Sudah lima jam, Tsuna mencoba untuk tidur, akan tetapi ia tidak bisa. Ia merasa khawatir karena sejak kemarin, Hibari tidak datang kesekolah, begitu juga dengan Kasukabe Tetsuya yang tidak tahu kemana perginya sang President Of Discipline Committee tersebut. Ia juga sudah datang kerumahnya dan mencarinya bersama dengan Yamamoto dan Gokudera. Akan tetapi nihil. Ia tidak terlihat dimanapun.
Tsuna turun dari tempat tidur dan mengambil handphone miliknya. Ia lalu memencet nomor Hibari yang selalu ia ingat.
"Tuut… tuut… maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area, silahkan mencoba sesaat lagi…"
Tsuna lalu menarik nafas dan mengeluarkannya kembali. Ia tidak bisa meminta Reborn untuk membantunya kali ini karena ia sedang berada di Italy untuk menghadiri rapat bersama dengan Kyuudaime dan pemimpin CEDEF.
Tapi biar bagaimanapun, Tsuna tidak akan menyerah. Ia akan mencari Hibari lagi di sekitar Namimori dan meminta bantuan teman-temannya untuk mencarinya.
Brunet lalu naik kembali ke tampat tidur dan berharap besok ia akan menemukan kambali temannya yang hilang.
.
Melody Us , Melody Family
.
.
.
Kateikyoshi Hitman Reborn! © Amano Akira
Storyline and Author © Natsu Yuuki
Warnings : Typo and Gaje
Genre : Family & Friendship
.
.
.
.
.
Chapter(?) : Special Omake : October Birthdays
~ Keesokan Harinya , di Taman Namimori ~
Seorang remaja berumur lima belas tahun berambut coklat yang melawan gravitasi, sedang duduk di sebuah ayunan, di taman Namimori.
Remaja bersurai coklat itu memandang ke langit biru sambil menunggu kedua temannya datang. 'Kemana Takeshi dan Hayato? Itu tidak seperti biasanya mereka datang terlambat…'
Tsuna lalu melirik kearah jarum jam besar yang berada di taman. Ia menghela nafas, lalu berdiri dan berjalan kearah rumah Yamamoto. 'Lebih baik aku yang menjemput mereka. Intuisi ku mengatakan ada yang tidak beres.'
.
.
.
.
.
Greeekkk…
"Irasshaimase… oh… Tsunayoshi-kun, ya? Ada perlu apa?"
"Anoo… Yamamoto-san… apa Takeshi ada di rumah?" Tanya Brunet.
"Hmm… dia belum pulang sejak kemarin."
"E- eeeeeehh?! A- apa dia bilang akan pergi kemana, Yamamoto-san?"
"Hmmm… aku rasa tadi malam dia menelpon kerumah, katanya dia akan menginap di rumah salah satu temannya… apa kau memerlukan sesuatu, Tsunayoshi-kun?"
"Ti- tidak apa-apa… hmm… jika dia pulang nanti, bisakah kau memberitahunya untuk segera menelponku, Yamamoto-san?"
"Tentu saja akan kusampaikan pesan darimu, Tsunayoshi-kun."
"Arigatou, Yamamoto-san… jaa, kalau begitu aku permisi dulu, ya." Balas Brunet yang segera membungkukkan badannya.
Yamamoto Tsuyoshi hanya bisa terus memandang figure Tsuna yang berlari keluar dari kedai sushi miliknya. "Anak jaman sekarang, mereka sangat bersemangat sekali bukan, Iemitsu ?"
"Aaahh… kau benar, Tsuyoshi" laki-laki pirang berumur sekitar empat puluhan tersebut, lalu keluar dari belakang pintu dapur milik keluarga Yamamoto dan duduk di depan Tsuyoshi sambil meminum segelas kecil botol bir.
"Kau tidak memberitahunya dimana semua Guardian termasuk Takeshi, Iemitsu ?"
"Tentu saja… jika kuberitahu, itu bukan sebuah kejutan nantinya, bukan?"
.
.
.
.
.
"Tsuna!" teriak seseorang berambut pirang yang berlari mengejarnya di jalanan dan terpeleset di atas aspal. Brruuaakk!
Brunet berhenti, berbalik lalu berlari kearah orang yang baru saja memanggilnya "Di- Dino-san! Sedang apa kau disini ?! dan… apa kau baik-baik saja, Dino-san ?" Tanyanya khawatir.
"Aku mencarimu kemana-mana, Tsuna!" ia lalu berdiri dan menghadap brunet yang khawatir didepannya."Um… Reborn menyuruhku datang ke sini untuk memberimu surat undangan party salah satu Family di Italy besok. Ia tidak sempat memberimu langsung dan menyuruhku untuk memberikannya." Dino lalu memberikan sebuah undangan kepada Tsuna.
'Undangan party? Aku rasa aku tidak akan datang'.
"A- aahh… arigatou, Dino-san… tapi aku rasa aku tidak bisa datang. Aku masih memiliki banyak pekerjaan di Student Council dan juga…"Kata brunet berhenti. 'Aku masih harus menge-check keberadaan yang lainnya… dan mencari keberadaan Takeshi dan Kyoya'.
"Dan juga?" Tanya Dino penasaran.
