalau mau seharusnya dia ikut gabung saja. Tapi entahlah, mungkin dia sedang tidak mood. Jadi lagi-lagi ia keluar kelas, menuju taman dan nge-game online lewat ponselnya.

"Sekarang kau sering sekali sendirian di luar," Naruto mendongak dan melihat Sasuke menghampirinya. "Sudah tidak takut dijahili lagi?" Sasuke duduk di samping Naruto.

"Kurasa mereka sudah tidak berulah semenjak kau di sini," jawab Naruto sambil tetap main game nya.

"Hei," Sasuke meraih ponsel Naruto. "Kok aku dicuekin sih?"

"Ahhhhh…!" keluh Naruto karena game nya kalah. "Geez kau ini, aku jadi harus ngulang dari lima level sebelumnya kan," kesal Naruto.

"Great, sekarang aku tidak lebih penting dari sebuah game."

"Bukan begitu, hanya saja sulit sekali mencapai level aman," Naruto meraih kembali ponselnya. "Lagipula kau kan lagi ngobrol sama yang lain, ngapain ke sini sih," Naruto kembali sibuk dengan ponselnya.

"Hmm…" Sasuke kembali menurunkan ponsel Naruto supaya bocah itu menatapnya. "Cemburu nih?"

"…" terdiam sesaat, wajah Naruto blushing beberapa detik kemudian. "Enggak kok!" jawabnya sewot.

"Dasar," Sasuke mengacak rambut Naruto dan mendekatkan wajahnya, spontan Naruto memejam erat, takut Sasuke akan mengecupnya seperti waktu itu. Tapi ia kembali membuka mata saat tak merasakan sentuhan Sasuke di bibirnya. Ia makin blushing saat melihat Sasuke malah tersenyum dan menjulurkan lidahnya. "Kau ini!" kesal Naruto dan mencubit pinggang Sasuke sekuat yang ia bisa, membuat cowok tu mengaduh meski sambil tertawa.

"Cieh cieh, akurnya," ucap Sakura dan mendekat bersama Sai.

"Hai," sapa Sasuke sementara Naruto masih manyun. "Dari mana?"

"Perpustakaan, Sai ada tugas bahasa Latin," jawab Sakura.

Sasuke menatap buku yang dibawa Sakura.

"Owh, tadi sekalian pinjam," jawab Sakura dan memberikan buku itu pada Sasuke. Sebuah novel karya Oscar Wilde.

"Wow, kau suka karyanya juga?"

"Yeah, sangat suka. Terutama cerpen dia yang berjudul Nightingale and the Rose. Favorite banget tuh!"

"Yeah, romantis banget cerpen yang itu. Ah, boleh pinjam kalau kau sudah selesai?" Sasuke mengembalikan novel itu ke Sakura.

"Tentu sa—…" Sakura menghentikan ucapannya saat menyadari aura Be-Te muncul dari muka Naruto dan Sai karena ditinggal ngobrol sendiri. Naruto kelihatan banget ngambeknya dan tetap main ha-pe, kalau Sai meski tersenyum tetap saja Sakura sudah hafal ekspresinya. "Ugh…" sweatdrop Sakura.

"Ya ampun," gemas Sasuke dan menjewer kedua pipi Naruto.

"Apaan sih! Rese deh! Ganggu aja orang lagi nge-game," omel Naruto dan langsung pergi dari tempat.

"Wah," ucap Sasuke menatap kepergian Naruto.

"Gomen Sasuke-kun, aku tidak bermaksud," ucap Sakura.

Sasuke hanya membalas dengan senyum. "Aku duluan," ucapnya seraya pergi mengikuti langkah Naruto. Dari kejauhan terdengar suara Sakura meminta maaf ke Sai dan cowok itu menjawab dengan riang meski penuh aura kegelapan.

"Naruto," panggil Sasuke tapi bocah itu tak menghentikan langkahnya. "Dobe!" barulah Naruto menghentikan langkahnya. "Oooke, aku minta maaf. Sebagai gantinya, nanti kita makan bareng deh di atap atau di mana."

Naruto tersenyum tipis, melihat Sasuke panik kadang lucu juga.

"Nanti ajak Sakura dan Sai juga," tambah Sasuke yang langsung membuat Naruto cemberut lagi.

"Nggak! Gue mau makan sama temen-temen sekelas gue," ucap Naruto dan langsung pergi menuju kelas.

Istirahat kedua Naruto beneran makan bareng teman-temannya di kantin, tapi dengan watados-nya Sasuke juga ikut nggabung mereka, ikut makan dan ngobrol bareng seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan bisa dikatakan ia tidak begitu memperhatikan Naruto.

"Ghh…! Dasar teme! Maunya apa sih!" geruto Naruto siang itu. Ini entah sudah hari keberapa Sasuke bersikap begitu. Yang Naruto tahu biasanya Sasuke super perhatian padanya, perubahan sikap kecil saja sudah membuat Sasuke sadar ada yang terjadi dengan Naruto. Tapi sekarang entah kenapa Sasuke seolah lebih cuek padanya dan mengakrabkann diri dengan yang lain.

"Apa perasaanku saja ya," ujar Naruto pada akhirnya. "Orang kan emang nggak mungkin tahu perasaan orang lain, jadi nggak mungkin dong Sasuke tahu mau gue apa kalo gue nggak bilang," ia mengusap tengkuknya dan menghela nafas lelah. "Mungkin malah aku yang harus minta maaf karena akhir-akhir ini sering memarahinya," saat ia berniat menemui Sasuke, tiba-tiba saja ada panggilan untuknya dan Sasuke ke ruang OSIS. Meski heran apa yang membuatnya dipanggil, iapun pergi ke sana. Saat ia tiba di dalam sudah ada anggota OSIS lengkap, kepala sekolah, beberapa sensei, juga terlihat beberapa cewek dari kelas yang berbeda-beda. Yang Naruto tahu mereka bukan anggota OSIS, kenapa mereka juga di sini?

"Silahkan masuk," ucap Airi menyambut Naruto. "Sasuke-kun mana?"

"Aku tidak tahu, aku tidak bersamanya," Naruto angkat bahu.

"Psst…tenanglah, aku yakin semua akan baik-baik saja. Sasuke-kun pasti melakukan sesuatu," bisik Airi saat Naruto melewatinya. Naruto makin bingung dengan apa yang terjadi.

Tak berapa lama Sasuke datang ke ruang OSIS dan rapat atau entah acara apa itupun dimulai.

"Baiklah, karena ini rapat dadakan sebaiknya to the point saja," ucap kepala sekolah. "Namikaze-kun, Uchiha-kun, sebenarnya beberapa waktu lalu ada yang melaporkan bahwa kalian memiliki hubungan khusus."

Deg…!

Jantung Naruto langsung berdegup dua kali lebih cepat. Apa ini akan membahas tentang DO dia dari sekolah?

"Kami hanya ingin mengonfirmasi," tambah kepala sekolah.

Naruto kelabakan, ia harus jawab apa? Ia menatap cewek-cewek tadi menyeringai tipis, ahhh, pasti mereka yang lapor. Dasar sirik! Naruto beralih menatap Sasuke yang terlihat tenang. Itu memang bawaan dia atau memang dia sudah tahu bakal begini?

"Maaf Pak, apa ada bukti mengenai tuduhan itu?" ucap Sasuke.

"Yeah, sebenarnya karena itulah rapat ini diadakan," kepala sekolah mengambil beberapa surat keluhan siswa. "Semenjak kami mendapat surat keluhan ini sebenarnya kami telah memantau kalian secara sembunyi-sembunyi tapi kami tidak mengonfirmasi apapun. Kalian terlihat bergaul sama seperti kalian bergaul dengan teman-teman sekelas kalian. Kami bahkan memberi kebebasan pada pengirim surat keluhan ini untuk memberikan bukti apapun tapi kami tidak begitu yakin."

Cewek-cewek itu langsung terlihat tak senang.

"Tapi Pak Kepala Sekolah, kami sudah memberikan fotonya," ucap mereka.

"Hmm…" kepala sekolah menyodorkan sebuah amplop coklat pada Sasuke dan Naruto, keduanya lalu melihat isinya yang ternyata berisi foto-foto mereka.

"Huh?" Naruto cengok melihat foto-foto itu. Di sana terpajang foto-foto mesra mereka, tapi Naruto rasa itu hanya kelihaian fotografernya saja yang mengambil foto mereka dari angle yang salah. Misalnya seperti salah satu foto yang Naruto yakin saat itu ia hanya mengobrol biasa dengan Sasuke dan di sana bahkan ada Sakura dan Sai, Naruto ingat ia menjulurkan tangan untuk mencicipi bekal buatan Sakura, tapi di foto itu terlihat seperti ia tengah mencium Sasuke karena fotonya diambil dari belakang tubuh Sasuke. Well, kebanyakan foto seperti itu, tapi beberapa foto mesra mereka Naruto bahkan tak mengingat pernah berada di tempat itu atau bersama Sasuke dengan posisi seperti itu.

"Bagaiana penjelasan kalian mengenai foto-foto itu."

"Etto…" ucap Naruto. "Apa ini editan? Saya tidak pernah merasa berada di tempat ini," ia menunjukkan sebuah foto. "Beberapa foto lainnya juga saya tidak merasa pernah di sana, sementara beberapa lainnya hanya diambil dari angle yang 'terlalu' sesuai."

"Hmm…begitu. Apa pendapat kalian mengenai konfirmasi mereka?" kepala sekolah beralih menatap cewek-cewek pengadu itu.