"Ahh… tidak apa-apa, Dino-san…"
"Hmm… tapi, Tsuna!, Reborn bilang jika kau tidak datang, dia akan melipat gandakan latihan spartanmu menjadi sepuluh kali lipat, dan juga meminta Kyoya untuk sparing denganmu setiap harinya."
"Hiiieee! A- APA?!" Dan alhasil, Wajah Tsuna menjadi pucat seputih kertas setelah mendengar apa yang barusan Dino katakan. "Ka- kalau begitu, akan kuusahakan untuk datang." Brunet lalu bergegas pergi untuk mencari semua teman-temannya.
Dino menghela nafasnya dan memandang figure Tsuna yang berlari pergi menjauh darinya "Haa-aah~, aku jadi kasihan dengannya dikerjai oleh Reborn, Donna Giglio Nero dan Don Gesso Famiglia seperti itu."
"Che! Aku melakukan ini hanya karena Reborn-san yang memintaku." Ucap kesal Gokudera dari belakang Dino.
"Ahahaha… tapi tidak kusangka jika Hibari sudah pergi duluan sebelum kita" Balas Yamamoto dari sebelah Silverette.
"AKU SUDAH TIDAK SABAR UNTUK MEMBERI KEJUTAN KEPADA SAWADA TO THE EXTREME!" Kata Ryohei di sebelah Yamamoto.
"Boss…" Ucap Chrome.
"Kufufufu~, aku juga tidak menyangka, skylark tidak memberi tahu kita atau Tsunayoshi terlebih dahulu."
"Kami juga akan mengikutimu, Mukuro-san byon."
"Mukuro-sama…" kata Chikusa seraya memperbaiki kacamatanya.
"Boss… aku sudah mengumpulkan semua Guardian Decimo yang tersisa." Kata Romario di samping Dino.
"Ahh… Terima kasih, Romario." Dino lalu berbalik dan menghadap ke guardian Tsuna. "Jaa… ayo kita pergi dan menyiapkan pesta kejutan untuk Tsuna!"
"OOHH!" teriak guardian Tsuna.
"Kufufufu~"
~.~ Kokuyo Land ~.~
'Aku tidak merasakan seorangpun disini? Kemana perginya mereka? Jangan-jangan…'
Tsuna berlari masuk kedalam gedung Kokuyo Land dan mencari seseorang. Akan tetapi mustahil. Tidak ada tanda kehidupan di sana. Ia sudah mencari keseluruh lantai dalam gedung tersebut, tapi masih tidak menemukan seorangpun di dalam.
"Pertama Hibari-san, lalu Takeshi, dan sekarang, Chrome, Mukuro dan yang lainnya di Kokuyo Land juga menghilang ?! What the hell going on!"
'Hayato, Onii-san dan semuanya… semoga kalian baik-baik saja…'
Kring~ Kring~
Tsuna berhenti berlari ketika ia melihat Bianchi menaki sepeda menuju kearahnya.
"Bianchi!"
"Hmm~? Tsuna? kau kelihatan lelah… kau ingin meminum jus jamur beracun yang baru kubuat dari hutan? Aku yakin, jus ini akan membuatmu menjadi semangat kembali." Balas Bianchi seraya menyodorkan sebotol penuh jus berwarna ungu kehijauan.
"Ti- tidak, Terima kasih…" 'Aku bisa mati duluan sebelum mencari mereka, Bianchi!'
"Baiklah…" Bianchi lalu mulai mengayuh sepedanya kembali, akan tetapi di hentikan oleh Tsuna.
"Tu- tunggu! Umm… Bianchi!, apa kau tahu dimana Hayato berada?"
"Aku rasa Hayato pergi ke Sicily"
"Eh? Sicily ?" 'Sedang apa dia disana?' Tanya brunet dalam hati. "Anoo, Bianchi?"
Brunet mengalihkan pandangannya kembali kearah Bianchi, akan tetapi ia sudah hilang. 'Dia bahkan sudah pergi sebelum aku bertanya lagi!'
Tsuna menarik nafas dan membuangnya kembali.
"Tsuna-kun?"
"E- eh? Kyoko-chan?" Tanya Tsuna gugup.
"Sedang apa kau disini, Sawada?!" Tanya gadis lain berambut hitam bergelombang.
"Ku- Kurokawa… -san?"
"Kau sedang apa berada disini, Tsuna-kun? Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat lelah?"
"Ahh aku baik-baik saja, umm… Kyoko-chan? Apa kau tahu dimana Ryohei onii-san?"
"Eh? Hmm… dia bilang, hari ini semua anggota club boxing akan melakukan pelatihan di pegunungan?"
"Eh? Pelatihan ?"
"Sudahlah Sawada! Ini sudah hampir malam, Kyoko dan aku perlu pulang sekarang!"
"Un! Kau sebaiknya juga pulang, Tsuna-kun, sebelum kau terkena demam."
"A- aahh… gomen… Un! Aku juga akan langsung pulang setelah ini. Arigatou, Kyoko-chan, Kurokawa-san…"
Tsuna lalu menghela nafas dan bergegas pulang. "Haa-aah~, aku rasa semuanya baik-baik saja… mungkin mereka memang sedang sibuk akhir-akhir ini."
'Mungkin lebih baik, aku pergi ke Italy dan menghadiri pesta, daripada tidak datang dan menghadapi amukan Reborn dan sparing Spartan Hibari-san juga…'
~.~ Keesokan Harinya ~.~
Tsuna bangun dengan merasa sedikit aneh. Ruangannya sepi dan kosong, seperti saat sebelum Reborn dan yang lainnya datang dan memasuki kehidupan brunet. 'Kemana perginya Lambo, I-pin, Fuuta dan Bianchi?' batinnya.
Brunet lalu turun kebawah dan menuju ke dapur "Ohayou, Kaa-san"
"Ara~, Tsu-kun~ ohayou" balas ibunya seraya menaruh sarapan pagi di depan Tsuna yang baru datang dan duduk di meja makan.
"Hmm… kaa-san, dimana yang lain ?"
"Hmm~, Bianchi bilang, dia akan mengajak Lambo, I-pin dan Fuuta untuk memanjat gunung dan mencari bahan masakan untuknya."
Tsuna menghela nafas 'Pasti untuk masakan beracun miliknya' brunet lalu teringat sesuatu "Hmm, kaa-san ?"
"Hmm~?"
"Umm… aku akan menginap di rumah teman untuk mengerjakan project, jadi… aku tidak berada di rumah untuk beberapa hari."
"Baiklah, tapi kau harus berhati-hati ne, Tsu-kun." kata ibunya sambil tersenyum.
"Un!, arigatou, kaa-san."
Saat selesai makan, Tsuna mencuci piringnya dan ibunya, lalu menyiapkan barang-barang yang dia butuhkan untuk pergi ke Italy.
Saat selesai menyiapkan semuanya, termasuk jas hitam dan dua kemeja putih dan orange, ia men- check kembali semuanya. 'Pakaian untuk menginap, check! Sarung tangan, contact lens, Check! Alat bertarung Cielo? Meh , aku rasa mereka sudah tahu siapa Cielo sebenarnya… Paspor asli dan vongola, check! Kemeja dan jas hitam, check! Dasi, check! Hadiah ulang tahun untuk Reborn…Check?'
'Tunggu, apa aku baru saja bilang hadiah ulang tahun untuk Reborn?'
Tsuna lalu beranjak dari meja ke kalender yang berada di sekitar kamarnya berada. 'Hmm… ulang tahun Reborn besok, aku rasa itu tidak heran jika ia memaksaku untuk ikut. Kemungkinan dialah yang merencanakan semua ini'
Lalu handphone milik Tsuna berdering dengan ID yang tidak dikenal. Brunet mengkerutkan alisnya dan mengangkat "Hallo? Sawada Tsunayoshi yang berbicara"
"Oh , Tsuna! apa kau sudah siap? Aku sudah berada di depan rumahmu sekarang!"
"E-eh? Dino-san?" Tsuna lalu berbalik kearah jendela kamarnya dan melihat Dino beserta Romario didepan rumahnya sambil bersandar di mobil Porsche hitam.
Brunet menutup telepon dan menuju kebawah, ia melihat ibunya sedang menjemur pakaian di halaman "Kaa-san! Aku pergi dulu ya! Ittekimasu!."
"Itterashai~ Tsu-kun!."
Dia lalu menuju ke depan rumahnya dan memasuki mobil.
Di jalan, ia memandangi pemandangan dari dekat jendela. Ia melewati toko kue dan melihat tiga temannya dan berhenti.
"Stop!"
Mobil yang dikendarai Romario berhenti mendadak di tengah jalan. Tsuna langsung keluar dari mobil dan masuk ke toko.
"Tsuna!" teriak Dino saat dia keluar.
Tsuna masuk ke dalam toko dan langsung pergi ke tempat ketiga temannya "Haru, Kyoko-chan, Kurokawa-san!"
"Hmm? Sawada!"
"Tsuna-kun?" tanya Kyoko bingung.
"Hahi!, Tsuna-san?!"
"Nee, minna… bisakah aku minta tolong kepada kalian? Aku tidak akan berada di Namimori untuk sementara."
"Tentu saja, Tsuna-kun."
"Hahi! Tentu saja kami akan membantu sebisa mungkin desu!"
Tsuna lalu berbicara kepada mereka, dan meminta mereka untuk menginap dirumahnya- menemani ibunya sementara ia pergi, mengurus Dewan kesiswaan Nami-chuu serta memberitahukan salah satu temannya atau guardiannya dimana dia berada sekarang, jika salah satu dari mereka bertemu.
"Aku mengerti, Tsuna-kun…"
"Hahi! Dengan senang hati desu!"
"Hmph! Kau berhutang kepada kami oleh-oleh saat kau kembali, Sawada!"
"Un!, tentu saja, bagaimana jika kita pergi ke taman hiburan sebagai gantinya saat aku kembali nanti? Aku yang traktir" kata Brunet. "Jaa… sampai bertemu kembali!" Tsuna lalu keluar dari toko dan kembali ke mobil Dino.
Saat kembali dari toko, Tsuna langsung memasuki mobil dan ke bandara menaiki pesawat milik Cavallone menuju ke Italy.
"Tsuna ?" kata Dino saat mereka bersantai di dalam pesawat menunggu untuk sampai ke Italy "Kita akan langsung ke Mansion milikku saat kita sampai. Reborn mengatakan padaku ia akan menjemputmu bersama dengan salah satu guardian Nono sehari setelah kita sampai di Italy, jadi apa tidak apa-apa kau menginap dimansionku 'kan?"