"Itu hanya alasan dia saja. Hubungan mereka sudah tersebar ke seluruh sekolah kok, ah, waktu liburan musim panas di resort Bapak juga katanya mereka ciuman di depan anak-anak sekelas. Tanyakan saja pada teman-temannya atau…ah, sensei yang mendampingi mereka."

Semua mata kini tertuju pada anggota OSIS dari kelas Naruto dan sensei yang ikut mendampingi di resort, hanya saja dari pihak guru yang mendampingi waktu itu, saat ini hanya Iruka-sensei yang hadir.

"Apa jawaban kalian" tanya kepala sekolah pada Airi dan temannya.

"Umm…me-mereka…" Airi menatap Sasuke, cowok itu mengangguk pelan seolah menyuruh katakan saja apa yang sebenarnya. "Sa-Sasuke kun memang melakukannya, tapi hanya karena ada krim di wajah Naruto-kun. Kurasa itu candaan yang wajar di kalangan anak cowok."

"Yeah, anak-anak cowok kelas kami memang biasa menggila," tambah teman Airi.

"Iruka-sensei?" kepala sekolah beralih menanyai Iruka.

"Umm…" Iruka menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Saya tidak begitu ingat karena sedang ngobrol dengan sensei yang lain."

"Tidak mungkin, Iruka-sensei pasti hanya menutup-nutupinya," bantah cewek-cewek itu.

"Tapi kepala sekolah," tambah Iruka-sensei. "Terlepas dari mereka punya hubungan khusus atau tidak, menurut saya selama mereka tidak melakukan perbuatan tak senonoh di sekolah saya rasa itu tidak apa-apa. Saya tidak ingat ada peraturan sekolah yang melarang hubungan semacam ini. Maksud saya, siswa sekolah ini sebenarnya dilarang untuk menjalin hubungan asmara kan? Namun tetap saja banyak siswa yang melanggar. Dan selama ini pihak sekolah tidak menindaklanjuti karena tidak ada bukti mereka melakukan hal-hal tak bermoral terutama di lingkungan sekolah."

"Hmm…bagaimana menurut yang lain?" kepala sekolah memberikan kesempatan siapapun untuk berpendapat. Cewek-cewek pelapor itu terlihat kesal tapi mereka bungkam tak tahu harus bicara apa.

"Saya setuju dengan Iruka-sensei," ucap Airi. "Selama mereka tidak membuat masalah saya rasa kita tidak perlu mempermasalahkan apa hubungan mereka. Namun jika ingin ditindaklanjuti, saya rasa semua siswa yang terlibat hubungan asmara juga perlu diperlakukan sama sesuai dengan peraturan sekolah," Airi menyeringai menatap cewek-cewek itu yang ia yakin juga punya cowok meski mengaku menyukai Sasuke.

"Yang lain?" tanya kepala sekolah.

"Setuju," ucap teman Airi yang membuka ucapan setuju hampir dari seluruh anggota rapat.

"Lalu untuk kalian berdua, ada yang ingin disampaikan?" tanya kepala sekolah pada Sasuke dan Naruto.

"Tidak, terimakasih banyak," jawab Naruto, sementara Sasuke menarik nafas lalu menatap kepala sekolah dengan serius.

"Kepala Sekolah, saya hanya ingin mengonfirmasi mengenai ucapan Iruka-sensei," ucap Sasuke. "Beliau tadi bilang 'terlepas dari kami punya hubungan khusus atau tidak' asal kami tidak berbuat tak senonoh di sekolah, selain itu karena keputusannya sudah jelas, saya hanya ingin mengatakan bahwa kami memang benar punya hubungan khusus."

Suasana langsung senyap. Jantung Naruto kembali berdegup kencang dengan penuturan Sasuke. Kenapa Sasuke harus mengatakannya? Padahal masalah sudah bisa terselesaikan sampi titik itu.

"Tapi seperti hasil keputusan tadi," tambah Sasuke. "Selama kami tidak melewati batas maka hubungan kami tidak akan dipermasalahkan. Saya harap hal tersebut bisa dihargai."

~OoooOoooO~

"Huuaahhh tadi itu tegang banget," ucap Airi yang keluar ruangan rapat bersama Sasuke dan Naruto. "Tapi syukurlah semua baik-baik saja. Kalian yang rukun ya hehe."

"Te-terimakasih banyak Airi-chan," ucap Naruto. Wajahnya masih terlihat tidak begitu yakin.

"Ya sudah, aku duluan ya. Masih ada urusan OSIS di ruang administrasi," iapun pergi.

"Ada apa?" tanya Sasuke melihat Naruto sedikit tertunduk.

"Ano sa Sasuke, ka—…"

"Hei kalian," Iruka-sensei menghampiri sehingga Naruto batal berucap.