Brunet hanya menghela nafas "Seharusnya aku yang mengatakan begitu, Dino-san 'Apa tidak apa-apa jika aku menginap di mansionmu untuk sehari ?'" kata Tsuna meyakinkan.
"Huh? Tentu saja kau boleh! Kau itu kan adik kecilku yang manis."
Tsuna bersih keras menolak untuk facepalm saat itu juga.
Kenapa dia harus mewarisi sebagian besar gen penampilan milik ibunya?
.
.
.
.
.
"… Suna…Tsuna…TSUNA...!" bentak seseorang yang membangunkanya.
"Emh? Dino…-san?" kata Tsuna sambil mengucek-ngucek matanya untuk menyesuaikan penglihatanya.
"Ahahaha… gomen Tsuna untuk membangunkanmu, tapi kita sudah sampai di Italy dan sudah mendarat."
"Oh… Arigatou, Dino-san!" Brunet lalu bersiap untuk turun dari pesawat lalu pergi ke Mansion Cavallone dengan mobil limosine milik Dino.
Tsuna bangun tengah malam di kamar tidur khusus untuk tamu milik Mansion Cavallone famiglia saat kepalanya sakit- seperti ditusuk dan menyuruhnya untuk pergi dari sana segera. Brunet lalu duduk di ujung tempat tidurnya saat ia merasakan bahwa ia tidak sendiri di dalam ruangan itu.
Tepat di depannya adalah sesosok bayangan hitam dan tinggi. Wajahnya tidak terlihat karena ia selalu mematikan lampu ruangannya sesaat sebelum tidur. Ia berjalan sedikit menghampiri dan berhenti untuk menaruh beberapa langkah untuk menjarakkan ia dan bayangan hitam di depannya.
Orang yang ada di depannya lalu menampakkan dirinya di depan jendela- dibawah sinar bulan. Sosok itu tinggi, memakai sebuah topi fedora, memakai jas dan rambutnya berbentuk kriting lancip dengan warna hitam, mata hitam onyx bersinar efek dari sinar bulan.
"Chaossu , Dame-student!"
Tsuna mengedipkan matanya berulang kali 'Huh? Chaossu? Itu terdengar seperti… Reborn?'
Tanpa petit brunet sadari, pria itu sudah ada tepat selangkah didepannya.
"Mi dispiace, ilmio stupido studente" (A/T : Maafkan aku, murid bodohku)
Ia mendengarkan suara yang semakin pelan dari pria tersebut "E buon compleanno" (A/T : Dan selamat Ulang tahun) lalu pandangannya buram setelah dia di tinju di bagian perut dan tidak sadarkan diri.
'Ugh... Damn you, Reborn!'
Petit brunet kembali bangun saat jam di dalam ruangan menunjukkan pukul 01:00. Tangan dan kakinya diikat dan mulutnya di tutup dengan kain. 'Ugh… dimana aku?'.
Tsuna melirik kearah seluruh ruangan, di dalam ruangan hanya ada satu jendela, satu meja tulis, kursi dan lantai kayu.
Tsuna menggapai pisau lipat yang ada di bagian pahanya. Ia memang selalu membawa senjata cadangan di sekitar bagian tubuhnya, terutama pisau yang bisa ia pakai disaat darurat.
Itu semua karena Brunet sudah mempelajari pelajaran miliknya setiap ia menjalankan misi sebagai freelance assassin saat umur tujuh tahun.
Jangan pernah pergi keluar tanpa senjata apapun.
Meski itu bersama teman, keluarga atau kenalan yang sangat ia percayai.
Akhirnya ia berhasil menggapai pisau lipat, pisau hadiah ulang tahunnya yang ke sepuluh oleh partner on crime dan salah satu figure kakak baginya.
Hibari Kyoya.
'Apa yang Kyo-nii lakukan ya? Aku tahu dia tidak berada di Namimori… tapi dimana dia?'
Saat Tsuna berhasil membebaskan dirinya, ia langsung mengecek bagian jendela, akan tetapi nihil. Begian jendela ruangan sudah terkunci. Lalu ia mencoba membuka pintu- akan tetapi Hyper Intuition miliknya memberi peringatan.
Brunet membuka pintu dengan sangat pelan dan melangkah keluar ruangan 'Aneh… tidak ada siapapun disini?'
Tubuh Tsuna tiba-tiba menegang. ia langsung roll kedepan dan melihat kearah tempatnya tadi berada sudah dipenuhi oleh pisau beracun.
'Hiii! Ha- hampir saja!'.
Ia lalu melihat keatas dan melihat piano, jatuh dari atasnya "Hiiieeee!"
Tsuna berlari menghindari banyaknya piano, panah dan pisau yang berjatuhan dari atas kepalanya. Ia melewati koridor dan kamar-kamar sampai ia masuk ke dalam salah satu ruangan yang ia anggap aman.
Click.
Sebuah moncong pistol berada di dahinya. Ia terdiam-membeku di tempat 'Sial!'
Brunet merasakan bahwa siapapun orang yang berada di depannya sedang menyeringai- terhibur dengan apapun yang baru saja menimpannya.
"Buon Compleanno, Dame-Tsuna."
Lalu lampu di dalam ruangan menyala.
"KEJUTAN!" semuanya berteriak dan keluar dari tempat persembunyiannya di dalam ruangan.
Reborn yang dalam wujud tubuh dewasa-nya setelah Representative Arcobaleno enam bulan yang lalu, menyeringai- terhibur melihat muridnya terduduk lemas di lantai bersandar di pintu.
"Otanjoubi Omendetou, Tsuna-sama!"
"Ahahaha… selamat ulang tahun, Tsuna!"
"UOOHH EXTREME HAPPY BIRTHDAY, Lil' bro!"
"Gyahahaha! Selamat ulang tahun, Dame-Tsuna! Lambo-san sudah datang untuk berpesta!"
"Lambo! Jangan dihabiskan!" teriak I-pin seraya mengejar Lambo yang dari tadi memakan kue yang ada.
Tsuna menarik nafas lega melihat semua teman-temannya berjalan menghampirinya. "Minna… Arigatou…" kata brunet sambil tersenyum hangat kepada mereka semua 'Walaupun mereka semua mengerjaiku, tapi aku senang mereka baik-baik saja…'
"Tentu saja mereka semua baik, Dame-Tsuna"
'Lebih tepatnya kau yang mengerjaiku, Reborn…' balas Tsuna sambil menutup matanya kesal.
"Oh, tentu saja itu pertunjukan yang sangat menghibur saat melihatmu panic mencari seluruh guardianmu dan menghindari seluruh jebakan yang sudah di set." balasnya seraya menampilkan senyum sadis miliknya.
Yuni dan Byakuran yang ikut merencanakan pesta ulang tahun Tsuna dan Reborn, menghampiri mereka dan memberikan selamat ulang tahun kepada mereka berdua.
"Buon Compleanno Reborn Ojii-sama dan Sawada-san!" kata Yuni seraya menghampiri mereka "Aku minta maaf terlambat mengucapkan selamat ulang tahun padamu paman Reborn."
"Itu tidak apa-apa Yuni" balas Reborn sambil menurunkan topi fedora-nya.
"Grazie Yuni" balas Brunet.
"Oya~ Tsunayoshi-kun, kau tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepada kami juga?"
"Etou… Otanjoubi Omendetou Yuni, Byakuran!" kata Tsuna "Aku minta maaf, aku baru tahu kalian juga berulang tahun."
"Iya, itu tidak apa-apa Sawada-san! Sebenarnya ulang tahunku besok dan ulang tahun Byakuran tanggal 28 oktober nanti, jadi kami memutuskan untuk merayakannya bersama dengan paman Reborn dan Sawada-san."
"Are? Apa tidak apa-apa merayakannya duluan sebelum tanggalnya?"
"Jaa, kalau begitu kita tinggal hanya perlu berpesta sampai ulang tahunku tiba, Tsunayoshi-kun."
"Huh? Eeeeehhhhh? Apa?!"
"Tunaaa-ffiissshhhh~" teriak pria rambut pirang berlari kearahnya.
"Hiiiieeee! Otou-san!" teriak Tsuna berlari menjauh dari ayahnya "Jaa ne! Yuni, Byakuran!"
Reborn yang melihatnya hanya mendengus terhibur. Sedangkan teman-temannya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Kaichou, teman serta boss mereka dengan ayahnya.
Tsuna yang melihat semuanya berpesta, tersenyum senang. Mereka selalu berada di sampingnya dan merayakan ulang tahunnya bersamanya. Ia lalu menyelinap keluar ruangan dan pergi ke kamarnya.
Brunet sudah tahu ia sekarang berada dimana. Ia tahu ketika Nono datang di tengah pesta dengan memakai pakaian setengah formalnya. Mereka berbincang tentang saat-saat Brunet menjadi Freelance assassin untuk Vongola.
Tsuna menyusuri koridor Vongola mansion yang mengarah ke kamarnya. Brunet membuka kamarnya dan melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 05.00 pagi hari. Ia bahkan heran mereka sama sekali belum mengantuk. Mungkin mereka sudah tidur saat siang hari sebelum pesta dimulai?
Spiky brunet lalu membuka tas kopernya dan mengambil tiga kotak yang terbungkus rapi dengan kertas-kertas kado.
Tiga? Memangnya siapa saja yang berulang tahun di bulan ini?
Tentu saja Reborn, Yuni dan Byakuran.
Bagaimana ia tahu?
Tentu saja, ia bukanlah Angelo Marrone del Cielo, seorang hacker dan hitman kedua terhebat setelah Reborn, tutornya.
Memikirkan hal itu, malaikat dari langit pun tersenyum sadis.
Oh Reborn, betapa sadisnya kau menularkan senyum mengerikanmu pada Tsuna…
Tsuna yang berkeliaran menyusuri lorong setelah pergi 'mampir' ke kamar Reborn, pergi mencari Yuni dan memberikan kado ulang tahun padanya. Akan tetapi Yuni sudah bersiap kembali ke mansion Giglio Nero bersama Gamma. Brunet yang melihatnya langsung melompat dari lantai dua dan berlari kearah mobil.
"Gamma!"
"Decimo."
Tsuna melambaikan tangan di depannya "Ayolah, aku masih belum menjadi boss, dan aku juga masih tidak ingin menjadi boss Gamma! Jadi panggil saja dengan namaku" kata Brunet "Sawada Tsunayoshi. Kau bisa memanggilku apa saja kecuali Decimo atau Vongola."
Gamma yang mendegarnya tersenyum kecil "Baiklah Tsunayoshi-san. Apa kau memerlukan sesuatu?"
"Hmm… dimana Yuni?"