"Sensei, terimakasih banyak bantuannya," ucap Sasuke dan sedikit membungkukkan badan, Naruto melakukan hal yang sama.

"Iya tidak masalah. Lagipula aku hanya mengatakan yang sebenarnya," ia menatap kedua siswa itu. "Well, tapi mungkin sesekali aku juga ingin ngobrol secara pribadi dengan kalian. Kapan-kapan mampirlah ke ruanganku," keduanya mengangguk. "Kalau begitu sampai nanti," ucap Iruka-sensei seraya berlalu pergi.

Keduanya lalu berjalan menuju kelas setelah sempat membungkuk hormat sekali lagi.

"Kau tadi mau mengatakan apa?" tanya Sasuke.

"Umm…well, soal rapat tadi. Maksudku, seandainya kau tidak mengatakannya pun urusan sudah bisa selesai loh," jawab Naruto. "Maksudku…tidak harus mengatakannya pada para sensei kan. Toh sebentar lagi kita lulus, kalau kita merahasiakannya sampai nanti—…"

"Begitu? Jadi kau ingin merahasiakannya?"

"Bu-bukan begitu, maksudku tidak ada ruginya juga kan."

"Kau tahu? Mereka tidak begitu peduli, Naruto," mereka menghentikan langkah, saling berhadapan. "Rapat tadi menurutku hanya formalitas saja karena banyak laporan keluhan, jadi pihak sekolah akan terlihat buruk jika membiarkan begitu saja keluhan mengenai hal yang sama dalam jumlah banyak. Semacam, well, hanya supaya pelapornya tutup mulut."

"Bagaimana kau bisa seyakin itu? Bagaimana kalau memang benar dipermasalahkan."

"Terlihat sekali dari ekspresi mereka kalau mereka tidak begitu serius dalam rapat tadi," Sasuke kembali melangkah diikuti Naruto. "Dan buktinya walaupun aku mengatakan yang sebenarnya reaksi mereka tidak berubah, aliran rapat berlangsung mulus dan kepala sekolah hanya mengikuti arus. Bayangkan saja, hasil rapat tadi diputuskan hanya berdasar pada satu argumen."

"Ta-tapi…" Naruto tampak berpikir. "Iruka-sensei kan memang mengatakan yang sebenarnya tentang peraturan sekolah."

Sasuke menghela nafas lelah. "Memang iya. Tapi kalau memang pihak sekolah serius mau mempermasalahkan urusan kita, tertulis di peraturan ataupun tidak mereka bisa saja ambil alasan mengenai moral bejat generasi muda atau bullshit apalah untuk mendebatnya, tapi yang ada kepala sekolah hanya memoderatori dan yang lain juga bungkam saja."

"Ung…" Naruto kehabisan kata-kata.

"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan," Sasuke merangkul pundak Naruto.

"Eh?" Naruto seolah baru sadar. Rasanya sudah lama sekali Sasuke tak menyentuhnya di sekolah. "Aahh…!" tunjuk Naruto pada Sasuke, seolah baru menyadari sesuatu. Jangan-jangan akhir-akhir ini Sasuke cuek padanya hanya supaya tidak ada yang memotret dan membuat bukti cukup kuat di rapat tadi? Kalau itu terjadi kan mungkin saja rapatnya bakal sedikit rumit.

"Huh? Kau baru menyadarinya sekarang?" omel Sasuke seolah bisa membaca isi kepala Naruto.

"Be-berisik. Aku mana tahu kalau kau nggak bilang! Aku ini bukan cenayang tauk!" bela Naruto meski sedikit blushing karena merasa bego.

"Geezzz! Kurasa memang pantas julukan Dobe ada padamu!" ucap Sasuke entah kesal entah gemas mengacak rambut Naruto keras-keras.

"Arrghh…! Aku memang tidak sejenius dirimu Uchiha-Sasu-Teme! Tapi wajar dong gue nggak tau, uwaaahhh…!" ia melepaskan tangan Sasuke.

"Geez, karena kau bego jangan-jangan kau juga nggak bakalan ngerti kalau aku nggak memberitahumu soal alasan lain kenapa aku nekat mengatakan hubungan kita kepada mereka," Sasuke sok berpikir.

"Huh? Memangnya ada alasan lain?"

"Ada dong."

"Apaan?"

"Buat latihan lah, apalagi."

"Latihan? Latihan apaan?"

Sasuke menyeringai. "Latihan berani. Kalau aku nggak berani ngomong gini ke mereka, gimana aku bakal berani pas bilang ke orang tua mu aku mau nikahin kamu," cengir Sasuke sambil berlalu. Sementara Naruto langsung membatu di tempat, beberapa detik kemudian barulah wajahnya memerah dan berasap seperti kepiting rebus.

"SASUKEEE….!" raungnya frustasi dan mengejar langkah Sasuke.

.

.

.

~To be Continue~