"Dia sedang tertidur di dalam mobil."
Brunet tersenyum lembut lalu memberikan kotak yang dibungkus kertas kado padanya "Aku takut besok aku tidak bisa memberikannya langsung, tapi tolong berikan ini pada Yuni. Ini hadiah dariku sebagai kado ulang tahunnya."
Gamma mengambilnya "Baiklah, aku akan menaruhnya di samping tempat tidurnya."
"Terima kasih, Gamma…"
"Tidak. Terima kasih Vongola Decimo"
Tsuna hanya menghela nafas dan tersenyum simpul. Hanya kali ini ia akan membiarkannya sedikit.
Tsuna pergi keluar mansion Vongola setelah mengganti bajunya dan menaruh kotak-kado-kosong-hanya-selembar-kertas ke mobil milik Byakuran. Ia menyelinap pergi tanpa memberitahu mereka. Itu memang sedikit sulit menghindari para mafia yang sedang berjaga di dalam mansion dan menghindari kamera pengawas, tapi ia bukanlah Marrone Cielo jika ia tidak bisa menghindari mereka.
Ia berhasil melompati dinding pembatas dan mendarat dengan sempurna saat ia melihat sebuah mobil hitam tepat didepannya, dengan Kasukabe berdiri diluar menunggunya.
"Tsunayoshi-sama , Kyo-san sudah menunggu di dalam." Kata Kusakabe membukakan pintu untuknya.
Hibari yang duduk di ujung, melihatnya sambil memberikan sebuah kotak yang cukup besar, yang berada di pangkuannya. Kotak tersebut di bungkus rapi dengan kertas kado berwarna ungu dan pita orange. "Hn. Untukmu, Tsunayoshi. Otanjoubi Omendetou." Kata Hibari sambil tersenyum lembut dengan sedikit kesedihan yang tersirat di manic biru keabu-abuan yang jarang di perlihatkan olehnya "Aku akan kembali ke Jepang nanti siang dengan Arceo jet." Katanya sambil melihat ke jendela kaca mobil.
"Aku ikut." Balasnya cepat. Brunet lalu menerima kado sesaat setelah Hibari memberikan kepadanya. Ia lalu duduk di dekat jendela sebelah Hibari. Tsuna tersenyum sedih seraya mengelus kado yang berada di pangkuannya "Aku juga ingin ikut berkunjung, kau tahu…"
"Hn."
Kasukabe yang sudah tahu kemana mereka akan pergi, hanya bisa ikut tersenyum sedih melihat mereka dari kaca mobil.
Tsuna yang melihat pemandangan dari kaca mobilnya, tiba-tiba teringat sesuatu. "Hmm… Kasukabe-san, bisakah kita berhenti sebentar nanti di toko bunga?" pintanya.
"Ha'i, Tsunayoshi-sama."
Mereka lalu berhenti di sebuah toko bunga, membeli dua rangkai bunga yang berisi bunga Lily putih dan bunga mawar dengan baby breath. Ia lalu menaruh kedua rangkai bunga tersebut di sebelahnya dan mulai mengelus kado pemberian dari Raven. Kasukabe yang melihat Brunet dari kaca mobil hanya tersenyum sedih "Tsunayoshi-sama, apa ada tempat lain yang anda ingin kunjungi?" tanyanya sopan.
"Aah. Aku rasa sebaiknya kita langsung ke gedung Arceo cabang Italia. Aku sudah meminta Mavric untuk menyiapkan helikopter dan mengantarkanku ke Prancis," balasnya, lalu menoleh ke samping tepat ke arah Hibari "Apa kau ingin ikut mengunjungi mereka berdua, Kyoya?" tanyanya.
Hibari yang daritadi sudah menutup kedua matanya bersandar di kursi sambil melipat kedua tangannya, tahu apa yang Brunet ingin lakukan. Setelah semuanya, hari ini juga hari kematian salah satu kembaran "Hn."
Melihat tingkah figure kakak sekaligus partner dan sahabatnya, Brunet tersenyum dan menyenderkan badannya ke kursi. Well, setidaknya ia bisa sekalian mengecek keadaan perusahaan Arceo cabang Itali dan cabang pusat, Frence. Setelah semua, Perusahaan Arceo adalah perusahaan yang di percayakan kepadanya… dan Kyoya. Juga perusahaan yang sudah Sora-nee pertahankan dan lindungi.
Ia akan menjaganya. Warisan keluarga Yuuki.
Mereka sampai.
Salah satu mansion keluarga Yuuki, dimana tempat tinggal terakhir Sora Yuuki. Salah satu pewaris sah perusahan terbesar dan ternama di Asia dan Eropa. Arceo.
"Ah Tsuna-kun, Hibari-kun. Okaerinasai." Sapa seorang butler yang kebetulan sedang berada di halaman mansion sambil menunggangi seekor kuda hitam dengan rambut dan mata hijau serta sebuah tanda seperti petir di sela-sela rambut kepalanya.
Saat Tsuna membuka pintu mobil, ia mendengar suara yang sangat ia kenal dan langsung menoleh ke arahnya "Ah, tadaima Edward-san, Fulmine-kun." Sapanya sambil tersenyum lebar kepada kedua butler dan sang kuda.
"Hn."
Kepala pelayan lalu turun dari kuda hitam-hijau tersebut lalu mengacak-ngacak rambut kedua remaja di depannya. Well, kecuali Hibari. Saat butler akan menyentuh raven, ia langsung di sambut dengan tonfa yang mengancam di bawah dagunya sesaat sebelum mendarat di atas kepalanya.
Ia tersenyum kecil kepada kedua remaja di depannya. Mereka berdua tidak pernah berubah, bahkan saat ia pertama kali bertemu mereka. Hanya saja Brunete tidak terlalu pemalu dan Raven kurang mengancam "Apa kalian ingin mengunjungi Nona Sora dan Nona Sakura?"
Brunet hanya tersenyum sedih sedangkan Raven melihat ke arah lain kecuali ke arah butler di depannya.
"Baiklah, lagipula aku juga baru akan mengunjungi mereka berdua bersama Fulmine-kun." Balasnya sambil mengelus kuda berambut hijau yang ada di sampingnya, yang kemudian memekik setuju. Ia lalu mengantar Kasukabe ke dalam sementara Hibari dan Tsuna pergi ke halaman belakang, mencari parter—kuda- mereka masing-masing.
Brunet lalu berhenti sejenak, lalu kembali ke mobil dan mengambil kado yang di berikan Hibari kepadanya, lalu membukanya. Ia membawanya bersamanya.
Aitakute koishikute hanarete
(I wanted to see you, I miss you and you left)
Ano hi wa mou konai
(That day won't come anymore)
Tsuna memainkan biolanya dengan elegan, juga dengan sedang-cepat ritme. Biola yang merupakan hadiah ulang tahunnya dari Kyoya. Ia ingat lagu yang selalu Sora dan Sakura mainkan saat musim semi.
Toushindai no jibun tooku no kimi ni te o furou agero
(The life-size wave the hand to the distant you)
Put your hands up. yeah. oh.
(Put your hands up. Yeah. Oh.)
Sebuah lagu dengan nada yang membuat orang bergembira dan menari, juga memiliki arti dan makna yang tersirat kesedihan.
Awai kaori ga tadayou kisetsu ga megurikuru
(The faint aroma drifts, the seasons goes around)
Kokoro hazumaseteita koro ga ima yomigaeru yo
(The time I gasped is revived now)
Hajimete koi o shita nda nanimokamo kagayaiteita
(I fell in love for the first time. Everything was shining)
Sukoshi no jikan de sae mo issho ni toki o kizandeita
(I want to carve our time together, even if it's just a bit)
Ia ingat.
Ia ingat saat pertama kali mendengar nada-nada yang indah gabungan dari alat musik piano dan biola. Lagu yang pertama kali mereka berdua ajarkan padanya, juga lagu pertama yang ia dengar, yang memiliki arti kesedihan dengan nada yang gembira.
Sakura saita ki no shita de kimi no koe o
(Your voice below the sakura tree)
Harukaze ga jama shite kikoenai
(The spring breeze bothered and I didn't heard)
Sayonara ja nai to negatta
(I wished that isn't a Goodbye)
Sebuah lagu perpisahan di bawah pohon Sakura. Lagu yang memiliki kenangan di bawah pohon Sakura. Lagu yang tercipta dengan senandung di antara kelopak-kelopak Sakura.
Aitakute koishikute hanarete
(I wanted to see you, I miss you and you left)
Ano hi no egao ga maichitte
(The smile of that day fell )
Itsumademo to chikatta kimi wa mou inai
(You swore forever but you're not here )
Kanau nara sakura ga maioriru rainen no ima mo
(If it comes true, next year, when the sakura flies down )
Kata narabe shashin demo toritai na ano hi wa mou konai
(I want to take photos of us side by side. That day won't come anymore)
Seperti saat ia pertama kali bertemu dengan mereka. Entah sadar atau tidak, setiap pertemuan dengan Sora, Sakura dan Kyoya, ia melihat kelopak-kelopak pink yang berterbangan di antara mereka dan menciptakan sebuah benang merah.
Aitai mienai te no hira
(I want to see you, can't see you, my palm)
Hora? hanabira sora ni hikaru hoshi ga
(See this petal? The stars shining in the sky)
Kizuguchi o tsutsuku nda
(Strike my wounds)
Mou koi nante shinai yo
(I won't fall in love anymore)
Kimi ni ichiban iitakatta
(You're the one who most told me this)
Setiap kali mereka bersantai, melihat-lihat bunga Sakura yang bermekaran, Sora dan Sakura akan membawa biola mereka dan memainkannya. Orang-orang yang juga melihat pohon Sakura setiap tahunnya, tertawa, tersenyum, santai maupun menari saat mereka mendengarkan Duo Violist saat memainkan musik.
Ame ga futte futari de haitta kasa mo
(We inside the umbrella in the rain)
Machiawaseshita ano eki mo
(And that station where we decided to meet)
Mou hitori ja ikitaku nai yo
(I don't want to be alone anymore)
Bahkan ia juga ikut menari. Raven, Kyoya yang ikut dengan mereka untuk piknik, ikut bersantai dan tertidur. Saat ia melihat sekitarnya, ia tahu bahwa ia tidak lagi sendiri. Ia tersenyum.
Suki datta kakokei na tegami wa imasara iranai
(Now I don't need the letter of I liked you in past tense)
Wakaregiwa yasashiku suru nara soba ni ite hoshii
(If you want to be kind when leaving, I want you to be by my side)
Kuru hazu no nai basho de ano hi o matteru
(I'm waiting for that day, in a place where you wouldn't come)
Hitoribotchi no boku o
(I'm all alone)
Omoide no ano kyoku o chiisai koe de utau
(I sing that song I remember, in small voice)
Tapi ia juga ingat, ia ingat saat kejadian itu. Ia ingat saat salah satu kembaran menyelamatkan dirinya agar ia bisa melihat dan merubah masa depan yang ia punya dengan kedua tangannya. Bangkit dengan keberanian. Tapi saat itu terjadi, yang ada hanyalah penyesalan. Sebuah penyesalan, karena ia tidak bisa menunjukkan kepada mereka ia sudah buka Dame lagi, ia sudah berubah. Karena mereka, ia bisa memiliki keberanian untuk berubah.
Mou koi nante shinai yo nante tada no uso de
(I won't fall in love again, that was just a lie)
Mou wasurerarenai nante tada no joudan de
(I can't forget you, was just a joke)
Wasuretaku nakute kekkyoku kimi ni koi shiteitai yo
(I don't want to forget you. After all, I want to be loving you)
Bahkan saat hanya Kyoya yang ada disisinya, menariknya saat ia terjatuh, mendorongnya saat ia mundur dan menolongnya saat ia sedang dalam kesulitan, ia masih memiliki penyesalan itu.
Aitakute koishikute hanarete
(I wanted to see you, I miss you and you left)
Ano hi no egao ga maichitte
(The smile of that day fell)
Itsumademo to chikatta kimi wa mou inai
(You swore forever but you're not here)
Walau Sora dan Sakura sudah tidak ada di sampingnya, ia masih punya teman-temannya dan Kyoya yang bisa membuat senyumnya bersinar kembali.
Rajio kara ano kyoku futari de ita heya de
(That song from the radio, we two in that room)
Shizen to namida ga afurederu
(The tears naturally overflow)
Wakaregiwa no egao ga ichiban itoshiku mieta
(Your parting smile is the most lovely I saw)
Walau senyum yang tak secerah saat ia bersama mereka memainkan musik dan melodi, ia sudah berjanji untuk terus maju kedepan. Walau ia hampir selalu menginginkan waktu untuk di putar kembali, hari-hari bersama kembaran dan Kyoya memainkan musik dan bernyanyi tetap takan kembali.
Sakaseyou sakura ga maiorite
(The sakuras that I made bloom flies down)
Yowai jibun kara nukedaseru
(I sing the melody played by the sound of the tears)
Namida no oto kanaderu senritsu o utau
(That slips from the weak me)
Rajio kara haru no uta mou sonna kisetsu ne
(That spring song from the radio, it's already that season huh?)
Sayonara o gutto nomikonda
(I firmly gulp down the Goodbye)
Omoide no ichipeeji iro azayaka ni nokoru
(That one page in my memory is still in vivid color)
Untuk saat ini, ia hanya bisa memainkan melodi yang ia kenang dalam ingatannya. Melihat ke masa lalu lalu melangkah ke depan, ke arah masa depan yang akan di lempar pada dirinya. Ia tahu, ia bukan seorang anak kecil yang mencoba untuk tidak menangis atau seorang adik kecil yang selalu mengikuti Sora dan Sakura kemanapun mereka pergi.
Tapi satu hal yang pasti, ia tidak akan melupakan mereka.
Mereka akan selalu hidup dalam ingatan yang ia takan lupakan.
Hening. Saat ia memainkan lagu ia pertama kali Sora dan Sakura mainkan untuknya, tak ada yang bergeming. Edward, Kyoya, Fulmine, Cieli dan bahkan Nuvola, mereka semua hening di belakang Tsuna seraya mendengarkan melodi-melodi yang Brunet mainkan.
Setetes air mata jatuh ke tanah saat ia selesai memainkan melodi-melodi menggunakan biola. Brunet lalu melihat ke kedua batu nisan di hadapannya yang dihiasi oleh kelopak-kelopak bunga Sakura yang berguguran dari pohon di samping kedua nisan dan di tumbuhi oleh rerumputan kecil. Walaupun itu sudah pertengahan oktober, tapi entah mengapa sebuah pohon Sakura tumbuh sepanjang tahun dan tak pernah mati, meskipun bersalju sekalipun.
Pohon tersebut berdiri gagah seakan melindungi kedua kuburan dan menyimpan kenangan mereka bersama kelopak-kelopak yang beruguran.
Tsuna lalu tersenyum saat sebuah kelopak bunga jatuh di atas hidungnya. Ia tersenyum lembut lalu melihat kedua nisan kembali "Buon Compleano, Sora-nee, Sakura-nee," bisiknya lembut "Arigatou." Kata Brunet seraya bersiap meninggalkan kedua batu nisan dan membawa bisikan remaja Brunet terbang bersama kelopak-kelopak bunga Sakura.
GUE NULIS APA INI?! Fix, mulai dari awal lagu itu daku ga mikir, pikiranku melayang dan mengalir dengan sendirinya :")
*Fulmine, Cieli, Nuvola : Kuda Ancient (?) dengan element Petir, Langit dan Awan. Kuda-kuda tersebut bisa menembus waktu sedangkan kuda dengan element Bumi bisa menembus ruang.
Daaaannn…. HAPPY BIRTHDAY TSUNAAAAAAAA!
